Crazy for Dash Girl?
Author: Grace Jung a.k.a Jung Eun Hye
Main Cast:
Kim Jaejoong
Jung Yunho
Support Cast:
Park Yoochun
Shim Changmin
Genre: Romance, Drama
Warning: Genderswitch! abal, ga jelas, dll.
DON'T LIKE? DON'T READ THEN!
LIKE? ENJOY READING^^
.
.
.
"Kau yang bernama Jung Yunho? Perkenalkan, Choi Siwon, teman Jaejoong."
Yunho melirik sekilas tangan yang terulur di depannya itu, kemudian menyambutnya dan meremasnya kuat –membuat Siwon mengernyit. Mata musangnya menatap Siwon dengan tatapan dinginnya yang menusuk. Siwon yang menyadari aura tak bersahabat itu balas menatapnya tenang, meski terlihat jelas wajahnya yang menegang dan rahangnya yang sedikit berkedut.
Untuk sesaat mereka saling bertatapan, sebelum suara yang tak kalah dingin dari angin yang berhembus malam itu keluar.
"Jung Yunho."
.
.
CHAPTER 9
.
.
Jaejoong melepas blazer-nya dan melemparnya asal ke atas sofa bersama dengan tasnya sesaat setelah dia memasuki kamarnya. Dia lalu beranjak menuju meja rias, mengambil sebuah ikat rambut kemudian menggulung rambut cokelatnya tinggi. Dengusan keluar dari hidungnya saat kedua matanya tak sengaja melirik cermin dan menangkap bayangan seseorang di belakangnya.
"Mau sampai kapan kau mengikutiku, Jung Yunho?"
Yunho –tamu tak diundang yang terus menempelinya sejak kepergian Siwon beberapa menit lalu itu hanya berdecak. "Tunanganmu meluangkan waktunya yang berharga untuk mengunjungimu dan sekarang kau ingin mengusirnya?"
Jaejoong berbalik dan menatap Yunho dengan kedua mata besarnya, sedikit tak mengerti dengan ucapan namja itu. Kenapa rasanya sosok Jung Yunho yang sekarang berdiri di depannya berbeda dari sosok yang ditemuinya di awal-awal pertemuan mereka?
"Well, kuhargai niat baikmu itu Yunho-ssi. Tapi sekarang sudah larut malam dan sebagai tambahan informasi untukmu, aku lelah dan ingin tidur."
"Kau benar," gumam Yunho.
"Baguslah kalau kau mengerti." Jaejoong kembali menghadap meja rias. Kali ini ia duduk sambil mencoba membersihkan wajahnya dari polesan make up tipisnya. "Kalau begitu bisakah kau pergi sekarang karena aku ingin mengganti baju dan-YA! APA YANG KAU LAKUKAN, JUNG YUNHO?!"
Mata Jaejoong melotot ketika ia menoleh ke belakang dan mendapati Yunho sudah berbaring nyaman di atas ranjang king size dengan bedcover warna merah tua miliknya. Mata musang namja itu tertutup, membuat Jaejoong mengernyit. Apa dia tertidur?
Akhirnya Jaejoong memutuskan untuk menghampiri Yunho. Ditusuk-tusuknya pipi namja itu dengan kuku-kukunya yang panjang. "Hey, bangun. Kau tidak boleh tidur di sini."
Tak ada jawaban.
"Yunho-ssi."
Hening. Jaejoong menggembungkan pipinya. Memutuskan untuk mengurus itu nanti, Jaejoong kembali berkutat dengan pembersih wajahnya dilanjutkan kemudian dengan mencuci muka dan memakai night cream.
Jaejoong hanya mendesah selesainya ia menyelesaikan ritual malamnya dan berganti gaun tidur saat mendapati Yunho masih terlelap di kasurnya. Dengan langkah berat dia mendekat dan membungkuk memandangi wajah Yunho.
"Yunho-ssi, bangun. Kau harus pulang." Jaejoong menggoyangkan-goyangkan pelan tubuh Yunho. "Yunho-ssi," panggil Jaejoong lagi kali ini menepuk-nepuk pipi Yunho. "Yunho-ssi, bangunlah. Aku tidak bisa tidur jika kau ada di sini."
