-You, and The Time-
Cast : Cho Kyuhyun as Kim Kyuhyun
Kim Kibum as Kim Kibum
Lee Donghae as Kim Donghae
Choi Siwon of Super Junior as Choi Siwon
Kim Ji Won [OC]
Choi Seung Hwan [OC]
Kim Jae Rim [OC]
Warning : sorry for typo(s).
Preview Chapter Sebelumnya :
"Kibum, kau tidurlah lagi. Aku ingin bertemu sebentar dengan Dokter Choi." Kibum menepuk pelan pundak Kibum, kemudian bangkit dan berjalan menuju pintu ruangan itu sambil sekilas kembali melirik Kyuhyun. Kibum hanya bisa terdiam menyaksikan wajah Donghae yang tampak tak baik sama sekali sampai sosoknya menghilang di balik pintu yang tertutup pelan.
"Kibum, kau harus bisa berjalan besok!" Kibum berseru pelan sambil mencoba menggerakkan jari-jari kaki kirinya yang masih terasa sangat kaku.
.
.
Chapter 4
"Sudahlah Bum, kita tinggal saja."
"Tapi Hyung, dia belum bangun juga sejak tadi. Bagaimana kalau tiba-tiba dia panik karena kita tidak ada? Bagaimana kalau dia lapar ketika baru bangun? Bagaiman-"
"Tidak, Bum. Aku yakin dia belum bangun sampai kau selesai terapi nanti."
"Aish! Aku tidak mau!"
"Dokter Choi sudah menunggu, Bum! Aku yang paling tau dia itu seperti apa ketika sedang sakit. Coba saja bangunkan dia sekarang."
"Aku tidak tega, Hyung."
"Ya sudah, berarti kita tinggal saja."
Kakak-beradik itu masih tetap dengan pendiriannya masing-masing. Keduanya dengan serius menatap seseorang yang kini masih tertidur dengan pulasnya. Tidak ada yang berani membangunkan.
"Ayolah Ki-"
TOK! TOK! TOK!
Kalimat itu terhenti ketika sebuah ketukan pintu terdengar. Donghae yang kebetulan berada dekat dengan pintu langsung membuka pintu bercat putih itu. Di baliknya terlihat seorang wanita cantik dengan pakaian biru-muda khas Rumah Sakit.
Pasti suster ini ingin menyampaikan sesuatu dari Dokter Choi.
"Iya?"
"Donghae-ssi, Kibum-ssi, Dokter Choi sudah menunggu di ruangannya. Ku harap kalian cepat datang menemui Dokter Choi."
"Baiklah. Kami akan segera menemuinya. Terimakasih." Donghae mengangguk sekilas lalu kembali menutup pintu ruangan itu. "Kibum, ayolah, Dokter Choi sudah menunggu." Donghae kembali memohon pada Kibum.
"Tap-"
"Pergilah, Hyung." Kyuhyun tiba-tiba berkata lirih.
"Hei, kau sudah bangun? Sejak kapan?" Kibum menggaruk kepalanya.
"Baru saja. Pergilah Hyungdeul, Dokter Choi sudah terlalu lama menunggu." Kyuhyun kembali berucap pelan tanpa membuka matanya.
"Kau tak apa? Apa kau lapar? Apa kau ingin memakan sesuatu? Butuh sesuatu?" Kibum kembali bertanya.
"Aish, aku bisa meminta nanti ketika kau sudah selesai terapi Hyung. Pergilah." Kyuhyun merengut, kini dia membuka matanya.
"Benar tidak apa-apa? Apa ada yang sakit?" Kibum masih bertanya.
"Ya, telingaku sakit mendengar kau bertanya terus sejak tadi. Pergilah Hyung, aku tidak apa-apa sungguh! Aku ingin tidur lagi." Kyuhyun memasang wajah kesal.
"Aish, jangan memasang wajah seperti itu di depanku." Kibum merengut kesal
"Astaga Bum! Kyuhyunie, jika butuh sesuatu hubungi saja aku. Mungkin aku dan Kibum tak akan lama. Tidurlah lagi." Donghae dengan telaten membenarkan letak selimut Kyuhyun yang tampak berantakan. Sementara Kyuhyun hanya menjawab dengan anggukan.
"Jangan memaksa bangun sendiri jika masih sakit, Kyu." Kibum tersenyum.
Kyuhyun kembali mengangguk. Donghae dan Kibum kemudian beranjak pergi dari ruangan itu. Beberapa saat kemudian Kyuhyun tampak mencoba mengambil sesuatu dari balik selimutnya, ia kemudian tersenyum saat ponsel dengan case berwarna biru tua itu berhasil ditemukannya. Mata sayu-nya terlihat berbinar ketika ia membaca sebuah pesan dari layar ponsel itu, tak lama kemudian ponsel itu berdering, dan Kyuhyun tampak semakin girang saja.
"Ya? Bagaimana, Min? Sekarang? Ah- ya, ya baiklah."
.
.
.
.
Flashback
Sejak tadi tidak ada suara yang terdengar dari dalam kamar mewah itu, bahkan 3 orang di dalamnya juga tampak enggan berbicara. Sesekali hanya terdengar Kim Jae Rim—satu-satunya wanita di situ—yang mencoba menenangkan putra kecilnya yang terus-menerus merintih kesakitan, sedangkan dua orang yang lain terlihat sedang sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Kyuhyunie, tenanglah sayang, eomma di sini.."
Suara lembut dan pelan itu akhirnya mampu membuat keduanya terperanjat. Perhatian keduanya seketika beralih pada Kim Jae Rim yang kini sedang menatap putra kecilnya dengan tatapan lelah.
"Istirahatlah, Jaerim. Aku akan menjaganya. Pergilah tidur bersama Kibum dan Donghae." Laki-laki yang masih mengenakan jas hitam itu menatap mata sang Istri.
