-You, and The Time-

Cast : Cho Kyuhyun as Kim Kyuhyun

Kim Kibum as Kim Kibum

Lee Donghae as Kim Donghae

Choi Siwon of Super Junior as Choi Siwon

Kim Ji Won [OC]

Choi Seung Hwan [OC]

Kim Jae Rim [OC]

Warning : sorry for typo(s).

.

.

.

"Hyung, kau tak pergi ke kantor?"

"Tidak."

"Kibum Hyung di mana?"

"Kibum ada kuliah mendadak?"

"Hm?"

"YA! Jangan tidur lagi, cepat turun!"

Donghae berteriak ketika melihat Kyuhyun kembali masuk ke dalam kamarnya.

"Ah Hyung, aku tidak bisa tidur semalam.." Kyuhyun berteriak dari kamarnya.

"Tidak bisa tidur apanya? Kau bahkan mendengkur keras-keras. Ah, benar-benar!"

"Aish!"

Dengan langkah gontai akhirnya Kyuhyun menuruni tangga lalu menuju dapur.

"Kau harus belajar memasak mulai dari sekarang."

"Kenapa?"

"Ahjumma sudah tidak bekerja lagi, Kyu. Kau harus terbiasa memakan masakanku, oke?"

"Kenapa Ahjumma berhenti bekerja?"

"Entahlah, Ahjumma berkata jika ia tidak ingin bekerja dalam waktu yang lama. Ada sesuatu penting yang tak bisa ia tinggalkan."

"Lalu kenapa aku harus belajar memasak? Hyung kan bisa memasak untukku?"

"Jadi kalau aku dan Kibum sedang tidak ada di rumah, kau mau memakan apa?"

"Aku bisa beli di luar."

"Kyuhyun, kau lupa?"

"Tidak..."

"Dokter Choi akan marah besar kalau sampai ia tau kau sering membeli makanan di luar. Lebih baik kau memasak sendiri. Setidaknya masakan yang mudah dimasak, enak, dan boleh kau makan."

"Aku tidak bisa, Hyung."

"Kau bisa jika mau belajar."

"Tapi aku tidak ingin belajar memasak."

"Aish! Kim Kyuhyun!"

Donghae menggeram lucu, ia menghentikan kegiatannya memotong sayuran. Ia kemudian menarik tangan Kyuhyun dengan paksa.

"Astaga, aku seperti memaksa bayi besar."

"Ah Hyung katakan saja kau ingin menyuruhku membantumu.."

"Jangan merajuk, uh? Cepat cuci tanganmu dan potong sayuran yang ini." Donghae menunjuk setumpuk sayuran segar yang masih terbungkus rapi di meja dapur.

Dengan langkah terseret Kyuhyun menuruti perintah Donghae. Mencuci tangan, mengambil pisau, dan sekarang ia siap memotong sayurannya.

"Ini dipotong bagaimana?"

"Seperti ini." Donghae menunjuk sayuran yang telah ia potong sebelumnya.

"Kenapa banyak sekali? Siapa yang akan menghabiskannya?"

"Siapa lagi? Tentu saja kau."

"Hyung.. kenapa hari ini kau jahat sekali padaku, uh?"

"Tidak, aku tidak jahat padamu. Ayo cepat potong lalu cuci sayurannya." Donghae tetap berdiri disamping Kyuhyun yang merengut sambil memotong sayurannya.

"Ya seperti itu.."

"Ya, bagus! Wah kau memotongnya dengan rapi sekali."

"Kyuhyun-ah, kau benar-benar berbakat memasak!"

"Wah, lihat itu, kau keren sekali jika seperti itu!"

2 menit.

7 menit.

10 menit.

Berbagai pujian dilontarkan Donghae untuk Kyuhyun, tapi itu justru tak membuatnya senang. Kyuhyun justru merasa kesal, jauh lebih kesal dari sebelumnya. Kini Kyuhyun hanya mematung melihat Donghae memasak sayuran yang ia potong.

Dulu Kyuhyun tak yakin Donghae bisa merawatnya dengan baik, bahkan dulu Donghae adalah yang paling malas ketika disuruh membantu Eomma di dapur, tapi memang keadaan berkata lain. Kyuhyun tau Donghae terpaksa melakukan itu semua demi dia juga Kibum—diam-diam Kyuhyun menghela napas.

"Hyung, aku akan mencuci mangkuknya."

"Ya, ya, baiklah." Donghae menjawab tanpa menoleh ke arah Kyuhyun, ia terlalu 'tegang' dengan masakannya.

Kyuhyun langsung bergerak mencuci mangkuk-mangkuk kotor itu, ini bukan pekerjaan yang asing baginya sejak Appa dan Eommanya pergi. Donghae memang terkadang meyerahkan pekerjaan itu pada Kyuhyun saat dia tak sempat membersihkannya.

Hampir saja Kyuhyun selesai dengan pekerjaannya ketika ia tiba-tiba menghentikan gerakannya. Ia melepas sarung tangan yang ia pakai dengan kasar—jantungnya tiba-tiba saja berdetak dengan cepat dan itu membuatnya merasa sakit.

'Sudah, sudah, aku harus berhenti.' Batin Kyuhyun, ia masih berdiri di tempatnya. Ia memejamkan matanya, mencoba tenang menghadapi serangan kecil yang kini mulai membuat napasnya semakin berat.

"Kyu, kau sudah selesai? Kenapa masih diam di sana?" Donghae akhirnya membuka suara. Ia sadar adiknya hanya terdiam di tempatnya sejak tadi. Merasa tidak ada jawaban, Donghae akhirnya memutuskan untuk menoleh ke arah adiknya—dan benar saja.

'Serangan kecil lagi' Batin Donghae sambil berjalan mendekati adiknya yang masih terdiam di sana.

"Tinggalkan itu, biar aku yang melanjutkannya." Donghae merengkuh pundak Kyuhyun, membantu adiknya itu untuk duduk di kursi meja makan.

Pucat. Keringat dingin. Tidak bisa bernapas dengan baik.

Donghae memperhatikan sang adik dengan tatapan tenang, Kyuhyun memang cukup sering mengalami hal seperti ini dan Donghae sudah terbiasa.

"Sakitnya mereda?" Donghae mengelus punggung Kyuhyun pelan.

"Sudah." Kyuhyun tersenyum lebar-lebar walau suaranya masih terdengar seperti bisikan.

"Duduklah di sini dulu. Aku akan melanjutkan pekerjaanku, lalu kita sarapan. Apa kau sudah sangat lapar?"

Kyuhyun menggeleng, "Lanjutkan saja, jangan terburu-buru." Kyuhyun menjawab singkat.

"Baiklah." Donghae menghela napas lega ketika ia bisa melihat raut adiknya yang berangsur membaik.