Tapi namja itu tetap diam, membuat Jaejoong keki setengah mati. Apa dia tendang saja namja itu hingga jatuh supaya bisa bangun?
"Hey, kau mendengarku tidak?! Jung Yun-kyaaaa!" Jaejoong memekik ketika tiba-tiba tubuhnya tertarik dan kini ia mendarat tepat di atas tubuh Yunho. Namja itu masih memejamkan matanya saat bibir hatinya bergumam, "berisik."
Jaejoong merona menyadari posisinya sekarang, di mana wajahnya menempel di dada bidang Yunho sementara kedua tangan namja itu melingkari pinggangnya. Sadar ini bukan waktunya untuk berpikiran macam-macam, Jaejoong berusaha melepaskan diri. "Yunho, lepas-"
"Bisakah kau diam?" potong Yunho seraya mengeratkan pelukannya pada Jaejoong yang kini tengah menahan nafasnya. "Aku lelah dan mengantuk."
Seakan dikomandani Yunho, tubuh Jaejoong mendadak kaku dan tidak bisa tak berkedip, dia bahkan hanya diam saat salah satu tangan Yunho beranjak dari pinggang rampingnya dan beralih memeluk kepalanya, membenamkannya makin dalam pada dada dan leher namja itu.
Wajah Jaejoong yang awalnya merona kini sudah memerah sampai ke telinga. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya lalu menggigit bibir cherry-nya. Kedua tangannya yang berada di dada Yunho perlahan bergerak meremas kemeja putih namja itu. Kenapa tiba-tiba dia menjadi susah bernafas begini? Menghirup aroma tubuh Yunho yang bercampur keringat membuat kepalanya menjadi pusing. Pusing dalam artian dia tak bisa berpikir apa-apa lagi.
Oh, god. Ini gila. Sungguh.
Jantung Jaejoong berdebar keras tanpa bisa dicegah saat dia mendongak dan mendapati wajah tampan itu di sana. Semuanya tampak sempurna jika saja mulut itu tidak terbuka dan merusak wajah tidurnya yang tampan. Jaejoong terkikik tanpa suara melihatnya.
Dan setelahnya –entah tersadar atau tidak, tubuh Jaejoong yang semula kaku perlahan berubah menjadi rileks. Menyamankan diri, Jaejoong memejamkan matanya seraya menyerukkan kepalanya ke lekukan leher Yunho.
Seulas senyum terpatri di wajah cantiknya sebelum alam mimpi kemudian menyambutnya.
.
.
"Ng..." Jaejoong melenguh pelan. Matanya yang terasa berat mengerjap perlahan.
"Kau sudah bangun?"
Sebuah suara bass menyapa indra pendengarannya, membuat kesadarannya yang semula nol menjadi penuh seketika. Doe eyes-nya melotot begitu ia mendongak dan beradu dengan sepasang mata musang yang tengah menatapnya intens.
Kejadian semalam berseliweran di otaknya bak kawanan ikan yang berenang kesana kemari di dalam akuarium, membuat wajah Jaejoong memanas. Dia menunduk lalu berusaha bangun, namun Yunho dengan sigap menahannya hingga ia kembali terjatuh dalam pelukan namja itu.
"Le-lepas.." Jaejoong merutuki dirinya yang kini terlihat begitu lemah dan pasrah. Di mana dirinya yang kasar dan suka seenaknya itu? Jaejoong bertanya-tanya dalam hati.
"Sebentar saja," lirih Yunho. Jaejoong terdiam, dan membiarkan Yunho terus memeluknya sampai sebuah ketukan di pintu menghancurkan momen mereka.
"Si-siapa?" seru Jaejoong tertahan.
"Sarapan sudah siap dan Tuan Besar menunggu anda di ruang makan, nona."
Mwo? Jaejoong terkejut dan segera bangkit, mengabaikan tangan Yunho yang masih menempel di pinggangnya. Dia lalu menatap namja yang masih terpejam itu kemudian mendesah sambil memijat pelipisnya.
