-You, and The Time-
Cast : Cho Kyuhyun
Kim Kibum
Lee Donghae
Choi Siwon
Warning : sorry for typo(s).
.
.
.
.
Kibum mendengus setelah beberapa kali ponselnya berdering. Dengan susah payah Kibum mengambil ponsel yang terletak di meja samping ranjangnya itu. Tangan kirinya masih sakit, begitu juga dengan kaki kirinya. Kecelakaan lima hari yang lalu membuatnya belum bisa banyak bergerak. Kibum masih ingat betul ketika ia sudah akan berbelok ke area rumah Yesung dan tiba-tiba mobilnya terasa terhantam sesuatu begitu keras. Kibum sudah tak mengingat apapun setelahnya, ia hanya berharap hidupnya tak berakhir secepat itu—dan syukurlah, Tuhan mengabulkan doa Kibum.
Kibum menatap ponsel hitam yang kini telah berada di genggamannya. Keningnya berkerut ketika ia melihat nomor asing tertera pada layar ponselnya. Ah, Kibum tau siapa ini! Pasti teman-temannya lagi.
"Ya? Halo, sudah ku bilang aku tidak bisa datang, aku masih dirawat di Rumah Sa-"
"Kim Kibum?"
"Songsaengnim? Oh.. maafkan saya.."
"Kau benar-benar tidak bisa datang, Kim?"
"Saya mohon maaf, tapi saya benar-benar tidak bisa mengikuti olimpiade itu." Raut wajah Kibum terlihat kesal dan kecewa.
"Baiklah, aku mengerti. Bagaimana keadaanmu?"
"Belum begitu baik, Songsaengnim."
"Baiklah, ku harap kau bisa segera pulih, Kim."
"Terimakasih, Songsaengnim."
Kibum memutus sambungan teleponnya. Seketika rautnya begitu keruh, sejak pagi tadi teman-temannya terus-menerus menghubunginya dan menanyakan hal yang sama. Hari ini adalah hari yang paling ia tunggu. Kibum belajar mati-matian selama kurang lebih dua bulan untuk mempersiapkan diri mengikuti olimpiade Matematika—kesukaannya. Tapi kali ini, harapannya sirna begitu saja. Tidak mungkin dia berangkat dengan keadaan seperti ini, berjalan saja tidak bisa.
Mata Kibum sejenak menoleh pada sosok laki-laki yang sedang terbaring dengan nyamannya di sofa dekat jendela kamar rawatnya.
"Kau masih tidur?" Tanya Kibum pada laki-laki itu.
Tak ada jawaban.
"Ya! Hei pemalas, bangunlah!"
Masih tidak ada jawaban.
Kibum menghela nafas. Adiknya benar-benar masih tidur. Kibum tak tau apa yang saat ini ia rasakan terhadap Kyuhyun. Kecewa? Marah? Jengkel? Tidak, tidak. Lagipula ini bukan salah Kyuhyun, kan? Lagipula saat itu Kyuhyun sedang sakit, jadi wajar jika dia meminta sesuatu yang aneh-aneh. Bukankah itu adalah kebiasaan Kyuhyun sejak kecil?
Kibum kembali memfokuskan pandangannya pada Kyuhyun. Diperhatikannya punggung Kyuhyun yang bergerak teratur—rupanya adiknya benar-benar tertidur dengan nyaman. Sejak dua hari yang lalu Kyuhyun memaksa menginap di Rumah Sakit, kemudian pulang ketika pagi untuk bersekolah.
Tunggu! Bersekolah?
"Ya! Kyuhyun, bangun! Kau tak bersekolah? Ya! Bangun! Ini sudah siang!" Kibum dengan panik memanggil-manggil nama Kyuhyun, namun tetap saja Kyuhyun tak menunjukkan respon apapun.
Tidak bisa, Kyuhyun tidak akan bangun kalau hanya diteriaki.
Kibum menoleh ke samping kanan-kiri, mencoba menemukan sesuatu yang aman untuk ia lemparkan ke arah Kyuhyun, mengingat ia yang masih belum bisa berjalan.
Mata Kibum berbinar ketika ia melihat 2 bantal yang berada di ranjangnya, dan satu lagi, jaket Kyuhyun yang tadi malam diletakkannya pada kursi dekat ranjangnya. Kibum mencoba meraih jaket Kyuhyun, sedikit meremasnya hingga menyerupai sebuah gulungan, dan-
SRET!
Jaket itu tepat mengenai tubuh Kyuhyun!
"Kyuhyun-ah! Kau harus sekolah, bangunlah!"
"Hm?"
Berhasil! Kibum bisa mendengar gumaman Kyuhyun. Ah, mungkin satu hal lagi agar Kyuhyun benar-benar bangun. Kibum mengambil bantalnya, kemudian juga melemparkannya ke arah Kyuhyun.
Kyuhyun menoleh ke arah Kibum dengan mata yang menyipit.
Oh lihat itu! Mata yang setengah tertutup, rambut yang acak-acakan, dan- ah, adiknya masih terlihat begitu tampan walau ia baru saja bangun dari tidurnya.
"Ya! Yak! Bangun, Kim Kyuhyun!"
"Sekolah?" Tanya Kyuhyun sedikit menggumam.
"Cepatlah, ini sudah sangat siang."
Kyuhyun bangun dan berjalan ke kamar mandi dengan langkah gontai. Kibum hanya bisa terkekeh melihatnya.
"Hei, sadarlah Kyu!"
Kibum kemudian kembali berkutat dengan ponselnya. Ia harus menghubungi seseorang, perutnya sudah terasa lapar sekali. Ia mengetikkan sebuah pesan singkat untuk Donghae dan-
"Kim Kibum!"
Kibum terlonjak ketika ia mendengar teriakan Kyuhyun dari kamar mandi.
"Ada apa, Kyu?"
"YAK! Bukankah hari ini adalah hari Minggu?!"
Benarkah?
Kibum dengan segera mengecek tanggal yang tertera di layar ponselnya.
"Ah, kau benar!" Kibum menepuk pelan kepalanya.
"YAK! Kau tau betapa dinginnya air kamar mandi? Aish!" Kyuhyun kembali berteriak dengan nada yang terdengar sangat kesal.
