Crazy for Dash Girl?

Author: Grace Jung a.k.a Jung Eun Hye

Main Cast:

Kim Jaejoong

Jung Yunho

Support Cast:

Kim Junsu

Kim Kibum

Choi Siwon

Cho Kyuhyun

Genre: Romance, Drama

Warning: Genderswitch! abal, ga jelas, dll.

DON'T LIKE? DON'T READ THEN!

LIKE? ENJOY READING^^

.

.

.

Sepertinya Jaejoong telah tertular oleh wanita-wanita di sekelilingnya, karena kini ia menatap pria itu tanpa kedip.

I love you, if I could fill your two eyes
I love you
, if I could show you my smiles
I could give you all the bright stars in the sky
I love you
, if I could show you my love
I love you
, if you could teach me your heart
I
'll follow whatever you do

Love you, Love you, Love you
Only you

...

.

.

CHAPTER 10

.

.

Dentingan nada terakhir mengalun dan sorak tepuk tangan menyambut ketika pria itu menyelesaikan permainannya. Banyak wanita berdecak kagum dan tak sedikit yang merona mendengar nyanyiannya meski mereka tahu lagu itu bukan ditujukan untuk mereka. Namun tak seperti yang lain, Jaejoong hanya bisa terpaku. Pikirannya blank dan dia hanya memandang kosong ke depan.

Pria dengan setelan jas hitam yang tengah menjadi pusat perhatian itu beranjak dari pianonya. Dia tersenyum, lalu masih dengan lampu sorot yang mengikutinya, dia mulai berjalan menuruni panggung.

Tubuh Jaejoong menegang. Kesadaran seolah telah kembali menguasainya saat tanpa sadar tangan kanannya meluncur bebas dari meja dan meremas ujung dress-nya kuat. Kedua bola matanya bergerak gelisah mengikuti langkah pria itu. Namun makin lama ia mengunci pandangannya pada sosok tampan itu, makin tinggi pula ketegangan yang menggerogotinya hingga membuat perutnya melilit dan kulit pucatnya mendingin.

Sesak. Semua perasaan yang ditahannya selama ini seakan membuncah memenuhi dada, membuat ia kesulitan bernafas. Otaknya memerintahkannya untuk berpaling, memandang ke mana pun asal jangan pria itu, namun ia tak bisa. Dan sebelum ia menyadarinya, kedua matanya sudah dipenuhi oleh liquid yang siap terjun bebas kapan saja.

Pria itu semakin mendekat. Jaejoong bisa merasakan hatinya remuk dan dia hanya bisa memandang nanar ke depan saat pria itu melewatinya begitu saja, seolah ia adalah makhluk tak kasat mata. Jaejoong mengeluarkan hembusan nafas tak percaya sebelum kemudian menggigit bibirnya dan memalingkan wajah. Berusaha menahan air mata yang ingin menyeruak keluar.

"Will you marry me, sweetheart?"

Betapa Jaejoong berharap ia tuli saat itu juga. Cairan sebening krystal yang sudah menggenang pun akhirnya tumpah dan mengalir menuruni pipi mulusnya yang tanpa cela. Dengan cepat dia meraih tasnya lalu meninggalkan tempat itu.

.

..GJ..

.

"Awas saja kalau dia tidak menyukainya, Park Yoochun."

Yunho tersenyum memandangi kotak berwarna soft pink di tangannya. Dia mengecup benda itu sekilas lalu menyimpannya di balik saku jas. Yah, atas saran sahabatnya yang bijak dan berjidat lebar itu dia memutuskan untuk membelikan Jaejoong hadiah mengingat dia belum pernah memberikan apa pun pada yeoja yang berstatus sebagai tunangannya tersebut.

Dia sudah sinting. Yunho mengakui itu. Dari mengajaknya kencan sampai repot-repot membelikannya barang. Tapi bukankah sejak kemarin otaknya memang sudah error?

Yunho memasuki lobi hotel Le Serie dan berjalan pasti menuju lift ketika seseorang memanggilnya. "Yo, Yun!"

Yunho menoleh dan tersenyum miring begitu melihat seorang bertubuh jangkung melambai ke arahnya. Sosok dalam balutan kaos dan blazer semi formal itu dengan cepat menghampirinya sambil cengengesan.

"Hoho... ada yang mau makan malam romantis dengan sang calon istri rupanya."

