Crazy for Dash Girl?
Author: Grace Jung a.k.a Jung Eun Hye
Main Cast:
Kim Jaejoong
Jung Yunho
Support Cast:
Kim Junsu
Kim Kibum
Choi Siwon
Lee Donghae
Genre: Romance, Drama
Warning: Genderswitch! abal, ga jelas, dll.
DON'T LIKE? DON'T READ THEN!
LIKE? ENJOY READING^^
.
.
.
Kedua mata itu menatap nanar layar datar di depannya. Entah seperti apa raut wajahnya saat ini. Shock, marah, kecewa, sedih, semuanya berampur menjadi satu saat menyaksikan wanita yang ia cintai tengah bertukar cincin dengan pria lain sebelum kemudian dilanjutkan dengan adegan ciuman keduanya.
Tubuhnya mendadak lemas.
'Apa memang ini takdirku, Jae? Menjadi pengagum rahasiamu?'
.
.
CHAPTER 8
.
.
"Chukae!"
Tiga gelas itu saling beradu hingga menimbulkan suara dentingan. Junsu menatap Jaejoong dengan wajah cerianya, berbeda dengan Kibum yang tampak calm. Jaejoong? Well, yeoja itu masih setia memasang tampang angkuhnya, meski dalam hati sebenarnya dia tengah merasa gelisah.
"Hihi... aku tidak percaya kau akhirnya bertunangan! Aku sempat kaget melihat undangan darimu setibanya aku di rumah tadi siang," celoteh Junsu.
'Kau pikir aku tidak,' batin Jaejoong. "Pertunangan ini hanya formalitas. Toh, hubungan kami tidak akan berlanjut kemana-mana," jawabnya santai. Dia menyesap wine miliknya sementara matanya bergerak liar menatap kerumunan orang yang tengah berpesta di depannya.
"Yeah, berdoa saja," sahut Kibum.
Acara tukar cincin baru saja berakhir 10 menit yang lalu dan sekarang Jaejoong serta Yunho tengah menyapa tamu undangan. Well, sebenarnya hanya Yunho mengingat Jaejoong malas melakukan hal yang menurutnya tidak penting itu.
Grep.
Jaejoong tersentak saat tiba-tiba sebuah lengan melingkari pinggangnya dan aroma citrus terhirup oleh indra penciumannya. Jung Yunho.
"Kau di sini." Suara bass itu menyapa lembut gendang telinganya, membuat Jaejoong merinding sesaat. Merasa risih, Jaejoong berusaha melepas tangan yang kini tengah melekat di pinggang rampingnya itu, namun tak berhasil karena Yunho justru makin mengeratkannya.
"Ah, Yunho-ssi." Junsu yang melihat Yunho langsung menyapanya ramah sementara Kibum hanya menganggukkan kepalanya kaku. Sepertinya yeoja itu masih merasa enggan kepada Yunho mengingat dia pernah bersikap tak sopan pada namja itu sebelumnya.
Yunho hanya tersenyum membalas mereka. "Maaf, tapi boleh aku meminjam Jaejoong sebentar? Kami masih harus menyapa tamu yang lain."
Jaejoong yang mendengarnya hendak protes. "Mwo? Tapi-"
"Tentu. Silahkan, silahkan... Dia milikmu, Yunho-ssi."
Mata Jaejoong membelalak. Ingin rasanya dia menyumpal mulut lumba-lumba Junsu dengan buah Apel yang berada tak jauh darinya. Apa yang baru saja yeoja itu bilang? 'Milikmu'? Apa maksudnya dengan 'milikmu'? Kim Jaejoong tidak akan pernah jadi milik siapapun.
Belum sempat Jaejoong menyuarakan pikirannya, Yunho sudah membawanya pergi. Sekali lagi Jaejoong berusaha melepaskan dirinya. "Apa yang kau lakukan, huh? Lepaskan tanganmu dariku!" kesalnya. Tapi bisikkan Yunho selanjutnya membuatnya bungkam.
"Perhatikan sekelilingmu, Kim Jaejoong. Semua mata melihat kita."
Jaejoong merengut. Akhirnya sepanjang sisa pesta itu dia hanya diam di samping Yunho sambil sesekali mengeluarkan senyum dan tawa palsunya. Tapi tetap, tanpa sadar kedua matanya kembali dan selalu menjelajah seisi hall dengan gelisah.
"Gwenchana?" tanya Yunho khawatir saat menyadari raut wajah Jaejoong yang berubah disertai sinar matanya yang meredup.
