-You, and The Time-

Cast : Cho Kyuhyun as Kim Kyuhyun

Kim Kibum as Kim Kibum

Lee Donghae as Kim Donghae

Choi Siwon of Super Junior as Choi Siwon

Kim Ji Won [OC]

Choi Seung Hwan [OC]

Kim Jae Rim [OC]

Warning : sorry for typo(s).

.

.

PREVIEW CH SEBELUMNYA :

"Appa..."

Dokter Choi mengangguk—masih menatap Kyuhyun.

"Appa, apakah aku benar-benar anak kandung Appa?" Raut Kyuhyun berubah sendu.

"Tentu saja, tentu saja Kyuhyun-ah. Kau boleh memukul Appa jika Appa berbohong."

Dokter Choi tersenyum hangat. Sakit—hatinya sudah seperti ditusuk ratusan pisau saja. Ia berusaha keras menahan air mata yang mendesak keluar, ia tak boleh menangis, sama sekali tak boleh.

"Pegang tanganku, Appa." Kyuhyun mengulurkan tangannya yang terlihat bergetar.

Dokter Choi hanya menghela napas sebelum ia benar-benar menggenggam tangan Kyuhyun begitu erat. Ia benar-benar tak bisa menahannya lagi—dipeluknya Kyuhyun begitu erat, diciumnya sayang kepala Kyuhyun.

"Akhirnya Appa bisa memelukmu lagi, Kyuhyunie." Dokter Choi memejamkan matanya.

.

.

CHAPTER 8 – HAPPY READING!

"Appa, sudah, kita harus segera mengobati Kyuhyun."

Siwon sedikit memaksa sang ayah untuk menyudahi adegan berpelukannya dengan Kyuhyun. Sungguh Siwon merasa jengkel saat ini, ia tak habis pikir sang ayah akan mencuri kesempatan di tengah kondisi Kyuhyun yang seperti ini—belum lagi Donghae yang hanya terdiam bingung menyaksikan itu semua.

Dokter Choi terperangah setelah menyadari bahwa Siwon tengah menatapnya dengan tatapan tidak suka. Pria itu mencoba mengumpulkan kesadarannya dengan segera.

"Baiklah, Kyuhyunie berikan tanganmu." Perintah Dokter Choi dengan sabar.

Kyuhyun tampak bingung setelahnya—ia kemudian mengulurkan tangannya dengan ragu. Siwon yang menyadari itu tampak dengan sigap segera menyuntikkan sesuatu pada lengan Kyuhyun. Tidak ada ekspresi apapun dari wajah Kyuhyun, ia hanya mengamati Siwon dengan tatapan datar.

"Kau harus banyak beristirahat, berbaringlah." Siwon mencoba membantu Kyuhyun berbaring di ranjangnya, namun tiba-tiba Kyuhyun menghindar—seperti takut pada Siwon.

"Appa, siapa dia? Mengapa dia datang bersama Appa?" Kyuhyun berbicara dengan nada tidak suka sambil tetap menatap Siwon tajam.

"Kyuhyunie, kau sudah kelelahan. Kau harus beristirahat, ayo berbaringlah."

"Tidak mau."

"Tapi Kyu-"

"Aku rindu dengan Appa, aku ingin melihat Appa. Mengapa Appa tak pernah pulang? Lalu Eomma, aku juga merindukannya. Mengapa Appa dan Eomma meninggalkanku begitu saja?"

Ketiga pria di ruangan itu tampak terdiam setelah mendengar perkataan polos Kyuhyun. Dokter Choi yang tampak tak bisa berkata-kata lagi, Siwon yang manatap Kyuhyun dengan tatapan sedih, juga Donghae yang kini mulai terisak.

"Cukup, Kyu! Kau ini kenapa?! Sadarlah, mereka tidak ada di sini! Appa dan Eomma sudah meninggal, mereka tak akan kembali." Donghae berteriak putus asa disamping Kyuhyun—ia sungguh tak bisa menahan emosinya.

"Tidak, Appa dan Eomma belum meninggal! Aku bersama Eomma tadi malam, dia bahkan tidur disampingku. Kau bohong! Appa disini, dia di depanku sekarang, apa kau juga tak bisa melihatnya, huh?" Air mata Kyuhyun berjatuhan—nada suaranya terdengar sangat menyedihkan. "Appa, apakah dia buta sampai-sampai dia tak bisa melihat Appa disini?!"

Dokter Choi memalingkan wajahnya—tak sanggup menatap wajah Kyuhyun yang sudah merah padam.

"Appa, jawab aku!

Donghae hanya berdecak keras, ia meremas rambutnya sendiri dengan gerakan kasar, ia kembali terisak.

"Appa, kenapa Appa tak menjawabku?!" Kyuhyun berteriak keras-keras di depan Dokter Choi yang seketika juga langsung melebarkan matanya karena terkejut.

"Tidak, tidak. Iya, iya, Appa disini, Kyu. Appa disini, jadi tenanglah. Tenang, kendalikan emosimu."

Kyuhyun terdiam—mencoba menarik nafas dalam-dalam ketika ia merasa dadanya terasa sakit dan menyesakkan—sampai beberapa saat kemudian ia merasa tubuhnya seperti melayang, seperti sangat nyaman sehingga tubuhnya jatuh begitu saja di pelukan Dokter Choi.

"Obatnya sudah bekerja. Kyuhyun harus beristirahat." Ucap Dokter Choi dengan tenang.

"Hyung! Kyuhyunie! Ada apa ini?"

Suara Kibum tampak menggema di dalam ruangan itu—membuat tiga orang yang berada di dalamnya terkejut bukan main, terlebih ketika melihat Kibum datang dengan wajah pucat pasi.

"K-Kibum?" Mata Donghae terbuka lebar-lebar.

"Oh Tuhan, aku melupakan Kibum." Lanjut Donghae dalam hati.

Ya, Donghae melupakan Kibum—lagi.

.

.

.

.

"Sepertinya Kyuhyun memang memiliki trauma. Maafkan aku Hae, aku juga belum terlalu yakin, tapi kejadian pagi ini sama sekali tak berdampak pada kondisi tubuh Kyuhyun, semuanya normal ketika aku memeriksanya. Kyuhyun pernah mengalami hal semacam ini ketika kecil dulu, tapi itu hanya karena dia terlalu stress—itu murni dari kondisi psikologisnya. Dan bukankah aku sudah memberitahumu bahwa Kyuhyun harus beristirahat total selama beberapa hari, Hae? Apa dia tidak menuruti kata-katamu? Dia belum pulih sepenuhnya."

Donghae terdiam setelah mendengar perkataan dari Dokter Choi. Ia meremas tangannya sendiri, raut wajahnya terlihat bingung—seperti memikirkan sesuatu.

"Ah, Dokter Choi bolehkan aku menceritakan sesuatu."

Dokter Choi mendongak—sedikit terkejut pada perkataan Donghae yang tiba-tiba.

"Tentu saja."

"Maafkan aku, sebenarnya kemarin aku mengajak Kyuhyun ikut dalam acara makan malam bersama para petinggi perusahaan, aku juga mengajak Kibum, tapi sesuatu yang buruk terjadi."

"Sesuatu yang buruk? Bisakah kau ceritakan apa itu, Hae?"

Mulai dari rekan kerja Appanya itu, Kyuhyun yang pergi dari acara makan malam itu tanpa berkata apapun, hingga ia berusaha menjelaskan semuanya pada Kyuhyun—semuanya, Donghae menceritakan semuanya.

