Pacar Sewaan
Cast : Naruto U, Sasuke U, Kiba I, Gaara, dll
Genre : Romance
Rated : T
Warning : BL/YAOI, OOC, maksa, typo, abal, tidak jelas, pasaran banget, dan lain-lain
Summary : Sebut aja bagian ini Kencan Chapter Dua. Pokoknya semuanya ditutup dengan sempurna!
Chapter 8
Suasana canggung sangat terasa saat mereka berdua keluar dari game center itu. Tepatnya setelah kejadian itu—tolong baca cerita sebelumnya dulu kalau kalian tidak tahu.
Naruto sama sekali tidak tahu harus bicara apa sekarang. Sedangkan Sasuke, ia sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Silakan Tuan, dilihat-lihat!" suara-suara wanita terdengar dari toko-toko yang berjejer sepanjang lorong. Gadis-gadis bagian penjualan berjaga di luar. Memiliki dua fungsi, penyambut tamu dan perayu pembeli.
Mereka berjalan melewatinya, tapi kemudian Sasuke masuk ke sebuah toko tanpa diminta. "Uchiha-san…?" ia memanggil pria itu dengan marganya lagi—entah apa alasannya. Dengan langkah tergesa, ia mengikuti.
Suara bel pertanda ada pelanggan masuk berdenting pelan di telinga Naruto. Begitu sadar, ia berada diantara manekin-manekin berbalut baju formal. Gaun pendek dan kemeja apik. Semuanya sangat elegan dan indah.
Naruto memandangi sekeliling dengan takjub sampai matanya beradu tatap dengan seorang wanita. Hee… Apa? Wanita…?
Masa'—jangan bilang, kali ini juga sama dengan kemarin? Tidak! Jangan lagi!
Kengerian Naruto bertambah saat wanita yang tadinya adem ayem membaca buku dengan gaya putri kerajaan itu membanting buku tak berdosa tersebut ke meja dan berlari menghampiri mereka—tepatnya mengarah ke Sasuke.
"Sasuke-kun! Apa kabar? Long time no see, ya?" wanita itu menghampiri Sasuke dengan suara genit. Rambut merahnya berkibar laksana bendera dengan kacamata membentengi mata. Bibir bergincu dibuat tersenyum-senyum terpesona seolah Sasuke adalah makhluk terindah ciptaan Dewa yang mendiami Gunung Fuji sana.
Tapi memang dasar Direktur-Uchiha-Teme-Menyebalkan-Sasuke. Dia tidak terpengaruh sama sekali oleh wanita itu. Kejam juga kau Pak Tua!
Hei tunggu dulu, dia baru 25 tahun! Pak Tua dari Hongkong?! Suara hati meralat sambil misuh-misuh.
Bukan! Dari Amerika! Dengan nada nyolot, akal sehat membalas sengit tanpa persetujuan.
Nggak usah ikut-ikut! Sana pergi! Monolog ini bagian aku tahu! Lagi-lagi, peraduan mereka dimulai dan itu membuat Naruto pusing. Suara hati sangat tidak rela kalau harus berbagi monolog dengan pikiran yang katanya rasional itu.
BACOT! Otak Naruto sudah tidak bisa menemukan kata sopan untuk mendiamkan suara hati bawel itu.
Apa katamu? BACOT? SIALA—
DIAAAAAAAAMMM! Teriakan dramatis sumbangan penulis berhasil membuat suara hati bungkam untuk sementara. Dan, ayo kembali ke tempat kejadian perkara.
Si waita itu sadar ada sesuatu—maksudnya seseorang yang mengekori Sasuke. "Ah—siapa si pendek ini?" dan dengan tidak sopannya wanita itu menunjuk Naruto—sosok yang ada di belakang Sasuke, dengan kata terlarang. Dengan 'pendek'. Tak pelak guratan amarah terukir manis di pelipis Naruto.