"Kau juga harus beristirahat Jiwon-ah, aku tau masih banyak pekerjaan yang harus kau selesaikan. Aku yang akan menjaga Kyuhyun." Sahut laki-laki lain yang tampaknya juga ingin menjaga Kyuhyun kecil.
"Tapi Choi-"
"Baiklah, kita jaga Kyuhyun bersama-sama." Suara lelah Kim Jae Rim dengan tegas membuat kedua laki-laki di sana sedikit terkejut. Bukankah percuma saja berdebat jika ketiganya bersikeras ingin menjaga Kyuhyun?
"Baiklah." Ucap Kim Ji Won pelan.
Setelah itu ketiganya kembali terdiam untuk beberapa saat sambil terus memperhatikan Kyuhyun kecil yang terlihat semakin tenang. Sesekali ketiganya tampak bertatapan dengan canggung seakan ada sesuatu yang sedang disembunyikan.
"Ah, kupikir aku harus mengatakan sesuatu. Bisakah kita selesaikan semuanya secara baik-baik malam ini?" Kim Jae Rim tiba-tiba membuka suara.
"Katakan, Jaerim-ah. Kami akan mendengarkan."
"Kim Ji Won dan Choi Seung Hwan, dua orang laki-laki yang sama-sama ku cintai. Aku tak tau harus darimana aku memulai kata-kataku, namun yang jelas kali ini aku akan mengatakan semuanya," Kim Jae Rim menghela nafas, "Maafkan aku Kim Ji Won. Ku pikir hanya kau di sini yang belum mengetahui bahwa sebenarnya Choi Seung Hwan dan aku telah menjalin hubungan cukup lama sebelum kau dan aku menikah. Aku terpaksa meninggalkan Choi Seung Hwan dan memilih menikah denganmu. Aku terpaksa melakukannya karena aku terlalu takut pada Appa dan Eomma."
"Ap- apa? Jadi Choi Seung Hwan dulu kekasihmu?" Kim Ji Won tampak tak percaya.
"Ya, bahkan Appa dan Eomma telah menyetujui hubungan kami. Tapi ketika perusahaan Appa mulai bekerja sama dengan perusahaan JW Group yang tak lain adalah perusahaan Appamu, semuanya menjadi berubah. Appa dan Eomma meminta aku berhenti berhubungan dengan Choi Seung Hwan dan tiba-tiba saja mereka mempertemukanku denganmu. Aku tak dapat melakukan apapun setelahnya. Aku mencoba menuruti kehendak mereka agar aku menikah denganmu demi perjanjian kerja sama perusahaan Appa dan perusahaan JW Group. Ketika itu aku sama sekali tak tertarik padamu, ku pikir kau juga merasakan hal yang sama Jiwon-ah. Setelah kejadian itu pula aku sama sekali tak berhubungan dengan Choi Seung Hwan, hingga beberapa tahun kemudian aku mendengar kabar bahwa Choi Seung Hwan telah menikah. Aku mencoba menerima semuanya, ku pikir ini adalah jalan terbaik yang dipilihkan Tuhan untukku. Jadi setelah itu, aku mencoba menyayangimu, mencoba merubah hidupku dan mencoba hidup dengan baik bersamamu hingga Donghae dan Kibum lahir," Kim Jae Rim menghapus air matanya sejenak.
Hati Kim Ji Won akhirnya menghangat, tidak dapat disangkal bahwa yang pertama kali memenangkan hati seorang Kim Jae Rim adalah Choi Seung Hwan, bukan dirinya. Kim Ji Won mendekat ke arah wanita cantik itu, merengkuh tubuhnya ke dalam pelukannya, membiarkan wanita itu menangis dalam pelukannya.
"Maafkan aku Jaerim-ah. Maafkan Appa-ku, aku tidak tau jika akhirnya kau harus terpisah dengan Choi Seung Hwan karena keegoisan Appa."Jiwon mengusap lembut rambut Jaerim.
"Jangan salahkan Appa-mu, Jiwon-ah. Aku juga tak tau mengapa harus ada perjanjian seperti itu, aku yakin saat itu kau masih ingin menikah dengan wanita lain yang lebih baik dariku."
"Lalu bagaimana bisa kau bertemu kembali dengan Choi Seung Hwan?"
Kim Jae Rim melepas pelukan Kim Ji Won, mengusap air matanya, kemudian menatap kedua laki-laki itu secara bergantian.
"Suatu hari aku melihatnya ketika aku mengantar Donghae ke Rumah Sakit. Waktu itu Donghae tiba-tiba saja sakit, jadi aku memutuskan untuk langsung membawanya ke Rumah Sakit tanpa memberitahumu terlebih dulu, dan ketika di Rumah Sakit, tiba-tiba aku melihat Choi Seung Hwan. Dan-" perkataan Jaerim terpotong.
"Dan ya, aku juga melihat Kim Jae Rim untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun kami berpisah." Choi Seung Hwan melanjutkan perkataan Kim Jae Rim.
"Aku tak bisa menahan rasa bahagia yang muncul ketika aku melihatnya. Rasa cinta yang dulu pernah kurasakan ketika bersama Jaerim, tiba-tiba saja kembali muncul. Terlebih saat itu aku baru saja bercerai dengan Istriku, aku sungguh bahagia bisa melihatnya lagi. Lalu tanpa sadar aku kembali menjalin hubungan dengan Jaerim, awalnya hanya sebatas pertemuan singkat antara aku dan Jaerim ketika Donghae dirawat di Rumah Sakit untuk beberapa hari, kemudian terus berlanjut sampai aku dan Jaerim diam-diam sering membuat janji untuk pergi bersama. Ketika itu terkadang aku mengajak Siwon, juga Jaerim yang terkadang mengajak Kibum atau Donghae untuk bertemu satu sama lain. Hubunganku dengan Kim Jae Rim menjadi sangat dekat, hingga pada akhirnya...aku tak dapat menahan perasaanku lagi. Entah mengapa Kim Jae Rim masih sama seperti dulu, senyumnya, sikapnya, semuanya masih sama di mataku. Aku tak bisa berbohong lagi Jiwon-ah, aku masih sangat menginginkan Kim Jae Rim menjadi pendamping hidupku." Dokter berparas tampan itu menghentikan perkataannya sejenak.