.

.

.

.

Flashback

Jaerim kini tengah menggenggam tangannya erat-erat, bibir pucatnya tak henti bergerak—merapalkan doa-doa yang mengalir begitu saja dari hati seorang ibu yang tengah melihat anaknya terbaring sakit sambil dikelilingi banyak Dokter dan Perawat yang tampak sibuk dengan tugas masing-masing. Bukankah itu mengerikan?

"Jiwon-ah.." Mata sayu perempuan itu menatap mata pria yang tengah berdiri di sampingnya—mata itu seakan berkata tak sanggup lagi menyaksikan apa yang sedang dilihatnya.

Seolah mengerti apa arti tatapan itu, Jiwon langsung merengkuh tubuh Jaerim ke dalam pelukannya. "Aku tau, aku tau Jaerim-ah. Tak perlu memaksa jika kau memang tak bisa melihat Kyuhyun di dalam sana." Jiwon mengelus rambut Jaerim pelan—ia sudah menangis sesenggukan di pelukan Jiwon.

Jiwon menatap kegiatan sibuk yang terjadi di balik kaca besar itu. Mata lelahnya bergerak-gerak mengikuti gerakan orang-orang di dalam sana.

'Apa yang terjadi padamu, Kyuhyunie?' Seperti itu—pertanyaan itu terus menyerang kepalanya.

Jiwon tidak tau pasti apa yang terjadi sebelum beberapa orang masuk dengan tergesa ke dalam ruangan itu—ruangan dimana Kyuhyun dirawat. Ia dan Jaerim memang hanya diperbolehkan melihat dari luar sejak tadi.

"Jaerim-ah, mereka sudah selesai. Kyuhyun baik-baik saja." Suara itu bergetar.

Jaerim yang mendengar itu langsung terkesiap, dilepasnya pelukan erat itu, kakinya tanpa sadar maju beberapa langkah mendekati bilik kaca itu. Maniknya menelisik setiap inci tubuh Kyuhyun yang masih dikelilingi beberapa Perawat. Tidak apa-apa, Kyuhyun terlihat baik-baik saja, sama seperti tadi—masih tertidur dengan tenang.

Pintu ruangan itu akhinya terbuka, seseorang berpakaian putih keluar dengan langkah berat, diikuti dengan beberapa orang lain yang juga berpakaian sama. Seseorang itu tampak mendekati Jiwon dan Jaerim.

"Ap-apa yang terjadi, Seunghwan-ah?"

"Hanya terjadi sedikit gangguan. Dia—Kyuhyun masih sangat shock, Jiwon-ah. Tapi itu bisa ditangani. Kondisinya belum stabil sama sekali."

Kaki Jaerim tiba-tiba melemas mendengar perkataan itu. Tubuhnya hampir saja terjatuh jika dua orang di sampingnya tidak segera menahan tubuhnya. Jiwon dan Dokter Choi saling bertatapan—seolah tak peduli dengan Jaerim yang sudah hampir kehilangan kesadarannya.

"Seunghwan-"

"Kau bisa membawanya ke kamar lain, Jiwon-ah. Ada ruang rawat yang kosong, kau dan Jaerim bisa beristirahat di sana. Mari ikut aku." Dokter Choi berusaha memecah kecanggungan yang terjadi.

Jiwon langsung menangkap perkataan Dokter Choi. Ia mengangkat tubuh Jaerim yang sudah tak berdaya—membawanya berjalan mengikuti Dokter Choi.

"Aku akan mengkhususkan kamar rawat ini untukmu dan Jaerim. Kalian bisa melihat Kyuhyun dengan mudah." Dokter Choi membuka ruang rawat yang hanya berjarak beberapa langkah dari ruang Kyuhyun dirawat itu.

"Apakah tidak apa-apa? Kami bukan pasien." Jawab Jiwon sambil membaringkan Jaerim.

"Dia menjadi pasien sekarang." Dokter Choi menatap Jaerim yang benar-benar tak sadarkan diri itu.

Jiwon hanya menjawab dengan senyuman sedih. Diam-diam Jiwon merasa terbantu dengan posisi Dokter Choi di Rumah Sakit itu—Dokter bertubuh tinggi itu memiliki jabatan penting di sana, itu akan sangat membantu jika keadaan Kyuhyun memburuk seperti ini.

"Kau benar. Dia tidak berhenti menangis sejak tadi, Seunghwan-ah. Aku tidak tau apa yang harus kulakukan untuk menghiburnya." Jiwon memijit kepalanya pelan.

"Baiklah, aku akan meminta perawatan untuk Jaerim setelah ini. Lalu Kyuhy-"

"Kyuhyun baik-baik saja, kan?"

"Aku tidak bisa mengiyakan itu, Jiwon-ah."

Jiwon menunduk dalam-dalam.

"Buruk, benar-benar buruk. Kondisinya akan terus dipantau disana, Jiwon-ah. Berdoalah saja yang terbaik untuk Kyuhyun."

"Apa aku bisa menjenguknya, Seunghwan-ah?"

"Maaf, tapi belum bisa, Jiwon-ah. Kondisinya masih rentan sekali. Dia sadar—maksudku Kyuhyun sudah merespon tadi, tapi semuanya masih sangat lemah." Suara Dokter Choi bergetar.

"Kau juga harus kuat Seunghwan-ah. Jangan menyerah, demi Kyuhyun. Kau pasti bisa menyelamatkannya." Jiwon menepuk pelan pundak Dokter itu.

"Harus—aku harus seperti itu, Jiwon-ah. Lalu dimana Donghae dan Kibum?"

"Entahlah, Donghae mungkin sedang mencari Kibum. Aku tidak tau Seunghwan-ah.."

"Jiwon-ah, bagaimanapun aku akan menepati janjiku untuk berbicara pada Kibum. Aku akan melakukannya setelah semua membaik nanti."

"Jika memang kau ingin melakukannya, maka lakukanlah Seunghwan-ah. Ini juga demi Kyuhyun, dan aku memang sudah tak sanggup lagi menghadapi Kibum."

Baiklah... Maaf, tapi aku harus pergi, Jiwon-ah.." Dokter Choi beranjak keluar dari ruangan itu—menyembunyikan air matanya yang mulai mendesak keluar.

End of Flashback

.

.

.

.

Siwon tampak risih ketika pekerjaannya terganggu oleh getaran dari ponselnya yang seakan tak ingin berhenti.

"Siapa yang menelpon di jam kerja seperti ini, uh?" Monolog Siwon. Ia tetap tak mempedulikan ponsel yang tergeletak di meja kerjanya itu, ia masih tetap setia dengan pekerjaannya. Setumpuk catatan medis pasien tengah menunggu ia periksa di sana.

