-You, and The Time-
Cast : Cho Kyuhyun
Kim Kibum
Lee Donghae
Choi Siwon
Warning : sorry for typo(s)
.
Chapter 1
.
.
"Jangan salahkan aku jika tiba-tiba aku berubah, namun jika kau ingin tau apa yang membuatku berubah, itu karena dua hal, salah satunya adalah, Kau."
.
.
.
.
"Kibum, bantu aku."
"Hei! Apa yang kau lakukan?"
Kibum yang baru saja keluar dari kamarnya itu langsung terkejut ketika melihat Kyuhyun tengah berjalan menuju ruang tamu sambil membawa sebuah tangga lipat.
"Aku akan meletakkannya di sebelah sini." Kyuhyun menunjuk sebuah sisi kosong pada dinding ruang tamu.
"Apa yang ingin kau letakkan di sana, Kyu?"
"Lukisan, milik Donghae Hyung." Kyuhyun beralih menunjuk sebuah lukisan yang masih terbungkus dengan rapi.
"Biar Donghae Hyung saja, kalau dia tidak ingin di letakkan di sebelah sini bagaimana? Hwang Ahjussi bisa memasangkannya untuk Donghae Hyung, Kyu."
"Biar aku saja. Sudahlah." Kyuhyun segera membuka lukisan yang berukuran cukup besar itu.
"Kau ini ada-ada saja." Kibum mendesah.
Kibum akhirnya menuruti permintaan sang adik. Kibum baru saja pulang kuliah dan saat ini dia sungguh merasa lapar, tapi jika dihadapkan dengan Kyuhyun, Kibum pasti menomorduakan dirinya. Walaupun dia tengah kelaparan, lelah, atau bahkan sakit sekalipun, Kibum tidak peduli dengan itu semua ketika Kyuhyun sedang memohon sesuatu seperti ini. Kibum berkata dia sangat menyayangi adiknya, lebih dari apapun. Ya, seperti itu.
"Ya, sedikit ke kiri, ke kanan, aish Kyu! Ke kiri lagi. Ya sudah!"
"Sudah?"
"Ya. Ayo makan. Aku lapar sekali."
"Kibum!"
"Apa lagi, Kyu?"
"Kibum, aku...aku.."
BRUK!
Kibum yang sudah berjalan beberapa langkah dari tempat Kyuhyun itu akhirnya menoleh.
"Oh, Tuhan!"
Jantung Kibum seketika berdetak sangat cepat kala dirinya melihat seseorang telah terbaring tak berdaya di atas lantai.
"Tidak, tidak, Kyuhyun!" Kibum segera menghampiri sosok yang tak lain adalah Kyuhyun itu. Tubuh Kibum mulai bergetar hebat ketika tangannya menyentuh tubuh Kyuhyun yang jatuh dengan posisi menyamping. Perlahan Kibum membalik tubuh Kyuhyun, dan setelahnya mata Kibum menjadi berkaca-kaca.
"Kibum? Ada apa ini?" Donghae yang baru saja memasuki rumah juga tak kalah terkejut ketika ia melihat sebuah tangga lipat yang masih berdiri tegak di ruang tamu, juga jangan lupakan Kyuhyun yang tengah tergeletak di atas lantai.
"Donghae...Hyung..." Suara Kibum bergetar pada akhirnya, tangan kanannya perlahan menyentuh kepala Kyuhyun.
"Kibum? Apa yang telah kau lakukan pada Kyuhyun?!"
"Hyung... da-darah.." Air mata Kibum jatuh.
Donghae yang langsung mengerti apa maksud Kibum dengan sigap segera mengangkat tubuh Kyuhyun.
"Hubungi Dokter Choi!"
.
.
.
.
Flashback
Wanita itu terus berjalan di tengah hujan yang sedang turun begitu derasnya. Dia menangis, menangis karena telah menyesali sesuatu yang telah ia perbuat. Wanita itu terus berjalan dengan langkah yang sedikit gontai. Dia sudah tak peduli dengan tubuhnya yang mulai menggigil karena kedinginan, terlebih lagi dengan keadaan seseorang yang kini tengah dipeluknya.
