I do not own the story!

copyright © 2015 Adagio by inkills (AFF)

translated by Xiao Wa (June 25, 2016)

Enjoy~

o

o

o

Ketika waktunya tiba Luhan memastikan dia terlihat tampan dan menarik di mata mereka, mata pengamat dari orang-orang kaya dengan pakaian indah di ruang dansa. Dia masuk dengan sebuah hormat, dan itu sudah menunjukan sebuah fakta bahwa ia bekerja untuk si pemilik mansion. Bagaimanapun, dia menangkap pandangan sekilas pada tuan muda, para perempuan yang mengelilinginya dan tatapan yang sama yang ia akan selalu berikan padanya. Dia hampir gemetar di tempatnya. Ruang dansa itu sunyi, hanya detak jantungnya yang keras, dan dorongan adrenalin melewati darahnya dengan kafein dalam kepalanya, menyuntikan setiap sel di otaknya dengan kewaspadaan. Segera sonata pertama dimainkan, yang lain dan yang lain dengan okestra kecil yang nyonya bawa. Dia tidak pernah membayangkan bahwa ini akan sangat mudah, hanya dirinya bermain tanpa membuat kesalahan, dia menyadari bahwa dirinya terlalu cemas.

Ia berdiri perlahan, mengambil napas dalam beberapa kali ke paru-parunya sebelum nyonya itu mendatanginya dengan seorang pasangan, dia langsung tersenyum, dan menyapa mereka dengan sebuah bungkukan. "Ini pianis kami," Suaranya terdengar sangat bangga dan jelas, tanda bahwa dia bermain sangat baik. "Seorang pianis muda dan sangat bertalenta, aku menghargai atas fakta bahwa dia bekerja untukku. Dia benar-benar spesial." Luhan membuat gerakan cepat untuk membungkuk kepada wanita itu, dia berbinar bahagia, "Terima kasih, terima kasih, Nyonya!"

Dia bertemu dengan beberapa orang, wajah mereka berhias dengan ekspresi sombong. Dan ia tidak pernah membayangkan sebuah pesta akan sangat membosankan seperti ini, setidaknya untuknya. Dia mengambil gelas yang terlihat seperti sampanye, dan setelah dia mendapatkan istirahat kecilnya dia duduk kembali ke bangku, membuat seluruh ruang dansa terdiam. Dalam hitungan detik, hanya sebuah khayalan, nada yang memikat dari Clair de Lune yang terdengar. Luhan bisa merasakan tulisan-tulisan musik dalam pikirannya, ia mengingat lagu ini lebih dari lagu yang lain, ditambah tatapan yang dia rasakan pada punggungnya. Tatapan yang sangat ia kenal. Sehun sudah menatapnya selama keseluruhan lagu, dan tidak pernah melewatkan perasaan romantis dan pikatan yang dalam dari setiap nadanya. Dan bagaimana Luhan memainkannya dengan tulus, mengirimkan setiap orang di ruangan ke dalam surga khayalan, dan karena melodi-melodi ini, nada yang tak berhenti yang tidak bisa ia hindari, Sehun merasa tenang.

Hanya suara tepuk tangan yang keras yang membawanya kembali pada kenyataan, Sehun bersumpah, hanya dirinya dan Luhan yang ada di sana. Luhan melihat bagaimana lengannya berada di pinggang seorang gadis, tapi Sehun bersaksi bahwa hati dan pikirannya hanya mengikuti si pianis muda. Ia mengakhiri pestanya dengan indah, dan dia duduk sendirian di ruang dansa, mengambil semua kertas-kertas itu kembali ke tasnya dan merapikan barang-barangnya untuk pergi. Dia terlalu pusing dan mengantuk karena dosis dari kafein yang ia dapat. "Apa kabar pianis tampan kita?" Dia mendengar suara sekali lagi, dan membenci fakta ia terlalu lelah untuk menjawab. Dia hanya bergumam, tetapi matanya berkedip akan betapa menarik penampilan tuan mudanya. Kenapa dia di sini?, Luhan bertanya pada diri sendiri. Tapi seharusnya dia sibuk dengan salah satu gadis seperti biasanya..