Kim Jae Rim tampak semakin terisak ketika semua kebenaran itu akhirnya terungkap. Air mata terus saja berkejaran menjatuhi wajah lelahnya.
"Aku tak bisa menahan emosi-ku Jiwon-ah. Saat itu aku sengaja mengajaknya pergi menuju sebuah apartemen yang jauh dari Seoul untuk sekedar berlibur bersama. Aku tak sadar apa saja yang telah kulakukan di sana, sampai suatu hari Jaerim menghubungiku sambil menangis dan berkata bahwa dia tengah mengandung seorang anak, yang tak lain adalah Kyuhyun. Aku menjadi takut dan tak percaya dengan semua itu, benarkah aku telah melakukan hal itu pada Jaerim? Awalnya aku meminta Kim Jae Rim untuk menggugurkan kandungan itu, tapi keinginan itu seketika lenyap ketika aku menyadari bahwa usia kandungannya sudah hampir memasuki bulan ke empat, aku tak ingin mengambil resiko, aku tak ingin terjadi apa-apa pada Jaerim, akhirnya aku dan Jaerim memutuskan untuk menyembunyikan semuanya, aku dan Jaerim bahkan menganggap seolah tak terjadi apapun, Jaerim juga berjanji akan merawat Kyuhyun dengan baik setelah ia lahir nanti."
"Aku dan Choi melakukan ini juga karena ingin menjaga nama baik-mu juga perusahaanmu, Ji Won-ah. Maafkan aku, maafkan aku juga Choi Seung Hwan. Aku benar-benar tak tau apa yang harus kulakukan saat itu, tak terpikir hal lain selain aku harus menganggap Kyuhyun sebagai anak kandungku dan Kim Ji Won, ku pikir itu adalah hal terbaik yang bisa kulakukan saat itu." Jaerim berbicara di tengah isakannya.
Sementara Kim Ji Won tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Tidak, dia tidak sedang marah pada Jaerim atau Choi Seung Hwan, dia hanya kecewa dengan keadaan yang membuatnya terpaksa menikah dengan Jaerim. Dia menyesal mengapa ia dulu menuruti keinginan orang tuanya begitu saja, mengapa dulu ia tak segera pergi saja dan membangun kehidupan baru bersama wanita yang benar-benar ia cintai? Oh, ayolah, penyesalan itu tiba-tiba membuat hatinya terasa sangat sesak.
"Baiklah, aku mengerti sekarang. Kau mengambil keputusan yang benar Jaerim-ah. Jika saja saat itu kau benar-benar menggugurkan kandunganmu, kau bukan hanya membahayakan hidupmu sendiri, tapi kita juga tidak akan pernah memiliki anak setampan dan sepintar Kyuhyun. Baiklah... kita juga sudah tau bagaimana kondisi kesehatan Kyuhyun yang memang membutuhkan perhatian khusus, ku harap tidak ada satupun yang mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi kecuali kita di sini. Choi Seung Hwan, aku akan bersenang hati menerima anak ini sebagai anggota keluargaku, kau tak perlu khawatir tentang biaya hidup Kyuhyun, aku akan membesarkannya bersama Jaerim, tapi aku meminta satu hal padamu, untuk pengobatan penyakit Kyuhyun, aku mempercayakan itu semua padamu, apakah kau bersedia Choi?"
"Tentu saja Jiwon-ah, aku sangat bersedia menjadi dokter pribadi Kyuhyun. Segala pengobatan dan perawatan Kyuhyun, serahkan saja semua padaku. Bagaimanapun juga aku harus bertanggung jawab atas semua ini."
"Terimakasih Choi Seung Hwan. Aku sangat berharap Kyuhyun bisa sembuh suatu saat nanti." Jiwon menatap sendu ke arah Kyuhyun kecil yang kini benar-benar tertidur dengan nyaman.
"Aku juga berharap seperti itu, Jiwon-ah. Tapi... bolehkah aku meminta suatu hal pada kalian?" Mata Choi Seung Hwan meredup, "Ku mohon ijinkan aku tetap berhubungan dengan Kyuhyun.." Mata kecoklatan itu tampak berkaca-kaca.
"Baiklah, tapi-"
"Terimakasih Jiwon-ah, aku berjanji tak akan mengatakan apapun pada Kyuhyun, bahkan ketika ia dewasa nanti, aku berjanji tak akan mengambil Kyuhyun dari kalian. Aku berjanji." Setetes air mata akhirnya membasahi wajah Choi Seung Hwan.
"Kau telah berjanji Choi, ku harap kau tak mengingkarinya," Sahut Jiwon, dia tersenyum samar.
End of Flashback.
.
.
.
.
"Wah ini enak sekali! Bolehkah aku memesannya lagi, Min?"
"Ya, pesanlah sebanyak yang kau mau, Kyu."
"Ckck! Kau baik sekali, Changminniee."
"Aish, tidak usah berlebihan seperti itu."
Laki-laki bernama Changmin itu tampak memperhatikan Kyuhyun. Sahabatnya itu memakan makanannya dengan lahap. Hari ini Changmin meemang telah berjanji mengajak Kyuhyun pergi restoran milik paman Changmin. Alasannya sederhana, Kyuhyun memang sangat suka dengan menu makanan yang disediakan di restoran ini.
"Changmin, kau tidak makan?"
"Ah... tidak, kau saja Kyu."
