-You, and The Time-

Cast : Cho Kyuhyun as Kim Kyuhyun

Kim Kibum as Kim Kibum

Lee Donghae as Kim Donghae

Choi Siwon of Super Junior as Choi Siwon

Kim Ji Won [OC]

Choi Seung Hwan [OC]

Kim Jae Rim [OC]

Warning : sorry for typo(s).

.

Preview Chapter sebelumnya :

...

"Tidak ada apa-apa. Aku hanya takut jika Kibum diam-diam kembali seperti Kibum yang dulu."

"Hae, jangan seperti itu. Kau tau, ketika tadi Kibum menolong Kyuhyun, aku melihat ketulusan di matanya. Aku bahkan tidak menyangka Kibum bisa berubah sejauh itu. Kibum telah berubah, Donghae-ya."

"Aku juga pernah melihatnya seperti itu, Siwon-ah. Tapi tetap saja, rasa takut dan khawatir itu diam-diam masih menggeluti hatiku. Aku takut jika sikap baik Kibum pada Kyuhyun itu hanyalah sementara saja."

Siwon terdiam. Ia merasa tidak bisa menanggapi pernyataan Donghae. Sebenarnya Ia juga tak begitu yakin dengan perubahan sikap Kibum yang bisa dibilang besar itu. Meskipun Ia benar-benar melihat ketulusan itu di mata Kibum, tapi entah mengapa hati Siwon tak dapat menerimanya. Entahlah, Siwon hanya berharap adiknya akan baik-baik saja bersama Kibum dan Donghae. Siwon menenangkan pikirannya. Ia sudah kembali ke Korea sekarang, jadi apapun yang terjadi pada Kyuhyun, ia pasti bisa melindungi adiknya itu kapan saja.

Siwon berpikir Ia harusnya sangat berterima kasih pada Donghae yang selama ini sudah menjadi kakak yang sangat baik bagi Kyuhyun. Dan mungkin ini adalah waktunya. Waktu dimana Ia akan meminta Kyuhyun untuk kembali dan mengurus adiknya itu sendiri bersama sang Ayah. Ya, mungkin harusnya seperti itu. Pasti Kyuhyun akan merasa senang karena ia punya keluarga yang sangat mencintainya. Terdengar mudah untuk dilakukan, tapi sebenarnya... tidak.

.

.

.

CHAPTER 6

"Apa kau benar-benar sudah bisa berjalan, Hyung?"

"Iya, aku benar-benar sudah merasa sangat baik."

Kibum menjawab pertanyaan Kyuhyun tanpa menoleh ke arah adiknya. 3 hari berlalu semenjak kejadian yang membuatnya bisa berjalan secara tiba-tiba, dan kini Kibum sudah merasa sangat baik, Kibum bahkan memaksa Donghae untuk segera kembali bekerja karena ia sudah bisa menjaga Kyuhyun, awalnya Donghae menolak permohonan Kibum dengan alasan ia masih khawatir dengan keadaan kedua adiknya, tapi akhirnya rayuan Kibum mampu meluluhkan hati Donghae.

Kyuhyun hanya mengangguk ketika mendengar jawaban Kibum, ia tanpa sadar memperhatikan Kibum yang memang sudah bisa berjalan seperti biasa. Beribu pertanyaan mulai merasuki pikiran Kyuhyun, Ia seperti tak percaya ketika melihat ini semua.

"Hey, jangan melamun seperti itu! Wajahmu jelek sekali jika sedang melamun. Sudahlah, tidak perlu memikirkanku, ya mungkin... aku terlalu terkejut melihatmu tiba-tiba jatuh dan pingsan begitu saja di taman saat itu. Sebenarnya apa yang sedang kau rasakan, Kyu? Aku bisa meminta Dokter Choi untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut jika kau merasa sakit lagi." Kibum melangkah ke arah ranjang Kyuhyun, kemudian menarik kursi yang ada di sampingnya.

"Tidak ada, Hyung. Aku..."

"Jangan pernah berkata seperti itu di depan Donghae Hyung, dia pasti akan merasa gagal menjadi seorang kakak yang baik untuk adiknya. Aku dan Donghae Hyung ada di sini untuk menjagamu, Kyu. Sudah tidak ada Appa dan Eomma, jadi tolong dewasalah, ini untuk kebaikanmu sendiri." Kibum menatap Kyuhyun dengan tatapan sedih.

Kyuhyun menghela nafas, mengalihkan tatapannya dari Kibum.

"Jika kau berpikir aku dan Donghae Hyung akan khawatir jika kau mengatakan apa yang sedang kau rasakan, kau salah Kyu. Justru sikapmu yang sama sekali tak mau berbicara seperti ini yang membuatku dan Donghae Hyung khawatir. Bagaimana jika diam-diam kau memendam sakitmu sendiri? Bagaimana jika tiba-tiba kau-"

"Saat itu aku melihat Appa dan Eomma." Kyuhyun menatap Kibum. "Mereka menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan, Hyung. Aku takut, Hyung... aku takut terjadi sesuatu yang buruk. Aku takut kejadian seperti itu terulang kembali."

Kibum berdiri dari tempak duduknya, lekas dipeluknya Kyuhyun yang mulai terisak hebat. Suhu hangat dari tubuh Kyuhyun langsung terasa oleh Kibum, membuatnya semakin merasa panik.

"Jangan menangis, demammu akan bertambah parah nanti. Tidak apa-apa, mungkin kau hanya merindukan Appa dan Eomma, percayalah padaku, tidak akan terjadi sesuatu yang buruk. Aku berjanji, Kyu." Kibum mengelus punggung Kyuhyun dengan sedikit canggung. Selama ini Kyuhyun hanya mau berbagi cerita pada Donghae, dan tentu saja hanya Donghae yang sudah terbiasa menenangkan Kyuhyun, sedangkan Kibum, dia sendiri juga tak menyangka jika akhirnya Kyuhyun mau membuka mulut di hadapannya. Hati Kibum menghangat, bukankah itu artinya perlahan Kyuhyun mulai mau menerimanya?

"Sudah... jangan menangis lagi, hm? Kau.. bagaimanapun keadaannya kau harus kuat, aku dan Donghae Hyung akan selalu bersamamu. Baiklah kalau begitu hari ini kau harus memakan sarapannya sampai habis, itu hukumanmu karena pagi-pagi kau sudah menangis." Kibum merengut lucu, ia kemudian beranjak mengambil bubur yang hampir mendingin di atas nakas.

Kyuhyun yang mendengar ancaman Kibum langsung saja menutup mulutnya dan menggeleng-geleng layaknya anak kecil yang menolak memakan sarapannya.

"Kyuhyun!" Kibum menggeram. "Aigoo, sejak kapan ada balita sebesar ini, eoh?"

"Hahaha..." Kyuhyun tertawa lebar.

Hap!

Kibum tak ingin melewatkan kesempatan itu, ia langsung saja menjejali Kyuhyun dengan sesuap penuh bubur ke dalam mulut adiknya yang sedang terbuka lebar. Sedangkan Kyuhyun yang tampak kaget dengan kejadian yang baru saja terjadi tampak terdiam sambil mengunyah pelan makanan dengan rasa aneh yang tiba-tiba saja masuk ke dalam mulutnya dan kini ia malah semakin merasa mual.

