Crazy for Dash Girl?
Author: Grace Jung a.k.a Jung Eun Hye
Main Cast:
Kim Jaejoong
Jung Yunho
Genre: Romance, Drama
Warning: Genderswitch! abal, ga jelas, dll.
DON'T LIKE? DON'T READ THEN!
LIKE? ENJOY READING^^
.
.
.
Perlahan, dia beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju ranjang king size di tengah ruangan. Dia merebahkan tubuhnya, membiarkan satu lengan kekarnya menjadi sandaran kepalanya, lalu menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang jauh menerawang.
Tak lama kemudian tangannya bergerak mengambil sebuah pigura foto di meja nakas. Ditatapnya foto itu lekat-lekat. Cantik. Sungguh cantik. Sampai kapanpun ia tak akan pernah berhenti memuja keindahan itu.
Dia mengelus foto itu penuh sayang, lalu tersenyum lembut.
"Aku akan pulang sebentar lagi. Tunggu aku, Jae..."
.
.
CHAPTER 7
.
.
Jung Yunho melepas jas hitam yang melekat di tubuhnya, lalu melemparnya asal-asalan. Dia terduduk di pinggiran ranjang sambil melonggarkan ikatan dasinya kasar.
"Aigo, ini benar-benar gila..." desisnya. Dia mengusap wajahnya lelah.
Saat ini Yunho tengah berada di kamarnya yang ada di Hotel HC, hotel milik keluarganya. Dia baru saja kembali dari konferensi pers yang diadakan di salah satu lantai di gedung ini. Masih segar diingatannya betapa antusiasnya para wartawan yang membludak di ruang konferensi ketika dia mengumumkan pertunangannya dengan Kim Jaejoong. Dia dan Jaejoong bahkan berbohong mengatakan bahwa mereka sudah menjalin hubungan selama 1 tahun.
Yunho beranjak dari ranjangnya dan berjalan menuju kulkas. Dia butuh air untuk mendinginkan kepalanya. Dia mengambil salah satu bir kalengan lalu meneguknya dengan tak sabaran.
Kim Jaejoong. Nama itu memenuhi pikirannya sekarang. Apakah pertunangan ini adalah jalan yang benar? Lalu, bagaimana dengan perasaannya pada yeoja itu?
Cklek.
Yunho menoleh saat mendengar suara pintu terbuka. Dilihatnya seorang yeoja dengan dress hitamnya yang ketat dipadu mantel bulu yang tidak terlalu tebal memasuki kamarnya. Yeoja itu terdiam sejenak di depan ranjang sebelum mendudukan dirinya di sana sambil menyilangkan kaki jenjangnya.
Kim Jaejoong.
Yunho tersenyum kecil. Baru saja dipikirkan orangnya sudah muncul. Masih dengan kaleng bir di tangannya, Yunho berjalan menghampiri calon tunangannya itu. Dia berdiri tepat di hadapan Jaejoong yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Apa yang membawamu kemari?"
Jaejoong mengangkat bahunya. "Apa aku tidak boleh menemui kekasihku sendiri?"
Yunho mengernyit sebelum kemudian mendengus menahan tawa. Astaga, yeoja ini benar-benar tidak bisa ditebak. Dia memutuskan untuk mengikuti permainannya.
"Begitukah? Tak ada maksud lain?" Yunho membuang kaleng birnya lalu mendekat. Dia sedikit membungkuk dan memainkan rambut cokelat panjang Jaejoong yang tergerai dengan tangannya sambil sesekali menciumnya. Hmm, halus dan wangi.
Sret.
Jaejoong menarik dasi Yunho, membuat wajah keduanya kini hanya berjarak beberapa cm. Yunho terpaku sejenak menatap keindahan wajah Jaejoong. Matanya yang bening dan besar, hidungnya yang runcing, bibir cherry tipisnya yang menggoda, serta kulit putih yang sepertinya sangat halus bila disentuh.
Keduanya bertatapan. Sekali lagi Yunho merasa seakan dirinya tersedot ke dalam manik hitam pekat itu. Sesuatu dalam mata Jaejoong membuatnya berdebar-debar, membuatnya sulit bernafas. Jaejoong makin mendekatkan wajahnya, membuat Yunho tanpa sadar memejamkan matanya saat dirasannya sebuah deru nafas hangat menyapu wajahnya lembut.
"Kau tidak tahu? Apa lagi yang akan dilakukan oleh seorang wanita saat memasuki kamar hotel kekasihnya, hm?"
