Crazy for Dash Girl?
Author: Grace Jung a.k.a Jung Eun Hye
Main Cast:
Kim Jaejoong
Jung Yunho
Support Cast:
Park Yoochun
Shim Changmin
Kim Junsu
Genre: Romance, Drama
Warning: Genderswitch! abal, ga jelas, dll.
DON'T LIKE? DON'T READ THEN!
LIKE? ENJOY READING^^
.
.
.
"Memangnya kau mengenal yeoja itu hyung?" tanya Changmin mengangkat sebelah alisnya.
Yoochun langsung memasang pose cool. "Bukan Yoochun namanya kalau mencari tahu seorang yeoja saja tidak bisa, Changminnie."
Changmin ikut-ikutan mencibir lalu menyusul Yunho masuk ke dalam.
Yoochun cemberut, tapi kemudian tersenyum jahil. "By the way, tadi Kibum siapa yaa? Perasaan aku baru dengar," sindirnya keras.
"Pembantu!" sahut Changmin cuek tak kalah kerasnya. Yoochun terkekeh puas sebelum akhirnya ikut masuk ke dalam dan menutup pintu.
.
.
CHAPTER 2
.
.
Suara hingar bingar, lampu disko yang berkelap-kelip, serta alunan musik yang menghentak keras mewaranai suasana salah satu club malam di daerah Apgujeong-dong, salah satu kawasan paling trendy di Seoul.
Jaejoong meneguk sebotol bir untuk kesekian kalinya. Pikirannya benar-benar kacau dan berantakan, karenanya dia ingin melupakannya walau hanya semalam saja. Setidaknya itu alasan yang sering didengarnya jika seseorang minum-minum. Melupakan masalah.
"Joongie!"
Seorang yeoja berambut hitam panjang bergelombang menghampiri Jaejoong dengan tergesa-gesa.
"Aish, jinja! Kau ini.." yeoja itu langsung merebut botol bir yang tengah diteguk Jaejoong dan meletakannya dengan kasar di meja. Jaejoong menoleh.
"Siapa kau? Hiks.." Jaejoong cegukan dan menatap yeoja di depannya linglung.
"Mwo?! Ya! Ada apa denganmu? Tadi suruhan-suruhan kakekmu datang ke rumahku mencarimu dan barusan kau meneleponku untuk menemanimu mabuk disini?! Aku bingung, aku kira kau masih di Perancis! Kenapa kau pulang tidak mengabariku, huh?!"
Jaejoong tambah linglung. "Perancis? Tempat hiks apa itu?" dia meraih kembali botol birnya dan meneguknya.
"Ya!"
Yeoja itu merebutnya lagi, membuat sebagian isinya tumpah. Dia memperhatikan meja di depannya dan matanya langsung terbelalak mendapati empat botol bir kosong tergeletak tak beraturan di meja.
"Ka-kau.. kau meminum ini semua?!" pekiknya.
Jaejoong terkekeh. "Tentu saja, hehe.. aku hiks hebat kan."
Yeoja itu menatap Jaejoong tak percaya. Dia mendekat dan menempelkan kedua telapak tangannya ke pipi Jaejoong yang sudah memerah.
"Kau hiks sedang apa?"
"Ini benar-benar kau? Aigoo, kau yang bahkan tidak pernah minum sekalipun kuat menghabiskan ini semua? Aish, tak heran kau sampai mabuk seperti ini! Dan- omo! Kenapa rambutmu berantakan sekali?! Ya! Sebenarnya ada apa ini?!"
Jaejoong menyingkirkan tangan yeoja itu, kepalanya terkulai di meja dan matanya mulai menerawang.
"Donghae.. hiks.." ucapnya lirih.
Mata yeoja itu langsung membulat. "Donghae?" dia terdiam sebentar dan kemudian mendadak paham. "Aish, sudah kuduga akan seperti ini!"
Yeoja itu mendesah dan mencoba mengusap-usap kepala Jaejoong, tapi dengan cepat Jaejoong menepisnya.
"Wae..? WAE?!"
Yeoja itu menatap Jaejoong prihatin. Dia mengangkat kepala Jaejoong yang masih terkulai dan menatapnya lembut.
"Ada apa dengan Donghae?"
Jaejoong balik menatapnya. Suaranya mulai bergetar. "Dia.. dia menipuku! Hiks, dia menipuku!"