"Maafkan aku, Kyuhyun!"
"Awas kau, Kibum! Kau juga harus mandi setelah ini!"
Oh, Tidak!
.
.
.
.
Flashback..
"Kim Kyuhyun? Kau membuat nama yang tepat untuknya Jae Rim-ah. Dia pasti akan tumbuh menjadi anak yang tampan dan cerdas." Laki-laki itu mengelus pelan surai hitam milik seorang anak laki-laki yang kini tengah tertidur di pelukan sang Ibu.
"Jangan menyentuhnya!" Wanita bernama Kim Jae Rim itu segera mundur beberapa langkah—bermaksud menjauhkan sang anak dari laki-laki itu.
"Tak ada siapapun di sini Jae Rim-ah, aku hanya ingin menyentuhnya."
"Sudah ku bilang jangan pernah menyentuhnya sedikitpun."
"Kim Jae Rim, apakah ini tidak keterlaluan? Dia anak kandungku, dia adalah anak kita."
"Aku tak akan lupa tentang siapa sebenarnya anak ini. Kau pikir aku suka melakukan ini? Kau pikir hatiku tak sakit terus-menerus bersembunyi seperti ini? Aku juga mencintaimu, sungguh. Tapi aku takut, aku takut melukai hati Kim Ji Won, aku tak ingin membuatnya malu di depan orang banyak, maka dari itu mau-tidak mau aku harus menjauhkan anak ini darimu, maafkan aku."
"Aku tau, Jaerim-ah. Aku sangat mengerti bagaimana perasaanmu saat ini. Aku mengerti, aku akan menerima apapun yang ingin kau lakukan saat ini. Tapi kau juga harus berjanji padaku satu hal, Kim Jae Rim. Suatu saat nanti, aku ingin kau mengungkapkan semuanya."
"Tidak bisa, aku tidak bisa. Ku mohon jangan paksa aku melakukan hal itu. Apa kau tak peduli padaku? Apa kata orang tua Kim Ji Won padaku, huh? Lalu anak ini, dia juga pasti akan terluka jika sampai rahasia ini terbongkar."
"Apa maksudmu? Bukankah Kyuhyun justru akan senang jika ia mengetahui siapa sebenarnya Ayah-nya? Kau bisa meninggalkan Kim Ji Won, kemudian kau dan Kyuhyun, juga aku, kita akan hidup bersama Jaerim-ah."
"Aku tak mengerti apa maksudmu. Aku tidak mungkin meninggalkan Kim Ji Won. Kau tau sendiri pernikahanku sama sekali bukan atas dasar cinta, aku dan Kim Ji Won hanya korban dari keegoisan orang tua kami. Mereka memaksaku dan Kim Ji Won menikah demi kerja sama perusahaan, pada saat itu aku sama sekali tak mencintai Kim Ji Won."
"Aku akan menunggu, Jaerim-ah. Jika kau memang mencintaiku, kau harus berani meninggalkan Kim Ji Won, lalu hidup bersamaku, juga bersama Kyuhyun."
"Maafkan aku, sungguh aku tidak bisa. Aku mencintaimu. Aku harus pergi sekarang."
"Kim Jae Rim, pikirkanlah dulu kata-kataku. Aku juga mencintaimu, jaga anak kita dengan baik."
End of Flashback.
.
.
.
.
.
"Kyuhyun, aku ingin pergi ke luar." Kibum memasang wajah manja pada Kyuhyun yang sedang sibuk dengan ponselnya.
"Kau ingin keluar?" Kyuhyun beralih menatap Kibum.
"Aku ingin berjalan-jalan di sekitar Rumah Sakit." Kibum mengangguk-angguk.
"Kau belum bisa berjalan, Bum." Kyuhyun mendengus.
"Aku bisa memakai kursi roda, Kyu!"
"Aish! Baiklah, tunggu sebentar." Kyuhyun langsung berdiri dan mengambil kursi roda yang memang sengaja diletakkan di dalam kamar rawat Kibum. Ia kemudian mendorongnya ke arah Kibum.
"Ayo!" Kyuhyun mendekat ke arah tubuh Kibum, sedangkan Kibum segera meraih tangan Kyuhyun dan menggenggamnya dengan erat.
Kyuhyun memeluk tubuh Kibum, kemudian menuntunnya berjalan perlahan menuju kursi roda.
"Bukankah ini terasa aneh?" Kibum tiba-tiba bertanya.
"Aneh? Apa maksudmu?" Kyuhyun menatap wajah Kibum.
"Tidakkah menurutmu ini romantis? Jarang-jarang kita seperti ini? Yang ada kau dan aku hanya bertengkar saja." Kibum tertawa.
"Ya, ku pikir juga begitu." Kyuhyun hanya tersenyum kecil.
"Hei! Kalian akan ke mana?" Donghae yang baru saja memasuki kamar rawat Kibum itu tampak sedikit terkejut ketika melihat kedua adiknya sudah berpakaian rapi.
"Kibum ingin pergi keluar." Jawab Kyuhyun singkat.
"Keluar? Apa kau sudah merasa baik, Bum?" Donghae beralih menatap Kibum yang sudah duduk di kursi rodanya dengan nyaman.
"Ya, sudah sangat baik, Hyung." Kibum meringis.
"Ah, baiklah, aku akan menunggu kalian di sini. Jangan berlama-lama, okay? Cuaca di luar sedang dingin sekali, dan Kyuhyunie pakai jaketmu." Donghae menyerahkan jaket itu pada Kyuhyun.
"Kami pergi dulu, Hyung." Kyuhyun berucap pelan.
Donghae mengangguk sambil memperhatikan Kyuhyun dan Kibum yang bergerak meninggalkan ruangan itu, tak lama kemudian Donghae tersenyum. Donghae tau perasaan kedua adiknya itu sama-sama kurang baik. Kibum yang hari ini gagal mengikuti Olimpiade Matematika dan Kyuhyun yang sejak kemarin malam terus saja merasa bersalah kepada Kibum. Keduanya memang tak saling menyalahkan atau protes, Kibum bahkan sama sekali tak menyinggung tentang olimpiade hari ini, tapi Donghae yakin kedua adiknya itu sedang menyembunyikan perasaan satu sama lain.
.
.
.
.