"Astaga..."
Suasana di meja makan tampak berbeda dari biasanya. Bunga-bunga tak kasat mata seakan beterbangan di sekitar Kim Jonghyun yang tak bisa memudarkan senyum lebarnya dan itu membuat Jaejoong merinding. Matanya lalu melirik Yunho yang duduk di sebelahnya. Namja yang sudah terlihat fresh itu memakan sarapannya dengan tenang sambil sesekali menanggapi pertanyaan-pertanyaan tak penting –menurut Jaejoong– kakeknya.
Jaejoong yang tengah mengawasi Yunho dalam diam tercekat ketika tanpa sengaja pandangan keduanya bertubrukkan. Yunho tersenyum sementara Jaejoong buru-buru memalingkan wajahnya sambil berdehem. Tiba-tiba saja dia merasa gerah walaupun udara pagi itu begitu menusuk.
Jaejoong kembali melanjutkan makannya sambil mendengarkan pembicaraan dua pria beda generasi di sebelah tanpa niat ikut ambil bagian. Beruntung kakeknya tak menyinggung hal-hal sensitif seperti bagaimana Yunho bisa berakhir di kamarnya atau apa yang mereka berdua lakukan di dalam sana, kendati awalnya pria tua itu kaget saat melihat Yunho datang bersamanya. Tapi meski begitu Jaejoong tak bodoh untuk tidak mengetahui apa yang ada di pikiran kakeknya itu, yang tentu saja berbeda jauh dari kenyataan.
Usai sarapan dan Yunho pamit untuk berangkat kerja, Jaejoong bergegas ke kamarnya tanpa menghiraukan panggilan sang kakek. Dia menghempaskan tubuh ringannya ke kasur lalu membenamkan wajahnya ke dalam bantal. Namun sedetik kemudian dia mengangkat kembali wajahnya dan menatap bantal itu lekat saat aroma maskulin menguar lembut mengusik penciumannya.
Dia merona. "Oh my..."
.
..GJ..
.
"Kau kalah, maknae!"
"Kau tidak tahu betapa dia sulit didekati, hyung!" Changmin mempoutkan bibirnya kesal melihat Yoochun yang terbahak.
"Tentu saja aku tahu! Bukankah dia juga dengan sadis menginjak kakimu yang terus mengikutinya? Huahahaha.." Yoochun terus tertawa, membuat tangan Changmin yang tak bisa diam segera meraih ayam goreng dari piring besar di depannya lalu menjejalkannya ke dalam mulut Yoochun yang terbuka lebar. Sontak namja berjidat lebar itu melotot.
"Hmmpff!"
Giliran Changmin yang tertawa nista.
"Dasar kau maknae sialan!" Yoochun hendak membalas Changmin dengan ayam yang sama yang baru saja masuk ke mulutnya, namun urung begitu mendapati Yunho sudah duduk manis di antara dia dan Changmin, menatap mereka berdua dengan pandangan iritasi.
Yoochun berdehem lalu meletakkan ayamnya. "Pokoknya yang kalah tetap kalah. Ingat janjimu, Shim."
Changmin berdecih.
"Taruhan apa lagi yang kalian lakukan?" tanya Yunho tenang sambil menuangkan sebotol soju ke dalam gelas kecil di depannya. Dia baru saja akan makan siang di kantor ketika tiba-tiba Yoochun menelepon dan mengajaknya makan bersama di restoran ayam langganan mereka.
"Kau ingat pesta pertunanganmu kemarin? Begitu kau dan tunanganmu menghilang, kami mendekati dua teman Jaejoong yang imut dan manis itu. Siapa yang bisa mengajak salah satu dari mereka kencan, dia menang," jelas Yoochun.
"Lalu?"
"Ck, kau lupa kau sedang bicara dengan siapa? Tentu saja aku berhasil mengajak Su-ieku kencan. Kami pergi ke Lotte World tiga hari yang lalu. Yah, meski agak kekanakkan tapi dia menyukainya."
"Su-ie? Maksudmu Kim Junsu?"
