I do not own the story!

copyright © 2015 Adagio by inkills (AFF)

translated by Xiao Wa (June 25, 2016)

Enjoy~

o

o

o

Tuan muda berdiri di sebelah anak tangga, sebuah senyuman lebar terbentuk di wajahnya karena akhirnya ia bisa melihatnya datang lebih awal ke mansion. Ia melangkah mendekat hanya untuk mencium aroma kafein yang kuat, ia berdehem. "Lain kali tidak perlu untuk memesan double shot." Pianis itu melengkungkan kedua alisnya, sebelum meletakan kopinya, mengambil napas dalam dan meletakan tasnya di bangku. "Aku tidak bisa tidur dengan makanan sebanyak itu yang dikirimkan padaku."

Si tuan muda memainkan kartu polosnya. Ia menengok ke sekeliling, sebelum melangkah mendekat. "Makanan apa?" Luhan tertawa kecil, dan sebagai balasan sebuah senyuman senang terlihat di wajah Sehun. "Aku tidak tahu, restauran itu mengirimiku banyak sekali makanan karena... aku seorang pelanggan spesial?" Ia tidak yakin, tapi pada waktu yang sama ia menebak Sehun yang sudah merencanakannya. Tapi bagaimanapun juga tuan muda itu pandai berakting, dia mengusak rambutnya dan mengangkat dagunya, meminta sebuah senyuman sebelum ia pergi untuk makan pagi, dan Luhan tidak bisa percaya bagaimana seorang bisa menunjukan padanya banyak sekali rasa cinta tanpa berpikir untuk menyerah.

Sehun hanya menginginkan perasaannya untuk diketahui, dia ingin Luhan mencintainya juga, dan tak pernah terpikirkan bahwa ini akan menjadi begitu sulit. Begitulah yang pianis itu pikirkan. Ibunya akan memulai sebuah topik, dan dia akan menjawabnya, menyatakan pendapatnya sebelum melamun sebentar seraya melodi-melodi itu mulai menyebar. Dia menjadi tenang, di surga yang tidak bisa dilihat namun bisa dirasakan di hatinya. Dia bisa merasakan setiap perasaan bahagia, kesedihan dan kemurungan dalam nadanya, dan dia bersumpah dia tidak bisa melewatkannya walau sehari.

Jadi itu bukanlah alasan ia mengunjunginya, dia mengetuk pintunya pada satu malam hanya untuk membiarkan pintu itu terbuka dan menunjukan Luhan yang terkejut dengan bibir cantiknya yang membentuk huruf O, memakai pakaian santai yang menunjukan bagaimana kurusnya dia dari pada setelan dan pakaian mewah yang akan dia pakai saat ke mansion. "O-Oh." Ia melebarkan matanya pada orang yang tersenyum padanya dan melihat ke ruangan kecilnya, tidak boleh membiarkannya masuk sebelum dia mengambil jaketnya. "A-Ayo pergi ke kafe, aku tidak bisa membiarkanmu masuk ke ruanganku itu terlalu sempit." Ruangannya tidak cocok dengan tempat tuan muda, tapi Sehun bersikeras, mendorong Luhan masuk. Ia berdiri selama beberapa menit, melihat ruangan itu dengan tawa kecil. "Ini kamar yang kecil." Si pianis mengerutkan dahinya, "Aku sudah mengatakannya padamu tidak cocok untuk duduk di sini." Tapi setelah beberapa kali mencoba Luhan menyerah dan malahan menyiapkan secangkir teh, melihat Sehun melepaskan jaketnya dan meletakannya ke samping. Ia menonton Luhan dengan tatapan kagum, dan duduk seperti seorang pangeran. Luhan tidak bisa percaya bagaimana seorang bisa terlihat elegan saat melakukan hal-hal kecil. "Kenapa kamu datang kemari?" Si pianis bertanya kerutan di bibirnya, bukannya menyambut tuan muda dalam wilayah kecilnya. Dia meletakan cangkir teh itu di depannya dan menghela napas. "Aku datang untuk menjelaskan beberapa hal padamu," Nada suaranya ringan, lembut, tapi Luhan menghela napasnya sekali lagi, menundukan kepalanya dan mendengarkan dengan penuh perhatian pada tuan muda yang mulai membicarakan tentang perasaanya. Menunjukan rasa cintanya, kekagumannya pada semua yang Luhan lakukan. "Aku.. aku hanya ingin kau mencintaiku juga, aku ingin kamu merasakan bagaimana kerasnya jantungku berdetak untukmu, setiap hari."