Kyuhyun mengeratkan jaketnya ketika ia merasa angin tiba-tiba bertiup sedikit kencang. Benar apa kata Donghae, cuaca memang tidak terlalu cerah hari ini. Sejak 15 menit yang lalu Kyuhyun dan Kibum duduk di sebuah kursi di taman Rumah Sakit. Mereka hanya mengamati keadaan sekitar taman yang tidak terlalu ramai.
"Kibum Hyung, kau tak kedinginan? Atau kita masuk ke dalam saja?" Kyuhyun menoleh ke arah Kibum yang tampaknya tak risih sama sekali dengan dinginnya cuaca.
"Kau kedinginan?" Kibum balik bertanya.
Bukankah Kyuhyun yang sedari tadi tampak tak nyaman karena kedinginan?
"Tidak." Kyuhyun menggelengkan kepalanya.
"Baiklah, aku juga tidak kedinginan." Kibum tersenyum kecil.
Keduanya kembali terdiam setelah merasa suasana masih sangat canggung. Kyuhyun memang belum sempat meminta maaf kepada Kibum karena kejadian itu, dan Kibum juga tak menceritakan apapun tentang turnamen yang gagal diikutinya itu.
"Hyung/Kyu.." Panggil keduanya bersamaan.
"Kau dulu." Perintah Kibum.
"Aku minta maaf." Kyuhyun berucap pelan tanpa menatap ke arah Kibum.
"Untuk apa?" Raut wajah Kibum berubah serius.
"Andaikan kau menolak permintaanku untuk meminjam gitar ke rumah Yesung Hyung saat itu, kau pasti sudah mengikuti Olimpiade hari ini."
Kibum terdiam sejenak setelah mendengar kata-kata Kyuhyun.
"Ya, dan aku menyesal melakukannya." Kibum kemudian menyahut.
Kyuhyun seketika menoleh ke arah Kibum yang kini tengah menatapnya tajam.
"Sudahlah, lagipula aku harus bagaimana lagi?" Kibum mendesah.
"Kau marah padaku?" Kyuhyun bertanya dengan nada sedikit takut.
"Tentu saja, aku marah padamu dan orang yang menabrakku saat itu."
Kyuhyun terdiam.
"Kau takut aku marah dan mengamuk padamu?" Kibum menoleh pada Kyuhyun.
"Bagaimana jika memang seperti itu? Kau menakutkan ketika marah, Hyung." Jawab Kyuhyun.
"Baiklah, aku tak akan marah kalau begitu." Kibum tersenyum samar sambil terus memperhatikan Kyuhyun.
"Hei, kau kedinginan?" Kibum meraih wajah adiknya.
Kyuhyun tersenyum kecil. Wajah itu tampak sedikit pucat.
Ya Tuhan.. Kibum! Kau bahkan tak menyadari adikmu menggigil kedinginan sejak tadi.
.
.
.
Flashback
Pria ber-jas hitam itu tampak dengan gagahnya berdiri di atas podium. Tubuhnya yang tinggi dan tegap, sorot matanya yang tampak tegas, juga pembawaannya yang tenang itu mampu mengalihkan perhatian berpuluh pasang mata yang sedang menyaksikannya.
Kim Ji Won—kini orang mulai tak asing dengan nama itu.Nama yang kelak menjadi perbincangan banyak orang karena kesuksesannya. Perjuangan gigih seorang Kim Ji Won dalam membangun perusahaanya ternyata tak sia-sia, kini ia mulai mengembangkan sayapnya. Kim Ji Won kini sedang mengadakan upacara pembukaan untuk perusahaan baru yang dibangunnya. Dua perusahaan besar miliknya kini telah berdiri gagah di sekitar wilayah Seoul. Ini hasil kerja kerasnya, dan tentu saja ia sangat bangga dengan itu.
"Seperti yang telah kukatakan sebelumnya, pada kesempatan kali ini aku tidak hanya akan memperkenalkan perusahaan baruku, tapi aku juga akan memperkenalkan seseorang."
Suara riuh langsung menyahut begitu Kim Ji Won menyelesaikan kalimatnya.
"Baiklah, langsung saja."
Kim Ji Won menoleh ke sebelah kiri, pintu ruangan itu sedikit terbuka. Kim Ji Won melambaikan tangannya pada sosok kecil yang kini dengan malu-malu berjalan menuju podium. Anak laki-laki itu langsung merangkul tubuh Kim Ji Won begitu erat—ia tampak ketakutan.
"Jangan takut, sayang.." Kim Ji Won berbisik kemudian menggendong anak itu.
"Sebelumnya aku ingin mengucapkan maaf kepada semua orang yang ada di sini. Maafkan aku jika aku terkesan menutup-nutupi kehamilan istriku. Karena selama 3 tahun terakhir aku dan Kim Jae Rim memang harus berusaha keras untuk mempertahankan anak ini." Kim Ji Won tersenyum kecil ke arah anak itu, sedangkan anak itu hanya merengut lucu—tak mengerti apa yang sang ayah katakan.
"Saat itu kondisinya bisa dikatakan cukup lemah, Kim Jae Rim harus secara rutin melakukan pemeriksaan di Rumah Sakit selama ia mengandung, juga setelah anak ini lahir, aku harus menemaninya selama beberapa bulan di Rumah Sakit untuk mendapatkan perawatan. Dan syukurlah, kondisinya sekarang sudah lebih baik." Kim Ji Won kembali memandang gemas anak laki-laki itu.
"Ayo perkenalkan dirimu, sayang." Kim Ji Won berbisik ke arah anak itu.
Dengan ragu-ragu tangan kecil itu meraih mikrofon yang diserahkan sang ayah, sesekali manik beningnya tampak memandang ke arah sang Ibu yang memang ikut duduk bersama tamu-tamu yang lain. Sang Ibu yang mengetahui gelagat si kecil itu kemudian tersenyum dengan tulus ke arah sang anak—bermaksud memberi semangat.
"Em.. pelkenalkan, namaku Kim Kyuhyun." Anak itu kemudian tersenyum malu-malu.
Riuh tepuk tangan menyambut Kyuhyun yang kini menenggelamkan kepalanya di pundak sang Ayah.