Yunho memutar bola matanya bosan mendengar ucapan pria itu yang sarat akan nada ejekkan. Lee Minho, namja tinggi nan tampan –walau tak setampan dirinya, yang merupakan salah satu teman kuliah sekaligus rekan bisnisnya. Keponakan dari pemilik hotel ini sekaligus manajer dari restauran Ti Amo yang begitu terkenal untuk kalangan pasangan kekasih.

Yah, terimakasih pada namja itu karena berkatnya ia bisa dengan mudah mendapatkan meja tanpa mengantri.

"Kau mau menemaniku ke atas?" Yunho menekan tombol lift dan menunggu pintu metal itu terbuka.

"Tidak, tidak... sayang sekali aku sudah ada janji sekarang, padahal aku belum sempat menyapa tunanganmu yang cantik dan seksi itu," ucap Minho diiringi sebuah desahan panjang, menandakan jika dia benar-benar menyesal. Namun detik selanjutnya dia terkekeh ketika Yunho meliriknya tajam. "Kidding, kidding..."

Pintu lift terbuka.

"Ok, good luck then! Sampaikan salamku padanya," Minho mengedip kemudian berlalu pergi sebelum Yunho sempat mengucapkan kata-kata.

"Dasar," dengus Yunho geli.

Dia telah sampai di lantai 20 tempat restauran berada. Sekali lagi dia mengamati kotak soft pink itu dengan tatapan puas sebelum menyembunyikannya kembali di balik jasnya. Dia hampir mencapai pintu restauran dan benaknya sibuk membayangkan seperti apa reaksi Jaejoong terhadap pemberiannya nanti saat tiba-tiba ia dikejutkan dengan seruan seorang pria diikuti kemudian sosok wanita yang berlari melewatinya.

Kim Jaejoong.

Yunho membeku di tempat.

"Agasshi! Agasshi, tunggu! Anda mau ke mana?!"

Tangan Yunho secara otomatis menahan lengan Kyuhyun saat bodyguard Jaejoong itu hendak melewatinya. Bisa dia lihat wajah putih pucat namja itu yang panik dan kebingungan. Kyuhyun menoleh kaget.

"Jung Yunho-ssi?"

"Ada apa ini?" tanya Yunho cepat.

Kyuhyun menggeleng. "Aku tidak tahu. Aku sedang berjaga di samping pintu ketika tiba-tiba saja agasshi berlari keluar."

Ada sesuatu yang tak beres, pikir Yunho mendadak kalut. Masih mencengkram lengan Kyuhyun, Yunho memasuki restauran yang ternyata gelap gulita itu. Dia berusaha mencerna apa yang terjadi saat matanya menemukannya, di bawah sorotan lampu, seorang pria yang berlutut di depan seorang wanita. Yunho terhenyak.

"Donghae hyung..." lirihnya sebelum kemudian menyadari sesuatu. Dia segera keluar dari restauran, matanya bergerak gelisah mencari sosok yeoja bergaun merah di sepanjang koridor dan mulutnya mengumpat ketika tak menemukan sosok itu di mana pun. "SHIT!"

"Yunho-ssi..."

"Biar aku yang mencarinya. Jika sampai nanti malam dia belum kembali, katakan pada kakeknya jika dia sedang bersamaku, arraseo?" Yunho menatap tajam Kyuhyun lalu tanpa menunggu jawaban pemuda itu, dia segera berlari menuju lift.

Yunho mengutuki dirinya sendiri. Astaga, apa yang telah dilakukannya? Bagaimana bisa dia mengajak Jaejoong ke tempat itu? Bodoh, kau sungguh bodoh, Jung Yunho.

Perjalanan dalam balok besi yang tiba-tiba dirasanya sangat lama membuatnya ingin menonjok dinding kokoh itu hingga berlubang. Dalam hati dia berdoa semoga Jaejoong belum terlalu jauh di depan. Sesampainya di lantai dasar, ia segera mengedarkan pandangannya ke sekeliling dengan cemas sebelum kemudian berlari membelah lobi yang luas, mengabaikan sepenuhnya orang-orang yang memandangnya ingin tahu.

Yunho telah berada di pelataran depan hotel, namun tetap yeoja itu tak terlihat di mana pun. Berusaha tenang, dia melanjutkan pencariannya sampai keluar kawasan hotel. Entah apa yang menuntun langkahnya hingga dia tiba di pinggir jalan raya. Namun kemudian dia tahu alasannya saat melihat sosok bergaun merah berjalan di trotoar tak jauh di depan.

Yunho bernafas lega lalu menarik bibirnya membentuk senyum kecil. I've found you, batinnya. Dia kembali berlari mendekati tunangannya, tapi saat itu pula rasa bersalah kembali menelusup melihat punggung ringkih yang kini hanya berjarak satu meter darinya.