Yunho membuka kedua matanya. Rahangnya mengeras seketika. Darahnya berdesir ketika bisikan yang disertai desahan itu menggelitik telinganya, belum lagi ketika di bawah sana tangan Jaejoong membelai dada bidangnya dengan gerakan seduktif. Yunho mencengkram erat kedua bahu Jaejoong, lalu menghempaskan tubuh yeoja itu ke atas ranjang dan menindihnya.
"Jangan main-main, Kim Jaejoong," desis Yunho berbahaya. Tak tahukah yeoja itu apa yang baru saja dilakukannya?
Jaejoong melingkarkan tangannya pada leher Yunho, lalu menariknya hingga hidung mereka bersentuhan. "Menurutmu?"
Tanpa aba-aba, Yunho langsung menyerang cherry lips yang sedari tadi menggodanya itu. Menyesapnya, melumatnya, menggigitnya, dan terakhir memasukkan lidahnya saat mulut itu terbuka. Jaejoong membalasnya tak kalah agresif, membuat keduanya tak ayal terlibat perang lidah. Seakan tak mau kalah, tangan Yunho pun ikut bergerak meremas buah dada Jaejoong, membuat yeoja itu mengerang lemah di dalam ciuman mereka.
Suara decakan dan lenguhan memenuhi kamar itu lama, sebelum akhirnya keduanya melepaskan tautan bibir mereka karena kehabisan oksigen. Yunho menatap Jaejoong yang terengah dan tampak berantakan di bawahnya. Demi apa, yeoja ini sungguh terlihat sexy.
Merasa belum puas, Yunho kembali mendaratkan bibirnya pada bibir Jaejoong dan menciumnya panas. Perlahan ciuman itupun menurun ke daerah leher setelah sebelumnya ia menyibak kasar rambut yang menutupinya. Dia menjilati leher itu perlahan seraya menghirup wangi vanilla yang menguar. Wangi yang begitu memabukkan.
Yunho menghisap leher Jaejoong kuat sambil sesekali menggigitnya, membuat yeoja itu mendesah dan meremas rambut brunette miliknya. Yunho melakukan hal yang sama di beberapa titik sebelum tiba-tiba Jaejoong mendorongnya. Yunho menatapnya tak mengerti saat Jaejoong bangkit dan merapikan penampilannya yang berantakan.
"Aku bosan. Temani aku jalan-jalan."
Jaejoong melangkah pergi, meninggalkan Yunho yang masih duduk terdiam mencerna apa yang yang baru saja terjadi. Sesaat kemudian dia mengusap wajahnya seraya tertawa. "Astaga," gumamnya di sela tawanya. Dia menyentuh bibir tebalnya. "Kim Jaejoong, you're really something..."
Yunho merapikan baju dan rambutnya lalu memakai kembali jas hitamnya sebelum menyusul Jaejoong keluar.
.
..GJ..
.
Jaejoong terdiam seraya memandangi suasana malam Seoul yang terlihat dari balik kaca mobil. Sesekali matanya melirik Yunho yang tengah menyetir di sebelahnya. Namja itu terlihat tenang, berbeda dengan dirinya yang sejak tadi terus merutuk dalam hati –menyesali apa yang telah dilakukannya.
Sungguh, niat awalnya masuk ke kamar Yunho adalah murni untuk meminta namja itu agar menemaninya jalan-jalan keliling Seoul, mengingat sudah setahun dia meninggalkan Korea. Tapi, siapa sangka dirinya mendadak berubah menjadi agresif dan malah menggoda calon tunangannya itu?
Dan lagi- oh, god... he's really a good kisser.
Wajah Jaejoong memanas mengingat betapa liarnya Yunho mencumbunya beberapa saat yang lalu. Jaejoong tak mau mengakuinya, tapi jantungnya tak bisa berhenti berdegup kencang setiap kali ia merasakan bibir basah itu menyentuhnya. Ia... menyukainya.
Kenyataan ini membuatnya takut. Takut jika tanpa sadar ia telah membuka hatinya untuk Yunho dan membuat peluang kembalinya luka yang menganga lebar bertambah besar. Jaejoong memejamkan matanya, menghela nafas, lalu menggelengkan kepalanya pelan. Tidak... Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak jatuh cinta lagi...
"Waeyo?"
Jaejoong tersentak. Dia membuka matanya dan menoleh, mendapati Yunho yang tengah menatapnya ingin tahu dan eum... cemas?
"Gwenchana?" tanya Yunho lagi.
Jaejoong mengangguk, sedikit salah tingkah. Sepertinya namja itu melihatnya yang tengah geleng-geleng sendiri. Aish. "G-gwenchana... ah, aku sedikit lapar, bisakah kita makan dulu?" katanya mengalihkan pembicaraan.