"Kibum Hyung, buburnya sudah tidak enak. Aku tidak mau!" Kyuhyun menjauhkan tangan Kibum yang sudah siap menyuapinya lagi.

"Ini masih hangat, Kyu. Jangan beralasan lagi, kau harus makan." Kibum memaksa.

"Tidak Hyung, aku ingin makan yang lain saja. Aku tidak mau memakan itu." Kyuhyun menatap semangkuk bubur di tangan Kibum dengan tatapan tidak suka, sedangkan tangannya perlahan bergerak menyentuh perutnya yang semakin mual saja.

"Ada apa? Perutmu sakit?" Kibum menatap Kyuhyun.

"Bisakah kau ambilkan aku minum, Hyung?" Pinta Kyuhyun.

"Baiklah, tunggu sebentar."

Baru saja Kibum berbalik ketika ia mendengar suara pintu kamar mandi ditutup dengan keras, Kibum seketika menoleh ke arah pintu kamar mandi dan sedetik kemudian ia menyadari bahwa Kyuhyun tak ada di ranjangnya, Kibum langsung saja berlari menuju kamar mandi yang berada di sudut ruangan itu. Kibum mengetuk pintu kamar mandi dengan tidak sabar.

"Kyu, kau tidak apa-apa? Buka pintunya!" Kibum mendekatkan telinganya pada pintu kamar mandi itu, ia tak mendengar suara apapun selain suara air kran yang mengalir begitu deras.

"Ya! Buka pint-"

"Sudah kubilang aku tak mau memakan itu Hyung, aku merasa mual sejak tadi malam, dan kau malah memaksaku memakan makanan itu. Aku tidak pernah mau memakan bubur seperti itu ketika sedang sakit." Kyuhyun mengelap bibirnya kasar.

"Ada apa ini? Kau baik-baik saja, Kyu?" Tanya seseorang yang tiba-tiba muncul dari arah pintu kamar.

Kibum dan Kyuhyun yang mendengar itu langsung menoleh dan mendapati Siwon tengah berdiri di dekat pintu dengan raut panik luar biasa. Melihat itu, Kyuhyun tanpa sadar menghela nafas kesal, setelah ini pasti Siwon akan menceritakan ini semua pada Dokter Choi, kemudian Dokter Choi akan memberitahu Donghae dan-

"Hyung, bisakah aku tak memakan bubur itu? Aku tidak biasa memakan bubur ketika sakit, aku tidak apa-apa. Donghae Hyung biasanya akan membelikan makanan... kesukaanku." Kyuhyun meringis setelah menyelesaikan kalimatnya dengan ragu.

"Baiklah, kau ingin makanan apa? Aku akan membelikanya untukmu." Siwon berucap tenang.

"Ne?" Mata Kyuhyun membulat.

.

.

.

.

"Jangan terlalu sering memakan makanan seperti ini, bagaimanapun juga kau tak boleh memakan sembarang makanan, Kyu. Dan jangan bilang pada Dokter Choi kalau aku membelikanmu makanan seperti ini, bisa-bisa dia memecatku dari Rumah Sakit. Aku juga sama denganmu Kyu, aku tidak bisa memakan bubur atau semacamnya jika aku sakit, itu justru akan membuatku semakin sakit. Dan kurasa kau juga begitu." Siwon memandangi Kyuhyun yang memakan makanannya dengan lahap.

"Ya, kau benar sekali, Hyung. Ah ya, terimakasih banyak untuk ini." Kyuhyun hanya meringis sambil menatap Siwon dan Kibum yang tengah duduk didepannya.

"Dan... Kibum, ku dengar kau sudah membaik, apakah itu benar?" Siwon bertanya pada Kibum yang sedari tadi hanya duduk terdiam di samping Siwon.

"Ah, tentu saja. Aku sudah sangat baik, Hyung." Kibum tersenyum canggung.

"Kau tau, aku terkejut sekali ketika Appa memberitahuku bahwa kau baru saja mengalami kecelakaan, dan nyatanya waktu itu kau tiba-tiba saja berlari sambil menggendong Kyuhyun, kau bahkan mendorongku ketika aku juga berusaha ingin menolong Kyuhyun." Siwon mengakhiri kalimatnya sambil tertawa kecil.

"Benarkah, Hyung? Ah, kalau begitu maafkan aku, aku benar-benar tak sadar dengan apa yang telah kulakukan ketika itu. Pikiranku benar-benar terfokus pada Kyuhyun." Kibum tersenyum canggung—lagi.

"Yak Kibum-ah, jangan berkata seperti itu, aku sangat tau apa yang kau rasakan ketika itu. Dan terimakasih karena kau telah menjaga Kyuhyun dengan baik. Terimakasih telah kembali, Kim Kibum." Siwon tersenyum hangat.

Kibum sedikit tersentak, begitu juga dengan Kyuhyun. Keduanya sama-sama terdiam sambil memandangi Siwon yang tampak tenang setelah mengatakan kata-kata yang membuat Kibum dan Kyuhyun terlihat terkejut. Selama ini tak pernah ada yang menyinggung tentang masa lalu Kyuhyun dan Kibum dalam situasi yang seperti ini, bahkan Donghae sangat menjaga ucapannya ketika ia berada bersama Kyuhyun dan Kibum, tapi kali ini Siwon dengan begitu mudahnya 'mengorek' kembali luka itu.

Bukan Siwon tak sengaja, ia memang sengaja mengatakan itu.

"Aigoo, lihat itu. Kenapa kalian masih terlihat canggung begini? Dengarkan aku, hm? Masa lalu itu memang terkadang menyakitkan, tapi melihat keadaan kalian saat ini, pernahkan kalian berpikir kalau kalian sudah berhasil melewati masa-masa menyakitkan itu dengan baik? Jika kalian gagal, kalian tidak akan pernah bisa ada di sini sekarang. Kau, Kibum-ah, kau benar-benar menjaga adikmu dengan sangat baik, dan Kyuhyun, tampaknya kau mulai nyaman dengan Kibum, hm?"

Siwon menatap mata Kyuhyun dan Kibum yang bergerak gelisah.

"Aku memang tak yakin luka itu akan sembuh sepenuhnya, tapi setidaknya luka itu kini sudah terobati. Ah, aku permisi dulu, dan Kyuhyun... kau sudah diperbolehkan pulang hari ini."

Siwon berlalu meninggalkan kedua orang yang sedang tenggelam dengan pikiran masing-masing di kamar itu.

"Kibum Hyung?"

"Ada apa, Kyu?"

"Mengapa Siwon Hyung tak memberitahu sejak kemarin bahwa aku sudah boleh pulang?! Aish!"

Kibum hanya mendesah, sementara Kyuhyun terus menggerutu kecil sambil kembali memakan makanannya—mencoba mencairkan suasana.

'Ah, pasti Siwon Hyung memang sengaja mengatakan hal itu di depanku dan Kyuhyun. Aish! Dasar Dokter menyebalkan!' Kibum mengacak rambutnya.

.

.

.

.

Flashback

"Hyung?"

"Hm?"

"Hyung, apa kau membaca surat ini kemarin?"