Seseorang?
"Kau gila? Apa kau tak sadar kau sedang membawa seorang anak kecil di tengah hujan seperti ini?"
Perempuan itu menghentikan langkahnya kemudian menatap sosok laki-laki yang tiba-tiba muncul di hadapannya.
"Kim Jae Rim, sadarlah! Kau ingin membunuh anak ini, huh?"
"Bagaimana jika memang seperti itu?" Perempuan itu tersenyum kecil.
"Jae Rim, kau... argh!" Laki-laki itu berteriak frustasi. Tubuhnya yang juga telah basah kuyup itu mendekat pada tubuh sang anak dan dengan perlahan mengambil alih anak kecil itu dari gendongan sang ibu.
"Aku tidak peduli apa yang akan orang katakan tentang anak ini, tak ada yang bisa mengubah keputusanku, termasuk kau!" Laki-laki itu berteriak marah.
"Aku yang melahirkan anak ini, dan kau tak punya hak sama sekali untuk mengatakan hal itu padaku!"
"Jika sikapmu seperti itu, aku tak akan segan-segan menjauhkan anak ini darimu, Kim Jae Rim! Aku tak punya waktu banyak, aku harus segera membawa anak ini ke Rumah Sakit. Dan satu lagi, jika kau masih mencintaiku, temui aku besok."
"Kim Ji Won!"
Laki-laki itu segera berlari menuju mobilnya tanpa mempedulikan seruan dan umpatan yang terus diucapkan oleh wanita yang sedang kalut itu.
.
"Bertahanlah nak, kau tak boleh menyerah begitu saja. Kau harus bisa hidup dengan baik dan membanggakan ibumu, buat dia menyesal karena pernah melakukan hal ini padamu."
Laki-laki bernama Kim Ji Won itu terus bergumam seorang diri. Di pelukannya kini sedang bersandar seorang anak laki-laki dengan wajah dan bibir yang membiru, ia terus berusaha menghangatkan tubuh anak yang sedang menggigil hebat itu.
"Kim Jae Rim, bodoh!"
Laki-laki terus berdecak kesal, diliriknya jam digital yang menyala di sebelah kemudi mobilnya. Itu hampir tengah malam dan jalanan memang sudah sangat sepi, ditambah hujan yang mengguyur kota itu sejak sore tadi. Sesekali ditepuknya tubuh anak laki-laki yang masih saja menggigil itu, tubuhnya sudah dilapisi beberapa jaket juga handuk, tapi tampaknya itu tak berguna sama sekali.
"Oh, Tuhan. Bertahanlah, sebentar lagi kita sampai."
End of Flashback.
.
.
.
.
"Luka-nya memang tidak parah, tapi sepertinya dia sangat shock. Dia harus banyak beristirahat, Donghae-ssi."
"Baiklah, Dokter Choi. Terimakasih sudah datang dan menolong Kyuhyun."
"Itu sudah kewajibanku, Donghae-ssi."
Donghae tersenyum, begitu juga dengan Dokter Choi.
"Baiklah, aku harus kembali ke Rumah Sakit. Kau bisa menghubungiku jika terjadi sesuatu pada Kyuhyun. Aku permisi, Donghae-ssi."
"Baiklah, terimakasih Dokter Choi."
"Ah, Donghae-ssi...tolong jaga Kyuhyun dengan baik."
"Tanpa disuruh-pun aku sudah berusaha menjaganya sebaik mungkin. Aku selalu mengingat perkataan Appa, Dokter Choi."
"Ya, aku yakin kau sudah melakukannya dengan baik. Terimakasih Donghae-ssi."
Donghae mengangguk sopan pada Dokter Choi yang kini telah memasuki mobilnya, Donghae tetap berdiri sambil memastikan mobil Dokter Choi benar-benar menghilang dari penglihatannya.
"Hyung! Kyuhyun sudah bangun!"
"Apa?!"
Secepat kilat Donghae kembali masuk ke dalam rumah dan berlari menuju kamar Kyuhyun.
