Crazy for Dash Girl?

Author: Grace Jung a.k.a Jung Eun Hye

Main Cast:

Kim Jaejoong

Jung Yunho

Support Cast:

Park Yoochun

Shim Changmin

Kim Jonghyun

(Jung) Hankyung

Kim (Jung) Heechul

Genre: Romance, Drama

Warning: Genderswitch! abal, ga jelas, dll.

DON'T LIKE? DON'T READ THEN!

LIKE? ENJOY READING^^

.

.

.

Jaejoong memasuki ruang VVIP yang ditunjukkan oleh pelayan dan melihat sang kakek duduk bersama orang-orang yang tak ia kenali. Beberapa dari mereka duduk membelakanginya. Tanpa rasa takut sedikitpun Jaejoong berjalan mendekat dan duduk di kursi kosong di sebelah Jonghyun.

"Ah, kau sudah datang." Jonghyun tersenyum menyambutnya. Jaejoong hanya mengangguk sambil mengobservasi tamu-tamu di depannya. Matanya seketika membulat melihat namja yang sudah tak asing lagi baginya. Begitupun dengan namja itu yang terlihat kaget melihat dirinya.

"KAU?!"

.

.

CHAPTER 5

.

.

Jaejoong berdehem dan mencoba mengalihkan pandangan dari namja di depannya. Begitupun dengan namja itu yang langsung membuang muka. Berusaha menyembunyikan seringaiannya, Jaejoong menyamankan dirinya di kursi; memangku tangan kirinya, merapikan poninya dengan tangan yang lain, lalu menatap namja di depannya dengan tatapan yang sulit diartikan.

Tanpa diberitahupun dia tahu apa maksud dari semua ini. Baiklah kalau ini yang mereka mau, akan ia ikuti permainan mereka. Ah, dan dengan skenarionya sendiri tentu saja.

"Jadi kalian sudah saling mengenal?"

Jaejoong menatap wanita tua di hadapannya seraya tersenyum. "Aniya, hanya kebetulan tahu saja."

"Itu berita bagus. Kalian tidak akan begitu canggung nantinya." Kali ini seorang pria tua menyahut. Jaejoong hanya mengangguk menanggapinya.

"Nah, Jae.. Mereka adalah keluarga Jung dari HC Group. Jung Hankyung dan Jung Heechul, mereka adalah sahabat baik orangtuamu saat sekolah dulu. Hanya saja komunikasi diantara mereka sempat terputus saat mereka lulus," jelas Jonghyun.

"Ah.. Jeongmalyo?" Jaejoong berpura-pura tertarik. Kenyataannya adalah dia sudah mati rasa pada apapun yang menyangkut kedua orangtuanya.

"Ne. Wajahmu mengingatkanku pada orangtuamu. Sungguh perpaduan antara Taemin dan Minho. Sangat cantik."

Jaejoong tersenyum mendengar penuturan Heechul.

"Dan ini adalah Jung Yunho, putra bungsu kami. Kami harap kalian bisa menjalin hubungan baik," tambah Hankyung.

"Ah, tentu saja." Jaejoong meraih segelas wine yang tersaji di depannya dan meminumnya. Ekor matanya melirik Yunho yang nampak mengernyitkan dahi tak mengerti mendengar jawabannya barusan.

"Bagaimana menurutmu Yunho, Jaejoong-ah? Apa kau menyukainya?"

Jaejoong menatap Yunho yang balas menatapnya, kemudian berpaling, mencoba tersenyum. "Mana mungkin tidak menyukainya, kebetulan dia tipeku."

"Omo! Benarkah? Aigo, kalau begitu ini sangat bagus. Aku sungguh ingin melihat kalian berdua bersama. Bagaimana menurutmu, Yunho? Bukankah Jaejoong sangat cantik?"

"Hm." Bisa Jaejoong rasakan mata Yunho yang terus menatapnya.

"Ah, maaf.. Yunho memang irit bicara. Tapi sekali kau mengenalnya, dia sebenarnya orang yang menyenangkan."

Jaejoong mengangguk. Dia menatap Yunho sekilas sebelum beralih pada pasangan di sebelahnya. "Tapi, tidak tahu harus kukatakan atau tidak. Kalian pasti sudah tahu tentang skandal-skandalku dan tentu semuanya sudah jelas, bukan begitu?"

Hankyung dan Heechul saling berpandangan sebelum akhirnya Hankyung berdehem dan mencoba bicara. "Tidak perlu peduli pada skandal. Lagipula, bukankah itu hanya gosip semata."

