Pacar Sewaan

Cast : Naruto U, Sasuke U, Kiba I, Gaara, dll

Genre : Romance

Rated : T

Warning : BL/YAOI, OOC, maksa, typo, abal, tidak jelas, pasaran banget, dan lain-lain

Summary : Minggu ini sungguh luar biasa. Dari ketemu Gaara, mengajari hal dewasa, datang ke pesta, sampai dugaan penculikan tiba-tiba. Dan malam itu semuanya berakhir begitu saja.


Chapter 9


Di suatu hari berikut-berikut-berikutnya setelah kencan hari Minggu…

To : Naruto

Nanti aku jemput.

Sasuke

Oke. Naruto baru saja mendengar ada bunyi ponsel yang mengindikasikan adanya pesan masuk. Dan… Ini apa?

Pria itu—direktur itu, Sasuke memberinya pesan di tengah kelas membosankan milik Ebisu si kacamata hitam? Tolong sadarkan dia dari mimpi tengah malam!

Naruto melirik ponselnya lagi—mendapati pesan Sasuke yang ia terima beberapa detik yang lalu. Singkat tapi sarat akan makna. Ya, tiga kata yang memiliki satu arti.

Aku cinta kamu—eh bukan—nanti aku jemput.

Memang itu sama sekali bukan masalah. Lalu, apa yang dirisaukan oleh mentari klub berenang kita ini?

Ia menghela nafas di bangku.

Masalahnya adalah… yang menjemputnya itu… Sasuke.

Ya… lalu? Dimana duduk perkara sebenarnya?

Begini, biar Naruto jelaskan dengan seksama.

Kalau dekat-dekat dengannya—si direktur itu—dia merasakan gejala aneh pada organ-organ tertentu.

Jantungnya berdebar kencang, wajahnya terkadang panas-dingin, otaknya melambat, emosinya terombang-ambing.

Ia pikir—tadinya, itu merupakan gejala penyakit kelumpuhan otak dan komplikasi penyakit jantung dini yang ramai dibicarakan oleh ahli penyakit dalam.

Tapi-tapi-tapi, setelah melakukan analisa sedemikian rupa dan survey pada para pembaca,

Ternyata bukan, saudara-saudara.

Internet bilang padanya setelah sekian lama ia mencari di dunia maya dengan kesabaran seadanya.

Itu namanya…

Jatuh.

Cinta.

Digabung menjadi, jatuh cinta.

Yap, Naruto jatuh cinta. Pada siapa?

"Uuh…" Naruto menunduk malu dengan hanya memikirkannya. Ia sedang berpikir sambil menganalisa. Mengapa cinta ini begitu kilat layaknya kereta peluru jurusan Tokyo-Osaka?

Baru seminggu pertemuan mereka, Naruto sudah terinfeksi virus Zika—eh maksudnya—virus cinta dengan si pria bermarga Uchiha.

Terangkat jarinya untuk membalas pesan si pria.

.

To : Uchiha-san

Tidak perlu menjemputku, aku bisa naik bis.

.

Hapus. Naruto baru ingat kalau ia tak bawa uang saku.

.

To : Uchiha-san

Oke. Aku akan menunggumu di gerbang kampus.

.

Hapus. Dia terlihat sangat genit layaknya wanita sewaan paman-paman (walau kenyataannya tidak beda jauh).

.

To : Uchiha-san

Hari ini ada kegiatan klub, maaf ya kita tidak bisa pulang bersama.

.

Hapus. Bohong sepertinya bukan jalan yang baik!

AGH. Baru kali ini Naruto membalas pesan seperti ingin memilih jawaban soal masuk perguruan tinggi negeri. Sulit bukan main untuk menebak jawaban mana yang paling betul menurut juri.

Memantapkan hati untuk menulis kata. Pada akhirnya…

To : Uchiha-san

Baiklah.

Kirim. Ya, ia sudah melakukannya walau hanya dengan satu kata.

Ia menghela nafas lega sambil menyeka peluh—layaknya wajah ibu-ibu setelah melahirkan.

Demi Dewa yang masih duduk tenang di puncak Gunung Fuji. Kali ini bagian mana dari aku yang ingin kau uji? Naruto hanya bisa membatin frustasi.

Tidak. Tunggu dulu. Tunggu sebentar!

Naruto sama sekali tidak setuju dengan kata dunia maya itu. Ia menarik kembali kalimatnya di awal tadi.

Jatuh cinta? Hah! Mana mungkin!

Bagaimana ia bisa begitu yakin kalau ia jatuh cinta pada Sasuke?

Kenapa ia percaya begitu saja tanpa membuktikannya? Dengan hanya mencocokkan gejalanya, apa bisa ketahuan kalau itu sungguh nyata?

Bukankah ini hanya gejala adaptasi dari kejadian yang baru pertama kali ia alami? Tidak mungkin ia bisa jatuh cinta dalam satu minggu!

Ia tidak bisa menyerah semudah ini. Tidak bisa!

Ia masih lurus. Masih lurus. Lurus!

Sasuke hanyalah kliennya. Sasuke hanyalah wujud dari profesionalitasnya, bagian dari pekerjaannya. Tidak lebih!

Ia harus membuktikannya, ya, harus!

GRATAK!

"Uzumaki, ada apa?" bukan salah siapa-siapa kalau mendadak nama Naruto disebut oleh Ebisu yang menoleh heran ke belakang.

Tak hanya si dosen yang melirik bingung padanya, satu kelas pun melakukan hal yang sama tak terkecuali Kiba Inuzuka, kawan yang duduk di sebelahnya.

