Crazy for Dash Girl?

Author: Grace Jung a.k.a Jung Eun Hye

Main Cast:

Kim Jaejoong

Jung Yunho

Support Cast:

Kim Jonghyun

Jung Yonghwa

Cho Kyuhyun

Seohyun

Genre: Romance, Drama

Warning: Genderswitch! abal, ga jelas, dll.

DON'T LIKE? DON'T READ THEN!

LIKE? ENJOY READING^^

.

.

.

"Jadi, dia tetangga si namja itu?"

"Ne, Tuan. Sepertinya agasshi menginap di sana. Tapi mereka tidak melihat si pemilik apartemen keluar, jadi mereka tidak tahu siapa yang semalaman bersama agasshi."

Jonghyun mengusap-usap dagunya, tampak berpikir. Setahunya tidak ada satupun dari penghuni apartemen itu –kecuali Donghae– yang Jaejoong kenal.

"Baiklah. Kau, cari tahu siapa penghuni apartemen itu. Secepatnya."

"Baik, Tuan."

.

.

CHAPTER 4

.

.

"Haraboji..!"

Jaejoong langsung berlari dan menerjang Jonghyun yang masih duduk di kursi kebesarannya. Jonghyun hanya terkekeh lalu balas memeluk cucu satu-satunya itu. Sangat jarang mendapati Jaejoong yang bertingkah manja seperti ini.

"Bagaimana keadaan haraboji? Sehat-sehat saja, kan?" tanya Jaejoong sembari melepaskan pelukannya, menatap Jonghyun dengan kedua mata besarnya. Bukannya menjawab, Jonghyun malah menarik-narik hidung mancung Jaejoong.

"Ya! Appo~"

"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Apa yang kau pikirkan, kabur dari Perancis dan membuat semua orang di sana cemas. Dan lagi apa-apaan dengan penampilanmu ini? Kau habis melakukan sesuatu?" Jonghyun menatap tajam cucunya itu. Bagaimana tidak, penampilan Jaejoong masih berantakan. Dia tidak sempat atau lebih tepatnya lupa untuk merapikannya. Salahkan kejadian kemarin yang membuat otaknya sedikit error. Mereka berjalan menuju salah satu sofa yang ada di ruangan lalu mengenyakan diri di sana.

"Ani," jawab Jaejoong singkat. Pertanyaan itu mengingatkanya akan Donghae dan itu membuatnya tak nyaman. "Ngomong-ngomong bagaimana bisa haraboji mengirimkan bodyguard ke bandara? Haraboji sudah tau aku akan pulang, huh?"

"Aku punya banyak mata-mata di sana."

"Oh yeah, aku lupa."

"Dan jangan coba mengalihkan pembicaraan. Kemana kau kemarin, kabur dari mobil dan membuat bodyguard barumu kebingungan."

"Hanya mengunjungi sebuah tempat," jawab Jaejoong enggan.

"Lalu, dimana kau menginap semalam?"

Jaejoong menyilangkan kedua tangannya di dada lalu menyandarkan kepalanya pada sofa. "Bukannya kau sudah tahu," jawabnya dengan nada malas. Jonghyun menghela nafas. Ini dia, saat Jaejoong sudah memanggilnya dengan sapaan 'kau', berarti waktu bermanja-manjanya telah habis.

"Kau yakin kau tidak melakukan sesuatu yang aneh-aneh?"

"Tentu saja."

Merasa arah pembicaraan ini semakin membuatnya tak nyaman, Jaejoong berdiri dan memutuskan untuk pergi. Tapi belum sempat dia beranjak, kata-kata Jonghyun membuatnya terdiam.

"Kau habis mabuk-mabukkan, benar? Cih, kau yang mempunyai toleransi alkohol rendah sampai melakukan hal bodoh seperti itu. Katakan, apa ini karena namja brengsek bernama Lee Donghae itu? Apa yang dia lakukan, berselingkuh di belakangmu? Sudah kubilang berkali-kali dia bukan namja baik, bukan."

Jaejoong mengepalkan tangannya. Kilasan-kilasan masa lalu tiba-tiba kembali berputar di kepalanya. Demi apapun, dia merasa menjadi orang paling idiot di dunia sekarang.

"Lee Donghae? Apa kau bercanda? Siapa dia, aku bahkan sudah melupakannya."