Jaejoong langsung memeluk yeoja di depannya itu. Pertahanan yang selama ini dibangunnya dengan susah payah runtuh seketika. Dia yang bahkan tak pernah menangisi apapun apalagi seorang namja, kini mengeluarkan air matanya hanya demi seorang Lee Donghae. Namja beruntung yang telah mencuri hatinya, dan sekaligus menghancurkannya.
.
..GJ..
.
"Cewek!"
Yoochun bersiul ketika seorang yeoja dengan pakaian seksi melewati tempat duduknya. Yeoja itu menoleh dan tersenyum manis kemudian melanjutkan langkahnya.
"Hentikan kebiasaanmu itu!" Yunho menempeleng kepala Yoochun *hobi bgt ni orang -_-*. Yoochun merengut.
"Datang kesini kalau tidak merayu yeoja sama saja percuma, tuan Jung!" jelas Yoochun sambil mengusap-usap kepalanya. Yunho mendengus lalu menyenderkan tubuhnya ke sofa, sementara Changmin hanya geleng-geleng. Entah karena mendengar ucapan Yoochun atau memang karena tengah mengikuti irama musik yang menghentak keras di club malam tempat mereka bersarang malam ini.
"Oh, come on guys! Kita kesini untuk refresing kan?" Yoochun menatap Yunho dan Changmin bergantian. Changmin menggumam tidak jelas sedang Yunho memasang wajah masam. "Ya, Yunho! Bukannya kau yang mengajak kita keluar gara-gara kesal dengan yeoja tadi?" tuntut Yoochun.
"Tapi bukan kesini, bodoh! Aish.. tempat ini membuatku tambah pusing!" Yunho beranjak dari duduknya.
"Mau kemana kau?" tanya Yoochun.
"Toilet," jawab Yunho singkat lalu segera menghilang di balik kerumunan orang-orang yang tengah berdugem ria.
Yoochun berdecak dan menatap Changmin yang tengah meneguk segelas kecil wine. "Let's dance bro!" dengan cepat dia meraih tangan Changmin dan menariknya ke lantai dansa.
Sementara itu di toilet Yunho tengah menyalakan air keran dan membasuh wajahnya. Dia mendongak. Ditatapnya bayangan dirinya di cermin dan kemudian tersenyum simpul.
"Ck, aku memang tampan," ujarnya narsis sambil merapikan beberapa helai poni rambut hitamnya. Tak lama ia berhenti dan menghela nafas sejenak.
"Kenapa tadi aku jadi marah sendiri ya? Aish, padahal kan cuma dirampas dan dilempari hoodie? Ckck.." Yunho menggeleng-gelengkan kepalanya. "Calm down, Yunho.. calm down.."
Usai berkata begitu Yunho mengelap wajah dengan tangannya. Dia menatap bayangannya di cermin sekali lagi sebelum akhirnya beranjak keluar dari toilet. Tapi tinggal beberapa langkah lagi menuju tempatnya, tanpa sengaja dia menabrak seseorang. Yunho terjatuh, begitu pula dengan orang itu. Ah, anii.. lebih tepatnya orang-orang itu.
"Aish…" Yunho meringis sambil mencoba berdiri.
"Ah, cheosonghamnida.. saya tidak seng-omo, Jaejoong!" yeoja yang menabrak Yunho tadi segera membantu berdiri seorang yeoja lagi yang sepertinya juga ikut terjatuh. Dia mengangkat yeoja itu tetapi badan yeoja itu limbung sehingga keduanya tak ayal terjatuh.
"Aish, jinja!"
Yunho memandang aneh kedua yeoja itu. Ingin tertawa tapi rasanya tidak sopan.
"Maaf, apa yang terjadi dengan temanmu ini?" tanya Yunho akhirnya.
"Eh?" Yeoja itu mendongak sambil masih berusaha mengangkat teman yeojanya itu. "Oh, mianhae, dia mabuk dan aku tidak kuat membawanya. Makanya tadi aku tidak lihat-lihat jalan. Cheosonghamnida," yeoja itu sedikit membungkuk.
Yunho tersenyum. "Gwenchana.. mari kubantu," Yunho berjongkok dan membantu mengangkat teman yeoja itu. Tapi seketika itu juga senyumnya hilang dan matanya sedikit membelalak begitu melihat hoodie bermotif belang abu-abu hitam yang dikenakan teman yeoja itu. Yunho segera mengamati wajahnya.
"Aish! Yeoja ini..."
.
.