Kibum yang tengah serius belajar itu akhirnya mengalah dan memilih memandang Kyuhyun yang entah sejak kapan sudah berada di kamarnya. Kemudian Kibum bisa melihat dengan jelas apa yang dipegang oleh sang adik. Benar, sepucuk surat yang tak sengaja ia baca ketika kemarin menemani Kyuhyun belajar, sepucuk surat yang benar-benar membuatnya tak bisa tidur semalaman karena menangis. Kibum berusaha tenang, berusaha tak menampakkan wajah gugupnya di depan Kyuhyun, berlagak seolah ia tak tau apa isi surat itu.

"Ah, surat itu.. aku melihatnya kemarin di meja belajarmu dan aku tak berani menyentuhnya. Aku takut jika surat itu ternyata adalah surat cintamu untuk seseorang." Kibum terkekeh pelan.

"Hyung.. aku tak ingin bercanda."

Ekspresi Kibum berubah tegang, rupanya tidak mudah berbohong pada adiknya ini. Kibum diam-diam meremas tangannya, mencoba setenang mungkin menatap wajah adiknya yang memang tampak tak ingin bercanda itu.

"Aku juga tak ingin bercanda." Kibum berucap tenang.

Kyuhyun mendesah, ia kemudian melangkah pelan meninggalkan Kibum yang tampak terpaku di tempat duduknya.

"Ya, aku membacanya," ucap Kibum tiba-tiba.

Kyuhyun menghentikan langkahnya, lalu berbalik ke arah Kibum dan memandang kakaknya itu dengan tatapan menyedihkan.

"Mengapa kau harus menulisnya di sana? Mengapa kau tak mengatakannya secara langsung? Apakah kau malu?"

Kyuhyun terdiam mendengar gertakan Kibum, sebenarnya begitu banyak yang ingin ia sampaikan pada Kibum, tapi sungguh, dia tak punya cukup nyali untuk mengatakannya.

"Kenapa kau diam? Apa kau takut aku tak menanggapi permintaanmu itu? Kau takut aku tak peduli, begitu?"

Kyuhyun menunduk, gertakan Kibum semakin keras saja menyapa pendengarannya. Surat yang ada di genggamannya itu sudah tak berbentuk, seolah menjadi bukti bahwa ia benar-benar dibuat ketakutan oleh perkataan sang kakak.

"Dan.. jangan menatapku dengan tatapan itu. Aku tidak suka." Kibum menutup buku pelajarannya dengan kasar dan segera meninggalkan Kyuhyun masih menunduk dalam-dalam.

"Jangan bertanya apakah aku mau menerima permintaanmu atau tidak, aku tidak tau apakah aku harus menolongmu atau tidak, entah mengapa semakin hari kau terlihat semakin menyebalkan di depan mataku, apalagi saat kau merengek pada Appa dan Eomma, cih, manja sekali." Kibum akhirnya benar-benar meninggalkan ruangan itu.

Sementara itu, Kyuhyun hanya menatap kosong ke arah perginya Kibum, tak ada ekspresi apapun di wajah manis Kyuhyun kecil, namun satu hal yang membuktikan bahwa hatinya hancur adalah maniknya yang berkaca-kaca.

Sejak saat itu Kibum berubah, berubah menjadi orang lain yang sama sekali berbeda dengan Kibum yang dulu. Tapi tak ada yang bisa menyalahkan Kibum, bukankah ia memang tak pernah berjanji untuk menerima permintaan Kyuhyun? Jadi apa yang salah jika pada akhirnya ia memilih meninggalkan Kyuhyun yang sangat mengharapkan dirinya? Kibum berubah secara perlahan sampai tak seorang pun menyadarinya. Kibum diam-diam membenci Kyuhyun, dia dengan mudah menutup mulut Kyuhyun yang jelas membuat adiknya itu tak berani mengadu kepada siapapun.

Namun sekuat-kuatnya Kyuhyun menyimpan itu seorang diri, pada akhirnya ia juga menyerah. Tidak, Kyuhyun tidak mengaku tentang Kibum yang telah berubah menjadi seorang yang kasar kepadanya, namun ia jatuh sakit, benar-benar jatuh dan sakit. Hatinya memang masih mampu menampung semua kata-kata kasar Kibum, tapi berbeda dengan tubuhnya yang benar-benar telah menyerah dengan keadaan yang menyakitkan. Sederhana, tanpa Kyuhyun berkata apapun, semua sudah terungkap dengan sendirinya.

Lalu Kibum?

Ia seolah menutup mata dan telinganya. Ia benar-benar tak peduli pada hidup sang adik yang nyatanya sudah berada di ujung maut.

'Jika harus mati, maka matilah saja. Tak ada lagi orang yang merepotkan sepertimu.' Begitu kata Kibum.

Sadis? Jahat? Entahlah, mungkin lebih dari itu.

End of Flashback.

.

.

.

.

Dokter Choi dan Siwon sedang sibuk membantu Kibum membereskan barang-barang Kyuhyun yang akan dibawa pulang. Begitu Siwon mengatakan bahwa Kyuhyun sudah boleh pulang hari ini, Kibum langsung menghubungi Donghae untuk datang ke Rumah Sakit dan segera membawa Kyuhyun pulang karena adiknya itu terus merajuk. Sedangkan Kyuhyun sendiri tampak terkantuk-kantuk di ranjangnya, awalnya ia ingin membantu Kibum untuk merapihkan barang-barangnya, namun tiba-tiba Dokter Choi bersama Siwon datang dan melarangnya melakukan itu. Dokter Choi berkata bahwa Kyuhyun harus beristirahat total selama beberapa hari.

"Kyu, di mana ba-" Kibum menghentikan pertanyaannya ketika ia melihat Kyuhyun tengah berusaha menahan kantuk sambil berbaring di atas ranjangnya. Kibum juga sedikit terkaget, ia bahkan tak sadar Kyuhyun telah berganti pakaian dan baju pasiennya sudah terlipat rapi di atas nakas.

Suara Kibum yang terhenti itu akhirnya menarik perhatian Siwon dan Dokter Choi yang juga tengah sibuk mengemas barang-barang Kyuhyun, keduanya seketika ikut menoleh ke arah Kyuhyun yang masih terlihat terbaring dengan nyaman di ranjangnya. Kibum tampak mendekat ke arah Kyuhyun dengan tatapan khawatir, bagaimana tidak? Pagi ini saja suhu tubuh Kyuhyun masih cukup tinggi, tapi Dokter Choi malah menyuruh Kyuhyun untuk beristirahat di rumah.

"Dokter Choi, benarkah Kyuhyun boleh pulang hari ini? Demamnya masih cukup tinggi." Kibum menyentuh dahi Kyuhyun.

"Keadaan Kyuhyun sudah sangat baik Kibum-ah, dia hanya perlu beristirahat total di rumah, aku yakin besok dia pasti sudah membaik. Lagipula aku mengerti betul kebiasaan Kyuhyun yang tak bisa berlama-lama menginap di Rumah Sakit."

Kibum menghela napas, ia benar-benar tak bisa menyangkal. Dokter Choi adalah Dokter pribadi Kyuhyun bahkan sejak Kyuhyun lahir, jadi tak mungkin Dokter Choi mengambil keputusan yang membahayakan Kyuhyun sendiri. Baiklah, Kibum akhirnya kembali berkemas walau sebenarnya ia cukup tak rela melihat Kyuhyun harus dirawat di rumah dengan kondisi yang masih Kibum pikir belum membaik.