"Ya, namanya Kim Kyuhyun, aku berharap suatu saat nanti dia juga akan menjadi penerus perusahaan. Ah, Kyuhyun-ah, kau gugup?"
Kyuhyun kecil itu langsung menggelengkan kepalanya lucu. Bibir merahnya tampak mengerucut, membuat tamu-tamu yang ada di ruangan itu gemas melihat tingkah Kyuhyun kecil.
"Ah, baiklah, aku ingin memohon satu hal. Sama seperti dulu ketika aku mengenalkan Donghae dan Kibum, aku pasti meminta kalian ikut mendidik anak ini, jangan sungkan-sungkan menegur jika anak kami melakukan kesalahan atau bersikap tidak sopan. Aku berharap semuanya dapat menerima kehadiran Kyuhyun." Kim Ji Won kembali melirik ke arah Kyuhyun kecil yang kini sedang memainkan dasi milik sang Ayah.
"Baiklah, ku kira Kyuhyun harus istirahat. Silakan melanjutkan acara selanjutnya." Kim Ji Won mengangguk kepada pembawa acara yang kini bersiap untuk memimpin acara selanjutnya.
"Kerja yang baik, Kyuhyunie." Kim Ji Won mencium singkat pipi Kyuhyun kecil.
Tanpa sadar, seseorang sedang memperhatikan Kim Ji Won dan Kyuhyun. Mata itu tampak bahagia dan sedih, manik coklatnya terlihat berkaca-kaca. Tak ada seorang pun tau apa yang dipikirkannya.
"Hiduplah dengan baik bersama keluarga barumu, Kim Kyuhyun. Maafkan Appa." Orang itu bergumam lirih.
End of Flashback.
.
.
.
.
"Kibum, besok kau boleh memulai latihan untuk kakimu."
"Benarkah, Dokter Choi?"
"Tentu saja. Luka di kakimu tidak terlalu parah, jadi kurasa itu akan pulih dengan cepat. Mulailah dulu dengan menggerakkan kakimu perlahan-lahan, jangan terburu-buru. Jika sudah bisa digerakkan dengan baik, kau boleh mencoba untuk berjalan."
Kibum dan Donghae yang mendengar perkataan Dokter Choi hanya mengangguk.
"Ah ya, lalu dimana Kyuhyun?" Dokter Choi bertanya sedikit ragu.
"Kyuhyun... dia sedang tidur..." Kibum menunjuk ke arah sofa.
"Ya Tuhan! Itu Kyuhyun? Dan kenapa... ah, maksudku-"
"Dia sedikit kedinginan, Dokter Choi." Kibum tersenyum.
Dokter Choi sedikit meringis melihat Kyuhyun yang tertidur dengan beberapa selimut tebal menutupi tubuhnya. Bahkan Dokter Choi sampai tidak menyadari jika seseorang tengah tertidur di sana.
"Mengapa mencari Kyuhyun, Dokter Choi?" Pertanyaan Donghae seketika memecah lamunan Dokter Choi.
"Ah, sebenarnya... aku ingin mengatakan sesuatu kepada kalian berdua. Ini tentang... Kyuhyun."
Mendengar itu, Kibum dan Donghae dengan kompak menatap satu sama lain.
"Sepertinya kalian sudah tau tentang apa yang akan ku katakan."
"Apakah kodisinya kembali menurun, Dokter Choi?" Tanya Donghae.
"Ya." Jawab Dokter Choi, singkat.
Sepatah kata dari Dokter Choi berhasil membuat raut Kibum dan Donghae berubah.
"Maaf, tapi aku harus memberitahukan hal ini kepada kalian. Aku yakin Kyuhyun tak akan memberitahu kalian secara langsung."
"Kyuhyun sudah mengetahui kondisinya sendiri?"
"Tentu saja, Kyuhyun sudah melakukan pemeriksaan kemarin. Dia tak meminum obatnya akhir-akhir ini, dia mengaku sendiri padaku. Dan itu membuatku terkejut bukan main. Donghae, Kibum, aku tau membujuk Kyuhyun bukanlah hal yang mudah, tapi aku percaya kalian berdua bisa melakukannya. Tolong bujuk Kyuhyun, entah bagaimana caranya, buat dia mau meminum obatnya, buat dia mau beristirahat lebih banyak, juga katakan padanya untuk jangan terlalu memaksakan diri. Aku mohon pada kalian, Donghae, juga Kibum."
Donghae dan Kibum kembali saling bertatapan.
"Apakah ini ada kaitannya dengan kecelakaan kecil yang dialami Kyuhyun kemarin, Dokter Choi?" Raut wajah Kibum terlihat menyesal.
"Tidak, memang sebelumnya kondisi Kyuhyun sudah menurun. Dan, apakah ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiran kalian? Jika memang ada, untuk sementara ini tolong jangan terlalu membebani Kyuhyun. Kalian tau sendiri, Kyuhyun diam-diam suka memikirkan sesuatu sendiri sampai itu membuatnya sakit."
"Aku mengerti Dokter Choi, maafkan aku. Aku akan menjaga Kyuhyun lebih baik lagi."
Donghae mengucapkan kalimatnya dengan mantap. Dokter Choi yang mendengarnya menjadi lega. Ia kemudian pergi meninggalkan ruangan itu.
.
.
.
.
Flashback
"Aku sudah memberitahumu Jae Rim. Dia sakit, Kyuhyun memang sakit. Tapi sialnya, kau tak pernah mempercayai itu."
Jae Rim hanya bisa menangis sambil memeluk seorang anak kecil yang terlihat kesakitan itu.
"Apa kau tidak percaya padaku? Aku seorang dokter, aku sudah mengetahui hal ini sejak awal. Aku yakin ada sesuatu yang salah sejak kelahirannya, Jae Rim."
"Bagaimana kau bisa sepercaya diri itu memvonis annakmu sendiri, huh?"
"Apa kau bilang? Percaya diri? Sudah tiga bulan aku merahasiakan hal ini padamu, awalnya aku sendiri juga tidak percaya dengan kondisi Kyuhyun, maka dari itu aku terus melakukan pemeriksaan terhadap Kyuhyun, berulang kali, dan hasilnya tetap sama. Ada sedikit masalah dengan jantungnya, dan aku harus memberitahukan ini padamu, Jae Rim. Apa itu salah? Ini demi kebaikan Kyuhyun, anak kita."