"Ringan sekali..berapa sih berat badannya?" Yunho mencoba mencairkan suasana yang sedari tadi terasa kaku. Dia beserta yeoja tadi tengah berjalan menuju tempat parkir.
Yeoja itu menoleh dan menatap temannya yang tengah tak sadarkan diri di dalam gendongan Yunho. Dia tersenyum samar.
"Entahlah, yang jelas dia bukan orang yang gampang gemuk," yeoja itu beralih menatap Yunho. "Sekali lagi mianhamnida, jadi merepotkan anda."
Yunho menggeleng seraya tersenyum. "Gwenchana. Oya, siapa namamu? Kau bisa memanggilku Yunho, Jung Yunho," Yunho mengulurkan tangannya. Yeoja itu menyambutnya.
"Yunho? Nama yang bagus," komentar yeoja itu. "Aku Kim Junsu, dan yang kau gendong itu sahabatku, namanya Kim Jaejoong."
Jaejoong? Bagus juga, walaupun sayang tidak sebagus sikapnya. Berani sekali dia melempariku hoodie? Sudah begitu mengambil punyaku tanpa terimakasih lagi, dasar! gerutu Yunho dalam hati, meski begitu wajahnya masih mengulas senyum.
Mereka sampai di tempat parkir. Yunho celingak-celinguk. "Yang mana mobilmu, Junsu-ssi?" tanyanya.
"Eh?" Junsu ikut celingak-celinguk. Dia terlihat bingung sebelum akhirnya dia memekik dan menepuk dahinya.
"Omo, omo! Aku lupa aku tidak bawa mobil!" serunya seraya menatap Yunho. "Tadi aku sedang di kedai dekat rumah saat Jaejoong memintaku kesini. Aku buru-buru jadi tidak sempat mengambil mobil di rumah dan langsung menyetop taksi yang lewat," jelas Junsu panjang lebar. "Aigoo~ otto-" ucapannya terhenti begitu ringtone ponselnya berbunyi.
A whole new world~ a new fantastic point of view~
"Ah, maaf!" Junsu segera mengangkat teleponnya. "Yeoboseyo? Ne? Aku di The Cloud.. kau di sekitar sini? Sedang ap-MWORAGO?! Ya! Jangan coba bercanda denganku ya! Oppa sedang mengerjakan tugas di rum- ya! YA!"
Junsu menutup ponselnya kesal sekaligus panik. Dia mendongak menatap Yunho yang balik menatapnya penuh tanya.
"Ada ap-"
"Boleh aku meminta bantuanmu Yunho -ssi? Kumohon!" Tanpa menunggu jawaban Yunho, Junsu langsung mengubek-ubek *bahasanya ga enak bgt* tasnya, mengambil dompet, lalu mengeluarkan sebuah kartu nama. Dia meletakkan kartu itu di tangan Yunho yang kebingungan.
"Apa maks-"
"Itu kartu namaku! Besok hubungi aku, arraseo? Tolong titip Jaejoong, aku ada urusan mendadak! Mohon bantuannya! Annyeong!"
Junsu langsung melesat pergi. Yunho terdiam sejenak, mencerna apa maksud perkataan yeoja itu.
"Hubungi besok? Titip? Annyeong? Ng, tunggu dulu.. titip dia bilang?" Yunho menoleh ke belakang, ke arah seorang yeoja mabuk yang tengah tertidur pulas di punggungnya. Yunho terkesiap, dia buru-buru menghadap depan untuk memprotes, walaupun ia tahu akan percuma karena Junsu sudah menjauh.
"Ya! Tunggu kau! Hey!"
.
..GJ..
.
"Kemana anak itu?" Yoochun mengernyit heran sekembalinya dia dan Changmin dari aktivitas 'ajep-ajep' ke tempat duduk mereka. Changmin celingak-celinguk.
"Molla.. sedang makan mungkin?" tebaknya asal.
Yoochun mendengus. "Kalau kau baru aku percaya," ujarnya acuh seraya mengenyakkan diri di sofa. Changmin memanyunkan bibirnya lalu ikut duduk.
Purple line let me set up my world~
Yoochun merogoh saku dan mengambil ponselnya. Matanya menyipit melihat caller id di layarnya.
Jung calling...
"Kenapa dia? Jangan-jangan tersesat?" gumamnya gaje.
"Nugu?" tanya Changmin.
Yoochun mengangkat bahu, lalu mengangkat teleponnya.
"Ada ap-"
"Cepat ke parkiran sekarang!"
Tut.. tut.. tut..