"Ah, baiklah," ucap Kibum sambil menoleh ke arah pintu yang sedang dibuka oleh seseorang.

"Oh, Dokter Choi, Siwon, aish.. Kibum bisa melakukannya bersamaku, tidak perlu repot-repot seperti ini dan.. ada apa dengannya, Bum?" Donghae memandang Kyuhyun dan Kibum bergantian.

"Mengantuk.. mungkin." Jawab Kibum sambil berlalu meninggalkan Donghae yang tampak tak mengerti dengan jawaban Kibum.

Donghae tak bertanya lagi pada Kibum, tampaknya kini Donghae mengerti ketika melihat Kyuhyun yang—bahkan—sudah berganti pakaian itu tengah tertidur dengan nyamannya.

'Pasti Kyuhyun kebosanan menunggu Kibum mengemasi barang-barangnya, lalu akhirnya tertidur.' Donghae terkekeh pelan.

"Hyung, kau tak perlu ikut membantu, kau bangunkan saja dia. Ini segera selesai." Kibum tiba-tiba bersuara ketika menyadari Donghae tengah terkekeh sambil melihat wajah Kyuhyun.

"Ah, begitu ya? Baiklah." Donghae akhirnya mendudukkan diri di sebuah kursi di samping ranjang Kyuhyun, lalu mulai membangunkan Kyuhyun dengan perlahan. Donghae tak pernah membangunkan Kyuhyun dengan cara yang kasar, diam-diam Ia mensyukuri apa yang telah Eomma jelaskan panjang lebar mengenai Kyuhyun padanya. Mulai dari hal kecil seperti membangunkan Kyuhyun, sampai dengan apa-apa saja yang sama sekali tidak boleh dilakukan oleh Kyuhyun. Awalnya Donghae tak banyak tau, suatu hari dia membangunkan Kyuhyun dengan cara yang 'brutal' karena ia memang terlanjur kesal karena Kyuhyun yang sangat sulit dibangunkan, dan akhirnya ia dimarahi habis-habisan oleh Sang Eomma.

'Kau harus membangunkan adikmu secara perlahan. Kau tau sendiri Kyuhyun memang sulit dibangunkan, karena itu kau harus membangunkan Kyuhyun lebih awal, jujur saja, Eomma selalu menghabiskan banyak waktu ketika sedang membangunkan Kyuhyun, kau harus bersabar. Jangan berteriak atau memukul Kyuhyun, dia mudah panik ketika bangun tidur. Cukup sentuh Kyuhyun saja, Eomma biasa memijat tangannya, atau terkadang mengelus punggungnya, dia tidak akan panik jika kau melakukan itu. Atau kalau kau sedang tak ingin melakukan itu, kau bisa membersihkan kamar Kyuhyun, lalu dia akan bangun dengan sendirinya karena tidurnya terganggu, hehe. Kau mengerti, Hae?'

Donghae tersenyum ketika mengingat perkataan Sang Eomma, Donghae bahkan sampai terkagum karena Eommanya itu begitu sabar dan tenang ketika memperlakukan Kyuhyun. Donghae kemudian membuyarkan lamunannya, ia dengan telaten menggenggam tangan Kyuhyun dan mulai memijat tangan itu dengan sangat pelan.

"Kyuhyun-ah.. bangun. Ayo cepat keluar dari tempat ini." Bisik Donghae sambil tersenyum.

Belum ada respon apapun dari Kyuhyun, mata itu masih tertutup rapat-rapat. Donghae semakin mendekat, beralih mengelus punggung Kyuhyun, tapi tiba-tiba wajah Donghae berubah serius.

"Dia masih demam, Bum?" Donghae menatap Kibum.

Kibum mengangguk.

"Dokter Choi?" Donghae beralih menatap Dokter Choi.

"Kondisinya sudah sangat stabil, Hae. Setelah pulang nanti demamnya akan turun, aku akan memeriksanya nanti malam."

Donghae menghela nafas lega. Kyuhyun sering sekali terkena demam, dan itu tidak menjadi masalah selama Kyuhyun tidak mengeluh sakit. Donghae kembali menatap Kyuhyun ketika ia melihat mata Kyuhyun mulai terbuka.

"Ya! Ayo bangun, kau bilang kau ingin cepat pulang?" Donghae tersenyum.

"Hm?" Kyuhyun bergumam, tampaknya ia belum sepenuhnya sadar.

"Ayo kita pulang ke rum- aish, jangan tidur lagi." Donghae berdecak pelan ketika ia melihat Kyuhyun kembali memejamkan matanya.

"Hyung... aku merasa mengantuk sekali, biarkan aku tidur sebentar lagi," Kyuhyun bergumam pelan.

"Aish, apa yang kau bicarakan? Setidaknya kau harus berjalan dulu ke mobil, lalu tidurlah lagi, aku akan menggendongmu ketika sudah sampai di rumah nanti. Tidak mungkin jika aku menggendongmu di sini."

"Kau janji, Hyung? Kau akan menggendongku?" Kyuhyun tersenyum nakal sambil berusaha membuka matanya kembali.

"Tentu saja."

"Baiklah! Kalau begitu ayo pulang!" Kyuhyun dengan tiba-tiba berdiri dengan sedikit terhuyung dan tersenyum dengan manisnya.

'Astaga, benar-benar bayi besar!" Donghae memutar bola matanya, malas.

.

.

.

.

Flashback

"Kau tau ini jam berapa?" Kibum mendengus.

Kibum masuk dengan langkah pelan, kemudian mengunci pintu itu rapat-rapat.

"Ah, jadi begini ya jika adik terkecil kita sedang sakit?"

"Hyung.." Kyuhyun terisak. Dengan susah payah ia berusaha menahan emosinya, ia tak menyangka Kibum akan mendatanginya dengan cara yang seperti ini ketika ia tengah kesakitan. Oh Tuhan, apakah Kibum benar-benar ingin adiknya cepat mati?

"Kau tau betapa ributnya Eomma dan Appa di luar? Ah, sepertinya bukan mereka saja, Donghae Hyung, juga Ahjumma dan Ahjussi. Kau bahagia, hm? Kau bahagia ketika semuanya tengah mengkhawatirkanmu seperti ini? Semua sedang panik dan kau malah berbaring di sini dengan tenangnya? Cih!"

Kyuhyun hanya terdiam dalam tangisannya, ia benar-benar tak bisa mengontrol dirinya sendiri. Sungguh, baginya Kibum begitu keterlaluan kali ini. Memang tak apa jika Kibum memarahi dirinya seperti ini, tapi bukan di saat yang seperti ini, bukan di saat ia sedang merasa tidak baik-baik saja seperti ini. Kyuhyun hanya bisa berdoa agar siapapun di luar sana cepat datang, kepalanya terasa sangat sakit, belum lagi tubuhnya yang nyaris tak bisa ia gerakkan. Kyuhyun yakin wajahnya sudah sangat pucat sekarang, tapi tetap saja mata Kibum tak memandang iba pada dirinya.

"Ayo bangun! Cepat katakan pada mereka kalau kau baik-baik saja—seperti biasanya. Bangun! Bangunlah adik kecil!" Kibum tersenyum licik.