Usai mengucapkan kata-kata itu, Jaejoong keluar dari ruang kerja Jonghyun. Meninggalkan sang kakek yang hanya menatapnya sendu. Mendesah, Jonghyun berjalan menuju meja kerjanya dan menatap lembaran-lembaran kertas yang berserakan di atasnya. Tampak salah satu di antaranya adalah sebuah foto seorang namja tampan bermata musang.

Jonghyun meraih gagang telepon lalu menekan sebuah angka.

"Sambungkan aku dengan Jung Hankyung."

Siapa yang menyangka dunia ini ternyata begitu sempit?

.

..GJ..

.

Jaejoong terduduk di tepi ranjangnya yang besar dan nyaman. Matanya menatap kosong jendela yang ia biarkan terbuka, mengamati rintik-rintik air hujan yang turun menghiasi langit malam yang kelam. Sekelam hatinya saat ini. Dia mengambil nafas panjang sebelum pandangannya beralih ke bawah, tepatnya ke sebuah benda yang berada di pangkuannya.

Sebuah kotak musik.

Dengan tangan gemetar Jaejoong membuka kotak musik berwarna merah itu. Seketika alunan nada yang lembut dan indah memenuhi kamar luas nan mewah miliknya. Mata Jaejoong memanas ketika melihat foto yang terdapat di dalam kotak musik itu.

Tampak sepasang kekasih tengah berangkulan mesra sambil tersenyum lebar dengan background menara Eiffel. Perlahan Jaejoong menyentuh foto itu.

Terlihat dirinya bersama… Lee Donghae.

Cinta pertamanya.

Siapa yang menyangka kisah cinta yang dia kira akan berjalan indah berakhir seperti ini? Cinta yang ia nanti, cinta yang akhirnya ia rasakan, cinta yang ia perjuangkan, cinta.. cinta..

Shit! Persetan dengan cinta!

Jaejoong membanting kotak musik itu dengan kasar hingga benda itu hancur berkeping-keping.

"Brengsek! Argghhhh!"

Jaejoong menjambak rambutnya frustasi sebelum akhirnya terkulai lemas di ranjangnya. Pertahanannya runtuh. Air mata mengalir bebas di kedua pipi putihnya.

"Aku benci kau… Lee Donghae."

.

..GJ..

.

Siang yang cerah. Seorang namja tampan duduk menyandar di kursi kerjanya. Matanya yang tersembunyi di balik kacamata tampak sibuk menelaah grafik yang terpampang di layar laptopnya sambil sesekali melirik kertas laporan yang dipegangnya. Dia terlihat serius. Bahkan bunyi dering ponsel yang menandakan ada sms masuk pun tidak dihiraukannya.

Jung Yunho. Begitulah ejaan huruf yang terpatri dengan tinta emas di papan nama kaca yang berada di atas meja.

"Aish.."

Yunho memijat pelipisnya ketika dirasanya kepalanya mulai pusing. Sepertinya dia butuh istirahat. Baru saja dia akan mematikan laptop, pintu ruangannya terbuka. Dia mendongak dan mendapati seorang namja tampan masuk dengan senyum lebar.

"Hai, Yunho saeng…"

"Hyung?" Yunho menatap si pendatang baru itu dengan kening berkerut. "Tumben kemari. Ada apa?" tanyanya karena tak biasanya namja itu menemuinya pada jam kantor.

"Apa maksudmu? Apa aku tak boleh mengunjungi adikku sendiri?" namja yang bernama lengkap Jung Yonghwa itu berkata dengan nada terluka yang dibuat-buat. Dia lalu mendudukan dirinya di salah satu sofa yang berada di sudut ruangan.

"Aish, kau tahu bukan itu maksudku, hyung." Yunho melepas kacamatanya lalu melanjutkan kegiatannya mematikan laptop dan membereskan mejanya. Ah, tiba-tiba dia teringat ponselnya yang berbunyi. Dengan cepat dia membuka pesan masuk.

From : Changminnie

Hyung, Jidat hyung akan mentraktir kita makan siang!

Pastikan kau datang, ne? Kita kuras habis kantongnya, khukhu~

Yunho hanya terkekeh membaca pesan itu sebelum melangkahkan kakinya bergabung bersama Yonghwa di sofa.

"Ada apa?" tanyanya lagi.

Yonghwa menatapnya penuh arti. "Kudengar semalam kau membawa gadis ke apartemenmu, apa itu benar?" tembaknya langsung.