Suara kursi yang bergeser keras akibat ulah Naruto yang mendadak berdiri membuat pecah konsentrasi.

"Eh?" bukannya menjawab, ia malah ber-eh ria. Lagi pula—pikir Naruto, untuk apa berdiri segala? Semangat pembuktian yang ia alami dalam hati terlalu menguasai diri sehingga ia lepas kendali.

"Eng—maaf, sensei. Hehehe," cengir lebar 5 jari itu akhirnya muncul, minta ampun pada Ebisu yang terinterupsi. Ia mengusap tengkuk menahan malu.

Ebisu geleng kepala, dan kelas menyambutnya dengan tawa. Pelajaran pun dilanjut seperti biasa.

Nanti, aku akan membuktikannya nanti! Naruto kemudian duduk kembali sambil mengepalkan tangan puas.


Dalam balutan kemeja panjang bewarna abu-abu terang dan celana kerja hitam, Sasuke bersandar di mobil miliknya di halaman kampus Naruto.

Ia tidak menganggur, ia membaca buku—entah apa—sambil menunggu si 'pacar' datang.

Ia baru 5 menit menunggu. Dan sudah lebih dari lima pasang mata wanita meliriknya tanpa henti. Heh, dipikir ia tidak tahu?

Yah, bukan salahnya punya wajah ikemen alias tampan seperti ini. Dewa memang adil, sih.

Ia menghela nafas sejenak. Jengah dengan tatapan lawan jenisnya yang menatapnya seperti 'SIAPA DIA TAMPAN SEKALI DIMANA RUMAHNYA NOMOR TELEPONNYA BERAPA JOMBLO GAK'.

Wanita terkadang mengerikan, ia membatin.

Tanpa mengalihkan pandangan, ia tahu ada sepasang kaki yang berjalan kearahnya.

Sepatu sneakers dengan celana jeans biru tua, ia bisa melihatnya.

"Menunggu siapa, Tuan Uchiha?" mendadak si pemilik kaki itu bersuara. Sasuke tersadar.

Orang ini bukanlah yang ia tunggu.

Menengadah, mendapati sosok pemuda berambut merah menatapnya angkuh. Ah, Sasuke ingat akan sesuatu.

"Itu bukan urusanmu," balas Sasuke datar.

Pemuda itu—Gaara, maju selangkah mendekati si Uchiha. "Kalau menunggu Naruto, kau salah tempat. Ini lahan parkir Fakultas Kedokteran," ucap Gaara lagi dengan nada meremehkan.

"Aku tidak salah tempat. Kau tahu? Lahan parkir Fakultas Hukum begitu penuh. Lagi pula, Naruto tahu kalau aku parkir disini," Sasuke menjawab dengan santai.

Gaara kalah telak. Oho, tapi ia takkan berhenti begitu saja.

"Hei, Tuan Uchiha," panggil Gaara dengan suara rendah. Dan itu berhasil membuat Sasuke menengadah.

"Aku menyukai Naruto," . Sasuke tidak terkejut, tapi tidak menyangka kalau anak itu akan terang-terangan padanya mengenai perasaan si merah terhadap si pirang.

"Lalu? Apa urusannya dengan ku?" tanya Sasuke sebagai balasan. "Begitu kau sudah selesai dengannya, akan kuambil bagian ku," lanjut Gaara.

Sasuke diam saja. "Aku ingin tanya. Dari ribuan pengguna kencan online, mengapa kau memilih Naruto?" Gaara bertanya.

Si pria bingung dalam benaknya. Iya juga ya.

Kenapa Sasuke memilih Naruto sebagai teman kencannya? Bukan seorang wanita molek yang tentu saja cantik wajahnya.

Dan kalaupun harus seorang pria, mengapa Naruto yang harus jadi pilihannya?

Apa ini kebetulan semata? Asal comot saja? Atau… jatuh cinta pada pandangan pertama? Jangan-jangan ia sudah ganti haluan cinta menjadi penyuka pemuda?

"Aku…"

"Sasuke!".

Tak pelak si pemilik nama menoleh, lupa akan kalimat yang sudah ada di ujung lidah.

"Naruto?"

Bukan Sasuke yang menjawab, melainkan pemuda bernama Sabaku Gaara yang menyahutinya.

"Ah—hai, Gaara!" Naruto tersenyum sambil menyapa pemuda itu. "Gaara sedang apa disini?" tanya Naruto kemudian.

Heh… kau bodoh ya… batin Gaara miris. "Ini lahan milik Fakultas Kedokteran, kau lupa Naruto?" ia menjawab dengan nada mengayun di bagian belakang. Juga tidak lupa menambah senyum kecil di bibir.

"Wah…! Maaf-maaf, aku lupa kalau kau ada di Fakultas Kedokteran. Sasuke menyuruhku ke sini karena—"

"Naruto," kini si pemilik mobil memotong. Naruto menoleh, menatap Sasuke yang sudah membuka pintu mobil.

"Ayo pulang," katanya. Tanpa basa-basi lagi, Sasuke masuk dan menutup pintu. Naruto melirik pasrah.

"Eng—Gaara aku pamit dulu. Sampai jumpa besok di klub!" Naruto melambaikan tangan, lalu masuk ke mobil.

Sementara pemuda berambut merah itu—Gaara, menatap datar mobil yang bertolak dari hadapannya.