Yunho tersenyum sebelum kembali menghadap ke depan. "Tentu."
Jaejoong terdiam menatap tempat di depannya. Dia mengerjap-ngerjapkan bulu mata lentiknya berulang kali, seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia lalu menoleh pada Yunho yang tengah tersenyum. Dengan enggan dia membuka mulutnya, "Ki-kita.. makan.. di sini?"
Yunho mengangguk.
Jaejoong menggigit bibirnya. Dia lalu kembali menatap tempat itu, kali ini dengan tatapan iritasi. Bagaimana tidak? Pasalnya tempat makan yang dimaksud Yunho adalah sebuah kedai kecil yang sama sekali tidak menarik dan tidak meyakinkan. Tanpa papan nama, bahkan cat luarnya pun sudah kusam dan mengelupas.
Demi tuhan, Jaejoong bahkan tidak tahu di mana mereka berada sekarang. Dilihat dari jalanan yang kecil dan sepi, dia hanya bisa menyimpulkan bahwa tempat ini jauh dari jalan utama Seoul.
Aish, Jaejoong mendesis kesal. Bagaimana bisa Yunho membawanya ke tempat seperti ini? Dia menyilangkan tangan di depan dadanya, lalu melirik Yunho dengan tatapan sinisnya. "Are you kidding me? Aku, makan di tempat seperti ini? Shiro!"
Jaejoong berbalik, bermaksud untuk kembali masuk ke dalam mobil ketika Yunho dengan cepat menahan lengannya. "Kau tidak akan ke mana-mana, Kim Jaejoong."
Detik berikutnya Jaejoong memekik saat tiba-tiba Yunho menggendongnya ala bridal style dan membawanya masuk kedai. "Ya! Jung Yunhooooo! Turunkan aku, paboyaaa!"
Yunho mengabaikannya. Dia menurunkan Jaejoong dan mendudukannya di lantai kayu yang hangat sesampainya mereka di dalam –kedai itu tidak memakai kursi. Jaejoong menatap Yunho kesal sementara namja itu terlihat cuek dan ikut duduk di seberang meja.
"Eomma, bukankah mereka ahjussi dan ahjumma yang waktu itu berciuman di televisi?"
Jaejoong tersentak. Dia sontak menoleh ke sumber suara dan melihat seorang anak kecil tengah menunjuknya, sementara di belakangnya sang ibu buru-buru menutup mulut anak itu sambil menasehatinya dengan suara lirih. "Ssshh.. Kau tidak boleh bicara begitu, tidak sopan."
Jaejoong memalingkan wajahnya yang memanas saat menyadari bukan hanya anak itu yang tengah memperhatikan mereka, melainkan seluruh pengunjung kedai. Bahkan beberapa dari mereka tak segan mengarahkan ponsel ke arah keduanya. Berbeda dengan Jaejoong, Yunho justru melempar senyum ramah pada mereka yang tengah berbisik-bisik sambil memandangnya penasaran.
"Yunho? Kaukah itu?"
"Ah, ahjumma!"
Jaejoong mendongak, menatap seorang yeoja paruh baya yang menghampiri mereka dengan wajah antusias.
"Aigo, sudah berapa minggu sejak terakhir kalinya kau ke sini, huh? Apa kau begitu sibuk?" tanya yeoja itu. Yunho hanya tersenyum.
Perhatian yeoja itu lalu beralih pada Jaejoong, matanya langsung berbinar-binar. "Ah, apa ini kekasihmu? Aku melihat berita tentang rencana pertunangan kalian di televisi. Chukae, ne! Aigo, kau terlihat lebih cantik jika dilihat langsung, agasshi. Dan kau Yunho, kau sungguh beruntung memilikinya."
"Gomawo, ahjumma," ucap Yunho tulus, sementara Jaejoong hanya tersenyum tipis sambil menganggukan kepalanya sekilas. Setelah menyebutkan pesanan mereka, yeoja itu kembali ke dapur. "Kedai ini adalah kedai langgananku sewaktu aku SMA," jelas Yunho ketika menangkap wajah bingung Jaejoong.
"Oh..."
Beberapa saat kemudian pesanan mereka tiba. Lagi, Jaejoong menatap ragu makanan di bawahnya yang sudah siap untuk disantap. Yunho yang menyadari itu mendongak dan menatapnya. "Kenapa?"
Jaejoong balas menatapnya. "Ini... apa ini nasi goreng?" tanyanya polos.
Yunho cengo untuk beberapa saat, lalu dengan setengah bercanda dia berujar, "Jangan bilang kau belum pernah makan nasi goreng?"