"Mwo?" Yunho kaget mendengar pertanyaan yang sungguh tak pernah diduganya. "Ba-bagaimana kau.." Yunho tak mampu melanjutkan kalimatnya. Terlalu speechless. Hell, darimana kakaknya tau hal semacam itu?

"Tahu?" Yonghwa menaikan alisnya. "Jadi itu benar? Ckck.. Kalau begitu kurasa cepat atau lambat kau memang harus keluar dari perusahaan ini, Yun." Yonghwa berucap dengan nada serius.

"Mwo?" Yunho bertambah kaget. "Kau mau memecatku, hyung?" tanyanya tak percaya. Yonghwa hanya terkekeh melihat reaksi adiknya.

"Tidak, bodoh. Hanya saja mungkin kau akan kutransfer ke perusahaan lain dalam waktu dekat ini," jawab Yonghwa asal.

Yunho menatap Yonghwa tak mengerti. Ditransfer? Memang ada hal seperti itu?

Cklek

Suara pintu terbuka mengalihkan perhatian Jung bersaudara. Mereka menoleh ke arah pintu dan mendapati seorang yeojacantik berdiri di sana sambil tersenyum. Senyum Yonghwa pun merekah melihat kedatangan yeoja itu.

"Ternyata kau ada di sini," ucap yeoja yang tak lain adalah Jung Seohyun, istri dari Yonghwa. Mereka sudah menikah sekitar 5 tahun lalu. "Hai Yun," sapa Seohyun pada Yunho.

"Hai noona.. Kebetulan sekali, mau mengambil suamimu ini, eoh?"

Seohyun terkekeh sedangkan Yonghwa mengabaikannya. "Besok malam kau pulanglah ke rumah. Ada yang ingin appabicarakan denganmu," ucap Yonghwa.

"Hn." Yunho hanya mengangguk malas.

Yonghwa menepuk bahu Yunho lalu berjalan menghampiri Seohyun. Yonghwa merangkul pinggang istrinya itu dan bersiap untuk keluar, namun sebelumnya dia menoleh ke belakang.

"Oh ya, ini sudah jam makan siang. Kau tak ingin bergabung bersama kami?" tawar Yonghwa.

"Ne, Yun.. Kebetulan noona membawa bekal lebih," tambah Seohyun.

"Tidak, terima kasih. Aku akan makan siang di luar bersama temanku," tolak Yunho halus.

"Benarkah? Yeoja atau namja?" cecar Yonghwa penasaran. Yunho menatapnya sengit.

"Bukan urusanmu, hyung."

Yonghwa hanya memutar kedua bola matanya bosan sebelum menarik Seohyun keluar dari ruangan.

.

..GJ..

.

"Ah, aku berubah pikiran. Kalian tak usah kemari, kita bertemu di luar saja. Hmm.."

Jaejoong berbicara di telepon sambil mengamati hasil kuteks di kuku-kukunya dengan teliti. Saat ini dia tengah berada di kamar dengan sekitar 8 orang maid berdiri di sisi kanan kirinya. Beberapa dari mereka tampak merapikan sexy mini dressyang dikenakannya, dan beberapa lagi memegang kotak-kotak kaca berisi aksesoris. Jangan lupakan seorang maid yang dengan sabar memegangi ponselnya serta seorang hair stylish yang tengah menata rambutnya.

"Bagaimana kalau di tempat biasa? Ne.."

Jaejoong memberi isyarat pada para maid dengan kotak aksesoris agar mendekat. Jari-jarinya yang lentik dengan terampil memilih sebuah anting bermata blue sapphire lalu memasangnya di kedua telinganya. Setelah itu tangannya kembali bergerak mengambil sebuah sunglasses ber-frame putih.

"Hm, arraseo."

Telepon terputus. Dengan sigap maid yang bertugas memegangi ponsel Jaejoong menyerahkan kembali ponsel itu pada Jaejoong. Baru saja yeoja cantik bermata doe itu menerimanya, sesuatu yang tajam tiba-tiba serasa menusuk kulit kepalanya. Dia memekik.

"Ahhh~"

Semua maid yang ada di situ tampak tercengang melihat adegan di depan mereka. Beberapa diantaranya segera menundukkan kepala, tak berani melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Omo! Cheosonghamnida agasshi, cheosonghamnida.." Sang hair stylish tampak shock. Berkali-kali yeoja itu membungkukkan badannya memohon maaf. Sepertinya dia kurang hati-hati saat memasang aksesoris di rambut Jaejoong hingga jarumnya yang runcing mengenai kulit kepalanya.