Belum lama setelah Siwon menggerutu kesal karena dering ponselnya, hatinya merasa sedikit tergerak untuk menjawab panggilan yang bertubi itu. Siwon mengambil ponselnya, memperhatikan beberapa digit nomor yang tertera di sana, Siwon tak yakin siapa yang tengah bersikeras menelponnya itu—hanya ada nomor asing di sana.

"Halo, siapa in-"

"Siwon-ah.."

Kening Siwon berkerut, otaknya dengan cepat mengingat-ingat suara milik seseorang di teleponnya itu. Suara yang tak asing—sama sekali tak asing. Butuh waktu lama sampai akhirnya ia yakin, itu adalah suara yang amat sangat ia kenal.

"Eom-Eomma?" Nada suaranya bercampur—terkejut, tidak percaya.

'Eomma merindukanmu, Siwon-ah..'

"Dimana kau sekarang?" Singkat—juga terlampau dingin bagi seorang anak menyapa sang ibu.

'Aku di Seoul, Siwon-ah. Aku akan tinggal untuk beberapa lama disini, kau dimana sekarang? Kudengar kau sudah kembali ke Korea. Bagaimana kelulusanmu? Kau pasti mendapat prestasi yang sangat baik.'

Suara halus dan kecil itu menyapa telinga Siwon—berhasil menggetarkan hatinya yang kini sudah bercampur aduk. Siwon diam-diam meremas tangannya erat.

"Tidak perlu menemuiku lagi. Hiduplah saja sesukamu, jangan ganggu aku dan Appa lagi." Siwon menahan getaran pada nada suaranya, matanya mulai berkaca-kaca.

'Siwon-ah, tidak, tidak, aku tidak bermaksud seperti itu. Apa Eomma salah jika Eomma hanya ingin mengetahui keadaanmu?'

"Kau sudah tak peduli padaku, kau sudah pergi jauh, bahkan mungkin aku tak ingin mengingatmu lagi jika aku bisa."

'Siwon-ah, maafkan Eomma...' Suara itu terdengar terisak.

Hati Siwon perlahan meluluh. Tidak, ia tidak boleh seperti ini pada orang yang telah melahirkannya. Bagaimanapun juga darah sang Ibu masih mengalir di dalam tubuhnya, dan ia benar-benar tak bisa menyangkal itu.

"Aku bekerja bersama Appa, masih di Rumah Sakit yang dulu."

'Eomma akan pergi ke sana nanti, Eomma akan membawakan sesuatu untukmu, Siwon-ah.'

"Tidak perlu."

'Siwon-ah.. Eomma moho-'

"Kubilang tidak perlu. Aku tidak mau."

'Tolonglah, nak. Eomma tidak akan kembali lagi ke Korea setelah ini.'

"Aku tidak peduli."

'Kau membenci Eomma?' Suara itu terdengar terisak.

Siwon terdiam. Ia membenci ibunya? Tidak, Siwon masih menyayanginya. Jadi, itu berarti Siwon sebenarnya masih menyayangi sang Ibu? Tidak—Siwon juga... membencinya.

"Harus bagaimana aku menjawab pertanyaan itu, huh? Jika kau memang berniat meninggalkanku maka pergilah jauh-jauh, tak usah menghubungiku, tak usah peduli dengan keadaannku, tak usah mengawasiku secara diam-diam. Tapi jika tak berniat meninggalkanku, mengapa Eomma tak pernah pulang? Mengapa Eomma meninggalkanku begitu saja bersama Appa, huh?Berikan aku alasan Eomma, berikan aku alasan mengapa Eomma melakukan itu, jadi aku bisa memilih apakah aku harus membenci Eomma atau tidak. Hatiku sakit jika terus terombang-ambing seperti ini Eomma."

'Maafkan Eomma, Siwon-ah. Maafkan Eomma... Eomma tak bisa mengatakan hal itu sekarang, tapi suatu saat nanti Eomma pasti mengatakannya padamu, Eomma mohon tidak sekarang Siwon-ah. Eomma tidak sanggup jika harus mengatakannya sekarang.' Suara itu terisak hebat.

"Baiklah, lalu jangan datang lagi. Sudah cukup, sebaiknya Eomma simpan saja rahasia itu, biarkan sakit ini ada di dalam hati kita masing-masing. Eomma tak perlu datang kemari. Aku sudah bahagia bersama Appa."

PIP.

Siwon mematikan sambungannya dengan paksa, ia tak sanggup jika harus mendengar tangisan sang Ibu lebih lama lagi. Diusapnya dengan kasar matanya yang mulai penuh dengan air mata. Biarlah, Siwon sudah merelakan Ibunya pergi, ia sudah melupakan Sang Ibu, ia hanya ingin menjalani hidupnya dengan tenang bersama Sang Ayah—satu-satunya orang yang merawatnya sejak ia kecil.

"Siwon-ah? Itu.. siapa yang menelponmu baru saja?"

Siwon terkejut melihat sang ayah sudah berdiri di dekat pintu ruang kerjanya.

"Ap-Appa.. Sejak kapan Appa berdiri di sana?"

"Jawab pertanyaan Appa, Siwon-ah.."

"It-itu.. itu tadi... Eomma. Dia ada di Seoul sekarang."

"Apa?!"

.

.

.

.

Flashback

Donghae membuka pintu sebuah ruangan dengan kasar, dibelakangnya ada seseorang yang tampak berjalan terhuyung sedang mengikutinya. Seseorang itu menunduk dalam-dalam, menahan sakit dan perih yang terasa di sekujur tubuhnya.

"Duduk. Buka bajumu."

Donghae menghempaskan tubuh Kibum di ranjang kamarnya dengan kasar. Penampilan kedua kakak-beradik itu benar-benar kacau, sama seperti hati keduanya. Wajah yang terluka, rambut yang acak-acakan, baju yang penuh bercak darah. Sungguh mengerikan untuk malam sedingin ini.

Kibum menurut—perlahan membuka baju bagian atasnya dengan sedikit lenguhan ketika luka di tubuhnya tak sengaja tersentuh. Sungguh, tubuhnya sudah seperi remuk saja. Ia tak mempedulikan Donghae yang setelahnya pergi menuju dapur, ia hanya menuruti perkataan sang kakak yang baru saja beradu pukul dengannya beberapa saat yang lalu.

Beberapa saat kemudian, Donghae kembali sambil membawa semangkuk air hangat, handuk kecil, juga kotak obat kecil. Donghae tak peduli dengan kondisinya yang juga sama seperti Kibum, jujur saja emosinya masih meluap-luap.

"Tegakkan tubuhmu, Kim Kibum!"

Kibum tersentak ketika Donghae tiba-tiba berteriak di depannya. Dia tak bisa duduk lebih lama lagi, kepalanya sudah terasa berputar, mungkin sebentar lagi ia akan pingsan.

