-You, and The Time-
Cast : Cho Kyuhyun as Kim Kyuhyun
Kim Kibum as Kim Kibum
Lee Donghae as Kim Donghae
Choi Siwon of Super Junior as Choi Siwon
Kim Ji Won [OC]
Choi Seung Hwan [OC]
Kim Jae Rim [OC]
Lee Hyeji [OC]
Warning : sorry for typo(s).
.
.
.
"Kibum-ah, kau bisa membantuku?"
Kepala Donghae terllihat menyembul dari pintu kamar Kibum yang tidak tertutup sepenuhnya.
"Ya, ada apa Hyung?" Kibum menoleh
"Pekerjaanku banyak sekali, Bum. Aku mengerjakannya sepanjang hari, tapi itu tidak selesai juga."
"Baiklah, aku akan membantumu. Di mana?" Kibum beranjak dari kursinya.
"Di ruang kerjaku." Donghae melangkah keluar diikuti Kibum.
"Kyuhyun di mana? Kenapa aku tak mendengar suaranya sejak tadi?"
"Di bawah, sedang tidur di kamarku."
"Tidur? Kyuhyun sakit?"
"Tidak...hanya...mood-nya sedang tidak baik hari ini."
"Memangnya ada apa? Ah, aku sama sekali tidak tau."
Donghae membuka pintu ruang kerjanya, Kibum menyusul masuk dan menutup pintunya kembali.
"Haha, kupikir hari ini adalah hari yang melelahkan untuk Kyuhyun." Donghae terkekeh.
"Pasti Hyung mengerjai Kyuhyun lagi."
"Kau tau, Bum.. Tadi pagi dia menghabiskan masakanku, dan kau tau aku memasak apa? Sayuran! Kyuhyun menghabiskan semuanya."
"Semuanya? Bagaimana bisa?" Kibum kini mendudukkan tubuhnya di sofa.
"Katanya itu enak sekali. Dia bahkan membantuku memasaknya tadi."
"Wah, benar-benar! Mungkin Kyuhyun sudah mulai ingin berubah.. Haha.." Kibum tertawa.
"Mungkin saja... Tapi ada kabar buruk juga, Bum."
Alis Kibum berkerut, tawanya seketika terhenti.
"Hasil pemeriksaan Kyuhyun hari ini tidak begitu baik."
"Hasil pemeriksaan? Aku bahkan tidak tau kalau hari ini Kyuhyun harus pergi ke Rumah Sakit."
"Entahlah, Bum.. Aku juga tidak tau apa yang sebenarnya sedang Kyuhyun pikirkan akhir-akhir ini. Siwon berkata dia sedang stress, dan itu ikut berdampak pada jantungnya. Banyak yang tidak stabil, tadi pagi saja Kyuhyun mengalami serangan ringan. Padahal ini baru beberapa hari setelah Kyuhyun keluar dari Rumah Sakit."
Kibum memandang Donghae dengan tatapan khawatir.
"Apa kau tidak mengajaknya berbicara, Hyung?"
"Sudah, Bum. Sudah banyak kali aku melakukannya, tapi Kyuhyun selalu menghindar. Jadi harus bagaimana lagi, jika sudah seperti itu aku hanya bisa menunggu sampai Kyuhyun mau menceritakan semuanya."
"Kukira dia baik-baik saja, Hyung. Mungkin itu ada hubungannya dengan kejadian beberapa hari yang lalu."
"Tentu saja, Bum. Bahkan Siwon sudah menanyakannya tadi, ia bertanya pada Kyuhyun apa yang terjadi sebelum ia marah-marah ketika itu, tapi Kyuhyun hanya mengaku kalau ia lupa dengan apa yang terjadi."
"Kyuhyun—apakah menghindar lagi?"
"Ya, begitulah, Bum. Emosinya sedang naik turun, sulit sekali jika sudah seperti itu. Oh, iya, tadi bagaimana kuliahmu?"
"Ah.. itu... sebenarnya bukan kuliah, Hyung. Hanya pertemuan dengan Profesor."
Donghae hanya mengangguk, ia terdiam sejenak.
"Lalu kapan kau akan mulai bekerja di perusahaan, Bum?"
Setelahnya Kibum hanya memandang Donghae yang sedang membawa laptop dan tas kerjanya menuju sofa.
"Aku sama sekali belum siap, Hyung."
Donghae menanggapinya dengan helaan napas—ia menatap Kibum.
"Bukan karena belum siap, Bum. Kau hanya belum berani."
"Aneh saja jika aku harus terjun ke perusahaan dengan umur semuda ini." Kibum meringis.
"Aku dulu juga begitu, Bum. Appa bahkan sudah mengajariku terbiasa dengan perusahaan sejak aku kecil, dan aku baru menyadarinya setelah Appa pergi. Bukankah lebih cepat akan lebih baik, Bum? Pengalamanmu akan banyak nanti."
Kibum menggaruk-garuk kepalanya.
"Bisakah kau menyiapkannya dalam tiga bulan, Bum?"
"Hanya tiga bulan?"
"Hanya kau bilang?
"Lalu kuliahku?"
"Kau tidak akan bekerja penuh untuk beberapa tahun pertama. Aku juga tau kau masih kuliah, Bum."
"Lalu Kyuhyun? Siapa yang akan mengurus Kyuhyun?"
Donghae akhirnya terdiam, matanya bergerak-gerak, berpikir mencari jawaban yang tepat untuk pertanyaan Kibum.
"Kyuhyun bis-"
"Hyung..."
Dua orang yang tengah asyik berbicara itu akhirnya menoleh ke arah pintu yang terbuka. Seseorang sedang berdiri di sana, dengan rambut acak-acakan, mata yang terlihat masih mengantuk, juga wajah yang pucat—tapi tetap terlihat tampan.
"Hyung aku ingin muntah.."
"APA?!"
.
.
.
.
Siwon memandangi kotak berwarna hitam mewah itu dengan tatapan kosong. Sebuah jam berdesain simple namun elegan itu tak membuatnya tersenyum sama sekali. Siwon tau barang itu tak main-main harganya, apalagi yang memberikan itu adalah ibunya. Seharusnya ia senang—seharusnya.
Siwon sama sekali tak berniat menyimpan barang itu, itu hanya membuatnya semakin sakit karena ketika ia melihat jam tangan itu, ia juga akan selalu teringat pada sang Ibu—juga kenangan-kenangan buruk di masa lalu bersama wanita berparas malaikat itu.
Flashback
Tangan bocah remaja itu mengepal erat-erat, wajahnya sudah merah padam, belum lagi air mata yang terus saja keluar dari matanya yang mulai membengkak.
"Hyeji-ya apa maumu, hah? Siwon hanya ingin kau temani, itu saja, kenapa kau sulit sekali melakukan itu? Aku harus bekerja, aku tidak bisa menjaga Siwon sepenuhnya, dia membutuhkanmu!"
