-You, and The Time-
Cast : Cho Kyuhyun as Kim Kyuhyun
Kim Kibum as Kim Kibum
Lee Donghae as Kim Donghae
Choi Siwon of Super Junior as Choi Siwon
Kim Ji Won [OC]
Choi Seung Hwan [OC]
Kim Jae Rim [OC]
Warning : sorry for typo(s).
Chapter sebelumnya :
"Ya! Kau tidak apa-apa? Kibum Hyung memang begitu, Chang," Changmin berjingkat mendengar Kyuhyun yang tiba-tiba berbicara.
"Hm? Ak-aku? Tentu saja tidak apa-apa. Kau?" Tanya Changmin sedikit canggung.
"Tidak apa-apa, aku tidak akan mati walaupun mendapat teriakan-teriakan dari Kibum Hyung. Ini sudah terbiasa...sejak dulu," Kyuhyun tersenyum sambil menepuk dadanya pelan.
Sejak dulu?
.
.
"Ia memang ingin dan bersedia melakukannya, namun Ia tak pernah bisa berjanji."
.
.
.
Chapter 5
Kyuhyun hanya bisa memandangi kedua Hyung-nya dalam diam. Donghae yang tengah sibuk dengan kertas-kertas juga sebuah laptop yang sedari tadi menyala, lalu Kibum yang sedang menatap layar ponselnya dengan serius. Kyuhyun? Dia hanya diam sambil bergelung dalam selimut tebalnya. Sungguh, dia tidak bisa bergerak sama sekali ketika Donghae bersamanya seperti ini, apalagi Hyung tertuanya itu tampak masih sibuk dengan pekerjaan kantornya, ia tak berniat melakukan apapun. lebih baik ia diam seperti ini dan tak merepotkan kedua Hyung-nya.
Sejak Changmin pulang, Kibum memang belum menyapanya sama sekali. Begitu juga Donghae, ia hanya bertanya singkat saja sejak kembali dari ruangan Dokter Choi tadi. Kyuhyun bosan! Tentu saja, apalagi sejak kejadian bersama Changmin pagi tadi, Donghae langsung menyita ponsel Kyuhyun tanpa berkata apapun- yang berarti Donghae Hyung-nya tak mau dibantah. Tak ada yang bisa dilakukan oleh Kyuhyun. Sesekali bersenandung kecil, lalu memainkan ujung selimutnya, bersenandung lagi, lalu memainkan plaster pada tangannya yang masih tertusuk jarum infus, dan-
"Akh..! Shh..."
"Kyuhyun!"
"Kenapa? Mana yang sakit?"
Donghae dan Kibum terburu-buru mendekat ke ranjang Kyuhyun ketika mendengar anak itu berteriak. Sedangkan Kyuhyun tampak meringis kesakitan sambil mengusap tangannya.
"Tidak, tidak apa-apa Hyung, aku lupa dan tiba-tiba menyentuh tanganku," Jawab Kyuhyun sambil meringis memandangi tangannya yang tertusuk jarum infus.
"Ya Tuhan.." Kibum menghela napas, sesekali menepuk-nepuk dadanya.
"Coba ku lihat? Kau tidak apa-apa, kan?" Donghae meraih tangan Kyuhyun, memastikan adiknya itu tetap baik-baik saja.
"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja," Jawab Kyuhyun singkat.
Donghae semakin mendekat, memandangi wajah Kyuhyun yang terlihat begitu lelah. Tangan Donghae bergerak mengelus rambut Kyuhyun.
"Ku kira besok kau sudah bisa pulang, Kyu."
Kening Kyuhyun berkerut, tak mengerti dengan perkataan Donghae.
"Dokter Choi berkata bahwa keadaanmu sudah cukup baik, dan kau sudah diperbolehkan pulang besok. Tapi ketika melihatmu seperti ini, ku pikir kau masih harus mendapat perawatan, Kyu."
"Aku hanya bosan, Hyung. Sejak tadi aku bingung harus berbuat apa. Kalian berdua juga sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing," Kyuhyun merengut kesal sambil memandangi wajah Donghae dan Kibum.
"Maafkan aku karena telah memarahimu tadi, " Kibum berucap dingin.
"Maafkan aku juga, Hyung. Seharusnya aku tidak berkata seperti itu sehingga membuatmu khawatir. Lain kali aku tidak akan seperti itu lagi."
Kening Donghae seketika berkerut, apa yang sudah terjadi pada kedua adiknya? Mengapa Kyuhyun atau Kibum tidak bercerita sama sekali?
"Apa yang terjadi?" Donghae menatap kedua adiknya.
"Seperti biasa Hyung, Kyuhyun selalu berkata bahwa dia hanya bisa merepotkan. Dan tentu saja, aku memarahinya," Kibum berucap kesal.
"Kyu, kau sudah berjanji padaku untuk tidak mempermasalahkan hal itu lagi," Donghae menanggapi.
"Tapi aku belum berjanji pada Kibum Hyung," Kyuhyun tersenyum licik.
"Aishh, pantas saja Kibum marah. Dengarkan, Hyung tidak mau mendengar kata-kata itu lagi, hm?"
"Aku berjanji, Hyung," Kyuhyun menganggukkan kepalanya.
"Baiklah. Lalu sekarang kau ingin apa?" Tanya Donghae.
"Aku... sepertinya aku lapar," Kyuhyun tertawa lebar setelahnya.
.
.
.
.
Flashback
"Wah! Kyuhyunie tampan sekali!" Kibum bersorak ketika ia memasuki kamar milik Kyuhyun. Di sana telah ada Jaerim yang tengah sibuk merapikan baju Kyuhyun.