"Ne. Dan kau tahu, Yun? Jangankan mengajak kencan atau meminta nomor telepon, Changmin bahkan diusir saat mencoba berbicara dengan gadis bernama Kibum itu. Kau harus lihat ekspresi bodohnya waktu itu! Hahahaha..." Yoochun kembali tertawa, sementara Changmin sudah meraup dua potong ayam sekaligus dan memakannya rakus.
"Kau sendiri, hyung? Apa kau sudah pernah mengajak Jaejoong noona kencan?"
Ucapan Changmin selanjutnya menghentikan tawa Yoochun. Keduanya kini menatap Yunho penasaran.
"Belum. Perlukah itu?" tanya Yunho, meski sebenarnya lebih ditujukan kepada dirinya sendiri.
Yoochun membulatkan matanya, sementara Changmin menganga –sok mendramatisir. "Kau bercanda? Tentu saja perlu!"
Yunho terdiam. Berpikir.
.
..GJ..
.
Jaejoong menatap ponselnya tak berkedip. Cukup lama, sebelum perlahan sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman. Dia lalu mendongak menatap kedua sahabatnya yang berada tak jauh di depan dengan kuda tunggangan mereka, yang balik menatapnya dengan tanda tanya.
"Aku harus pergi!" serunya.
"Mwo?"
"Wae?"
Jaejoong tak menjawab pertanyaan mereka. Dia hanya melambai kemudian membalikkan Louis, kuda putih kesayangannya, dan memacunya cepat. Meninggalkan Kibum dan Junsu yang terbengong-bengong di belakangnya.
.
.
Jaejoong melirik jam dinding di kamarnya. Pukul 6 sore. Pandangannya lalu beralih pada baju-baju yang bertebaran di ranjangnya. Diamatinya lagi satu-persatu karya seni kain itu hingga kepalanya terasa pusing karena matanya terus berputar-putar.
Jaejoong menyisir rambut cokelatnya kasar kemudian terduduk di pinggiran ranjang.
"Nanti malam kau ada acara?"
"Jam 7 di Ti amo, bagaimana?"
Yunho mengajaknya kencan. Ya, Yunho mengajaknya kencan. Dan itu kurang satu jam lagi!
Jaejoong berdiri. Ditelusurinya lagi setelan-setelan mahal itu sebelum akhirnya keputusan final-nya jatuh pada sebuah mini dress berwarna merah maroon dengan belt hitam. Dress dengan kerutan di dada dan taburan berlian tepat di tengahnya. Cukup simple, tapi elegan.
Selanjutnya dia hendak memanggil hair stylist dan make up artist pribadinya, namun urung dan memutuskan untuk berdandan sendiri kali ini. Rambut panjangnya ia biarkan tergerai sementara wajahnya ia beri polesan make up tegas dengan eyeliner tajam untuk memperindah matanya.
Jam menunjukkan tepat pukul 7 kurang seperempat ketika Jaejoong memasuki mobil dan ponsel dalam tas tangannya berdering. Ia memberi kode pada Kyuhyun yang berada di kursi kemudi untuk berangkat, kemudian mengangkat ponselnya.
"Yeoboseyo?"
"Yeoboseyo, Jae? Maaf mungkin aku akan terlambat sekitar 10 atau 15 menit, pekerjaan ini lebih menyita waktu dari yang kukira. Gwenchana?"
"Gwenchana."
"Arraseo. Sampai ketemu nanti."
Jaejoong menatap ponselnya, lalu menghembuskan nafas perlahan.
Sesampainya di restoran, Jaejoong dipandu oleh seorang pelayan berwajah ramah menuju meja yang yang sudah dipesan oleh Yunho. Jaejoong duduk di kursinya dan menggeleng pelan saat pelayan itu bertanya apa dirinya sudah siap memesan. Pelayan itu tersenyum lalu mohon undur diri, meninggalkan Jaejoong yang kini memandang sekelilingnya sambil bertanya-tanya dalam hati.