"Aku berpikir mungkin itu yang menyebabkan Kyuhyun tertekan bahkan sampai dia tak bisa mengenaliku, Hae. Kyuhyun begitu merindukan Kim Jiwon, aku bisa melihatnya. Tapi... maafkan aku, Hae."

"Maaf? Apakah ada yang salah, Dokter?"

"Tidak. Setelah kejadian tadi, aku merasa bersalah padamu. Aku tiba-tiba memeluk Kyuhyun dan mengaku kalau aku adalah ayahnya. Ah.. aku lancang sekali." Dokter Choi tersenyum kecil. "Aku hanya berusaha menenangkan Kyuhyun, aku mencoba mengikuti emosinya, Hae. Dan kupikir tidak ada cara yang lain lagi. Sekali lagi maafkan aku. Aku berjanji aku tidak akan lancang lagi di depanmu juga Kibum, aku... aku bukan siapa-siapa di sini." Dokter Choi menunduk—menyembunyikan senyum pedihnya.

Donghae terpaku—terdiam menatap Dokter Choi dengan tatapan sedih.

"Mengapa kau menatapku seperti itu, Hae?" Ucap Dokter Choi lirih sambil menatap ragu kearah Donghae.

"Mengapa Dokter Choi berbicara seperti itu?" Donghae tersenyum teduh.

Dokter Choi akhirnya memberanikan diri menatap Donghae yang tengah tersenyum padanya.

"Dokter Choi telah mendampingi Kyuhyun bertahun-tahun, tidak, bahkan sejak Kyuhyun lahir sampai Kyuhyun sebesar ini. Bukankah Dokter Choi telah menganggap Kyuhyun sebagai putra Dokter sendiri?"

"Kyuhyun memang putraku, Donghae-ya."

Dokter Choi meremas tangannya sendiri dengan begitu erat, ia menunduk—lagi. Andai saja Donghae tau apa yang sedang Ia rasakan.

"Dokter Choi, tolong jawab aku."

"Ah.. t-tentu saja, Hae. Kau, Kibum, juga Kyuhyun—semuanya, aku sudah menganggap kalian sebagai putraku sendiri."

"Lalu mengapa Dokter Choi berbicara seperti itu? Bukannya aku tidak tau, tapi aku memang hanya diam selama ini. Sejak Kyuhyun lahir, Dokter Choi menjadi sering sekali datang ke rumah kami. Aku tau Dokter Choi sudah sangat mengerti dengan keadaan keluarga kami—bagaimana hubunganku dengan Kyuhyun dan Kibum, aku yakin Dokter Choi sangat memahami hal itu. Tapi nyatanya Dokter Choi tak pernah ikut campur dengan urusan keluarga kami. Aku melihat Dokter Choi dalam dua hal—pertama adalah sebagai teman sejati Appa yang mengerti kapan dimana harus ikut campur dan tidak ikut campur, kedua adalah sebagai seorang Dokter yang selalu sabar dan setia menolong pasiennya tak peduli apapun kondisinya."

Ruangan itu hening sesaat—Donghae menghentikan perkataannya.

"Dokter Choi dan Appa—kupikir keduanya sama-sama hebat."

Dokter Choi menangis dalam hati, ia seperti tak sanggup mendengar perkataan Donghae. Rahasia besar itu benar-benar masih tersimpan rapi—rahasia yang mungkin saja bisa menghancurkan keluarga Kim masih tertutup rapat-rapat bahkan setelah bertahun-tahun.

'Maafkan aku, Donghae-ya. Aku bahkan tidak bisa memberitahumu tentang kenyataan yang amat menyedihkan ini. Kau bahkan tidak tau bahwa sebenarnya aku adalah seorang pria yang sangat buruk. Aku menghamili Kim Jaerim—Eommamu sendiri—ketika Ia masih berstatus sebagai istri Kim Jiwon. Bukankah aku benar-benar pria yang 'brengsek?' Lalu tentang cerita bahwa Kim Jiwon adalah sahabat baikku—itu semua bohong Donghae-ya. Jiwon dan Jaerim mengatakan itu agar aku bisa dekat dengan Kyuhyun secara leluasa.' Ucap Dokter Choi, dalam hati.

"Sejak Appa dan Eomma pergi, rasanya hidupku terseok-seok. Aku dan adik-adikku hancur—kami seperti ingin mati saja saat itu. Tetapi kemudian aku memikirkan banyak hal—kondisi Kyuhyun, sekolah Kibum yang belum selesai, perusahaan Appa, dan banyak hal lain. Lalu karena terlalu banyak tekanan, aku sama sekali tak dapat memikirkan hal lain selain aku harus 'bangkit' lebih cepat dari adik-adikku. Aku hanya berpikir aku harus mengawali semuanya. Aku harus berdiri lebih dulu, lalu aku bisa menggandeng adik-adikku untuk berdiri bersamaku juga. Bukankah begitu Dokter Choi?" Donghae terisak.

Dokter Choi refleks menepuk bahu Donghae yang bergetar itu.

"Ya, benar Donghae-ya. Kau sudah mengambil keputusaan yang sangat tepat, kau anak yang begitu dewasa. Jiwon pasti bangga sekarang, putranya telah tumbuh menjadi orang yang kuat dan dewasa. Semuanya mampu kau lalui dengan sangat baik, jadi sekarang kau tak perlu khawatir. Hari-hari menyedihkan itu telah berlalu, Donghae-ya."

"Terimakasih, Dokter Choi. Kuharap Dokter dan Siwon bisa sering berkunjung ke rumah kami. Tapi Dokter Choi, bisakah aku memohon sesuatu?"

"Aku akan melakukannya selama aku bisa, Donghae-ya."

"Ku mohon tetap dampingi Kyuhyun. Dia begitu membutuhkanmu...Dokter Choi. Sampai akhir—sampai akhir hidupnya, kumohon tetap jaga dia seperti ini." Air mata Donghae akhirnya jatuh.

Tak perlu banyak kata bagi Dokter Choi untuk menerima permintaan Donghae—pria itu hanya mengangguk sambil menatap Donghae dengan penuh kasih. Ya, bukankah seorang ayah harus seperti itu?

.

.

'Kyuhyun-ah, bukannya aku ingin meliarkan pikiran burukku ini, tapi... aku juga tak bisa membohongi diriku sendiri dengan kenyataan yang ada. Aku tau, sewaktu-waktu kau bisa saja pergi—bahkan tanpa kata-kata sekalipun. Ketika kau tengah tertidur nyenyak pun, aku sadar kau juga bisa tak membuka matamu lagi. Tapi Kyuhyun-ah.. namamu tak pernah tertinggal dalam setiap doaku. Setiap hari, setiap waktu.' –Kim Donghae.

.

.

.

.

Kibum termenung memandangi Kyuhyun yang tampak tertidur dengan tidak nyaman, ia sesekali menepuk-nepuk pundak Kyuhyun ketika adiknya itu mulai gelisah. Disampingnya, Siwon justru sibuk membereskan peralatan medisnya, sesekali ia memandangi Kibum yang tampak termenung sejak tadi.

"Bum, jangan melamun seperti itu." Sapa Siwon lucu.

"Ah, tidak." Kibum terkekeh pelan.

"Kau kemana saja tadi? Adikmu mengamuk seperti orang kesetanan." Siwon terkekeh.

"Aku? Aku dibelakang. Tidak dengar." Kibum tersenyum.