Menyaksikan Naruto dan Sasuke dalam satu kendaraan berdua, mana mungkin hati Gaara tak sakit saat melihatnya?

Menahan pilu dengan mengeraskan rahang, Gaara pun melangkah pulang menuju gerbang.


Sasuke mengemudi dengan kecepatan biasa. Matanya fokus ke jalanan, sesekali melirik kearah Naruto yang duduk bersandar dengan santai di joknya.

"Kau memakainya?" pertanyaan darinya memecah keheningan. Naruto menoleh. "Hah?".

Sasuke terkekeh. "Kemeja yang waktu kencan itu, yang beli di tokonya Karin,".

Naruto benar-benar lupa. Ia baru sadar kalau ini kemeja yang waktu itu Sasuke belikan untuknya.

Bu-Bukannya ia ingin Sasuke melihat dirinya memakainya! Ia hanya asal ambil tadi pagi karena ia kesiangan. Udah itu aja!

"Ya, gitu deh," ia malas menjelaskan dan pasang muka santai.

Tapi, walau tampang Naruto seadem pohon beringin taman kampus, tapi pikirannya gelisah setengah mampus.

Akan ku tunjukan profesionalitas ku padanya! Aku tidak mungkin jatuh cinta padanya! Tapi apa yang akan aku lakukan?

Baiklah. Naruto mengehela nafas mencoba mencari ide. Hal apa yang kira-kira bisa memuaskan Sasuke? Ekhem—maksudnya, sebagai pacar yang dibayar, harusnya Naruto memang melakukan sesuatu kan?

Sesuatu yang akan membuktikan kalau ia tidak jatuh cinta pada Sasuke. Tapi, melayani dengan sepenuh hati tanpa motif tersembunyi.

Oh ya, ia dapat ide. "Sasuke," panggilnya. "Hm?" sudah ada dugaan dari Naruto kalau Sasuke hanya akan menyahut singkat.

"Eng—hari ini apa kau senggang?" ia bertanya lagi. "Kalau aku menjemputmu berarti aku senggang, bodoh,".

"Si-siapa yang kau panggil bodoh?!" Naruto malah berseru tidak terima. "Ya tentu saja kau," dengan tangan kirinya yang bebas, telunjuk mengacung tepat ke wajah Naruto.

"Enak saja, kau yang bodoh!" balas Naruto tidak kalah sengit. "Kau,". "Kau!". "Kau,".

Oke, tolong berhenti.

Naruto menarik diri dan kemudian melipat kedua tangan kesal, berpose merajuk. "Kalau kau senggang, maksudku, apa kau mau ke rumahku?" tawar Naruto.

Sebenarnya, dalam hati Naruto teriak-teriak ala pemandu sorak karena panik tingkat tinggi. Takut rencana miliknya salah besar dan malah membuatnya rugi bandar.

"Tumben sekali kau mengajakku, ada urusan apa?" Sasuke bertanya. "Eh, i-itu…".

"Kau mau minta diajari? Maaf, aku tidak belajar hukum sewaktu kuliah," direktur itu memotong seenak jidat.

"Siapa juga yang bertanya soal itu! Aku belum selesai bicara," Naruto menyahut kesal.

Naruto kemudian menyusun kalimatnya dengan hati-hati. "Aku—aku memang minta diajari…" ia mengantung kalimatnya—ikut-ikutan seperti Sasuke.

"Tapi, aku ingin Sasuke mengajari…".

Mengajari…? Rupanya, batin Sasuke dag-dig-dug-der menunggu kelanjutannya. Ia benar-benar menantikannya.

"Hal dewasa,".

Hal dewasa. Hal dewasa. Hal dewasa. Hal dewasa.

Sumpah, otak Sasuke mendadak mampet oleh dua kata itu. Terngiang tanpa henti bagai kaset yang kusut pitanya.

Lantas, ia berhenti dadakan dengan gaya mendramatisir. "Duh, jangan ngerem tiba-tiba!" keluh Naruto pada pria di sampingnya itu.

"Kita sudah sampai, bodoh,". Naruto melirik ke luar jendela. Sasuke lagi-lagi benar.

"Jadi—apa maksudmu dengan hal dewasa itu?" tanpa disadari oleh Naruto—maupun Sasuke, tubuh direktur itu hanya berjarak kurang dari 50 centi.

Ketika manusia pirang itu berbalik, ia sudah melihat lengan pria berbalut kemeja abu-abu itu ada di atas jok-nya, dan yang satu lagi ada di atas dasbor, seakan-akan mengurungnya.

Biasanya, bila melihat tindakan Sasuke yang seperti ini, Naruto akan segera menepisnya dan berkata 'mesum'. Tapi tidak kali ini.

Pipinya bersemu merah sambil bicara,

"Jangan di sini, bodoh. Di tempat ku saja,".

Pikiran Sasuke benar-benar keluyuran ke bagian yang 'iya-iya'. Ia tidak percaya, kalau pacar yang ia sewa ini benar-benar… akan melakukannya.

"Silakan masuk," ucap Naruto saat membuka pintu. Sasuke melepas sepatu dan mengikuti langkah Naruto.

Tunggu dulu! Apa Sasuke benar-benar akan melakukan hal ini? Mengajari Naruto hal-hal dewasa…? Memangnya ia sendiri sudah mengerti?

Diliriknya Naruto yang sedang berganti baju. Melucuti kemeja secara perlahan, seakan-akan memamerkan punggung yang melengkung indah. Lalu melepas celana jeans—menyisakan celana pendek dan kaus kaki.