Ia menggelengkan kepalanya sekali, dua kali ketika Sehun melanjutkan untuk memberitahunya bahwa dia akan menunggu. Ia sudah membuatnya jelas bahwa ia tidak tertarik untuk memulai sebuah hubungan, lalu ia mengantar Sehun pergi dengan sebuah kerutan. Pada hari lainnya ia tidak bisa memulai pelajarannya tanpa Sehun yang menyatakan perasaan padanya lagi, mengatakan gombalan dan hal romantis yang ia benci. Satu malam ia memainkan sebuah lagu yang cepat untuk makan malam, tapi seorang yang muncul di grand piano lebih cepat dari pada jemarinya. Dia terus memanggilnya agar mendongak, untuk menatapnya dan menjawabnya. "Lihat aku." Itu adalah sebuah perintah, Luhan bisa merasakannya tapi ia tetap menjaga kepalanya tertunduk, menatap tuts di bawah jari-jarinya sebelum kemejanya mendapat genggaman erat lalu ia mendongak, terkejut. Tuan muda mencium bibirnya dengan kasar setelah sukses mengambil perhatiannya, dan dia dengan lembut terus menggerakan bibirnya pada mereka, akhirnya mencicipi rasa manis dari bibirnya yang selalu dia mimpikan. Dia menjauh, setelah memotong udara dari paru-paru Luhan.

Ia ingin lebih, tapi apa yang ia lihat menyakiti dadanya dan membuat kepalan tanganya gemetar. Si pianis menundukan kepalanya, menahan air mata untuk tidak jatuh seraya jemarinya bergetar di atas tuts piano. Dia tidak sanggup bergerak, sampai Sehun mendatangi bangkunya, mendekat untuk mencium pelipisnya dengan sangat lembut yang membuat dirinya sendiri terdorong ke lantai. "Jangan sentuh aku." Dia hampir berbisik, dengan ekspresi kerasnya yang sebentar lagi akan runtuh dan tergantikan oleh tangis. Dia tidak perlu berusah payah menebak tentang malam-malamnya yang akan datang, betapa tidak berperikemanusiaan yang akan dia rasakan terhadap Sehun dan betapa sesak dadanya sendiri akan rasakan, dia mengabaikan kelasnya, dan panggilan-panggilannya sebelum melangkah keluar dan memberitahunya untuk berhenti mengikuti, dengan sopan.

Sekali lagi ia makan siang dengan para pelayan, itu bukanlah hari baru yang berbeda. Hanya Sehun yang sedang pergi ke perusahaan dan ia harus mengambil kesempatan akan hal itu, ia pikir ia akan bertahan. Bukan karena ia melihat seorang gadis cantik yang dia bawa pulang, saling mengunci lengan mereka dan berjalan ke ruang teh.

Ia merasa sangat buruk, matanya lebih terpaku pada lantai lalu seorang pelayan dikirimkan memerintahnya untuk memainkan sesuatu. Dia mencoba menyembunyikan rasa sakit karena telah dipermainkan, ia tidak pernah membayangkan Sehun adalah pria yang seperti itu. Seorang pemain, seorang penipu, walau pun mereka bahkan tidak bersama. Ia sudah dibohongi dan bagaimana mungkin ia tidak merasakan sedikit pun rasa sakit?