"Anak kita? Apa aku tak salah dengar?"
Kedua orang itu dikejutkan dengan kehadiran seorang yang lain secara tiba-tiba.
"K-Kim Ji Won? M-maksudku-" Laki-laki bergelar dokter itu terlihat gelisah.
"Jelaskan padaku. Jelaskan padaku, Choi Seung Hwan!" Mata Kim Ji Won berkilat.
"Baiklah, mungkin memang sudah saatnya mengatakan ini padamu. Kyuhyun, sebenarnya dia adalah anakku dan Kim Jae Rim."
"Apa!?"
.
.
Bagaimana jika kenyataan memang ber-alur seperti itu? Apakah kau bisa menolaknya jika itu terlalu menyakitkan?
Tentu saja bisa. Kau bisa menolak sekeras yang kau mau.
Lalu bagaimana dengan mengubahnya?
Mengubah kenyataan yang telah terjadi? Tidak bisa. Bukan seperti itu. Karena sekeras apapun kau berusaha mengubah kenyataan itu, hasilnya tetap sama. Menyakitkan, tentu saja.
Lalu?
Maka yang satu-satunya bisa dirubah dan diperbaiki adalah, kau sendiri. Kau hanya membutuhkan satu hal untuk merubahnya.
Hal itu adalah, waktu.
Kenyataan boleh menyakitkan. Kau boleh jatuh dan menangis. Kau boleh marah. Namun percayalah, waktu akan menyembuhkannya.
.
.
.
.
"Kibum-ssi..? Kibum...? Ki-"
"KIM KIBUM!"
Kibum sontak terperanjat. Suara memekakkan yang sangat dikenalnya itu seakan melenyapkan kantuknya begitu saja.
"Maafkan aku, Dokter Choi. Jika tidak seperti itu, Kibum tidak akan bangun." Donghae mendesah.
Dokter Choi yang sedari tadi berusaha membangunkan Kibum itu hanya tersenyum kecil. Sedangkan Kibum masih berusaha mengumpulkan kesadarannya, perlahan ia mendudukkan dirinya di atas ranjang. Kibum menyipitkan matanya, lalu mengusapnya pelan ketika ia merasa pandangannya masih terlihat kabur.
Jam berapa ini? Mengapa aku masih mengantuk sekali? Apakah ini masih malam? Dan mengapa Dokter Choi berada di sini?
"Dokter Choi? Hyung? Ada apa?" Kibum bertanya lirih sambil masih mengusap-usap matanya.
"Kibum, bisakah kau tidur di sofa saja?" Donghae bertanya dengan nada sedikit panik.
"Hm?" Kibum masih belum mengerti apa yang dikatakan Donghae. Tapi yang jelas pemandangan di hadapannya sekarang ini membuat kantuknya benar-benar lenyap.
"Oh Tuhan! Kyuhyun.. ada ap- aghh!"
BRUK!
"Kibum! Apa yang kau lakukan? Kakimu belum pulih!" Dokter Choi setengah berteriak pada Kibum yang kini telah jatuh terduduk di lantai sambil memegang kaki kirinya. Dengan sigap Dokter Choi membantu Kibum berdiri.
"Aku tidak apa-apa, Hyung. Kenapa kau tiba-tiba panik lalu berdiri seperti itu? Apa kau lupa jika kakimu masih sakit?" Kyuhyun tersenyum kecil.
Apa? Tidak apa-apa kau bilang?
Melihat wajah Kyuhyun saja Kibum yakin jika adiknya itu tengah menahan sakit, belum lagi selang infus yang entah sejak kapan sudah terbalut rapi di punggung tangan Kyuhyun, juga Donghae yang terus merangkul pundak Kyuhyun begitu erat seakan takut Kyuhyun akan terjatuh. Bukankah itu mengerikan? Dan Kyuhyun-seperti biasanya- dengan tenangnya berkata 'aku baik-baik saja.' Oh, apakah Kyuhyun tidak tau caranya berbohong?
"K-kau kenapa? Kenapa tiba-tib-"
"Tidak apa-apa, adikmu hanya perlu istirahat, Bum. Bolehkah dia tidur di ranjangmu? Kyuhyun tidak mau dibawa ke kamar rawat lain, dia tetap memaksa tidur di sini untuk menjagamu, dan aku tidak tega jika dia harus tidur di sofa." Dokter Choi menjawab pertanyaan Kibum.
Baiklah, Kibum-pun juga tak akan tega.
"Tentu saja. Sebaiknya kau berbaring di sana, Kyu."
"Eh? Tapi- Dokter Choi, bolehkah membawa satu ranjang lagi ke sini?" Tanya Kyuhyun pelan.
"Aish! Kau ini! Sudahlah cepat berbaring di sana." Kibum mengacak rambut Kyuhyun kasar, dibalas dengan dengusan pelan oleh Kyuhyun.
Kibum yang dibantu Dokter Choi akhirnya berjalan pelan ke arah sofa yang—untungnya—berukuran agak besar itu.
Sedangkan Kyuhyun hanya bisa berteriak-teriak kecil ketika ia merasa risih pada Donghae yang terus memegangi tubuhnya. Kyuhyun juga tidak tau mengapa tubuhnya tiba-tiba menjadi lemas, padahal ia merasa baik-baik saja tadi pagi, dan bahkan ia sempat mengabiskan jatah makan malam Kibum.
Sementara Kibum yang kini sudah duduk dengan nyaman di sofa tiba-tiba menarik tangan Dokter Choi yang baru akan beranjak keluar dari kamar itu. Dokter Choi akhirnya menoleh ke arah Kibum yang sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Tidak apa-apa, Bum. Kyuhyun hanya sedikit demam, dia kelelahan—mungkin. Aku harus pergi sekarang."
Kibum mengangguk mengerti. Setelah Dokter Choi meninggalkan ruangan itu, Kibum hanya terus diam dan berpikir. Mengapa kali ini perkataan Dokter Choi terasa sulit untuk ia percaya? Melihat wajah Donghae yang tampak begitu khawatir, juga Kyuhyun yang sedari tadi terdengar mengaduh kesakitan, sepertinya tidak mungkin jika Kyuhyun hanya kelelahan. Tapi mengapa Dokter Choi dan Donghae tidak berterus terang tentang kondisi Kyuhyun saat ini? Bukankah tadi ia juga ikut mendengarkan Dokter Choi yang menjelaskan bahwa saat ini kondisi Kyuhyun memang sedang menurun?