"Tentu saja, Kibum-ah. Ini kan hari spesial untuknya," Jaerim memandang Kyuhyun dengan gemas.
"Tapi mengapa Appa belum datang? Apakah Appa tidak bisa ikut merayakan ulang tahun Kyuhyunie?" Kibum merengut.
"Appa akan datang, Kibummie. Tunggu saja beberapa saat lagi. Ayo kita keluar, semuanya sudah menunggu," Ajak Jaerim pada Kyuhyun dan Kibum.
Akhirnya mereka keluar. Keluarga besar Kim telah berkumpul di sana, hanya tinggal menunggu Jiwon yang memang masih di kantor. Jaerim terdiam ketika melihat suasana itu, andaikan keluarga Kim tau jika Kyuhyun sebenarnya bukanlah anak Kim Jiwon, entah apa yang terjadi setelahnya.
Jaerim kemudian ikut bergabung bersama keluarga yang lain, ia duduk di samping Kyuhyun dan Kibum yang tampak bermain sesuatu. Jaerim terus termenung sampai suasana tiba-tiba berubah menjadi hening ketika tampak seseorang memasuki rumah megah itu.
"Appa!" Pekik Kibum ketika ia melihat sang Ayah akhirnya muncul dari balik pintu.
Jiwon menyahut Kibum dengan senyuman.
"Karena ini ulang tahun Kyuhyun, maka aku datang bersama seseorang. Alasanku mengundangnya karena ku pikir dia sangat membantu keluargaku, terutama Kyuhyun. Ia juga menjaga dan merawat Kyuhyun dengan sangat baik. Perkenalkan, Dokter Choi Seung Hwan, yang seterusnya akan menjadi Dokter pribadi Kyuhyun. Silakan masuk, Dokter Choi," Jiwon mempersilakan Dokter Choi masuk ke dalam ruangan itu.
Dan seketika itu juga, dunia Jaerim terasa terhenti.
Jaerim melihat semuanya, bagaimana laki-laki bernama Choi itu masuk dengan sopan sambil membawa sebuah kue ulang tahun lengkap dengan lilin-lilin yang menyala. Bagaimana seluruh anggota keluarga Kim dengan ramah menyambut kehadiran Dokter berparas tampan itu. Juga Kyuhyun yang tampak senang melihat kehadiranDokter Choi—yang tak lain adalah ayah kandungnya.
Dua orang laki-laki itu akhirnya berjalan ke arah Kyuhyun yang tengah duduk di depan meja berukuran besar diiringi lagu Selamat Ulang Tahun. Senyuman tak lepas dari wajah pucat Kyuhyun, raut bahagia begitu kentara di sana.
"Terimakasih Dokter Choi," Kyuhyun tiba-tiba bersuara.
"Tentu saja, Kyu," Dokter Choi tersenyum.
"Appa, bolehkah Dokter Choi datang ke acara ulang tahunku lagi?" Kyuhyun dengan polosnya bertanya kepada sang Ayah.
"Iya, Dokter Choi pasti akan datang, Kyu," Jiwon mengelus rambut Kyuhyun.
"Dokter Choi, juga harus berjanji padaku," Kyuhyun menunjukkan jari kelingkingnya.
"Dokter berjanji, dan kau juga harus berjanji agar selalu sehat, hm? Jangan membuat Appa dan Eomma sedih, oke?"
Kyuhyun mengangguk, lalu tubuh kecilnya langsung menerjang tubuh Dokter Choi. Juga jangan lupakan kecupan kecil nan tulus dari bibir mungil Kyuhyun.
Perasaan itu tiba-tiba saja meluap, Jaerim diam-diam berlari ke belakang sambil menahan isakan yang telah memaksa ingin keluar sejak tadi. Juga Dokter Choi, yang untuk pertama kalinya dipeluk oleh Kyuhyun—anak kandungnya.
'Maafkan Appa, Kyu. Maafkan Appa.'
End of Flashback.
.
.
.
.
"Kibum, jelaskan padaku, apa yang telah kau katakan pada Kyuhyun?" Nada bicara Donghae terdengar serius.
"Aku tidak mengatakan apa-apa, Hyung. Aku khawatir pada Kyuhyun, tapi dia selalu menyalahkan dirinya sendiri seperti itu. Aku tidak suka. Bukankah kau juga tidak suka jika Kyuhyun mulai seperti itu?" Kening Kibum berkerut.
"Kau yakin kau hanya berbicara seperti itu pada Kyuhyun?" Donghae menyelidik.
"Hyung, apa maksudmu? Aku sama sekali tak mengerti."
"Kibum, ku pikir 10 tahun bukanlah waktu yang singkat bagimu untuk menorehkan segala luka itu. Kau pikir lukanya sudah sembuh? Kau pikir Kyuhyun sudah baik-baik saja? Sama sekali belum, Kim Kibum. Kau tak usah menambah beban adikmu lagi. Sekarang tak ada yang bisa menjaga Kyuhyun selain aku dan kau, jadi tolong jangan membuat suasana semakin rumit."
"Kau yang seharusnya jangan membuat semuanya semakin rumit, Hyung. Mengapa kau mengungkit masalah itu lagi? Kau pikir hanya Kyuhyun yang terluka? Aku juga Hyung, bahkan ini lebih sakit. Tapi aku telah mencoba berubah semenjak Appa dan Eomma meninggal, hatiku benar-benar luluh ketika mendengar permintaan terakhir Eomma saat itu. Aku benar-benar memulainya kembali dengan tulus. Tolong jangan mengusik kenangan itu lagi, Hyung."