"Kau terlihat sangat lelah," Dia hampir tidak mendengar kalimatnya, ini sudah sangat larut. Luhan sekali lagi berdengung, dan Sehun duduk di bangku. Dia melihat bagaimana kepala pianis itu tanpa sadar bersandar pada lengannya, seraya tangannya mengelus paha si pianis dengan lembut. Mengirimnya ke alam mimpi dengan cepat, dan hal selanjutnya yang Luhan tahu punggungnya bertemu dengan permukaan yang sangat lembut. Bantal di bawah kepalanya terasa sangat lembut, dan ada tangan-tangan yang melucuti setelannya, ia tidak mempunyai tenaga untuk melihat dan membuka matanya. Meskipun dia pergi ke alam mimpinya dengan tenang, dan tertidur nyenyak.

Dia menyadarinya setelah terbangun selama beberapa menit, meringkuk pada selimut yang terasa seperti bulu baginya. Dan ketika dia membuka matanya dia sadar bahwa itu bukanlah kamarnya, dan ini bukan tempat tidurnya. Dia perlahan terduduk, memeluk selimutnya lebih erat sewaktu dia melihat dirinya hanya menggunakan jubah tidur dan dalaman. "Di mana ini?" Dia takut, dan dia menghembuskan napas panjang. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan, tidak sampai sebuah pintu terbuka, dan Sehun yang berpakaian rapi muncul dan mulutnya menganga. Hal itu baru saja menghantam otaknya bahwa ia berada di dalam kamar tuan muda, dan dia mulai panik perlahan. "Kulihat akhirnya kau bangun." Luhan membelalakan matanya, melihat dia melepas jaketnya dan menggantungnya pada seusatu, sebelum dia meletakan handuk yang terlipat dan pakaian di tempat tidur. "Ke-kenapa aku di sini?" Dia bertanya dengan suara malu dan pelan, Sehun tersenyum. "Kau jatuh tertidur tadi malam, aku membawamu kemari." Dia menjawab dengan suara lembut, "Ingat saat kamu bilang padaku kau menyukai tempat tidur hangat dan mandi busa, kupastikan aku memberikanmu itu." Dia ditarik berdiri, dengan sangat lembut, dan dibawa ke kamar mandi, sangat lembut. Tapi dia menolak, dia tidak bisa menerima semua itu. "Tidak, aku bisa kembali ke apartemenku itu tidak jauh dari sini!"

Sehun berdecak, "Sangat disayangkan, aku harus membuang semua air ini ke saluran pembuangan dan pekerjaan pelayan akan menjadi sia-sia." Dia membuat raut puas atas kata-katanya, dan Luhan kembali berpikir, ia tidak bisa membiarkannya menjadi sia-sia hanya karena tidak pantas. Dia menghentikan tuan muda dengan sebuah gerakan kecil dari kepalanya, mengangguk. "A.. aku akan mandi." Dia berbisik pelan, membuat seringai di wajah tuan muda dan membiarkannya menutup pintu di belakangnya. Sekarang ia sendirian, di dalam sebuah kamar mandi yang mewah. Dia yakin itu pertama kali baginya dan dia akan memastikan itu untuk yang terakhir kalinya. Perlahan membuka pakaiannya, dan memasukan kakinya pertama kali, dengan sebuah desahan lembut ia membiarkan seluruh tubuhnya tenggelam ke dalam air hangat, memastikan dirinya tidak akan tertidur lagi seperti tadi malam, dia menyelesaikan mandinya hampir dengan cepat. Dan mengambil jubah mandi halus dan sebuah handuk untuk menutupi badannya.

Dia menemukan sweater yang dilipat bersama dengan sebuah celana, dan dia sudah tahu bahwa itu untuknya. Segera saat dia memakainya dia bersumpah itu mungkin hal terhangat yang pernah ada. Dia mengambil tasnya dan berjalan keluar, ini terasa seperti dia berada di rumah.