Jaejoong menggeleng polos, membuat Yunho mau tak mau membuka mulutnya tak percaya. Padahal dia tidak serius dengan ucapannya barusan."Kau tak pernah memakannya? Sungguh? Kalau begitu kau harus mencoba ini, nasi goreng kimchi di sini adalah yang terbaik."
"Kau yakin? Apa ini... higenis?"
Yunho tersenyum. "Tentu saja. Cobalah."
Walau ragu, Jaejoong akhirnya memasukkan satu suapan nasi goreng itu ke mulutnya dan mengunyahnya. Matanya mengerjap. Yunho benar. Ini enak. Dia kembali mengambil suapan keduanya.
"Bagaimana? Enak bukan?"
Jaejoong berdehem. "Lumayan," ujarnya dengan nada angkuh seperti biasa, membuat Yunho tersenyum kecil.
"Ah ya, ngomong-ngomong berapa usiamu?" tanya Yunho tiba-tiba.
Jaejoong terdiam sejenak, sebelum menjawab dengan singkat. "25."
"Benarkah? Kalau begitu bukankah kau seharusnya memanggilku oppa?" Yunho menaikkan alisnya. "Ayo panggil aku oppa~"
Jaejoong mendelik. "In your dream, ahjussi!" sahutnya ketus.
Bukannya marah, Yunho justru tertawa, membuat Jaejoong menatapnya aneh. Ada apa dengannya? Kenapa malah... ah, Jaejoong menunduk, menyembunyikan wajahnya yang merona. Kenapa dia begitu tampan bahkan saat tertawa?
.
.
Yunho menatap Jaejoong yang terlelap di jok sebelahnya. Semalaman mengelilingi Seoul rupanya membuat yeoja itu lelah hingga tertidur di perjalanan. Yunho menarik sudut bibirnya mengingat apa saja yang baru mereka lakukan. Dari makan di kedai, mereka melanjutkannya dengan makan es krim, mengunjungi Namsan Tower, sampai pergi ke sungai Han untuk sekedar istirahat dan mengobrol.
Yunho akui gadis itu memang merepotkan, namun dia jugalah yang tak bisa membuatnya berhenti tersenyum sejak tadi.
Yunho mengeluarkan Jaejoong dari mobil, lalu membopongnya memasuki kediaman keluarga Kim. "Biar aku saja, Kyuhyun-ssi," ucapnya cepat saat melihat pengawal pribadi Jaejoong yang baru-baru ini dikenalinya dengan nama Kyuhyun menghampiri mereka dengan tergesa.
Kyuhyun mengangguk lalu membawa Yunho menuju kamar Jaejoong. Pemandangan itupun tak luput dari para maid yang tengah bekerja di dalam mansion. Mereka segera berkumpul dan memandang punggung Yunho dengan sinar mata penuh kekaguman.
"Kalian lihat pria itu?"
"Bukankah itu Jung Yunho?"
"Omo, dia jauh lebih tampan dari yang di televisi!"
"Keren sekali..."
"Betapa beruntungnya nona kita."
"Kau benar."
Sesampainya di kamar yang didominasi dengan warna cokelat dan merah, Yunho merebahkan tubuh Jaejoong di atas ranjang, melepaskan mantel bulunya perlahan, lalu kemudian menyelimutinya. Dia memandang Jaejoong lama sampai mata musangnya menangkap bercak-bercak merah pada leher putih gadis itu. Dia terkekeh mengingat hasil karyanya beberapa jam yang lalu.
Entah mendapat dorongan darimana, Yunho membungkuk, mengusap kissmark-kissmark itu lembut, kemudian mengecup kening Jaejoong. "Jaljayo..."
.
..GJ..
.
Jaejoong yang baru tiba di kediamannya setelah satu minggu menghabiskan waktu di pulau Bali bersama Junsu dan Kibum hanya terdiam terpaku di depan pintu. Bingung. Itulah yang dirasakannya saat melihat para maid dan butler rumahnya berseliweran kesana kemari mendekorasi hall utama mansion. Seperti akan ada acara besar malam ini.
"Hey, kau! Ke sini." Jaejoong mencegat salah satu maid yang tengah membawa rangkaian bunga warna-warni. Maid itu menoleh dan terkesiap melihat Jaejoong. Dengan cepat dia menghampirinya.
"No-nona muda, anda sudah pulang," sapanya tergagap sambil membungkuk hormat.
"Ada apa ini? Apa yang sedang kalian lakukan? Apa di sini akan digelar sebuah acara?" tanya Jaejoong beruntun. Dia benar-benar penasaran. Apa saja yang telah ia lewatkan selama seminggu ini?