Sasuke menahan tawa sedangkan Naruto menahan emosi. "—Uzumaki Naruto," Sasuke akhirnya menyebutkan si pemuda. "Wanita ini, namanya Karin. Dia itu…" kebiasaan nada menggantung Sasuke masih terbawa-bawa dalam keadaan seperti ini. Hati Naruto mau tak mau dibuat dag-dig-dug-der olehnya.
"Designer baju Sasuke!" Karin menyela dengan suara (sok) imut sambil pose (sok) imut juga. Mendengar itu, Naruto dengan (sok) imutnya muntah pelangi di belakang Sasuke yang (sok) jaim.
"Jadi—ada apa gerangan direktur muda ini kemari, hm~? Kau rindu padaku ya, Sasuke-kun?" masih menggunakan nada genit, ia bertanya pada Sasuke yang berdiri santai.
"Buatkan anak ini pakaian," tanpa mempedulikan pertanyaan Karin tadi, ia mengatakan maksud kedatangannya. So straight to the point. Mungkinkah Sasuke berpikir kalau bicara juga memakai pulsa sehingga harus hemat? Tidak tahu.
Seketika Naruto menoleh. Hah? Pakaian apa pula 'tu? Ia gagal paham. Lagi-lagi logat daerah dari Indonesia kembali menyelinap ke kalimatnya.
"Buatkan setelan jas. Berikan juga kemeja dan dasinya. Aku tidak peduli warna apa—yang penting, Jum'at depan sudah bisa dipakai," jelas Sasuke panjang lebar. Tidak ada kata 'tolong' dalam kalimatnya. Jelas ini adalah perintah.
Jas? Untuk apa?
"U-Uchi—" kalimat protes sudah siap terlontar dari ujung lidah, tapi Sasuke dengan kejamnya mendorong Naruto hingga dengan sangat terpaksa, pemuda pirang itu harus merasakan dipeluk oleh tante-tante genit ini.
Kuperingatkan kau, bocah pirang! Jangan lupa mandi kembang 7 rupa dengan air dari 7 curug berbeda saat kau sudah pulang nanti! Bisa-bisa ketularan genit, atau tertular doyan memakai gincu tebal. Hih, jangan sampai kau menjadi seperti itu!
"Oh—untuk si pendek ini?" Karin melepaskan Naruto dari pelukannya, lalu memegang (baca : mencengkram) bahu Naruto dengan kuat. Bisa tidak kata 'pendek' nya jangan dipakai? Dengan kesal Naruto membatin.
Naruto—masih dengan sangat terpaksa, beradu pandang dengan Karin. Dari balik kacamatanya, dengan sangat kentara Karin memandanginya nafsu. Entah nafsu untuk apa. Membunuh, menelanjangi? Tidak tahu!
Yang jelas, kenyamanan Naruto mendadak turun menjadi 0 persen. Sekarang sudah minus malah!
"Siapa namamu tadi?" tanya wanita itu dengan nada tajam dan tatapan mengintimidasi. "Uzumaki… Naruto," jawab si pirang sembari mengambil ancang-ancang untuk kabur.
"Mengapa—kau datang bersamanya?" sambil bertanya ia menunjuk Sasuke yang masih berdiri dengan gaya kelewat santai. Pertanyaan wanita ini aneh.
Kenapa ia datang bersama Sasuke? Bukankah itu sudah jelas?
"Karena aku pacarnya," jawaban itu lolos begitu saja tanpa sempat disaring oleh otaknya yang katanya rasional. Dan sedetik setelahnya, Naruto berasumsi bahwa lidahnya mungkin terpelintir tadi. Ya, pasti begitu!
"Pacar…?" dengan suara datar dan pelan, wanita itu bertanya. Ia makin terlihat mengerikan. Aura-aura hitam menguar dari tubuhnya.
Dia ini manusia bukan sih? Tingkahnya seperti wanita jadi-jadian gitu!
"Sasuke-kun, dia sungguh-sungguh pacarmu?" kali ini, ia menatap Sasuke dari balik kacamatanya. Dan Sasuke masih menjawab dengan tenang. "Tentu,".
