Pacar Sewaan
Cast : Naruto U, Sasuke U, Kiba I, Gaara, dll
Genre : Romance
Rated : T
Warning : BL/YAOI, OOC, maksa, typo, abal, tidak jelas, pasaran banget, dan lain-lain
Summary : Perasaan jadi acak-acakan. Tampilan jadi awut-awutan. Inikah yang namanya rasa penyesalan?
Chapter 10
Sebuah mobil melewati jalanan Konoha yang sepi peminat. Sasuke—si pemilik mobil benar-benar melaju diatas batas kecepatan yang telah di tentukan dalam peraturan lalu lintas. Tapi dia tidak ambil pusing. Yang penting ia pergi.
Jauh dari Naruto. Dari pemuda itu.
Mungkin begini lebih baik. Ya… mungkin lebih baik.
Sedari tadi benaknya terus membenarkan tindakannya yang jelas-jelas salah. Apanya yang lebih baik?
Sejak awal memang sudah tiada yang benar.
Memiliki pacar bayaran. Itu tindakan paling bodoh yang pernah ia lakukan.
Ah, kenapa ia jadi merasa bersalah? Ditambah lagi ada rasa sesal yang terselip di hati kecilnya. Pria itu merasa payah.
Sasuke membuka jendela mobil yang ada di sisinya, berharap hembusan angin malam dapat membawa kegalauan hatinya pergi dan turut menjernihkan pikirannya.
"Uchiha-san…". Dahi Sasuke berkerut saat gema suara Naruto malah terdengar di telinga.
"Uchiha-san… apa… kita bisa keluar hari ini?". "I-Iya, tentu saja. Uchiha-san kekasihku,". "MESUM!". "Tapi dia benar-benar orang yang baik!"
"Sasuke…". Direktur muda itu sungguh berharap bisa memijit pelipisnya yang berdenyut kalau saja kedua tangannya tidak sibuk dengan setir.
Pria itu benar-benar lupa kalau di mobilnya ada tuas rem. Sedari tadi kakinya hanya menginjak pedal gas tanpa henti.
Cukup. Sudah cukup.
Sial. Padahal ia yang memulai. Padahal ia juga yang mengakhiri.
Tapi kenapa dia yang sakit hati? Kenapa perlu ia ingat-ingat lagi?
Wajahnya, senyumnya, tindakannya. Kebodohannya sebagai pacar bayaran amatiran.
Kenapa ia begitu menyesal setelah menyudahi hubungan aneh itu?
Baru kali ini ia merasa begitu berantakan. Ia tidak pernah begini. Bahkan saat Sakura memutuskan untuk mencintai Itachi seumur hidup, ia masih bisa berdiri tegap dan menyapa wanita itu dan kakak-nya dengan normal.
Padahal jelas-jelas Itachi merebut pujaan hatinya. Tapi ia tidak juga tumbang.
Namun apa yang bocah itu lakukan? Perasaannya diacak-acak jadi tidak karuan.
Membuatnya terkadang lupa dengan tujuan awalnya. Keisengannya di mesin pencari internet membawanya ke sebuah situs kencan online yang katanya dapat membantunya.
Saat ia masuk ke situs Rin-Rin Love-Love yang benar-benar ramai oleh warna menyilaukan, ia melihat ada pendatang baru yang menarik. Yang sepertinya bisa membantunya dalam menyelesaikan masalah.
Sebentar. Tapi ia seorang laki-laki.
Justru karena dia laki-laki. Pasti akan lebih mudah kan? Perempuan merepotkan, menyakitkan. Begitu yang Sasuke pikirkan waktu itu.
Dan ia berhasil. Seminggu Naruto jadi kekasihnya. Dengan bayaran 100 ribu yen, ia sudah bisa merasakan pengalaman luar biasa bersamanya.
Benar-benar sial… Sasuke hanya bisa mengumpat dalam hati sambil memukul setir kemudi.
Ia masih ingat dengan jelas wajah si pirang itu—saat ia memutuskan untuk mengakhiri kontrak mereka lebih cepat. Saat ia menyerahkan cek yang ia tanda tangani pagi-pagi sebelum berangkat menjemputnya.