Cepat pakai baju sialan! Sasuke rupanya tidak tahan. Ia mengurung wajahnya dengan lengan.

Naruto dengan cepat memakai kaus hitam polos dan celana olahraga selutut.

"Sasuke, kau kan memberikan banyak makanan kemarin…" mendadak Sasuke mendengar suara Naruto yang bernada seduktif—bagi pendengarannya.

Ia menengadah, dan sontak saja mendapati pemandangan indah.

Naruto dengan balutan apron, dengan menggendong berbagai macam bahan makanan di tangan. Tomat, timun, batang seledri, wortel, botol saus mayonnaise.

"Ayo kita habiskan bersama," ia tersenyum ringan sambil bicara demikian.

Ayo kita habiskan bersama. Ayo kita habiskan bersama.

Apa ini…? Ajakan untuk melakukan hal itu? 'Itu'? Sungguhan 'itu'? Dengan makanan?

Maksudnya, ini food se

"Ayo Sasuke, ajari aku memasak!".

Hah?

"Kita habiskan bersama. Makanan yang kau berikan terlalu banyak. Aku tidak bisa memasak, makanya aku minta kau mengajari ku," Naruto berkata lagi. Ia juga menunjuk makanan kaleng yang memang Sasuke borong malam itu.

Kenapa… berakhir seperti ini?

Sasuke bingung sendiri. Tak mengerti mengapa ia memotong wortel, bawang merah, dan seledri. Lalu ia merebus air. Ia juga menumis tomat dan bawang. Kenapa tercium aroma sup?

Kenapa ia menaruh makanan di karpet? Dan kenapa bocah itu menunjukan wajah tanpa dosa seolah ia tidak membuat Sasuke menderita?

"Tunggu dulu Naruto!" protes Sasuke setelah semuanya berakhir. Naruto baru menaruh sumpit sekali pakai di atas piring saat Sasuke berteriak.

"Apa sih?" ia mengangkat alis heran. Sasuke menghela nafas. "Kenapa kita memasak?".

"Kenapa kita memasak setelah kau bilang kau ingin diajari… hal dewasa?".

Naruto memasang wajah polos. "Lho, memasak adalah pekerjaan orang dewasa. Apa kau lupa kalau anak-anak tidak boleh menggunakan kompor dan pisau sembarangan? Kau lihat koki di restoran? Tidak ada yang bocah seperti ku di sana! Paman Teuchi saja melarang ku masuk ke dapurnya!".

"Bagaimana kau tahu kalau aku bisa memasak?" Sasuke bertanya dengan nada hati-hati. Naruto berpikir, "Ya, asal tebak saja sih. Habis, Sasuke kemarin belanja banyak sayur mentah, bukan masakan cepat saji. Jadi aku pikir… Sasuke pasti bisa mengolahnya!".

"Lagi pula, ini bagian dari pelayanan ku. Bukankah kau senang bisa menyalurkan bakat mu di sini? Jangan sungkan untuk memasak di rumah ku! Sasuke tinggal sendirian kan?" bocah pirang itu masih melanjutkan.

Bagaimana mungkin alasan ini bisa disebut logis?

Walau Sasuke tidak mengerti kemana arah pembicaraan Naruto, ia tetap menangkap intinya.

Oh. Jadi bagi Naruto, memasak itu hal dewasa? Jadi, cuma Sasuke yang berprasangka?

Sementara dibalik kepolosan Naruto, ia bersorak sorai dalam hati. Sedari tadi, ia sudah mengamati Sasuke. Ia mengamati bagaimana berdebarnya orang itu saat ia bicara mengenai hal dewasa.

Dikira ia akan melakukan hal 'itu'? Tentu saja tidak akan pernah! Dasar pikiran kotor!

Terbukti, bahwa ia masih normal. Tidak tergoda oleh Sasuke yang sedang berdebar-debar.

Malah Sasuke yang sepertinya kalah tegar. Duh, penulis tak mengerti jalan pikir Naruto yang sangat aneh ini.

Dan hari itu, Sasuke facepalm. Facepalm lagi dan lagi, hingga wajahnya masuk sempurna ke kepala.


Kemudian dan kemudian setelah hari laknat dimana Sasuke melakukan 'hal dewasa' dengan Naruto, hari Sabtu pun tiba. Pukul 6 sore, Naruto sudah diminta berdiri di depan flat-nya dengan jas baru yang Sasuke berikan. Yap, seperti janji minggu lalu. Mereka akan pergi ke pernikahan Sakura dan Itachi.

Naruto memasang kemeja jingga muda lengan panjang, lalu memasang dasi kupu-kupu hitam juga jas bewarna sama dengan celananya. Yah, ia tidak kaget saat melihat jas ini sudah tergantung di depan pintu flat-nya pagi-pagi.

Ia berkaca sejenak. Kalau dipikir-pikir, dengan uang hasil kerja sambilan pasti takkan bisa membeli jas selicin ini. Ia terkekeh di cermin.

Dengan gaya ala iklan jeli rambut mahal, ia menyisir rambutnya dengan jari kearah belakang. Ia sudah mencuci muka dengan sabun muka yang Sasuke berikan padanya waktu itu. Yah, lumayan sih. Wajahnya bebas dari minyak berlebih.

"Yosh!". Ia harus menuntaskan pekerjaannya. Bersikap profesional, lalu dapat uang. Dan ia akan selamat dari krisis moneter berkepanjangan juga kejadian hiper inflasi yang telah lama melanda kantongnya.