Singkat—Kibum memang tak ingin membahasnya lagi. Sejak tadi pagi ia memang sibuk membantu Donghae. Mulai dari membersihkan rumah sampai memasak. Tadi Donghae memang menyuruhnya untuk membersihkan dapur lalu membuang sampah di belakang rumah, tapi setelah melihat keadaan belakang rumah yang begitu berantakan, hati Kibum akhirnya tergerak untuk membersihkan tempat itu—lagipula apa salahnya? Toh selama ini Donghae-lah yang membersihkannya.

"Aku baru tau, ternyata Kyuhyun mengerikan ketika marah. Dia memang jarang marah kan, Bum? Ah, bukan jarang, tapi tidak boleh marah."

"Ya, tidak baik untuk jantungnya."

Siwon yang sudah selesai mengemasi barangnya itu akhirnya ikut duduk di dekat Kyuhyun yang tengah berbaring. Siwon mengamati Kibum yang masih termenung itu.

"Tidak apa-apa, mungkin Donghae terlalu panik sampai-sampai tak sempat memanggilmu."

Kibum tersinggung—ia tersenyum terpaksa, lagi.

Oh, sepertinya Siwon salah bicara.

"Tidak. Aku tidak mempermasalahkan itu." Bohong Kibum.

"Kau berubah banyak, Bum. Aku bangga padamu."

Kibum hanya tersenyum, sangat canggung. Ternyata percuma saja ia berubah, dunia masih tetap jahat padanya. Bukan begitu?

'Kau salah, Bum. Seharusnya kau tak perlu berubah, karena keadaannya akan sama saja. Mereka akan tetap melupakanmu. Kyuhyun tetap menjadi yang pertama.'Batin Kibum.

"Sekali lagi terimakasih, Bum. Aku... aku mohon jaga Kyuhyun untukku. Bersabarlah, aku akan berusaha untuk menyembuhkannya." Ucap Siwon dengan nada begitu tulus.

"Aku akan menjaganya selama aku bisa, Hyung." Jawab Kibum ragu.

'Tidak Bum, kau tidak boleh kembali seperti dulu lagi. Kau sudah berjanji pada Appa dan Eomma, jangan buat mereka menyesal. Tidak, kau tidak boleh seperti ini.'Kibum menghela napas berat.

Tak ada yang menyadari, 'monster' itu rupanya kembali menyeret Kibum—dengan perlahan.

.

.

.

.

FLASHBACK

Itu ketika belum ada yang tau bahwa Kibum jahat pada Kyuhyun. Itu juga ketika Kyuhyun telah mencapai batas kekuatannya. Emosi keduanya memuncak pada malam itu, malam mengerikan yang mambuat kedua hati kakak-beradik itu terluka—luka yang tak bisa sembuh oleh apapun, bahkan oleh waktu.

.

.

"Bagus, rupanya kau benar-benar menepati janjimu, hm? Appa dan Eomma masih saja percaya kalau aku benar-benar baik padamu—padahal tidak seperti itu." Kibum tersenyum mengerikan kepada seseorang yang sedang tertidur dengan lelapnya.

Kibum masuk kemudian menutup pintu kamar Kyuhyun dengan perlahan.

"Ah, nyenyak sekali tidurmu." Kibum masih tersenyum dengan licik.

Dengan gerakan yang masih perlahan, ia menarik selimut yang menutupi tubuh adiknya.

"Sungguh, aku tak ingin berlama-lama lagi Kyuhyun-ah."

Kibum hanya menunggu beberapa saat hingga seseorang yang tengah tertidur itu merasa terusik, hingga tak butuh waktu lama untuknya terbangun dan menyadari siapa yang tengah mengganggu tidurnya yang nyaman.

"Kau kedinginan, hm?"

Kibum menggoyangkan selimut tebal yang kini telah berada dalam genggamannya.

"Berikan padaku." Tangan Kyuhyun bergerak cepat mengambil selimut tebal dari tangan Kibum—tapi tetap saja ia kalah cepat dengan Kibum yang telah lebih dulu membuangnya dengan asal.

Kesadaran Kyuhyun akhirnya terkumpul sepenuhnya, ia menatap Kibum dengan tatapan tak suka.

"Kau marah padaku?" Kibum tersenyum samar ketika ia mendapati sang adik tengah menatapnya tajam.

"Kenapa kau menggangguku lagi? Aku tak pernah mengatakan sikapmu yang seperti ini pada Appa, Eomma, ataupun Donghae Hyung. Itu tak cukup?"

Kibum menggeleng-geleng mendengar perkataan Kyuhyun.

"Bukan, bukan itu Kyuhyun-ah. Cukup, itu sudah sangat cukup bagiku. Tapi... ini lain.. aku tak berniat mengganggumu, aku ingin sesuatu yang lebih dari itu.. membunuhmu, mungkin?"

"Apa sebenarnya yang kau ingini dari aku, Hyung? Aku sudah tidak punya apa-apa lagi selain hidupku yang menyedihkan ini."

"Apa? Kau bilang tak punya apa-apa? Cih!" Kibum memalingkan kepalanya. "Appa, Eomma, juga Donghae Hyung, mereka semua milikmu, mereka semua sayang padamu, dan mereka semua.. melupakanku... karenamu. Aku yang tak punya apa-apa, bukan kau, Kim Kyuhyun!" Kibum berseru pelan.

"Apa aku meminta mereka seperti itu padaku? Apa aku yang meminta mereka melupakanmu?"

"Tentu saja, hidupmu yang menyedihkan itu yang memaksa mereka mereka seperti itu. Sama saja, itu salahmu."

"Aku tak meminta hidup seperti ini, Hyung. Aku benci hidup seperti ini."

"Aku juga membencinya, Kyu. Maka dari itu segeralah pergi dari dunia ini."

"Baiklah, bunuh saja aku."

"Kau berani juga ternyata, hm? Tidak, aku tidak akan membunuhmu. Aku hanya akan membiarkanmu mati dalam kesakitanmu.. di tempat ini... malam ini." Kibum berbisik lirih.

Kyuhyun terisak—perkataan Kibum dengan kejam seolah mengiris hatinya. Begitu jelas, sampai ia yakin ia tak bermimpi malam ini.

"Kau tau, Kyu, jika aku tidak sabar, aku mungkin sudah melakukan ini sejak dulu. Terlalu mudah untuk membunuh orang sepertimu." Kibum juga terisak.

Kyuhyun tak dapat menahannya lagi, segala kesakitan yang ia terima dari Kibum selama ini benar-benar sudah menumpuk di dalam hatinya. Kyuhyun menyimpannya sendiri, meratapi kesakitan itu setiap malam tanpa seorangpun tau. Kyuhyun tak tahan lagi—ia juga manusia.

Kyuhyun ingin melampiaskannya malam ini—ia tak peduli.

Ia memukul Kibum.

Satu pukulan.

Hatinya benar-benar sakit.

Dua pukulan.

Ia membenci Kibum,

Tiga pukulan.

juga membenci hidupnya.

Pukulan terakhir.

"Aku membencimu, Kim Kibum."

"Ah, kau menyampaikan kata-kata terakhir yang mengesankan, Kyu."

Kibum mengusap darah yang mengalir sudut bibirnya—sakit sekali. Mata Kibum berkilat merah, ia juga tak peduli siapa yang sedang di hadapannya saat ini.

Satu pukulan.

Dua pukulan.

Tiga pukulan.

Kibum juga memukul Kyuhyun habis-habisan—ia juga jatuh tersungkur. Air matanya mengalir begitu deras. Dipandanginya sosok yang kini tengah tergeletak di sampingnya.