Sasuke (ternyata) memang tidak rela menyudahi hubungan mereka.
"Apa? Serius?" pemilik suara ini tidak lain dan tidak bukan adalah teman sejurusan Naruto, Inuzuka Kiba yang menjadi aktor utama dibalik munculnya Naruto di dunia kencan online. Dan pemuda itu baru saja mendengar pengalaman Naruto secara lengkap.
Mengenai Naruto yang telah mencoba saran gilanya itu. Mencari tambahan uang melalui kegiatan pacar sewaan.
Naruto sedikit tersinggung karena tanggapan Kiba layaknya ibu-ibu yang mendapat gosip baru.
"HAHAHA!" Kiba malah tertawa panjang dengan suara yang begitu membahana. Beruntung mereka mengambil tempat di kantin—yang memang ramai sejak dulu, bukan di perpustakaan yang hening atau di tengah pelajaran Ebisu.
Naruto makin tersinggung dengan Kiba yang dengan enaknya menghadiahi dirinya dengan suara tawa sumbang itu, setelah ia menceritakan kegundah-gulanaan dirinya dengan gaya sungguh-sungguh.
Inikah bayarannya? Kurang ajar.
"Kiba, aku serius!" keluh Naruto sambil memukul meja pelan.
Berusaha mengendalikan diri, Kiba akhirnya memegangi pipi agar mulutnya tidak lagi membuka.
Ia menarik nafas sejenak. "Lalu?" tanyanya singkat dengan nada tajam. Naruto hanya bisa mengerutkan alis. "Lalu—apa?" bocah pirang itu tidak paham. Kiba mencibir, "Lalu setelah ini kau mau apa? Kalian sudah selesai kan?".
Naruto terhenyak.
"Kalau sudah selesai, ya selesai," ia melanjutkan dengan nada seringan bulu. Tapi bagi Naruto, serasa seperti besi baja berkilo-kilo.
Selesai…? Tidak ada lanjutannya?
"Kau tidak menyukai dia kan?" pertanyaan Kiba seolah menusuk ulu hati Naruto. Pemuda pirang itu benar-benar ingin menggeleng. Tapi kepalanya tidak bergerak. Ia malah menunduk seolah menghindar dari ucapan Kiba.
"Pilihan mu hanya dua, cari yang baru lagi dan terus berjalan melupakannya…" Kiba akhirnya memberi saran setelah melihat Naruto makin murung. Si pirang kemudian menengadah tertarik, menunggu pilihan kedua disebutkan oleh Kiba.
"… Atau, ya…".
"Selesaikan draft 'Bab II' yang kemarin kau ajukan pada ku, Na-ru-to!" tiba-tiba ada suara lain menginterupsi percakapan kedua sejoli itu.
Naruto merinding ngeri ketika mendengar namanya mendadak dieja dengan nada menekan. Seolah-olah ia akan segera dijagal dengan pisau daging tertajam di dunia.
"E—Ebisu-sensei…" Naruto menoleh ke samping dan mendapati wajah dosen pembimbingnya itu tengah memegang gulungan kertas yang dimata Naruto terlihat seperti cambuk.
Walau kedua mata Ebisu tertutup kacamata gelap, ia tetap bisa melihat api kemarahan membara di baliknya. Naruto hanya bisa nyengir kuda—menghindari semburan lava emosi dari dosen tercinta dan berharap mendapat ampunan dari dirinya.
"NA-RU—" baru saja Ebisu akan memanggil Naruto untuk memberinya ceramah panjang mengenai pengerjaan skripsi, namun sayang, si pirang dan kawannya tadi sudah beranjak dan pergi secepat yang mereka bisa.
"Akan kukerjakan sensei! Pasti! Sudah ya! Jaa ne!" Naruto mengucapkannya dengan sekali tarikan nafas sebelum ia benar-benar kabur dari hadapan dosennya bersama dengan Kiba.