Sedari tadi Changmin memang hanya diam memperhatikan Kyuhyun, sebenarnya ia merasa sedikit aneh hari ini. Tidak biasanya Kyuhyun seperti ini. Ya, Kyuhyun memang terlihat begitu bersemangat hari ini, tapi mengapa Changmin merasa ada yang aneh pada Kyuhyun? Tatapan mata Kyuhyun tidak seperti biasanya, mata itu terlihat lelah hari ini.
Apa Kyuhyun sedang sakit?
"Hei, kenapa menatapku seperti itu? Semalam aku tidak bisa tidur, apakah mataku terlihat memerah?"
Ya, dia sakit. Kyuhyun sedang sakit.
Changmin mengangguk, ia kemudian tersenyum samar sambil menundukkan kepalanya. Dia tertawa dalam hati ketika mendengar perkataan Kyuhyun. Sahabatnya itu memang tak pandai berbohong. Itu adalah salah satu kebiasaan Kyuhyun yang paling ia hafal ketika Kyuhyun sedang menyembunyikan kondisinya. Bahkan Changmin sendiri belum sempat bertanya apakah Kyuhyun sedang sakit atau tidak. Kyuhyun akan terburu-buru mengatakan hal semacam itu ketika ia sakit dan berusaha menyembunyikan kondisinya.
"Kau sudah selesai?" Tanya Changmin ketika ia tersadar Kyuhyun hampir menyelesaikan acara makannya.
"Ya, setelah ini." Kyuhyun menjawab singkat.
"Bisakah kau saja yang membayarnya di kasir? Aku takut Paman Shim melihatku jika aku yang membayar, pasti dia tidak mau menerima uangku. Aku tidak enak hati sendiri, apalagi kau memesan banyak makanan kali ini."
"Baiklah. Terimakasih Changmin." Kyuhyun tersenyum. Dia mengambil dompet yang diberikan oleh Changmin lalu berjalan menuju kasir.
Sebenarnya ada alasan lain ketika Changmin menyuruh Kyuhyun yang sedang sakit untuk membayar di kasir, ia berniat mengirim pesan kepada Donghae, ia ingin memastikan kondisi Kyuhyun. Tapi belum sempat ia mengirim pesannya, Donghae sudah terlebih dahulu memanggil ponselnya.
"Ya, Donghae Hyung?"
"Changmin-ah, apakah Kyuhyun bersamamu?"
"Ya Hyung, ak-"
"Dia sedang sakit, Changmin-ah. Sebenarnya ia sedang dirawat di Rumah Sakit, bisakah aku meminta tolong padamu untuk mengantarnya kembali ke Rumah Sakit? Aish, anak itu!"
"Aku sudah tau, Hyung. Baiklah aku akan segera membawanya kembali ke Rumah Sakit. Kyuhyun tidak apa-apa, kami hanya pergi ke restoran, jangan khawatir Hyung."
"Ah, syukurlah. Ya, terimakasih banyak Changmin."
"Sama-sama Hyung."
Changmin buru-buru mematikan sambungan teleponnya ketika ia melihat Kyuhyun kembali sambil memasang wajah menyelidik kearahnya.
"Siapa yang menelepon, Min?" Tanya Kyuhyun menyelidik.
"Ah, bukan siapa-siapa Kyu. Sudahlah ayo kita pulang."
Changmin menarik tangan Kyuhyun dan bergegas membawanya ke dalam mobil dan-
"Tunggu! Kau tidak menyembunyikan sesuatu dariku, kan?" Kyuhyun bertanya curiga.
"Tidak. Kenapa kau terlihat ketakutan seperti itu? Yang meneleponku baru saja adalah Eomma, dia memintaku membelikan sesuatu, Kyu." Changmin berusaha berbicara setenang mungkin. Kali ini dia berniat untuk langsung membawa Kyuhyun kembali ke Rumah Sakit secara diam-diam tanpa memberitahu Kyuhyun.
"Tidak, aku hanya takut jika... ah sudahlah, Min!" Kyuhyun merengut kesal.
"Baiklah, baiklah kita pulang sekarang." Ajak Changmin.
Kyuhyun hanya mengangguk kemudian mengekor Changmin berjalan menuju mobilnya. Baru beberapa jam saja 'kabur' dari Rumah Sakit, Kyuhyun merasa tubuhnya kembali tak bertenaga, pandangannya juga tak sebaik tadi, ia kemudian berusaha menggapai punggung Changmin yang—menurutnya berjalan sangat cepat itu.
"Min, tunggu! Mengapa kau berjalan cepat sekali?" Kyuhyun setengah berteriak.
Changmin yang merasa pundaknya disentuh seseorang itu akhirnya membalikkan badan. Ia memandang Kyuhyun yang tampak kelelahan.
Aku harus segera membawa Kyuhyun ke Rumah Sakit.
"Mungkin kau yang berjalan begitu lambat, Kyu. Ayo cepatlah, Eomma sudah menungguku." Bohong Changmin lagi. Changmin meraih tangan Kyuhyun kemudian dengan segera membawa Kyuhyun masuk ke dalam mobil. Sedangkan Kyuhyun hanya diam melihat sikap Changmin yang ia pikir sedikit aneh, tidak biasanya Changmin bersikap seperti ini.
"Min, ada apa denganmu? Kau marah padaku?" Kyuhyun menoleh pada Changmin.
"Tidak, aku tidak marah. Mengapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?"
"Kau tiba-tiba mendiamkanku. Lalu kenapa kau terburu-buru mengajakku pulang? Padahal kau sudah berjanji akan mengajakku pergi ke suatu tempat, kau sud-"
"Jangan banyak bicara, Kyu. Kau sedang sakit, itu alasanku terburu-buru mengajakmu pulang. Donghae Hyung, yang baru saja menelepon itu bukan Eomma, itu Donghae Hyung. Dia dengan panik memintaku membawamu kembali ke Rumah Sakit." Changmin melirik ke arah Kyuhyun yang kini tengah menatapnya dengan mata membulat.
"Kau tidak membawa obatmu?" Changmin menjadi sedikit panik sekarang.