"Ku bilang itu sangat mudah bagiku untuk membunuhmu, tapi kau malah menggali kuburanmu sendiri. Kau lupa, kau itu hanya bocah penyakitan." Suara Kibum terdengar tegas—walaupun sekarang ia sedang menangis.

Kyuhyun—dia terisak hebat. Kekuatannya habis sudah. Ia hanya tinggal melewati beberapa menit menyakitkan ini dengan tenang sampai akhirnya tiba. Ia hanya tersenyum memandangi Kibum.

"Kenapa kau tersenyum, huh?"

Kyuhyun semakin tersenyum—bersamaan dengan peluh dan air mata yang turun menuruni wajah pucatnya. Isakan demi isakan yang lambat laun membuat hatinya terasa sesak.

"K-Kibum Hyung... berikan tanganmu." Kyuhyun berucap lirih.

Kibum mengulurkan tangannya, lalu Kyuhyun menggenggamnya—begitu erat. Kedua tangan itu tampak bergetar hebat. Kyuhyun mendekap tangan Kibum di dadanya.

"Pastikan ini sudah berhenti berdetak.. lalu...pergilah...Hyung."

Kyuhyun semakin terisak, ia mengenggam tangan Kibum dengan sangat erat. Rasa sakit itu mulai menjalar ke seluruh tubuhnya—sakit—ia merasa seluruh tubuhnya sangat sakit.

"Pasti, aku pasti akan pergi setelah jantungmu telah berhenti berdetak, Kim Kyuhyun.."

Kibum juga terisak hebat. Ia merasakannya—detakan kecil yang juga terasa sampai pada tangannya yang digenggam adiknya itu, detakan kecil yang lambat laun semakin lemah dan menghilang, detakan kecil yang membuat adiknya begitu kesakitan—Kibum...menikmatinya.

Tiga,

Dua,

Satu.

Dan detakan itu...berhenti.

Genggaman erat yang membuat tangan Kibum mati rasa itu akhirnya melemah—ia perlahan menarik tangannya yang masih bergetar hebat. Ia sudah yakin, seseorang yang tergeletak di sampingnya itu telah pergi—dan tak kembali.

"Selamat tinggal, Kyuhyun-ah. Sekarang Appa, Eomma, dan Donghae Hyung akan menjadi milikku seorang."

Kibum tersenyum licik meski air mata belum juga berhenti mengalir dari maniknya yang memerah. Kibum berusaha bangkit, ia harus segera pergi dari tempat itu—berpura-pura tidak tau, dan—

"Kim Kibum, apa yang kau lakukan di sana?" Seseorang membuka pintu kamar itu.

"Oh, Appa?" Kibum—tersenyum.

End of Flashback

.

.

.

.

Dokter Choi tampak mengekor di belakang Siwon yang tengah berjalan cepat menuju ruangannya. Pria itu tidak tau apa yang akan Siwon katakan padanya. Setelah kejadian pagi tadi, ia dan Siwon langsung berangkat menuju Rumah Sakit dan tidak ada percakapan apapun selama perjalan ke Rumah Sakit—yang ada hanya Siwon yang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang cukup membuat jantung berpacu lebih cepat.

Sudah sampai, Siwon mengunci ruangannya rapat-rapat.

"Appa." Guman Siwon lirih—ia berdiri membelakangi sang appa.

"Kenapa, Siwon-ah? Kau ingin memarahi Appa lagi? Silakan, silakan saja, Appa tidak akan memb-"

"Kupikir aku tidak akan bisa mendapatkan Kyuhyun." Siwon berbalik menghadap sang appa.

"Astaga... ada apa denganmu?" Dokter Choi terkejut bukan main setelah ia dapat melihat wajah Siwon dengan jelas—Siwon menangis.

"Appa, aku harus bagaimana? Aku ingin Kyuhyun hidup bersama dengan kita, aku tidak ingin dia tinggal bersama Kibum dan Donghae, mereka terlalu sibuk, mereka tidak bisa menjaga Kyuhyun sepenuhnya Appa." Nada bicara Siwon terdengar putus asa.

"Kenapa kau tiba-tiba seperti ini?"

Siwon tidak menjawab, ia mengacak rambutnya dengan kasar.

"Baiklah, baiklah. Jika itu yang kau mau, maka tak perlu lagi mengganggu kehidupan Kyuhyun. Biarkan saja dia hidup bersama Kibum dan Donghae, bukankah semua sudah membaik, huh? Biarlah, tidak apa-apa jika kita harus hidup terpisah seperti ini dengan Kyuhyun, biarkan saja Kyuhyun dan kedua Hyung-nya tak pernah tau tentang hal ini, lagipula Appa sudah berjanji pada Jiwon dan Jaerim untuk tidak mengambil Kyuhyun ketika ia sudah besar nanti. Dan satu lagi... apa kau tidak melihat bagaimana reaksi Kyuhyun tadi? Itu belum apa-apa Siwon-ah.. Kondisinya akan turun drastis jika kau mengatakan hal itu."

"Tapi aku yakin Kyuhyun bisa, Appa. Aku yakin dia bisa menghadapi semuanya, dia anak yang kuat."

"Kyuhyun bisa, Siwon-ah.. dia bisa.. tapi tidak dengan tubuhnya. Kau, mengertilah..."

"Aku akan berusaha menyelamatkannya jika sampai terjadi sesuatu, Appa. Aku yang akan bertanggung jawab."

"Siwon-ah.. Selama berpuluh tahun Appa berusaha mempertahankan nyawa adikmu itu. Kyuhyun selalu menjadi yang pertama dari antara pasien Appa yang lain, dan sekarang... apa kau yakin akan melakukan itu di depan Appa, huh? Dengar, Appa menyekolahkanmu ke sekolah medis terbaik di negara itu karena suatu alasan Siwon-ah. Sekarang Appa masih sangat mampu merawat Kyuhyun, Appa akan berusaha menyelamatkan dia bahkan ketika Appa harus mengorbankan nyawa Appa, Appa bersedia Siwon-ah.. Tapi ketika nanti Appa sudah tak lagi bisa merawatnya, kaulah yang akan menggantikan Appa, kau yang akan merawat adikmu dengan benar dan baik. Appa ingin Kyuhyun tetap hidup, Siwon-ah... Kyuhyun harus hidup. Jadi Appa mohon, pertimbangkanlah dengan baik-baik keputusanmu itu, jangan membuat Appa kecewa."

"Appa... tidak, aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu. Aku melakukan ini karena aku ingin Appa bahagia, aku juga ingin Appa hidup bersama anak kandung Appa. Dan lagi kondisi Kyuhyun yang seperti itu, bukankah Appa ingin menemaninya setiap hari? Atau bahkan memeluknya setiap waktu? Aku juga memikirkan Appa.."

"Tidak, Siwon-ah. Appa lebih memilih Appa hidup terpisah dengan Kyuhyun, tapi Kyuhyun bahagia dengan hidupnya yang seperti ini, daripada Appa harus mengatakan yang sebenarnya, tapi Appa harus melihat Kyuhyun tersiksa karena itu. Orang tua akan melakukan apapun yang mereka bisa agar sang anak tersenyum, Siwon-ah... meskipun Appa harus menangis, tapi jika disana Kyuhyun tersenyum bahagia, Appa juga pasti turut bahagia."

