I do not own the story!
copyright © 2015 Adagio by inkills (AFF)
translated by Xiao Wa (June 25, 2016)
Enjoy~
o
o
o
"Ya tuhan," Luhan menyadarinya ketika dia sedang menuruni tangga ke bawah, ia berbalik hanya untuk melihat ke pintu kamar tuan muda. Di sanalah dia sadar, harga dirinya. "Aku hanya akan menghindarinya." Pikirannya sudah menandai itu sebagai sebuah rencana, dan tanpa membuang banyak waktu dia pergi ke bawah untuk meminum secangkir kopi hangat paginya yang dibuat Kyungsoo. Dan memainkan lagu pagi yang tenang untuk keluarga itu, seperti With The Wind contohnya. Untuk rencana hari ini tak terlupakan untuk bersembunyi di salah satu kamar mandi jadi Sehun tidak bisa menemukannya. Jauh di dalam dia berdoa agar Sehun tidak mengatakan apa pun pada nyonya betapa tidak sopan dirinya, karena tuan muda sudah banyak membantunya dan sangat lembut terhadapnya. Dia paling takut dipecat, karena siapa tahu.. Ia mungkin tidak bisa menemukan pekerjaan; dan bekerja pada keluarga kaya ini jauh lebih baik dari yang ia harapkan.
Jemarinya dengan cepat memainkan nada terkahir untuk makan siang, dia meninggalkan tasnya di belakang dan bersembunyi ke dapur secepatnya, khususnya di belakang Yifan seorang pelayan yang tinggi; berjaga-jaga jika Sehun mencarinya. "Apa kamu bersembunyi dari seorang?" Dia memberikan sebuah tatapan dan Luhan berdengung bertanya, lalu dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku hanya ingin melihat perbedaan tinggi kita." Itu terlihat sangat jelas, tapi Yifan terlalu sibuk untuk berurusan dengan kebohongannya. Berbagai pikiran menyerang kepalanya, itu adalah alasan yang tak bisa diterima karena itu Luhan bersembunyi, dia bersembunyi dari rasa malu. Dia melamun dan menelan semua makan siangnya tanpa sadar, memberitahu Jeongmin untuk mengisi mangkuknya lagi dan pelayan itu tertawa kecil ketika ia kembali melamun. Bagaimana bisa dia berakhir dalam lubang dalam bersama dengan tuan muda? Bukankah dia orang yang membawa gadis kemari kapan pun nyonya pergi? Bukankah dia yang mengatakan betapa pemula dirinya?
Saat malam, pianis itu diam-diam kembali ke ruang piano. Matanya mencari sosok khusus agar dirinya tidak tertangkap. Dia menemukan tasnya tertutup dan lembarannya masih di rak. Perlahan ia duduk, mencoba untuk tidak membuat suara sekecil pun dan perlahan mulai memainkan sesuatu untuk si keluarga. Ketika dia berhenti, dia bisa mendengar mereka tertawa di ruang makan, dan dia merasa telah sukses dalam misinya, ia memberikan beberapa energi pada acara makan mereka dan menyalakan sebuah lilin untuk mereka agar lebih dekat. Si pianis tersenyum. Tangannya terulur meraih tasnya untuk melipat lembarannya di dalam, dan dengan hati-hati menutup papan penutupnya. "Ketika tuan muda memberitahumu untuk menunggu, bukankah seharusnya kau menunggu?"
Papannya terjatuh, dan matanya melebar. Dia di sini, tuan muda akhirnya menemukannya. "Hmm, Luhan?" ia tidak bisa mendongak dan melihatnya, dia menolak untuk mengangkat kepalanya. "Uh.. aku ingin minta maaf, aku tidak bisa berpikir pagi ini, itu saja." Perlahan menutup tasnya dan meletakannya di pangkuannya. Tiba-tiba, ada tangan yang mengacak rambutnya dan dia mengerang. Kekehan pelan mengikuti aksinya dan dia mendongak melihat Sehun tersenyum padanya, dia menelan ludah. "Tidak apa-apa," Oh, betapa lembutnya dia. Dan Luhan masih mencoba untuk mencari tahu alasan dibalik semua kebaikan ini.