Naruto sudah siap untuk kemungkinan terburuk. Kalau bukan mendapat pelukan sebagai ucapan selamat, mungkin tendangan yang membuat sekarat.
Tapi… di luar dugaan, wanita itu malah tersenyum-senyum menakutkan dengan wajah kemerah-merahan. Aura kehitaman mendadak lenyap dari balik badan. Rasanya Naruto benar-benar mau pulang ke kampung halaman!
"Uwaaaaa~ Benarkah, benarkah, benarkah? Pacarnya Sasuke-kun?" ia histeris sendirian sambil mengguncang-guncang Naruto dengan tidak manusiawi. Naruto berasa dilanda gempa bumi skala tertinggi.
"Karin, hentikan," Sasuke turun tangan dengan cara mencekal tangan wanita itu. Naruto lantas memegangi kepalanya, ia merasa belum seimbang setelah digoncang sedemikian hebat.
"Kau tidak apa?" gantian, Sasuke yang memegang pundak Naruto. Bocah itu masih terhuyung. "Eng—tidak—kurasa, eh…" kalimatnya saja masih belepotan begitu. Setelah beberapa detik, kesadaran Naruto sudah kembali pada tubuhnya seperti sedia kala.
Setelah menggoncangnya sedemikian rupa, dengan teganya Karin masih memasang senyum creepy di wajahnya. Demi Dewa! Dia pasti bukan wanita!
"Ehehe, maafkan aku, Sasuke-kun! Aku sama sekali tidak menyangka kalau kalian pacaran!" ujarnya dengan wajah tanpa dosa. Dia waras tidak sih?
"Baiklah! Aku akan mengukurmu! Tidak keberatan kan?" tanya Karin, mengeluarkan meteran kain dari saku apron toko yang ia pakai. Naruto menggeleng setelah ia meyakini diri kalau ini masih dalam batas kewajaran. Sudahlah, wanita itu memang makhluk unik dan misterius.
Naruto menurut saja saat Karin menyuruhnya mengangkat tangan, berbalik, berdiri tegap, atau melakukan gerakan yang lainnya.
"Yap! Sudah selesai!" ia sudah memindahkan ukuran itu ke memo yang ada di tangannya. "Urusan warna terserah padaku kan?" tanyanya memastikan. Sasuke hanya mengangguk. Sejenak ia melempar pandangan ke etalase toko.
Sasuke melirik-lirik kemeja dan celana kerja. Tidak hanya itu, deretan kaus juga kemeja kasual juga tergantung rapi. Ia mengambil sepotong kemeja motif kotak-kotak, dengan aksen merah, hitam dan abu-abu.
"Oh, kau mau beli baju, Uchiha-san?" tanya Naruto yang menyadari tingkah Sasuke. Kemudian Sasuke menoleh. Baju yang masih melekat di gantungannya itu lekas Sasuke tempelkan pada tubuh Naruto bagian depan.
Naruto kaget mendadak ditempeli kemeja. Hendak protes tapi tatapan Sasuke membiusnya untuk tetap ditempat. Ekspresi pria itu—ekspresi memilih pakaian, sangat membuat Naruto tidak tahu harus melihat kemana. Ini membuatnya mengingat kejadian beberapa jam lalu—tapi Sasuke menunjukkan mimik 'tak pernah terjadi apa-apai'.
"Coba ini Naruto," Sasuke memberikan kemeja itu pada pemuda di depannya setelah beberapa detik mencocokkannya. "Eh—coba?" tanya Naruto bingung. "Itu kamar pas nya. Sana," ia menunjuk pintu kayu yang terbuka.
"Oi Karin, aku boleh mencoba ini kan?" Sasuke bicara agak kencang. "Tentu saja!" Karin menyahut semangat. Ia membimbing Naruto menuju kamar pas. Dan dengan langkah terseok, Naruto masuk ke sana dan menguncinya.
Cermin besar menyambutnya. Naruto menghela nafas dan mencoba mengikuti apa yang Sasuke mau. Sudahlah, ini akan segera berakhir.