Maid itu memiringkan kepalanya, tampak bingung. "Nona tidak tahu? Kami sedang mempersiapkan pesta pertunangan nona yang akan diadakan nanti malam."
"Pertunangan?" Jaejoong mengernyit sebelum akhirnya dia melotot. "MWOYA?!"
Sedetik kemudian terdengar suara pekikan yang membahana di kediaman keluarga Kim. "HARABOJIIIIIIIIIIIIIII!"
.
..GJ..
.
Gimpo International Airport
Seorang namja tampan bertubuh tinggi tegap berjalan santai melewati pintu kedatangan. Penampilannya yang cukup stylish ditambah sebuah sunglasses yang menghiasi wajahnya membuat para yeoja yang berlalu lalang menatapnya tak berkedip. Beberapa yang mengenalinya bahkan mulai menjerit tertahan dan tak segan untuk memanggil namanya.
Namja itu hanya tersenyum dan membalas mereka dengan lambaian singkat. Diapun dengan ramah membubuhkan tanda tangannya pada gerombolan kaum hawa yang menghampirinya. Setelah terbebas dari mereka dia kembali melanjutkan langkahnya. Tangannya yang tak memegang koper bergerak mencari ponsel di saku celananya. Dengan segera dia mengaktifkan benda itu dan mengecek pesan masuk.
Dia mendesah saat membaca salah satu isi pesan yang masuk. Dengan lemas dia mendial nomor si pengirim.
"Yeobos-"
"Bisakah kau jemput aku sekarang dan tinggalkan pesta pertunangan bodoh itu?" tembaknya langsung.
"Aigo... Kau sudah sampai?"
"Seperti yang kau dengar," ucapnya dingin.
"Hmm, bagaimana ya... Wanita cantik ada di mana-mana, aku tidak yakin bisa meninggalkan mereka."
"Hyung~" Kali ini dia merengek.
"Hahaha... Arraseo. Tapi tidakkah kau ingin menebak aku sedang berada di pesta siapa sekarang?"
Geez, namja itu mendesis dalam hati. Tubuh dan otaknya sudah terlalu lelah untuk berpikir apalagi untuk melayani pertanyaan tak penting macam itu. Well, siapapun yang bertunangan hari ini bukanlah urusannya.
"Aku tidak tahu dan tidak ingin tahu, hyung. Yang aku inginkan sekarang adalah kau cepat datang kemari sehingga aku bisa cepat pulang dan tidur di kasur empukku."
"Wow, wow... easy man. Aku yakin kau akan kaget jika mengetahuinya. Dia adalah partner skandalmu dua tahun yang lalu."
Partner? Skandal? Oke, otaknya benar-benar sudah tak bisa berpikir jernih sekarang. Dia bahkan tak ingat jika dirinya pernah terlibat skandal.
"Sayang sekali dia akan menikah dengan orang lain. Kukira kalian berdua cukup dekat. Ah ya, sebenarnya kau juga menerima undangannya, tapi berhubung kau tak di sini jadi-"
"Putri tunggal BigEast Group melaksanakan pertunangannya dengan putra kedua HC Group. Dilihat dari sisi manapun, pertunangan mereka ini benar-benar menarik perhatian banyak orang setelah beredarnya skandal keduanya yang cukup menghebohkan beberapa waktu lalu."
Namja itu memperlambat langkahnya. Dia menoleh ke arah sebuah layar LCD yang tengah menjadi pusat perhatian sebagian orang di bandara. Matanya menyipit.
"Sepertinya mereka akan segera melaksanakan acara utama, yaitu tukar cincin. Astaga, mereka benar-benar pasangan yang serasi."
"-Hey! Kau masih di sana?"
Namja itu tak lagi mendengar kelanjutan kalimat di seberang sana. Suara di sekelilingnya mendadak lenyap, menyisakan keheningan yang membuatnya membeku. Bahkan bunyi ponsel yang terlepas dari genggamannya dan terjatuh ke lantai sama sekali tak mengusiknya.
Kedua mata itu menatap nanar layar datar di depannya. Entah seperti apa raut wajahnya saat ini. Shock, marah, kecewa, sedih, semuanya berampur menjadi satu saat menyaksikan wanita yang ia cintai tengah bertukar cincin dengan pria lain sebelum kemudian dilanjutkan dengan adegan ciuman keduanya.
Tubuhnya mendadak lemas.
'Apa memang ini takdirku, Jae? Menjadi pengagum rahasiamu?'
.
.
.
To be continue...
Mian lama... :(
Mkasih buat yg udah baca dan review di chap kemarin^^, semoga crita.a ga makin gaje ya...