"Kau pikir aku tidak bekerja, hah? Aku juga bekerja demi anak itu, dia sudah besar, jadi jangan bersikap seolah-olah dia masih anak kecil berumur lima tahun! Dia sudah bisa menjaga diri, dia laki-laki!"
"Tapi Hyeji-ya, bagaimanapun juga kau adalah ibunya, dan kau yang mempunyai tanggung jawab untuk menemani dan merawat Siwon di rumah. Aku tak melarangmu bekerja, tapi tolong jangan lupakan Siwon begitu saja!"
"Tidak, aku tidak akan berhenti dengan pekerjaanku! Baiklah, aku akan pergi saja dari rumah ini, kalian hanya akan menghalangiku saja!"
"Lee Hyeji, apa maksudmu? Kau gila? Apa yang kau katakan?!"
"Ya, Eomma pergi saja jika memang tidak menyayangiku, aku benci Eomma!"
Hyeji—wanita itu membelalakkan matanya ketika mendengar suara dari seseorang.
"Kau! Apa kau bilang?! Baiklah, aku akan pergi, aku pergi. Aku muak dengan semua ini!" Mata wanita itu berkilat, diambilnya tas kecil yang sempat tergeletak di lantai itu, lalu berjalan keluar secepat mungkin meninggalkan rumah yang terlihat berantakan itu.
Siwon hanya menangis keras-keras sampai pelukan sang Ayah menerjang tubuhnya yang bergetar ketakutan.
"Appa, hiduplah bersamaku. Aku akan membuat Appa bahagia suatu hari nanti, jangan tinggalkan aku, Appa."
End of Flashback.
'Aku memang tak salah mengusir Eomma waktu itu, tak salah. Aku memang tak mengenal Eomma, aku bahkan tak tau siapa itu Eomma. Bagiku, Eomma adalah wanita yang selalu sibuk dengan pekerjaannya, selalu sibuk dengan dunianya sendiri, dan yang paling buruk, Eomma adalah wanita jahat yang hanya bisa meninggalkanku begitu saja. Sudahlah, tidak ada yang perlu disesali.' Siwon tersenyum kecut
Bukan Ibunya tak pernah meminta maaf, bahkan Ibu yang telah melahirkannya itu pernah memohon-mohon sampai hampir gila demi meminta kata 'maaf' dari Siwon.
Durhaka? Seperti itu—mungkin.
Nyatanya Siwon tak pernah sekalipun luluh dengan perlakuan sang Ibu yang tampak sangat, sangat menyesal itu. Tembok pendiriannya begitu tinggi ketika berhadapan dengan sang Ibu. Hatinya sudah terlanjur menjadi hati yang kuat dan tegas—yang sekali tidak, ya tidak.
Dan kali ini sang Ibu datang dengan permohonan yang lebih gila, yaitu meminta Siwon untuk hidup bersamanya. Gila! Benar-benar gila bagi Siwon. Tidak akan! Ia sudah dengan susah payah bertahan hidup tanpa seorang Ibu, beberapa waktu terlewati, dan itu membuat Siwon berpikir—ia tak membutuhkan seorang Ibu ketika ia dan sang Ayah saja nyatanya masih bisa bertahan hidup.
Siwon memasukkan kotak hitam itu ke dalam laci meja kerjanya dengan kasar, lalu mengacak rambutnya. Siwon melirik jam dinding di ruang kerjanya, sudah hampir pukul 10 malam, tapi pekerjaannya belum juga selesai.
"Mengapa begitu banyak pasien hari ini?" Siwon mengeluh.
Dengan malas Siwon kembali mengambil satu per satu file yang ada di meja kerjanya. Membaca dan mempelajarinya dengan serius—sambil berharap rasa sakit di hatinya tak terus-menerus bersarang di sana.
.
.
.
.
"Kau sudah benar-benar merasa baik, Kim Kyuhyun?"
Seluruh mata di ruangan itu tertuju pada Kyuhyun yang hanya terdiam di tempat duduknya. Ia seperti melamunkan sesuatu.
"Kim Kyuhyun?"
"Ah..I-Iya Seonsaengnim?" Kyuhyun memandang heran ketika seluruh pandangan teman satu kelasnya tertuju padanya.
"Kau tampak belum sehat. Jika tidak bisa mengikuti kelasku, silakan pergi ke ruang kesehatan."
"Ah, tidak. Aku benar-benar sudah sehat, Seonsaengnim. Tidak apa-apa." Kyuhyun menjawabnya dengan kikuk.
Kyuhyun kemudian menundukkan kepalanya, berusaha menghindari tatapan teman-teman sekelasnya yang tampak khawatir. Beruntung—sebenarnya—ia punya teman satu kelas yang mau peduli dan mengerti pada kondisinya, tapi tak jarang juga Kyuhyun merasa jengkel, seperti ini.
Kyuhyun tak begitu akrab dengan semua teman sekelasnya—kecuali Changmin. Itu karena Kyuhyun tak pernah bisa mengikuti jadwal penuh seperti yang lain. Dalam sebulan, setidaknya selama seminggu Kyuhyun selalu absen. Tapi beruntunglah teman-temannya seolah mengerti apa yang Kyuhyun rasakan.
"Baiklah, aku harus menemui seseorang. Sebentar, kalian berdiskusilah." Ucap Seonsaengnim singkat sambil melangkah keluar kelas.
"Hei, Changmin-ah. Antar aku ke kamar mandi."
Kyuhyun menepuk pelan pundak Changmin.
Changmin kemudian langsung beranjak dari kursinya—mengikuti Kyuhyun yang tampak melangkah dengan terburu menuju kamar mandi yang jaraknya hanya beberapa langkah dari kelas Kyuhyun.
"Aish, benar-benar. Seonsaengnim lama sekali mengajarnya. Rasanya sudah tidak nyaman sekali. Semua pasti beristirahat ketika sudah jam 12, dan sekarang-"
Kyuhyun menarik tangan Changmin—menatap jam tangan yang melingkar di sana dengan tatapan terkejut. Sekarang sudah pukul 1 siang.
"Astaga, lewat 1 jam dari jadwal minum obatku!"
Kyuhyun segera merogoh saku jaketnya.
"Sial, mengapa jam di kelas harus mati?!"
Changmin mendengus melihat Kyuhyun yang terus mengomel.
"Tumben kau mengomel, Kyu."
"Aku tidak akan mengomel kalau sedang sehat. Ini karena aku masih sakit, kau tau! Tadi malam aku memuntahkan semua sayuran yang ku makan di pagi hari."
"Lalu mengapa kau masuk kuliah jika kau masih merasa sakit? Aishh.."
"Kau seperti tidak tau aku saja, Min."