Naruto melucuti baju dan memakai kemeja tersebut. Dan ia keluar dari sana. Sasuke menoleh langsung saat mendengar kunci pintu dibuka.
Kesan pertama : Keren!
Kemeja kotak memang sangat cocok bila digulung se siku. Celana Naruto yang hitam—warna netral membuat warna kemeja lebih menonjol. Dan entah kebetulan atau bukan, Naruto memajang wajah (sok) keren miliknya.
"Bagaimana?" ia sedikit bergaya, mengganti-ganti kaki memamerkan sepatunya yang sedikit usang—yah maklum. Sasuke berpikir sejenak. Tapi, bukannya menjawab, ia malah mengambil baju lain.
"Coba ini,". Naruto kembali menghela nafas. Sudah, sabar saja!
Naruto kembali masuk dan berganti baju. Saat keluar, Sasuke sedikit terpukau.
Kesan kedua : Lucu—haha—!
Sasuke ingin tertawa—sungguh. Pakaian yang ia pilih sama sekali tidak cocok dipakai oleh pemuda itu. Cardigan kuning dengan syal hitam kedodoran. Jelas selera yang buruk. Berbanding terbalik dengan Sasuke, Naruto hanya bisa merengut pasrah.
"Ini," Sasuke kembali memberikan potongan pakaian lagi. Dengan ogah-ogahan Naruto mengambilnya dan kemudian memakainya.
Sekilas tetang keadaan Karin, ia sibuk potret sana-sini. Jiwa maniak kambuh. Tingkat : akut parah sekali.
"Sudah," Naruto keluar dari kamar pas. Kali ini… Sasuke jelas terpaku.
Kesan ketiga : Ma… ma… n…
Ya ampun, gengsi sekali Tuan Uchiha ini untuk hanya sekedar berucap manis! Perlu saya bantu eja? M-a, ma. N-i, ni. Tambah S. Manis!
Mungkinkah kinerja otak sang direktur kita melambat dikarenakan ada sesosok makhluk yang merebut perhatian indra pengelihatannya?
Kemeja krem santai dengan sweater coklat tua. Ujung kemeja mengintip di perbatasan celana dan sweater. Heh, padahal begitu sederhana. Tapi, mengapa si Uchiha ini begitu terpana? Apakah ada sesuatu yang sangat mempesona? Atau jangan-jangan ia—terkena virus-virus cinta?
"Uchiha-san?" Naruto melambai-lambaikan tangan di depan Sasuke. Mengedip-ngedip, Sasuke sadar dari acara 'Termenung'. Ia kemudian berdehem dan menarik nafas. "Karin—aku ingin ini, dan itu juga," ia menunjuk busana yang tengah dipakai Naruto, juga kemeja merah tadi.
"SIP!" masih dengan nada semangat, Karin mengepak baju itu setelah Naruto kembali memakai baju lamanya. "Ini dia~" ia menyerahkan kantung kertas yang berisi tiga potong pakaian. Sasuke yang menerimanya, dan kemudian menyerahkannya kepada Naruto.
"Bawakan," katanya memerintah. Dengan nada mutlak ia berkata. Kalau boleh jujur, ini sama sekali tidak memenuhi asas romantisme! Ia hanya jadi manekin percobaan? Oh, terima kasih!
"Sisanya akan ku bayar minggu depan," Sasuke membawa keluar bon pengambilan jas untuk Naruto. Karin melambaikan tangan bahagia. Dan mereka keluar dari sana, toko yang sepertinya lebih cocok disebut 'Toko Kematian'. Sangat mempercepat datangnya serangan jantung!
Membawa tentengan dari toko itu, Sasuke turun ke lantai dasar dan masuk ke supermarket. "Temani aku belanja," katanya memerintah. Sungguh, mereka itu mau kencan atau apa? Naruto berasa pembantu, mengikuti majikan sambil membawa tentengan.
Sasuke mengambil keranjang, begitu pula dengan Naruto. Mereka berjalan melalui berbagai rak.
Pertama, rak kosmetik.
