I do not own the story!

copyright © 2015 Adagio by inkills (AFF)

translated by Xiao Wa (June 25, 2016)

Enjoy~

o

o

o

Jantungnya berdetak dengan keras, sangat keras membuat lututnya gemetar di dalam taksi sampai si pengemudi harus bertanya. Tangannya menutupi mulutnya terkejut, setelah menutup pintu di belakangnya ketika dia sampai di dalam apartemennya. Tidak mungkin, sangat tidak mungkin bahwa Sehun jatuh cinta padanya. Terlalu banyak alasan yang membuatnya mungkin. Dia menyandarkan diri ke pintu sebelum tasnya jatuh ke lantai, menundukan kepala sendiri penuh rasa malu.

Ini merupakan serangan panik yang berlanjut hingga tengah malam, dia tidak bisa tidur, hanya napas beratnya yang terdengar dan kejadian itu terus terulang lagi dan lagi di dalam kepalanya. Termasuk bagian saat ia menjauhkan lengan itu dari dirinya, dan mereka terjatuh dengan sangat buruk, bersama dengan dinding-dinding yang Sehun bangun di sekitarnya. Dia tidak bisa membawa dirinya sendiri keluar dari ruang piano setelah pianis itu dengan jelas menolaknya dengan cepat, mungkin dia hanya kabur, hatinya memberitahunya.

Dan Luhan tidak bisa lupa bagaimana cara mereka memeluknya, bagaimana jantungnya berdetak sangat cepat di dalam dadanya. Ia merasakannya saat betapa erat pelukannya, dan emosi Sehun membuatnya sesak napas. Ia merasakan mereka di sekitar lehernya.

Karena pagi tidak terlalu cerah baginya ia memutuskan untuk mengasingkan dirinya di kafe yang ramai, melempar dirinya yang kecil ke pojok dan menembakan kafein ke dalam sistemnya, Luhan merasa seperti seorang suami yang putus asa pada istrinya yang baru saja meninggal. Dia muncul di mansion tepat waktu, duduk di bangku mewah seperti biasanya dan memainkan sebuah lagu pagi, lagu menyedihkan yang cocok dengan keadaannya yang kebingungan. Ia tidak tahu four Klavierstücke merupakan lagu yang bagus untuk pagi hari.

Dia membangun tempurung lain, dan bersembunyi, ia memeluk dirinya sendiri dan menonton para pelayan mengobrol dengan gembira di dapur. Dia kembali ke apartemen tanpa dosis tuan muda hariannya, dan mulai mendengarkan karya-karya dari Brahms. Mulai menghargai kesedihan dalam sonatanya dan kemurungan yang dalam juga keindahan dari sonatanya, ia bisa merasakannya dengan jelas. Dan ketika waktunya untuk kembali ke mansion dia tidak pernah merasa sangat berat. Dia mulai menyeret paksa dirinya sendiri ke sana, dibanding semangatnya untuk bekerja yang dulu. Ia bisa melihatnya berjalan menuju ruang makan untuk sarapan dengan wajah tanpa ekspresinya seperti biasa, tapi bentuknya lebih dalam. Hentikan, berhenti. Sehun akan berteriak dalam pikirannya, hanya hatinya yang tahu perjuangannya pada nada-nada yang tak ada hentinya dan melodi-melodi yang memikat ini, pikirannya hanya bisa mengingat mereka jauh dalam hatinya.

Luhan tidak pernah memberikan perhatian dari mata rusanya. Ia tidak pernah berani untuk melangkah lebih dekat atau bahkan untuk menunggunya di ruang piano untuk melanjutkan latihan mereka. Ia menjalani pekerjaannya dengan lebih profesional, tetapi bermain tiga kali sehari dimulai untuk meninggalkannya sia-sia dan membuat dia penuh dengan kesabaran. Sehun melangkah mendekat ketika makan malam, senyumannya kembali untuk waktu yang singkat saat Luhan menatapnya kembali di matanya, selama beberapa detik sebelum ia mengambilnya kembali. "Apa kita tetap melakukan latihan?" Pianis itu memegang kertasnya dengan gugup, "T-Tentu saja." Sebagai balasan, Sehun berdengung, dan Luhan dengan cepat pergi dengan alasan tidak ingin terlambat. Sehun juga tidak terlambat untuk datang, dia lebih memilih duduk di sebelahnya dan meletakan jemarinya pada akor tertentu. Sehun melengkungkan alisnya, "Kamu tidak duduk di sini?" Sehun menunjuk di antara kakinya dan Luhan berdeham ketika sebuah gumpalan tiba-tiba terbentuk di tenggorokannya. "Tidak, semuanya baik-baik saja dari sini." Itu tidak begitu bagus, Sehun seorang pemula dan dia tidak melakukannya dengan baik ketika Luhan memintanya untuk memainkan nada-nada tertentu, ia mengernyit. "Apa kamu memperhatikan saat kita latihan sebelumnya?" Tuan muda membiarkan sebuah kekehan keluar, "Tidak sama sekali." Dan si pianis melebarkan matanya terkejut, kedua alisnya hampir mencapai batas rambutnya dan Sehun terkekeh sekali lagi. "Bagaimana bisa aku memperhatikan ketika kamu begitu dekat denganku?"