Donghae mendekat ke arah Kibum, kemudian mengambil handuk yang telah basah dengan air hangat itu, lalu mengelapnya dengan sedikit kasar ke wajah dan tubuh Kibum. Kibum hanya pasrah, lenguhan sakit berkali-kali keluar dari bibirnya yang pucat. Kibum ingin menangis, tapi tak bisa, hati dinginnya telah mampu membekukan air mata itu. Ia tak menyangka malam menyedihkan seperti ini akan terjadi di hidupnya—sungguh tak menyangka.

Donghae selesai dengan pekerjaannya membersihkan luka-luka Kibum, ia kemudian mengambil beberapa plaster dan obat merah di kotak obat yang telah dibawanya. Donghae membuka plaster-plaster itu lalu menempelkannya pada wajah Kibum dengan tangan yang bergetar karena ia juga menahan sakit. Donghae tak berlama-lama, setelah selesai dengan Kibum, ia langsung membuka bajunya—luka-luka yang mengerikan juga terlihat di sana.

"Sekarang basuh lukaku."

Kibum terdiam, ia menatap Donghae yang kini sudah duduk di sampingnya. Mata sayunya menatap mata Donghae yang memerah.

"Cepat lakukan!"

"Kenap-"

"Cepat lakukan, Kim Kibum! Kau yang membuat luka-luka ini, jadi kau harus membersihkannya. Aku sudah membersihkan milikmu!"

Tubuh Kibum tersentak kaget mendengar perkataan Donghae. Ia kemudian mengambil handuk itu, mulai mengusapkannya ke tubuh dan wajah Donghae dengan tangan yang bergetar hebat. Kibum menundukkan wajahnya dalam-dalam, ia tak berani menatap mata sang kakak lagi.

"Kenapa kau menunduk seperti itu, huh? Kau tidak bisa membersihkan lukanya dengan benar, bodoh!"

Kibum kembali tersentak, ia mengangkat kepalanya—sedikit. Ia dapat melihat dengan jelas bagaimana tubuh Donghae juga terluka-luka akibat pukulannya tadi, ia kembali melanjutkan pekerjaannya membersihkan luka-luka Donghae. Sungguh malam yang memilukan.

"S-sudah selesai." Kibum kembali menunduk.

"Buang air di dalam mangkuk itu, lalu cuci handuknya—sampai bersih."

Kibum menurutinya, memasukkan handuk putih yang kini telah memerah itu ke dalam mangkuk berisi air yang juga sudah bercampur dengan darah. Hati Kibum seperti menjerit. Miris—sungguh.

'Kibum-ah, kau melihatnya? Itu darahku dan darahmu—darah yang sama, darah yang kini kembali menyatu di sana. Apa kau tau yang sedang kupikirkan saat ini, Bum? Aku memikirkan tentang kita—tentang kita sewaktu kecil. Hari-hari itu terasa begitu indah, Bum. Tapi mengapa hari ini begitu menyakitkan, uh? Kibum-ah... kau sudah dewasa sekarang. Kau benar-benar bisa memukulku dengan kuat, rasanya begitu sakit. Semoga semuanya cepat berlalu, Bum, semoga kau bisa menerima Kyuhyun dengan lapang hati. Aku yakin suatu saat nanti kau pasti akan kembali, Kim Kibum.' Donghae menatap punggung Kibum yang menjauh dengan mata yang berkaca-kaca.

End of Flashback.

.

.

.

.

"Apa yang dia katakan padamu, Siwon-ah?"

"Dia ingin menemuiku, Appa."

"Mengapa dia harus kembali ke Korea lagi?"

"Ini untuk yang terakhir kalinya ia datang ke Korea, setelah itu dia tak akan kembali lagi."

"Dia berkata seperti itu?"

Siwon mengangguk yakin. Ia tak begitu mengerti dengan rencana sang ibu. Tapi yang jelas ia tau ibunya itu masih tetap mengawasinya dari jauh. Tapi jujur saja, ketika ibunya berkata ada di Seoul, ia tiba-tiba memikirkan Kyuhyun. Siwon hanya duduk terdiam di meja kerjanya, pikirannya tak lagi terfokus pada pekerjaannya yang masih menggunung.

"Appa, apakah Eomma tau tentang Kyuhyun?"

"Tidak, dia tidak tau."

"Bagaimana jika sebenarnya dia tau?"

"Dia tidak tau, tidak ada orang lain yang tau, Siwon-ah. Dia hanya sebatas tau Kim Jiwon dan Kim Jaerim saja."

"Sebenarnya apa yang membuat diapergi begitu saja, Appa? Aku yakin dia pasti punya alasan."

"Appa juga tidak tau pasti Siwon-ah, tapi yang jelas dia tau bagaimana hubungan Appa dengan Jaerim di masa lalu, dia juga tau bahwa Appa sudah hampir menikah dengan Jaerim, juga saat itu kami dipertemukan kembali, dan mungkin dia melihat Appa menjadi dekat dengan Jaerim sejak itu."

"Tapi dia tidak tau tentang Kyuhyun kan, Appa?" Siwon kembali menanyakan pertanyaan yang sama.

"Appa yakin Siwon-ah, dia tidak tau. Appa menjamin rahasia itu." Dokter Choi menatap Siwon lekat-lekat, mencoba meyakinkan Siwon bahwa ia tak main-main dengan ucapannya.

"Apakah dalam minggu-minggu ini Kyuhyun akan ke Rumah Sakit?"

"Hari ini Kyuhyun harus melakukan pemeriksaan rutin, Siwon-ah. Ada apa?"

"Hari ini? Apa tidak bisa ditunda? Bagaimana jika kita saja yang berkunjung ke rumah Kyuhyun? Dia tidak boleh ke Rumah Sakit untuk sementara, Appa."

"Apa yang kau katakan Siwon-ah? Appa tidak mengerti.."

"Eomma—dia berkata akan mengunjungiku ke Rumah Sakit, aku tidak ingin Kyuhyun bertemu dengan dia, Appa."

"Dia tidak tau tentang Kyuhyun, Siwon-ah. Dia sama sekali tak memiliki hubungan dengan Kyuhyun."

"Aku hanya takut, Appa."

"Lalu bagaimana? Kau akan menunda jadwal pemeriksaan Kyuhyun? Itu sama saja dengan kita tak memantau keadaan Kyuhyun, apalagi dia baru saja keluar dari Rumah Sakit, belum lagi kondisinya yang naik turun saat ini, Kyuhyun tidak sedang dalam kondisi yang baik, Siwon-ah."

"Aku takut, Appa. Aku tiba-tiba memikirkan hal buruk tentang Kyuhyun."