Sebentar, sepertinya tiada guna untuk mereka lewat sini bukan? Tapi diluar dugaan, Sasuke malah menghampiri SPG setempat dan bertanya padanya.
Tentu saja dengan senang hati dia melayani, dan dengan berat hati Naruto menemani. "Cari apa tuan?" sapa si SPG ramah. Sasuke melihat deretan kosmetik di depannya. Semua untuk wanita.
"Apa—ada kosmetik untuk pria?" tanyanya. Sedikit banyak, Naruto terkejut mendengarnya. Pantas saja Sasuke ganteng, wajahnya dipoles benda-benda mahal!
"Tentu saja ada. Mari ikut saya," mereka berpindah sedikit dari tempat semula. Berjejer botol-botol entah bermerek apa. Naruto saja sama sekali tidak tahu kalau kosmetik pria itu ada di dunia. Setahunya, hanya makhluk berkelamin wanita yang suka bersolek di depan kaca.
"Sabun muka untuk kulit berminyak, ada?" tanya Sasuke kemudian. Dan selanjutnya Naruto memperhatikan wajah Sasuke. Berminyak? Rasanya wajah pria itu mulus mendekati kering!
Wanita itu kemudian mengambilkan sebotol sabun muka—entah merek apa tapi sepertinya mahal—lalu Sasuke melihatnya. "Kalau dipakai rutin, minyak akan luntur dalam satu minggu!" kata SPG itu. "Lebih bagus lagi kalau memakai lotion wajahnya juga," SPG itu menambahkan. Ia menunjukan botol lotion warna putih.
Sasuke memegang kedua botol itu di tangannya. Ia membuka lotion itu, mengendusnya perlahan. "Coba kau cium," Naruto disuruh ikut mengendus. Sekali dua kali, ia bisa tahu kalau bau khas teh hijau yang kental keluar dari botol.
"Enak," jawab Naruto singkat. Dan Sasuke tanpa ba-bi-bu lagi memasukkannya ke keranjang. Hah? Jadi serius Sasuke ingin membelinya demi perawatan muka? Heh, orang kaya beda!
Berjalan ke rak lain, rak makanan ringan. "Mana yang sebaiknya ku beli?" tanya Sasuke meminta saran. Naruto melirik-lirik. "Itu—itu juga enak. Ah! Ini enak sekali, kau harus mencobanya!" Naruto mengambil banyak bungkus makanan dan memasukkannya ke keranjang.
Sasuke hanya diam menunggu sampai Naruto diam. "Sudah cukup," katanya. Ia melihat banyak biscuit coklat juga chips berbagai rasa memenuhi keranjang. Mereka lanjut ke rak lain.
Rak makanan instan. "RAMEN!" melihat cup-cup mi ramen instan berjejer rapi dengan berbagai merek, membuat Naruto tidak tahan untuk membelinya. Sayangnya ia tidak punya uang. Cek itu? Ia belum mampir ke bank.
"Ambil beberapa untukmu," kata Sasuke sambil memasukkan bungkusan minuman instan pengganti sarapan. Naruto sedikit ternganga. Apa ia boleh beranggapan kalau ia kembali di traktir?
"Kau serius?" memang sih, satu cup ramen itu pasti tak ada apa-apanya untuk Uchiha satu itu. "Cepat sebelum aku berubah pikiran,". Dengan senang hati Naruto mengambil varian-varian lain sesuka hati. Sasuke geleng kepala melihat pemuda itu kalap kalau sudah melihat mie satu itu.
Keluar dari rak itu dengan sumringah—hanya Naruto yang begitu, mereka lalu masuk ke rak makanan beku. Kulkas-kulkas berisi banyak daging olahan juga produk susu. Sasuke mengambil sekotak besar susu kedelai.
"Uchiha-san suka susu kedelai?" tanya Naruto saat Sasuke memasukkannya ke keranjang belanja. "Memangnya kenapa?". Naruto tersenyum salah tingkah.