Telapak tangannya terasa berat, jemarinya gemetar sebelum Sehun mengambil mereka, menciumi mereka dengan lembut dan ia terkaget. "Aku mencintaimu, Luhan." Pianis itu merasa sangat frustasi, seraya matanya tidak pernah meninggalkan mata lembut dan penuh kasih milik Sehun. Sehun membawa tangannya ke atas, menangkup pipinya dan membelai tulang pipinya dengan sangat lembut, terlalu lembut dan ia tidak bisa menolak untuk tidak menyandar pada sentuhannya. "Aku tidak pernah merasa seperti ini pada siapa pun sebelumnya, jantungku, Luhan, berdetak sangat keras kapan pun aku berada didekatmu dan ini sangat tidak nyaman, tapi di saat yang sama ini terasa sangat baik." Kepala si pianis sedikit tertunduk, kata-katanya terasa berat, dan cara Sehun mengangkat kepalanya lebih lembut dari yang lain. Dia bisa melihat bintang-bintang, seluruh alam semesta dipersembahkan kepadanya dalam tiga kata, tapi dia masih yakin untuk memilih perkerjaannya lebih dulu. "Tolong jangan lari," Suasananya terasa berat dengan detak jantungnya dan kata-katanya, yang tidak bisa melewatkan detakan jantung Luhan. "I-Ini hanya," Luhan mengambil napas dalam, menenangkan jemarinya yang gemetar sebelum perlahan menariknya menjauh dari genggaman tuan muda. "tidak baik." Dia hampir berbisik, "Tidak ada yang baik soal ini."

Dia benci betapa lemah dirinya, betapa pengecutnya ia, dan karena sentuhan-sentuhan itu ia hampir meleleh di tempat. Sehun dengan lembut membelai ibu jarinya pada bibirnya yang gemetar, menenangkannya seraya matanya dipusatkan pada mata Luhan. Mereka memohon untuk sebuah jawaban, dan siap mengubur dirinya di tanah jika Luhan memberikannya sebuah penolakan. "Kenapa tidak ada yang baik tentang ini? Apa cintaku untukmu sebuah dosa?" Bibir pianis itu terdiam, dengan ibu jari yang masih membelainya. "Katakan padaku, Luhan... apa yang membuatmu begitu menyangkalnya?" Dia tidak bisa mengatakan apa pun, karena ketika kapan pun ia mengangkat kepalanya kedua mata itu akan menembusnya, mengambil jiwanya keluar dan membuat kakinya kebakaran. Mereka hampir membeku, kedua tangannya dingin dan sebelum ia bisa menolak sepasang tangan yang lebih besar menggenggamnya. Memberikan mereka sebuah kehangatan. "I-Ini tidak benar," Ia mencoba mengambil napas dalam, ingin mengumpulkan beberapa kata dan mengakhirinya dengan baik, tapi ia kehabisan napas, dan kehabisan kata-kata. "M-Maksudku, aku datang kemari untuk bekerja.. dan aku tidak pernah memikirkan hal seperti itu karena t-tujuan utama ku adalah bekerja." Ia menggelengkan kepalanya, dan Sehun terus-menerus mengelus jari-jarinya yang berwarna merah muda sekarang. "Kamu bisa terus bekerja di sini, tidak ada masalah dengan itu.. lagi pula, kita bisa bertemu setiap hari."