"Aku percaya padamu. Aku tau kau bisa menjadi Kakak yang baik untuk Kyuhyun. Dan ku mohon padamu, jangan pernah membuatku ragu lagi, Kim Kibum."
"Kau boleh memegang janjiku, Hyung."
Suasana mendadak menjadi sangat hening. Kyuhyun sudah tertidur sejak tadi, namun Donghae dan Kibum belum juga memejamkan mata mereka. Emosi Donghae menjadi terbakar setelah ia mendengar perkataan Kyuhyun dan Kibum. Donghae kecewa, benar-benar kecewa pada Kibum. Adiknya yang berparas dingin itu lagi-lagi membuat hatinya memanas.
Tidak, Donghae tidak mau lagi. Ia tidak mau setiap hari harus mendengar teriakan-teriakan Kibum lagi. Dan satu lagi, ia tidak mau setiap malam selalu mendapati adik terkecilnya kesakitan lagi.
Rasanya selama 10 tahun Donghae tak pernah bisa tidur dengan nyenyak, Donghae yakin Appa dan Eommanya pun merasakan hal yang sama. Donghae baru tau kemudian, betapa diam-diam seorang 'monster' sedang bersembunyi dalam tubuh adiknya sendiri—Kim Kibum.
Kibum tak pernah melukai Kyuhyun. Sedikitpun, tidak. Rupanya 'monster' yang ada di dalam tubuhnya itu sama sekali tak suka dengan darah dan kekerasan. Ia lebih suka dengan teriakan, juga tatapan mata yang tajam dan penuh kebencian.
Seperti itulah Kibum di masa lalu, sialnya tak seorangpun tau apa alasan Kibum melakukan itu semua kepada adiknya sendiri. Cemburukah? Tidak suka? Benci? Tak ada yang tau, kecuali Kibum dan 'monster' yang kini rupanya tengah kembali mengusik hati seorang, Kim Kibum.
.
.
.
.
Flashback.
"Kibum, biarkan adikmu dulu yang memakan makanannya. Kau nanti saja bersama Eomma," Jaerim buru-buru mencegah Kibum yang sudah akan memakan makanan di meja makan. Kibum yang kebetulan sudah merasa sangat lapar itu akhirnya mengalah, ia memilih berdiam sambil memandangi masakan buatan sang Eomma dengan tatapan sedih.
"Tolong panggil Kyuhyunie, dia harus cepat makan dan beristirahat," Kibum yang hanya diam itu akhirnya memilih beranjak tanpa kata-kata. Kaki kecilnya berjalan menyusuri tangga yang membawanya menuju kamar sang adik. Kibum hanya menggembungkan pipinya lucu untuk melampiaskan kekesalannya. Kesal? Tentu saja ia kesal.
Kibum mengetuk pelan sebuah pintu kayu sebelum ia masuk ke dalamnya, dengan hati-hati. Kibum membuka pintu itu sedikit demi sedikit agar tak membuat sang adik terkejut atau terganggu.
"Kyuhyunie," Kibum memanggil dengan nada lucu. Senyumnya berkembang ketika ia melihat sang adik tengah menulis sesuatu di meja belajarnya. Bahkan Kyuhyun sampai tak menyadari kehadiran Kibum yang sekarang sudah berdiri tepat di belakangnya.
"Kyu, Eomma menyuruhmu untuk makan malam. Kau bisa belajar lagi setelah makan nanti, hm?" Kibum dengan lembut mengusap pundak kecil Kyuhyun. Merasa ada yang menyentuhnya, Kyuhyun akhirnya sedikit berjingkat sambil tergopoh-gopoh merapikan segala buku dan pensil di meja belajarnya.
"Kau sedang apa, Kyu? Mengapa terlihat takut seperti itu? Apakah aku membuatmu terkejut?" Kibum bertanya dengan lembut.
"Tidak, Hyung. Aku.. aku hanya... aku hanya ingin segera turun dan... eh-"
"Baiklah, baiklah. Apa kau sudah sangat lapar? Eomma sudah membuatkan makanan kesukaanmu. Ayo!" Kibum menggandeng tangan Kyuhyun lalu dengan segera membawa adiknya itu turun. Tapi Kibum merasa ada yang berbeda dengan Kyuhyun kali ini. Kenapa Kyuhyun tampak gugup ketika menjawab pertanyaan Kibum tadi? Mungkinkah Kyuhyun sedang menulis sesuatu yang memang sengaja ia rahasiakan?
'Ah, apa yang kau pikirkan, Bum!' Kibum menggelengkan kepalanya samar. Mencoba menepis segala rasa penasaran yang tiba-tiba menggelutinya.
"Kibum Hyung!"
Sontak Kibum langsung tersadar dari lamunannya ketika ia mendengar namanya dipanggil seseorang.
"Ah.. Ada apa, Kyu?" Kibum dengan sedikit panik mendekati Kyuhyun yang kini sudah duduk manis di kursi ruang makan.
"Hyung, ini makanan kesukaanmu, makanlah bersamaku saja. Sayang sekali kalau kau tak mencoba makanan ini, Hyung. Apalagi Eomma pasti membuatnya dengan enak," ucap Kyuhyun lucu.
"Tidak usah, Kyu. Untukmu saja, aku bisa makan bersama Appa nanti." Kibum tersenyum.
"Hyung! Sudahlah, cepat duduk dan makan bersama!" Dengan wajah merengut Kyuhyun menarik paksa tangan Kibum dan mendudukkan kakaknya itu di kursi yang berada disampingnya.
"Buka mulutmu, Hyung. Aaaa..."