Kyuhyun mengeluarkan beberapa butir obat, kemudian menelannya dengan mudah saja. Changmin hanya memandangi Kyuhyun dengan tatapan datar.
"Sebaiknya kau menuruti perkataan Jung Ssaem. Istirahatlah di ruang kesehatan."
"Memang kenapa?"
"Wajahmu mengerikan. Itu lebih buruk dari tadi pagi."
"Benarkah? Tapi aku merasa baik-baik saja."
"Bohong! Lain kali kau harus belajar cara berbohong padaku."
Changmin menarik paksa lengan Kyuhyun, membawanya pergi secepat kilat menuju ruang kesehatan—Changmin tidak mau sampai harus menggendong temannya itu.
.
.
.
.
"Bagaimana, apakah begitu nyaman tidur di Ruang Kesehatan dari pada tidur di kamarmu yang besar itu?"
Gerakan Kyuhyun yang sedang menutup pintu rumah itu tiba-tiba terhenti. Ia baru saja masuk ke dalam rumahnya, lalu ia menemukan Donghae sedang membaca koran di sofa ruang tamu.
"Bagaimana Hyung bisa tau?" Kyuhyun mengernyit.
"Kau lupa? Dokter baru di Kampus-mu?"
"Astaga! Aish! Ah.. benar-benar! Ah dia- Ah, menyebalkan!" Kyuhyun berjalan cepat menuju kamarnya sambil mengumpat tak jelas. Wajahnya sudah memerah—ia malu, lebih baik ia menghindari Donghae dengan segera, sebelum Hyung-nya itu menanyakan pertanyaan yang membuat telinganya panas.
"Besok tidak ada bangun pagi, tidak ada kuliah, tidak ada alasan apapun itu!"
"Terserah Hyung ingin berkata apa, aku akan tetap berangkat!" Sahut Kyuhyun tak ingin kalah.
"Kau bandel sekali sih, Kyu?"
"Hyung ingin aku tidur disana terus-terusan? Lalu kapan aku bisa pulih kalau aku terus malas-malasan seperti itu, huh?"
"Hanya jangan kuliah dulu, itu saja. Aku tidak menyuruhmu untuk terus tidur, kan?"
"Sama saja, tak ada yang ku kerjakan di rumah! Aish!" Kyuhyun menutup pintu kamarnya dengan kasar.
.
.
.
.
Flashback
"Tolong hanya dua orang saja yang masuk."
Keempat orang disana saling berpandangan, seolah berbicara dalam hati.
"Kau saja, Hae. Bersama Kibum."
Donghae hanya terdiam, sementara Kibum yang sejak tadi tampak merenung itu tiba-tiba menatap sang Ayah.
"Tidak, Appa. Lebih baik aku menunggu di sini bersama Kibum. Appa dan Eomma saja yang masuk."
"Baiklah."
Jaerim menyahut dengan tegas, sebenarnya ia juga berpikir jika tidak mungkin Kibum mau masuk kedalam ruangan untuk melihat Kyuhyun. Emosi Kibum masih tersisa—terlihat di matanya. Ia dan Jiwon kemudian berbalik, dan mengikuti perawat yang baru saja berbicara padanya. Melewati sebuah lorong pendek, dan akhirnya sampai di kamar rawat Kyuhyun.
Jaerim tidak begitu terkejut melihat keadaan kamar itu, sebuah pemandangan yang tidak mungkin ada di kamar rawat pasien 'biasa'. Jaerim mengeratkan pegangannya pada lengan Jiwon, ia mendekat ke arah Dokter Choi—yang memang telah bersama Kyuhyun sejak beberapa menit yang lalu.
"Bagaimana, Seung Hwan-ah?"
"Oh, kalian datang?"
Dokter itu mundur beberapa langkah dari ranjang Kyuhyun, seakan memberi isyarat pada pasangan suami-istri itu untuk melihat keadaan sang anak secara langsung. Jaerim kemudian menelusuri tubuh Kyuhyun dengan mata yang mulai berkaca-kaca—entah mengapa hawa dingin tiba-tiba menyeruak, ruangan itu sungguh dingin dan sunyi baginya.
"Dia tertidur, baru saja." Dokter Choi tersenyum.
"Aku baru melihatnya hari ini, dan ternyata kau kembali tertidur, Kyuhyunie." Ucap Jaerim sambil menarik selimut Kyuhyun lebih tinggi.
Dokter Choi dan Jiwon terkekeh kecil ketika mendengar itu.
"Seung Hwan-ah, kau belum menjawab pertanyaanku."
Dokter itu hanya tersenyum kecil.
.
.
"Ah.. maaf kalian selalu bertemu Kyuhyun jika ia sedang tertidur. Aku sudah mengajaknya berbicara tadi, tapi Kyuhyun tidak terlalu merespon, lalu ia tertidur lagi. Aku ingin menyampaikan sesuatu, ini tentang kondisi psikologis Kyuhyun. Perkenalkan, salah satu psikiater terbaik di Rumah Sakit ini."
"Park Jung Soo. Senang bertemu dengan Tuan dan Nyonya." Dokter itu tersenyum ramah.
"Aku Kim Jiwon dan ini istriku."
Dokter Jungsoo mengangguk sopan setelahnya.
"Aku memang sengaja memberitahu kalian di saat aku sudah yakin—maksudku, awalnya aku tak yakin apakah ada yang salah dengan kondisi psikis Kyuhyun. Aku langsung melihatnya di saat ia sadar untuk pertama kali, tapi ketika itu Kyuhyun hanya menatapku dengan tatapan tidak suka. Lalu aku meminta Jungsoo untuk menemui Kyuhyun dan hasilnya... tidak begitu baik. Jungsoo akan menjelaskan lebih banyak. Baiklah, silakan, Jungsoo-ya."
"Kupikir Kyuhyun mengalami tekanan emosi yang cukup tinggi, Tuan, Nyonya. Untuk saat emosi itu seperti 'muncul dan tenggelam'. Aku masih melihat banyak ketakutan dalam diri Kyuhyun, tapi masalahnya, Kyuhyun memaksa ketakutan itu untuk menghilang, ia menyembunyikan ketakutan itu dan berusaha menutupinya. Tapi pada akhirnya itu berdampak, dia tertekan dengan pikirannya sendiri—Kyuhyun ingin meluapkan itu semua, tapi ia tak bisa melakukan itu sendiri. Singkatnya, Kyuhyun membutuhkan seseorang saat ini, tapi aku tidak tau siapa yang ingin dia temui, Tuan, Nyonya."
Jiwon mengerti arah pembicaraan Dokter Jungsoo, Dokter dengan senyum ringan itu ingin dirinya dan Jaerim menceritakan tentang masalah yang ada.
"Kupikir itu Kibum, Dokter Jungsoo."
Jaerim seketika menoleh mendengar nama itu.
"Itu akan lebih buruk Jiwon-ah, tidak mungkin, mereka tidak boleh bertemu untuk sementara waktu."