Dengan sisa kekuatan yang ia miliki, Kyuhyun akhirnya bangun. Dengan perlahan ia berdiri, sesekali terhuyung tapi beruntung refleksnya masih baik, Kyuhyun benar-benar tak tau ia berjalan ke arah mana, ia hanya berjalan menuju Kibum yang seingatnya memang masih berdiri di samping pintu, Kyuhyun merasa jaraknya sudah dekat sekali dengan Kibum ketika ia merasa akan terjatuh lagi, ia segera meraih tangan Kibum untuk menahan tubuhnya.

"Mengapa kau berjalan seperti itu, huh? Kau sudah bisa berjalan dengan baik, kau bukan anak kecil lagi!" Kibum berteriak lirih. Kibum memang tak melepaskan tangan Kyuhyun yang tengah menggengam tangannya kuat-kuat, tapi ia terus menyerang Kyuhyun dengan kata-kata yang sama sekali tak wajar.

"Hyung, berhentilah berkata seperti itu, masih banyak hal yang harus kulakukan, aku belum ingin mati sekarang." Kyuhyun semakin kesulitan mengatur nafasnya, kata-kata Kibum benar-benar membuat hatinya seperti ingin meledak. Ia kemudian menegakkan tubuhnya, dengan langkah yang masih tertatih ia akhirnya berhasil keluar dari kamarnya. Sang Eomma yang tengah panik itu terburu-buru mendatanginya, kemudian memeluknya.

"Kenapa kau keluar? Kau tunggu di dalam saja. Mobilnya sudah siap, sebentar lagi kita berangkat ke rumah sak-"

"Eomma... tidak perlu ke Rumah Sakit... aku baik-baik saja. Kibum Hyung... sudah menghubungi Dokter Choi." Kyuhyun tersenyum, sebenarnya ia masih ingin meyakinkan Sang Ibu bahwa dirinya baik-baik saja, tapi tak bisa, berbicara saja dia sudah sangat kesulitan.

Sang Ibu terdiam untuk beberapa saat sebelum ia menyuruh Kyuhyun untuk kembali beristirahat di kamarnya. Kyuhyun menurut, ia sudah semakin tak sadar, ia bahkan tak begitu mendengar apa yang Ibunya katakan, ia hanya mengikuti Sang Ibu yang menuntunnya masuk ke dalam kamar.

"Kibum? Kau disini? Kau sudah menghubungi Dokter Choi?"

"Dokter Choi? Ya, tentu saja, aku sudah menghubunginya Eomma. Aku akan menjaga Kyuhyun." Kibum tersenyum.

"Baiklah, tolong jaga adikmu, Eomma harus memberitahu Appa."

Tepat setelah pintu kamar itu ditutup, Kyuhyun terjatuh begitu saja di depan Kibum. Ia benar-benar tak mampu berkata apapun, dadanya semakin terasa sakit, Kyuhyun hanya bisa menangis hebat menyaksikan perlakuan Kibum padanya.

"Kau bilang apa tadi? Kau belum ingin mati sekarang? Baiklah aku akan menghubungi Dokter itu."

Kibum mengambil ponsel di sakunya, menggesernya layarnya beberapa kali kemudian mendekatkan ponsel itu pada Kyuhyun yang tengah meringkuk di atas lantai. Tak lama kemudian terdengar suara yang sama sekali tak asing.

"Kibum? Ada ap-"

"Dokter Choi, lucu sekali ya, Kyuhyun sedang berbaring di depanku sekarang ini. Dan aku juga tak tau mengapa dia berbaring di atas lantai seperti itu, apakah dia tidak kedinginan? Kau tak ingin melihatnya, Dokter?"

PIP!

"Semoga saja perkiraanku tepat Kyuhyun-ah, semoga saja kau masih bisa diselamatkan. Tunggulah sebentar lagi, malaikat penolongmu itu pasti akan datang. Aku pergi dulu, hm?" Kibum berdecak pelan sambil mengusap pelan wajah Kyuhyun yang kini telah memucat.

Sentuhan Kibum benar-benar membuat Kyuhyun merasa nyaman, nyaman sekali bahkan ia seperti tak merasakan sakit, kesadarannya sudah mencapai batas. Ia sedikit tersenyum, setidaknya Kibum masih mau menolongnya, dan Kyuhyun merasa... sangat bahagia.

End of Flashback.

.

.

.

.

"Appa, apakah kondisi Kyuhyun sudah benar-benar stabil?" Siwon mengambil makanannya.

"Tentu saja, tapi aku sudah berkata pada Donghae kalau Kyuhyun masih harus melakukan beberapa tes lagi, untuk memastikan saja." Dokter Choi memandang ke sekitar Kafe Rumah Sakit.

Siwon mengangguk-angguk mengerti. Ia tiba-tiba bisa memahami Sang Ayah. Siwon tau Ayahnya bukan tipe orang yang terlalu khawatir dengan pasiennya, Ayahnya benar-benar bukan Dokter yang terlalu overprotektif pada pasiennya, tapi untuk Kyuhyun—Siwon pikir semuanya sangat berbeda. Kyuhyun benar-benar mendapat perawatan yang spesial. Entahlah, Siwon juga tak terlalu paham berapa jumlah uang yang telah diberikan Tuan Kim—ayah tiri Kyuhyun—pada Ayahnya, apakah mungkin itu sangat banyak sehingga Ayahnya tak berani main-main dengan kondisi Kyuhyun? Oh ayolah, Siwon juga sangat yakin masih banyak pasien di dunia ini yang bahkan lebih 'buruk' kondisinya dibanding Kyuhyun, Ia tau benar seperti apa tingkat kondisi Kyuhyun, menurutnya, Kyuhyun masih tergolong pasien yang 'sehat'.

Entah karena Kyuhyun adalah anak kandung Ayahnya atau apa, tapi Siwon yakin itu menjadi salah satu alasan Sang Ayah menjadi begitu overprotektif pada Kyuhyun. Dan setelah beberapa hari Ia kembali ke Korea, ia sedikit demi sedikit mulai mengetahui kebiasaan Sang Ayah yang kadang sedikit membuatnya khawatir. Ayahnya selalu berdiam diri di ruangannya setelah menangani Kyuhyun, atau kalau tidak, ia pasti mengunci rapat-rapat kamar mandi pribadi di ruangannya dan menangis hebat. Bagaimanapun juga Siwon tak dapat menyalahkan Sang Ayah, ia sendiri juga takut saat menghadapi kondisi Kyuhyun yang tiba-tiba memburuk seperti kemarin. Siapa bilang tubunya tak bergetar ketakutan ketika ia memeriksa setiap inci tubuh Kyuhyun? Siapa bilang ia bisa bernafas dengan normal ketika melihat sang adik terus merintih kesakitan dan menangis ketika kondisinya sedang memburuk?

Siwon tersenyum kecil. Ia juga merasakan hal yang sama seperti yang Sang Ayah rasakan, namun Siwon masih bisa mengendalikan dirinya dengan baik. Ketika ia menangani Kyuhyun yang sedang gawat, ia selalu mengganggap bahwa Kyuhyun adalah pasien yang harus ia selamatkan, bukan malah ikut panik dan memikirkan yang tidak-tidak pada adiknya. Salah satu tujuan hidup Siwon adalah menyembuhkan Kyuhyun, Ia sengaja pergi ke salah satu sekolah medis terbaik di Jepang dan menghabiskan beberapa tahun hidupnya untuk belajar di sana. Siwon tak akan menyia-nyiakan itu semua, Siwon tak ingin predikat lulusan terbaik yang telah didapatnya dengan susah payah itu hilang begitu saja ketika ia benar-benar dihadapkan pada keadaan semacam itu—semacam menangani adiknya sendiri yang sedang kolaps. Profesional, itu sebagian kecil yang Siwon dapat ketika ia sedang menjalani kuliahnya.