"Siwon-ah, dengarkan Appa. Jika dia sudah tau tentang Kyuhyun, bukankah ia akan menganggu Appa sejak dulu, dia sudah pasti akan mengadukannya pada siapapun untuk mempermalukan Appa. Tapi lihat, apakah dia bertindak seperti itu? Tidak Siwon-ah, dia tenang-tenang saja."

Siwon hanya terdiam, hatinya mulai meluluh ketika mendengar penjelasan sang ayah.

"Baiklah, apapun yang buruk memang bisa saja terjadi Siwon-ah. Kita juga harus tetap waspada, kita awasi Kyuhyun bersama-sama, jadi jangan takut. Kau sudah ada di sini, kau sudah dekat dengan adikmu, jadi kau bisa mengawasi Kyuhyun setiap waktu."

"Baiklah, Appa... Lalu kapan Kyuhyun akan datang?"

"Sekitar 2 jam lagi."

"Baiklah.." Siwon menghela napas.

"Lanjutkan pekerjaannmu. Appa kemari sebenarnya ingin memberitaumu bahwa Appa tidak bisa menemani Kyuhyun melakukan pemeriksaan, jadi Appa ingin kau saja yang melakukannya. Ada sesuatu penting yang harus Appa kerjakan."

"Baiklah, aku akan melakukannya."

"Appa pergi dulu, Siwon-ah."

Siwon hanya mengangguk, lalu mematung sambil menatap sang ayah yang berjalan keluar ruangannya. Entahlah, perasaannya tetap saja buruk.

.

.

.

.

Flashback

"Kibum-ah, Eomma pingsan dan sekarang di rawat di Rumah Sakit, aku akan pergi kesana untuk membawa pakaian Appa dan Eomma, aku akan pulang besok pagi."

Kibum yang sudah tertidur itu seketika mengerjap, ia mendudukkan tubuhnya di ranjangnya, Donghae sudah bersiap dengan tas besar di depan pintu kamarnya. Kibum kemudian mencari-cari ponselnya—bermaksud melihat jam berapa Donghae akan pergi malam-malam seperti ini.

"Masih pukul 1, Bum. Temani aku keluar, lalu kunci pintunya. Setelah itu tidurlah lagi."

Kibum kembali terpaku sambil menatap Donghae, ia mengusap wajahnya dengan kasar, pantas saja, itu baru lewat tengah malam.

"Boleh aku ikut?"

Donghae menatap Kibum dengan tatapan tidak percaya, ia melihat kesungguhan di wajah Kibum.

"Kalau begitu basuh wajahmu, aku akan menunggu di luar. Jangan lupa bawa jaketmu." Ucapan Donghae masih terkesan dingin. Kibum akhirnya segera bangkit untuk bersiap.

.

.

Donghae dan Kibum sudah berada di perjalanan menuju Rumah Sakit. Tidak ada percakapan apapun di antara mereka, Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Baik Donghae dan Kibum, mereka tak peduli apa kata orang ketika melihat wajah mereka yang terluka-luka karena berkelahi.

"Tidurlah kalau masih mengantuk, aku akan mambangunkanmu ketika sudah sampai."

"Tidak, Hyung." Kibum menatap Donghae. Donghae balas menatap Kibum singkat.

"Apakah wajahku juga terlihat menyedihkan?" Donghae tiba-tiba bertanya.

"Hm?" Kibum mengerjap.

"Kau terlihat menyedihkan, Bum. Apa wajahku juga seperti itu?"

"Kurasa.. kita berdua sama-sama terlihat menyedihkan, Hyung." Kibum berucap lirih.

"Setidaknya tersenyumlah sedikit ketika melihat Appa dan Eomma nanti. Ini memang belum selesai, Bum. Kita harus menunggu Kyuhyun sembuh, baru kita dapat menyelesaikan masalah ini. Kita tidak bisa hanya mendengar penjelasan itu darimu saja."

Kibum terdiam, menghela napasnya dalam-dalam. Hatinya kembali terasa sesak, lagi-lagi Kyuhyun—nama yang tak ingin ia dengar.

"Kondisi Kyuhyun benar-benar buruk."

Kibum menoleh ke arah Donghae.

"Kau tidak takut, Bum? Kalau Kyuhyun tidak bangun lagi, bagaimana?"

Entah pertanyaan apa yang diajukan oleh Donghae. Kibum hanya merasa rahangnya semakin mengeras saja setelah mendengarkan pertanyaan Donghae. Ia tak ingin memulainya lagi, sungguh.

"Kalau begitu kita tidak akan tau penjelasan dari Kyuhyun." Kibum berucap datar.

"Lalu kau senang, begitu?"

Kibum terdiam.

"Apa sulitnya menerima seorang adik, Bum? Bagaimana? Apanya yang sulit?"

Kibum masih terdiam.

"Kibum-ah..."

Diam sejenak.

"Aku cemburu, Hyung."

"Cemburu bagaimana yang kau maksud?"

"Aku cemburu karena dia selalu mendapat perhatian khusus."

"Apa maksudmu memanggil Kyuhyun dengan sebutan 'dia'?"

"Hyung sudahlah, aku tak mau menyebut namanya untuk saat ini, tolong mengertilah." Kibum tak bisa menahannya.

Donghae hanya bisa menghela napas, tampaknya ia salah berbicara.

"Baiklah, aku mengerti. Lalu apa maksudmu mendapat perhatian khusus? Bukankah memang Kyuhyun harus diperlakukan dengan hati-hati?"

"Tapi penyakitnya tidak begitu parah, Hyung. Itu tidak separah yang biasa orang lain derita. Dia masih dalam kondisi yang aman."

"Baiklah, baiklah.. Tolong dengarkan Hyung, hm?"

Donghae memberi jeda.

"Kau tau, Bum.. Selama ini memang kau yang tak terlalu dekat dengan Kyuhyun, kau mungkin tak terlalu mengerti bagaimana jatuh bangun Kyuhyun hidup dengan kondisinya yang seperti itu. Dulu sewaktu kecil, Kyuhyun mungkin masih bisa bermain denganmu sepanjang hari, dia masih bisa mengganggumu, masih bisa merengek padamu, atau bahkan mungkin masih bisa bertengkar denganmu, tapi itu tidak bisa di umurnya sekarang, Bum. Apa kau sadar sebenarnya perlahan kondisi Kyuhyun semakin memburuk?"

Donghae menoleh ke arah Kibum—memastikan adiknya itu masih mendengarkan perkataannya.