"Kyuhyun!"
Donghae menjadi terkejut ketika Kyuhyun hanya menatap ke arahnya dengan tatapan sedih.
"Kenapa, Kyu? Ada yang sakit?" Donghae mengelus rambut Kyuhyun perlahan.
"Hyung... aku... lapar."
"Apa? Kau lapar? Ah, baiklah, Kibum mintalah tolong pada Ahjumma untuk membuatkan sup."
"Iya baik-"
"Aku tidak mau sup." Kyuhyun memasang wajah memelas.
"Lalu mau apa, Kyu? Kau sedang sakit."
Kyuhyun hanya diam dan menunduk.
"Sup saja ya? Ayolah kali ini saja."
Kyuhyun masih diam.
"Jika kau diam artinya kau mau dibuatkan sup."
Kyuhyun tetap diam.
"Ya sudah, Kibum katakan pada ahjumma, Kyuhyun ingin sup, seperti biasanya."
"Baiklah, Hyung."
Kibum segera pergi untuk menemui Ahjumma. Sedangkan Kyuhyun, anak itu tiba-tiba berdiri dengan tubuh yang sedikit gontai.
"Ya! Kau mau kemana?"
Kyuhyun menoleh ke arah Donghae.
"Membeli Jajangmyeon." Jawab Kyuhyun sambil mengambil sweater dan dompet-nya.
"Ya, iya baiklah, baiklah satu porsi Jajangmyeon akan segera datang untuk anda tuan muda. Silakan beristirahat kembali."
Kyuhyun memutar bola matanya dengan malas ketika ia mendengar perkataan Donghae, ia meletakkan sweater dan dompet-nya kemudian kembali berbaring. Sedangkan Donghae hanya bisa mendengus sambil melangkah ke luar kamar. Sungguh, tidak ada yang bisa melawan Kyuhyun jika sudah seperti itu.
Sementara Kyuhyun masih saja termenung, perlahan ia menyentuh perban yang terbalut di kepalanya.
'Mengapa aku tadi bisa jatuh?'
Jujur saja Kyuhyun masih merasa aneh dan bingung. Ia masih bisa mendengar suara Donghae yang memanggilnya ketika ia baru saja terjatuh tadi, kemudian juga Kibum yang berkata kepalanya berdarah. Kyuhyun tidak merasakan sakit, tapi tiba-tiba saja pandangannya menjadi gelap dan-
"Kyuhyun! Kenapa melamun?"
"Hm?" Kyuhyun terlihat sangat bingung.
"Kau memang sangat shock sepertinya. Sudah, tidak apa-apa, jangan terlalu dipikirkan. Jajangmyeonmu akan segera datang." Kibum terkekeh pelan.
Kyuhyun hanya memandang Kibum dengan tatapan takut dan bingung. Kibum tau adiknya itu pasti sedang menyembunyikan sesuatu.
"Apa ada yang sakit? Kepalamu sakit?"
"Tidak."
Kibum mendesah setelah ia mendengar jawaban Kyuhyun, lagi-lagi adiknya itu hanya berkata satu-dua patah saja. Jika sudah seperti ini, hanya Donghae-lah yang bisa mengajak Kyuhyun bicara.
"Baiklah, ku panggilkan Donghae Hyung ya?"
Kyuhyun menoleh. Tepat sekali, dia memang butuh Donghae Hyungnya saat ini.
Tak beberapa lama setelah Kibum keluar, Donghae masuk dengan membawa semangkuk penuh Jajangmyeon.
"Bangun, ayo makan." Perintah singkat Donghae membuat Kyuhyun sedikit tersentak dan langsung merubah posisinya menjadi duduk.
"Ingin makan sendiri?"
"Iya, Hyung."
"Ya, makanlah sendiri."
Donghae kemudian memberikan semangkuk Jajangmyeon itu pada Kyuhyun. Sementara Kyuhyun hanya memandangi makanan kesukaannya itu.
"Kenapa? Aneh ya, orang sedang sakit tapi memakan Jajangmyeon." Donghae tersenyum simpul.