"Appa, aku ingin membicarakan sesuatu." Siwon meremas tangannya sendiri.

"Siwon-ah, kubilang jangan membicarakan tentang hal itu lagi. Appa melarang kau melakukan itu, biarkan mereka hidup dengan tenang. Apa kau tak tau betapa adikmu telah mengalami banyak kesulitan selama sepuluh tahun terakhir? Sudahlah Siwon-ah, keadannya berbeda, Kyu-"

"Appa, kumohon dengarkan aku." Siwon memegang tangan Sang Appa lalu memandangnya dengan tatapan serius.

"Appa, salah satu tujuan hidupku adalah mendapatkan Kyuhyun, dan aku tak akan pernah menyerah Appa. Segala macam cara pasti akan kulakukan untuk mendapatkannya, Appa, kita punya hak untuk mendapatkan Kyuhyun. Dan kau tau sendiri Appa, aku adalah anak yang keras kepala, jadi sepertinya akan percuma saja jika Appa menghalang-halangiku. Aku yakin pasti Appa mengetahui dengan sangat baik bagaimana kondisi Kyuhyun saat ini, dan aku juga yakin Appa pasti akan tau apa yang terjadi pada Kyuhyun jika ia berada dalam keadaan seperti ini. Kyuhyun akan baik-baik saja Appa, aku yakin itu."

"Aku benar-benar tak habis pikir Siwon-ah. Sebenarnya apa yang akan akan kau lakukan, huh? Dengan cara apa kau memberitahu Kyuhyun, Donghae, dan Kibum? Kata-kata apa yang sebenarnya akan kau katakan pada mereka? Kau pikir mudah meyakinkan mereka dalam keadaan yang seperti ini? Tiba-tiba kau datang dan berkata Kyuhyun adalah anak kandung Appa, apakah itu bisa diterima oleh akal sehat, huh? Kau tau Siwon-ah, itu seperti lelucon di mata Appa."

"Aku memilki semuanya, Appa. Foto masa kecil Kyuhyun bersama Appa dan Nyonya Jae Rim, bukti tes DNA yang menyatakan bahwa Kyuhyun adalah anak kandung dari Tuan Choi Seung Hwan dan Nyonya Kim Jae Rim, juga... rekaman itu, rekaman antara Tuan Kim, Nyonya Kim, dan Appa."

Dahi Dokter Choi berkerut, matanya berkaca-kaca memandang tajam ke arah Siwon.

"Darimana kau mendapatkaan itu semua, huh? Apa kau tidak tau itu adalah rahasia besar keluarga Kim?" Suara Dokter Choi terdengar bergetar.

"Aku mengambilnya dari kamar Appa, aku sengaja mencarinya karena aku ingin memastikan bahwa Kyuhyun adalah adikku juga." Siwon menjawab dengan begitu tenang.

Dokter Choi menghela napas, kemudian menutup matanya. "Lalu apa yang akan kau lakukan dengan itu semua, huh? Apakah mereka dengan mudah bisa mempercayai itu?"

"Tentu saja aku akan memberikan barang-barang itu pada Kyuhyun, Kibum, dan Donghae. Dan jika mereka tidak percaya, kita bisa melakukan tes DNA ulang. Aku sudah merencanakan semuanya, Appa."

"Siwon-ah, kau benar-benar anak yang keras kepala." Dokter Choi berucap pelan, kemudian beranjak dari tempatnya dan berjalan meninggalkan Siwon yang tampak menyunggingkan senyumnya samar.

'Appa, kau pasti percaya padaku, kan? Aku yakin kau juga menginginkan ini, menginginkan Kyuhyun kita kembali.'

.

.

.

.

Flashback.

Di tengah rasa panik yang luar biasa, Dokter itu dengan susah payah mencoba menyelamatkan nyawa seseorang. Matanya bergerak gelisah mencari segala macam alat yang ia butuhkan untuk menolong seseorang yang tengah terbaring tak berdaya di ranjangnya. Dokter itu sesekali mengusap keringat yang terus mengucur deras di wajahnya. Wajahnya telah pucat pasi, ia juga merasa tak bisa bernafas dengan baik karena rasa paniknya yang terus menjadi-jadi. Ia sudah ingin menyuntikkan sebuah cairan ke selang infus milik seseorang yang tengah ia tolong itu ketika ia merasa penglihatannya mengabur, ia mencoba untuk kembali fokus, namun nyatanya tetap sama, kini bahkan ia merasa tubuhnya semakin melemas. Dokter itu mengerjapkan matanya, tangannya berpegang erat pada tepian ranjang, semua di sekelilingnya tampak mulai berputar, tubuhnya hampir saja jatuh apabila tidak ada tangan seseorang yang cepat memegang bahunya.

"Dokter Choi! Choi Seung Hwan!" Ji Won berusaha menahan tubuh Dokter muda itu.

"Jiwon-ah, bisakah kau suntikkan ini di sana. Kau harus cepat, Jiwon-ah." Suara pelan itu membuyarkan rasa panik Jiwon, dengan cepat ia mengambil suntikkan itu dari tangan Dokter Choi kemudian segera menyuntikkan cairan di dalamnya melalui sebuah selang infus.

"Seunghwan, Ada apa denganmu? Kau baik-baik saja, huh?" Jiwon dengan sedikit panik kembali menghampiri sang Dokter yang tengah terduduk lemas.

"Aku baik-baik saja, Jiwon-ah. Kau sudah menyuntikkan obatnya?"

"Sudah kulakukan. Tenangkan dirimu dulu. Apa kau sakit?" Jiwon terkejut ketika mendapati wajah Dokter di depannya itu sangat pucat.

"Tidak, aku tidak apa-apa."

Jiwon terdiam sejenak, mencoba membaca mata sang Dokter yang penuh kekhawatiran dan ketakutan. Semuanya terlihat begitu jelas, bagaimana ia berusaha menormalkan nafasnya dengan susah payah, bagaimana ia berusaha menggigit bibirnya yang tampak bergetar dengan kuat.

"Kau melakukannya dengan baik, Choi Seung Hwan. Kau berhasil menyelamatkan Kyuhyun." Jiwon akhirnya mengerti, pria di depannya ini sama sekali tidak sakit. Jiwon memeluk erat pria itu, mencoba menenangkannya.

"Kau ayah yang baik, Seunghwan-ah. Sungguh." Ucap Jiwon lirih namun penuh keyakinan.

"Jiwon-ah, kupikir Kyuhyun akan mati begitu saja di tanganku." Dokter itu terisak pelan. Jiwon menghela nafasnya dalam-dalam, isakan pria di pelukannya itu benar-benar membuat hatinya terasa sakit.

"Ya, aku tau. Aku mengerti Seunghwan-ah. Tapi kau melakukannya dengan sangat baik. Tenang, tidak apa-apa."