Well, restoran italia yang dimasukinya kali ini merupakan restoran yang cukup terkenal untuk pasangan kekasih. Meja selalu terisi penuh dan kau harus memesan tempat jauh-jauh hari untuk bisa makan di sini, apalagi untuk hari-hari spesial seperti Natal dan Valentine. Jadi, kapan Yunho memesan tempat di sini?
Pikiran Jaejoong terusik saat pelayan berwajah ramah yang sama dengan yang mengantarnya tadi meletakkan segelas air putih di mejanya. Jaejoong meraih gelas itu dan meneguk isinya sedikit sementara tangannya yang lain mengecek ponselnya.
5 menit sudah berlalu dari waktu janjian mereka.
Jaejoong mengetuk-ngetukkan kuku-kuku cantiknya yang penuh dengan nail arts ke meja. Bosan. Padahal belum lama dia menunggu. Diapun memutuskan untuk membunuh waktu dengan bermain games di ponselnya.
Pet.
Lampu mati tiba-tiba dan itu membuat Jaejoong kaget setengah mati. Dia mendongak dari ponselnya, mengedarkan pandangannya dengan heran. Ada apa ini? Tidak mungkin listrik mati di restoran berkelas seperti ini, kan?
Alunan nada familiar yang selanjutnya terdengar seolah menjawab pertanyaan –tak hanya Jaejoong– hampir seluruh pengunjung. Jaejoong menyipitkan matanya, mengikuti lampu sorot yang entah sejak kapan menyala menyinari panggung yang biasa digunakan untuk pertunjukkan musik. Lebih tepatnya menyoroti seorang pria yang tengah memainkan grand piano.
Lantunan nada-nada indah yang dihasilkan oleh salah satu alat musik paling romantis itu seakan menyihir semua pasang mata –terutama kaum hawa. Mereka kini melempar pandang ke arah sang pria misterius tanpa kedip. Jaejoong hanya menatap remeh. Apa itu? Apa ada yang ingin melamar atau menyatakan cinta?
Ck, Jaejoong mengangkat bahu tak peduli, lalu kembali memainkan ponselnya.
I smell a familiar fragrance in the air
The breeze that blew around you now blows across to me
In my heart, maybe it was the light you made shine upon me
That light shields me from hurtful sorrows
Love you... thinking of you now, I close my eyes again
Jaejoong menegakkan tubuhnya saat sebuah suara lembut mulai mengalun mengikuti nada-nada tuts. Suara ini, batinnya. Dia menajamkan pendengarannya sementara matanya mulai mencari-cari sosok yang tengah menjadi pusat perhatian itu.
I love you, if I could fill your two eyes
I love you, if I could show you my smiles
I could give you all the bright stars in the sky
I love you, if I could show you my love
I love you, if you could teach me your heart
I'll follow whatever you do
Love you, Love you, Love you
Forever
Jaejoong menjatuhkan ponselnya begitu saja ke atas meja, bersamaan dengan kedua matanya yang membulat.
I'm walking right behind you beneath the moonlight
Look at me a little more closely
Should I ask the clouds to let the rain fall for you once again
So I could hold on to your wet heart
Love you... thinking of you now, I close my eyes again
Sepertinya dia telah tertular oleh wanita-wanita di sekelilingnya, karena kini Jaejoong menatap pria itu tanpa kedip.
I love you, if I could fill your two eyes
I love you, if I could show you my smiles
I could give you all the bright stars in the sky
I love you, if I could show you my love
I love you, if you could teach me your heart
I'll follow whatever you do
Love you, Love you, Love you
Only you...
.
.
.
To Be Continue...
Kyaaaaa siapa tu yg nyanyi? So sweet banget dah, haha
Halo semuaaa, I'm baaacckk~
Gomawo buat yg udah setia menanti, keke :D Hari ini aq post dua apdetan sekaligus, semoga suka ne^^
Untuk Kim Jaejoong yg berulang tahun hari ini, aku ucapin happy birthday! Saengil chukahamnida! Semoga tambah eksis, tambah rezeki, tambah disayang yunpa, dan tambah-tambah positif yang lain :D
Untuk reader, aq bakal senang sekali kalo ada yg berkenan meninggalkan review^^
Sampai jumpa di next chap~~