Jaejoong tampak linglung sebelum akhirnya dia mendongak, lalu tersenyum tipis. "Gwenchana." Dia kembali menghadap depan dengan tatapan kosong. 'Kau benar-benar tak datang...'
.
..GJ..
.
Dua hari berlalu sejak pesta pertunangan Jaejoong dan Yunho dilangsungkan dan selama itu pulalah Jaejoong belum pernah bertemu dengan Yunho lagi. Well, dia tidak mempermasalahkannya, meski harus diakui jauh di lubuk hatinya dia ingin melihat namja bermata musang itu.
Tok, tok, tok.
Jaejoong yang tengah mengeringkan rambut dengan malas menyahut. "Ya?"
"Ada yang ingin bertemu dengan anda, agasshi," ujar suara di balik pintu. Jaejoong mengernyit. Siapa yang bertamu di pagi-pagi begini, eoh?
"Nugu?"
"Dia bilang dia adalah teman anda."
Teman? Ck. Mengganggu saja. "Suruh dia tunggu di depan," ujarnya cuek, lalu kembali fokus pada hairdryer-nya. Biar saja menunggu lama, salah siapa datang pagi-pagi? Dia bahkan masih mengenakan bathrobedan sama sekali belum berdandan.
Cklek. Terdengar suara pintu terbuka, diikuti kemudian suara langkah kaki.
"Ya! Apa kau tuli? Kubilang suruh dia tunggu di..." Jaejoong yang awalnya hendak mendamprat si pelayan langsung diam terpaku begitu menatap sesosok namja yang kini sudah berdiri di hadapannya. Mata besarnya membulat kaget.
"O-oppa?"
Namja itu tersenyum, lalu merentangkan kedua tangannya lebar. "Miss me?"
Jaejoong masih menatapnya tak berkedip. Dia mendecih seraya tersenyum kecil sebelum akhirnya berdiri dari ranjangnya dan memeluk namja itu. "Ish, kapan kau pulang, huh? Kenapa tidak memberitahuku? Aku kan bisa menjemputmu di bandara."
Namja itu terkekeh pelan. Dia melepaskan pelukan Jaejoong, lalu menatapnya lekat. "Bukankah harusnya aku yang bilang seperti itu? Kenapa kau tidak memberitahuku jika kau akan bertunangan? Aku bahkan mengetahuinya dari televisi."
Jaejoong mengerjap kemudian menunduk. "Mian... Banyak hal terjadi, aku tidak sempat menghubungimu," ucapnya penuh sesal. Detik berikutnya dia memejamkan matanya saat tangan besar itu mengusap rambut setengah basahnya lembut.
"Arraseo. Tapi, aku tidak mengerti. Kenapa Jung Yunho? Bagaimana dengan Donghae?"
Donghae? Ah, mendengar nama itu selalu membuatnya tidak bisa bernafas dengan baik. Nafasnya akan tercekat, dan dadanya akan berdenyut tak nyaman. Sama seperti sekarang. Kenapa, kenapa dia masih merasa sensitif dengan semua hal yang berkaitan mantan kekasihnya itu? Bahkan tanpa sadar dia mengharapkan kedatangan namja itu di pesta pertunangannya dan hanya bisa menggigit bibirnya kecewa saat tak mendapati sosok itu di manapun.
"Kami sudah putus." Jaejoong berusaha menjaga suaranya agar tetap tenang. "Dia memutuskanku."
"Jae..."
"Gwenchana."
.
..GJ..
.
Hari sudah malam dan jam kerja sudah berakhir. Yunho merapikan mejanya sebelum keluar dari ruangannya dan berjalan menuju lift. Dia menyandarkan tubuh lelahnya pada dinding lift seraya mendesah. Proyek baru yang ditangani langsung olehnya kali ini benar-benar menyita waktu dan tenaganya. Dia bahkan harus mengurung diri di dalam kantor sepanjang hari dan bolak-balik terbang dari Seoul ke Jeju untuk melakukan pengawasan.
Sejauh ini dia hanya mendapat satu hari libur, itupun pada hari pertunangannya.
Ah, ngomong-ngomong soal pertunangan, sudah dua hari berlalu dan dia sama sekali belum bertemu tunangannya itu. Bagaimana kabar Jaejoong sekarang? Baik-baik sajakah? Yunho masih ingat jelas ekspresi muramyeoja itu serta matanya yang menampakkan luka terakhir kali mereka bertemu di pesta, yang entah kenapa membuatnya merasa sesak.