Setelah dirasa cukup jauh dari jangkauan Ebisu, akhirnya Naruto dan Kiba memisahkan diri. Entah ingin kemana bocah anjing itu pergi, Naruto yang sedikit kesal karena kawannya tidak memberikan saran yang bagus pun hanya bisa membiarkan.
Naruto berjalan gontai di lorong sambil berpikir.
Sebagai mahasiswa tingkat akhir, sudah seharusnya Naruto lebih mencurahkan kasih sayang pada paper yang berserakan juga materi kuliah yang sulit—juga meluangkan tiap waktunya untuk mengejar dosen pembimbing.
Yah, memang itulah yang harus ia lakukan.
Setelah pekerjaan sampingannya sebagai pacar sewaan habis masa berlakunya, ia punya banyak waktu.
Dengan berakhirnnya kontrak dengan Sasuke, mungkin Naruto akan memilih pensiun dini dari dunia kencan online. Lebih baik ia mengubur diri dengan materi skripsi yang ada di depan mata.
Walau berat hati ia setuju dengan perkataan Kiba tadi.
Sudahlah. Lupakan saja.
Naruto selalu bicara seperti itu pada dirinya sendiri. Tapi nyatanya, hatinya suka melanggar janji.
Kadang memori tentang pria itu terangkat ke permukaan. Dan Naruto hanya bisa memijit pelipis. Pusing bukan kepalang.
(Ternyata) Kenangan singkat bersama Sasuke sudah membuatnya gila.
Tapi…
Ia telah memutuskan untuk melupakan pria itu. Dan ia harus melupakannya dengan berbagai cara.
Pagi kuliah sambil olahraga—mengejar dosen dan bolak-balik perpustakaan. Siangnya mengerjakan draft skripsi. Lalu sorenya datang ke klub. Dan kemudian malamnya bantu-bantu di kedai ramen Paman Teuchi.
Dia pasti takkan sempat memikirkannya.
Naruto benar-benar akan kerja keras.
Demi masa depannya. Demi menambah penghasilannya.
Juga demi melupakan orang yang penting baginya.
Hari Kamis ini Naruto ada kegiatan klub. Lumayan, dengan berenang mungkin beban pikirannya akan luruh kena air kolam. Ia berharap begitu.
Naruto baru saja keluar dari ruang ganti saat ia berpapasan dengan Gaara. "Sudah lama aku tidak melihat mu," katanya. Naruto tertawa. "Apa-apaan kau ini? Cuma seminggu tidak bertemu tahu!" balasnya.
Naruto meraih topi renang dan kacamata renangnya dari loker. "Bagaimana?". Ia mendengar suara datar Gaara yang menggema.
"Bagaimana apanya?" tanya Naruto bingung. Gaara menghela nafas. "Yah—kau dan Uchiha itu," terdengar nada penasaran dan tidak suka dalam kalimat Gaara tadi.
Seketika Naruto berubah ekspresi. "Oh—yah… sudah selesai kok. Kontrak kami sudah habis," jawab Naruto lesu. Tapi Gaara malah menunjukkan mimik sebaliknya—walau tidak begitu terlihat karena mukanya memang kekurangan emosi.
"Sungguh?" ia mengkonfrmasi. Naruto mengangguk lemah. "Aku sudah mencapai target, lagi pula aku dibayar penuh," lanjut Naruto. Ia mengeluarkan senyum terbaiknya di depan Gaara.
Sedikit, Gaara terpesona pada senyum lemah lembut yang Naruto pancarkan, tapi ternyata kalah dengan kesedihan yang juga ia keluarkan.
Senyuman pemuda pirang itu malah membuat dadanya sesak.
Gaara jadi tahu kalau Naruto sedang bohong.
Mencoba mengobati luka hati, Gaara menyeret pergelangan Naruto kemudian.
"Kita bertaruh, gaya kupu-kupu 100 meter. Yang tercepat, boleh makan ramen sepuasnya," langkah kakinya menuju ke kolam.
Naruto tadinya mau protes karena seenaknya diseret-seret. Tapi mendengar ramen disebut dalam taruhan, ia besorak senang dan mau tidak mau ia harus menang.
Gaara tersenyum geli dalam hati.