"Kibum!"
"Aigo, kau mengagetkanku Hyung!" Kibum merengut ketika tiba-tiba Donghae berdiri di depannya.
"Kenapa melamun? Tidurlah lagi, ini masih jam 2 pagi, Bum. Aku akan menjaga kalian di sini."
"Hyung..." Kibum berucap ragu. Ia menatap wajah Donghae yang sedang duduk di sebelahnya.
"Apa, Bum?" Donghae menoleh ke arah Kibum.
"Tidak, tidak jadi Hyung." Kibum menggeleng pelan. Sebenarnya ia ingin menanyakan sesuatu pada Donghae, tapi ia menjadi tidak tega setelah melihat wajah Donghae yang tampak lelah.
Donghae yang mendengar jawaban Kibum hanya mendesah. Ia sedikit melirik ke arah samping, ke arah ranjang Kyuhyun, sekedar memastikan bahwa Kyuhyun benar-benar sudah terlelap.
"Kibum... menurutmu... apakah dia benar-benar tertidur? Atau malah pingsan?"
"Kyuhyun?"
"Siapa lagi?"
Kibum juga bisa dengan jelas melihat Kyuhyun di sana. Baru beberapa menit saja sudah tidak ada gerakan apapun dari Kyuhyun. Matanya adiknya itu tertutup rapat-rapat, tangannya bahkan masih mencengkeram ujung selimut tebal itu walau tak sekuat beberapa saat yang lalu.
"Hyung, kau tak menyembunyikan sesuatu dariku?"
"Kau benar, Bum. Sedari tadi aku memang menyembunyikan sesuatu." Donghae menutup matanya kemudian menyandarkan tubuh lelahnya di sofa putih itu.
"Ada apa dengannya, Hyung?"
"Aku benar-benar takut, Bum. Seluruh tubuhku terasa bergetar ketika melihatnya seperti tadi. Kurasa aku tak perlu menjelaskan apapun lagi. Dokter Choi ingin dia dirawat beberapa hari di sini. Berdoalah saja untuknya, Bum."
Kibum menunduk. Hatinya terasa sakit setelah ia mendengar jawaban Donghae. Gelisah. Takut. Ini untuk pertama kalinya kondisi Kyuhyun kembali menurun di saat kedua orangtuanya telah pergi untuk selama-lamanya.
Appa..Eomma... Bagaimana ini? Aku merasa kasihan pada Donghae Hyung, dia harus mengurusku juga Kyuhyun, belum lagi urusan perusahaan yang tak bisa diabaikannnya. Appa..Eomma... aku ingin kakiku cepat pulih, karena dengan begitu aku bisa membantu Donghae Hyung untuk menjaga Kyuhyun. Bantu aku Appa..Eomma.. aku ingin bisa segera berjalan dengan normal seperti biasanya.
"Kibum, kau tidurlah lagi. Aku ingin bertemu sebentar dengan Dokter Choi." Kibum menepuk pelan pundak Kibum, kemudian bangkit dan berjalan menuju pintu ruangan itu sambil sekilas kembali melirik Kyuhyun. Kibum hanya bisa terdiam menyaksikan wajah Donghae yang tampak tak baik sama sekali sampai sosoknya menghilang di balik pintu yang tertutup pelan.
"Kibum, kau harus bisa berjalan besok!" Kibum berseru pelan sambil mencoba menggerakkan jari-jari kaki kirinya yang masih terasa sangat kaku.
.
.
.
.
Flashback
"Eomma, kenapa eomma menangis?"
"Ah, tidak Bum. Eomma tidak menangis kok."
Kim Jae Rim langsung mengusap air mata-nya ketika Kibum tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya dan bertanya seperti itu. Ia mencoba tersenyum setulus mungkin pada bocah 7 tahun itu.
"Eomma tidak apa-apa Kibum-ah. Di mana Donghae?"
"Donghae Hyung sedang belajar, Eomma."
"Lalu kenapa kau tak ikut belajar bersamanya?"
Jari-jari putih itu mengelus pelan kepala Kibum.
"Aku ingin melihat Kyuhyunie. Seharian ini aku tidak melihatnya, Eomma. Ada apa dengan Kyuhyunie? Dan kenapa tangannya ditusuk dengan jarum? Apakah itu tidak sakit?" Kibum menunjuk tangan Kyuhyun.
Pertanyaan bertubi itu hampir saja membuat Kim Jae Rim kembali menangis. Andaikan saja Kibum mengerti tentang apa yang terjadi hari ini? Andaikan saja ia paham tentang apa yang telah terjadi pada Kyuhyun-nya hari ini?
"Tidak apa-apa Kibum-ah, Kyuhyunie hanya demam. Baru saja Dokter Choi memeriksanya, besok Kyuhyunie pasti akan sembuh, sayang."
Kibum terdiam. Ia kemudian beralih menatap Kyuhyun kecil yang sedari tadi tampak tak tenang dalam tidurnya di pelukan sang Ibu.
"Apa demamnya tinggi, Eomma?" Raut wajah Kibum berubah khawatir.
"Iya, demamnya cukup tinggi, Kibum-ah. Tapi jangan khawatir, oke? Dan ini sudah malam, sebaiknya Kibum juga beristirahat. Dan bolehkah malam ini Kyuhyun tidur bersama Eomma?"
"Tentu saja, Kyuhyunie sedang sakit, jadi harus tidur bersama Eomma." Kibum mengangguk yakin.
"Anak pintar, hm? Ya sudah, kalau begitu sekarang Kibum masuk ke kamar, lalu matikan lampunya. Ah ya, jangan lupa berdoa, hm? Doakan juga Kyuhyunie agar dia cepat sembuh, oke?" Kim Jae Rim mengecup singkat pipi Kibum.
"Tentu saja, Eomma. Tapi Eomma... bolehkah aku... bernyanyi untuk Kyuhyun?"