"Baik Appa, Eomma, atau aku, semua tau jika kondisi Kyuhyun seperti itu, tapi pernahkah kita membahas itu secara diam-diam, Bum? Tidak pernah, kan? Itu karena kita ingin menjaga perasaan satu sama lain. Aku pun juga tak mengerti bagaimana Kyuhyun memandang kondisinya yang seperti itu. Apa kau tau ketika malam Appa dan Eomma sering tidak bisa tidur? Mereka seperti itu karena Kyuhyun sering sekali kesakitan ketika malam—penyakit itu seolah tanpa ampun menyerang tubuh Kyuhyun. Tapi apa Eomma atau Appa pernah membangunkan kita ketika Kyuhyun masih bisa mereka tangani sendiri?"

Kibum meremas tangannya.

"Aku juga sering tidak tau, Bum. Tiba-tiba saja ketika aku bangun di pagi hari, Dokter Choi sudah ada di dalam kamar Kyuhyun dengan segala peralatannya yang aku sendiri miris melihat Dokter Choi memasangkan alat-alat itu pada tubuh Kyuhyun. Appa dan Eomma melakukan itu karena mereka tak ingin kita juga tertekan dengan kondisi Kyuhyun, kita tidak akan sanggup melihat Kyuhyun begitu kesakitan ketika penyakit itu menyerangnya, Bum. Kita tidak boleh melihat itu, karena itu hanya membuat kita semakin terluka."

Kibum semakin meremas tangannya.

"Kau tau, Bum.. Kyuhyun bahkan tak bisa menjawab ketika kutanya sakitnya seperti apa. Dia tak bisa menjawabnya karena itu begitu sakit—tidak ada kata yang tepat untuk menggambarkan betapa sakitnya itu, Bum. Adikmu begitu kesulitan di usia mudanya, berjuang untuk hidup saja sudah sesulit ini, lalu sekarang kau malah menambahnya dengan masalah itu. Ya, aku mengerti kau cemburu, aku tidak menyalahkanmu. Tapi ketika melihat kondisi adikmu, dengan penyakit mematikan itu, sekarang tanyakan pada dirimu sendiri Kim Kibum—sekali lagi—pantaskah kau cemburu seperti itu?"

Kibum yang menunduk itu tiba-tiba mendongak ketika ia merasa Donghae memelankan laju mobilnya—Kibum terkesiap, rupanya ia dan Donghae sudah sampai di parkiran Rumah Sakit.

"Tersenyumlah sedikit ketika melihat Appa, hm? Jangan terlihat menyedihkan seperti itu."

Kibum mengangguk pelan. Ia masih berusaha meredam emosinya yang mulai meluap. Tidak, Kibum harus bisa menahannya, ini bukan waktu yang tepat baginya untuk melampiaskan sisa-sisa rasa sakitnya.

Donghae keluar dari mobilnya, begitu juga dengan Kibum. Donghae melangkah pelan menuju pintu masuk Rumah Sakit, Kibum mengekor di belakangnya. Keduanya berjalan dengan agak terburu-buru, untung saja ini sudah lewat tengah malam, hanya sedikit orang yang berlalu-lalang, jadi Donghae dan Kibum tidak perlu bersusah payah menutupi wajah yang penuh lebam itu.

Melewati beberapa lorong Rumah Sakit, Donghae dan Kibum akhirnya berada di depan kamar rawat sang Eomma, Donghae melirik sebentar ke arah Kibum.

"Angkat kepalamu, Kibum-ah. Jangan terus menunduk seperti itu." Donghae menyingkirkan hoodie yang menutupi kepala Kibum. Kibum mengangkat kepalanya perlahan.

Donghae membuka pintu kamar rawat itu dengan perlahan, ruangan itu begitu sunyi. Sang Appa tengah tertidur di tempat tidur kecil yang disediakan, sedangkan sang Eomma di atas ranjang pasien. Donghae memasuki ruangan itu dengan perlahan, Kibum mengikuti langkah sang kakak dengan takut-takut.

"Letakkan itu dibawah nakas." Donghae berbisik pelan.

Kibum menurutinya, ia meletakkan tas besar itu disana. Setelahnya ia hanya diam mematung di dekat pintu. Donghae kemudian terlihat mendekati sang Appa, setelahnya menepuk tangannya pelan, berusaha membangunkan sang Appa.

"Appa... Appa.."

"Oh, Donghae-ya.."

Sang Appa bergegas bangun, mengusap wajahnya dengan kasar.

"Kau sendiria- Ah, astaga ada apa dengan wajahmu? Dan Kibum! Kau- ada apa dengan kalian?" Kim Jiwon sedikit berteriak ketika mendapati kedua putranya datang dengan kondisi wajah yang lebam dan luka.

"Kenapa kau masih disana, Bum?" Donghae bertanya dengan nada kesal.

Kibum akhirnya melangkah pelan mendekati sang Appa—kemudian mensejajarkan tubuhnya di samping Donghae.

"Ada apa ini? Donghae-ya? Kibum-ah? Apa yang terjadi?"

"Maafkan aku, Appa. Aku yang memulainya." Donghae mengaku, ia menunduk.

"Aku juga minta maaf, Appa." Kibum bersuara.

Kim Jiwon hanya menghela napas kasar, ia memejamkan matanya.

"Ya Tuhan, sebenarnya ada apa ini?" Kim Jiwon mengacak rambutnya.

Semuanya terdiam untuk beberapa saat.

"Appa, aku ingin melihat Kyuhyun."

"Kyuhyun masih di ruangan yang sama seperti tadi."

Donghae mengangguk. Ia melirik ke arah Kibum sekilas sebelum ia bergegas pergi dari ruangan itu, Kibum hanya membalas tatapan Donghae dengan ekspresi datar. Donghae tau Kibum tidak akan mengikutinya untuk melihat keadaan Kyuhyun.

Donghae melangkahkan kakinya dengan tenang, meski hatinya sama sekali tak merasa tenang. Ia menghela napas sejenak sebelum masuk ke dalam ruangan itu.

"Permisi, aku ingin melihat adikku." Ucap Donghae pada seseorang pegawai yang berada di ruangan itu.

"Boleh saya tau nama adik anda?"

"Kyuhyun.. Kim Kyuhyun."

Pegawai itu nampak sibuk mengetikkan sesuatu di komputernya.

"Kamar nomor 131, tapi anda hanya diperbolehkan melihatnya dari luar karena kondisi pasien belum stabil."

"Baiklah, terimakasih."

Hati Donghae seperti tertohok, kondisi adiknya benar-benar menyedihkan. Donghae kemudian melewati beberapa kamar, matanya bergerak-gerak mencari nomor kamar Kyuhyun. Sebentar saja, Donghae sudah menemukan nomor kamar itu terpasang di pintu kamar—lengkap dengan nama adiknya.

Donghae meremas tangannya, ia kemudian mendekat perlahan ke arah kaca besar yang mampu memperlihatkan bagian dalam kamar itu dengan jelas. Donghae mendongakkan kepalanya.

'Oh Tuhan, ini benar-benar bukan mimpi. Itu adikku, itu Kyuhyun.'