Jikalau hanya ramen yang bisa membuat mu tersenyum, aku rela dikutuk jadi semangkuk ramen miso dengan naruto yang menumpuk di puncaknya.
Sudah genap seminggu sejak kejadian itu. Naruto baru sadar setelah ia punya waktu untuk sekedar mengecek kalender ponsel guna menyesuaikan jadwal bertemu dengan Ebisu-sensei.
Dan ia baru sadar kalau ponselnya lebih sepi dari pada kemarin. Tiada pesan baru, telepon yang masuk—atau sekedar e-mail spam yang numpang lewat. Apalagi dari si Uchiha itu.
Satu-satunya yang paling ramai hanyalah ocehan operator sialan yang terus mengingatkan kalau kuota internetnya nyaris mencapai ambang batas. Naruto hanya bisa manyun-manyun cantik melihat pesan itu masuk tiap kali ia selesai menggunakan paket data.
Sepi… ya. Apa maksud dari kalimat ini? Seperti mengesankan kalau Naruto kesepian jika Sasuke tidak ada.
Kau pasti bercanda! Naruto menepis rasa itu kuat-kuat dari hatinya.
Jangan membohongi diri mu sendiri Naruto. Kau memang naksir Sasuke, kan? Suara kecil terdengar dari dalam hatinya.
Aku…? Naksir om-om itu?! Ih, gak mungkin! Otaknya menjawab dengan nada sehina mungkin.
Sudah kubilang, kau itu suka padanya. Kau saja sampai mencari di internet gejala jatuh cinta kan? Ngaku! Suara hati membeberkan perbuatan Naruto di malam sebelum mereka datang ke pernikahan Sakura.
Apa salahnya mencari gejala jatuh cinta? Aku mencarinya karena takut jatuh cinta padanya! Pikirannya terus mengelak pernyataan suara hati.
Oho…. Kenapa kau takut jatuh cinta padanya? Nada suara hati terdengar menyindir.
Pikiran Naruto diam sejenak, mencari jawaban yang tepat agar suara hati segera tutup mulut. Kenapa… aku takut jatuh cinta padanya? Karena—
Dia—
Dia itu klien ku, bodoh. Pikirannya segera menjawab demikian. Ia menghela nafas, merasa menang.
Tapi suara hati tertawa lebih keras.
Berarti sebenarnya… jika dia bukanlah klien-mu, kau ingin menyukainya kan, Naruto? Ia telak mengalahkan pikiran logis milik Uzumaki Naruto.
Rasa-rasanya, pemilik tubuh Naruto ini ingin menjedukkan kepala ke meja tempat ia bertopang dagu sekarang juga.
Tapi sepertinya itu tidak akan mungkin dilakukan karena beberapa hal. Pertama, ia ada di perpustakaan—yang mana hal-hal berbau berisik dilarang, dan yang kedua ia masih ingin jidatnya mulus tanpa cela. Dan lagi, keningnya adalah tempat bersejarah dimana si Uchiha itu menciu—
AGH. Kenapa bawa-bawa nama Sasuke? Dengan gerakan frustasi, Naruto meremas rambut pirangnya dan menyembunyikan diri dibalik buku-buku yang ia ambil dari rak di belakangnya.
Ia kemari untuk mengerjakan skripsi, bukan mengingat si Uchiha lagi. Mengapa sulit sekali berkonsentrasi, oh wahai Dewa di Gunung Fuji?
Naruto menarik nafas, mencoba menenangkan pikirannya. Kemudian—kembali sibuk dengan buku, kertas juga ponsel yang ada di tangannya.
Nyaris satu bulan Naruto menjadi anak kuliahan yang rajin datang tepat waktu dan menjadikan kampus sebagai rumah kedua. Laptop selalu ada di genggamannya, kertas berceceran dalam tas-nya, juga kakinya yang tiada henti mengejar bayang Ebisu-sensei yang mendadak suka hilang entah kemana.
Rambut amburadul, kemeja asal, celana bau dan mata sayu. Yah, memang begini tampilan anak kampus tingkat akhir yang diambang kata sidang.