Pertanyaan polos itu berhasil membuat mata Jae Rim semakin berkabut. Ini kebiasaan Kibum, setiap malam ia akan bernyanyi untuk Kyuhyun sampai adiknya itu benar-benar tertidur.
"Ah iya, Eomma hampir lupa. Kemarilah Kibummie." Jae Rim menepuk sisi kosong pada ranjang besar itu, bermaksud menyuruh Kibum untuk mendekat.
Kibum yang mengerti akhirnya duduk di samping Jae Rim yang masih setia menggendong Kyuhyun kecil-nya. Perlahan Kibum mendekat ke arah Kyuhyun, rautnya tampak sedikit terkejut ketika ia melihat Kyuhyun dari dekat.
"Kyuhyunie, kenapa Kyuhyunie tiba-tiba sakit? Apa Kyuhyunie kelelahan karena bermain bola bersama Hyung kemarin? Jika benar begitu, Hyung minta maaf, ne? Hyung akan menyanyikan sebuah lagu agar Kyuhyunie cepat sembuh."
Jae Rim hanya tersenyum sementara Kibum mulai menyanyikan sebuah lagu untuk Kyuhyun. Kibum mengecup singkat pipi Kyuhyun, kemudian mengucapkan selamat malam pada Jae Rim, dan akhirnya sosok kecil itu menghilang di balik pintu kamar.
Lagi-lagi kini hanya tinggal sebuah keheningan dalam ruangan itu. Jae Rim benar-benar tak sanggup lagi menahan air matanya. Ia sedikit mengeratkan pelukannya pada Kyuhyun, mencium wajah hangat itu sambil terus menangis.
"Kyuhyunie, apapun yang terjadi, kau harus tetap sehat. Maafkan Eomma, Kyuhyunie. Eomma berjanji akan menjagamu sebaik mungkin."
.
.
.
.
"Kenyataan memang selalu seperti itu. Kadang menyenangkan, tapi juga tak jarang menyedihkan. Ketika itu berakhir menyakitkan, maka kau harus menghadapinya, jangan malah pergi dan putus asa seperti pengecut.
Tetaplah percaya bahwa hitam dan putih kehidupan itu berjalan beriringan. Hidup itu sebenarnya mudah. Mudah ketika kau menghadapi segala kesulitanmu dengan sabar dan hati-hati.
Karena tanpa kesulitan, kau tak akan jatuh dan menyerah. Karena tanpa jatuh dan menyerah, kau tak akan mengerti betapa beratnya bangkit dan berjuang lagi. Karena tanpa bangkit dan berjuang lagi, kau tak akan tau bahwa kau nyatanya justru semakin kuat, lagi, dan lagi.
Percayalah, hidup ini bukan hal yang menjadi sia-sia hanya karena kenyataan pahit yang terjadi. Untuk yang terakhir, perhatikanlah detik jam yang selalu berganti sepanjang waktu, puluhan detik, ratusan detik, ribuan, atau bahkan miliaran, bukankah waktu selalu memberimu kesempatan di setiap detiknya? Jadi, apa kau masih menganggap semuanya berakhir, sedangkan kau masih punya bermiliar kesempatan yang belum kau coba?"
.
.
.
.
Haloo... saya kembali lagi teman-teman. Sepertinya sudah satu bulan ya sejak saya update chapter 2? Ini saya menyempatkan diri untuk mengetik dan mengupdate chapter 3 di tengah-tengah jadwal UTS saya. Fiuhh..
Okay, saya hanya berharap teman-teman tidak sedang atau sudah selesai melakukan UTS agar bisa punya waktu untuk mereview chapter ini. Hehe.. :'D
.
Beberapa hari yang lalu, mata saya sembab gara-gara Kyuhyun. Cepat sembuh ya, uri magnae. :')
.
NB : Begini saja, saya ralat. Biar gak bingung, Chapter-nya di sesuaikan saja ya. Jadi Chapter 1 itu adalah Prolog, lalu Chapter 2, lalu Chapter 3 (chapter ini), dan seterusnya. Jadi karena Chapter 1 itu masih prolog, saya akan balas review mulai dari chapter 2. Oke? :D
BALASAN REVIEW CH 2
mifta cinya : sudah dilanjut yaa, terimakasih sudah mau membaca dan mereview ff saya.. :D
MissBabyKyu : Sudah di next kakak. Chapter 2 memang sengaja saya buat bingungin, hehe.. :D terimakasih udah mau baca dan review FF saya, semoga ke depannya makin ngerti dan gak bingung lagi :D makasih juga kemarin sudah nge-PM sayaa.. :'D
Awaelfkyu 13 : yeaaayyyy! Wah saya jadi ikutan girang nih, wah terimakasih ya, saya jadi semangat buat nerusin FF ini. Semoga FF-nya tidak mengecewakan ya.. Saya janji akan update paling lama satu bulan sekali. Terimakasih sudah mereview.. :D Semangat!