Yoochun menurunkan ponselnya. Dia menatap Changmin bingung.
"Wae?" Changmin ikut bingung.
"Yunho. Entahlah, sepertinya terjadi sesuatu," Yoochun meneguk gelas wine miliknya sampai habis kemudian berdiri. "Kajja!"
Mereka berdua berjalan tergesa-gesa menuju tempat parkir dan langsung menghampiri Yunho yang tengah bersandar di mobilnya dengan tampang kecut.
"Ada apa?"
"Ayo pulang!" tanpa basa-basi Yunho segera masuk ke dalam mobil. Yoochun dan Changmin bertukar pandang bingung tapi kemudian sama-sama mengangkat bahu tanda tak tahu. Mereka bergegas masuk mobil, Yoochun di depan bersama Yunho dan Changmin di belakang. Changmin membuka pintu dan hendak masuk ketika tiba-tiba ia memekik.
"Ya! Yunho hyung! Apa ini?!" serunya histeris.
Yunho menoleh malas sementara Yoochun yang ikut menoleh langsung melotot dengan mulut menganga. Ia menatap Yunho tak percaya.
"Ya.. Yunho.. ka-kau.. menculik seorang yeoja? Omo~ apa yang kau- auw!" Yunho menempeleng kepala Yoochun sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya.
"Jangan berpikiran macam-macam! Ayo cepat masuk!" tambahnya pada Changmin yang masih terpaku di pintu.
"Ah, ne!"
Dengan sedikit ragu, Changmin akhirnya masuk dan duduk di sebelah yeoja yang tengah tertidur menyandar di jok mobil Yunho itu.
Mobil mulai melaju, dengan ketiganya yang terdiam satu sama lain. Yoochun dan Changmin berkali-kali saling lirik dengan tatapan bertanya-tanya, tidak berani mengusik Yunho yang kelihatannya memang enggan berkomentar.
.
..GJ..
.
Yunho memarkirkan mobilnya di basement gedung apartemennya, setelah sebelumnya mengantar pulang Yoochun dan Changmin yang sebenarnya ogah-ogahan karena masih penasaran tentang yeoja yang dibawa Yunho. Tapi dengan jurus tatapan mautnya, dua makhluk itu akhirnya mengkeret dan langsung nurut.
Yunho keluar dari mobilnya dan membuka pintu belakang tempat Jaejoong masih terlelap tak sadarkan diri. Yunho menghela nafas sejenak lalu dengan hati-hati menarik Jaejoong keluar dan menggendongnya sampai apartemen.
Sesampainya di dalam, Yunho menghidupkan lampu kamarnya. Perlahan dia merebahkan tubuh Jaejoong di atas kasur. Ditatapnya yeoja itu sambil menggeleng-gelengkan kepala frustasi.
"Aigoo~ salah apa aku sampai sial begini, huh?" keluhnya. Ia mendesah panjang dan mulai beranjak ketika tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ia berbalik dan mendekati Jaejoong.
"Mumpung dia disini, kulepaskan saja," Yunho mencondongkan tubuhnya ke arah Jaejoong dan dengan hati-hati berusaha melepaskan hoodie miliknya yang masih melekat pada tubuh yeoja itu. Tapi ternyata itu tidak semudah yang dia perkirakan karena perlakuannya itu justru membuat Jaejoong sedikit menggeliat dan alhasil membuat tangan Yunho tertindih pinggangnya.
"Aish!"
Yunho mencoba melepaskan tangannya tapi malah membuat tubuh Jaejoong makin menggeliat dan... bukannya terlepas, tangan Yunho justru tetap tertindih dan sekarang menjadi terletak persis dibawah dada Jaejoong yang tengah menelungkup.
Yunho meneguk air liurnya. Tubuhnya –terutama bagian bawahnya tiba-tiba terasa menegang. Tangannya pun terasa kaku dan tidak bisa digerakkan meski hanya untuk bergeser sepanjang 1 mm. Yunho dengan cepat menggeleng-gelengkan kepalanya, menghapus pikiran-pikiran negatif yang mulai bergelayut di otaknya. Apa yang kau pikirkan, bodoh?
Dengan satu sentakan, Yunho berhasil menarik tangannya dari tindihan Jaejoong. Bisa dirasakannya kini tangannya terasa hangat. Yunho menatap intens tangannya itu tapi dengan cepat menggeleng-gelengkan kepalanya lagi.
"Aish, micheoseyo!"