Kyuhyun masih saja memandangi Jajangmyeon-nya.
"Hanya adikku yang bisa seperti itu." Donghae tertawa kecil sambil duduk di samping Kyuhyun.
"Hyung.."
"Apa?"
"Bagaimana bisa...aku-"
"Tanyakan pada dirimu sendiri. Ketika aku baru datang kau sudah tergeletak begitu saja, ditambah wajah Kibum yang terlihat sangat panik. Kenapa kau yang tiba-tiba memasang lukisannya? Padahal aku sudah meminta tolong pada Hwang Ahjussi . Lain kali jangan melakukan hal yang sekiranya berbahaya, ceroboh sekali kau tau."
Kyuhyun tak berkedip ketika mendengar perkataan Donghae. Tanpa disadari, Donghae mengambil alih Jajangmnyeon yang sedari tadi belum berkurang sedikitpun, kemudian menyuapkannya kepada Kyuhyun.
"Jajangmyeon-mu akan dingin jika kau terus melamun seperti itu."
Kyuhyun tidak menjawab karena sibuk mengunyah makanannya. Donghae terus saja memperhatikan Kyuhyun sambil sesekali mengusap bibir Kyuhyun yang penuh dengan Jajangmyeon. Adiknya itu tampak makan dengan lahap.
"Kau benar-benar lapar?" Donghae akhirnya bertanya.
"Iya, sangat lapar."
"Benar saja, kau menghabiskan semuanya. Sekarang cepat minum obatmu lalu beristirahatlah. Aku harus mengerjakan sesuatu Kyu, aku akan meminta Kibum untuk menemanimu, apakah tidak apa-apa?"
"Tidak perlu. Kibum Hyung harus belajar. Aku sendiri saja." Kyuhyun menggeleng ragu.
Donghae memajukan bibirnya ketika melihat reaksi Kyuhyun. Dia punya banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, dan tidak mungkin dia tetap menemani Kyuhyun meski sebenarnya itu yang dia inginkan.
"Ya sudah, aku keluar dulu. Panggil aku jika kau membutuhkan sesuatu."
"Donghae Hyung... aku membutuhkanmu sekarang."
"Kyu, pekerjaanku benar-benar banyak. Aku tak bisa meninggalkannya begitu saja."
Donghae mulai beranjak keluar dari kamar Kyuhyun.
"Aku ingin mengunjungi Appa dan Eomma." Kyuhyun berujar lirih.
Donghae menoleh dan menatap Kyuhyun dengan kening berkerut.
"Hari ini adalah... hari peringatan kematiannya." Suara Kyuhyun bergetar.
Mata Donghae membulat.
Benarkah? Bagaimana bisa aku melupakan hari sepenting ini?
"Sepulang sekolah aku langsung memasang lukisannya begitu aku melihat lukisan itu masih terbungkus rapi di ruang tengah. Aku juga meminta Ahjumma untuk segera membuatkan makanan. Aku yakin Donghae Hyung akan pulang terlambat hari ini. Aku melakukan itu karena aku punya alasan, yaitu agar kita bisa segera pergi ke tempat pemakaman. Ku pikir semua orang tau, tapi ternyata tak ada satupun yang mengingatnya. Apa aku salah melakukan hal itu, Hyung?"
Donghae terpaku pada tempatnya. Kata-kata Kyuhyun berhasil membuatnya bungkam. Dipandanginya wajah pucat Kyuhyun yang kini mulai basah oleh air mata.
"K- Kyuhyun-ah, maafkan aku." Donghae bergumam lirih.
"Aku mohon, jangan ada yang pergi besok. Kalian harus ikut aku ke tempat pemakaman." Kata Kyuhyun tegas dan singkat. Kyuhyun kemudian kembali berbaring di tempat tidur membelakangi Donghae yang masih termenung di tempatnya.
"Y-Ya, aku akan memberitahu Kibum. Besok kita pergi bersama-sama. Aku pergi dulu. Jangan lupa obatmu dan segeralah beristirahat. Maafkan aku, Kyu."