"Bukan begitu, tapi ada yang sangat keterlaluan."

"Jaejoong!" Jonghyun berbisik memperingati tapi Jaejoong mengabaikannya dan terus melanjutkannya.

"Jujur saja, aku sering bepergian dan menetap di luar negeri. Paparazzi bahkan pernah memberitakan jika di Newyork aku tinggal dengan seorang pria. Padahal jika mereka jeli, mereka akan tahu bahwa di sana bukan sekalinya aku melakukan hal itu. Di Paris maupun London, aku juga tinggal satu atap dengan seorang pria."

Semua yang ada di sana tampak kaget. Belum sempat mereka bereaksi, Jaejoong meneruskan dengan santai, "Pernah juga waktu itu ada gosip tentangku yang pergi ke Hotel Hilton dengan Justin Timberlake. Sebenarnya itu bukan Justin tapi Jacob Gyllenhaal. Itu juga tidak ada yang tahu, bukan."

Semua tampak shock. Jaejoong masih memasang wajah santainya, berbeda dengan Jonghyun yang wajahnya sudah menegang.

"Jae-"

"Dan dengan beberapa artis lokal di sini –ah, aku lupa ada berapa yang aku kencani, tapi yang jelas aku juga sering menjalin hubungan dengan mereka. Bahkan sampai ada skandal jika aku berkali-kali terlihat menginap di rumah Choi Siwon. Aku heran bagaimana mereka bisa mengetahuinya, mengingat kami sudah hati-hati ditambah penjagaan di sekitar kediamannya sangat ketat."

"Jaejoong!"

"A-aboji, bisa kau jelaskan pada kami?" Suara Heechul tampak bergetar karena shock.

"Aku juga ingin mendengarnya," tambah Hankyung yang sudah bisa menguasai rasa kagetnya.

Yunho? Entah apa maksud dari tatapan mata musang namja itu, Jaejoong pun tidak bisa menyimpulkannya.

"Tidak, itu tidak benar. Kami jamin Jaejoong bukan anak seperti itu," sahut Jonghyun cepat. "Ya, Jae! Kau tahu apa yang kau bicarakan?"

"Ah, tentu saja... Dalam pernikahan seperti ini, apa artinya masa laluku. Aku yakin Yunho-ssi tidak akan memperdulikannya karena bagaimanapun dia menikahiku karena terpaksa, bukan karena dia menyukaiku."

Semua terdiam.

"Benar, hampir saja lupa. Tahu satu anakku yang belum ku publikasikan?"

"Ya! Kim Jaejoong!"

.

..GJ..

.

Jam menunjukkan pukul 9 malam saat Yunho sibuk berkutat dengan berlembar-lembar kertas di ruang santai apartemennya. Wajahnya begitu serius. Saking seriusnya dia bahkan mengabaikan suara pintu depan yang terbuka dan derap kaki yang mendekatinya.

"Hey, bro!"

"Hm."

"Aish, kau ini. Bahkan di rumah pun kau masih berkerja, ckck..."

"Diam dan cepat katakan mau apa kau kesini, Park Yoochun."

Yoochun mengenyakkan diri di sofa lalu melepas tasnya punggungnya. Bisa Yunho lihat dari ekor matanya Yoochun yang tanpa aba-aba tersenyum mesum. Jika sudah seperti ini dia tahu pasti apa selanjutnya.

"Kau pasti suka dengan apa yang kubawa, Yunho-ah."

Bingo.

"Benarkah? Sayangnya malam ini aku sedang tidak tertarik. Kenapa tidak kau ajak Changmin?" Dia memang tidak berniat mengikuti kegilaan Yoochun malam ini. Dirinya begitu lelah dan satu-satunya yang ingin dia lakukan setelah ini adalah tidur.

Yoochun mendengus. "Kau benar-benar tidak asyik, Yun." Detik berikutnya namja cassanova itu sudah sibuk dengan ponselnya, menyuruh sang maknae untuk datang ke sini yang dengan senang hati langsung diiyakan namja kelebihan kalsium itu.

"Jadi, bagaimana?"

"Apa?"

"Kudengar dari Yonghwa hyung, kau baru saja pergi ke sebuah perjodohan? Aku bahkan tidak tahu kau suka acara seperti itu." Yoochun menaikkan kedua alisnya penasaran.

"Katakan saja aku... terjebak. Yah, semacam itu."