Kyuhyun menggeleng.
"Lain kali kau jangan melupakan benda penting itu ketika kau pergi, arra?" Changmin menepuk pelan tangan Kyuhyun.
Kyuhyun hanya mengangguk kecil sambil menutup kedua matanya ketika rasa sakit itu mulai terasa menusuk. Sungguh, Kyuhyun benar-benar menginginkan tempat tidurnya sekarang juga.
.
.
.
.
Flashback.
"Ahjussi, apakah ahjussi adalah seorang dokter?" Tangan kecil itu tampak menarik-narik ujung jas putih milik seseorang yang sedang sibuk dengan kegiatannya.
"Ah.. Kibum! Kenapa kau tiba-tiba di sini? Iya, benar sekali, ahjussi adalah seorang dokter." Sekilas laki-laki berpakaian putih itu melirik ke arah anak kecil yang tengah menatapnya dengan mata berbinar.
"Wah, keren sekali! Ahjussi, bagaimana kalau aku ingin menjadi Dokter juga?" Kibum—anak itu berseorak dengan penuh semangat.
"Tidak apa-apa, Kibum-ah. Jika kau ingin menjadi seorang Dokter, maka kau harus rajin belajar, oke?"
"Ne, aku akan rajin belajar! Tapi Ahjussi... bukankah tugas seorang Dokter adalah mengobati orang sakit?"
"Ya, kau benar sekali Kibum-ah."
"Lalu mengapa Eomma sering sekali meminta Ahjussi untuk datang ke sini untuk mengobati Kyuhyun? Apakah Kyuhyun selalu sakit seperti ini, Ahjussi? Kenapa Kyuhyunie sering sekali sakit?"
Laki-laki bernama Choi Seung Hwan itu akhirnya menghentikan kegiatannya. Sedari tadi ia memang sedang memeriksa Kyuhyun yang kembali sakit dan tiba-tiba saja ia dikagetkan dengan suara anak kecil yang tak lain adalah—Kibum. Anak itu tiba-tiba masuk ke dalam kamar Kyuhyun, kemudian memperhatikan kegiatannya sambil bertanya banyak hal.
Choi Seung Hwan akhirnya mengalah, ia kemudian meletakkan segala peralatan yang ia gunakan untuk memeriksa Kyuhyun dan mendudukkan dirinya di samping Kibum yang sedari tadi memang sudah duduk di pinggir ranjang berukuran besar itu.
"Apa kau ingin Kyuhyunie cepat sembuh, Kibummie?"
"Tentu saja Ahjussi, aku ingin adikku cepat sembuh." Kibum menatap Kyuhyun yang sedang tertidur pulas di sampingnya.
"Kalau begitu cepatlah menjadi dewasa, belajarlah dengan rajin, lalu kau akan menjadi Dokter seperti Ahjussi. Jika nanti kau sudah menjadi Dokter, maka kau bisa menyembuhkan Kyuhyunie. Bagaimana, kau setuju?"
"Benarkah Ahjussi? Kalau begitu aku setuju!"
"Tentu saja. Kalau begitu Kibum harus pergi ke sekolah sekarang. Appa sudah menunggu, arra?"
"Baiklah Ahjussi. Aku pasti akan belajar dengan baik!"
"Ne, anak pintar," Choing Seung Hwan mencubit kecil pipi Kibum.
"Aku berangkat Ahjussi!"
"Ya, hati-hati Kibummie. Kau harus belajar dengan baik, arra?!"
Kibum mengangguk dalam-dalam pada Choi Seung Hwan sebelum akhirnya sosok kecil itu menghilang di balik pintu yang tertutup. Choi Seung Hwan menghela napas, kepalanya kemudian bergerak ke arah sosok kecil lain yang tampak tenang dalam tidurnya. Dokter muda itu tersenyum secara tak sadar mulai terangkat lalu mengelus surai hitam milik sosok kecil itu.
"Kyuhyunie, kau dengar? Kakakmu juga ingin kau cepat sembuh. Bahkan dia ingin menjadi Dokter agar dia bisa menyembuhkanmu. Semua ingin kau segera sembuh, Kyu. Apakah kau mendengarnya? Huh?" Suara berat itu mendadak terdengar parau, disusul dengan beberapa isakan setelahnya. Choi Seung Hwan tak bisa menahannya. Hatinya terasa sesak setiap kali melihat Kyuhyun—anak kandungnya—terbaring sakit seperti ini. Banyak pasien yang telah ia tangani, bahkan yang lebih parah dari keadaan Kyuhyun-pun telah sering ia hadapi. Tapi mengapa ia seperti tidak sanggup ketika harus melihat Kyuhyun dengan keadaan seperti ini?
"Berhentilah jika memang tidak sanggup, Choi. Aku akan mencari Dokter lain untuk Kyuhyun. Aku tau ini berat untukmu."
Choi Seung Hwan menoleh begitu ia mendapati suara lembut itu.
"Ini bukan pertama kalinya aku melihatmu diam-diam menangis ketika sedang memeriksa Kyuhyun," Suara lembut itu kembali terdengar.
"Maafkan aku. Aku tak bermaksud seperti itu. Aku hanya belum terbiasa, Jae Rim-ah. Tidak... Tidak apa-apa, aku bersedia menjadi Dokter pribadi Kyuhyun."
"Tapi kau tak sanggup melakukannya, Choi Seung Hwan. Kau pikir aku tak tau apa arti raut wajahmu sekarang? Kau begitu ketakutan, kau terlihat putus asa." Wanita bersuara lembut yang sedari tadi berdiri di ambang pintu itu akhirnya masuk kemudian menutup pintu dengan perlahan. Alisnya sedikit berkerut, pertanda ia sedang serius dengan ucapannya.
"Aku sanggup, Jae Rim. Hanya... beri aku waktu... ku mohon. Aku ingin menyembuhkannya. Aku ingin melakukan yang terbaik untuk... untuk anak kandungku," Mata Choi Seung Hwan kembali memerah.