Naruto akhirnya keluar dari flat-nya. Tak lama ia mendapati Sasuke datang dengan mobilnya.

Perjalanan mereka tidak begitu hening. Sasuke malam itu ada di mood yang bagus. Mereka mengobrol sepanjang jalan menuju gedung pernikahan.

Saat mereka tiba, kelap-kelip lampu pesta sudah terlihat dari kejauhan. Sasuke melenggang masuk, dengan Naruto yang grogi ada di sampingnya.

"Jangan norak begitu," cibir Sasuke saat mengambilkan Naruto welcome drink. "Siapa yang norak, dasar sial!" Naruto mengumpat tidak terima. Hei, ia juga pernah masuk ke gedung pernikahan! Siapa yang bilang tidak pernah?

Tapi Naruto sih tetap kagum setengah mati dengan hall yang sepertinya tidak bisa ia kelilingi dalam satu malam—oke itu berlebihan. Ruangan yang mereka yang masuki memang besar sekali. Pendingin udara bekerja maksimal, dan tamu yang datang juga berdandan secara maksimal.

Naruto sih maklum. Pernikahan seorang pesaing bisnis-nya Sasuke. Mana mungkin tidak high-class?

Setelah Naruto menerima minuman dari tangan Sasuke, ia lekas menenggaknya. Dari balik beningnya kaca gelas, Naruto bisa melihat kalau Sasuke memandanginya.

Mau tidak mau, Naruto bertanya, "Ada apa?". Sasuke yang sadar langsung mengalihkan pandangan. "Tidak ada,". Naruto berhasil dibuat bertanya-tanya.

"Dan ayo kita sambut! Inilah mereka yang ditunggu-tunggu! Pengantin kita malam ini yang begitu cantik, juga tampan! Itachi dan Sakura~!" suara pembawa acara yang ada di ujung ruangan terdengar begitu semangat di malam yang tenang itu.

Naruto menanti-nanti seperti apa rupa Sakura yang memakai gaun pengantin. Juga Itachi yang merupakan kakak Sasuke yang belum pernah ia lihat wajahnya.

Tapi, ia lebih menantikan reaksi Sasuke yang melihat mereka berdua berdampingan. Ah—pasti ekspresi menyakitkan itu akan terlihat lagi. Haruskah ia memeluknya lagi? Atau…

"Naruto, ayo," di tengah kegiatannya berpikir hendak melakukan apa, Sasuke malah menyeretnya ke bagian depan ruangan itu. Si pirang itu pasrah mengikuti kemana Sasuke membawanya.

Nauto nyaris lupa kalau Sasuke itu keluarganya yang punya acara. Ia pasti mendapatkan tempat eksklusif. Dan karena dia adalah pacarnya, Naruto juga (mungkin) kecipratan.

Dari tempat ia berdiri, ia bisa melihat Sakura yang begitu cantik. Dengan balutan gaun panjang model tanpa lengan yang sewarna dengan kuntum sakura—sesuai dengan namanya. Tudung kepala tipis menjuntai menutupi helaian rambut dan menyamarkan sedikit wajahnya.

Di sampingnya, berdiri seorang pria tinggi yang memakai setelan putih—yang ia asumsikan sebagai Itachi. Rambutnya berwarna abu-abu gelap, dikuncir ke belakang. Sedikit poni menjuntai menutupi pipi juga dahi, tapi Naruto masih bisa melihat wajahnya.

Sorot matanya menenangkan, dan menyenangkan. Sama seperti milik Sasuke.

Itachi menawarkan lengan pada Sakura, dan tentu saja dengan senang hati wanita itu menyambutnya. Di atas panggung pelaminan mereka berdiri berdampingan, dengan wajah yang begitu bahagia. Sedikit banyak Naruto menoleh kearah Sasuke—yang ternyata tidak menampakkan wajah apa-apa.

Kosong.

GYUT. Naruto mengambil inisiatif. Digenggamnya tangan Sasuke perlahan—seolah berusaha menguatkan. Telapak mereka bersentuhan, jemari mereka bertautan.

Pria itu kaget. "Naruto, kenapa tiba-tiba—".

"Sudahlah. Sasuke boleh meremas tangan ku sepuasnya. Jangan sampai kau mengamuk, apalagi bunuh diri," suara Naruto yang mengejeknya telak entah kenapa justru membuatnya hangat.

"Bodoh, mana sudi aku bunuh diri di depan orang yang aku cintai," balas Sasuke sambil mengeratkan genggaman. Telapak Naruto memanas.

Kalimat Sasuke barusan begitu ambigu. Walau ia setengah hidup tahu kalau yang dimaksud dengan 'orang yang dicintai' adalah Sakura… entah kenapa ia merasa bahwa ialah yang menjadi sosok yang Sasuke cintai saat ini.

Jantungnya mulai berdebar. Makin keras.

Sial, sial, sial! Naruto hanya bisa mengumpat dalam hati ketika gejala itu muncul lagi. Bagaimana kau bisa berpikir begitu, dasar idiot!

Dengan usaha keras ia berusaha menghentikan jantungnya yang dag-dig-dug tak karuan. Syukurlah, musik dari panggung mulai mengalun pelan. Ia sedikit terbawa suasana.

"Para undangan dipersilakan untuk mengambil hidangan yang telah tersedia! Yang ingin bersalaman dengan kedua mempelai, atau berfoto bersama juga dipersilakan!" terdengar lagi suara dari pembawa acara.