"Jaerim-ah, bukan itu yang kumaksud. Tenanglah." Jiwon menatap sang istri dengan tatapan tidak mengerti.
"Bisakah Tuan dan Nyonya ceritakan siapa itu Kibum?"
"Kibum... dia... adalah kakak Kyuhyun."
End of Flashback
.
.
.
.
"Sudah kubilang tidak ada kuliah hari ini, Kyuhyun!"
Tidak menjawab, Kyuhyun hanya sibuk mencari sepatunya.
"Kau tuli?!"
Kyuhyun masih tidak menjawab, bahkan menoleh pun tidak.
"Baiklah, aku harus membawamu ke Dokter telinga!" Donghae menarik kasar lengan Kyuhyun.
"Hyung! Tolonglah.. Aish... Aku berangkat." Kyuhyun berlalu raut wajah yang tampak begitu kesal.
"Astaga.. Ya Tuhan.." Donghae mendesah.
"Apa tubuhmu itu sudah mati rasa, Kyu? Ketika melihatmu saja, aku tau jika kau itu sakit, aku tau jika tubuhmu itu letih sekali. Orang lain bahkan bisa membayangkan rasanya seperti apa, tapi kau seperti tak peduli dengan itu." Donghae melihat Kyuhyun menghilang di depan pagar rumah.
"Biarkan saja, aku akan mengawasinya. Aku juga akan berangkat." Ucap Kibum tiba-tiba.
"Kau lihat sendiri kan bagaimana tingkah adikmu itu? Astaga, aku tidak tau kepada siapa aku menumpahkan kekesalanku ini jika kau tak ada, Bum."
Kibum terkekeh setelahnya.
"Kau, bawalah mobilku. Ajak Kyuhyun naik mobil saja." Donghae menyerahkan kunci mobil yang ia ambil dari sakunya.
"Lalu, Hyung..?"
"Aku akan naik motor mu saja."
"Baiklah.. Aku berangkat, Hyung."
"Hati-hati, Kibum-ah."
Kibum mengangguk, melambaikan tangannya singkat. Tak perlu waktu lama sampai mobil putih itu juga menghilang dari penglihatan Donghae.
.
.
Kyuhyun duduk dengan tenang sambil melihat pemandangan kota dari jendela. Kyuhyun punya alasan tersendiri ketika ia memilih menaiki Bus Kota daripada mobil mewah milik Donghae—sederhana, ketika ia berangkat bersama Donghae atau Kibum, mereka pasti akan mengajak Kyuhyun mengobrol sampai akhirnya ia tak bisa menikmati perjalanan menuju kampusnya. Kyuhyun menyukainya, menyukai perjalannya menuju suatu tempat dengan pikiran yang tenang—mirip seperti sifat sang Ibu.
Belum selesai Kyuhyun melamunkan itu, seseorang kini menepuk pundaknya dengan perlahan.
"Nak, bolehkah aku duduk disini?"
"Ah, t-tentu saja." Kyuhyun sedikit kikuk sebelum akhirnya berdiri dan mempersilakan wanita itu masuk lebih dulu ke tempat duduk. Wanita itu tampak membawa bungkusan besar di tangannya.
"Apakah aku boleh membantumu, Nyonya?"
"Ah, tidak perl-" Kalimat wanita itu terhenti.
Baik Kyuhyun maupun wanita sama-sama terdiam mematung.
"Oh, apa kabar?" Kyuhyun tersenyum lembut.
"Kau mengingatku? Kau bersama Siwon waktu itu, di Rumah Sakit?"
"Iya, Nyonya juga mengingatku." Kyuhyun masih mempertahankan senyumnya.
Wanita itu merapikan bungkusan di tangannya, lalu mulai menatap Kyuhyun.
"Kau sopan sekali, Nak. Aku bangga padamu."
"Ah, tidak perlu seperti itu, Nyonya."
"Maaf jika aku mengganggu pertemuanmu dengan Siwon ketika itu."
"Ah, itu tidak apa-apa. Tapi bolehkah aku tau hubungan Nyonya dengan Dokter Siwon?" Kyuhyun bertanya dengan ragu.
"Aku...aku...bibinya."
Kyuhyun membulatkan matanya.
"Bagaimana bisa Siwon Hyung melakukan itu pada Nyonya?"
"Ah, tidak. Belakangan ini sedang ada masalah. Tidak perlu khawatir. Tidak ada hal yang serius. Ah, tapi boleh ku tau namamu?"
"Namaku, Kyuhyun."
"Ah, nama yang bagus. Cocok sekali dengan kepribadianmu, Kyuhyun-ah." Wanita itu kembali tersenyum, namun kali ini sedikit dipaksakan.
"Terimakasih, Nyonya."
"Tapi Kyuhyun-ah, mengapa kau mendatangi Siwon? Yang kutau Siwon hanya menangani pasien dengan penyakit yang serius."
"Ah, itu.. Ya, bisa dikatakan seperti itu." Kyuhyun menggaruk tengkuknya.
"K-Kau sakit, Kyuhyun-ah?"
Kyuhyun menghela napas, ia benar-benar membenci pertanyaan itu.
"Itu, tidak begitu parah. Aku hanya melakukan pengobatan rutin bersama Siwon Hyung dan lagipula itu akan segera membaik." Bohong Kyuhyun.
"Astaga. Tapi kau terlihat sehat-sehat saja, Kyuhyun-ah."
"Memang aku tidak sedang sakit. Justru aku merasa semakin baik." Lagi-lagi Kyuhyun mengarang.
"Apa kau dekat dengan Siwon, Kyu?"
"Aku dan Siwon Hyung berteman sejak kecil." Kyuhyun tak menjawab lebih panjang.
"Ah, begitu. Kau tak pernah melihatku, ya? Aku sudah lama menetap di Amerika, kali ini aku pulang ke Korea untuk mengurus sesuatu, lalu aku akan kembali ke sana."
Kyuhyun mengangguk. Ia mungkin ragu, tapi ia merasa tak asing dengan wajah wanita itu.
"Ah, Nyonya. Kau mirip sekali dengan Siwon Hyung."
"Benarkah?" Wanita itu tersenyum kaku.
"Aku harus turun sebentar lagi, apakah Nyonya tidak apa-apa dengan ini?"
"Ah, aku juga akan turun. Kupikir kau kuliah di kampus depan apartemenku?"
"Nyonya tinggal disana?"
"Kyuhyun-ah, mampirlah ke apartemenku jika kau tidak ingin beristirahat di kampus. Aku akan selalu di sana untuk 6 bulan kedepan sebelum aku kembali ke Amerika. Lantai 7, nomor 98."
"Baiklah, aku akan mampir jika aku punya waktu. Terimakasih Nyonya."