"Jangan meminta maaf padaku, kau harus meminta maaf pada Appa dan Eomma. Pergilah."
Donghae hanya bisa tersenyum kecil. Ia menyesal telah memarahi Kyuhyun, tapi ia lebih menyesal karena melupakan hari peringatan Appa dan Eomma-nya.
.
.
.
.
Pagi itu berlangsung dengan suasana yang sangat canggung. Kibum yang kesal karena dibangunkan pagi-pagi dengan cara tidak sopan-ditendang-oleh Donghae, kemudian Donghae yang juga masih disibukkan dengan urusan kantornya, dan si bungsu, Kyuhyun yang tiba-tiba mengalami demam tinggi. Kondisi Kyuhyun cukup parah, tubuhnya menggigil hebat, tapi Kyuhyun tetap bersikeras mengajak kedua Hyungnya pergi ke tempat pemakaman. Donghae yang menolak mentah-mentah permintaan Kyuhyun, justru sangat berbalik dengan Kibum yang menyetujui permintaan Kyuhyun dengan alasan Kyuhyun bisa meminum obat, kemudian mereka tetap akan berangkat. Tapi tidak semudah itu, ketiganya masih mempertahankan ego masing-masing.
Sampai pada akhirnya Donghae memutuskan untuk mengalah. Setelah Kibum sempat berteriak-teriak di depan Donghae untuk membela Kyuhyun, kini akhirnya mereka berada di dalam satu mobil yang sama. Tidak ada suara karena mereka sibuk dengan pikiran masing-masing, kecuali Kyuhyun yang sedari tadi memang memperhatikan kelakuan kedua Hyung-nya.
"Adakah sesuatu yang membuat kalian melupakan hari peringatan kematian Appa dan Eomma?" Kyuhyun tiba-tiba bersuara.
Kibum dan Donghae yang memang duduk di depan seketika menoleh pada Kyuhyun. Mereka tampak tidak bisa menjawab ketika mendengar pertanyaan dari Kyuhyun.
"Apakah kalian tidak mendengarkanku?" Kyuhyun berucap serius.
"Tidak, bukan begitu. Kyuhyun kau.. tolonglah, aku dan Donghae Hyung juga harus memperhatikan perusahaan. Meski-"
"Apa sulitnya satu hari saja tidak memikirkan perusahaan? Apa sulitnya satu hari saja kita berkumpul untuk mengenang kepergian Appa dan Eomma?" Suara Kyuhyun terdengar bergetar.
Kibum menoleh.
"Kyuhyunie, kau tidak apa-apa?"
"Berhenti bertanya seperti itu Kim Kibum! Aku sendiri yang melihat Appa dan Eomma meregang nyawa secara perlahan di depanku, apa itu pantas disebut baik-baik saja? Sementara kedua Hyung-ku bahkan tidak mengingat hari peringatan kematian kemarin? Kau pikir aku baik-baik saja?!" Kyuhyun berteriak.
Mata Kibum membulat. Sementara Donghae langsung menepikan mobilnya. Keduanya segera turun kemudian beralih menuju tempat Kyuhyun duduk di bagian belakang.
"Hei, jangan seperti ini. Hei, Kyuhyun dengarkan Hyung, tenanglah, tenang, okay? Maafkan aku dan Kibum, hm?" Donghae menyentuh pundak Kyuhyun.
"Maafkan aku, Kyu. Aku tidak bermaksud membuatmu seperti ini. Maaf-"
"Diamlah Kibum." Kyuhyun menatap mata Kibum tajam.
"Kyuhyun kontrol emosimu, jangan seperti ini! Kau belum pulih sepenuhnya." Donghae menangkup wajah Kyuhyun, mencoba menatap mata adiknya yang kini malah berkaca-kaca itu.
"Kibum, kemudikan mobilnya. Aku harus menenangkan Kyuhyun." Donghae memberi isyarat kepada Kibum.