Ketika ia berhenti memainkan lagu kelimanya hari itu dan bangkit berdiri, mendengarkan suara mereka di luar ia bisa melihatnya mencium tangannya, sama seperti bagaimana dia mencium tangan Luhan. Ia bisa melihat dia menatap matanya sebelum mengantarnya pergi setelah bersama cukup lama dengannya, dan tak seorang pun yang bisa menolak kecantikannya, Luhan tercabik-cabik di dalam dengan perlahan. Dan lebih tercabik ketika gadis itu terus mengunjunginya.

Ini merupakan malam yang suram, langitnya lebih gelap dari biasanya, hanya dirinya yang mencoba menahan tangis di matanya sebelum ia mendengar suara langkah kakinya, langkah kaki biasanya yang akan membawanya kapan pun dia dekat. Dan Luhan pergi, dengan cepat pergi dari situasi itu walau pun harus membuatnya meninggalkan beberapa lembarannya. Ia mengusap air matanya yang jatuh dengan sendirinya, mengambil sepedanya dengan cepat untuk membawanya jauh, menjauh dengan tetesan deras air hujan dari langit. Ia terlambat sampai di apartemennya, basah kuyup dan tenggelam dalam lautan emosinya sendiri. Tak seorang pun bisa menyelamatkannya selain tempat tidur kecilnya di tengah kamar, ia siap menghabiskan malamnya menangis, dengan rasa sakit tiada tara di dadanya, ia sudah berkahir. Pagi berikutnya ia tidak bisa merasa lebih baik.

Dia hanya dibawakan segelas teh sebagai sebuah tawaran, dan sebuah tepukan pada punggungnya ketika dia terus mengurung dirina di ruang piano. Dia hanya akan keluar ketika ia kembali di malam hari, saat seluruh mansion dalam keadaan sunyi dan langkah-langkahnya akan terdengar keras. Luhan mengerutkan dahi, ia mengambil tasnya setelah makan malam untuk pergi. Ia tidak siap untuk bertemu dengannya kapan pun waktunya. Dan pada hari berikutnya tercekik oleh depresi berkepanjangan. Ia duduk sendirian di malam hari, sebuah pikiran mengganggu kepalanya. Ia meraih teleponnya, menelpon sisa temannya yang masih berada di sisinya. Dia tidak pernah merasa ragu untuk berdandan ketika mereka mengajaknya ke sebuah tempat khusus. Dia berpesta dengan keras, ia minum banyak sekali dan hal yang tidak ia kira ketika dirinya turun dari mobil temannya, mengatur cepat janji lainnya sebelum senyumnya terjatuh ketika melihat Sehun duduk di anak tangga dengan sebuah ekspresi keras. Luhan mencoba sebisanya untuk menghindar, tapi Sehun menahan kedua bahunya, mencium aromanya yang menguar tentang alkohol, dan Sehun menggeram. "Apa kau pergi ke klub?" Dia melangkah mundur, melihat celana ketat yang Luhan pakai setelah medengarkan intruksi dari temannya, dan baju tanpa lengan, Sehun mengeluarkan geraman lain. "Apa yang kau pikirkan?!" Si pianis menatapnya tajam, berbisik sebelum mendorongnya menjauh. "Kamu dan seluruh kebohonganmu."

Ia merasakan si pianis menepis tangannya menjauh, ia melihatnya terjatuh dan melotot padanya tanpa sopan santun. "Kupikir kau serius dengan semua itu ketika sebenarnya kau terus melihat pada gadis-gadismu! Kau sungguh seorang player, kau banyak berbohong padaku bagaimana bisa kau melakukan itu?!" ia mencoba menenangkannya, sebelum menjelaskannya dengan tenang. Itu hanya membawa Luhan ke tngkat kemarahan yang baru, dia melangkah mundur, kata Player dan Pembohong terus diulang, dan Sehun merasa seperti seluruh dunia dimatikan ketika Luhan pergi, mengatakan pada Sehun untuk jangan pernah mengikutinya lagi.