Wanita itu membalas senyuman Kyuhyun. Tapi siapa yang menyangka senyuman itu adalah senyuman licik.
"Ah, Kyuhyun-ah, bolehkah aku meminta tolong?"
"Tentu saja."
"Bisakah kau memberikan ini pada Siwon? Tidak perlu terburu-buru, bawa saja ketika kau akan menemuinya di Rumah Sakit atau bagaimana, aku meminta tolong padamu, Kyuhyun-ah. Kupikir Siwon tidak ingin bertemu denganku untuk sementara waktu." Wanita itu memberikan sebuah paper bag dengan kotak berukuran sedang berada di dalamnya.
"Ya, aku akan memberikannya pada Siwon Hyung. Mungkin 4 hari ke depan aku harus kembali ke Rumah Sakit, apakah tidak apa-apa, Nyonya?"
"Tidak apa-apa, Kyu. Ini hanya hadiah kecil untuk Siwon. Tidak perlu terburu-buru. Ah, kau mau ini?" Wanita itu memberikan sebungkus Sandwich hangat dan susu kotak.
"Aku Nyonya tidak perlu repot-repot, untuk Nyonya saja. Aku bisa sarapan nanti." Kyuhyun menolaknya halus.
"Ambilah, kau harus banyak makan. Kau terlihat kurus, Kyu. Pasti itu sulit sekali, hm? Kau harus sehat selalu. Ini bawalah." Wanita itu menarik tangan Kyuhyun—memaksa Kyuhyun menerima rotinya.
"Terimakasih banyak, Nyonya. Aku akan memakannya." Kyuhyun memang tersenyum lebar-lebar, tapi entah mengapa perasaannya tak sejalan dengan itu. Kyuhyun tak tau mengapa wanita yang duduk disampingnya ini bisa menjadi begitu baik padanya, padahal ini adalah pertama kalinya mereka saling menyapa. Sedikit aneh menurut Kyuhyun.
'Kim Kyuhyun, masih ada rahasia yang belum terungkap. Dan tentu saja, aku tidak akan membuatmu mati dengan mudah. Kau juga harus menderita, kau juga harus hidup di tengah kebahagiaan orang lain. Harus.'
Wanita itu membalas senyuman Kyuhyun.
.
.
.
.
"Siapa? Bibi Siwon?"
Kyuhyun mengangguk.
"Bibi yang mana? Ah, tunggu... Bibi?" Alis Donghae berkerut.
"Iya, yang dimarahi Siwon Hyung ketika di Rumah Sakit, itu ternyata bibinya. Kau tau Hyung, tadi itu aneh sekali." Ucap Kyuhyun tanpa mengalihkan perhatiannya pada laptop putih di pangkuannya.
"Aneh?"
"Dia tiba-tiba memberiku roti dan susu, lalu ia memintaku untuk datang ke apartemennya. Apalagi apaertemen itu di depan kampusku. Entah kenapa aku menjadi sedikit takut, dia tiba-tiba menjadi begitu baik padaku, seolah dia sudah mengenalku cukup lama."
"Tapi Kyuhyun-ah, seingatku, Bibi Siwon itu sudah meninggal. Ah, Kibum kau ingat tidak, dulu sewaktu Dokter Choi tidak bisa datang kemari karena ada keluarganya yang meninggal? Aku tidak begitu mengingat siapa yang meninggal ketika itu."
Kibum yang sejak tadi diam mendengarkan akhirnya terperangah.
"Itu... sebentar.. iya Itu Bibi Siwon Hyung. Bibi itu punya penyakit parah, seingatku."
"Aku benar, kan? Tapi mungkin saja itu Bibinya yang lain." Donghae menyahut.
"Bibi itu dari Amerika, dia jarang kembali ke Korea. Dia berkata seperti itu."
"Ah, benar saja. Aku memang tidak begitu tau tentang keluarga Siwon. Aku hanya mengenal Dokter Choi. Pernah dulu sekali aku melihat Siwon bersama Ibunya, tapi aku sama sekali tidak mengingat wajah Ibunya. Lalu setelah aku mendengar Dokter Choi bercerai dengan Istrinya, aku tak berani bertanya apapun pada Siwon, tapi yang jelas setelah itu Ibu Siwon pergi—entah kemana."
"Baiklah, besok aku akan mampir ke apartemen Bibi itu, dia sepertinya orang baik. Aku akan membawakan sesuatu."
"Hati-hati, Kyu. Kau belum pernah bertemu dengan Bibi itu. Bagaimana jika dia orang jahat?"
"Dia menitipkan sesuatu untuk Siwon Hyung padaku. Mana mungkin dia berbohong?"
"Lalu kau bawa barang itu pada Siwon, jelaskan padanya. Jika itu memang benar, maka Bibi itu benar-benar orang baik."
"Apakah Siwon Hyung tidak datang kesini, Hyung? Malas sekali kalau aku harus pergi ke Rumah Sakit untuk memberikannya pada Siwon Hyung."
"Hei, itu tanggung jawabmu. Itu milik orang lain, sebaiknya segera berikan itu pada Siwon, Kyu. Kau kuliah jam berapa besok?"
"Siang." Jawab Kyuhyun dengan nada ragu-ragu.
"Baiklah, kalau begitu kau berangkat pagi saja bersamaku. Aku akan mengantarmu ke Rumah Sakit, setelah itu pergilah sendiri ke kampus. Oke?"
"Baiklah, aku akan memberitahu Siwon Hyung dulu."
.
.
.
.
Flashback
Bukan perkara mudah bagi Dokter Jungsoo untuk mempertemukan dua orang yang kini sedang menunduk dalam-dalam, setidaknya ia harus menyeret Kibum untuk masuk ke dalam ruang rawat Kyuhyun. Apalagi Kyuhyun yang juga menolak mentah-mentah untuk dipertemukan dengan Kibum. Tapi kini Dokter Jungsoo sudah sedikit lega, setidaknya kedua orang ini sudah duduk berhadapan walau dalam keadaan yang—jelas—sangat tidak nyaman.
Sudah 10 menit lebih Dokter Jungsoo mengamati keduanya, sengaja membiarkan Kyuhyun dan Kibum larut dalam piikiran masing-masing.
"Bagaimana, apakah kalian sudah merasa marah?" Dokter Jungsoo tersenyum kecil.
Kibum memandang Dokter Jungsoo dengan tatapan kesal.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Kau marah kan, Kibum-ssi? Kenapa? Kenapa tak kau pukul saja adikmu itu?" Bukankah kau ingin adikmu mati? Hm?" Dokter Jungsoo melipat tangannya dengan santai.
Kibum dan Kyuhyun sama-sama terperanjat, keduanya seperti tak habis pikir tentang kelakuan Dokter murah senyum di depan mereka itu.