Suapan pertama Kyuhyun untuk Kibum. Manis sekali.
End of Flashback.
.
.
.
.
"Kibum Hyung, ayo."
"Ingin kemana, Kyu?" Tanya Donghae.
"Aku akan mengajak Kibum Hyung berlatih di taman belakang Rumah Sakit." Jari telunjuk Kyuhyun menunjuk ke arah belakang.
"Apa kau yang memintanya pada adikmu, Bum?" Tanya Donghae pada Kibum.
"Tidak, Hyung. Justru aku yang memaksa Kibum Hyung berlatih di sana. Kibum Hyung pasti akan malu jika harus berlatih di tempat khusus yang disediakan Rumah Sakit, dia kan peduli sekali dengan image-nya yang terkenal dingin dan tegas itu." Kyuhyun mendengus.
Donghae mengangguk beberapa kali, "Baiklah. Ya, kau memang sangat peduli pada Kibum, Kyu."
"Tentu saja. Ya sudah, kami pergi dulu, Hyung. Ah! Bukankah kau harus pergi ke kantor hari ini?" Kyuhyun menghentikan langkahnya.
"Ya, aku akan pergi setelah membersihkan kamar ini." Donghae memandang kamar rawat yang sedikit berantakan itu.
"Atau perlu ku bantu dulu, Hyung?" Tawar Kibum.
"Tidak, ah sudahlah, aku sudah terbiasa membersihkan kamarmu juga Kyuhyun, ini hanya hal kecil. Kalian cepat pergi, sebelum orang-orang mulai berdatangan ke sana." Donghae mendorong pelan punggung Kyuhyun.
"Kami pergi dulu, Hyung."
"Ya. Hati-hati, kalian masih sakit jadi jangan memaksa tubuh kalian, hm?"
Kibum dan Kyuhyun mengangguk seraya berjalan keluar diikuti Donghae yang hanya mengantarnya sampai di depan pintu kamar. Perasaan Donghae tiba-tiba saja menghangat, ia bersyukur tak ada sesuatu yang serius diantara Kibum dan Kyuhyun.
Donghae kembali memasuki kamar rawat itu, kemudian segera melakukan kegiatan bersih-bersih yang ia bicarakan tadi. Donghae tak berbohong, ini sudah menjadi kegiatan rutin—atau mungkin sudah menjadi kebiasaan Donghae—merapikan kamar kedua adiknya. Bagaimanapun juga Donghae sadar, kini sudah tak ada lagi Appa dan Eomma yang akan selalu mengingatkan mereka bertiga untuk membersihkan kamar mereka sendiri, jadi mereka harus berusaha hidup dengan baik meski tanpa omelan Appa dan Eomma setiap harinya.
Kegiatan Donghae tiba-tiba saja berhenti ketika ia secara tak sengaja memandang ke arah jendela, maniknya menangkap sesuatu. Dua orang yang sangat dicintainya setelah Appa dan Eomma-nya itu ternyata ada di sana, senyum Donghae melebar ketika ia juga melihat senyum yang begitu tulus dari wajah kedua adiknya. Sekali lagi, hati Donghae terasa begitu tenang.
"Kibum, cepatlah sembuh dan bantu aku menjaga Kyuhyun. Dan Kyuhyun, tetaplah sehat seperti ini, aku tak ingin melihatmu sakit lagi," kata Donghae sambil menampakkan seulas senyumnya. Lalu Donghae berbalik dan kembali melanjutkan kegiatannya yang hampir saja selesai.
Namun Donghae sama sekali tak menyadari bahwa setelahnya orang-orang mulai berlarian menuju tempat ia melihat kedua adiknya tadi. Sepertinya salah satu do'a yang baru saja diucapkan Donghae tidak terkabul.
.
.
.
.
Flashback.
Kibum akhirnya juga turut memakan jatah makan malam Kyuhyun karena adiknya itu sedang tidak berselera makan. Hingga akhirnya setelah makan malam, Kibum menemani Kyuhyun untuk belajar. Semua berlangsung seperti biasanya, Kyuhyun yang kadang tak mendengarkan ketika Kibum sedang menjelaskan dengan serius, atau Kyuhyun yang tiba-tiba saja tertidur di atas buku pelajarannya, atau sebaliknya.
Tapi tampaknya ada yang berbeda kali ini. Kibum juga tak menyangka akan terjadi kejadian seperti ini. Di saat Kyuhyun tertidur ketika tengah belajar, Kibum tiba-tiba menemukan surat yang disembunyikan Kyuhyun ketika ia mengajaknya pergi makan malam tadi. Tanpa rasa curiga, Kibum membaca surat itu. Kibum pikir semuanya akan baik-baik saja, Kibum pikir itu hanyalah surat dengan kata-kata lucu yang ditulis oleh seorang bocah berusia 7 tahun. Namun Kibum salah, sama sekali salah. Surat itu benar-benar membuatnya menangis, menangis hingga ia merasa air matanya seperti akan segera kering.
Bahkan Kibum seperti tidak percaya bahwa yang ia baca di sana adalah tulisan tangan milik adiknya yang terlihat tak begitu rapi. Tidak perlu banyak kata untuk membuat Kibum menangis setelah ia membaca surat itu.
"Hyung, cepatlah tumbuh besar dan dewasa, lalu sembuhkan aku." –untuk Kibum Hyung
Kibum tau betul apa arti sebaris kalimat sederhana itu. Ya sederhana, ia hanya harus tumbuh menjadi seseorang yang bisa menyembuhkan Kyuhyun. Tapi Kibum-pun tau, tak sesederhana itu hidup beralur, Kibum tau hidup bukanlah cerita yang bisa ia buat sesuai keinginannya. Satu sisi hati Kibum berkata bahwa ia bersedia menjadi penyelamat Kyuhyun. Namun di sisi yang lain, Kibum tidak bisa berjanji.