Dan selanjutnya Naruto merasa pergelangannya melonggar. Sasuke melepaskan pegangan. "Kau mau?" tawar Sasuke, menunjuk sebuah meja yang berisi tumpukan kue. Naruto mengangguk senang.

Strawberry shortcake menjadi hidangan pertama yang ia makan. Tampilannya begitu indah, begitu berkelas ala hotel bintang tujuh. Saat ia menggigitnya, krim putih itu langsung lumer dan kue sponsnya sangat lembut sehingga ia bisa langsung menelannya.

Tidak lain dengan buah strawberry itu. Begitu mudah digigit, tidak begitu asam dan sedikit manis. Sempurna.

Ck ck. Pesaing bisnis Sasuke memang kelewat tajir. Naruto tidak boleh melewatkan ini hingga akhir—maksudnya makan kue.

"Kau datang, Sasuke," saat Naruto menaruh piring kembali di meja, ia mendengar suara teguran dari seorang pria. Teguran untuk klien-nya.

Dan ia sama sekali tidak menduga kalau sosok yang bersanding dengan Sakura tadi—Itachi, turun panggung dan menghampiri adiknya tercinta.

Sasuke tengah mengelap mulutnya menggunakan serbet ketika sang kakak datang. "Hm," ia menyahut singkat.

Lalu, Itachi menoleh kearah Naruto, memperhatikannya dengan jeli. Naruto jadi salah tingkah.

"Pacar mu?" ia bertanya pada Sasuke. Entah kenapa Naruto merasa de javu.

"Ya. Dia Uzumaki Naruto. Naruto, ini kakak ku, Uchiha Itachi," Sasuke kemudian berdiri di samping Itachi. Pria berjas putih itu melambaikan tangan ke Naruto.

"Imut," puji Itachi singkat. Dan Naruto kembali merasa de javu!

"Bagaimana Sasuke?" Itachi bertanya. Naruto bingung mau jawab apa. "Eh—Sasuke itu… baik kok," jawabnya ragu-ragu.

Alis Itachi dan Sasuke kompak naik. Heran.

Duh, kenapa malu-malu?! Dimana profesonalitas yang kemarin kau gembar-gemborkan, bodoh?

Naruto menarik nafas untuk menyusun kalimat. "Sasuke selalu menjemput ku di waktu luangnya. Ia juga mengirimi ku pesan di ponsel, mengajak ku kencan, membelikan beberapa barang…".

"Bahkan kemarin ia sempat mengajari ku memasak. Benar-benar menyenangkan! Sasuke adalah sosok yang baik,". Bahkan Sasuke sendiri tidak percaya kalau orang sewaannya itu akan bicara demikian lancar di depan target yang ditujukan.

"Aku sangat mencintainya,". Perasaan Naruto mengalir begitu saja saat mengatakannya. Hangat, darahnya berdesir cepat.

Dan Itachi berhasil dibuat takjub. Ia menorehkan senyum di bibir tipisnya.

"Baguslah kalau begitu. Kalau begitu, aku titip Sasuke ya, Naruto?". Kali ini benar-benar de javu!

Dengan rona tipis di pipi Naruto mengangguk pasti.


Pukul 8 malam, Sasuke menyeret Naruto pergi. Ia merasa sudah menuntaskan tugas sebagai saudara untuk datang ke resepsi pernikahan Itachi.

"Kerja mu bagus,". Satu kalimat keluar dari mulut Sasuke saat mereka tengah berkendara. Naruto menoleh—bingung mendapati pujian mengenai pekerjaannya. "Ah—makasih," balas Naruto sekenanya.

Gelap sudah memenuhi mata. Hanya lampu jalanan yang menjadi pemandu. Juga lampu sorot dari mobil Sasuke yang menyinari aspal.

Sesaat hening tercipta diantara mereka. Naruto sibuk dengan pikirannya sendiri, dan ia kemudian heboh setelah sadar kalau mereka belum sampai di tempatnya tinggal.

"Sasuke! Ki-Kita mau kemana? Tunggu!". Naruto bergerak-gerak gelisah di tempat ia duduk. Ia kembali berpikir kalau ia diculik. Ini sungguh de javu.

Tolong Dewa! Anak kesayangan mu ini diculik oleh paman-paman mesum yang baru saja pulang dari nikahan mantan! Selamatkan aku, wahai Dewa!

"Diamlah," kali ini Sasuke berkata dengan tegas. Naruto sekejap merasa takut. "Tidak usah berpikir macam-macam,".

Naruto benar-benar takut. Ia tidak berani menatap Sasuke. Ia membeku.

Ia tambah ngeri saat melihat jalanan makin sepi. Tak ada mobil yang datang dari arah berlawanan. Apalagi yang mengikuti dari arah belakang.

Sudah berapa lama mereka naik mobil, dan sudah berapa jauh mereka berkendara? Dan sebenarnya mereka itu mau kemana?

Jantung Naruto berhenti saat Sasuke mengerem mobilnya. "Turun," kembali Sasuke berujar singkat dengan nada menyuruh.

Apa-apaan ini? Tadi dia bersikap begitu melankolis di gedung pernikahan. Kenapa mendadak menjadi menyeramkan layaknya belum makan orang?

Oh jangan-jangan… Jangan-jangan dia mau dimakan? Jangan-jangan Sasuke bukan manusia? Wajahnya pucat pasi dengan hanya memikirkannya.

"Apa yang kau lakukan di sana? Turun," Sasuke lagi-lagi memerintah. Naruto menggeleng. "Kau mau membawa ku kemana?" ia bertanya seolah ia benar-benar telah diculik.