Dia duduk di antara kaki kuatnya, sedikit merona. Tangannya diletakan pada tangan Sehun yang lebih besar dan mengeluarkan helaan napas sebelum memulai. Mereka terus bermain dan bermain, sampai Luhan mulai menjelaskan kembali cara memainkan lagunya jadi Sehun bisa mengingatnya. Tapi semua yang bisa Sehun ingat adalah kelembutan suaranya, wajahnya yang tiba-tiba berseri di antara nada-nada dan bentuk jari-jarinya, juga sentuhan lembut pada tangannya. Dia berhenti, dengan tiba-tiba melilitkan lengannya di sekitar sosok kecil yang duduk di antara kakinya dan menenggelamkan wajahnya di antara pundak dan lehernya. Dia berdengung, "Tolong lanjutkan," ia hampir memohon, Luhan terkejut akan sentuhannya. Dia behenti sesaat, akan sentuhan erat dari tuan muda di sekitar tubuhnya. Itu membuatnya merasakan banyak hal sekaligus, dan membuatnya sangat takut. Bagaimanapun, dia melanjutkan versinya yang biasa dari Clair de lune.
Pianis itu menelan ludahnya beberapa kali, dan mencoba menenangkan dirinya sendiri dari sentuhan tiba-tiba yang tuan muda berikan. Lengannya masih memeluknya erat, dan wajahnya masih ditenggelamkan. Sampai ia menyelesaikan sonata indahnya dan tuan muda itu masih tidak bergerak. Caranya bermain terasa sangat lamban, menit-menit yang berlalu terasa sangat lamban dan napas hangat Sehun yang terus menabrak lehernya dengan lembut, dia masih meremang. "T-Tuan muda," panggil si pianis, dengan bisikan, perlahan menutup papannya sekali lagi. "Umm," tidak terlalu yakin apa yang ingin dikatakan, si pianis menundukan kepalanya untuk melirik sekilas pada lengan yang memeluknya dengan erat, "Tinggalah sebentar lagi."
Dia melakukannya, ia menurutinya kali ini dan tetap tinggal. Matanya terpejam sebentar, dan itu menakutinya pada bagaimana ia memeluknya, sangat erat, ini terasa seperti ia putus asa padanya, sangat putus asa. Setelah beberapa menit berlalu, lengan yang sama mulai mengendur, memberitahunya bahwa dia bisa pergi dan dia berdiri, secepatnya untuk lari dari situasi itu. Tapi dirinya ditarik mendekat, menggunakan tangannya yang lain Sehun menghubungi supirnya. Suasanya terasa sangat berat di dalam mobil, dengan Sehun yang terus menutup mulutnya dan matanya yang memandangi jendela. Dan si pianis tidak bisa lebih bingung lagi, ia dibawa ke apartemennya dan ia pergi dengan sebuah uacapan pelan "Terima kasih banyak." Secepatnya mengambil kesempatan untuk berlari ke dalam wilayahnya sendiri. Dia tidak pernah membayangkan pembelajarannya akan diisi dengan banyak emosi yang dalam, dia dipeluk lagi keesokan harinya, dan itu tidak lagi begitu mengejutkan.
Sehun menyuruhnya untuk terus melanjutkan lagunya dan ia menurut, dia bisa merasakan betapa eratnya pelukan tuan mudanya dan napas hangatnya yang terus menerpa lehernya. Semua itu membuatnya merinding, dan merengek sepenuhnya pasrah. Tapi hal yang terjadi berikutnya menghancurkannya menjadi bagian-bagian kecil, menghancurkan apa yang ia tuju dan menguburnya jauh ke dalam. Tekanan darahnya menurun dan matanya terbelalak lebar, jari-jarinya terasa berat dan dingin. Tuan muda itu memeluknya lebih erat, ketika dia menyelesaikan sonatanya yang biasa ia mainkan untuknya, dia bisa merasakan ia memisahkan bibir kecilnya untuk membiarkan beberapa kata keluar menuju lehernya. "Aku mencintaimu." Detak jantung Luhan sangat keras, keadaanya terasa sangat tidak nyata tapi detak jantungnya sendiri membawanya kembali pada kenyataan. Mereka hanya terdiri dari tiga kata, tapi mereka terasa sangat berat, sama seperti suara Sehun. Sama seperti detak jantungnya. "Aku mencintaimu" Sehun menegaskannya dan tenggorokan Luhan terasa sangat sesak, ia dengan berani menjauhkan lengan yang memeluknya. Bangun berdiri dan mengambil tasnya untuk pergi, "I-ini sudah sangat larut, aku harus pergi." Lengannya terkulai, dan itu semua yang Luhan lihat sebelum ia pergi.
o
o
o
x.w: baru ada koneksi PC ha ha ha ha /ditendang