"Neo micheoso?" desis Jaejoong sambil menatap tajam sang hair stylish yang wajahnya sudah memucat. Berani sekali membuat dirinya kesal disaat mood-nya sedang buruk. Tanpa sengaja mata Jaejoong menangkap sebuah cincin tersemat di jari manis yeoja itu.

"Cincin pernikahan, eoh?" ucapnya sinis. "Apa perkerjaan suamimu?"

"Ma-mahasiswa," jawab hair stylish itu gugup.

"Mahasiswa? Ck, pasti pengeluaran suamimu banyak ya.. Apa jadinya kalau istrinya dipecat?"

"M-mwo?"

"Kau dipecat," ucap Jaejoong dingin. Tanpa berkata apa-apa lagi dia menggantungkan blazer hitam di kedua bahunya lalu meraih tas yang disodorkan salah satu maid dan beranjak pergi.

"Tu-tunggu! Agasshi! Agasshi!"

Jaejoong tak menghiraukannya dan terus berjalan. Pintu kamar terbuka dan terlihat 3 orang namja sudah menunggunya. Mereka bergegas mengikuti langkah Jaejoong.

"Agasshi, ini adalah pengawal pribadi anda yang baru. Namanya Cho Kyuhyun." Hwang Chansung, sekretaris kepercayaan Jonghyun yang berada di sisi kanan belakangnya memperkenalkan namja muda yang berjalan di sebelah kiri belakang Jaejoong.

"Hn," jawab Jaejoong seadanya karena dia memang sudah bertemu namja itu sebelumnya.

"Izinkan saya memperkenalkan diri sekali lagi. Cho Kyuhyun imnida, dengan segenap hati akan melayani anda, agasshi."Kyuhyun membungkuk hormat walau dia tahu Jaejoong tidak akan melihatnya.

Jaejoong menghela nafas panjang. Sepertinya bodyguard ini tak buruk juga. Dia mulai memberinya wanti-wanti. "Jangan pernah memakai bahasa inggris di depanku kecuali kita ada di luar negeri, jangan berbicara kecuali aku tanya, jalan harus 3 langkah di belakangku, jangan terus menempel padaku, bau sabun dan parfum dilarang karena itu menggangguku, dan tidak boleh menerima telepon pribadi di depanku," jelasnya panjang lebar.

"Ne? Bisa anda ulangi lagi, agasshi? Anda berbicara terlalu cepat, saya tidak bisa mengikuti-"

Jaejoong menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap Kyuhyun yang langsung menghentikan kegiatan mencatatnya.

"Kau tahu apa yang paling kubenci?"

Kyuhyun terdiam.

"Ular, cacing, kecoak, ulat, dan mengatakan kata-kata yang sama dua kali. Kalau begini kau juga akan dipecat, arraseo?"

"Ne, agasshi."

"Apa yang kau tunggu? Cepat siapkan mobil," perintah Jaejoong.

"Ah, ne." Kyuhyun membungkukkan badannya lalu bergegas pergi. Jaejoong pun melanjutkan langkahnya. Joon yang berada paling belakang segera berbicara melalui wireless pada jasnya–

"Agasshi akan keluar."

–yang dengan cepat langsung direspon Mir dan Cheondoong yang berada di aula utama dan halaman. Mereka segera mengkoordinir para maid dan buttler untuk berbaris rapi di sepanjang jalan menuju pintu keluar. Mereka membungkuk hormat ketika Jaejoong berjalan melewati mereka. Seperti biasa, tampak angkuh dan dingin.

"Aku ingin keluar sendiri hari ini," ucapnya pada Kyuhyun yang sudah membukakan pintu kursi penumpang. Kyuhyun mengangguk mengerti lalu kembali menutup pintu.

"Ne, agasshi."

.

..GJ..

.

Sebuah mobil Lamborghini berwarna putih melaju dengan kecepatan sedang menembus jalan raya Seoul yang lenggang. Tampak di dalamnya menyetir dengan santai sambil mengunyah permen karet, seorang yeoja cantik dengan sunglasses ber-frame putih.

Jaejoong melirik jam digital yang ada di dashboard mobilnya. Pukul 12.30. Pantas perutnya lapar. Dia tidak sedang moodmakan di rumah tadi. Well, sepertinya mengubah tempat janjian mereka di restaurant tidak masalah.