"Ikut aku atau kau mau sendirian di jalanan gelap seperti ini?". Sukses membuat Naruto merinding ngeri. Oke, mungkin mengikuti Sasuke—bukan hal buruk.

Ah tentu saja itu hal buruk! Untuk apa dia membawa lampu minyak segala?! Dia mau melakukan ritual? Jangan-jangan Naruto mau dijadikan tumbal? Dewa tolong Naruto segera!

"Berpegang pada ku kalau kau tak ingin tersesat," Sasuke menawarkan tangan. Jadi, inikah yang dilakukan mereka sebelum memakan para korbannya? Berbuat baik pada mereka dan menyenangkan hatinya?

Ia menelan ludah hingga kerongkongannya kering luar biasa.

Karena merasa tak ada pilihan dan ketakutan sudah merajalela, Naruto memeluk lengan Sasuke segera. Tangan kanan Sasuke memegang lentera, sementara di lengan kiri Naruto bergelayut manja.

Mereka berjalan menjauhi mobil. Menyusuri ilalang yang ada di kiri dan kanan jalan. Sekitar 5 menit berjalan, mereka melewati gapura yang tidak jelas terbuat dari apa.

Naruto makin ngeri karena, dia sama sekali tidak bisa berpikir kemana Sasuke membawanya. Yang terbayang hanyalah kalau Sasuke akan menyalakan api dengan lampu minyak, lalu membuatnya pingsan, mengulitinya hidup-hidup, membakar dagingnya, memotong tulangnya… dan lalu… lalu…

Semoga Dewa menolong ku! Semoga Dewa menolong ku! Dewa, tolong aku!

Naruto terus merapal doa dalam hati. Naruto memilih menutup mata. Karena kalau terjaga saja juga gelap! Percuma!

"Naruto, Naruto!" Sasuke menggoyangkan lengan, berusaha menyadarkan Naruto yang memeluk lengannya kuat-kuat.

"Sasuke! Aku tidak mau mati! Tolong jangan bunuh aku! Aku belum lulus kuliah, aku belum menikah, tolong ampuni aku!". Naruto meracau tidak jelas. Sasuke mau tidak mau mengerutkan alis heran.

"Apa sih? Buka mata mu, bodoh!" Sasuke menghempaskan Naruto dari lengannya. Dengan gerakan pelan, Naruto membuka mata, berharap yang ia lihat hanya delusi semata.

Sasuke berdiri di sana, dengan kemeja putih dan celana hitam, memegang lentera, berdiri di depan sebuah pusara.

Ini pasti tempat Sasuke melakukan ritualnya! Pasti!

Sasuke meletakkan lentera itu di atas pusara, mengeluarkan apinya dan menyalakan lilin baru. Ia menaruh lilin itu di depan pusara. Dibakarnya dupa yang entah dari mana ia dapat. Lalu diletakkan di atas busa sebelah pusara.

Kemudian ia berlutut, merapatkan kedua tangan dan memejamkan mata. Tuh kan! Ritualnya dimulai!

"Aku datang… Ibu,".

Hah?

Yang tadi itu… sihir pembukanya?

"Ibu, aku baru saja dari pernikahan Itachi—dan Sakura. Semoga Ibu bisa melihat betapa bahagianya mereka,".

"Sasuke…" Naruto memanggilnya dengan suara parau.

"Ah ya, Ibu… ini Naruto. Sekarang, dia pacar ku. Ibu tidak usah khawatir lagi. Anak mu sudah mendapatkan orang yang ia sayangi…" Sasuke masih bicara dan masih dengan posisi yang sama.

"Naruto… kenalkan diri mu," Sasuke akhirnya menengadah, memberikan dupa pada Naruto yang masih mematung.

"Ini—apa-apaan ini Sasuke?" wajah Naruto berubah sepucat bulan purnama saat dupa itu sampai di telapaknya.

Tatapan Sasuke menjadi sendu. "Mengunjungi Ibu. Aku sudah bilang kan kalau aku harus menunjukan diri mu pada Ibu ku?".

Naruto masih mencerna kalimat pria itu. "Ini tempat Ibu ku sekarang…" dan kemudian Sasuke mengelus pusara itu, lembut sekali.

Pemuda pirang itu merasakan dirinya benar-benar terguncang. Apa dia sudah gila? Mengunjungi pemakaman malam-malam begini… dan bilang kalau pusara ini adalah makam Ibunya?

Naruto batal ketakutan. Ia sekarang hendak menangis tidak karuan.

Dibakarnya dupa dan ditaruhnya di sebelah pusara. Naruto ikut merapatkan kedua tangannya sama seperti Sasuke.

"A-Aku… Aku Uzumaki Naruto! Sekarang… Sasuke adalah pacar ku. Dia begitu baik! Walau sedikit menyebalkan dan suka memerintah…".

"Tapi dia benar-benar orang yang baik!" air mata turut menyertai perkataannya barusan.

Naruto begitu terharu. Ia benar-benar tidak tahu. Sama sekali tidak tahu kalau Sasuke seorang piatu.

Ia masih punya sepasang orang tua yang menunggunya di kampung halaman. Tapi tidak dengan Sasuke. Ibunya sudah bersatu dengan bumi.

"Nah Ibu… Ibu tidak perlu khawatir lagi tentang aku. Karena Naruto akan selalu ada di sisi ku…". Naruto mengangguk-angguk dengan mulut yang berusaha meredam isak.