"Mengapa semua begitu berat, Appa? Aku hanya ingin hidup bersama adikku, aku hanya ingin aku bisa menjaganya setiap waktu, apa itu salah?"

"Siwon-ah... maafkan Appa, ini semua salah Appa. Andai saja hal itu tak terjadi."

Siwon menatap sang ayah dengan tatapan sedih.

.

.

.

.

Flashback

"Kibum, sekarang jelaskan pada Appa."

Kibum menatap sang ayah dengan tatapan kosong. Rasa sakit masih berdenyut-denyut wajahnya—ia baru saja mendapat perawatan karena luka-lukanya. Bukan main sakitnya, seberapa lemah kekuatan Kyuhyun, dia tetap saja anak laki-laki biasa yang memang bisa bertarung. Kibum tak peduli, toh kekuatannya juga habis ketika ia 'menghajar' adiknya tadi. Adil, bukan?

"Apa kau tuli, huh?"

"Appa!"

"Diam kau, Donghae."

Kibum justru menyandarkan tubuhnya di bangku Rumah Sakit, ia menghela napas dalam-dalam.

"Aku hanya ingin dia pergi, Appa. Entahlah."

"Oh Tuhan, apa yang ada dalam pikiranmu, huh? Aku tak mendidikmu untuk menjadi seorang pembunuh, Kim Kibum!"

"Semua menjadi milik Kyuhyun. Appa, Eomma, Donghae Hyung, semuanya. Aku tak memiliki siapapun disini." Jawab Kibum masih dengan nada yang tenang.

"Apa Appa meninggalkanmu, Bum? Appa tak peduli padamu? Atau apakah Appa tak menganggapmu?"

"Tidak."

"Lalu apa yang kau inginkan, huh?"

"Aku ingin duniaku kembali seperti dulu, seperti sebelum ada Kyuhyun. Aku menjadi adik terkecil, aku disayang, dimanja, juga Appa, Eomma, Donghae Hyung, semuanya milikku. Tidak seperti sekarang." Kibum tersenyum pahit.

"Kau pikir dulu aku tak seperti itu, huh? Kau pikir aku menerima begitu saja kehadiranmu, Bum? Apa aku tak pernah menceritakan itu padamu? Baiklah, sekarang akan kuceritakan semuanya padamu." Donghae menyahut.

Kibum terdiam meski dalam hati ia terkejut bukan main.

"Dulu aku juga seperti ini, Appa dan Eomma seperti meninggalkanku. Eomma tak pernah lagi menemaniku tidur, dia selalu tidur bersamamu. Lalu aku menjadi semakin dekat dengan Appa, Appa menceritakan semuanya padaku, mencoba menyadarkanku bahwa aku tak boleh seperti ini dengan adikku sendiri, Appa berkata jika dulu Eomma juga memperlakukanku seperti itu ketika aku masih bayi, lalu aku menerimannya, Bum. Tahun-tahun berlalu dan akhirnya aku sadar, kau adalah hadiah terindah yang dijanjikan Appa dan Eomma padaku dulu, ternyata hadiah itu adalah kau, seorang bayi kecil—adik yang sangat kusayangi. Apakah menerima itu sesulit ini, Bum? Apa menerima Kyuhyun sesulit itu, huh?" Nada bicara Donghae bergetar.

"Ya, memang sesulit itu. Sulit bagiku, Hyung." Kibum hanya mengaku.

Donghae meremas rambutnya kasar. Sungguh, seperti tak ada yang bisa meluluhkan hati Kibum.

"Lalu mengapa kau memulainya seperti itu? Bisa-bisanya kau melakukan itu pada Kyuhyun, huh?"

"Appa! Dia yang memulainya, dia yang memukulku lebih dulu! Jika aku yang memulainya, dia mungkin sudah mati sejak tadi."

PLAK!

"Jaga mulutmu Kim Kibum!"

Kibum seketika terdiam. Luka di wajahnya bahkan belum mengering, tapi bagi Kibum itu sama sekali tak ada artinya dibanding luka di hatinya. Itu jauh lebih sakit, sakit yang berbeda.

"Aku memang melihatmu menjauh dari Kyuhyun akhir-akhir ini, dan ternyata dugaanku benar. Pergi saja kau dari rumahku, aku tak ingin ada seorang pembunuh yang tinggal di sana. Cari orang tua lain, cari saja keluarga lain. Tak perlu kembali lagi jika memang kau ingin menjadi seorang permbunuh. Malam ini juga kau bisa pergi, Kim Kibum."

"Jiwon-ah.. Tidak, tidak.. jangan lakukan itu." Jaerim memegang erat tangan Jiwon.

"Maafkan Kyuhyun, maafkan Kyuhyun, Kibum-ah. Karena dia kau banyak mengalami kesulitan. Kau tetaplah tinggal, tidak perlu pergi. Biar aku menitipkan Kyuhyun pada Dokter Choi setelah ini, biar dia tinggal disana, kau tidak perlu pergi Ki-"

"Kim Jaerim, apa kau gila!? Apa kau sadar dengan perkataanmu baru saja, huh?"

Jaerim menghapus kasar air matanya yang mengalir begitu deras, ia tak bisa menahan emosinya lagi. Pikirannya seperti buntu—ia tak bisa memikirkan apapun.

"Dan Kibum, aku menyesal telah mendidikmu selama ini dengan susah payah."

"Baiklah, aku akan pergi."

"Ya, dan jangan pernah kembali."

"Kim Kibum! Kibum-ah, tidak, tidak. Jangan! Kau tidak boleh pergi. Kibum!" Jaerim menyeret tangan Kibum, berusaha menahannya agar Kibum tak beranjak dari tempat itu. Tapi percuma, hati Kibum sudah terbakar karena perkataan sang ayah.

End of Flashback.

.

.

.

.

Kibum tampak terkantuk-kantuk di samping Kyuhyun yang sedang serius memandangi ponselnya. Kibum kelelahan, seharian tadi ia memang giat membersihkan rumah dibantu oleh Kyuhyun, tapi tetap saja adiknya itu tidak bisa berbuat banyak. Kyuhyun bersikeras memaksa Kibum agar ia diperbolehkan membantu, dan ya akhirnya dia ikut membantu walau ia terpaksa berhenti dengan sendirinya setelah baru bekerja selama beberapa menit.

"Bum Hyung, tidurlah kalau memang mengantuk. Aku yang akan menunggu Donghae Hyung pulang." Ucap Kyuhyun tanpa beralih dari layar ponselnya.

"Hm?" Kibum bergumam.

"Tidurlah saja, tidak usah ditahan-tahan begitu jika mengantuk."

"Hm..." Kibum bergumam lagi—mengiyakan.

Kyuhyun hanya menoleh sekilas ke arah Kibum yang rupanya menuruti kata-katanya. Itu sudah pukul 10 malam, Kyuhyun dan Kibum masih menunggu kedatangan sang hyung. Sebenarnya pagi tadi Donghae berkata jika ia akan pulang cepat hari ini karena mengkhawatirkan Kyuhyun, tapi Kyuhyun memaksa Donghae agar menyelesaikan perkerjaannya sampai selesai karena ia sudah merasa baik-baik saja.

Oh, tak sadarkah ia sudah memaksa dua orang hari ini?