Bagaimanapun juga Kibum harus berusaha, entah apa nanti yang terjadi pada akhirnya, setidaknya ia telah mencoba menjadi seorang kakak yang baik untuk adiknya. Entah bagaimana nanti waktu bercerita untuk hidup Kibum, atau entah bagaimana waktu bisa mengubah hati Kibum, ia sama sekali tak tau.
End of Flashback.
.
.
.
.
Dengan langkah tergesa Donghae menuju ruang rawat yang baru saja ditinggalkannya beberapa jam yang lalu, tak Ia pedulikan lagi pertemuan penting yang tengah Ia pimpin di perusahaan. Donghae meninggalkan orang-orang yang tengah kebingungan di sana tanpa sepatah kata pun. Ia baru menyadari bahwa ponsel miliknya yang bergetar sejak Ia mulai memimpin pertemuan tadi merupakan panggilan dari Dokter Choi dan Kibum. Donghae sama sekali tak bisa berpikir jernih, ia tak mengingat apapun lagi selain Kyuhyun. Ia mencoba menepis perasaan buruknya, namun itu sama sekali tak dapat ia lakukan.
Dengan kasar Ia membuka pintu ruang rawat itu, dan benar saja, tiga pasang mata tampak terbelalak lebar karena terkejut. Donghae sama sekali peduli pada satu orang yang mungkin tampak agak asing di matanya, Ia hanya langsung memeluk Kyuhyun erat-erat.
"Apa yang terjadi? Kau tak apa-apa, huh?" Donghae melirik sekilas wajah Kyuhyun, kemudian kembali memeluknya sangat erat hingga membuat adiknya itu terlihat tak nyaman.
"Hyung.." lirih Kyuhyun, berusaha memberitahu Donghae untuk melepaskan pelukannya yang begitu erat.
"Donghae, kondisi adikmu belum stabil," ucap Dokter Choi tegas sambil meraih tangan Donghae yang masih memeluk erat tubuh Kyuhyun.
Donghae mendongak, Ia tampak sedikit terkejut. Sedetik kemudian Ia baru menyadari sesuatu, ternyata ada seseorang yang sudah lama tak ia lihat. Mata Donghae menyipit, memastikan bahwa orang yang berdiri di depannya saat ini benar-benar, Choi Siwon.
"Choi Siwon?" Donghae sedikit tersenyum sambil memandangi Dokter Choi dan Siwon secara bergantian.
"Donghae, kau semakin terlihat dewasa saja." Tawa kecil Siwon terlepas. Siwon mengulurkan tangannya kepada Donghae dan tentu saja Donghae langsung menjabat tangan itu sampil menepuknya perlahan.
"Dokter Choi Siwon? Wah, tepat sekali!" Donghae menggoda Siwon.
Siwon membalas pertanyaan Donghae dengan senyum kecil.
"Donghae-ya, sepertinya kau belum menyadari sesuatu. Aku juga memiliki kabar baik untukmu," ucap Siwon.
"Maksudmu?" Kening Donghae berkerut.
Siwon hanya menepuk pundak Kibum pelan.
Donghae terdiam untuk sesaat, lalu tak lama kemudian ia baru menyadari sesuatu.
"K-Kibum? Kau... dimana kursi rodamu? Kau... bisa berjalan?" kata Donghae tergagap.
Mendengar itu, Kibum yang sedari tadi menunduk langsung mengangkat kepalanya dan tersenyum pada Donghae dengan sedikit canggung.
"Ya Hyung. Aku sudah tidak apa-apa. Aku bisa membantumu menjaga Kyuhyun lagi," ucap Kibum sambil terkekeh kecil.
"B-Bagaimana bisa? Dokter Choi? Siwon? Apa yang terjadi pada Kibum?" Donghae yang tampaknya tak bisa menahan rasa penasarannya itu memandang Kibum, Siwon, dan Dokter Choi secara bergantian.
"Kibum, kau bersedia menjelaskannya pada Donghae, bukan?" Dokter Choi menoleh ke arah Kibum dengan pandangan meyakinkan.
"T-tentu saja Dokter Choi." Kibum kembali menoleh ke arah Donghae.
"Apa yang terjadi, Bum?"
"Eh... itu tadi.. Ketika aku sedang berada di taman bersama Kyuhyun, tiba-tiba saja Kyuhyun terjatuh dan tidak sadarkan diri. Aku juga tidak tau apa yang telah terjadi setelahnya, aku hanya mengingat ketika orang-orang mulai berlarian ke arahku dan Kyuhyun, mereka semua bertanya apakah aku tidak apa-apa. Tapi aku tak mengingat apapun setelahnya, Hyung. Aku hanya mengingat aku sedang berlari sambil menggendong Kyuhyun menuju Ruang Gawat Darurat. Aku... juga tidak tau." Kibum kembali menunduk.
"Oh. Terimakasih Tuhan." Donghae memejamkan matanya yang terasa panas, menghela napas lega ketika Ia mendengar cerita Kibum.
"Ya, kau benar Donghae. Tuhan memang telah mempersiapkan kejutan ini untuk Kibum. Keadaan Kibum juga sudah semakin baik."