"Menangislah jika memang ingin menangis. Bagaimana bisa kau terlihat kacau seperti ini ketika akan pergi ke tempat pemakaman? Appa dan Eomma akan sangat sedih jika mengetahui keadaanmu yang seperti ini, Kyuhyun. Ada apa sebenarnya? Ada masalah dengan sekolahmu?"
"Aku... merindukan Appa dan Eomma." Kyuhyun menatap Donghae.
.
.
.
.
Flashback
"Jaerim, apa yang telah kau lakukan pada anak itu?"
"Aku ingin membunuhnya! Kau puas?"
"Sudah ku bilang aku akan bertanggung jawab atas anak itu. Aku akan bertanggung jawab, berapapun yang kau minta untuk membesarkan anak itu, aku akan memberikannya padamu. Apa lagi yang salah, Kim Jae Rim?"
"Apa kau tak peduli dengan statusku? Istri Direktur perusahaan terbesar di Seoul telah berhubungan dengan pria lain? Lalu anak itu? Bagaimana jika semua orang tau kalau sebenarnya anak itu bukanlah anak Kim Ji Won? Apa kau tak memikirkan itu?!"
"Tidak semudah itu, Jaerim. Tidak semudah itu orang tau. Aku bisa menyimpan rahasia itu dengan baik, percayalah padaku."
"Apa maksudmu? Aku hanya ingin anak itu mati!"
"Bunuh, bunuh saja anak itu, setelah itu aku akan mengatakan pada semua orang kalau dia bukanlah anak Kim Ji Won. Aku akan mengatakan yang sebenarnya. Bagaimana, kau mau, huh? Dengar, aku mau bertanggung jawab Jae Rim, tolonglah mengerti, dia anakku dan aku menyayanginya."
"Baiklah, kalau begitu dia tak boleh bertemu denganmu. Dia tak boleh berhubungan denganmu. Tidak, aku tidak akan membiarkan dia berhubungan denganmu. Dia akan hidup bersamaku dan akan menjadi anak Kim Ji Won. Jangan pernah menemui anak itu lagi. Jangan anggap anak itu adalah anakmu, anggap saja dia orang lain. Satu lagi, jangan khawatir, aku akan membesarkannya bersama Kim Ji Won. Ku harap kau mengerti." Mata wanita menyorot tajam.
"Ya, jika kau menginginkan itu, aku akan melakukannya, asal jangan pernah mencoba membunuh anak itu lagi. Dan... anak itu, kau harus menjaga anak itu dengan baik, aku mohon padamu, Kim Jae Rim."
End of Flashback.
.
.
.
.
'Kyuhyun selalu seperti ini. Ketika mengunjungi tempat pemakaman Appa dan Eomma, dia selalu meminta untuk ditinggal seorang diri. Aku biasanya akan melihat dari kejauhan bersama Donghae Hyung. Awalnya ku pikir Kyuhyun ingin menyampaikan sesuatu secara pribadi di sana, tapi pada kenyataannya dia tak berbicara apapun, dia hanya duduk di dekat makam Appa dan Eomma, berdiam di sana untuk beberapa saat, lalu setelah itu kembali dengan wajah yang terlihat pucat dan ketakutan. Selalu seperti itu.' –Kim Kibum
.
.
'Kali ini Kyuhyun melakukan hal yang sama. Berdiam diri di dekat makam Appa dan Eomma, termenung dalam diam dengan mata yang tertutup. Namun beberapa saat kemudian Kyuhyun menangis, aku meminta Kibum untuk segera membawa Kyuhyun masuk ke dalam mobil karena kondisinya yang masih sakit, tapi sepertinya Kyuhyun menolak.' –Kim Donghae
.
.
.
"Tidak, aku tidak mau. Tinggalkan aku Kibum, sebentar lagi aku akan kembali." Kyuhyun melepaskan tangan Kibum yang melingkar di pundaknya.
"Ya sudah, kalau begitu aku akan menunggumu di sini." Kibum melipat kedua tangannya.
"Tinggalkan aku." Kyuhyun berucap datar.
"Kyu, kondisimu sedang tidak baik. Apa kau ingin bertambah sakit? Lagipula di sini dingin sekali, kita bisa mendoakan Appa dan Eomma di rumah."