Yunho merapikan berkas-berkasnya, menyusunnya dengan rapi lalu meletakkannya di atas meja. Meraih secangkir cokelat yang masih mengepul, dia bangkit dari hambal yang sedari tadi didudukinya lalu ikut menyamankan diri di sebelah Yoochun. Disesapnya cokelat itu perlahan sambil memejamkan matanya.

"Lalu, bagaimana dengan wanita itu?"

Yunho terdiam sebentar lalu membuka matanya. Seringai tipis tercetak di wajah tampannya. "Dia menarik."

"Kau menyukainya?" tanya Yoochun tampak kaget. "Aku kira kau bukan pria yang mudah jatuh cinta."

"Siapa bilang aku menyukainya? Aku hanya bilang dia menarik." Yunho kembali memejamkan mata seraya menyesap cokelatnya. Kejadian kemarin lusa kembali berputar di dalam kepalanya, saat ia pulang ke rumah atas perintah ayahnya.

Dia memang tidak mendapat gambaran apapun saat itu, hanya saja dia mulai curiga ketika orangtuanya membawanya ke salah satu restoran di hotel mereka. Lebih lagi ketika melihat siapa yang ditemuinya di sana. Kim Jonghyun. Tentu saja dia tahu siapa namja yang tampak berwibawa itu. Orang yang sangat dihormati dan disegani di dunia bisnis Asia bahkan dunia.

Dirinya bingung. Untuk apa mereka menemui Kim Jonghyun? Jika untuk urusan bisnis, bukankah harusnya orangtuanya mengajak Yonghwa selaku Presdir di perusahaan?

Pertanyaannya terjawab saat tiba-tiba seorang yeoja masuk dan duduk di depannya. Dia sungguh kaget. Hampir saja dia akan menunjuk-nunjuk yeoja itu dengan jari telunjuknya dan mengeluarkan umpatan seandainya dia tidak ingat dimana dia saat itu.

Kecurigaannya terbukti, bahkan ternyata lebih parah. Apa lagi maksud terselubung dari acara makan malam seperti ini selain perjodohan?

Tak ingin membuat orangtuanya malu dengannya yang berbicara blak-blakkan, akhirnya dia hanya bisa diam sambil terus mengawasi pergerakan yang dilakukan Kim Jaejoong. Harus ia akui Jaejoong tampak cantik malam itu dengan dress merah yang membalut tubuh putihnya. Seandainya dia tidak ingat apa saja yang telah yeoja itu lakukan padanya, dia mungkin akan langsung jatuh pada pesonanya.

Dia sempat mengernyitkan dahinya bingung dan memasang wajah tak percaya mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Jaejoong. Dia adalah tipenya? Aigo, yang benar saja. Dia tidak bisa berkomentar apa-apa selain menjawab singkat pertanyaan ibunya dan terus menatap Jaejoong. Dia penasaran apa lagi yang akan yeoja itu katakan. Mungkinkah dia akan mencoba bersikap manis mengingat di sana ada sang kakek dan orangtuanya? Jika benar, maka yeoja itu benar-benar bermuka dua.

Tapi yang selanjutnya terjadi benar-benar di luar dugaan. Mendengar rentetan kalimat yang keluar dari bibir cherry itu membuatnya shock. Bagaimana bisa Jaejoong dengan santainya mengatakan hal semacam itu di depan mereka? Di depan calon suami dan mertuanya, terlebih di depan kakeknya sendiri?

Dia bahkan masih ingat ketika Jaejoong –dengan seenak jidat lebar Yoochun, pamit dan berkata bahwa dia sudah terlambat untuk janji kencan dengan Choi Seunghyun. Meninggalkan mereka yang terpaku di tempat duduk masing-masing.

Sungguh, dia tidak tahu ada yeoja macam itu di dunia ini. Dan yang lebih membingungkan adalah, kenapa tiba-tiba dia merasa yeoja itu menarik?

"Ya, Yun! Kau mendengarku? Aish, apa dia tertidur?"

Tersadar, Yunho membuka matanya dan menatap Yoochun innocent. "Apa?"

"Aku memanggilmu berulang kali. Kupikir kau tertidur."

"Aku memang sedikit ngantuk," jawab Yunho setengah berbohong. Well, dia memang benar-benar ingin berbaring di kasur empuknya saat ini.

"Kau belum memberitahuku apa yang membuatmu tertarik dengan wan-"

"Hyungdeul!"