"Ah—Tidak—soalnya aku alergi," jawabnya dengan cengir menggemaskan minta dicubit hingga melar. "Lho, tidak jadi beli?" tanya Naruto bingung saat Sasuke kembali meletakkan susu kedelai itu di raknya. Sasuke tidak menjawab dan Naruto bingung di tempat.
Sasuke mengambil beberapa sayuran. Kewajibannya adalah membeli tomat setiap belanja! Catat itu.
Selain tomat berkantung-kantung, Sasuke membeli sawi, cabai, bawang dan banyak lagi hingga keranjang terasa begitu berat.
"Uchiha-san, berat," keluh Naruto saat ia menyeret belanjaan itu ke kasir. Sementara Sasuke tampaknya kuat-kuat saja dengan beban seperti itu di tangan kanannya.
"Payah," ia berujar tajam. "Kalau kau aktif di klub renang mu, harusnya tanganmu terlatih dengan beban seperti ini," lanjutnya.
Tolong dengarkan baik-baik ya, Tuan Uchiha! Pemuda pirang yang kau sebut-sebut itu berenang demi kesehatannya, tidak untuk menenteng keranjang belanja dan mengekor di belakang mu yang berlagak seperti mandor angkot ini!
Dengan wajah yang tak terdefinisi lagi bentuknya, Naruto hanya menghela nafas pendek dan menaruh keranjangnya di bawah—sambil menunggu antrian kasir. Langkah yang bisa ia perbuat hanya menurut saja.
Dari menaruh barang belanja hingga kembali menenteng barang belanja, Naruto melakukan semuanya. Sasuke hanya membawa dua kantung, sedangkan sisanya Naruto—2 kantung di kanan, satu di kiri dan satu kantung baju—totalnya empat.
Sungguh. Sangat tidak romantis!
Gelap telah datang ketika mereka keluar dari mall itu. Mobil melaju dengan kecepatan sedang menyusuri jalanan Konoha yang masih setengah ramai.
Keheningan begitu terasa di mobil tersebut. Tidak tahan, Naruto mengajukan pertanyaan pemecah kesunyian. "Uchiha-san, aku ingin bertanya soal jas itu,". Uchiha-san yang dimaksud sedang fokus ke jalanan.
"Apa?". Naruto bersandar pada jok, mengambil posisi santai. "Kenapa—kau membelikanku jas? Untuk apa?" tanyanya penasaran.
Sejenak Sasuke berpikir, jawaban apa yang membuat si pirang itu takkan bertanya lagi. Tapi—setelah kembali dipikir, ternyata itu sulit. Jawab jujur lebih mudah.
"Untuk pergi ke pernikahan Sakura," jawabnya pelan. Naruto menoleh saat ia mendengar penuturan itu. "Hah—kupikir kau tidak ingin datang?" Naruto bertanya dengan nada heran.
"Memang, tapi…" Sasuke dengan menyebalkannya memakai nada penuh ke-ambigu-an.
Sasuke terkekeh. "Kau sendiri yang bilang kalau aku harus datang," ia beralibi.
Alis Naruto mengkerut. "Kapan—kapan aku bilang begitu?" ia malah kebingungan sendiri. Naruto mencoba menggali ingatan yang terpendam.
"Lupa?" pancing Sasuke. Naruto mengangguk. "Tidak ingat?". Naruto menggeleng.
"Kau sungguh tidak ingat?". Naruto tetap menggeleng. "Tolong katakan saja!" Naruto tidak tahan.
"Malam itu—kemarin," katanya. "Ke—marin… Kemarin…" masih dalam kelemotan luar biasa, ia berpikir.
"Kemarin?". Sekali lagi kau ucapkan Naruto, kau bisa mendapat paket piring cantik!
Sasuke terkekeh geli. "Kalau lupa yasudah,". Naruto tidak terima. "Uhh, apaan sih?". Ia malah makin penasaran.
"Katakan saja, tolonglah!" ujar Naruto geram. Sasuke menghentikan mobilnya. "Lho, kenapa berhenti?" si pirang itu kembali bertanya.