Jaejoong meraih ponselnya di dashboard, bermaksud menghubungi Junsu dan Kibum. Tapi karena fokus menyetir, ponsel itu tergelincir dari tangannya dan jatuh. Jaejoong mendesah sebelum akhirnya membungkuk dan meraba-raba karpet mobil mencari ponselnya. Hal yang salah karena aksinya tersebut justru membuatnya tidak melihat lampu merah.

Brakk

Dengan sukses Jaejoong menabrak mobil di depannya.

"Ouch!" Jaejoong yang sudah menemukan ponselnya mengerang ketika mobilnya berguncang dan berhenti tiba-tiba, membuat kepalanya terantuk kemudi. Sambil mengelus kepalanya, Jaejoong kembali ke posisi semula dan melihat ke depan. Oh, ternyata ini lampu merah toh?

Tok tok tok

Perhatian Jaejoong teralih ketika dirasanya ada yang mengetuk jendela mobilnya. Apa lagi ini?

"Ya! Buka! Turunkan jendelanya!"

Dengan malas Jaejoong membuka jendelanya. Dia melepas sunglasses-nya lalu menatap orang yang menggedor-gedor kaca mobilnya itu datar. Tapi seketika ekspresinya berganti begitu mengenali namja berbibir hati itu walau dengan cepat diubahnya kembali wajahnya menjadi sedatar mungkin.

"Cih, kau ternyata? Tak kusangka kita bertemu lagi. Apa yang kau lakukan disini, eoh? Belajar menyetir?" tanya namja itu dengan nada mengejek.

"Ada apa?" sahut Jaejoong cuek. Sepertinya dirinya harus terbiasa dengan namja yang selalu sinis padanya ini. Sungguh berbeda dengan namja lain yang selalu bersikap manis dan cari muka di depannya.

"Ada apa kau bilang? Kau tak lihat ini lampu merah dan kau sudah sembarangan menabrak mobilku!"

Jaejoong menatap namja itu lekat-lekat dari atas sampai bawah lalu menaikan sebelah alisnya. "Tapi sepertinya kau baik-baik saja."

"Yeah.. tapi tidak dengan mobilku, agasshi."

Jaejoong memasang wajah paham. Dia meraih dompet di tasnya lalu mengambil sebuah cek. "Apa ini cukup?" tanyanya seraya menyodorkan cek itu pada namja di depannya.

"Mwo?"

.

..GJ..

.

"Ya! Dimana kau Jung? Semakin lama kau datang semakin gencar si food monster ini menghabiskan uangku!"

Yunho menjauhkan ponselnya mendengar seruan Yoochun. Kakinya menginjak rem begitu melihat lampu merah di depannya.

"Ne, ne.. aku sedang terjebak lampu merah. Sabar sedikit."

"Aish, harusnya kau lihat seberapa banyak pesanan si tiang listrik ini selama menunggumu."

Yunho terkekeh karena tentu saja dia bisa membayangkannya. "Ck, bukankah kau ini pengacara muda terkenal, eoh? Masa mengisi sebuah perut karet saja tidak bis-"

Brakk

Hampir saja Yunho menghantam kemudi di depannya saat tiba-tiba mobilnya terdorong keras ke depan. Beruntung dia menggunakan sabuk pengaman.

"Oi, Jung! Suara apa barusan?"

Suara Yoochun menyadarkan Yunho yang terdiam shock. Dengan sigap dia melepas seatbelt-nya. "Kita lanjutkan nanti, Chun. Sepertinya ada yang menabrak mobilku." Usai berkata begitu Yunho mematikan telepon dan menoleh ke belakang. Benar saja. Tampak sebuah mobil yang Yunho kenali sebagai Lamborghini berada tepat di belakangnya.

Yunho bergegas keluar. Matanya membulat melihat keadaan bemper mobilnya yang penyok. Dengan kesal dia menghampiri Lamborghini yang nampak tenang-tenang saja itu. Diketuknya kaca mobil itu berulang kali.

"Ya! Buka! Turunkan jendelanya!"

Kaca mobil itu terbuka, memperlihatkan seorang yeoja berkacamata hitam yang tengah duduk santai di kursinya. Yeoja itu melepas kacamatanya lalu menatap Yunho dengan matanya yang besar dan bening. Yunho terpana sesaat. Dia seolah-olah melihat sesosok malaikat. Penampilannya yang tidak berantakan seperti kemarin membuat yeoja itu terlihat cantik.