Air mata Donghae akhirnya jatuh juga. Ia meraih tangan Kyuhyun kemudian mendekat ke wajah adiknya yang terlihat damai dalam tidurnya. Donghae mengusap rambut Kyuhyun perlahan sambil terus memandangi wajah Kyuhyun. Baru kali ini Donghae merasa hatinya benar-benar terbagi. Di satu sisi ia merasa senang melihat Kibum telah pulih, tapi sisi hatinya yang lain terasa hancur melihat sang adik kembali terbaring di sini. Donghae menunduk, membiarkan air matanya semakin berjatuhan mengenai tangan Kyuhyun yang masih ia genggam dengan erat. Donghae adalah orang yang mudah terbiasa dengan segala hal, tapi untuk yang satu ini, Donghae benar-benar tidak bisa. Di saat seperti ini Donghae benar-benar tak mampu berpikir dengan jernih, penyesalan seperti selalu menghajarnya dan membuat ia merasa gagal menjadi seorang Hyung yang baik untuk kedua adiknya.
"Bertahanlah, Kyu. Kau harus cepat sembuh."
Donghae mengulangnya lagi. Mengulang perkataan yang sama pada Kyuhyun ketika hal seperti ini terjadi. Kyuhyun dapat mendengarnya dengan jelas, bagaimana Donghae selalu menyebut kata-kata itu tepat di dekat telinganya. Kyuhyun meng-iya-kan permintaan Donghae dalam hati. Tentu saja. Tentu saja Kyuhyun akan selalu bertahan, namun entah sampai kapan, Kyuhyun pun juga memikirkan pertanyaan yang sama.
"Aku harus pergi sekarang, Donghae-ya. Siwon akan tetap di sini untuk memantau kondisi Kyuhyun. Aku permisi."
Donghae sedikit terkejut mendengar perkataan Dokter Choi, ia memandang Dokter Choi yang kini sudah berjalan menuju pintu dengan langkah tergesa. Donghae memakluminya, mungkin ada seorang pasien yang harus segera ditangani oleh Dokter Choi. Tapi nayatanya tidak, Dokter Choi pergi secepat kilat untuk menyembunyikan air matanya yang hampir saja menetes. Dan tidak ada yang tau, jika Dokter Choi terisak hebat begitu ia keluar dari ruang rawat Kyuhyun, kecuali Siwon.
.
.
.
.
"Appa!"
Siwon membuka ruang kerja Dokter Choi dengan satu sentakan. Namun sedetik kemudian gerakannya berhenti, Siwon kemudian diam sambil memandangi sang Ayah yang tampaknya masih menangis tersedu. Mata bening Siwon meredup, Ia tau benar bagaimana perasaan Ayahnya kali ini, terlebih ketika Dokter Choi melihat Donghae yang juga menangis sambil memegang erat tangan Kyuhyun.
"Siwon, Ayah macam apa aku ini?" ucap Dokter Choi di tengah isakannya
"Appa, apa kau kau katakan? Aku tidak suka jika kau seperti ini." Siwon kemudian memposisikan dirinya duduk di depan meja kerja Dokter Choi hingga kini ia benar-benar berhadapan dengan sang Ayah. Tangan Siwon bergerak menggenggam tangan Dokter Choi yang tampak sedikit bergetar karena emosi.
"Appa, tenangkanlah dirimu. Aku yakin suatu saat nanti kebenaran akan terungkap. Kyuhyun, Kibum, juga Donghae pasti akan menerimanya, aku yakin akan hal itu, Appa. Jangan seperti ini, tetaplah fokus pada kondisi Kyuhyun karena Appa lah dokter pribadi Kyuhyun, bukan aku. Aku hanya harus membantu Appa." Siwon berucap tenang.
"Aku tak sanggup, Siwon-ah. Seperti ada ketakutan besar yang selalu menghantuiku ketika aku melihat Kyuhyun dengan kondisi seperti itu. Bagaimana jika anakku sendiri mati di depan mataku? Bagaimana jika aku gagal menyembuhkan Kyuhyun? Bagaimana Siwon-ah? Aku benar-benar takut."
"Appa! Apa kau selalu seperti ini selama aku tidak ada, huh? Kau bahkan sudah berjanji ketika aku akan berangkat ke Jepang beberapa tahun yang lalu. Appa, ku pikir kau menepatinya, namun ternyata tidak." Nada suara Siwon berubah tegas, Ia melepaskan genggamannya dari tangan sang Ayah.
"Kau pikir itu mudah, huh? Kau pikir Appa menyerah begitu saja dengan janji yang sudah Appa buat? Tidak Siwon, kau salah. Apa kau pikir mudah bagi Appa melihat raut kesakitan Kyuhyun ketika Appa bahkan menenangkannya saja tidak bisa? Dokter, bagi mereka Appa hanyalah Dokter pribadi Kyuhyun, tidak lebih dari itu. Lalu apa kau tau seberapa besar rasa gugup dan takut yang Appa rasakan ketika Appa tengah menangani Kyuhyun yang sedang kesatikan? Kau tak pernah tau, Siwon."
Siwon menghela napas berat. Ayahnya benar, ia memang tak pernah tau bagaimana rasanya seorang Ayah yang bahkan tak bisa memeluk dan menenangkan putranya sendiri. Tapi Siwon berpikir Ayahnya tak boleh menyerah begitu saja. Siwon yakin suatu saat kebenaran pasti akan terungkap. Pasti ada saatnya, Siwon percaya itu.
"Bersabarlah, Appa. Aku berjanji. Hanya tunggulah sebentar lagi. Jangan terburu-buru menyerah pada keadaan seperti ini."
"Tidak, Siwon. Tidak ada yang bisa dilakukan lagi. Kondisi Kyuhyun tak memungkinkannya untuk mendengar kebenaran ini. Kita tak bisa memaksanya, Siwon-ah. Sudahlah, Appa akan mencarikan Dokter pengganti untuk Kyuhyun."