Yunho berhenti tepat di belakang Jaejoong yang kini berjalan pelan. Tangannya terangkat hendak menyentuh bahu Jaejoong, namun urung begitu menyadari bahu yeoja itu bergetar. Yunho menggantungkan tangannya sejenak, lalu menurunkannya dengan lemas. Dia menunduk sambil mengusap wajahnya frustasi.

Yunho mengikuti langkah Jaejoong, menatap punggung mungil dan rapuh itu dengan sejuta penyesalannya. Ingin dia menubrukkan diri pada punggung itu dan memeluknya erat, memberinya kehangatan, membisikkan kata maaf, bahwa semuanya baik-baik saja, bahwa ada dia di sini. Tapi ditahannya semua itu.

Yunho hanya bisa terdiam di tempatnya berdiri ketika Jaejoong mendudukkan diri di bangku halte yang kosong. Jantungnya serasa mencelos sampai ke dasar aspal melihat sosok yang entah ia sadari atau tidak telah mencuri hatinya menangis tanpa suara.

Yunho mengepalkan tangan, mengutuki ketidakberdayaannya sekarang.

Sebuah bus besar berwarna biru muda berhenti di depan halte. Pintu terbuka dan beberapa orang turun. Yunho sedikit membelalak ketika melihat Jaejoong berdiri dan memasuki bus. Dengan cepat dia menyusulnya sebelum pintu bus menutup.

.

.

"Berhenti keluar, brengsek."

Jaejoong mengusap kasar air matanya, memarahi dirinya sendiri yang sekarang tampak begitu menyedihkan. Namun apa daya, bulir-bulir bening terus melesak keluar tanpa bisa ia cegah.

"Kau sudah melupakannya," ia bergumam pada dirinya sendiri.

Tidak! Hati kecilnya menjerit. Kau belum melupakannya, bodoh! Bukankah karena itu kau menangis? Menyaksikannya melamar wanita lain tepat di depan matamu?

Jaejoong menggigit bibirnya yang terasa asin. Jantungnya berdenyut menyakitkan mengingat kejadian yang harus disaksikannya tadi. Dia menepuk-nepuk dadanya, berusaha menghalau rasa perih yang menyerang.

Semua sudah berakhir. Apa yang ia pikir ia harapkan? Kembali bersama pria itu? Tidak, tentu saja tidak. Ia hanya tak menyangka –sempat terlintas di pikirannya pun tidak, hal seperti ini bisa terjadi. Pria yang mengkhianati kepercayaannya itu... Pria yang pernah begitu ia cintai dan mencintainya... Bagaimana mungkin dia tega melakukan ini padanya?

Semudah itu kah dia melupakannya dan memberikan hatinya pada wanita lain?

Jaejoong sendiri masih belum mengerti kenapa Donghae meninggalkannya. Apa yang telah ia lakukan? Kesalahan apa yang telah ia perbuat? Meski kini ia membenci mantan kekasihnya, namun kenyataan bahwa sesungguhnya ia masih tak bisa menerima keputusan pria itu untuk berpisah benar-benar menyiksanya.

Jaejoong menyandarkan kepalanya ke kaca jendela bus, terisak. Betapa dia membenci dirinya yang lemah ini.

.

.

Yunho mengusap wajahnya cemas mendengar isakkan Jaejoong. Saat ini dia duduk persis di depan yeoja itu. Beruntung bus tidak begitu ramai sehingga tak akan ada yang memperhatikan Jaejoong dan mencemoohnya.

Berkali-kali Yunho menahan keinginannya untuk menengok ke belakang. Dia tidak bisa tiba-tiba muncul di depan tunangannya. Jaejoong butuh privasi. Biarlah yeoja itu menenangkan dirinya terlebih dulu.

Beberapa menit terlewati dan isakkan tak lagi terdengar. Yunho bernafas lega sekaligus bertanya-tanya dalam hati, 'apa dia tertidur?'

Yunho memberanikan diri untuk menoleh ke belakang dan tepat dugaannya, yeoja itu tertidur. Mungkin kelelahan, pikir Yunho. Yunho beranjak dari kursinya lalu duduk di sebelah Jaejoong. Perlahan, dia meraih kepala Jaejoong dan meletakkannya dengan hati-hati di bahunya.

Dia bisa merasakan hatinya yang serasa diremas melihat Jaejoong yang tampak berantakan. Hidung yang memerah, pipi yang penuh jejak air mata, kelopak mata yang membengkak, ditambah lunturan maskara dan eyeliner yang mengurangi kecantikannya.