Shit! Buru-buru Yunho menepis pikiran itu jauh-jauh begitu menyadari siapa yeoja di depannya ini. Siapa lagi kalau bukan Kim Jaejoong. Satu-satunya yeoja yang membuat emosinya begitu mudah terpancing.

"Cih, kau ternyata? Tak kusangka kita bertemu lagi. Apa yang kau lakukan disini, eoh? Belajar menyetir?" tanyanya dengan nada mengejek.

"Ada apa?" Jaejoong balik bertanya dengan cuek. Yunho menggeram.

"Ada apa kau bilang? Kau tak lihat ini lampu merah dan kau sudah sembarangan menabrak mobilku!"

Jaejoong menatap Yunho lekat-lekat dari atas sampai bawah lalu menaikan sebelah alisnya. "Tapi sepertinya kau baik-baik saja."

"Yeah.. tapi tidak dengan mobilku, agasshi." Yunho mencoba sabar dan menekankan suaranya.

Jaejoong memasang wajah paham. Dia meraih dompet di tasnya lalu mengambil sebuah kertas yang Yunho kenali sebagai cek. "Apa ini cukup?" tanyanya seraya menyodorkan cek itu pada Yunho.

"Mwo?" Yunho menatap Jaejoong tak percaya. "Disaat seperti ini bukankah kau harusnya meminta maaf terlebih dahulu,agasshi," katanya mengingatkan.

"Baiklah. Minta lebih banyak lagi kan?" Kali ini Jaejoong mengeluarkan 3 cek dari dompetnya lalu kembali menyodorkannya. Yunho makin membulatkan matanya tak percaya. Apa-apaan ini? Yeoja ini pikir dia itu pengemis?

"Kau benar-benar tidak sopan, agasshi. Apa aku pernah bilang kalau aku meminta uang, huh? Apa aku terlihat seperti orang yang membutuhkan uangmu? Kau sudah menabrak mobilku dan hal pertama yang yang wajar dilakukan adalah meminta maaf. Apa kau tak pernah diajari sopan santun, eoh?"

Bukannya mendengar ucapan Yunho, Jaejoong malah dengan santai memakai kembali kacamatanya, membuka dompet, kemudian melempar berlembar-lembar cek tepat ke wajah Yunho, membuat namja itu kaget setengah mati.

"Ya! Apa maksudnya ini, hah! Hey kembali kau! Kim Jaejoong!"

Yunho berniat menyemprot Jaejoong tapi terlambat karena Lamborghini itu sudah melaju pergi. Dengan kesal dia menghentak-hentakkan kakinya ke aspal yang sudah penuh oleh cek.

"Brengsek!"

.

..GJ..

.

Hari sudah menginjak malam ketika Jaejoong –diikuti Kyuhyun yang setia di belakangnya, menginjakkan kakinya di lobbysebuah hotel berbintang lima. Dia melangkah dengan angkuh, mengabaikan tatapan-tatapan dan decak kagum yang terus mengikutinya.

Sepanjang perjalanan pikiran Jaejoong terus bergelut. Ada apa tiba-tiba kakeknya memintanya bertemu di hotel ini? Ini bahkan bukan hotel mereka. Apa mungkin…?

"Kita sudah sampai, agasshi."

Suara Kyuhyun menyadarkan Jaejoong dari lamunannya. Jaejoong menatap pintu restaurant di depannya dengan diam. Tapi sedetik kemudian dia menyeringai. Mau mencoba menjodohkannya lagi, eoh?

Jaejoong memasuki ruang VVIP yang ditunjukkan oleh pelayan dan melihat sang kakek duduk bersama orang-orang yang tak ia kenali. Beberapa dari mereka bahkan duduk membelakanginya. Tanpa rasa takut sedikitpun Jaejoong berjalan mendekat dan duduk di kursi kosong di sebelah Jonghyun.

"Ah, kau sudah datang." Jonghyun tersenyum menyambutnya. Jaejoong hanya mengangguk sambil mengobservasi tamu-tamu di depannya. Matanya seketika membulat melihat namja yang sudah tak asing lagi untuknya. Begitupun dengan namja itu yang terlihat kaget melihat dirinya.

"KAU?!"

.

.

.

To be continue…

Here the update :)

Gimana chingu? Makin anehkah? Ga da yang menyangka kan jadinya kaya gini, hohoho xD

Sampai ketemu di My Nerdy Girl! #kabur