Sambil menguap lebar dan memegang revisi skripsi di tangan kanan, Naruto mengetuk pintu ruang dosen dan mencari keberadaan sang guru.
Dan Naruto hanya bisa mengumpat lagi—karena Ebisu kembali lenyap dari pandangannya. Sialan—mentang-mentang dikejar-kejar, Ebisu malah sering ilang-ilangan.
Naruto memasang wajah kecut sembari berjalan ke bangku taman. Pohon beringin kampus memang terkenal dengan tingkat oksigen yang tinggi. Mungkin bisa kembali mengisi energi Naruto yang dipakai untuk terjaga sejak kemarin pagi.
Diletakkannya tas di sebelah kiri, berikut kertas-kertas yang menumpuk di lengan. Sedikit beban terangkat, Naruto meghirup udara sebanyak yang ia bisa sambil menutup mata.
Matahari belum begitu terik—karena ini masih pukul setengah tujuh. Angin pagi pun berhembus pelan membelai wajah Naruto yang kuyu. Rasanya seperti dipijit dengan tangan tak terlihat.
Naruto terbuai—ia jadi mengantuk. Matanya jadi berat—terang saja, ia tidak tidur dalam waktu yang cukup lama. Dan kemarin ia sudah bekerja keras—mengejar Ebisu dengan susah payah, mengerjakan revisi skripsi dan membantu Paman Teuchi di warung ramen Ichiraku.
Ia boleh tidur kan? Sebentar saja.
Perlahan tubuh Naruto merosot ke samping bangku, menyamankan badan juga mencari sandaran untuk menjadi bantalan.
Dan tanpa ia ketahui, sepasang paha telah siap menopang kepalanya agar Naruto tetap nyaman dalam mimpinya.
Sebenarnya, bukan keinginan Gaara untuk datang sepagi ini. Ia bahkan belum melihat matahari saat ia keluar dari rumahnya.
Ia ada janji dengan sang dosen tercinta mengenai kerja praktek hari ini yang katanya akan dilakukan jam enam pagi. Nyatanya? Ditunda hingga jam sembilan!
Gaara hanya bisa mendumel dalam hati saat SMS dari dosennya masuk ketika ia sampai di kampus dengan membawa jas dokter. Dan sekarang, ia bingung harus bagaimana membunuh waktu yang benar-benar sia-sia.
Saat ia hendak berjalan tanpa arah, Gaara melihat rambut pirang kuning yang tampak tidak asing di matanya.
Naruto…? Sungguhan itu dia? Gaara tidak berani bertaruh karena pemuda pirang itu terkenal suka ngaret kalau datang kuliah.
Tapi, kaki Gaara tetap mengikuti kemana pemuda itu melangkah. Dan ia bergumam bingung ketika sadar bahwa mereka memasuki daerah taman. Dan ternyata itu memang sungguhan Naruto.
Saat Naruto duduk di salah satu bangku, Gaara memutuskan untuk menyapa pemuda itu dan mengajaknya mengobrol untuk membuang waktu. Tapi, sebelum semua itu terjadi, Naruto telah menutup mata.
Ia tidur. Dan mungkin Gaara hanya akan duduk di sebelahnya sambil menunggu pemuda pirang itu terjaga kembali.
KLUK.
Saat Gaara mendaratkan bokong untuk duduk, mendadak kepala Naruto telah jatuh ke pahanya. Gaara membatu dibuatnya. Namun dengan senang hati ia pun membiarkan pemuda itu terlelap di bawahnya.
Dipandangnya wajah Naruto yang benar-benar kusut. Ada kantung mata yang terlihat walau pun samar, bibir pemuda ini juga pucat. Gaara bisa menebak dengan jelas kalau pemuda ini sudah kekurangan istirahat.
Tatapan pemuda merah ini berubah sendu. Tentu saja ia kasihan melihat pujaan hatinya seperti ini.
Dielusnya rambut Naruto dengan pelan, sepelan mungkin supaya tidur si pirang tetap nyaman.
"…Su…" mendadak, telinga Gaara yang peka mendengar gumaman rancu yang ia sendiri tidak yakin dari mana asalnya.