Kyuhyun memang tengah sibuk dengan ponselnya, tapi sebenarnya ia juga sedang memikirkan sesuatu. Bagaimana tidak, kedua Hyung-nya sama-sama bercerita kalau hari ini ia 'mengamuk', terlebih Donghae, kakak pertamanya itu berkata bahwa ia benar-benar takut ketika Kyuhyun menggertaknya. Ia memang tak mengingat apapun, tapi ia tau jika terjadi sesuatu padanya—ia terbangun dengan perasaan tidak tenang dan gelisah. Kyuhyun bertanya tentang apa saja yang telah ia katakan ketika ia 'mengamuk' tadi, tapi kedua Hyung-nya hanya diam—tidak mau memberitahu—dengan alasan untuk menjaga perasaannya.

Tiba-tiba pipi Kyuhyun memanas, ia malu. Apalagi Donghae dan Kibum juga berkata bahwa ada Dokter Choi dan Siwon. Ia tak tau apa yang harus ia lakukan ketika bertemu Dokter Choi dan Siwon nanti. Kyuhyun hanya merasa seseorang sudah memeluknya juga menenangkannya tadi, Kyuhyun berpikir mungkin itu Donghae atau Kibum, tapi entah mengapa ia tidak begitu yakin. Kyuhyun merasakannya, pelukan yang benar-benar menenangkan—seperti pelukan sang ayah.

'Appa, apa kau memelukku dalam mimpi? Mengapa itu benar-benar seperti nyata? Itu nyaman sekali.' Pikiran Kyuhyun meliar.

Kyuhyun menggeleng cepat ketika ia merasa mulai berandai-andai lagi. Tidak, tidak, itu pasti Donghae Hyung.

Ah, Kyuhyun-ah.. Itu memang pelukan dari ayahmu—ayah kandungmu—Dokter Choi.

Sederhana, Kyuhyun memang benar-benar tak tau.

Kyuhyun menghela napas, ia merasa semakin sepi saja, hanya suara Televisi yang senantiasa berbunyi walau sang pemilik nyatanya tidak peduli.

"Donghae Hyung kapan kau pulang? Aku lapar." Kyuhyun hanya bergumam—masih tetap menatap layar ponselnya.

Kyuhyun terdiam sesaat sebelum ia membuang asal ponselnya ke sofa lalu beranjak menuju dapur.

"Apa tidak ada Ramyu-"

Kyuhyun kembali menoleh ke arah sofa ketika ia mendengar ponselnya berbunyi. Sedikit berdecak, akhirnya ia kembali menuju sofa di ruang keluarga. Ia meraih ponselnya dengan kasar—seseorang tengah memanggil.

'Dokter Choi—memanggil'

"Dokter Choi?"

Tak pikir panjang, ia menggeser icon berwarna hijau di ponselnya.

"Halo, ada apa Dokter Ch-"

"Kyuhyun-ah, kau baik-baik saja?"

"Y-Ya, aku baik-baik saja, justru sangat baik. Mengapa Dokter menelp-"

"Aku khawatir padamu."

Lagi-lagi Dokter Choi memotong pertanyaannya.

"Ah, tidak apa-apa. Aku bahkan membantu Kibum Hyung tadi—membersihkan rumah." Kyuhyun tersenyum.

"Lagi? Sudah kubilang tidak perlu membantu bersih-bersih seperti itu. Apa tidak ada pekerjaan yang lain? Itu tidak boleh—kau mudah sekali batuk."

DEG.

DEG.

DEG.

Kyuhyun menyentuh dada kirinya, sesuatu berdetak cepat di dalam sana. Ia terdiam. Bahagia, ia merasa bahagia. Suara bernada khawatir yang menyapa telinganya, entah mengapa ia begitu bahagia mendengarnya, itu seperti suara sang ayah yang sedang mengkhawatirkannya.

'Mengapa aku seperti ini?' Kyuhyun kembali tenggelam dengan pikirannya sendiri.

"Kyuhyun-ah... kau mendengarku?"

"T-Tentu saja. B-baik aku tidak akan ikut Kibum Hyung bersih-bersih lagi, Ap-Appa."

Appa?

"Ah, maaf, maksudku, Dokter Choi." Kyuhyun langsung meralat.

"Baiklah, kalau begitu matikan teleponnya, Kyu."

Hati Kyuhyun mencelos setelahnya, bibirnya seolah bergerak sendiri tanpa diperintah. 'Appa', kata itu terucap begitu saja—dengan tulus.

"Aku datang."

Belum hilang rasa bingung Kyuhyun ketika ia mendengar suara pintu terbuka dengan pelan.

"Aku tau kau pasti menunggu makanan, kan? Kenapa kau tak meminta tolong Kibum untuk memasak?" Donghae meletakkan sesuatu di atas meja dekat sofa.

"Kibum Hyung lelah. Ia membersihkan seisi rumah sejak pagi tadi."

"Apa? Woah.. tumben rajin sekali!" Donghae menatap Kibum yang tengah tertidur di sofa.

Kyuhyun menggerakkan bahunya—tidak tau.

"Ah, Kibum tidak lupa memberikan obatmu, kan?"

"Tidak."

.

.

'Apa kau mulai merasakannya, Kyu? Kau tak perlu meralatnya tadi, kau benar, karena aku... memang ayahmu.' –Dokter Choi

.

.

.

.

Flashback

"Apa yang sebenarnya terjadi, Jiwon-ah?"

Dokter Choi menatap kedua orang yang sedang menunduk dalam-dalam di hadapannya. Masih belum ada jawaban sejak tadi, pasangan suami-istri itu hanya terdiam menunduk.

"Jaerim-ah, kau juga tak mau menjelaskan sesuatu padaku?"

Jaerim semakin mengeratkan keduanya tangannya ketika ia mendengar pria di depannya itu memanggil namanya. Ia sudah menahan tangis sejak tadi, ia bahkan yakin matanya telah memerah saat ini, ia tetap diam—tak bergerak barang sedikitpun dari kursinya.

"Baiklah, kalau begitu aku hanya ingin menyampaikan sesuatu. Kyuhyun... benar-benar buruk, kondisinya." Suara pria itu bergetar.

"Hiks..."

Satu isakan akhirnya lolos, Jaerim menyerah sudah, ia tak bisa menahannya lagi. Ia segera menutup mulunya, terus berusaha agar ia tak terisak lagi.

"Jangan hanya menangis, Jaerim-ah. Aku butuh penjelasanmu, aku tidak tau apa-apa dan tiba-tiba Kyuhyun datang dengan kondisi seperti itu. Detak jantungnya berhenti, benar-benar berhenti Jaerim-ah.. Ya Tuhan.."

Dokter Choi meremas rambutnya kasar, kepalanya terasa berdenyut hebat.

"Seunghwan-ah, maafkan anakku. Maafkan Kibum. Dia yang membuat anakmu seperti ini, dia berusaha membunuh Kyuhyun—entahlah, aku juga tak percaya hal ini bisa terjadi." Jiwon menjawab dengan nada kecewa, tangannya terulur menyentuh pundak sang istri dengan erat.

"Aku sudah mengusirnya, Kibum tak boleh kembali." Jiwon melanjutkan kata-katanya.

"Apa?"

"Aku tidak mau ada seorang pembunuh yang tinggal di rumahku."

"Tapi Kyuhyun bisa tinggal bersamaku, Jiwon-ah. Mengapa kau memutuskan itu tanpa berpikir panjang?"

"Jika Kyuhyun tinggal bersamamu, itu sama saja kita membuka rahasia ini. Kita sudah melaluinya dengan susah payah, kita sudah sampai sejauh ini Choi Seunghwan, aku tak ingin ada masalah lagi, aku tidak mau membuat Kyuhyun tersakiti, dia tidak bisa."