sofyanayunita1 : he'eh.. bener banget, ini baru pemanasaan.. moga makin lama makin panas ya FF-nya *loh* :D wkwk. Terimakasih sudah mereview! Fighting! :D
jihyunelf : Iyaa, bener banget, di sini Kyu emang gak satu darah sama Kibum & Hae. Di Chapter ini sebenarnya udah ketahuan kok siapa ayah kandungnya Kyuhyun. *wkwk :D udah gk penasaran lagi ya? Hiks.. :'D terimakasih sudah mau membaca dan mereview.. :D
kyuli 99 : Terimakasih sudah bilang FF ini menarik dan seru, tapi jujur aja saya belum ngerasa kayak gitu. Semoga FF-nya tidak mengecewakan ya :'D . Kyu, Kibum sama Hae itu beda ayah aja, ibunya mereka sama. Oke..oke saya akan buat Kyu menderita.. *senyum evil* Terimakasih sudah mereview... :D
Kim Nayeon : Iyapss, benar sekali.. Kyu itu sebenarnya bukan anak Kim Ji Won. Siapa Ayah Kyu yang sebenarnya sudah terungkap di Chapter ini kok.. :D . Yang teriak-teriak waktu kecelakaan itu adalah Kim Ji Won, bukan ayah kandung Kyu. Oke, terimakasih sudah mereview.. :D :D
Puput : Wah, terimakasih sekali sudah mengerti keadan saya.. :'D *terharu* iya, saja janji bakal buat FF ini sampai tamat. Kibumnya gak apa-apa kok, doakan saja Kibum cepat sembuh ya *eh? :D. Terimakasih sudah mereview.. :D
Desviana407 : Iya, bener bayi itu Kyuhyun. Dan ya bener (lagi) Kyunie adalah dongsaeng Hae dan Kibum tapi beda ayah. Kalo buat Kyunie menderita, akan sangat saya usahakan.. *senyum evil* Oke? Terimakasih ya sudah mereview... :D :D
Dydy1402 : Aihh, komenannya bikin saya senyum-senyum sendiri. Fiuhh, semoga kedepannya FF ini tidak mengecewakan ya? Tunggu next chapter yaakk.. Terimakasih sudah mereview.. :D :D
readlight : begitukah? Walah, saya ngakak baca review kamu. :D :D Eonnie? Ah, jangan panggil saya eonnie.. :'D saya kelas 12 alias 3 SMA. Dan saya masih muda lho, termuda ke tiga di kelas saya.. *loh kok curhat?* Gomawoo.. semoga FF-nya tidak mengecewakan ya? :D Terimakasih sudah mereview.. :D
Apriliaa765 : sudah saya update, semoga gk bingung lagi ya... :D terimakasih sudah mereview... :D :D
phn19 : Sudah saya update yaa, terimakasih sudah mau nunggu.. *walah* Semangat! Terimakasih sudah mau mereview, maaf kalau updatenya agak lama, jadwal saya udah kayak artis papan atas gara-gara K13 *haduh* Terimakasih ya sudah mau mereview.. :D
diahretno : hiks, sebenarnya harus begitu ya. Iya, saya usakan updatenya bisa panjang ya.. terimakasih atas sarannya, terimkasih sudah mereview... :D :D
dewidossantosleite : Yapss, benar sekali, Kyuhyun bukan anak Kim Ji Won, mereka beda ayah. Hyungdeulnya belum tau. Tunggu terus next chapternya ya. Terimakasih sudah mereview.. :D
indahindrawatibasmar : Terimakasih.. Kyu emang kadang-kadang sengaja manggil 'Kibum' aja. Ayahnya Kyu yang sebenarnya sudah ketahuan kok di Chapter ini *hehe... :D Terimasih ya sudah mereview.. :D
Sparkyubum : Kyu gak di dorong siapa-siapa kok, Kyu jatuh sendiri. :D Terimakasih sudah mereview.. :D
Emon204 : Hehe, memang saya buat begitu. Perlahan-lahan semuanya akan terungkap kok. Tunggu next chapter yaa... terimakasih sudah mau mereview.. :D :D
pcyckh : Beneran udah jelas? wah syukurlah.. :D Ayah asli Kyuhyun sudah terungkap di Chapter ini. Belum, siwon belum muncul dulu untuk 2-3 Chapter ke depan. Sabar ya? Terimakasih sudah mereview... :D
Citra546 : arghhh.. sudah dilanjut kooookkk... Terimakasih sudah mereview.. :D
kyu ridho : Kyunie emang gitu, kadang manja kadang juga cuek sama Kibum. :D Ya Tuhan, ini sudah 1 bulan.. maafkan saya ya kalau kelamaan, next chapter mudah-mudahan bisa lebih cepat ya? Terimakasih sudah mereview.. :D
angel sparkyu : Kibum baik-baik aja kan? :D Terimakasih sudah mereview.. :D
Dangkuk : Sip! Terimakasih sudah mereview! :D
dd : Sudah di update! Terimakasih ya sudah mereview.. :D
Choding : Kyunie ceroboh kali ya, jadi jatuh kan? :D Kibum gak apa-apa kok... Terimakasih sudah mereview yahh.. :D
Songkyurina : Iya, itu Kyuhyun. :D Kibum gak apa-apa kok, tenang ajaa.. :D Semoga makin penasaran ya. Terimakasih sudah mereview.. :D
jiahkim : Yeee... Yang SeoKyu disimpen dulu berarti ya? Next! Terimakasih sudah mereview! :D
namielf : Mudah-mudahan bisa menarik ya? Amin :D Sudah dilanjut. Terimakasih sudah mereview! :D
martincho27 : Kyuhyun emang gitu ke Kibum atau Donghae kadang manja, tapi kadang juga cuek, tergantung mood-nya Kyunie aja. :D Sudah dilanjut. Terimakasih sudah mereview! :D
kyuhae : Pasti Kyuhae shipper yaa? Hayo ngaku? :D Sudah di update ya, terimakasih sudah mereview... ! :D
riena : Seiring bertambahnya chapter mudah-mudah gak bingung ya? Terimakasih sudah mereview :D
Nfs : Wah, makasih sudah menghabiskan waktu yang agak lama buat baca ulang FF ini. Semoga di chapter selanjutnya gk bingung lagi ya? :D Dan, terimakasih buat reviewnya.. :D
Lily : Sebenarnya Kyuhyun ketakutan itu karena dia teringat aja sama kejadian masa lalunya ( ketika kecelakaan itu ). Sudah saya update yaa, maaf terlambat sekali, semoga sukaa... Terimakasih buat reviewnya.. :D
kyukyung19 : sudah di update, terimakasih sudah mereview! :D
alifia : Amin, semoga makin seru ya? Sudah di update. Terimakasih sudah review.. :D
kyunoi : Amin, semoga ceritanya makin seru ya? Sudah saya update. Terimakasih buat reviewnyaa.. :D
hyunchiki : Kyuhyun bingung kali ya? *hehe Awalnya saya gak berniat bikin Kyu sakit di sini, tapi setelah saya pikir-pikir, tidak ada salahnya saya membuat Kyu 'agak' menderita *senyum evil* . Enggak, Kyu sama Kibum nggak kembar kok, memang kadang Kyu hanya manggil 'kibum' aja, tergantung mood Kyu mau manggil gimana. Terimakasih sudah mereview.. :D
.
Sudah saya balas semua kan? Mudah-mudahan sudah. Ya sudah, saya mau menghilang lagi. Bye-bye. Cium jauh.. *eh :'D
.
.
"A MILLION PIECES"
6:23