Donghae membekap mulutnya dengan tangannya yang bergetar. Ia percaya—harus percaya pada kenyataan yang ia lihat saat ini. Ia menelisik setiap inci tubuh sang adik yang terbaring lemah di dalam ruangan itu. Alisnya bertaut, isakan lirih keluar dari bibirnya.

"Kyuhyun-ah.."

Sesak—rasanya Donghae tak bisa menghirup udara sama sekali.

"Apa itu sakit, Kyu?"

Donghae menatap tubuh Kyuhyun dengan tatapan sedih. Begitu banyak alat-alat di sana, dan itu semakin membuat tubuh Donghae bergetar hebat. Donghae menangkap raut kesakitan pada wajah Kyuhyun yang juga lebam itu. Ia kemudian semakin mendekat ke arah kaca besar itu, mengetuknya perlahan seolah ingin membangunkan seseorang yang ada di dalam sana.

"Oh Tuhan, adikku..."

Donghae menahan isakannya yang semakin menjadi, air matanya sudah turun dengan deras. Ia akhirnya memilih pergi dari ruangan itu—cukup, hatinya sudah seperti teriris-iris. Begitu menyakitkan.

End of Flashback.

.

.

.

.

"Bagaimana Kyu, apa yang kau keluhkan sejak keluar dari Rumah Sakit?"

"Tidak ada, Hyung." Kyuhyun menjawab dengan lesu.

"Tidak ada apanya? Pagi tadi ada serangan ringan, Siwon-ah."

Siwon mendadak menghentikan kegiatannya memeriksa catatan medis Kyuhyun ketika mendengar perkataan Donghae. Ia menatap Kyuhyun yang tengah duduk terdiam di depannya—tampak tak bersemangat sama sekali.

"Kyuhyun-ah, ada apa denganmu? Kau merasa sakit? Kenapa kau hanya diam sejak tadi?" Siwon menatap Kyuhyun dengan tatapan serius.

Kyuhyun hanya menggeleng, bibirnya mengerucut.

"Ada apa denganmu?" Donghae juga ikut-ikutan bertanya.

"Aku memang seperti ini jika tidak menjalani pemeriksaan dengan Dokter Choi. Tidak terbiasa."

Mata Siwon membulat, hatinya seperti tersentuh oleh jawaban Kyuhyun.

"Aigoo, kau tau siapa Dokter di depanmu ini? Dokter Choi Siwon, baru saja lulus dari Jepang, Kyu. Jepang. Dan sudah pasti dia sehebat ayahnya."

"Ah... itu.. tidak Hae-ya. Seorang pasien yang sudah bersama-sama dengan Dokter pribadinya dalam waktu yang lama pasti akan merasakan hal seperti itu ketika ia harus ditangani oleh Dokter lain. Aku mengerti apa yang kau rasakan, Kyu. Percayalah padaku, jika kau percaya, semua akan berjalan dengan mudah—seperti biasanya." Siwon tertawa.

"Bukan seperti itu Hae Hyung, tidak nyaman saja kalau tidak bersama Dokter Choi. Aku tidak bermaksud meremehkan kemampuan Dokter muda seperti Siwon Hyung." Kyuhyun kembali merengut.

"Baiklah, baiklah, aku mengerti. Jangan merengut seperti itu, jelek!" Donghae mencubit pipi Kyuhyun.

"Baiklah, baiklah." Siwon terkekeh. "Lalu apa lagi yang kau keluhkan, Kyu?"

Kyuhyun tak menjawab, ia malah menatap Siwon dengan tatapan takut.

"Jujurlah Kyu, katakan saja apa yang kau rasakan selama ini? Apakah lebih baik? Atau ada hal lain yang membuatmu tidak nyaman? Katakan saja, jadi aku bisa mengobati mu dengan tepat."

"Tidak ada, Hyung."

"Kau yakin, Kyu? Jangan berbohong padaku, hm?" Siwon menatap Kyuhyun lucu.

"Aku yakin, Hyung." Kyuhyun mengangguk pelan.

"Baiklah, mari kita menuju ruang pemeriksaan." Siwon menatap Kyuhyun dan Donghae bergantian.

Ketiganya lalu bangkit. Siwon berjalan diikuti kedua kakak beradik itu, namun gerakannya terhenti ketika Siwon membuka pintu ruangannya. Seseorang tengah berdiri di sana—seseorang yang juga menatap Siwon dengan tatapan terkejut.

"S-Siwon-ah.."

Siwon dengan cepat menarik Kyuhyun untuk mundur setelah ia dapat melihat dengan jelas siapa orang di hadapannya saat ini. Itu Sang Ibu, orang yang paling tak ingin ia lihat, sekarang berada tepat di depannya.

"Maaf, aku sedang ada pasien. Nanti saja." Ucap Siwon masih dengan nada datar, ia mati-matian melawan rasa takutnya jika sang Ibu melihat Kyuhyun.

"T-tapi Siwon-ah..."

"Aku benar-benar sibuk. Aku permisi."

Siwon dengan cepat menutup pintu ruangannya—secara tidak sadar ia juga menarik tangan Kyuhyun untuk segera menjauh dari wanita itu. Sedangkan Kyuhyun dan Donghae hanya bisa terdiam melihat reaksi Siwon yang tampak tidak baik pada wanita itu. Keduanya tak ingin ikut campur.

Wanita itu hanya menatap kepergian Siwon dengan tatapan yang sulit diartikan—tatapan itu bukan tertuju pada punggung Siwon yang semakin menjauh, tapi tatapan itu tertuju pada seseorang berwajah pucat yang juga masih menatap sekilas wanita itu.

"Ck.. Kim Kyuhyun.. sepertinya akan mudah bagiku memusnahkanmu." Wanita itu tersenyum licik.

.

.

.

.

TBC

.

.

Halooo... :D :D saya update cepeet banget lagi... Pertama, saya mau mengucapkan terimakasih banyak buat doa2 dari teman2 semua dan Puji Tuhan saya lolos SBMPTN. Saya gak tau harus bilang apa, ini semua karena doa-doa teman2 semua. Terimakasih banyaak sekali.. *usap air mata* Dan kedua, sebagai rasa terimakasih saya, saya update cepet loh.. Miiaann ini Cuma pendek, tapi saya yakin setelah baca chapter ini pasti pada penasaran sama Eomma-nya Siwon.. Dan miaann juga kalo banyak typo nya... :D silakan koreksi kalo ada yg salah ya.. :D wkwkwk... Ya sudah, itu aja.. Ah, ngomong2 adakah yg lolos sbmptn juga? Selamat yaa.. :D kalau ada yg belum lolos, tetep kuat, tetep semangat, yakinlah ada hal yang lebih baik selain sbmptn. So, CHEER UP! :D :D :D

Akhir kata.. Selamat bertemu di chapter depan chingudeul tercintaaaa,,, salam sayang.. :* saya mau ngucapin selamat lebaran lagi :D, mohon maaf lahir dan batin yaa.. :D :* yang mudik hati-hati ya, yang dirumah aja (kayak saya) semoga gak bosen.. :'D

.