"Itu juga akan menjadi masalah jika kau mengusir Kibum, Jiwon-ah. Tidak, tidak, ini tidak mungkin."

"Lalu bagaimana jika Kibum tetap berada di dekat Kyuhyun?"

"Aku yang akan berbicara dengan Kibum."

"Tidak. Kibum itu anak yang keras, kau tidak akan bisa."

"Jiwon-ah, jika Kibum memang seperti itu bukankah kita tidak boleh memperlakukannya dengan keras juga? Itu hanya akan membuat Kibum menjadi orang yang lebih keras dari sebelumnya. Untuk Kibum, kita harus memperlakukannya dengan baik, dan aku yakin dia bisa berubah, Jiwon-ah. Kibum dulu tak seperti itu, aku yakin."

"Lalu jika itu tidak bisa? Apa yang harus kulakukan, Seunghwan-ah?"

"Lalu biarkan Tuhan yang mengaturnya."

End of Flashback.

.

.

.

.

Kyuhyun hanya menatap ke arah jendela kamarnya dengan tatapan kosong. Disampingnya ada Donghae yang memang sedang menemaninya tidur, sedangkan Kibum—ia langsung masuk ke dalam kamarnya setelah Donghae pulang tadi, ia bahkan tak tergoda dengan makanan yang dibawa Donghae.

Lampu kamarnya memang sudah dimatikan, yang tersisa hanya remang-remang lampu jalan yang menerobos masuk lewat jendela kaca kamar itu. Donghae memang menutup matanya, tapi ia belum tidur, ia hanya diam melihat tingkah Kyuhyun yang hanya bergerak-gerak sejak tadi. Donghae tau adiknya itu sedang penasaran dengan kejadian pagi tadi, tapi nyatanya Kyuhyun juga sulit berbagi cerita dengannya.

"Kau tidak tidur, Kyu?"

"Aku belum mengantuk. Hyung tidur saja dulu." Kyuhyun mengambil ponselnya.

"Yak! Jangan bermain game!" Donghae merebut ponsel itu dari tangan Kyuhyun. Tapi kemudian ia terkejut ketika melihat layar ponsel itu, tangannya tak sengaja menyentuh tombol 'panggilan masuk' yang ada di sana, dan sebuah nama tak asing tampak di urutan pertama daftar panggilan itu.

"Dokter Choi... menelponmu?"

Kyuhyun mengangguk.

"Kapan?"

"Tepat sebelum Hyungpulang tadi."

"Benarkah? Biasanya Dokter Choi akan menelponku untuk menanyakan keadannmu."

"Mungkin dia terlalu khawatir, Hyung."

"Mungkin saja."

Keduanya kembali terdiam.

"Hyung?"

"Hm?" Donghae menoleh ke arah Kyuhyun yang tengah menatap langit-langit kamarnya.

"Aku bermimpi Appa datang dan memelukku. Aku merasa lebih tenang sekarang. Itu—pelukan Appa—seperti nyata."

"Kyuhyun-ah, aku tau itu sulit. Tapi kau harus merelakan kepergian Appa juga Eomma."

"Aku sudah merelakannya, Hyung."

"Lalu apa artinya kejadian pagi tadi?"

"Memangnya ada apa? Aku tidak tau apa-apa, kau tak memberitahuku." Kyuhyun merengut.

"Baiklah, jangan terkejut, uh? Kau.. memanggil Dokter Choi dengan sebutan 'Appa', kau juga memarahi Siwon dan aku. Kau tau, itu karena kau terlalu terteka-"

"Aku memanggil Dokter Choi—Appa?"

"Ya! Kau seolah-olah bertemu dengan Appa. Kau tak ingat sama sekali?"

Kyuhyun tak menjawab. Entalah, ia masih bingung dengan perasaan yang membuncah di dalam hatinya. Ia sama sekali tak merasa aneh ketika Donghae menceritakan hal itu, ia juga tak tau mengapa perasaannya menjadi seperti itu. Tak ada yang terasa aneh, hatinya justru semakin menghangat.

"Kyu?"

"Ti-tidak, aku tidak ingat, Hyung."

"Kumohon jangan terus terbayang tentang kepergian Appa dan Eomma. Mereka sudah bahagia di sana, mereka akan menjaga kita selalu, jadi kau jangan khawatir."

"Jadilah orang yang dewasa, Kyu. Bersabarlah, aku tau ini memang sulit, tapi akan lebih sulit jika kau terus terjebak dengan perasaan kehilangan itu."

"Aku sudah bersabar, Hyung. Apa masih kurang? Mengapa semuanya begitu berat?"

"Bukan hanya bersabar, Kyuhyun-ah. Kau harus bangkit, masih banyak orang yang menyayangimu. Kau masih punya aku dan Kibum. Kibum sudah berubah, aku yakin semuanya akan lebih baik. Cobalah bangkit, jika itu sulit maka menangislah, aku akan mengusap air matamu, aku akan menyembuhkan luka-luka itu, Kyu."

"Kau berjanji, Hyung?"

"Aku tak mau berjanji, karena janji bisa diingkari. Aku hanya akan berusaha, sebesar yang ku bisa—untukmu."

"Baiklah. Aku akan mencobanya."

"Tidak perlu takut dengan apapun, juga jangan takut dengan kondisimu. Jangan jadikan itu penghalang untuk melakukan apa yang kau mau, Kyu. Aku tak akan menghalangimu jika itu masih bisa kaulakukan. Ada Dokter Choi, juga ada Siwon yang kini telah menjadi Dokter terbaik di sana, apa lagi? Kau sudah punya segalanya."

Tes.

Air mata itu meluncur begitu saja dari wajah Kyuhyun. Ia masih tetap memandang langit-langit kamarnya yang redup.

"Aku takut ini hanya sementara, Hyung."

"Jangan takutkan apapun, Kyuhyunie. Selama ini kau sudah hidup begitu sulit, dan saatnya kau bangkit dari kesakitanmu."

"Kau tak boleh meninggalkanku ya, Hyung?" Suara Kyuhyun terisak.

"Tidak, tidak akan pernah, Kyu."

Donghae memeluk tubuh Kyuhyun dengan perlahan. Ia mengeratkan selumut tebal yang menutupi tubuh adiknya ketika ia merasa malam semakin dingin.

"Sudah malam sekali, kau harus istirahat." Donghae mengusap rambut Kyuhyun.

"Selamat tidur, Donghae Hyung." Kyuhyun tersenyum.

"Selamat tidur juga, Kyuhyunie." Donghae membalas senyuman itu.

'Kyuhyunie, adik terkecil Hyung. Berbahagialah, jangan pernah sakit—lagi. Semoga Tuhan senantiasa melindungi dan mengasihimu.' Sebaris doa—dari Donghae untuk adik terkecilnya.

.

.

.

.

-To Be Continued-

.

.

.

.

Annyeooooong~~~~ haha.. saya update cepet soalnya lagi gak ada kerjaan di rumah :D seneng ya kalo bisa update cepet kayak gini.. :D maaf kalau chapter ini pendek, udah gatel pengen update.. :D

.

.