"Baik. Lakukanlah seperti apa yang ingin kau lakukan," Wanita itu berucap pasrah, "Bagaimana keadaannya?"
"Seperti biasanya. Dia harus terus mendapat perawatan rutin seperti ini," Suara berat itu masih terdengar agak parau.
"Sampai kapan?"
"Sampai kondisinya kembali normal."
"Kyuhyun selalu tidak bisa tidur setiap malam. Dia selalu merengek meminta sesuatu. Aku lelah Choi,terkadang dia akan semakin menangis ketika bersama Ji Won, jadi aku terpaksa mengurusnya sendirian. Dan aku tidak tau kenapa, tapi jika bersamamu dia akan tidur dengan tenang seperti ini," Jae Rim menoleh ke arah Kyuhyun,"Kim Ji Won sudah mengetahui ini, dan dia ingin kau tinggal di sini untuk beberapa hari sampai kondisi Kyuhyun membaik. Aku benar-benar tak sanggup jika aku harus mengurus Kyuhyun seorang diri. Sepertinya, Kyuhyun... membutuhkanmu."
End of Flashback.
.
.
.
.
Kyuhyun tampak merengut kesal ketika Donghae, Kibum, dan Changmin tengah memarahinya. Terlebih lagi di kamar itu sedang ada Dokter Choi yang juga sibuk memasang kembali jarum infus di tangan kanannya.
"Hyung, Changmin, bisakah kalian tidak memarahiku sekarang? Aku malu pada Dokter Choi.." Kyuhyun menatap singkat ke arah Dokter Choi yang kini tertawa karena mendengar perkataan Kyuhyun.
"Aigoo, bukankah kau memang nakal seperti itu Kyuhyun-ah? Apa kau lupa kalau aku telah menjadi dokter-mu sejak kau kecil?" Sahut Dokter Choi sambil tertawa.
Kyuhyun hanya bisa menggaruk kepalanya, sementara bibirnya terlihat semakin mengerucut.
"Hey, jangan bertingkah seperti anak kecil begitu, Kyu," sahut Changmin sambil berjalan ke arah ranjang Kyuhyun.
"Sudah, sudah.. sebaiknya biarkan Kyuhyun beristirahat. Dan Donghae, bisakah kau ikut bersamaku sebentar?"
"Tentu saja, Dokter Choi," jawab Donghae sambil beranjak dari tempat duduknya di samping ranjang Kyuhyun, "Kau harus segera tidur, awas saja kalau kau masih belum mau tidur. Kibum, Changmin, pastikan dia benar-benar tidur, oke?" Donghae menatap Kibum, Changmin, dan Kyuhyun secara bergantian, disusul dengan Kibum dan Changmin yang mengangguk dengan kompak.
Donghae akhirnya mengekor di belakang Dokter Choi yang kini berjalan keluar dari ruangan itu. Sejenak suasana tampak begitu hening. Semua tampak bertanya-tanya mengapa Dokter Choi tiba-tiba meminta Donghae ikut bersamanya. Apakah ada kabar buruk? Atau justru kabar baik? Entahlah, semua masih saja terdiam sampai Kyuhyun tiba-tiba bangun kemudian duduk di ranjangnya.
"Kau mau apa, Kyu?" Changmin yang tersadar dari lamunannya segera mendekat ke arah Kyuhyun.
"Aku... belum mengantuk," jawab Kyuhyun singkat.
"Kau lapar? Ingin makan lagi?" tanya Kibum yang kemudian menggerakkan kursi rodanya ke arah Kyuhyun.
"Tidak. Ah ya! Bagaimana kakimu, Hyung?" Kyuhyun langsung teringat dengan terapi pertama yang dilakukan Kibum pagi tadi.
"Syukurlah, aku sudah bisa berjalan sedikit-sedikit. Aku sedikit memaksanya tadi, ku pikir aku harus bisa berjalan dengan segera. Aku tak ingin merepotkan Donghae Hyung. Apalagi kau juga sakit, akan sangat merepotkan jika Donghae Hyung harus mengurus dua orang yang sama-sama tak bisa melakukan apa-apa."
"Ada aku Hyung, aku bersedia membantu Donghae Hyung untuk menjaga kalian. Lagipula aku tak punya pekerjaan apapun sepulang sekolah. Donghae Hyung pasti juga sangat sibuk dengan pekerjaannya."
"Maka dari itu Changmin, aku harus membantu Donghae Hyu-"
"Maafkan aku."
"Apa maksudmu? Mengapa kau berbicara seperti itu, Kyu?" Kibum tampak memandang Kyuhyun dengan serius.
"Sepertinya aku.. merepotkan kalian," Kyuhyun menatap Kibum dan Changmin dengan takut.
"Hey, aku Hyungmu, itu sudah tugasku untuk menjagamu Kyu. Apalagi kau sedang sakit seperti sekarang. Jangan merasa bersalah seperti itu, jangan memikirkan hal apapun, kau harus ingat kondisimu," Kibum berkata dengan serius sambil terus menatap Kyuhyun.
"Kibum Hyung benar, Kyu. Kenapa kau selalu saja seperti ini, huh? Tak ada yang menyalahkan keadaanmu. Apa kau lupa dengan kondisimu sendiri, huh? Itu sudah tugas Kibum untuk menjagamu, juga sudah tugasku sebagai teman untuk menjagamu jika kau jauh dari Kibum Hyung. Kami semua mengerti, Kyu."
"Tapi aku tidak suka Min, aku akan selalu merepotkan kalian seperti ini."