"Su—ke…" Gaara langsung melirik pemuda yang tertidur di pangkuannya dengan tatapan penasaran. Mungkinkah Naruto yang mengatakannya?
Saat Gaara berpikir demikian, Naruto bergerak dan mengubah posisi tidurnya. Ia menghadap ke tubuh Gaara dengan kaki yang meringkuk—terlihat seperti mencari kehangatan di pagi yang berangin itu.
"Sa.. su—ke…" Naruto menggumamkan nama itu. Nama yang Gaara kenal sebagai perusak kehidupan pujaan hatinya, memanfaatkannya dan mengambil kepolosan Naruto hanya demi kesenangannya sendiri.
Pria yang tidak peduli dengan Naruto—yang telah membuat Naruto memancarkan kesedihan diantara senyuman. Yang membuat Gaara sakit hati, yang membuat Gaara begitu iri.
Kenapa harus nama itu yang ia sebut?
Kesal. Gaara sangat kesal.
"Ngh—" erangan kecil terdengar tiba-tiba, membuat Gaara menolehkan kepala.
Didapatinya wajah Naruto yang penuh peluh hingga ke lehernya. Ia juga dapat melihat dengan jelas kalau pipi si pirang merah bukan main.
Gaara berpikir dengan otak dokternya yang cemerlang. Punggung tangannya naik menyentuh pelan kening Naruto.
Sudah ku duga dia (memang) bodoh, Gaara memaki dalam hati.
Gaara memeras air dari saputangannya yang beralih fungsi menjadi kompres dadakan. Ia meletakkan kain itu di kening Naruto yang telah ia seka keringatnya.
Yap, setelah memegang dahi si pirang yang ternyata panas bukan main, Gaara sudah masa bodoh dengan kerja praktek yang ditunda dengan kurang ajar-nya oleh sang dosen.
Ia langsung menggendong Naruto dan mencegat taksi di gerbang kampus, lalu membawa Naruto ke rumahnya untuk mengobatinya. Bukan hal sulit untuk calon dokter itu menduga apa yang menjadi latar belakang Naruto ambruk seperti ini.
Orang ini pasti lupa kalau ada kegiatan manusia yang bernama makan dan tidur! Bodoh—bodoh, bodoh!
Gaara menghela nafas, berusaha meredakan emosinya yang meluap.
Dipandangnya pemuda pirang yang sedang terbaring damai di tempat tidurnya. Gaara memang salut dengan Naruto yang notabene malas menjadi rajin mengejar pengerjaan tugas akhir. Ia juga kagum saat Naruto masih saja ikut membantu di warung ramen Ichiraku saat malam hari dan aktif di kegiatan klub mereka.
Tapi Gaara memang pintar. Ia jadi tahu kenapa Naruto melakukannya.
Tepatnya… demi siapa Naruto melakukannya.
Entah sudah yang keberapa. Puluhan tegukan minuman berakohol sudah masuk ke lambung milik pria yang memakai kemeja kerja warna putih dan celana hitam—dan duduk di kursi ujung sebuah bar.
Dan bukannya sadar diri untuk berhenti, ia malah meminta lagi.
"Eh—lho, Sasuke-kun?" mendadak, seseorang menyapa nama pria yang sudah duduk di kursi itu satu jam yang lalu. Yang punya nama menunduk menahan kantuk di pelupuk.
Tapi karena namanya dipanggil, ia pun menengadah.
Alisnya berkerut heran, kemudian memusatkan perhatiannya pada sosok yang menyapanya.
"Hei, Sasuke-kun! Ada apa dengan mu?" sosok itu kembali bertanya. Ia menggoyang-goyang telapak tangan di depan wajah si Uchiha yang sepertinya memang kehilangan fokus.
Sasuke masih mengerutkan alis. "Kita sudah putus!" katanya makin membuat benang perkara makin runyam.
"Hah?". Tak ayal orang yang tadi menyapa Sasuke bingung setengah mampus.
"Aku sudah mengakhirinya Naruto! Kau boleh pergi!" Sasuke kembali berseru—dengan nada berbusa karena tertelan mabuk.