PLEASE READ-PLEASE READ-PLEASE READ-PLEASE READ-JEBAAALLL :D

Setelah baca review chapter 7, ternyata saya sadar saya melupakan sesuatu. Sebelumnya terimakasih kepada Apriliaa765, karena pas baca reviewnya saya langsung teringat sesuatu itu. Saya ingin menjelaskan aja, disini FLASHBACK ceritanya memang gk saya 'sambung' antara satu dg yg lain. Jadi kalau FLASHBACK-nya gk nyambung, atau loncat2, ya jangan di sambung-sambungin (?) :D karena memang saya buat seperti itu. Jadi bisa dibilang FLASHBACK itu sebelum Appa dan Eomma Kim BELUM meninggal. Aduh, gimana ya, bisa dipahami gk sih? Kata2nya belepotan.. :D semoga paham ya, yg blm paham, bisa tanya di review atau PM, SAYA PASTI BALAS KOKKK.. :D

.

.

TERIMAKASIH BUANYAAKK BUAT YANG UDAH SETIA NUNGGU FF GAK JELAS INI, SAYA GK NUNTUT APA-APA, INI CUMA SEKEDAR HIBURAN AJA, BUAT LIKERS & FOLLOWERS YG MALU-MALU, ATAUPUN SILENT READERS YANG GAK TERLIHAT, TERIMAKASIH BANYAAKK. POKOKNYA TERIMAKASIH BUAT SEMUANYA, SAYA SENENG LOH VIEW NYA NAMBAH TERUS WALAU YG REVIEW TETEP ITU-ITU AJA :D Setelah saya sadar, saya gk maksa review deh sekarang, saya gk target, karena niat saya di sini bukan untuk jadi terkenal atau banyak2-an review, tapi untuk cari pengalaman dan buat mematangkan kemampuan saya untuk menulis. Kalau ingin review ya review aja, saya menerima segala saran dan kritik yang membangun. MARI KITA SALING BERBAGI SATU SAMA LAIN. DAN AKHIR KATA, SAMPAI KETEMU HABIS LEBARAN YA, SAYA MAU NGUCAPIN DULU, SELAMAT MERAYAKAN HARI RAYA IDUL FITRI, MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN YAA.. :* :D :D :D

Balasan REVIEW CHAPTER 7 :

Li : sudah lanjutt,, !

Desviana407 : kyunie lagi pusing pala barbie kali ya.. udah di next, jangan bosen yaa.. :'D makasih udah selalu review.. :D :D

Nanakyu : sama-sama chingu.. ini udah di lanjut ya.. mudah mudahan gak bosen yaa.. :D

Hyunhua : yap benar sekali, dia lagi gk sadar... kyu lagi tertekan gitu sama pikirannya sendiri.. udah next, jangan bosen yaa.. :D

riritary9 : belum, kyuhyun belum tau kok kalau itu appa kandungnya, Cuma pas itu dia lagi tertekan aja.. udah next yaa.. :D

hyunnieya11 : saya rasa semua pertanyaan chingu udh terjawab yaa di chapter ini.. kalo Kibum masih tetep saya buat jahat gimana hayooo... udh di next, jgn bosen2 baca yaa.. :D hwaiting!

Retnoelf : duuhh.. udah dilanjut cepet nih.. sesuai pesanan –eh maksudnya permintaann.. :D

maya kyu : iyaa.. betul sekali...! 100 buat kamu cintaa.. :D

lydiasimatupang2301 : hahaha.. :D udah di next yaa... :D

Songkyurina : pertanyaannya udh kejawab kan? Udah next yaa.. :D

kyuhae : udah next.. thankyou... :D

Lily : syukurlah saya bisa update jugaa.. :D kayaknya semua pertanyaan chingu udh kejawab di ch ini ya.. :D makasih udah selalu setia baca dan review. Maksudnya Donghae agak acuh sama donghae itu gmna ya? Atau maksudnya kyuhyun agak acuh sama hae? :D Typo?

Choding : Udah di lanjut.. :D

kyuli99 : Udah lanjutt.. semangat jgaa! :D

Wonhaesung Love : udah di lanjutt, gomawo.. :D

Epi : udh next, semoga makin penasaran ya.. :D

angel sparkyu : udah next.. :D

kyuchoco13 : semoga tetap penasaran ya.. amiiin.. makasih banyak buat doanyaa.. :D

windiartiw67 : waahh benar sekali! :D 100 buat chingu.. :D

indahindrawatibasmar : udah terjawab kan rasa penasarannya? Makasih yaa cinta.. :D

jihyunelf : benar sekali! :D

kyunoi : haha oke oke, moga makin penasaran ya.. :D sbm-nya masih blm pengumuman, doakan yaa... :D

phn19 : oke..okee sepertinya terjawab di ch ini ya? Sudah dilanjut kakak... :D

siskasparkyu0 : tunggu terus kelanjutannya ya..:D

sparkyuNee13 : kyaa suaramu sampe kedengeran loh.. sudah update asap iniii.. :D kkk

meimeimayra : tunggu terus dan jangan boseen yaa.. :D

Tyas1013 : udah di next.. semoga gk bosen.. :D wkwkwk

Sparkyubum : sabar-sabar, saya udh update cepat loooo :D

cinya : puji tuhan kalau emg bener2 enjoy.. :D doakan aja moga2 saya selalu baik-baik sajaa.. :D haha, belakangan ini saya sering blank tiba2 gitu.. amiin, makasih buat doanya cintaa.. :D ditunggu terus yaa.. :D

Anna505 : udah next ya.. jangan bosen yaa.. :D

Nurani506 : hai, salam kenal juga.. iya gak apa2 kok.. semoga seterusnya bisa review terus ya.. tunggu terus kelanjutannya.. :D

hyunnie02 : saya setuju sama kamuu! :D

HyukRin67 : aduuh, makasih kangennya ya? udah saya update asap nih.. makasih cintaa.. :D dan makasih juga buat doanya.. :'D fighting! :D

Apriliaa765 : anu... gini yaa, saya memang sengaja bikin flashbacknya 'nggak nyambung' antara satu dengan yg lain, di sini saya bikin flashback yg masih ada kaitannya dgn sebuah adegan di 'real life' nya mereka yg sekarang. Jadi flashback yg satu dg flashback yg lain belum tentu nyambung.. :D semoga gk bingung ya.. :D

dewiangel : sudah update asaaappp :D heheeh

jennyhzb : sudah di next, dan semoga makin penasaran ajaa.. :D

MissBabyKyu : aduuh aku ada di mimpinya kyu... :D sudah update cepet loh kak.. oh iya, aku mau minta maaf, PM yg terakhir gk sempat balaaas, maafin saya kakak.. :'D saya pas lagi sibuk2nya waktu itu.. :D semangat juga buat kakak, cium jauhh.. :*

Awaelfkyu13 : iya, emg kyu dulu udh pernah di kenalin kan? :D tapi yg dua orang itu lagi gk ada di korea, mereka ngurusin perusahaan yg di luar negeri, jadi mereka gk tau.. udah next yaa.. :D

yolyol : waa copaaass.. ! :D waduh jangan terlalu emosi, ntar cepet tuaa loh.. :D haaha, semoga makin penasaran ya, jangan bosen baca dan review... thankyou... :D :D

ladyelf11 : benar sekali! :D

michhazz : sudah next ya saeng... :D :D

Atik1125 : syukurlah kalo feel nya dapet chingu, semoga tetep suka yaa... sudah next,, fighting! :D

Park Rinhyun-Uchiha : Sepertinya rasa penasarannya udh terjawab ya? terimakasih reader-ssi.. :D :D semangat jugaa.. :D

readlight : iya sayang, eonni pasti doakan kok.. :D updatenya gk lama kan, eonni ngebut loh, mumpung lagi gk ada kerjaan... makasih yaa.. :* :D

"KYUZART – 8:19"