Ia hanya tidur sedikit, berpikir banyak dan terus menangis. Ia memikirkan sebuah cara untuk menjelaskannya, ia tahu Luhan tidak akan pernah menjawab lewat pesan, atau pun surat. Dan saat ruangan piano tetap kosong selama beberapa hari, saat itulah ketika hatinya mulai tenggelam dalam kecemasan. Mereka makan dalam keheningan, dan mansion itu terasa seperti penjara tanpa nada-nada yang pianis itu mainkan. Ia merasa tersesat, terpenjara oleh dunianya yang tak pernah berhenti berpikir. Hal berikutnya yang ia tahu adalah kakinya yang menyeretnya ke sebuah bangunan yang supirnya telah membawanya mendekat. Ia mengetuk sekali, dua kali dan hampir tiga kali sebelum ia mendengar sebuah suara yang terdengar tercekik. Pintunya terbuka dan Luhan yang terlihat tak bernyawa muncul. Dia berdiri dengan gemetar, berpegangan pada sisi pintu dengan satu tangan sebelum mengeluarkan sebuah batuk. "A-apa kamu baik-baik saja?" Suaranya pecah dalam cemas, matanya dengan cepat berkaca-kaca. Ia mencoba untuk menahannya berdiri sebelum pianis itu melangkah ke belakang. "A-aku baik." Tidak, dia tidak baik-baik saja, suaranya tidak bisa didengar dengan jelas dan tubuhnya tidak bisa berhenti gemetar. "Pergilah, kamu bisa sakit jika tetap di sini terlalu lama."

Ia dapat melihat bagaimana bergetar sosoknya ketika berbalik untuk mengambil tisu, bagaimana merah matanya karena mengeluarkan tangis kelelahan dan stres. "Aku datang untuk melihat keadaanmu, aku tidak akan kembali sampai aku merawatmu." Ia melihat sekilas sebuah kerutan, sebelum menghilang perlahan. "K-kubilang aku baik-baik saja, aku akan merawat diriku sendiri," Dia berbaring di tempat tidur dengan sebuah erangan, karena dia tidak bisa berdiri terlalu lama. Dia meraih kotak tisu sebelum Sehun melepaskan jaketnya, pergi ke kamar mandi untuk mengambil handuk baru dan memasukannya bersama air dingin ke sebuah baskom. "Jangan bergerak," Luhan mengerutkan dahinya lagi, "tetap begini." Matanya terpejam, dia bisa merasakan dingin dari handuk yang ada di dahinya. Kehangatan yang menabrak tubuhnya saat Sehun mulai memijat lengan dan kakinya. "Apa kamu sudah makan?" Luhan mengkerutkan alisnya, tangannya memegang selimutnya dengan erat.

"A-aku bilang p-per-"

"Apa kamu sudah makan?" ia memotongnya sebelum menatapnya dengan dua mata khawatir, merasakan sensasi kantuk dalam sistemnya sebelum Luhan menggelengkan kepalanya, dan menutup matanya perlahan. Sehun menatap lama, ia melihat kelopak mata yang tertutup itu sampai handuknya menghangat. Tangannya tidak bisa meninggalkan tubuh yang hampir tidak bernyawa itu di tempat tidur yang kecil, ia mengambil kesempatan atas tidurnya untuk menggendongnya dan membawanya ke mansion tanpa seorang pun tahu. Dia meminta sebuah sup hangat, semangkuk buah yang sudah diiris rapi dan segelas air. Jadi ketika Luhan bangun setidaknya selera makannya akan berada di atas lima.

Ia menunggu seraya dokter yang dipanggilnya memeriksa tubuh yang tertidur dengan tangan yang lembut, "Ini demam, dia demam karena kelelahan yang membuatnya lemah baru-baru ini." Jawabnya, Sehun mendongak, mengantarnya pergi dengan sebuah anggukan atas intruksinya. Biarkan saja dia beristirahat untuk beberapa hari dia akan baik-baik saja.