.

.

"Aku menunggu 'waktu' berubah menjadi baik padaku. Aku menunggu keajaiban di hidupku. Aku menunggu aku menang dari siapapun. Biarkan, aku tak peduli, sakitku selama ini cukup sudah—aku tak ingin lagi." –RElight

.

.

BALASAN REVIEW CH: 8

Dwi480 : Haha, iya sih, Kibum disnini kudu sabaaarr banget emang.. :'D aduh kayaknya orang sabar kayak gitu hanya akan ada di dunia per ff an :D arra,arra, berdoa saja semoga Kibum tidak saya lukai terus-terusan yaahhh :D

Chingu : Aduuh, makasih ya masih inget sama ff abal-abal saya.. makasih, semangat juga buat kamu.. :D

Meimeimayra : Tunggu terus yaaakk :D

Ye : sudah nexxttt :D

Guest (1) : Ditunggu aja, pasti bakal ada kejutan kok.. :D

Hyena : iya, emang lagi musim.. :D ya ampun seneng banget kalo mereka berdua menderita, aku juga sih.. haha kita fans jahaatt.. :D

Dd : Gak jadi saaayy, ini udah update... :D

Bbaek : tos jugaa! Jarang-jarang nemu yg satu line? Ikut sbm kah? Gimana hasilnya? :D Tunggu terus kelanjutannya yaa.. :D

Desviana407 : Udaah di lanjuuutt... Kibumnya udah mulai jahat lagi.. :D :D

Dewidossantosleite : Semoga makin penasaran yaaa... :D

Kyuhae : Sudaah neeexxttt! :D

Lily : iya, iya... iyakah? Donghae agak acuh sama kyu? Kok saya gk inget? Mungkin hae lagi gk mood kali sama kyu.. :D tunggu terus kelanjutannya, thankyou cintaa.. :D

Guest (2) : Sudaaahh.. :D

Choding : Gak jadi habis lebaran.. :D

Dindaa : Waduh, sampek 3 kali? Apa emang sulit kalo gk pake akun? Tunggu terus kelanjutannya yaa.. :D

Guest (3) : semoga tambah penasaraaaaann, sudaah dilanjuut.. :D

Songkyurina : Cemburunya tingkat dewaaa bingit.. aduh Bum Bum... :D

Wonhaesung Love : Sudah update asap chingu.. :D

Angel sparkyu : Iyaa.. betul sekali,, disini Kyu udah mulai ngerasa deket sama dokter choi.. :D

Riritary9 : Aissh.. iya ada typo, makasih udah ngoreksi, udah saya benerin kok.. makasih udah setia review.. :D ditunggu aja next part nya, semoga makin penasaraan.. :D

Phn19 : Okeee... sudah lanjuttt.. :D

Punaispky22 : iya gk apa2, trimakasih sudah mau review, ditunggu terus ya.. :D

Indah indrawatibasmar : cipok reader :* adduuhhh,, kalo saya pengen kibumnya jahat gimana hayo? :D :D ditunggu terus yaa, jangan bosen ya cintaa.. :D

Aikyute : Iya, ini berarti kyu nya belum terlalu menderita ya? iya deh, entar saya buat menderita berdrama-drama gitu.. :D

Tyas1013 : tunggu terus yaaa.. :D

Sparkyubum : "Kibum yang sulit ditebak." :D :D

Anna505 : Gak jadi habis lebaran, ini udah updateee..! :D

Hyunnie : tunggu terus, makasih reviewnya.. :D :D

Readlight : syukurlah kalo kamu ngerti nak.. *puk-puk, sudah lanjut asap, nado saranghae saeng-ah... :*

Atik 1125 : aduuh, gak kok, saya gk bakal bosen baca review.. :D sekarang pikiran udah plong sih, ini udah saya update cepet, biasanya satu minggu gk selesai, ini selesai semalem, habis pengumuman langsung saya ketik.. :D :D saya juga mohon maaf kalo ada kata2 yg krg berkenan.. tunggu terus kelanjutannya ya.. :D

Diahretno : iya nih, siwon egois banget yaaa.. :'D semoga aja mereka bisa akur dan tinggal bareng, hidup bareng, kan enak tuuh.. thankyou review super panjangnya yaa cintaa.. :D tunggu terus kelanjutannya, jangan bosen.. :D

SparkyuNee13 : ini ada asaaaaap lagiii.. :D bul bul bul

Dewiangel : iyaaa... tunggu terus yaa.. :D

Yulielf123 : iya udah neexxttt.. terimakasih.. :D

Episitimaryam11 : iya saeng, suka yg menderita menderita gitu.. :D saya siap! :D :D

Apriliaa765 : haha.. :'D aku takut readers gk paham aja.. ya syukurlah kalo udah paham.. pokoknya kalo ada yg gk jelas, tanya aja, pasti saya akan menjelaskan dgn senang hati.. tunggu terus yaa.. :D

Jihyunelf : sudah update cepet kookk.. :D

HyukRin67 : aduuh, emang bener sih gk ada kerjaan, maksudnya udah gk sekolah, gak les, gak ada tugas, tapi pikiran saya tertuju sama pengumuman ujian, saya malah lebih stress.. :D :D tunggu terus kelanjutannya yaa.. :D

Kyuchoco13 : sudaaahh asaap masih ngebul ngebul inii.. :D :D

MissBabyKyu : auuhh.. kiss kiss deh buat kakak.. :D iya, saya takut readers gk paham.. :D :D kan demi kenyamanan pembaca.. kkk... kalo habis ini beneran habis lebaran loh kak... aduh, saya seneng banget udah jadi maba.. :D :D :'D pas pengumuman sampek nangis2 meluk ibu.. :D

Awaelfkyu13 : sereman mana sama valak? :D :D sudah next asaaapp,, :D :D

Nurani506 : ahaha, gk apa2 kok, malah seneng kalo komennya panjaang.. :D :D makasih ya.. saya juga minta maaf.. :'D :'D

Ladyelf11 : gak kok, ntar kasian kyu kalo ditambah amnesia segala.. :D :D

Cuttiekyu94 : andwaeeee! :D :D

Siskasparkyu0 : haha, tenang,, ini Cuma di ff kok.. :D :D

Cinya : waduh banyak typo yah? Saya udah baca lagi tapi tetep gk nemu typonya dimana. :D maap maap.. abis pengen cepet2 update sih.. sudah diupdate yaaa.. :D