Sasuke diam, lalu menoleh dengan gaya klise. "Apa kau tahu arti dari mengigau?" ia malah melontarkan pertanyaan aneh. Tentu saja Naruto mengerutkan alis bingung. "Hah—kok?" otaknya tak nyambung sama sekali. Tentu saja mengigau itu kan bicara saat tidur.
Tapi kalau kata mengigau digabung dengan 'kau tidak sadar mengatakannya'… jadi maksudnya…
"Aku—mengigau?" Naruto menunjuk diri sendiri dengan telunjuk berdiri. "Di pelukanku," tambahnya. Ia mengatakannya dengan nada seringan bulu. Tapi Naruto malah memerah malu seperti kuku kejepit pintu.
"Turun," titah Sasuke. Masih dengan kesadaran yang belum penuh, Naruto gelagapan. "Kenapa?".
"Kenapa? Kau tidak mau pulang?" Sasuke menunjuk keluar jendela. Naruto refleks melempar pandangan. Ia mendapati flat-nya yang sudah diterangi lampu-lampu jalanan.
Demi apa sudah sampai?
Cepat—sekali.
Itu artinya… kencannya sudah selesai ya? Terselip kecewa di hati kecil Naruto.
"Hei, turun bocah,". Naruto diam.
"Hei—". "Sasuke,". Kini Sasuke yang diam.
"Terima kasih untuk kencannya. Sampai jumpa, Sasuke,". Dan Naruto—pemuda pirang itu, keluar dari mobil dengan manis. Sasuke mendadak tersedak kekuatan magis. Yang membuatnya harus menelan air liur sampai habis.
Pintu mobil tertutup dan Sasuke sudah lihat juga kalau pintu flat Naruto menutup. Ia sudah masuk.
Melihat si pirang itu hilang, Sasuke malah tak ingin pulang. "Agh, sial," umpatnya pelan.
Sasuke keluar dari mobil, membuka bagasi. Semua kresek berlogo super market ia tenteng sekaligus.
BRUGH. Dan berakhir diletakkan di depan pintu tempat tinggal si pirang.
"Hah…" Naruto langsung memeluk bantal tercinta saat ia masuk. Lelah, itu yang ia rasakan hari ini.
Lelah ganda—kalau gejala itu ada. Bukan hanya raga tapi juga jiwa.
Dipaksa makan siang, dicium keningnya, ketemu tante genit, bawa belanjaan majikan, terakhir dibilang mengigau di pelukan klien.
Kurang sempurna apa huh?
TRING TRING!
Ponsel berdering tanda ada yang mengirim pesan singkat. Yap, penambahan kesempurnaan hari ini.
To : Naruto
Buka pintu.
Sekarang.
Sasuke
Apalagi ini, Dewa ku Tercinta?
Masih dengan langkah setengah ingin setengah menolak, Naruto membuka pintu.
Dan sedetik kemudian ia mendapati tumpukan kantung belanja yang tadi ia bawa-bawa mengitari mall bersama si pria-teman-kencannya itu.
Jadi—kesimpulannya.
Sasuke itu… membelikannya baju 3 lembar, sabun cuci muka, sayuran, ramen instan, juga cemilan?
'Kamvret,'. Tolong siapapun, yang punya imunisasi cinta. Naruto tak ingin cepat-cepat kena virusnya.
Bersambung...
Halooo minna oh mai gat senang rasanya bisa kembali *kedip jijay sambil nangis bombay*
Gimana? Makin ancur ya? Hehehe, Ao bikin ini ngebut anget mumpung ada wifi *maap fakir wifi neh*
Ao merasa buntu kemaren, makanya kelanjutannya tak kunjung ditulis.
Nah, jangan lupa komentar yaa minna-san!
Hm, kalo boleh bocorin dikit... Chap depan ada sesuatu yang membuat Naruto dag-dig-dug-der sama Sasuke
Apa hayo? Cie Naru~ #apasih
Pokoke, review!
Sankyuu~
AkaiLoveAoi