"Kyuhyun pasti bisa, Appa. Kita bisa melakukannya dengan perlahan-lahan. Kyuhyun adalah anak yang kuat, dia pasti bisa menerima semuanya dengan baik. Kyuhyun pasti bisa, Appa. Appa, percayalah, sekecil apapun itu, Kyuhyun pasti pernah merasa nyaman bersamamu."
"Jangan memaksa, Siwon. Jangan coba-coba memberitahu Kyuhyun bahwa aku ini ayah kandungnya. Appa telah bersusah payah menyelamatkan dan menjaga hidup Kyuhyun sampai saat ini, jangan buat semuanya kacau, Siwon. Biarkan Kyuhyun hidup dengan tenang bersama kedua Hyungnya, kita tak perlu mengusik mereka."
"Appa, apa maksud Appa berkata seperti itu? Appa tidak percaya pada Kyuhyun, huh? Dia adikku Appa, Kyuhyun adalah adikku! Dan aku percaya, bahkan sangat percaya dengan adik ku!" Siwon akhirnya berteriak. Tak lama kemudian Ia bangkit dan berjalan keluar dari ruang kerja Dokter Choi tanpa berkata apapun.
.
.
.
.
Flashback.
"Appa, sebenarnya kita akan kemana? Kenapa terburu-buru sekali?" Bocah kecil itu terus menanyakan pertanyaan yang sama sejak tadi. Sang Ayah tengah mengajaknya pergi ke suatu tempat.
"Kita akan pergi ke rumah Kyuhyun, Siwon-ah," jawab sang Ayah singkat.
"Kyuhyun? Mengapa Appa sering sekali pergi ke rumah Kyuhyun? Apa dia sakit lagi?" Siwon mengerutkan keningnya.
"Tidak, Siwon. Appa hanya ingin mengecek kondisinya saja, dia sudah membaik."
"Kalau begitu mengapa harus ke sana lagi? Bukankah Kyuhyun sudah sembuh?"
"Kyuhyun adalah orang yang spesial di mata Appa. Sebenarnya kau juga harus menganggap Kyuhyun seperti itu."
"Apa alasannya? Dia bukan saudaraku, Appa."
"Sssttt... Ah, Appa lupa memberitahumu sesuatu, Siwon-ah. Kyuhyun itu.. sebenarnya adalah adikmu."
"Aish, Appa! Ini masih pagi, jadi tidak perlu berdongeng seperti itu."
"Appa tidak berbohong, Siwon-ah. Kyuhyun memang adikmu."
Mata Siwon terbelalak, ia menatap mata sang Ayah dan ia menemukan ketulusan di sana. Appa-nya benar-benar tidak sedang mendongeng.
"Tapi, kau jangan berkata pada siapa-siapa, hm?"
"Kenapa seperti itu, Appa?"
"Ini masih rahasia kita, Siwon-ah. Ketika Kyuhyun sudah dewasa nanti, Appa pasti akan memberitahunya juga."
"Baiklah, Appa. Kita akan memberi tahu Kyuhyun suatu saat nanti."
Siwon tersenyum.
End of Flashback.
.
.
.
.
"Bagaimana kehidupanmu di sana, Siwon-ah? Sepertinya kau nyaman sekali."
Donghae menyeduh kopi hangatnya. Disampingnya telah ada Siwon yang siap berbagi cerita dengannya. Keadaan Kyuhyun sudah cukup stabil hingga Ia akhirnya memutuskan mengajak Siwon pergi ke sebuah kedai kopi dekat Rumah Sakit.
"Nyaman sekali. Jepang sungguh menyenangkan. Aku belajar banyak hal di sana. Aku berubah seperti ini juga karena aku bertemu orang-orang yang luar biasa di sana. Mereka mengajariku banyak sekali hal yang bahkan tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Berada jauh dari Appa justru semakin membuatku merasa lebih dewasa, Donghae-ya."
"Ya, kau benar-benar telah berubah, Siwon-ah. Aku bahkan tak menemukan sedikitpun 'Siwon' yang dulu. Syukurlah, Dokter Choi benar-benar mengambil keputusan yang tepat." Donghae tersenyum bangga.
"Aku sangat percaya dengan keputusan Appa. Meskipun aku dulu sempat menolak permintaan Appa untuk melanjutkan studiku di Jepang, namun pada akhirnya aku kalah juga. Appa memang paling hebat ketika harus membujuk. Lalu, bagaimana dengan dirimu sendiri, Donghae-ya? Ku lihat kau juga lebih baik, bahkan Kibum juga sudah berubah."
"Ya, syukurlah semuanya baik-baik saja. Saat-saat sulit itu pada akhirnya bisa terlewati juga, Siwon-ah. Meski aku harus jatuh-bangun mengurus Kyuhyun yang kondisinya sangat mengkhawatirkan setelah Appa dan Eomma pergi. Dan juga Kibum, entah bagaimana caranya aku bersyukur ketika tiba-tiba Kibum berubah total seperti itu. Waktu Tuhan memang yang paling tepat, Siwon-ah."
"Tidak ada yang meragukan itu, Donghae. Bagaimana Kyuhyun sekarang?"
"Ya, seperti yang kau lihat tadi. Kondisinya masih sama, tetap seperti itu. Tapi aku bersyukur Siwon-ah, Dokter Choi berkata kondisi Kyuhyun masih tergolong stabil. Hanya terkadang Kyuhyun terlalu keras kepala dan akhirnya ia kambuh seperti tadi."