"Jangan tanya darimana aku tau tentang itu semua, bertahun-tahun, antara hidup dan mati, aku belajar untuk ini. Dan sekarang, untuk 'membaca' kalian sudah bukan apa-apa bagiku. Kalian pikir aku hanya diam saja sejak tadi? Aku mengamati kalian, jadi jangan berpikir untuk menyembunyikan sesuatu padaku, hm?" Dokter Jungsoo menunjuk Kibum dan Kyuhyun.
"Baiklah, apa yang kau inginkan sekarang, huh? Aku benar-benar ingin mengakhiri ini."
"Minta maaf pada adikmu." Dokter Jungsso berkata tegas.
"Baiklah, aku akan melakukannya."
Kibum beranjak dari kursinya menuju ranjang Kyuhyun. Kibum menatap Kyuhyun untuk beberapa saat.
"Aku minta maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Maafkan aku." Ucap Kibum dengan begitu datar—tanpa emosi.
"Sudah? Lalu apa lagi?"
"Ya, kau boleh pergi." Dokter Jungsoo menunjuk pintu ruang rawat itu.
Kibum juga menurut, tanpa berkata apapun ia berjalan menuju pintu itu.
"Apa kau tak punya malu, uh?"
Kibum menghentikan langkahnya, jantungnya tiba-tiba berdebar begitu kencang ketika suara lirih itu terdengar olehnya.
"Benar, itu pertanyaan untukmu, Kim Ki Bum."
"Baikkah, sekarang aku yang bertanya padamu, Kim Kyu Hyun. Mengapa kau merebut segalanya dariku, huh? Mengapa kau mengambil segala yang kumiliki? Pernahkan kau berpikir jika diam-diam kau sebenarnya menghancurkanku? Pernahkah kau berpikir seperti itu?"
"Lalu, tak pernahkah kau berpikir tentang aku? Keadaanku? Rasa sakitku? Apa aku yang meminta semua ini terjadi? Sungguh aku tidak mau. Aku juga tidak tau mengapa ini terjadi padaku." Emosi Kyuhyun mulai tumpah, suaranya terdengar bergetar.
"Tapi seharusnya kau juga tau diri. Menjagamu itu sudah sulit, tapi kau malah semakin mempersulit itu semua. kau tau berapa banyak yang dikeluarkan Appa dan Eomma untuk biaya pengobatanmu? Mereka telah bekerja mati-matian untukmu, tapi nyatanya apa? Apa pernah kau berusaha membalas kebaikan Appa dan Eomma? Kau tak melakukan apapun, bukan begitu? Dan sekarang percuma saja, penyakitmu itu... tidak bisa disembuhkan. Kau dengar itu, Kim Kyuhyun!"
"Kau benar-benar!"
Dokter Jungsoo bergerak cepat menghalangi Kyuhyun yang sudah akan menerjang tubuh Kibum—diikuti oleh seorang perawat laki-laki yang juga memang berada di sana bersama Dokter Jungsoo. Perawat itu dengan sigap menggiring tubuh Kibum untuk keluar dari kamar Kyuhyun.
"Jungin-ssi, tolong minta Dokter Choi masuk."
"Baik, Dokter."
Dokter Jungsoo kembali beralih memperhatikan Kyuhyun, ia tau situasi seperti ini pasti akan terjadi dan ia juga tau menangani Kyuhyun dengan kondisi seperti ini bukanlah keahliannya—ya, walaupun setidaknya ia tau cara menenangkan pasien, tapi hak untuk memberikan obat-obatan pada Kyuhyun adalah sepenuhnya milik Dokter Choi.
"Kau tidak apa-apa, Kyuhyun-ah?"
Dokter Jungsoo menatap Kyuhyun, mencoba 'membaca' mata yang memerah itu. Dan setelahnya ia menghela napas lega.
"Bagus, ya, keluarkan itu. Menangislah kalau memang ingin menangis. Lakukan sesuka hatimu, lalu kau akan merasa lebih baik, Kyuhyun-ah."
Kyuhyun tak menjawab, ia hanya mencengkeram erat ujung jas milik Dokter Jungsoo.
"Aku membenci Kibum." Lirih Kyuhyun.
"Ya, sekarang kau boleh membencinya sebanyak yang kau mau." Dokter Jungsoo memeluk Kyuhyun dengan perlahan.
"Apa yang terjadi, Jungsoo-ssi?!"
Dokter Jungsoo hanya tersenyum kecil melihat tingkah laku Dokter Choi yang tampak panik melihat Kyuhyun.
"Kyuhyun-"
"Dia melakukannya dengan baik, aku sudah mendapatkannya." Ucap Dokter Jungsoo dengan tenang.
"Kyuhyun-ah, kau boleh beristirahat. Nanti malam aku akan mengunjungimu lagi."
Dokter Jungsoo menatap mata Kyuhyun yang masih memerah, ia tau Kyuhyun masih terguncang tapi setidaknya Kyuhyun sudah bisa mengontrol dirinya sendiri. Sedangkan Dokter Choi hanya menatap Kyuhyun dengan tatapan sedih, bahkan semburat pucat di wajah Kyuhyun belum hilang, tapi mau tidak mau Kyuhyun harus menyelesaikan ini secepatnya.
"Kyuhyun-ah, kau bisa mendengar kami?" Ucap Dokter Choi ketika Kyuhyun tak merespon apapun.
Kyuhyun mengangguk.
"Apakah ada yang sakit?"
"Tidak."
"Baiklah, aku akan memberimu obat agar kau bisa beristirahat dengan baik."
Dokter Choi meraih lengan Kyuhyun kemudian menyuntikkan sesuatu. Kyuhyun hanya menatapnya dengan pasrah, ia sudah di ujung kesadarannya, ia tak merasakan apapun, namun rasa sesak dihatinya malah semakin besar saja. Sudahlah, ia tak ingin mendengar suara Kibum lagi, ia tak ingin bertemu Kibum, lagi.
End of Flashback.
.
.
.
.
"Siapa? Bibi? Dimana kau bertemu orang itu, Kyu?"
"Itu ketika aku berangkat kuliah, aku bertemu dengan Ahjumma itu di Bus. Apakah benar Ahjumma itu adalah Bibimu, Hyung? Jika benar, mengapa kau memperlakukannya seperti itu ketika bertemu di Rumah Sakit?
Siwon menghela napas berat. Ia tau—benar-benar tau siapa 'Ahjumma' yang dimaksud oleh Kyuhyun. Siwon benar-benar merasa frustasi sekarang, ia tampak berpikir bagaimana cara menjelaskan ini pada Kyuhyun yang sekarang sedang menatapnya dengan serius.
"Baiklah, baiklah. Aku tau orang itu baik padamu, dia memberimu makanan, menyuruhmu datang ke apartemennya atau apalah itu. Kau boleh melakukannya, Kyu. Iya, benar, itu memang.. memang... Bibiku." Siwon menjeda. "Kau boleh datang mengunjunginya, tapi aku meminta satu hal padamu, Kyu, orang itu adalah orang yang jahat di masa lalu, aku tak tau apakah dia sudah berubah sepenuhnya atau belum, jadi ku mohon tetaplah berhati-hati."