"Aku tidak mau ada yang mengalihkan ku dari pekerjaanku." Dia mencoba untuk menolak, untuk menahan diri tapi kalimatnya seperti hanya memiliki efek yang lemah. Ia berada dalam keadaan bingung, tetapi memang kapan pun Sehun membicarakan tentang perasaannya ia masuk ke dalam keadaan kebingungan. Ia tidak pernah membayangkan dirinya sendiri dicintai oleh seorang di tempat yang sangat tinggi dan ia terkejut, dia dipeluk dan dibawa sangat dekat. Dia merasa sangat kecil dan entah bagaimana sangat aman dalam lengan itu. Tanpa sadar matanya terpejam, kehangatan membungkusnya seperti sebuah jaket. "Ini pertama kalinya bagi ku untuk jatuh cinta, setelah aku jatuh pada sihir yang kamu buat dengan kedua tanganmu." Ia membenci semuanya tentang momen ini, ia benci betapa erat dirinya dipeluk dan rasa putus asa dalam suara Sehun. Ia benci kata-katanya dan ia membencinya, ia sangat membenci Sehun. "Aku akan menunggu untukmu." Kalimat-kalimat itu membuatnya tidak bisa tidur di malam hari dan hari-harinya tenggelam karena terlalu banyak berpikir, lalu di sanalah dia, berjalan dengan rasa puas di wajahnya ke dalam mansion. Para pelayan menanyakan kehadirannya yang terlambat dan para mata keluarga yang heran pada lagu-lagu sedihnya, penyesalan terdalamnya yang ia takut untuk perlihatkan. Dia takut untuk menunjukan bagaimana matanya menatap ke bawah untuk menghindari tatapan sayang dari yang lain, ditambah tekanan yang ia dapat di pundaknya kapan pun dia berada di mansion.

Desahan napas panjang keluar melewati bibirnya, dan jari-jarinya berlari di antara rambutnya, saat Sehun memasuki ruang piano dengan sebuah senyuman kecil. Dia duduk di bangku, dan mengikuti intruksinya dengan baik, sampai Luhan berada di antara kakinya, memberi tahunya untuk melihat gerakan jarinya terlebih dahulu, lalu hatinya. Tetapi dia terlalu teralihkan. Dia menutup matanya dan perlahan mengecup pundak si pianis saat ia bermain, dengan perlahan mengalungkan lengannya di sekitar tubuhnya dan memintanya untuk melanjutkan permainannya.

Luhan melanjutkan dengan kerutan di bibirnya, mengakhirinya pelan dan meminta Sehun untuk memainkannya sebagai sebuah tes. Dia menonton bagaimana tuan muda menempatkan jemarinya pada tuts tertentu, dan perlahan memulai lagu yang sama hingga ia mencapai pertengahan, dan berhenti, untuk dilanjutkan oleh Luhan dengan senyuman tersembunyi. "Tadi sudah cukup bagus." Dia tidak pernah berhenti di tengah-tengah lagu, itu harus tetap dilanjutkan. Dia menengok ke belakang dengan senyuman senang, akhirnya melihat tuan mudanya dan peningkatan keterampilan pianonya, tapi dia berhenti. Senyumannya perlahan menghilang ketika dia melihatnya tersenyum sangat lebar, dengan kedua matanya yang berkelip bahagia setelah menjadi sangat gelap. Dia menyondong untuk mencium pipi kiri si pianis, lalu menariknya lagi dengan senyuman yang lebih lebar, hati Luhan tenggelam akan pemandangan itu.

Ia meneguk secangkir kafein di pagi berikutnya, pergi ke arah mansion dengan sepedanya. Ia bertemu dengannya, dan berhenti dengan senyuman yang sama yang tidak pernah muncul sampai kemarin malam. "Selamat pagi." Ia tidak bisa mengerti rasa sayang yang baru ini dalam suaranya, serta tatapannya yang terisi oleh rasa kagum untuk pianis satu-satunya. "Kemana senyumanmu yang biasanya pergi?" Luhan bisa merasakan kekecewaan, dan mungkin penyesalan dalam nanti sebelum ia memberikan senyuman ringan, satu yang kecil yang menghilang setelahnya. "Apa aku alasan dibalik menghilangnya mereka?" Dia tidak bisa membuat kata-kata, tenggorokannya tiba-tiba terasa kering. Semua yang bisa ia lakukan adalah mendengarkannya, nada berat namun halusnya dan suara yang menggelitik perutnya dengan kata-kata yang tiba-tiba berubah sedih. Dahinya dicium lembut, pipinya diusap perlahan dan ia hanya merengek. "Aku akan pastikan untuk membawa mereka kembali."

Tanpa pikiran berisik yang menyerang kepalanya, Luhan memainkan lagunya pada grand piano emas. Hanya nada-nada dari Stay in Memory mengisi seluruh mansion, dinding-dinding kepalanya dan dunia yang ia kosongkan dalam pikirannya. Ia membaktikan dirinya pada piano, dan kehilangan dirinya sendiri sejak waktu yang sangat sangat lama dulu di bawah melodi-melodi ini. Membuat surga yang ia nikmati, terpendam oleh semangatnya dan membuatnya telinganya ingin mendengar lebih. Akhir dari lembaran itu tertulis Yiruma, jari-jarinya perlahan mulai gemetar ketika sebuah tangan mengusak rambutnya, dengan lembut membelai kepalanya. "Itu sangat indah," Sehun berbisik pelan, "terima kasih." Luhan menggelengkan kepalanya, dan menurunkan papan penutup di atas tuts-tuts itu. "Terima kasih karena sudah mendengarkan." Ia bisa merasakan senyuman Sehun, bersamaan dengan tangan-tangan yang mulai memijat kedua pundaknya dengan lembut . Luhan tidak tahu apa yang harus ia katakan selain membisikan dengan pelan Terima kasih di bawah napasnya ketika Sehun berhenti. Ia tidak bisa berfungsi dengan baik kapan pun Sehun di sekitarnya, dan anak yang lain menyadari perbedaan dalam karakternya, ia mengambil udara yang penuh dengan racun dengan penyesalan pada diri sendiri.