Bagaimanapun, si pianis terbangun setelah makanan datang, merasakan aroma yang memenuhi kamar dan melihat handuknya digantikan dengan yang lebih dingin. Ia ditidurkan pada tempat tidur yang nyaman, hangat, serta tangan yang mengelusnya sebelum ia mendongak, dan disambut oleh senyum lebar dari bibir Sehun yang ia benci lebih dari apa pun. "Bagaimana perasaanmu?" Ia dihentikan dengan sebuah ciuman di tangannya, ia terlalu lemah untuk berbuat apa-apa, terlalu lemah untuk menyeret tubuhnya bangun dan mengeluarkan dirinya dari kamar terkutuk ini. "Kamu harus makan ini sebelum kembali tidur." Dia terlalu perhatian, terlalu lembut untuk mendudukannya pada sandaran dan menyuapinya sup hangat yang tidak ia tolak.

Layar plasma itu memperlihatkannya adegan berbeda dari drama yang dimainkan, ia mengalihkan dirinya sendiri setelah Sehun bersikeras padanya untuk minum obat yang seorang pelayan bawakan dari dokter. Tiba-tiba Sehun berbisik, "Aku tahu itu karena diriku." Pengakuan yang lebih menyakitkan dari pada tenggorokannya saat menelan, matanya menyaksikan bagaimana Sehun menghindari pandangannya, hanya bekerja untuk menyuapinya dengan buah dan menggenggam tangannya hanya sebentar. "Aku sudah terlalu jauh." Dia tertawa kecil, menundukan kepalanya seraya Luhan mengunyah perlahan potongan apel dalam mulutnya. "Maafkan aku, sungguh." Walau pun ia tidak bisa mengatakan sebuah kalimat penolakan, Luhan menyadari senyuman redupnya yang memiliki kebahagiaan ketika ia berbaring, memiliki seorang yang dia cintai di dalam kamarnya sendiri dan di antara lengannya. Tapi Luhan tidak berkata apa pun pada hari berikutnya, ia terus memakan makanan yang Sehun bawakan untuknya dan menyambut senyumannya, pelukan-pelukan tak terduga yang akan Sehun berikan padanya. "Cepatlah sembuh dan buat sihirmu sekali lagi." Itu merupakan motivasi yang besar, dan sangat menakjubkan bagaimana yang lainnya peduli tentangnya lebih dari yang lain. Ia akan tersenyum sedikit saat Sehun melihat pada jam dan berbisik lembut "Oh! Sudah waktunya untuk obatmu." Ia mendengarkan ceritanya, penjelasannya atas semuanya dan gadis-gadis itu yang terus dia bawa, yang ternyata adalah sepupunya, saudara dan anak perempuan dari teman-teman ibunya.

Dia sangat terkesan, dan dia sangat menyukai kecupan-kecupan kecil yang Sehun berikan pada dahi atau tangannya. Lututnya akan semakin lemas, dan detak jantungnya akan semakin cepat. Ketika dia merasa lebih baik dia mengenakan pakaian yang Sehun berikan untuknya, berjinjit untuk mengalungkan lengannya di sekitar lehernya, menghirup aroma wanginya dan membisikan beberapa kata pada lehernya. "Terima kasih banyak," Sehun membelalakan matanya terkejut, "aku sudah membuatmu dalam banyak masalah." Ia menggelengkan kepalanya, mengalungkan lengannya kembali di sekitar tubuhnya yang kecil di antara lengannya dan membawanya untuk lebih dekat. "Aku menginginkannya." I

a menegaskan dengan senyuman senang, Luhan mendesah, memeluknya lebih erat hanya untuk mendapatkan sebuah ciuman di pundaknya. "Gosh aku mencintaimu," dadanya sakit, telapak tangannya mengusap rambut hitam tebal Sehun. "Terima kasih sudah mencintaiku."

o

o

o

x.w: Playlist: Kyuhyun - A Million Pieces, Say Yes - Seventeen, duh, baper ahh...