"Naruto—?" si penyapa megap-megap heran.
"Untuk apa kau disini, Naruto? Pergi saja sana!" nada anak remaja putus cinta keluar dari mulut sang pria.
"Ini aku Karin—duh, dasar pemabuk!" orang yang ternyata wanita ini kemudian tertawa kecil. Dengan sopannya, ia menarik bangku yang semeja dengan Sasuke.
Seorang pelayan datang menghampiri dan menyapa Karin dengan nada 'mau pesan apa'. Dengan mantap ia bilang kalau ia hanya pesan gelas. Dan pelayan itu mingkem menahan tawa.
"Jadi, kalian sudah putus?" Karin, wanita yang mengaku sebagai desainer baju Sasuke mulai bercakap dengan pria itu.
Sasuke kembali memegang leher botol miras yang sudah ia konsumsi sejak tadi. "Diam Naruto…" Sasuke menjawab dengan nada sempoyongan.
"Baiklah, terserah. Tapi kau harus bercerita, Sasuke-kun. Kau dan—yang aku ingat sebagai—pacarmu itu, kalian sudah… berakhir?" Karin bertanya dengan nada hati-hati.
Dan setelah Karin berhenti bicara, gelas pesanannya tiba.
Karin kemudian meraih botol minuman yang Sasuke pegang—berniat meminta jatah. Dituangnya cairan itu ke gelasnya dengan perlahan.
"Tidak—Naruto!" tapi secara dadakan tangan Sasuke dengan ganasnya mencekal pergelangan Karin. Sontak saja wanita itu kaget—Sasuke tidak pernah seperti ini sebelumnya.
"Kau masih di bawah umur dasar bocah," Sasuke berkata samar sambil merebut botol itu.
Sial, dia mabuk betulan, umpat Karin dalam hati.
"Kalau kau mabuk, aku bisa repot," Sasuke kemudian meracau.
"Tolong berkaca dasar bujang lapuk," Karin membalas dengan nada mengejek.
"Kau pasti akan sangat menggemaskan, pasti akan sangat imut—".
Karin mengalihkan pandangannya pada Sasuke, wanita itu mulai tertarik.
"Dan akan merepotkan, karena aku harus menahan diri untuk tidak memeluk mu, menggendong mu ke mobil dan kemudian mengecup pipi mu dan kemudian—"
Karin sadar kalau pria di depannya ini benar-benar mabuk. Mungkin menampar pria ini akan memberikan efek yang lumayan, tapi Karin menahan keinginannya itu.
Ia akan mendengarkan hingga akhir.
"Oi—Sasuke-kun…".
"—bilang selamat malam,".
Karin terhenyak.
"Setelahnya besok aku akan menjemput mu, kita akan ke ke kedai ramen—kencan…".
Wanita itu tak berkutik saat ia mendengar nada sesenggukan dari pria yang duduk di depannya. "Andai aku tidak pernah mengucapkannya…".
Karin penasaran—dan saking ingin tahunya ia mendekati Sasuke dan menyibak poni panjang yang menutupi wajah pria yang ia ketahui menjabat sebagai salah satu direktur di perusahaan ternama.
Dan di malam itu, Karin dibuat takjub dengan Sasuke.
Pria itu—dengan leluasanya mengurai tangis. Dari mata, jatuh ke pipinya, dan kemudian menetes di atas celana.
"Kau pasti… masih disini...".
Padahal Karin tidak begitu mengerti. Mengenai pacar Sasuke, hubungannya dengan Naruto, peristiwa putus cinta. Ia dan Sasuke hanya sebatas mitra kerja biasa, jadi Karin tak mungkin tahu bagian dalam Sasuke.
Tapi entah kenapa ia bisa paham. Mengenai perasaan Sasuke yang meluap melalui air mata.
Kau benar-benar cinta padanya ya, Sasuke-kun?
Karin akhirnya mengerti kalau Sasuke memang mengalami patah hati.
Sinar senja menembus tirai putih tipis yang tergantung manis menutupi jendela. Ruangan dengan satu ranjang itu berisi seorang pemuda yang tengah terlelap dengan pulas.