Akhirnya Yunho hanya memandang pasrah hoodie yang tak jadi diambilnya itu.
.
..GJ..
.
Jaejoong mengerjap-ngerjapkan matanya, sinar matahari yang merembes masuk membuat matanya sedikit silau. Dia menggeliat sejenak, lalu perlahan bangun dari tidurnya. Kepalannya terasa berat sekali. Dia memijit-mijit kepalanya dengan satu tangan, sementara tangan yang lain meraba-raba meja nakas disebelah kasur mencari ponselnya, kebiasaan yang selalu dilakukannya tiap bangun tidur.
Tapi aneh, tangannya tidak menangkap apa-apa selain sebuah lampu meja. Jaejoong yang masih setengah merem setengah melek mengernyitkan dahi heran. Dia membuka matanya dan memfokuskan pandangannya ke meja kecil itu. Dahinya tambah mengkerut. Ponselnya tidak ada.
Jaejoong meraba-raba kasurnya, dan menemukan ponselnya tergeletak tak jauh darinya. Dia segera mengambilnya, dan saat itu juga dia menyadari sesuatu. Sejak kapan kasurnya seperti ini? Siapa yang menggantinya? Bukankah dia sudah bilang jangan mengubah apapun yang ada di kamarnya selama dia berada di Perancis? Berani sekali pelayan itu!
Jaejoong turun dari kasurnya, berniat untuk menyemprot semua pelayannya. Tapi seketika itu juga dia berhenti.
"Mmmm?" gumamnya bingung sambil mengamati sekitarnya. Sejak kapan kamarnya kecil seperti ini? Cat dinding, properti, furnitur-furnitur... kenapa semuanya berubah? Tunggu... dimana ini?
Tanpa ba bi bu Jaejoong keluar dari kamar dan lagi-lagi matanya tercengang mendapati pemandangan di depannya. Oke, ini bukan rumahnya -karena tidak mungkin rumahnya sekecil ini-, bukan juga rumah Junsu atau Kibum sahabatnya, dan sepertinya ini juga bukan rumah salah satu teman laki-lakinya karena sekarang dia sungguh tidak familiar dengan wajah seorang namja yang tengah terlelap di sebuah sofa tepat di depannya.
Pertanyaannya sekarang: siapa namja itu, dan kenapa dia bisa ada disini?
Jaejoong berjalan mendekati namja itu. Dia berjongkok di samping sofa dan mengamati lekuk wajah namja itu. Tampan juga, batinnya. Tiba-tiba mata namja itu terbuka, membuat Jaejoong kaget dan segera berdiri.
"Siapa kau?" tanya Jaejoong langsung tanpa basa-basi.
Namja itu beranjak dari sofa dan menatap Jaejoong malas. "Kau sudah bangun? Baguslah, bersiap-siaplah pulang, aku akan menelepon temanmu."
Namja itu meraih ponsel di meja dan kemudian merogoh saku celananya mengeluarkan sebuah kertas kecil seperti kartu nama.
Jaejoong menatap namja yang bahkan cuek dengan keberadaannya itu dengan tatapan tak percaya. Namja itu buta, pura-pura tidak tahu, atau memang tidak tahu dirinya sekarang berhadapan dengan siapa?
"Kau tidak mengenalku?" tanya Jaejoong akhirnya.
Namja itu mendongak, dan menatap Jaejoong aneh.
"Kenapa aku harus mengenalmu, agasshi?" jawabnya sopan, meski lebih menyerupai pertanyaan sekaligus sindiran.
Jaejoong sekarang membulatkan matanya tak percaya. Apa-apaan namja ini? Haloooooooo, siapa yang tidak mengenal dirinya, wanita paling berpengaruh di Korea Selatan bahkan Asia? Namja ini sepertinya benar-benar tidak up to date soal news.
"Begitu?" Jaejoong memutuskan untuk mengabaikannya. "Baguslah, setidaknya aku bisa merasa lebih nyaman," Jaejoong mengenyakan dirinya di salah satu sofa dan menyilangkan kakinya.
"Aku lapar, buatkan aku makanan," perintahnya seraya menghidupkan televisi dan mulai mengganti-ganti channel.
"Mwo?"
.
.
Yunho menatap yeoja di hadapannya itu tak habis pikir. Siapa dia, kenal tidak sudah berani-berani memerintahnya?
"Hahh, kau pikir siapa aku, pembantumu? Buat sendiri!" sahutnya ketus.