"Aku sungguh tak sanggup bila harus bertemu dengannya dengan situasi yang seperti ini Jiwon-ah."

"Katakan saja jika kau sudah tidak sanggup. Aku akan mencari Dokter lain untuk Kyuhyun. Kau tetap bisa mendampinginya."

"Jika aku menyetujui itu, lalu ayah macam apa aku ini, huh? Aku seorang Dokter, tapi aku meninggalkan anakku yang sedang kesakitan seperti itu? Ayah macam apa aku ini, Jiwon-ah?"

"Aku mengerti, aku sangat mengerti. Kau sudah mendampinginya dengan baik selama ini, dan aku yakin kau pasti mengalami waktu-waktu yang sulit selama ini. Seunghwan-ah, mungkin ini sudah sampai pada batasmu, tidak apa-apa. Tidak ada yang salah."

"Tidak, jangan seperti ini Jiwon-ah. Aku sudah berjanji aku akan bertanggung jawab. Aku harus memeriksa Kyuhyun." Dokter itu berdiri dari tempat duduknya dengan sedikit terhuyung. Jiwon bisa melihat dengan jelas, bagimana raut putus asa yang begitu tampak di wajah lelah Choi Seung Hwan. Dengan air mata yang masih mengalir di wajahnya, Dokter itu menyentuh tangan Kyuhyun.

"Detak jantungnya sudah kembali normal. Aku akan pulang 15 menit lagi. Maafkan aku karena kau harus mengetahui hal ini. Aku sangat menyesal mengatakan itu. Aku tidak akan menyerah Jiwon-ah, demi Kyuhyun."

"Baiklah. Aku mendukung apapun keputusanmu Seunghwan-ah. Aku keluar sebentar."

Dokter itu mengangguk kecil. Jiwon kemudian melangkah keluar dan segera menutup pintu itu rapat-rapat. Sang Dokter kembali terisak sambil terus memegang erat tangan Kyuhyun, ia bahkan sampai tak menyadari bahwa pemilik tangan yang sedang ia genggam erat itu terlihat membuka matanya.

"Dokter Choi, kau menangis?" Suara pelan itu terdengar terkejut.

"Ah, Kyuhyun-ah. Kau bangun? Apa yang kau rasakan? Adakah yang sakit?"

"Kau menangis?"

"Tidak, aku sudah tidak mengangis." Dokter Choi tersenyum dan mengusap air matanya.

"Dokter, aku ingin menyampaikan sesuatu."

"Ya, sampaikanlah, perlahan-lahan.

"Kibum Hyung tadi.. ketika menelponmu, dia sedang mabuk. Maaf jika dia berbicara seperti itu. Dan...kuharap Dokter Choi tak mengatakannya pada Appa. Okay?" Kyuhyun tersenyum hangat, perlahan ia mengulurkan jari kelingkingnya pada Dokter Choi, dan Dokter Choi membalasnya dengan melakukan hal yang sama.

Namun sesaat kemudian, terdengar isakan kecil dari Kyuhyun—ia menyembunyikan rasa kesalnya pada Kibum. Dia berbohong agar tak ada masalah yang menyangkut nama Kibum, Kyuhyun tau Kibum sama sekali tidak sedang mabuk, Kyuhyun tau Kibum benar-benar sadar sepenuhnya ketika ia berbicara di telepon dengan Dokter Choi. Hati Kyuhyun sakit—sakit sekali.

"Hey, kenapa sekarang kau yang menangis, Kyu. Tenang saja, aku tidak akan memberitahu Appamu." Dokter Choi menghapus air mata Kyuhyun.

.

To Be Continued

.

.

.

.

_READ PLEASE-READ PLEASE-READ PLEASE :D :D :D :D_

Ya, seperti yang chingudeul tau, dulunya Kibum itu memang kasar pada Kyuhyun. Kibum seperti itu karena dia merasa tertekan, dia tertekan dengan kondisi adiknya—Kibum seperti dihadapkan di antara dua pilihan. Apakah ia harus bersabar menghadapi Kyuhyun? Ataukah dia harus meninggalkan Kyuhyun? Coba chingudeul bayangkan, bagaimana rasa putus asanya hidup dengan seseorang yang sedang sakit? Kita harus menjaga seseorang itu, tapi terkadang kita sudah seperti mencapai batas kekuatan kita karena banyaknya 'tekanan' yang datang.

.

.

.

Yeeesss! Bisa update sehari setelah UN :D saya sudah sempatkan buat update loh sebelum saya kembali menghilang (?) lagi hehe. Setelah ini saya harus ngurus ini-itu buat keperluan kuliah. Mohon maklum ya chingudeul tercinta. Review ch 4 dan 5 sdh saya balas di bawah ini. Apakah ada yang ketinggalalan? Kalo ada silakan PM ya, maaf saya agak 'oleng' habis ujian. Terimakasih buaanyak buat chingudeul yang sudah setia mengikuti ff ini, semoga gak bosen2 review yaa,, oh iya, YANG SUKA 'FOLLOW&FAVORIT' FF INI TAPI BELUM MAU REVIEW, SAYA TAHU LHO SIAPA-SIAPA AJA.. :D ayoo review yang banyak biar saya semngaaat! Okey, bye-bye, sampai ketemu lagi,, muaahh.. :D

.

.

.

.

Balasan Review CHAPTER 4

Michhazz : ne, sejak dulu! :D

gnagyu : masih kurang jelas ya Kyuhyun sakit apa di sini? *sedih* dia sakit hati (?) eh, sakit jantung maksudnya :D thanks udah di favorit!

Elfish : di sini Hae dewasa karena keadaan, dia kan harus ngurus adik-adiknya sendiri, jadi ya mau gk mau dia harus dewasa :D.

Riena : Aku emg sengaja gk gamblang (?) tentang penyakit Kyuhyun di sini. :D Kyuhyun disini sakit jantung, tapi di sini penyakitnya gk terlalu parah dan 'tragis' kok. :'D

martincho27 : kalau ternyata sad ending gimana hayooo? :D

dewiangel : kamu pernah review kok kayaknya :D kyu sama hae beda ayah :D

phn19 : pertanyaannya sdh terjawab di ch 6 ya.. :D

sofyanayunita1 : ne! Terimakasih sudah setia menunggu ff sayaa.. :D

Cho Kyunhae : jinjja? Fighting! :D

Kyunoi : ya, benar sekali. Kibum dulu galak banget sama Kyuhyun.

lia : okeeyy! :D

lydsprkyu23 : Terimakasih sdh membaca! :D

chingu : ya, kibum dulu jahat sama Kyuhyun. Jiwon dan Jerim meninggal gara2 kecelakaan ( padahal udh ada flashbacknya di ch sebelumnya lho..) :'D *aduh pasti gara2 ceritanya gk jelas*

kyuhae : iyaa, saya setuju! :D

maya kyu : maaf yaa, update nya selalu telat, setelah ini diusahakan gk telat2 lagi deh.. :D

xyz : Amiin.. :D

Songkyurina : ya ampun, maaf yaa, hbis ini diusahakan gk telat lagi.. :D

Lily : yang itu kyuhyun jatuh sendiri kok.. :D

Nanakyu : siaap! Fighting! :D

Wonhaesung : okee! :D

dd : terimkasih buat semangatnya! :D

angel sparkyu : udah di lanjut.. :D

namielf : tentu saja, masih banyak rahasia yang masih saya rahasiakan,, hehe :D

pcyckh : iya, dokter choi alias (?) choi seung hwan itu bapaknya kyu.. :D

Sparkyubum : tunggu terus kelanjutannya yaa.. :D

jihyunelf : banyak misteri yaa? :D

Desviana407 : jeongmal gomawo buat sarannya... :D dan semoga ff ini nggak sad ending yaa.. :'D

dewidossantosleite : tunggu aja kelanjutannya yaa.. dan terimakasih atas sarannya.. :D