"Dia tetap seperti itu? Aish!"
"Aku tak yakin sifat itu akan hilang dari kepala Kyuhyun, Siwon-ah. Kadangkala aku terpaksa harus memarahinya karena ia sudah mulai tak peduli dengan tubuhnya. Sejak kecil hidup dengan kondisi seperti itu justru tak membuatnya merasa jera sama sekali."
"Tapi Kyuhyun adalah anak yang kuat, Hae. Mungkin Kyuhyun bertingkah seperti itu karena ia tidak ingin membuat Hyung-nya khawatir, tapi kadang Ia melewati batas."
"Kau benar, Siwon-ah. Kyuhyun sering tak menyadari batasnya sendiri. Terkadang Kyuhyun terlalu memaksakan diri, padahal aku sendiri tau bahwa Ia tak boleh terlalu lelah. Aku pernah berkata pada Kyuhyun bahwa aku memaklumi kondisinya, tapi setelahnya Ia mendiamkanku selama seminggu. Dan sejak saat itu aku sadar, itu adalah kata-kata terlarang bagi Kyuhyun." Donghae terkekeh kecil.
"Astaga, kau pasti harus sangat sabar, Hae." Siwon juga terkekeh.
"Tentu saja. Ah, Siwon aku ingin menanyakan sesuatu. Apakah benar apa yang diceritakan Kibum tadi? Aku seperti tidak bisa mempercayai itu."
"Aku melihatnya, Hae. Kebetulan saat itu aku juga ingin pergi ke taman belakang Rumah Sakit, tapi setelah sampai di sana, orang-orang sudah berlarian ke arah Kibum dan Kyuhyun. Ketika aku menyadari itu adalah Kibum, aku segera menghampirinya. Aku berniat membawa Kyuhyun kembali ke Rumah Sakit, tapi Kibum malah menepis tanganku, Ia bahkan mendorongku. Lalu dengan sigap Ia segera menghampiri Kyuhyun yang suda tergeletak dan langsung membawanya masuk ke dalam Rumah Sakit sambil berlari. Awalnya aku sama sekali tak merasa ada yang aneh, sampai aku tau bahwa Kibum sebenarnya tengah dalam masa penyembuhan setelah ia mengalami kecelakaan. Aku tidak tau jika sebenarnya Kibum masih belum bisa berjalan dengan baik."
"Jadi itu benar? Syukurlah, aku sangat lega Siwon-ah."
"Tentu saja. Tapi mengapa kau berkata seperti itu? Apakah sebelumnya telah terjadi sesuatu?"
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya takut jika Kibum diam-diam kembali seperti Kibum yang dulu."
"Hae, jangan seperti itu. Kau tau, ketika tadi Kibum menolong Kyuhyun, aku melihat ketulusan di matanya. Aku bahkan tidak menyangka Kibum bisa berubah sejauh itu. Kibum telah berubah, Donghae-ya."
"Aku juga pernah melihatnya seperti itu, Siwon-ah. Tapi tetap saja, rasa takut dan khawatir itu diam-diam masih menggeluti hatiku. Aku takut jika sikap baik Kibum pada Kyuhyun itu hanyalah sementara saja."
Siwon terdiam. Ia merasa tidak bisa menanggapi pernyataan Donghae. Sebenarnya Ia juga tak begitu yakin dengan perubahan sikap Kibum yang bisa dibilang besar itu. Meskipun Ia benar-benar melihat ketulusan itu di mata Kibum, tapi entah mengapa hati Siwon tak dapat menerimanya. Entahlah, Siwon hanya berharap adiknya akan baik-baik saja bersama Kibum dan Donghae. Siwon menenangkan pikirannya. Ia sudah kembali ke Korea sekarang, jadi apapun yang terjadi pada Kyuhyun, ia pasti bisa melindungi adiknya itu kapan saja.
Siwon berpikir Ia harusnya sangat berterima kasih pada Donghae yang selama ini sudah menjadi kakak yang sangat baik bagi Kyuhyun. Dan mungkin ini adalah waktunya. Waktu dimana Ia akan meminta Kyuhyun untuk kembali dan mengurus adiknya itu sendiri bersama sang Ayah. Ya, mungkin harusnya seperti itu. Pasti Kyuhyun akan merasa senang karena ia punya keluarga yang sangat mencintainya. Terdengar mudah untuk dilakukan, tapi sebenarnya... tidak.
.
.
.
.
_To Be Continued_
NB (mohon dibaca ya, saya ingin menyampaikan sesuatu) :
Ide saya benar-benar terkuras habis. Menyelesaikan Chapter ini saja rasanya menjadi begitu sulit karena pikiran saya sedang terbagi-bagi. Review ch 4 akan saya balas di ch selanjutnya bersamaan dg review ch 5. Ini mungkin untuk yang terakhir kalinya saya Update sebelum saya memutuskan untuk HIATUS selama kurang lebih 3 bulan. Maafkan saya jika saya membuat banyak kesalahan selama saya menulis cerita ini. Saya tidak berharap banyak, hanya doakan saya agar saya bisa diterima di Universitas yang saya inginkan. Saya juga mendoakan teman-teman yang sedang menjalani masa-masa yang sama seperti saya. Sampai jumpa 3 bulan ke depan ya. Semoga di Chapter selanjutnya saya bisa berbagi sedikit cerita dan motivasi. Amin. :)
(Jika ada yang ingin ditanyakan lebih lanjut, silakan PM saya yaa. Pasti akan saya balas! Bye-bye. *tears*)
.
"THE LITTLE PRINCE"
.
10:53