Kyuhyun terdiam.
"Kita pulang, okay?" Kibum kembali berusaha membujuk Kyuhyun.
Perlahan Kyuhyun melangkahkan kaki menuju Donghae yang memang tengah menunggu kedua adiknya itu dari jauh. Kibum mengekor di belakang Kyuhyun dengan perasaan khawatir. Kibum melihat tubuh Kyuhyun yang mulai bergetar dan terlihat ketakutan, perlahan ia mendekat ke arah Kyuhyun.
"Kau tak apa?" Tanya Kibum pada Kyuhyun.
"Tidak apa-apa, hyung." Kyuhyun tersenyum samar.
Donghae yang melihat keanehan pada tingkah laku Kyuhyun dan Kibum itu segera berlari mendekati kedua adiknya.
'Kenapa kau selalu terlihat ketakutan seperti ini, Kyu? Sebenarnya apa yang kau pikirkan?'
"Tidak apa-apa. Ada Hyung di sini. Tenang, kita pulang lalu bertanding game, kau set..."
'Kenapa suara Donghae Hyung semakin mengecil? Lalu kenapa kepalaku sakit sekali? Apa karena terbentur kemarin? Dan Kibum Hyung kau dimana? Aku butuh satu orang lagi di sampingku, aku merasa lemas sekali. Kakiku sakit. Hyung, kenapa semuanya terlihat berputar di mataku? Dan mengapa aku melihat banyak sekali darah? Ah, tempat ini! Ini tempat ketika Appa, Eomma, dan aku mengalami kecelakaan itu! Tapi bukankah aku sedang berada di pemakaman?'
'Eomma! Kenapa Eomma memelukku? Eomma, kenapa ada banyak sekali darah? Eomma bangun, jawab aku!'
'Appa! Kenapa Appa menangis? Aku paling tidak suka ketika Appa menangis seperti ini. Dan mengapa Appa terus bertanya 'kau tidak apa-apa?' padaku? Aku tidak apa-apa, tapi entah kenapa tubuhku terasa sangat sakit.'
'Donghae Hyung, Kibum Hyung, kalian dimana? Hyung tolong aku, aku takut. Sakit, Hyung...'
.
.
.
.
Flashback
"Tolong selamatkan anak-ku terlebih dulu!"
"Tenanglah tuan, kami akan menyelamatkan anda kemudian petugas yang lain akan menyelamatkan putra dan istri anda."
"Tidak, selamatkan Kyuhyun terlebih dahulu!"
"Tuan, tolong percayalah kepada kami. Kami harus melakukan tindakan penyelamatan dengan segera. Tolong tenang."
"Tidak, anakku! Kyuhyun! Jaerim-ah!"
"Cepat selamatkan korbannya! Mobil akan segera meledak!"
"Tuan, saya mohon anda tenang dan ikuti prosedur penyelamatan kami. Semua akan baik-baik saja."
"Dia harus hidup! Kyuhyun harus hidup! Tolonglah, selamatkan anakku terlebih dahulu. Kumohon.."
"Baiklah, kami akan menyelamatkan putra anda terlebih dahulu."
.
.
.
.
'Direktur Perusahaan JW Group, Kim Ji Won, dikabarkan telah meninggal dunia akibat kecelakaan. Kecelakaan yang terjadi pada malam hari tersebut merupakan kecelakaan tunggal yang mengakibatkan mobil yang dikendarai Kim Ji Won beserta keluarganya terguling dan terbakar. Kim Ji Won beserta sang istri menjadi korban meninggal dalam kecelakaan tersebut. Sementara korban luka yang tak lain adalah putra Kim Ji Won, kini sedang mendapat perawatan intensif di Rumah Sakit Seoul karena mengalami luka yang cukup serius.'
"K-kyuhyun, tidak... tidak mungkin.."
End of flashback.
.
.
.
.