Yunho tersenyum miris. 'Begitu berartinyakah Donghae hyung bagimu, Jae? Hingga kau membuang air matamu yang berharga ini untuknya?'

Yunho mengambil sapu tangan dari sakunya lalu dengan pelan mulai menghapus bekas air mata dan make up yang luntur dari wajah Jaejoong. Dia menatap tunangannya lembut.

'Aku masih tidak tahu apa yang kurasakan padamu saat ini. Tapi aku berjanji akan membuatmu melupakannya.'

Yunho mendaratkan kecupan di dahi Jaejoong sebelum menyandarkan kepalanya di atas kepala yeoja itu dan menyusul ke alam mimpi.

.

..GJ..

.

Tut... tut... tut...

"Bagaimana?"

Junsu menatap ponselnya sebentar kemudian menggeleng. Siwon mendesah seraya menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa. "Ke mana anak itu?" gumamnya.

"Tidak mungkin dia melupakan pesta kepulangan Siwon, kan?" Hyunjoong menuangkan beer ke dalam dua gelas persegi dan memberikan salah satunya pada Kibum. Gadis itu menerimanya sambil menggumamkan terima kasih.

"Entahlah. Tadi dia pergi begitu saja di tengah-tengah kegiatan berkuda kami," jawab Junsu sambil kembali mengutak-atik ponselnya.

"Mungkin dia sudah tidur?" ceplos Seunghyun. Wajahnya sudah sedikit memerah karena terlalu banyak minum.

"Kau bercanda."

"Well, well," Tiffany mengisi gelasnya lalu meminum minuman keras itu dalam sekali teguk. "Apa kalian lupa bahwa dia baru saja bertunangan? Mungkin sekarang dia sedang menghabiskan satu malam penuh gairah dengan pria hot itu –yah, walau tidak se-hot dirimu, baby," tambahnya saat Nick Khun, kekasihnya, melemparkan tatapan merajuk. Dalam sekejap dua sejoli itu pun terlibat dalam cumbuan panas.

"Yah! You two, go get a room!"

Semua tertawa mendengar pekikkan iritasi Junsu, kecuali seorang namja yang tampak tertegun di tempat duduknya. Siwon menunduk menatap gelas yang tinggal terisi separuh di tangannya. Mendadak ia kehilangan minat.

.

..GJ..

.

"Tuan, tuan."

Dia seperti mendengar suara seseorang, juga merasakan tepukkan-tepukkan lembut di bahunya. Perlahan Yunho membuka mata, dan hal pertama yang dilihatnya adalah seorang pria tua dengan wajah yang terlihat lelah. Yunho berusaha mengingat apa yang terjadi ketika suara lenguhan di sebelah mengalihkan perhatiannya.

Jaejoong.

Yeoja itu terbangun dan mengerjap-ngerjapkan matanya. "Y-Yun? Kenapa kau ada di sini?" tanyanya terkejut. Suaranya yang serak serta matanya yang bengkak mengingatkan Yunho akan kejadian beberapa saat lalu. Dia menatap lekat manik gelap yang balas menatapnya innocent sebelum kemudian meraup tubuh ringkih itu dalam dekapannya.

"Y-Yun..." Jaejoong tercekat. Mungkin gadis itu kaget dengan aksinya.

Namun Yunho tak menghiraukannya. Ia makin mengeratkan pelukannya, membenamkan kepalanya ke lekukan leher Jaejoong yang menguarkan aroma manis dan lembut. Perasaan ini, perasaan ingin memeluk tubuh ini selamanya, melindunginya dari segala bentuk kekejaman dunia yang fana... Ia merasakannya.

Dan perasaan itu begitu memenuhi dirinya hingga ia tak mampu melonggarkan sedikitpun dekapan yang terasa begitu pas untuknya. Ia hanya bergumam lirih, "Maaf..."

Jaejoong tak menjawab. Kedua tangannya meremas jas yang dipakai Yunho.

"Ehm, ehm." Sebuah suara deheman menginterupsi. "Maaf harus mengganggu kegiatan lovey dovey kalian, tapi ini adalah pemberhentian terakhir bus ini. Kalau kalian bisa turun sekarang..."

Baru beberapa menit yang lalu suasana romantis terbangun di antara mereka dan sekarang sepasang tunangan itu kembali berdebat.

"Ini semua gara-gara kau! Kenapa kau malah ikut-ikutan tidur?!" tuding Jaejoong dengan nada kesal yang sangat kentara.