Luhan pergi menuju dapur, dan memakan makan siangnya dalam diam, menghindari semua pertanyaan dari para pelayan sebisanya dan pergi ke ruang piano untuk memainkan sesuatu yang bagus untuk keluarga itu. Dan sebelum dia melupakannya dia mengambil uang keluar dari dalam dompetnya, dengan ketukan lembut dia berdiri di depan kamar tuan muda. Anak yang lebih muda membukanya setelah beberapa detik, Luhan bisa merasakan tenggorokannya mengencang saat bagaimana tuan muda mengeringkan rambutnya. Tatapannya yang tajam menusuknya dan alis tajamnya. "Siapa yang pergi mandi setelah makan siang?" Sehun melengkungkan alisnya atas pertanyaan yang tiba-tiba, "Aku, aku terlambat untuk pertemuan di perusahaan, sesuatu telah mengalihkan perhatianku di tempat tidur tadi pagi." Luhan menatap lama, dan Sehun menatap balik lebih lama. Sampai pianis itu menelan salivanya, memutuskan untuk menatap lantai. Dia yang ada di tempat tidur tadi pagi, apa yang tuan muda maksud dia mendengkur? Tapi Luhan tidak pernah mendengkur. "Maafkan aku! Aku pasti sudah membuatmu dalam banyak masalah." Dia membungkuk, dan tawa Sehun membuatnya berdiri tegak. "Bagaimana bisa kau membuatku dalam masalah ketika aku menginginkanmu berada di sini? Lagipula, untuk apa kau mengetuk tadi?"

Ia terlalu mempesona, terlalu sempurna bagi Luhan untuk bertingkah normal di sekitarnya, dan terlalu lembut dengannya sejauh ini. Si pianis mengambil napas, dan menaikan tangannya, memberikan anak laki-laki itu uangnya. "Aku ingin membayar kembali makan malamku, ini." Semuanya terdiam saat itu, dan ketika Luhan mendongak dia melihat tuan muda sedang menahan tawanya. Dia menutupinya dengan kekehan kecil. "Apa kamu begitu ingin membayarnya kembali?" Luhan mengangguk, "Baiklah, bagaimana jika kamu mengajariku bermain piano untuk membayarnya?" Pianis itu tak menyangka. Tapi dia berseri-seri, menganggukan kepalanya cepat atas ide itu. "Tentu saja," katanya senang, "Aku dengan senang hati akan mengajarimu!"

Uang itu dipaksa kembali ke dalam dompetnya, dan sweater yang tetap di tubuhnya yang kecil. Jari-jarinya ditempatkan di atas tuts saat malam, ia memainkan lagu pendek namun lembut dari Liszt. Sosok yang muncul setelahnya dan tatapan yang sudah dikenalnya tidak memebuatnya terkejut, malahan dia duduk di antara kakinya setelah Sehun mengusulkannya. Tentu saja ini terasa sedikit aneh, ini juga terasa sangat menakutkan, tapi lebih mudah untuk mengajarinya seperti ini.

"Lagu yang kemarin," Sehun menyatakan kesukaannya pada lagu yang Luhan mainkan kemarin dan setelah berpikir lama untuk mencari tahu mana yang dimaksud, Luhan berseri ketika tahu itu adalah Clair de lune. Suara Sehun sangat dekat, dan napas hangatnya menabrak lehernya terus-menerus. Luhan gemetar, perlahan meletakan jarinya di atas jari Sehun. "Pertama kamu tekan ini," mulai si pianis dengan sebuah gumaman, "lalu ini, tapi mainkan dengan pelan, jangan tekan terlalu keras." Dia berseri ketika bermain, dan Sehun berdengung. Matanya terpejam pada ritmenya, dan ia mengambil kesempatan saat itu untuk menempatkan dagunya pada pundak Luhan. Semuanya terasa sangat tepat, sangat sempurna walau pun ia tidak terlalu memperhatikan. Matanya tertutup, hanya nada-nada yang mengalir ke dalam hatinya, di tambah; suara Luhan.