Perkataan Yoochun terputus oleh suara nyaring milik Changmin yang baru saja masuk dengan senyum lebarnya. Sepertinya dia sudah tidak sabar ingin melihat apa yang dibawa Yoochun.

"Nah, sudah ada Changmin yang menemanimu. Aku mau tidur." Yunho meletakkan cangkir kosongnya di atas meja lalu beranjak ke kamarnya. Biarlah cangkir itu ia cuci besok.

"Ya! Kau belum selesai bercerita!"

Yoochun mempoutkan bibirnya ketika Yunho mengabaikannya dan malah menutup pintu kamarnya.

"Ada apa, hyung? Yunho hyung tidak ikut menonton bersama kita?" tanya Changmin bingung.

"Kau tahu, Min. Hyung-mu yang satu itu sedang jatuh cinta."

"Eh? Dengan siapa?" kaget Changmin.

"Dengan calon istrinya."

"MWO?"

.

..GJ..

.

Sarapan pagi itu terlihat tenang dan hening. Sang kepala keluarga memakan sarapannya dalam diam. Sesekali matanya melirik sang cucu yang duduk di sebelahnya. Dia mendesah.

"Jae, kuharap kau sudah memikirkannya masak-masak."

Jaejoong berhenti menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Dia meletakkan garpu dan pisau yang dipegangnya ke atas meja. Nafsu makannya mendadak hilang.

"Bukankah kejadian seperti ini sering terjadi? Kenapa kali ini kau terlihat ingin sekali menjodohkanku dengannya, hm, haraboji?"

"Kali ini berbeda, Jae. Aku mengenal keluarga mereka dengan baik. Seperti yang sudah kukatakan, mereka adalah teman baik ayah dan ibumu. Aku tahu mereka akan melakukan hal yang sama seandainya mereka masih di sini." Jonghyun terdiam sebentar lalu melanjutkan, "Kau tahu aku ingin yang terbaik untukmu, dan aku yakin Jung Yunho adalah orang yang tepat."

Jaejoong menghela nafas panjang. "Keunde, haraboji... Aku belum ingin menikah saat ini."

Alasan sebenarnya adalah jauh dalam lubuk hatinya, dia masih belum bisa melupakan sosok Lee Donghae. Dan lagi, sekalipun dia adalah yeoja angkuh yang keras kepala dan suka seenaknya, bukan berarti dia mau terikat dengan seorang namja tanpa cinta. Bagaimanapun dia adalah wanita, dia menginginkan kehidupan pernikahan yang bahagia.

"Aku tidak menyuruhmu untuk menikah sekarang. Yang aku inginkan adalah agar kau mau mencoba membuka hatimu dan menjalin hubungan dengannya. Akan lebih baik jika kalian bertunangan terlebih dahulu."

"Bagaimana jika aku tetap tak bisa menyukainya?"

Jonghyun terdiam lama. "Aku tidak akan memaksamu," putusnya.

Jaejoong tersenyum dalam hati. "Baiklah kalau begitu, kurasa aku juga tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi satu hal.. untuk pesta pertunangan, bisakah tidak melakukannya di akhir bulan ini? Aku ingin pergi berlibur dengan Junsu dan Kibum."

Jonghyun tersenyum lega. "Apapun untukmu, Jae."

Jaejoong balas tersenyum. Dia bangkit dari kursinya lalu mengecup pipi keriput kakeknya. Satu yang ia yakini.

Dia, Kim Jaejoong, tidak akan jatuh cinta pada Jung Yunho.

.

..GJ..

.

"Ah, aku hanya rindu dengan kakekku, karena itu aku mempercepat kepulanganku."

"Benarkah bukan karena Siwon-ssi? Kami dengar dia sering mengunjungimu di Paris."

"Kebetulan saat itu dia mendapat pekerjaan di sana. Dan dia temanku, tentu saja dia sering mengunjungiku."

"Tapi-"

"Maaf, sepertinya aku melihat temanku. Permisi." Dengan bantuan beberapa bodyguard-nya, Jaejoong mencoba melepaskan diri dari kukungan para wartawan yang sedari tadi tak henti memberinya pertanyaan.

Saat ini dia tengah berada di Hotel HC, menghadiri acara peragaan busana yang digelar oleh salah satu teman baiknya, Lee Hyori. Acara selesai dan dia baru saja akan pergi ke backstage ketika tiba-tiba wartawan menyadari keberadaannya dan mulai mengepungnya. Beruntung bodyguard yang sedari tadi mengawasinya dari kejauhan segera datang membantu.