Berbagai pertanyaan mulai memenuhi benaknya sejak itu. Ada apa sebenarnya? Kenapa begitu tiba-tiba? Ke mana perginya wajah angkuh dan percaya diri itu? Kenapa bisa memasang raut wajah yang ia pikir tak akan pernah dilihatnya dari sosok Kim Jaejoong?
Dan kagi... Aish, kenapa dia memikirkannya? Yunho menggeleng-gelengkan kepalanya. 'Heck, it's none of your business, Jung!' batinnya dengan nada frustasi. Sepertinya ada yang tak beres dengan otaknya.
Sesampainya dia di gedung apartemennya, dia segera memasuki lift menuju lantai tempat apartemennya berada. Dia menghentikan langkahnya dan tercenung sesaat ketika dirinya melewati apartemen Donghae. Ditatapnya pintu itu lekat-lekat.
Otaknya berputar kembali ke saat ia pertama kali melihat Jaejoong. Yeoja itu berdiri di sana dengan penampilannya yang berantakan, menggedor pintu dan mengumpat seperti orang gila, lalu terakhir melemparinya dengan hoodie. Ck, Benar-benar kesan pertama yang buruk. Yunho tersenyum kecil mengingatnya. Tapi seketika senyum itu memudar ketika ia menyadari suatu hal. Kenapa Jaejoong bisa berada di tempat Donghae?
Yunho memang tak pernah bertanya pada Jaejoong karena menurutnya itu bukan urusannya dan dia juga tak tertarik untuk mengetahuinya. Tapi untuk kali ini? Entahlah, Yunho tak bisa memungkiri kenyataan bahwa sekarang dia mulai penasaran.
Pintu terbuka, membuat Yunho tersentak dan refleks memundurkan langkahnya. Di sana berdiri Donghae yang mengenakan celana training putih, singlet hitam, serta sebuah jaket. Kedua tangannya memegang dua kantong plastik besar. Sepertinya namja itu hendak membuang sampah di basement bawah.
"Yun?" ucapnya begitu melihat Yunho berdiri tak jauh dari pintunya.
Yunho hanya mengangguk sekilas, sedikit kikuk. "Hyung," sapanya.
"Kau baru pulang?"
"Begitulah."
Donghae menatapnya sejenak, kemudian tersenyum. "Ah ya, aku lupa. Selamat atas pertunanganmu. Maaf baru mengucapkannya sekarang, aku tidak melihatmu sejak kemarin."
"Ah, ne.. gomawo."
"Kalau begitu aku duluan."
Yunho memandang punggung Donghae yang menjauh dengan bimbang. Dan sebelum dia menyadari apa yang dia lakukan, mulutnya sudah berseru, "Hyung!"
Donghae berhenti, lalu berbalik. "Ya?"
Yunho menatap Donghae ragu. Haruskah dia bertanya? Dia tahu ini bukan urusannya, tapi dia juga tidak bisa menahan rasa ingin tahunya dan- hey! Bukankah sekarang Kim Jaejoong adalah tunangannya? Kalau begitu dia berhak untuk mengetahui apa yang terjadi diantara mereka, kan?
Yunho mengambil nafas dalam, lalu memantapkan hatinya dan berjalan mendekati namja yang satu tahun lebih tua darinya itu. "Ada yang ingin aku tanyakan padamu."
"Apa itu?"
"Apa hubunganmu dengan Kim Jaejoong?" tanya Yunho to the point.
Donghae mengernyit tak mengerti. "Maksudmu?"
"Kau... dan Kim Jaejoong... apa hubungan kalian? Aku melihatnya saat dia berteriak di depan pintu apartemenmu." Yunho mengulang pertanyaannya dengan lebih hati-hati. Tanpa sadar dia mencengkram erat tas kerjanya. Jantungnya berdebar menanti jawaban yang akan keluar dari mulut Donghae.
Donghae tampak tercenung. Dia hanya terdiam menatap Yunho.
"Hyung?"
"Ah..." Donghae tersadar. Dia memalingkan wajahnya, mengusap lehernya yang tak gatal, lalu kembali menatap Yunho sambil tersenyum. "Mau minum kopi?"
.
.
"Kim Jaejoong adalah mantan kekasihku."
Tak ada satu katapun yang keluar dari mulut Yunho. Donghae melanjutkan dengan mata menerawang, "Aku masih ingat pertama kali aku bertemu dengannya, musim semi 2 tahun lalu. Saat itu aku sedang menghadiri pesta ulangtahun temanku. Di sanalah aku melihatnya, tampak berkilau diantara yang lain. Kami jatuh cinta pada pandangan pertama dan memutuskan untuk berpacaran setelah satu bulan saling mengenal."