Jaejoong tak bergeming, dia malah menambahkan, "jangan sampai ada tomat dan udang dalam makananku, arraseo?"
Oke, yeoja ini benar-benar gila.
"Kuperingatkan agasshi, ini rumahku dan kau tak berhak menyuruh-nyuruhku. Kau tidak pernah diajari sopan santun, eh?" Yunho menaikan sebelah alisnya sembari melipat kedua tangannya di depan dada.
Jaejoong berdiri dan berjalan menghampiri Yunho. Dia mendekatkan wajahnya hingga jarak antara wajah mereka hanya tersisa 10 cm. Matanya menatap tajam mata Yunho, tak menunjukkan rasa takut atau apa pun, membuat Yunho sedikit jengah.
"Kau benar, aku tidak pernah diajari sopan santun," lirihnya. Bisa Yunho rasakan bau alkohol yang menyeruak masuk ke hidungnya. "Jadi sekarang lebih baik kau cepat laksanakan perintahku sebelum aku melakukan hal yang tidak-tidak. Tentunya kau masih ingat kan apa yang kusuruh tadi? Kuharap kau mengingatnya karena aku tidak akan mengulang kata-kataku untuk kedua kalinya, arraseo?" jelasnya pelan namun penuh tekanan. Setelah itu dia menjauhkan wajahnya dan kembali duduk.
Yunho mendengus. Hebat sekali gaya memerintah yeoja ini? Hah~ Dia menghembuskan nafas berat. Tampaknya tak ada gunanya menentang yeoja ini. Dengan terpaksa dia berjalan masuk ke dalam dapur. Dia menatap ponsel yang sedari tadi digenggamnya. Terpampang di layar beberapa deret nomor yang baru ia masukkan tadi. Ditekannya tombol hijau dan ditempelkannya ponsel itu ke telinganya.
"Yeoboseyo?"
"Yeoboseyo, Junsu-ssi?"
"Ne, nugu shimnika?"
"Ini aku Yunho. Kau masih ingat?"
"Yunho? Yunho.. Ah! Yunho! Ne, ne, aku ingat. Ada apa Yunho -ssi?"
Ada apa? Aish, dua teman ini memang tidak ada yang benar. Satu kasar, satu lemot =,=
"Kau tidak melupakan sesuatu, Junsu-ssi?" pancing Yunho.
"Sesuatu?"
"Ne. Seperti bagaimana kau mengenalku dan kenapa aku tahu nomormu."
"Bagaimana aku mengenalmu? Tentu saja karena kemarin kita bertemu di club dan kau membantuku membawa Jaejoong, bukan begitu? Lalu masalah nomor kalau tidak salah aku juga memberimu kartu namaku."
Yunho mencoba sabar. "Lalu, kalau boleh tau apa alasanmu memberiku kartu namamu?"
"Ngg? Agar kau dapat menghubungiku dan aku bisa menjemput Jae-omo! Jaejoong! Ya Yunho -ssi! Dimana Jaejoong?!"
Yunho menutup teleponnya setelah sebelumnya memberitahukan Junsu alamat apartemennya. Dia berbalik dan mengamati Jaejoong. Dapurnya semi terbuka sehingga ia bisa dengan mudah melihat ruang tengah yang terletak persis di depan dapur.
Yeoja itu masih duduk manis sambil menonton siaran olahraga. Yunho menatap lekat-lekat wajah Jaejoong. Baru kali ini dia benar-benar fokus pada wajah itu. Aneh, dia baru sadar kenapa sepertinya wajah itu kelihatan tidak asing?
Yunho mengangkat bahunya, memutuskan untuk tidak terlalu peduli. Dia kembali berbalik dan mulai menyiapkan sarapan.
"Sudah kubilang aku pernah melihatnya!"
Pintu depan terbuka, dan muncullah Yoochun dan Changmin yang sedang sibuk berdebat.
"Tentu saja kau pernah melihatnya, dia kan yeoja yang kemarin berteriak-teriak itu!"
"Bukan! Kalau itu sih aku tahu. Tapi sepertinya aku memang sering melihatnya. Siapa ya?"
"Aish, jangan-jangan dia malah salah satu dari yeoja-yeoja yang sering kau godai, hyung."
"Tidak mungkin, biar begini aku hafal semua yeoja yang aku kenc-" ucapan Yoochun terhenti. Dia dan Changmin hanya melongo begitu melihat objek pembicaraan mereka tengah duduk santai di sofa apartemen Yunho.
"Oww.."
.
.
.
To be continue...