"Sekarang aku pamit dulu. Kapan-kapan kami akan datang lagi…" ujar Sasuke lalu mematikan dupa. Naruto pun menyeka seluruh air mata.

Naruto benar-benar merasa bersalah karena ia berprasangka buruk pada kliennya sendiri. Padahal… itu salah satu tugasnya. Menunjukkan bahwa Sasuke sudah baik-baik saja di depan ibunya.

Mereka kembali ke mobil. Dan Sasuke mengantar Naruto ke flat-nya. "Sasuke…" sebelum turun Naruto memanggil. "Hm?" yang dipanggil hanya menyahut singkat.

"Aku mau minta maaf. Aku sudah berprasangka buruk pada mu," ia menunduk. Sasuke mengelus puncak pirang milik Naruto. "Aku juga salah. Tidak bilang-bilang pada mu kita mau kemana,".

Nauto menggeleng. "Tidak! Aku salah… aku tidak tahu kalau ibu mu…" Naruto tidak sanggup melanjutkan. Sasuke tersenyum tipis. "Itu bukan masalah besar,".

Naruto memandangi Sasuke sebentar. Tepat di matanya.

Dia yang begitu tersakiti.

Ibunya sudah tiada. Dan lagi, Sakura juga sudah ada yang punya. Penderitaan apa lagi yang harus diterima oleh pria ini?

Bagaimana mungkin ia punya pikiran kalau Sasuke akan melakukan ritual tumbal aneh di pemakaman?

Naruto jadi tak tega untuk meninggalkannya. Ia jadi tidak ingin pergi. "Sudah malam, Naruto," ucapan Sasuke menyadarkannya.

Ah ya. Ia harus membiarkan Sasuke istirahat malam ini. Pasti pria itu lelah luar dalam.

"Baiklah, sampai jumpa, Sasuke,". Naruto akhirnya keluar dari mobil.

Baru genap dua langkah berlalu dari sana, Sasuke keluar dari mobil dan mencegatnya.

Naruto menoleh kaget. "Sasu—".

"Ini untuk mu," secara mendadak Sasuke mengulurkan tangan. Ia meraih telapak Naruto dan meletakkan selembar kertas di sana. Ia menyuruh Naruto menggenggamnya.

"Apa... ini—". Naruto melirik Sasuke penuh tanya.

"Aku melunasi utang ku. Kau sudah menuntaskan tugas mu,". Rambutnya berkibar mengikuti angin malam yang bertiup ringan.

"Selesai. Kita sudah selesai. Kau bebas," Sasuke tersenyum, menyentuh bahu Naruto dan kemudian…

Mengecup kening pemuda itu dengan sangat lembut.

"Terima kasih atas bantuannya selama ini, Naruto…" dan selanjutnya Sasuke mengelus puncak kepala Naruto.

Apa…? Apa-apaan ini?

Sudah berakhir…?

Sama sekali tidak bisa dibiarkan.

"Tapi—kontrak kita sebulan kan?" suara Naruto serak bukan main saat bertanya. "Ya. Tapi pekerjaan mu sudah beres. Bila aku yang memutus kontrak itu tidak masalah kan? Aku juga sudah melunasi sisanya,".

Naruto masih termangu dengan selembar cek di tangannya.

"Kau sudah bertemu Ibu ku dan melakukan yang terbaik di depan Sakura juga Itachi…".

"Kalau begitu… Selamat tinggal,".

Kita berpisah? Apa ini berarti… kita takkan bertemu lagi?

Ah ya. Naruto nyaris lupa dengan perkataan Kiba dahulu kala.

"Hanya perlu pura-pura mesra. Kontrak habis, ikatan berakhir. Dapat uang deh…".

Pria itu sudah memutuskan kontrak. Berarti ikatan mereka memang sudah habis. Selesai sudah.

Dan memang begini harusnya, bukan?

"Selamat... ting-". Naruto tidak ingin mengucapkannya.

Sasuke masuk ke mobil, melaju pergi sejauh mungkin. Secepat mungkin.

Naruto tidak juga beranjak melihat Sasuke yang sudah hilang ditelan kabut malam. Ia hanya bisa menunduk, memegangi keningnya yang panas.

Tangannya meremat kertas bertulis 50 ribu yen itu dengan sekuat tenaga. Ia ingin menghancurkan kertas itu. Tapi ia tidak punya daya untuk merobeknya.

Apalagi kekuatan untuk merelakan pria yang baru saja mengecup lembut keningnya. Pria yang datang begitu singkat dan pergi begitu cepat dari hadapannya.

Pria yang telah memporak-porandakan hatinya. Mengacaukan setiap akhir pekannya, membuatnya menderita penyakit yang tak jelas namanya.

Pria yang membuat dirinya… tiada lelah untuk memikirkannya.


Bersambung...


Halo minna-san! Lama kita tak bertemu, Ao kangen setengah mampus sama kalian semua! *peluk cium*

Oke, bagaimana ceritanya? Makin tidak jelas kah?

Ao sangat minta maaf atas ketidak jelasan dan kesalahan dalam penulisan fanfic ini.

Juga untuk keterlambatan peng-update-an yang sangat lama.

Mohon dimaafkan ya semua! Karena Ao kembali terserang virus-virus cinta, eh maksudnya WB! Ao blank banget kemaren-kemaren *nangis

Nah, pokoknya silakan dinikmati yaaa, jangan lupa review loh mbak-mbak dan mas-mas sekalian!

Terima kasih yaa

AkaiLoveAoi