"Hyung sudah berkata padamu untuk tidak memaksakan diri, tapi kau tetap tak mau mendengarkan. Kau tau betapa sulitnya merawatmu ketika kau sakit? Kau selalu meminta hal yang tidak seharusnya diminta oleh orang yang sedang sakit. Aish! Kau tak kasihan pada Kibum? Sebentar lagi akan ada olimpiade dan seharusnya dia sedang belajar dengan tenang, bukan malah bersiap-siap pergi ke rumah Yesung Hyung seperti ini."
"Sudahlah Hyung, rumah Yesung Hyung juga tidak terlalu jauh. Aku berangkat dulu. Jangan biarkan Kyuhyunie tidur!" Kibum menunjuk Kyuhyun sambil tersenyum lucu.
"Hati-hati, Kibum."
"Baiklah, aku pergi!"
Donghae menganggukkan kepalanya, kemudian kembali menoleh pada Kyuhyun yang kini tampak memejamkan kedua matanya.
"Hei, jangan tidur. Nanti Kibum akan marah padamu, Kyu."
Kyuhyun kembali membuka matanya.
"Bukankah gitar milik Kibum masih ada? Kenapa harus repot-repot meminjam pada Yesung hyung." Tanya Donghae penasaran.
"Gitar milik Yesung hyung... suaranya lebih bagus daripada milik Kibum."
"Aigo.. anak ini benar-benar! Alasan apa itu?"
Donghae menyentuh dahi Kyuhyun dengan perlahan. Suhu tubuh Kyuhyun kembali tinggi malam ini. Donghae diam-diam mengamati wajah sang adik yang terlihat memerah itu, ditambah lagi dengan matanya yang terlihat lelah, Donghae tiba-tiba merasa bersalah karena melarang Kyuhyun tidur.
"Tidurlah Kyu, aku tidak tega melihat wajahmu. Kau pucat sekali. Apa sangat pusing?" Donghae mengaku.
"Tidak, hanya saja mataku terasa berat untuk dibuka." Kyuhyun menjawab apa adanya.
"Itu berarti kau mengantuk, tidurlah. Kau harus banyak istirahat. Kibum tak akan memarahimu."
"Aku tidak mengantuk, Hyung."
"Ya sudah, kalau begitu pejamkan matamu. Kyuhyun-ah, aku harus menelpon seseorang, kau tunggu di sini, hm?"
Kyuhyun membalas pertanyaan Donghae dengan anggukan. Sementara Donghae memutuskan untuk keluar sejenak dari kamar Kyuhyun. Donghae segera mengambil ponselnya, kemudian mencari sebuah nama yang sama sekali tak asing baginya—Kim Kibum.
"Halo, Donghae-ya!" Suara diseberang sana terdengar begitu panik.
"Yesung Hyung? Kenapa kau yang menjawab teleponnya? Dimana Kibum?" Donghae tak kalah terkejut dan panik.
"Dia kecelakaan, Donghae-ah. Datanglah ke Rumah Sakit Seoul sekarang juga!"
DEG!
"Apa?!" Donghae membulatkan matanya.
.
.
.
.
Mohon dibaca pesan di bawah ini ya.. :'D
.
Saya bingung banget mau ngetik apa, jadi lama deh update-nya, jeongmal nianhae. Jam sekolah saya mulai jam 6 pagi sampai jam 3 sore, terus jam 6 malam saya harus ikut bimbel sampai jam 8, jadi mungkin FF ini akan berjalan pelan-pelan ya? Bagaimana? Apakah tidak apa-apa jika memang seperti itu? Setiap ada waktu luang, saya pasti usahakan buat ngetik FF kok—lalu biasanya butuh 1-2 hari untuk membaca dan mengoreksi ulang FF saya.
.
Setidaknya di Ch 1 ini, saya sudah memberi gambaran tentang bagaimana kehidupan Donghae, Kibum, dan Kyuhyun. Saya juga sudah memasukkan beberapa 'flashback'. Jika ada yang masih bingung dan ingin bertanya, langsung PM saya saja, oke?
.
Mohon di review ya? Nanti review akan saya balas di chapter berikutnya. Terimakasih. :D
.
"MAGIC!"
20:41