Donghae menghela nafas. "Tapi menjalin hubungan dengannya ternyata tak semudah yang kukira. Kakeknya menentang kami. Aku tidak tahu kenapa, hanya saja kurasa dia tidak menyukaiku."
Yunho masih menatap Donghae dalam diam, memperhatikannya yang kini tengah memainkan cangkir kopi sambil tersenyum kecil.
"Tapi memang pada dasarnya Jaejoong keras kepala, dia tidak mau mendengarkan kakeknya dan tetap berhubungan denganku. Pada akhirnya, kami meneruskan hubungan ini secara diam-diam karena kakeknya memerintahkan orang untuk mengawasi kami. Semuanya berjalan lancar. Meski dia sering kabur dari pengawalan bodyguard-nya untuk menemuiku, kami masih bisa melewati masa pacaran kami selayaknya pasangan normal lainnya. Aku tak keberatan dengan keadaannya saat itu, karena aku mencintainya dan dia mencintaiku."
Pegangan tangan Yunho pada cangkir kopi di depannya mengerat. "Jadi, kenapa kalian berpisah?" Akhirnya dia membuka mulutnya. Hatinya sedikit gerah mendengar penuturan Donghae. Dia ingin namja itu menyelesaikan kisahnya segera. Donghae yang menyadari ketidaksabaran Yunho hanya tersenyum tipis.
"Jaejoong memutuskan untuk melanjutkan sekolah fashion-nya di Paris dan entah kenapa semua menjadi sulit setelah itu. Menjalani long distance relationship bukanlah keahlianku. Jauh darinya membuatku seolah kehilangan pegangan hidup, aku tidak terbiasa tanpanya. Suasana hatiku makin buruk saat kakeknya tiba-tiba mendatangiku langsung dan memintaku untuk menjauh dari Jaejoong."
Jeda sejenak.
"Sejak saat itu aku menjadi pribadi yang pendiam. Di sela-sela waktuku aku selalu merenungkan kelanjutan hubunganku dengan Jaejoong yang aku tahu tidak akan pernah berhasil. Kenyataan itu membuatku frustasi dan akhirnya aku melampiaskannya dengan mulai mengencani banyak wanita. Aku tahu itu salah, karena suatu hari tanpa sadar aku telah jatuh cinta pada salah satu yeoja yang kukencani."
Rahang Yunho mengeras. "Lalu?" tanyanya datar.
"Perasaanku pada Jaejoong perlahan memudar tanpa bisa kucegah. Tidak ada lagi perasaan berdebar-debar saat menanti e-mail darinya, tidak ada lagi rasa rindu yang membuncah hingga membuat dadaku sesak. Semua menjadi terasa biasa dan datar. Tersadar cintaku pada Jaejoong sudah hilang, aku mulai serius mengencani yeoja yang sekarang kucintai dan berniat untuk berpisah baik-baik dengan Jaejoong sekembalinya dia dari Paris."
"Dan kau memutuskannya?" tanya Yunho tanpa ekspresi.
Donghae mengangguk membenarkan. "Ya, hari di mana kau melihatnya di depan apartemenku adalah hari di mana dia pulang dari Paris. Aku tidak tahu jika dia kembali lebih awal. Dia sama sekali tidak memberitahukan rencana kepulangannya padaku. Pada akhirnya aku tak siap dan yah... dia datang ke tempatku dan melihatku sedang bercinta dengan kekasihku," jelas Donghae sambil tersenyum miris.
"A-apa?" Kali ini Yunho sedikit melebarkan mata sipitnya. "Dia melihatmu...?"
"Ya. Kami putus hari itu."
Yunho memejamkan matanya sambil memijit pelipisnya perlahan. Oh astaga, ini sungguh... Yunho tak mampu mendeskripsikannya dalam kata-kata. Lagi-lagi ingatannya kembali ke saat pertama kali ia bertemu Jaejoong. Tak mengejutkan dia melihat yeoja itu dalam keadaan berantakan, tak mengejutkan dia mendapati yeoja itu di club dengan keadaan mabuk, tak mengejutkan... tak mengejutkan... astaga...
Tangan Yunho terkepal.
"Dia pasti sangat membenciku sekarang," desah Donghae.
Yunho membuka mata dan mengangkat wajahnya, menatap tajam Donghae yang kini tengah memandang sendu ke luar jendela. Mengetahui namja di depannya telah menyakiti Jaejoong entah kenapa membuatnya ingin melayangkan satu tinju di wajah itu. Tapi sebisa mungkin ia tahan karena bagaimanapun Donghae lebih tua darinya.