"Jujur saja aku tidak suka jika kau mulai berkata-kata seperti itu, Kyu. Kau pikir aku, Donghae Hyung, dan Changmin tidak tulus merawatmu, huh? Semua mengerti bagaimana kondisimu, dan tolong jangan menyalahkan dirimu sendiri seperti ini. Ya, kau memang merepotkan sekali. Kau tidak boleh terlalu lelah, kau harus beristirahat dengan teratur, kau juga tak boleh memikirkan sesuatu yang terlalu membuatmu tertekan. Aku lelah Kyu, Donghae Hyung dan Changmin juga pasti lelah menjagamu. Tapi lihat, ketika kau sedang sakit seperti ini, rasa lelah itu seperti menguap begitu saja. Kau tau betapa hatiku terasa begitu tak tenang ketika melihatmu seperti ini? Juga, apa kau tau Donghae Hyung diam-diam selalu menangis ketika kau sedang sakit? Selama ini Kyu, apa kau tau?" Mata Kibum berkaca-kaca. Ia selalu benci ketika Kyuhyun mulai menyalahkan dirinya sendiri seperti ini.
"Hyung, tenanglah," Changmin mendekat ke arah Kibum, mengelus pundak Kibum dengan gerakan yang terlihat canggung. Changmin seperti tersihir oleh perkataan Kibum. Ia tau Kibum memang benar-benar pandai berkata-kata, Kibum itu keras, dia tidak suka menyembunyikan sesuatu, berbeda sekali dengan Kyuhyun. Changmin hanya bisa memandangi Kyuhyun yang kini menatap Kibum dengan tatapan terkejut dan kecewa.
"Kau terkejut mendengar perkataanku, huh?"
"Kibum Hyu-"
"Diamlah Changmin! Aku ingin sekali-kali memberitahu anak ini," Kibum masih menatap Kyuhyun dengan tajam.
Changmin mendesah, Kibum benar. Ia seharusnya diam dan tak usah ikut campur, tapi Changmin tak bisa menahan rasa khawatirnya pada Kyuhyun. Sahabatnya itu terlihat ketakutan dan sedih, Changmin mengetahuinya dengan baik, tatapan mata Kyuhyun belum mampu menipunya.
"Kyuhyun harus beristirahat, Hyung. Kau boleh memarahinya lain kali," Sedikit berteriak, Changmin akhirnya memutuskan untuk menghentikan aksi Kibum. Tak sopan memang, tapi Changmin berpikir ini juga demi kebaikan Kyuhyun dan Kibum.
Seketika Kibum menoleh ke arah Changmin, lalu kembali menoleh ke arah Kyuhyun yang kini tengah meremas tangannya sendiri. Kibum mendesah setelah ia menyadari adiknya tengah ketakutan. Apakah ia begitu menakutkan sampai membuat Kyuhyun seperti itu? Kibum menutup matanya, kemudian membukanya kembali setelah beberapa saat, mencoba meredakan emosinya yang hampir saja meluap.
"Maafkan aku," Kata Kibum singkat sebelum ia meninggalkan ruangan itu.
Hanya tinggal Changmin dan Kyuhyun. Changmin tampak tenggelam dengan pikirannya, sedang Kyuhyun tampak menyandarkan tubuhnya pada ranjang. Kyuhyun terdiam sampai akhirnya ia menyadari Changmin juga diam sejak Kibum pergi.
"Ya! Kau tidak apa-apa? Kibum Hyung memang begitu, Chang," Changmin berjingkat mendengar Kyuhyun yang tiba-tiba berbicara.
"Hm? Ak-aku? Tentu saja tidak apa-apa. Kau?" Tanya Changmin sedikit canggung.
"Tidak apa-apa, aku tidak akan mati walaupun mendapat teriakan-teriakan dari Kibum Hyung. Ini sudah terbiasa...sejak dulu," Kyuhyun tersenyum sambil menepuk dadanya pelan.
Sejak dulu?
.
.
.
:To Be Continued:
.
.
Balasan Review Ch 3
kyuli 99 : yeay jugaa! Sudah dilanjut yaah.. :) Thanks for review!
readlight : Iyadeh kalau gitu boleh manggil eonnie! Iya, konfliknya masih banyak di bagian flashback aja, ntar kalau kebanyakan konflik pusing jadinya.. wkkkk Thanks for review! :)
widiantini9 : sudah dilanjut. Thanks for review!
cuttiekyu : Iyaa.. Thanks for review!
ericomizaki13 : sudah punya gambarannya kan? Iyaa bisa jadi seperti itu.. keke.. dan ngomong2 kamu namja ya? Kok nyebutnya Hyung? Anyway, Thanks for Review!
Desviana407 : Iyaa, mereka beda ayah. Kim Ji Won itu ayah kandung Kibum dan Donghae, lalu Dokter Choi itu ayah kandung Kyuhyun. Di sini Kyu sakit jantung.. *tear* Diusahakan tidak sad end yaa.. wkwk. Thanks for review!
MissBabyKyu : Maygaat kak, jeongmal mianhae.. updatnya telat lagi.. Makasih udah nge-PM saya lagi, duhh kayak ada yg merhatiin gitu. Chapter Ini udah aku buat panjang loh kak.. hehe. Doakan saya banyak waktu free ya kakaaakkk... :'D :'D Makasih banyak udah review.. :)
Awaelfkyu13 : Appanya Kyuhyun itu Dokter Choi, dia masih hidup kok, malah sebenarnya dari dulu dia dekat sekali dengan Kyu, tapi karena sesuatu, dia gak bisa mengungkapkan ke Kyu kalau sebenarnya dia adalah Ayah kandungnya Kyu. Semangat juga! Thanks for review! :)
pcyckh : Mian, mian.. salahkan kegiatan saya yg padat banget! Iyaa, Kyu sakit jantung *tear* Thanks for review! :)
Apriliaa765 : Syukurlaah... Thanks for review, ne! :)
jihyunelf : waduhh, makasih yaa.. ini gara2 kegiatan saya banyak banget mulai pagi sampek malam, padahal bukan org penting loh.. :'D jeongmal mianhae... Thanks for review! :)
Emon204 : Emang Kyu suka begitu, Kyu itu orangnya serius, susah nebak Kyu, dia lagi galau atau gak galau sama aja *wkwk* Thanks for review yaa!