"Dapatkan kita pergi makan bersama?" Pianis itu menundukan kepalanya lagi, ia bisa merasakan sebuah bibir di pelipisnya dan perlahan menjauhkan dirinya. "A-Aku sudah makan malam." Bohong, tapi bagaimana mungkin ia bisa menghindarinya tanpa berbohong. "Oh, kalau begitu segelas anggur sudah cukup." Ia menggelengkan kepalanya yakin, meletakan tali tasnya di pundaknya. "Aku sedikit lelah." Dengan lembut, kepalanya diangkat. Tatapan Sehun mendarat padanya. Dia tersenyum, "Kalau begitu, tolong, biarkan aku memanggil supirku untukmu."

Ini terasa sangat canggung untuk duduk di sebelahnya dengan tatapan yang ia berikan selama seluruh perjalanan, ia berdengung tidak yakin, perlahan menengokan kepalanya hanya untuk diperlihatkan sebuah senyuman. "Apa ada... Sesuatu?" Tangannya perlahan mengusak rambutnya dan memeriksa sisi kepalanya, Sehun tertawa kecil. "Hanya ada tanganmu." Ia menggapai dan mengambilnya dalam genggamannya yang mana Luhan sudah mulai terbiasa, ia menghela napas, dan senyuman Sehun merentang lebih lebar dari sebelumnya. Sekarang tangan Luhan ada padanya, selama sisa perjalanan itu. Ketika mobilnya berhenti Sehun merengut sebentar, dan mengangkat tangan itu untuk menciumnya dan mengucapkan selamat tinggal. Luhan hampir menarik diri atas aksi itu, "B-Bisakah kamu berhenti melakukan itu?" ia mengambil kesempatan momen itu untuk mengelus tangannya, urat-urat yang terlihat jelas dan jari-jarinya. "Apa itu membuatmu merasa tidak nyaman?" Dia melihat si pianis menggelengkan kepalanya, dia pikir Luhan baik-baik saja dengan itu dan membawanya pada kelegaan yang dalam, sampai Luhan berbisik. "Sedikit, tapi seharusnya kamu melakukan itu pada seorang wanita." Sehun terkekeh.

Ia melihat tepat di matanya, dan Luhan membuat suara berderak, perutnya mulai terasa sakit karena perasaanya. "Aku bisa menciumu di mana saja saat aku mencintai setiap inci dirimu." Pianis itu mulai gemetar, mengeluarkan desahan napas panjang dan mengambil tangannya menjauh. "A-Aku harus pergi." Ia bisa dengan jelas mendengar pikirannya yang memberitahunya Jangan tidak sopan, jangan tidak sopan. Bahkan ketika tuan muda itu mencondong untuk menangkup wajahnya suara itu masih mengulanginya sendiri. ia menempelkan sebuah ciuman di pipinya, dan tertawa pelan akan detak jantung Luhan yang cepat. "Jangan terlalu gugup." Tangannya datang untuk menepuk dadanya dengan lembut, membiarkannya pergi dengan sebuah senyuman tulus. Ia berjaga, melihat jendela si pianis dengan sebuah senyuman redup namun hangat. Sampai jam tangannya tepat pada jam satu pagi hari, ia bisa melihat pertemuan pria pengantar dengan pianis yang masih terbangun itu di depan pagar, membawa sebuah tas minuman dan mie kacang hitam. "Jadi dia berbohong." Sehun tertawa pelan, ia mengambil teleponnya. Memanggil sembarangan restoran Cina terdekat untuk memesan serangkai makanan atas nama yang mereka hargai. Aku akan membayar harganya dobel, akan membawanya pada jawaban yang ia mau. Hal berikutnya yang ia tahu adalah Luhan yang membelalakan matanya pada tas yang dibawa oleh si pengantar, dan menolak untuk menerima tip sedikit pun. Ia bisa melihat pada wajah puas yang dibuatnya, bahwa perutnya mungkin masih berbunyi karena aroma makanan. Sehun tersenyum puas, dan meminta supirnya untuk membawanya kembali. Hanya untuk membuatnya memiliki ia kembali, dalam pikirannya.