"Eoh, bukankah itu Jaejoong?" Kalimat yang keluar dari mulut Donghae selanjutnya membuat Yunho tersadar. Dengan cepat dia menoleh ke luar jendela dan di sana dia melihatnya, tepat di depan gedung sebuah agensi artis yang terletak di seberang coffee shop tempatnya dan Donghae sekarang berada, Kim Jaejoong dan seorang namja yang tak dikenalnya. Keduanya –diikuti Kyuhyun di belakang mereka, tampak terlibat pembicaraan seru dan sesekali tertawa sambil berjalan ke arah sebuah mobil yang terparkir di pinggir jalan.
"Jaejoong dan... Siwon?"
Jantung Yunho yang berdenyut tak nyaman melihat pemandangan itu menjadi berdebar keras mendengar ucapan Donghae. Sesuatu seakan menamparnya keras. "Siwon? Choi... Siwon?"
Detik berikutnya Yunho langsung meraih kunci mobilnya di atas meja dan berlari keluar coffee shop, meninggalkan Donghae yang terkejut.
"Ya, Yunho!"
.
.
Yunho berkonsentrasi pada kemudinya. Kedua mata musangnya tak lepas dari mobil sedan hitam yang melaju tak jauh di depannya. Sementara di depan sedan hitam itu tampak sebuah Ferrari berwarna merah mengkilat. Mata Yunho memicing tiap Ferrari itu tertangkap pandangannya.
Jujur saja Yunho tak percaya dia melakukan ini. Otak dan tubuhnya seakan tak bisa bekerja sama dan saat dia tersadar dia sudah melaju di tengah jalan dengan mobilnya, mengikuti sedan hitam dan Ferrari di depannya.
"Choi Siwon... Siapa kau?" gumam Yunho entah pada siapa.
Yunho terus mengikuti dua mobil itu sampai mereka tiba di kawasan kediaman keluarga Kim yang luas. Setelah dengan mudah berhasil memasuki gerbang, dia menghentikan mobilnya di halaman depan mansion. Matanya memperhatikan dalam diam ketika pintu Ferrari yang terparkir tak jauh di depannya terbuka dan sesosok namja dengan pakaian casual-nya keluar. Namja itu kemudian berjalan ke sisi lain mobil dan membukakan pintu kursi penumpang, menuntun tangan Jaejoong keluar.
Yunho menggertakkan giginya. Dia melepas seatbelt-nya, membuka pintu mobil, lalu menutupnya dengan sedikit keras. Memasukkan kedua tangan di saku celananya, dia berjalan menghampiri mereka.
"Well, well... aku tidak menyangka kau berkencan dengan namja lain di belakangku, Jaejoongie."
Dua orang di depannya menoleh kaget.
"Yun?" ucap Jaejoong terkejut. "Sedang apa kau di sini?"
Yunho mengabaikannya, matanya terpaku pada sosok namja yang berdiri di sebelah Jaejoong. Namja itu hanya mengulum senyumnya penuh arti saat pandangan Yunho tak lepas darinya.
"Kau yang bernama Jung Yunho? Perkenalkan, Choi Siwon imnida, teman Jaejoong."
Yunho melirik sekilas tangan yang terulur di depannya itu, kemudian menyambutnya dan meremasnya kuat –membuat Siwon mengernyit, sementara mata musangnya menatap Siwon dengan tatapan dinginnya yang menusuk. Siwon yang menyadari aura tak bersahabat itu balas menatapnya tenang, meski terlihat jelas wajahnya yang menegang dan rahangnya yang sedikit berkedut.
Untuk sesaat mereka saling bertatapan, sebelum suara yang tak kalah dingin dari angin yang berhembus malam itu keluar.
"Jung Yunho."
.
.
.
To be continue...
Seratus untuk yang menebak Siwon! *tebar konfeti*
Rada heran juga pas ada beberapa yang nebak Changmin -_-, hehe
Aku ga tahu ni ff panjangnya seberapa tapi perkiraanku sih ga nyempe 15 chapter. Untuk sosok pihak ketiga cewek sebenernya aku masih bingung mau dimasukkin apa ga. Tapi walaupun masuk juga ga akan berdampak banyak, sih.
Untuk yang baca dan review di chap kemarin, aku ucapin terimakasih banyak^^ Maaf karena ga pernah aku balas satu-satu dan maaf karena sering lama update. Ga tahu kenapa gairah nulis menurun ga kaya jaman SMA dulu :(
Last, review?