Tapi tidak lama kemudian ia terbangun.
Membuka matanya yang berat dan tubuhnya yang nyeri.
"Ng…" ia memperlihatkan bola mata biru indah yang kini menjelajahi ruangan asing. "Dimana—ini?".
Ia berada di atas tempat tidur, dengan selimut tebal yang menutupi tubuh dan bantal seempuk roti. Jelas—ini bukan miliknya.
Saat tengah ingin bangun, ia memegangi kepala yang mendadak pusing.
Lho, ada saputangan di keningnya?
"Eh—kau sudah siuman," ada suara yang datang dari pintu. "Bagaimana keadaan mu, Naruto? Agak baikan?".
Pemuda berambut pirang itu melirik heran.
"Lho—Gaara? Kok, kamu di sini?".
Pemuda berambut merah itu tersenyum ramah. "Ini rumah ku,". Naruto melotot horor. "Hah? Kok aku bisa ada di sini?!" ia berteriak panik.
"Tunggu dulu, dengarkan aku,". Dan dengan sabar Gaara bercerita mengenai kronologi bagaimana Naruto bisa berakhir di ranjangnya.
"Kau tidak bercanda?" Naruto tidak percaya kalau tidurnya ia di taman kampus berubah jadi pingsan.
"Aku tidak pandai mengarang, Naruto," jawab Gaara apatis.
Naruto menghela nafas. "Aku benar-benar membuat mu repot!" katanya dengan nada menyesal. Gaara menghampiri tempat tidur.
Ia menggeleng. "Tidak. Akan lebih merepotkan kalau kau tidak ditemukan oleh ku dan merana di taman kampus sendirian," balas Gaara penuh kasih sayang.
"Tapi kau kan harus kerja praktek!". "Yah, aku bisa meminta susulan. Salahnya menunda waktu kerja praktek," Gaara dengan kurang asemnya menyalahkan sang dosen yang jelas-jelas tidak ada sangkut pautnya dengan ini.
Naruto merenung sejenak, "Gaara, pokoknya aku tidak mau hutang budi!".
Pemuda merah itu mengkerutkan kening. "Hah?". Bahkan otak gemilangnya tidak bisa menerjemahkan kalimat tadi.
"Pokoknya aku harus membalas budi mu. Aku akan melakukan sesuatu untuk mu! Kau telah menolong ku!".
Gaara bertanya-tanya kebingungan. "Apapun!" Naruto menambahkan.
"Balas budi?" Gaara berkicau. Naruto mengangguk. "Apapun?". Lagi-lagi pemuda itu mengangguk dengan yakin.
Gaara sebenarnya tidak serius. Jujur, apa yang akan ia minta dari pujaan hatinya?
Oh iya. Ada satu yang mungkin bisa Naruto kabulkan.
"Kalau begitu…".
.
.
.
"Jadi pacar ku ya?".
Bersambung...
Halooo... Bertemu lagi dengan saya, Ao disini!
Hadeeeh, maafkan saya yang sangat telat ini... beneran deh, kemaren buntu banget
Oh iya, niatnya Ao mau jawab satu-satu review kalian, tapi Ao udah nyoba tadi dan cape banget (bilang aja mager lu elah)
Ehehe, ampun ya. Ao akan jawab secara garis besar aja.
Pertama, ini udah lanjut. #okegakpenting
Kedua, Ao sangat berterima kasih karena banyak yang bilang fict ini menarik *nangis bombay*
Ketiga, yah, Sasuke emang sih kayak naksir, Naruto juga sama. Tapi akhirnya? Ya liat aja di chap selanjutnya yaa
Keempat, Naruto bakal diambil Gaara. Iya atau tidak? Nantikan di chap depan yaa
Kelima, maafkan atas keambiguan adegan hehehe, sengaja, biar ketauan mana yang ero wkwk *digeplak*
Kayaknya udah segitu aja dulu, ntar malah spoiler lagi
Nah, jangan lupa review yaaa, para pembaca. Ao selalu menunggu lhoo
Sankyuu~
AkaiLoveAoi