"Orang jahat? Apa maksudmu, Hyung?"
"Kau tak perlu tau, Kyu. Maaf, tapi aku tak ingin menceritakannya padamu. Lakukan saja apa yang ku minta. Jika suatu saat kau merasa tidak nyaman, maka segeralah menjauh. Dia bukan orang biasa, Kyu. Dan satu lagi, aku sangat memohon padamu untuk hal ini, jangan beritahukan apapun tentang kehidupanmu pada orang itu, khususnya tentang... penyakitmu. Jangan pernah."
Kyuhyun terdiam setelah mendengar kata-kata Siwon. Perasaannya mendadak menjadi gelisah.
"K-Kyuhyun-ah, kau belum mengatakan apapun pada orang itu kan?"
"Ah.. itu.. tidak, aku tidak mengatakan apapun. Lagipula ak-aku... baru saja mengenal Bibi itu, Hyung."
"Baguslah. Aku tau ini berlebihan, tapi aku melakukan ini demi kebaikanmu, Kyuhyun-ah. Aku tak ingin kau berhubungan dengan orang itu, kau tidak mengenalnya, dan tidak ada alasan apapun bagimu untuk mengenal orang itu."
"Ya, baiklah Siwon Hyung. Aku akan berhati-hati. Terimakasih sudah memberitahuku."
"Maafkan aku karena aku tidak bisa menceritakan semuanya itu, ini semua terlalu rumit, dan bahkan keluargaku pun menolak orang itu. Juga maaf karena aku harus memberitahumu tentang keburukan orang lain, aku sama sekali tak bermaksud apapun, Kyu."
"Tidak apa-apa Siwon Hyung. Jika memang seperti itu, maka aku bisa berhati-hati pada Bibi itu."
"Jaga dirimu dengan baik, Kyuhyun-ah. Dimanapun dan kapanpun kau membutuhkan pertolongan, jangan ragu untuk menghubungiku. Kau tau, aku sudah mengganggapmu sebagai adikku sendiri." Siwon tersenyum pahit.
"Baiklah, terimakasih Hyung." Kyuhyun membalas senyum Siwon.
"Apa sudah waktunya kuliah? Aku akan mengantarmu ke kampus.
"Tidak perlu, Hyung. Aku bisa naik Bu-"
"Kyu, hentikan itu. Mulai sekarang kau tidak boleh menolak penawaranku!"
Siwon menatap Kyuhyun dengan tatapan kesal yang dibuat-buat. Kyuhyun hanya tersenyum kecil, tampak sekali raut gelisah di sana. Siwon pun begitu, rasa gelisah seperti semakin menghantuinya saja.
'Eomma, apakah kau tau siapa itu Kyuhyun?'
'Apakah kau ingin membunuh Kyuhyun?'
'Eomma, meski aku tau aku berdosa telah melakukan ini, tapi aku akan tetap melakukan apapun, bahkan jika harus membunuh Eomma ku sendiri, aku akan melakukannya. Karena aku menyayangi adikku, Eomma. Aku menyanyangi Kyuhyun.'
Siwon kembali tersenyum canggung pada Kyuhyun.
.
.
.
.
Hallo semuanyaa, hallo teman-temaaan. Saya kangen sekaaaliiiii... :'( :'( Terakhir update tgl 1 juli, dan sekarang 1 september, udah 2 bulan looh.. :'( Saya gk tau harus dg cara apa saya meminta maaf. Mulai juli saya sibuk sekali dg urusan kuliah. Rumah saya jauuuuh sekali dari tempat sya kuliah, jadi saya harus mempersiapkan segalanya dg baik biar gk ada yg tertinggal. Tapi syukurlah :D mulai dari ospek, tugas, kegiatan pengenalan kampus, dll, sdh saya lalui dg lancar. Skrg sdh mulai kuliah, dan saya merasa enjoy banget (beda banget dg sekolah), itu bener2 FUN buat saya. Jadi skrg saya udh mulai bisa ngatur waktu, saya masih ada ospek jurusan, tapi kegiatan itu hanya seminggu sekali, dan itu diluar jam kuliah, jadi gk menganggu. Maaf ya teman-teman, jadi mahasiswa baru ternyata seperti ini, ada banyak hal yang sangaaaat berbeda dari jaman sekolah, bedaaaa banget.. :'D yang maba2 pasti juga merasakan hal yg sama, bener gak? :'D wkwkwk. Okelah sekian curcol saya, niat saya bukan curcol ya, :'D saya hnya ingin menjelaskan aja kenapa ini FF updatenya lama banget. Mohon sabar, mohon pengertiannya ya teman-teman.. :D Oh iya, terimakasih juga buat yg udah 'nagih' update FF. Jujur aja saya seneng bgt kalo ada yg nagih, itu berarti masih ada yg inget sama saya. Saya jadi seneng.. :') Terimakasih review-reviewnya, like, ataupun yg mem-follow FF ini, terimakasih banyaak sekali, sampai jumpa di chapter depan... dan maaf ini pendeek.. :'( Semoga sukses selalu... "SARANGHAEYOOO!" :*
SAYA JUGA MAU MENEGASKAN BEBERAPA HAL :D di chapter2 ini memang saya hanya 'sedikit' memunculkan Kibum, saya kasih tau bocoran ide chapter yg akan dtg, akan ada sesuatu antara Eommanya Siwon dan Kibum, dan disitulah Kibum mulai beraksi, jadi sabar yaa, semuanya Cast disini diusahakan dapat porsi yg sama. Okeee.. ? :D TERAKHIR, GET WELL SOOOON, CHO KYUHYUN :')
.
.
.
.