Setelah dia menyelesaikan lagunya Luhan merasakan bagaimana tangan di bawahnya berbalik dan mengenggam miliknya, meremasnya dengan lembut dan jantungnya berdetak cepat. "Tanganmu dingin.." Dia mendengar suara tuan muda di lehernya, dan dia meremang. "Me-mereka baik-baik saja." Dia berhenti cukup lama, tangan itu masih menggenggamnya, memberikannya kehangatan yang berlebihan. "Kita harus mengulanginya agar kamu bisa mengingatnya dengan baik." Nada suara si pianis yang bergetar terdengar sangat jelas, tapi Sehun hanya menjauhkan tangannya, meletakannya tangannya pada tuts tertentu dan membuka matanya untuk melihat bagaimana Luhan memainkan sonata indah dengan sangat pelan, dia mengulanginya tiga kali, dan satu jam penuh berlalu sebelum Luhan menahan kuapnya. Sehun dengan berani menggenggam tangannya sekali lagi, memberikannya kehangatan karena mereka benar-benar dingin. "Terima kasih." Pianis itu berdiri dengan sebuah senyuman hangat, dan mengambil tasnya ke pundaknya. "Kamu sudah melakukan banyak hal untukku, Tuan muda. Tidak perlu berterima kasih." Dagunya dipegang dengan tiba-tiba, wajahnya ditengadakan. Matanya melebar sedikit. "Tidak perlu 'tuan muda' di antara kita sekarang, panggil Sehun."

Tak ada yang menduga akan kesunyian yang datang setelahnya, dan Luhan bersumpah ia merasakan ibu jari Sehun dengan lembut menyapu bibirnya ketika ia tidak mengatakan apa pun. Dia menelan gumpalan dalam tenggorokannya dan mundur, mencoba sebisanya untuk tidak terlihat kasar, walau pun dia tidak bermaksud. Pianis itu membuat sebuah senyuman kecil yang bergetar, membungkuk, "T-tidak, aku harus menghormati tempatmu, Tu-Tuan muda." Dia gemetaran, mencengkram tali tasnya lebih erat sekarang. "A-aku harus pergi." Dia hampir berlari.

Hari berikutnya datang dengan sweater tercium seperti potongan baju baru, begitu juga celananya. Dia bahkan memastikan untuk menyetrika pakaian itu di laundry yang terlihat mahal di kota. Dia mengetuk pintu kamar tuan muda di awal pagi, memeluk pakaian yang terlipat di lengannya. Dia mengetuk lagi ketika tuan muda tidak menjawab, mengira Sehun pasti sudah bangun karena ini hampir jam delapan. "Ada apa?" Dia mendengar suara berat tuan muda seperti biasanya, tapi sekarang kental dengan kantuk. Ia langsung menyesali keputusannya. "Umm, ini aku." Luhan berkata tidak yakin, matanya menuju kakinya di bawah. "Masuk." Itu terdengar lebih seperti sebuah perintah, dan sebagai jawabannya, tangannya diletakan di gagang pintu. Membiarkan dirinya sendiri masuk, menampakan pemandangan dimana tuan muda mengacak rambutnya pelan dengan tubuhnya yang terbentuk dengan baik di tempat tidur, tuhan tahu seberapa merona pipinya akan pemandangan yang menunjukan dadanya. "Umm," dia memulai dengan sebuah gigitan di bibirnya, ia memutuskan untuk tetap menundukan kepalanya. "Terima kasih atas pakaiannya, kupastikan untuk mencucinya dengan hati-hati." Dia meletakan mereka pada sebuah kursi, dan langsung berbalik menuju pintu. Tidak memberikan kesempatan pada matanya untuk melihat sedikit pria itu, tidak setelah ia bangkit seperti Zeus dan helai demi helai rambut yang berjatuhan pada dahinya. "Tunggu," Dia terlihat sangat bodoh dengan rona kemerahan di pipinya, "Luhan!" dia tidak seharusnya masuk pada awalnya, sekarang dia menutup pintu di belakangnya dan tak mengacuhkan tuan muda di dalam ruangnya.

o

o

o

x.w: HunHan yang romantis-romantisan, saya yang malu-malu kucing hutan. Nikahin juga mereka lama-lama terus punya banyak anak-anak rusa /dor. Duh, rasanya pipi ini masih panas, /lap keringet pake boxer Sehun/