Merasa sudah bebas dari para pemburu berita, dia berbalik dan menatap pengawalnya satu-satu.

"Aku ingin ke toilet lalu setelah itu pergi menyapa Hyori. Kalian tunggulah di luar hotel."

Mereka saling berpandangan lalu mengangguk dan segera undur diri. Menyisakan satu orang yang masih berdiri di tempatnya.

"Tapi, agasshi-"

"Termasuk kau, Kyuhyun-ssi."

Dengan enggan, Kyuhyun membungkuk lalu mengikuti jejak Joon, Mir, dan Cheondoong. Sepertinya dia sedikit trauma meninggalkan majikannya sendiri. Well, bagaimanapun Jaejoong pernah kabur di bawah pengawasannya.

Jaejoong memperhatikan bayangannya di cermin, memastikan penampilannya sempurna sebelum ia keluar dari toilet. Entah karena dia yang sibuk melihat jam di pergelangan tangannya atau namja tak jauh di depan yang sibuk dengan ponselnya, tabrakan itu terjadi begitu saja.

Tidak terlalu keras, tapi cukup untuk membuat high heels Jaejoong tergelincir. Dirinya hampir terjatuh jika saja namja itu tidak cepat menangkap pinggangnya dan menariknya mendekat hingga bisa Jaejoong rasakan pipinya menyentuh dada bidang sang namja.

"Gwenchanayo?"

Jaejoong mendongak. Betapa kagetnya ia mengetahui siapa yang di depannya.

"Yu-Yunho?"

"Eoh? Kim Jaejoong?"

Mereka terdiam, saling menatap satu sama lain. Jaejoong tidak tahu apa yang terjadi, tetapi kedua mata sipit nan tajam itu seolah menghipnotisnya, mengunci tatapannya hingga ia tak bisa lepas dari mata itu. Sungguh dia begitu terlarut hingga tak menyadari wajah Yunho yang perlahan mendekat.

Jaejoong terpaku saat bibir tebal itu menekan lembut bibir cherry-nya. Jantungnya berdegup kencang. Entah setan apa yang merasukinya, ia memejamkan mata, menikmati sentuhan di bibirnya. Ia bahkan mulai membalas lumatan-lumatan yang dilakukan Yunho, membuka mulutnya agar namja itu bisa lebih leluasa menciumnya.

Semuanya berlangsung begitu cepat. Dia tidak tahu sejak kapan punggungnya menabrak dinding, sejak kapan tangannya melingkar manis di leher Yunho, dan sejak kapan ciuman mereka menjadi sepanas ini.

Otaknya seakan lumpuh dan tidak bisa berpikir.

Dia bahkan lupa dengan keadaan sekitarnya. Tak sadar jika berpuluh-puluh pasang mata tengah menatap mereka tanpa kedip, tak sadar jika sedari tadi para wartawan terus menjepretkan kamera ke arah mereka dengan gila-gilaan.

Dan sepertinya mereka bahkan tak sadar jika kamera on-air milik SBS TV tengah menyorot mereka.

Jaejoong membuka mata saat perlahan Yunho melepaskan ciumannya. Mereka saling menatap dengan nafas terengah. Tersadar dengan apa yang baru saja mereka lakukan membuat jantung Jaejoong kembali berdetak kencang. Dengan gugup dia menunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah.

Ada apa dengannya? Hey, ini bukan pertama kalinya ia berciuman!

Jaejoong mengalihkan pandangannya, dan seketika itu juga dia merutuk. Shit! Dia bahkan lupa dimana mereka tengah berada sekarang. Bisa ia lihat dari kejauhan Lee Hyori yang menutup mulutnya sambil menatapnya tak percaya.

"Tuan Jung, Nona Kim, bisakah anda menjelaskan apa maksud semua ini?"

.

.

.

To be continue...

Oh my god, I'm sorry for the late update.. Jeongmal cheosonghamnida.. Aku harap chap ini memuaskan TvT

Dan berhubung aku lagi liburan, aku akan berusaha melanjutkan next chap dalam waktu dekat. Meskipun ga janji bakal cepet sih.. Karena jujur aja, untuk membuat satu chapter aku perlu waktu 2-3 hari, itu juga kalau lagi rajin.. hehe

Makasih buat yang udah baca dan review di chap sebelumnya, ini kupersembahkan untuk kalian :D

Note: Adegan paling atas aku ambil dari drama My Fair Lady ._.v