BALASAN REVIEW CHAPTER 9
LittleEvil19 : masih banyak tanda tanya ya? hihihi.. :'D semoga tetep penasaran dan tetep ingat sama FF ini. Maaf kalau update laaaamaaa sekali, hehehe... fighting juga! :D
Rangeralone : Terimakasih yaaa... maaf telaat updatenya... :D :'D
Guest (1) : Ah, biasa aja kok.. terimakasih.. :'D :D
kyukyu95 : iya betul, itu eomma dan appanya siwon udah bercerai. Eommanya siwon membenci Kyuhyun karena sesuatu, tunggu aja, pasti bakalan terungkap di chapter2 berikutnya, semoga gak bosen yaaa... :D :'D
Hyunhua : Tunggu terus yaaa,, jangan bosen.. oke? Wkwkwkw.. maaf updatenya telaaat sekali.. :'D :D
hyunnieyaa11 : ooh jadi saeng mau Kibum jadi baik.. okelaah, bisa diusahakan.. wkwkwkw... :D :D chapter ini maaf updatenya lama ya sayang, maafkan eonni mu ini.. :'D :D
Wonhaesung Love : Terimakasih banyaak chingu... maaf updatenya terlambaat.. :'D :'D
Tyas1013 : ditunggu terus yaa.. maaf kalau updatenya lama... :D :D :'D
angel sparkyu : iyaa, chingu benar sekali.. :'D sudah dilanjuut... maaf telaat :D
kyuhae : haha.. oke.. sudah diupdate, maaf ya lamaa updatenya, semoga tetep ingat sama FF ini.. :D :'D
Songkyurina : haha, ada aja masalahnya.. jahat banget ya saya udah buat Kyuhyun menderita di sini.. :'D :D wah, saya berarti harus panggil eonnie dong? :'D :D nggak tua dong eonnie, Cuma beda tipis kok.. :'D :D terimakasih banyak eonnie.. :D
Hyena : haha,, terimakasih banyak yaa.. :'D okedeh gampang, kapan2 Kibum dibikin sakit deh.. *nyengir* btw, makasih idenya.. kalau ada ide lain bilang aja gk apa2.. saya menerimanya kok.. :'D :D
tary sa : apalagi authornya, pasti lebih jahaat.. haha.. :'D :D :D
Guest (2) : sudaahh di nexxtt.. :'D :D :D
chingu : semoga tetep penasaran ya,, hehehe.. :D :D iya, udah jadi maba sekarang, makasih banyak chingu... :D :D
Lily : waaahh makasih ya chingu.. :'D masih banyak rahasia yang akan terungkap koook.. haha, semoga makin penasaran dan gak bosen sama FF ini yaa.. maaf update telaaat banget.. terimakasih chingu... fighting juga buat chinguu.. :'D :D
Yulielf : benarkah makin seru? :'D :D :D semangat ya, semoga tahun depan SBM nya bisa lancaar.. ) :D
kyunoi : haha, kasian Kyu yaa.. :"D :'D :D
Dy : hayoo, kira-kira gimana yaaa? :D :D :D
phn19 : semoga aja Siwon selalu siap siaga melindungi Kyuhyun yaa.. :'D :D :D :D maaf telat updatenya ya.. :'(
Desviana407 : semoga saja begituuu.. :'D :D terimakasih yaa... amin... maaf update telaaat sekali... :'(
Sparkyubum : waduh okelah, Kyuhyunnya nanti saya buat menderita.. *ketawa jahat* wkwkwk.. :'D :D
kyuchoco13 : Kyuhyun sabar sekali kok :D :D maaf updatenya lama sekali.. :D
jihyunelf : maaf gak bisa update asap yaaa.. :'D :'D
meimeimayra : ya ampun 'maknya Siwon' ngakak saya sumpah.. :'D ditunggu aja endingnya... makasih yaa... :D :D
dewidossantosleite : tunggu terus yaa... maaf gak bisa update cepet.. terimakasih banyak reviewnyaaa... :'D :'D
Punaispky22 : jangan kesel2 :D , Kibum nya masih bersembunyi kali yaaa... *loh*.. makasih reviewnyaaa.. :D :D
jennyhzb : sepertinya benar-benar sudah terjawab yaakk.. hahaha... :D :D ditunggu terus yaaa.. :D :D
Anna505 : haha, maaf ya ini update telat banget parah... semoga tetep ingat sama FF ini.. hehehe.. :D :D
episitimaryam11 : haha,, ya ampun.. :D :D untung ceritanya gk lucu ya, ntar gimana kalau ketawa sendiri? :D oh ya mana oleh2 nya buat sayaa? :D :D btw, makasih yaa.. :'D
maya kyu : bingung di bagian mana ya chingu? Nanti saya bisa jelasin.. :'D flashback emg saya buat meloncat-loncat.. :'D -_- :D
yolyol : penasaran yaah? Ditunggu aja kelanjutannya, jangan bosen dan jangan lupa sama FF abal-abal ini.. wkwkwkw... :D :D terimakasih reviwnyaaa.. :D
dewiangel : haha, semoga sajaa yaa.. :D :D makasih reviewnyaa.. :'D :'D
Nurani506 : aduuh, maaf yaa... janji deh besok Kibumnya banyaaakkk... *loh* :D :D
sparkyuNee13 : Kibum nyaa,, ditunggu aja ya, sudah saya beri penjelasan di atas.. :D :D okelah, momen kihyun.. maaf updatenya tidak secepat yg diharapkaaann.. maaf sekaliii... :'(
Apriliaa765 : waduh bahasanya kagak nahaan.. 'berkolaborasi', hehe, tapi mungkin aja loohh.. :'D tunggu terus yaa.. makasih reviewnya.. :'D
YJSexolf : omoo jangan nangis saeng, eonnie gk punya balon.. :'D iya makasih yaa.. amin,, pasti bisa, yang penting do'a dan usaha, karena hasil tergantung pada proses saeng.. semangat yaa.. :D :D :D
lydiasimatupang2301 : aduuh ada anak papinya lagi... :'D :D sudah next, maaf ya kalau telaaat.. :'( :'(
Awaelfkyu13 : jangan deg2 an looh.. :'D haha, iya semoga permohonan mu dikabulkan yaa.. :D makasih ucapannya... maaf kalau update nya telaat ya.. :'(
readlight : kalau bikin Kyu sakit mahh pasti.. *jahat* :D :D maaf ch ini updatenya lamaaa yaa.. :'(
AtikahSparkyu : astagaa, sedihnya nyampek ya? :D :D jujur aja pas bikin part itu aku sampai meneteskan air mata.. wkwkwk.. makasih ucapannya, aku di Univ. Negeri Malang, kamu di univ mana? :D :D :D
cinya : hai cinya, iya itu beneran akunya aja yg gak nemuu.. :D :D makasih ya udah mau nagih FF nya, sering2 nagih juga gk apa apa kok, saya malah jadi semangat utk menyelesaikan FF nya... maaf ya gk bisa update cepet.. :'( :D :D
Cho248 : oke saeng, gomawoo, tapi maaf ya updatenya lamaa... :'(
MissBabyKyu : waduuh disiksa.. :D :D semoga makin penasaran ya kak.. hihihihi... makasih banyak buat ucapannya... :D :D :D bahagianya bener2 bahagia bangeet.. sukses selalu kakak.. semangat,,, fighting! :* Maaf updatenya telat banget kak... :'( :'(
ladyelf11 : terimakasih yaa.. :D :D tunggu terus ya, jangan bosen2 okeee... :'D gomawoo.. :D
HyukRin67 : gomawo chinguu.. :D :D ditunggu terus kelanjutannya yaa. Semoga gak bosen sama FF abal-abal ini... aduuh, maaf kalo ch ini updatenya lamaa sekali... :'(
.
.
.