Sofyanayunita1 : Semogaa yaaa... amin.. Sudah di update, Thanks for review! :D
Sparkyubum : kepo ya.. Ditunggu aja yaahh.. Thanks for Review! :D
Atik1125 : Mianhae, saya gak bisa janji lohh.. karena saya kelas udah kelas 3, tapi adaa aja keinginan buat nulis.. Chapter ini udh lumayan panjang belum? Hehe.. Thanks for review! :D
dewidossantosleite : Haii,, entah kenapa review kamu membuat saya mendapat sebuah ide.. wah.. wah Thanks yaa... Tunggu next Chpter and thanks for review! :D
shoffyxoxo : waahh.. makasih banyak.. Thanks for review! :D
diahretno : Ditunggu sajaa.. saya masih punya kejutan yg lain.. *senyumevil* Thanks for review! :D
hyunnie02 : Terimakasih sudah menunggu, dan semoga selalu setia menunggu.. *ciee* Thanks for review! :D
riritary9 : Jadi gini, dulu sebelum Jaerim kenal dg Jiwon, dia sudah lebih dulu berhubungan dekat dgn Choi Seung Hwan (Dokter Choi), tapi setelah ortunya Jaerim memaksa dia menikah dg Jiwon, akhirnya Jaerim nurut dan menikah dg Jiwon yang otomatis dia harus meninggalkan Dokter Choi. Lalu suatu saat secara tdk sengaja Jaerim ketemu sma Dokter Choi, karena perasaan cinta keduanya masih kuat, akhirnya... ada sedikit "kecelakaan" yang mengakibatkan Jaerim hamil (Kyuhyun). Jadi Ayah Kyuhyun itu Dokter Choi, bukan Jiwon. Sudah pahamkah? :'D Thanks for review! :D
Nisa : Iyaa, Siwon masih belum muncul, sabar yaa.. Thanks for Review! :D
Dangkuk : Masih bingung yg mana? Nanti saya bisa menjelaskan.. :'D Thanks for Review! :D
Angel Sparkyu : sudaah dilanjut, Thanks for Review! :D
Phn19 : Iyaa, Kyu beda ayah dg kibum dan donghae, Thanks for review! :D
Cho Kyunhae : Tebakan mu benar sekali! Selamat! Siwon muncul setelah ini yaa, ditunggu sajaa.. Thanks for Review! :D
Nanakyu : Semoga makin menarik yaa.. Thanks for review! :D
Wonhaesung Love : Waduuh.. sampek nyesek yaa? Thanks for review! :D
Dydy1402 : HaeBum belum tau kok, doakan bisa lebih cepet yaah.. Thanks for review! :D
jiahkim : Reader yg baik itu memang harus kepo.. Ditunggu saja yaa, saya masih punya kejutan yg lain.. keke.. Thanks for review! :D
Songkyurina : Hae, Kyu, sama Bum belum tau kalau mereka itu beda ayah. Dokter Choi itu ayah kandung Kyuhyun, sedangkan Kim Ji Won itu ayah Kandung HaeBum. Tapi saya selalu mendoakan Kyuhyun sehat kok..:'D Thanks for review!
Cho sabil : Sudah dilanjut.. Thanks for review! :D
Martincho27 : Iyaa, waktu itu Kyuhyun sepertinya sedang lelah.. :'D Sudah diupdate yaa.. Thanks for review! :D
Namielf : Gidaryeo juseyoo.. :'D Thanks for review! :D
Lily : Sudah dilanjut yaahh.. Thanks for review! :D
Guest : Sudah dilanjut, terimakasih sudah review yaa.. ! :D
Kyukyung19 : Ayah kandung Kyuhyun itu Dokter Choi. Sudah dilanjut yaa, Thanks for review! :D
Kyunoi : Haloo.. uljimaa.. :D doakan Kyu sehat selalu.. :'D HaeBum belum tau kalau Kyuhyun bukan adik satu ayah,, hehe. Thanks for review! :D
Tatta : Iyaa.. Thanks for Review! :D
Riena : Belum kepikiran bakal end dg berapa chapter. Ditunggu saja yahh.. Thanks for review! :D
Farzana Cho : Sudah update chingu.. Thanks for Review! :D
Mifta Cinya : Kibum tau kok kalau Kyu sakit. Yapss benar, Dokter Choi itu ayah kandungnya Kyu. Thanks for review! :D
Adakah yg belum saya sebut?
.
.
TOLONG DIBACA YA TEMAN-TEMAN!
Saya ingin sedikit bercerita nih, keke.. Ternyata sudah 2 bulan sejak terakhir saya update FF ini, dan selama itu juga saya menemukan sesuatu yg tiba-tiba sempat membuat saya "sangat" tidak ingin menulis FF lagi. Saya tdk akan memberitahu apa yg saya baca ketika itu, tapi yang jelas, saya tetap pada pendirian saya. Saya akan melanjutkan FF ini apapun alasannya. Saya dg senang hati menerima segala kritik dan masukan yg ada. Saya hanya ingin kita semua berpikir positif, ini hanya sebuah Fanfiction. Oke, FIKSI. Saya meminta maaf jika ada yg salah dari saya. Saya benar2 tidak punya maksud apapun, dan di sini saya hanya ingin menuliskan imajinasi saya saja. Oke, Terimakasih banyak sekali untuk teman-teman yg telah setia membaca dan mereview FF ini. :'D Terimakasih banyak sekali... Dan maaf untuk segala keterlambatannya. Mohon pengertiannya ya.. :')
.
-2:29-
.
Merry Christmas and Happy New Year, everyone!
Dan satu lagi, adakah di sini yang akan nonton konser KRY tgl 2 Januari nanti? :'D
.
.
.