MissBabyKyu : iyaa kakak, maaf yaa.. gak apa2 kok kak, terus bawelin aja aku biar semangat bikin ff.. :D

melani. : okaay, welcome.. semoga bisa terus mengikuti yaa. :D

okaocha : okay, no problem! :D

readlight : maaf yaa cintaa (?) semoga chapter selanjutnya bisa update ceepeett.. :D

Anna505 : iya, itu kibum. Tunggu terus kelanjutannya :D

Apriliaa765 : okee, ini baru pemanasan kok, nanti setiap cast dapat porsi yg seimbang kok.. :D

hyunnie02 : iya, bisa dibilang begitu. Chapter selanjutnya bakal banyak wonkyu kok.. :D

Awaelfkyu13 : tunggu terus kelanjutannya ya cintaa.. :D

Cuttiekyu94 : kira-kira apa yaa? :D

riritary9 : ah, syukurlaahh. Semoga gak telat lagi ya updatenyaa.. :D

kyuli 99 : okaay, gomawoo! :D

cinya : tunggu terus kelanjutannya yaa.. terimakasih :D

Annishi692 : siaapp! Gomawo :D

.

.

.

Balasan Review CHAPTER 5

Wolverdose : aduh, saya masih penulis baru loh, syukurlah kalau kamu suka. Udah dilanjut yaa.. :D

sakurah552 : jeongmal gomawo.. saya masih perlu bnyak belajar. Sdh di update! :D

Guest : Appa Kyu emg gak mau 'meminta' kyu kembali, tapi di sini siwon yang bersikeras (?) ingin membawa kyu kembali. Siwon memang dikasih tau sama appa choi, karena akan sulit jika menutupi itu dari siwon, sementara siwon di sini itu 'kepo' banget. :D gomawo!

cinya : kamu benar sekali cintaa, ya ampun akhirnya ada yang ngerti apa sebenarnya maksud sayaa.. :D *senengnya* ini udah update loh, belum sampai 3 bulan kan? :D aigoo, jeongmal gomawooo.. :'D

kyunihae : bisa jadi.. bisa jadi.. hehe.. :D

Guest : kenapa gimana? :D tunggu kelanjutannya yaahh..

kyuhae : huwaa gimana nih? :D kyuhyun di sini sakit jantung , tapi penyakitnya gk terlalu parah kok (?) .. :D

abelkyu : makasih yaa.. ini sdh saya sempatkan update sebelum saya kembali sibuk dengan urusan daftar kuliah, cari kos, dsb.. :D makasih doanya.. :'D

Kyunoi : iya tuh, siwon ngebet banget pengen ngajak kyu kembali.. :D

Songkyurina : seperti yg ada di ch.6. kibum dulu itu 'keras' sama kyuhyun. Ffnya akan lanjut terus kok.. :D

Choding : makasih doanya cintaa, amiin, amiin.. :D

Lily : sudah mulai terjawab di ch.6 kan? Ini sdh saya sempatkan update sebelum saya ngilang (?) lagi, makasih doanyaa yaa.. :D amiinn..

Nanakyu : amiin, semoga bisa terus mendukung mereka.. makasih jugaa ya cintaa.. :D

angel sparkyu : kira-kira apa yaahh? Wkwkwk :D

dd : maaf ya cintaa, saya lagi sibuk-sibuknya ngurusin kuliah, bentar lagi udah jadi mahasiswa soalnya.. amiin :D ini belum 3 bulan loh, dan udah saya sempatkan update tepat setelah UN selesai.. hayoo.. sabar yaa.. :D

Wonhaesung Love : thank you sooo mucchh.. :D

phn19 : amin, makasih buat doanya kakak... :D iya, donghae khawatir banget, di ch 6 ini udh mulai terungkap kok kisah masa lalu kibum sama kyuhyun.. :D

Emon204 : jiwon bersikap kyak gitu karena dia punya alasan, yaitu karena choi seung hwan ( dokter choi) lah yg pertama kali dekat dengan jaerim, dan lagi pernikahan jiwon dan jaerim pada awalnya emg bukan karena cinta masing2. makasih doanyaa, amin.. :D

sparkyuNee13 : amin, makasih doanya yaa.. sudah saya update sebelum 3 bulan loh ini, habis UN langsung lembur nerusin FF.. :D

dewidossantosleite : amin, makasih doanya.. :D semoga chapter ini bisa menjawab rasa penasaran kamu.. hehe :D

Sparkyubum : amin, makasih doanya yaa.. sdh sempatkan update sebelum 3 bulan loh yaa.. :D semoga ch ini bisa sedikit meringankan (?) rasa penasaran kamu.. kkk :'D

pcyckh : naah, ide yang bagus tuhh.. ! :D

michhazz : chapter ini sdh bisa menjawab pertanyaan kamu kan? :D sukses juga yaa.. :D

hyunnie02 : tunggu terus ya cintaa.. :D

dewiangel : iya, dulu kibum benci banget sama kyuhyun..

readlight : amin, makasih banyak buat doanya sayaang.. habis ini mau hiatus lagi deh kayaknya , maka dari itu aku sempetin update dulu supaya feelnya gak ngilang terlalu jauh.. :D

: amin, makasih doanya yaa.. sukses juga buat kamu.. :D

MissBabyKyu : aku menepati janji loh kak, abis UN langsung update, pulang sekolah langsung lembur sampek mata menghitam (?) makasih doanya ya kakak.. jangan lupa selalu nagih (?) ffnya ya kak... saranghae.. :D

AtikahSparkyu : ya ampun akhirnya ada yg senasib (?) :'D iyaa, saling mendoakan ya chingu, mudah2 di beri jawaban yg terbaik sama Tuhan. Amin. Ini udah langsung update loh.. :D

Desviana407 : kyuhyun di sini sakit jantung, tapi gak yang terlalu parah gitu kok.. :'D semoga appa choi gk nyerah ya.. amin, gomawo doanya eonni.. :* :D

annisah563 : maaf ya lama, saya lagi ngurusin kelulusan (?) saya. Kibum menakutkan ya? Kasian Kyuhyun. :'D

ladyelf11 : ch 6 ini pasti udah bisa menjawab kenapa hae masih ragu sama kibum. Emang belum aku jelasin kok.. :D hehe..

Cuttiekyu94 : tunggu terus kelanjutannya ya, gomawoo.. :D

Apriliaa765 : semoga ch 6 ini bisa membuat rasa bingung (?) kamu terjawab ya.. :D

Awaelfkyu13 : amin, makasih doanya yaa.. di chapter 6 ini udah mulai kebuka kok gimana masa lalu kibum dan kyuhyun seperti apa.. tunggu terus kelanjutannya yaa.. :D