"Kau menyalahkanku? Siapa yang dengan bodohnya naik bus antar-kota, eoh?" balas Yunho tak kalah kesal.

"Yah! Mana kutahu itu bus antar-kota. Aku kan tidak pernah naik bus!" bela Jaejoong. Dia lalu mengedarkan pandangannya dengan iritasi. "Dan sekarang aku harus terjebak di daerah antah berantah ini bersamamu," ucapnya sengit.

Yunho turut memandang ke sekeliling, di mana hanya ada kegelapan yang membentang luas. Dia tak bisa membayangkan seandainya tadi dia sampai kehilangan Jaejoong. "Beruntung aku mengikutimu. Coba kalau tidak, kau pasti sudah menangis meraung-raung sendirian di sini."

"Cih, aku tidak memintamu untuk mengikutiku," ujar Jaejoong seraya menyilangkan tangan di dadanya. "Dan aku tidak akan menangis meraung-raung."

"Benarkah?" ejek Yunho.

Jaejoong menggeram marah. Dia memalingkan wajahnya dan melangkah menjauhi Yunho. "Sudahlah, sekarang apa yang akan kita lakukan? Ponselku tertinggal di restauran dan –aish, kenapa aku lupa membawa mantelku," tambahnya menggerutu saat hawa dingin mulai terasa menusuk kulit. Dia memeluk kedua lengannya.

Yunho menghela nafas. Bagaimana tidak kedinginan jika wanita itu hanya mengenakan pakaian minim? Dia melepaskan jasnya kemudian berjalan mendekati Jaejoong dan menyampirkan jas itu pada kedua bahunya.

"Pakailah."

.

.

Srett.

Jaejoong terkesiap saat tiba-tiba kehangatan menyelimutinya. Dia meremas jas hitam yang kini tersampir di kedua bahunya lalu menoleh.

"Pakailah," ujar Yunho tersenyum. Entah matanya yang rusak atau namja itu memang terlihat tampan? Jaejoong terpana sesaat sebelum kemudian mengangguk pelan dan memalingkan wajahnya yang memerah.

"G-gomawo."

"Ponselku mati dan kurasa tak ada yang bisa kita lakukan selain mencari tempat bermalam," terang Yunho. "Ayo, kita harus menemukannya sebelum malam semakin larut."

Jaejoong menurut. Detik berikutnya dia tertegun ketika Yunho meraih tangannya lalu menggenggamnya erat. Jantungnya berdegup kencang. Rasa hangat dan aman yang diberikan tangan besar itu membuatnya nyaman dan dia hanya membiarkan ketika Yunho mulai membawanya berjalan.

Setiap langkah yang mereka ambil terasa sangat lambat bagi Jaejoong. Dia berusaha menenangkan dadanya yang bergemuruh tiap melihat tangan mereka yang bertautan. Tanpa sadar dia makin mengencangkannya. "Kau bercanda, ya? Aku tidak melihat ada tanda-tanda kehidupan di sini."

Yunho tertawa, membuat Jaejoong bertanya-tanya apa yang lucu dengan ucapannya. Namja itu menatapnya lembut dan Jaejoong merasa tenggorokannya tiba-tiba tercekat.

"Kau tak mendengar suara ombak? Kita ada di Sokcho, berarti di dekat kita ada pantai. Jika berjalan sedikit lagi, mungkin kita akan menemukan hotel atau paling tidak perumahan nelayan," jelas Yunho. Jaejoong mengangguk kaku.

"I see. Kuharap kita menemukan hotel."

5 menit mereka berjalan dalam diam. Suasana begitu sepi dan mencekam hingga Jaejoong tak berani untuk sekedar memandang lurus ke depan. Ia hanya mampu menunduk, meski itu berarti ia harus berhadapan dengan debaran keras jantungnya saat melihat jari-jari panjang nan indah dan kokoh itu melekat sempurna dengan jari-jari mungilnya.

Keheningan terpecah ketika dari kejauhan terdengar suara auman yang bersahut-sahutan. Jaejoong tersentak kaget, tanpa sadar satu tangannya yang bebas mencengkram lengan Yunho. "Omo! Apa itu? Apa ada kawanan serigala di sini? Mereka tidak akan memakan kita, kan?" tanyanya bergetar, pikirannya yang paranoid mulai membayangkan yang tidak-tidak.

Tawa Yunho sekali lagi meledak. "Jangan konyol, itu hanya suara anjing. Kukira kau wanita keras kepala yang akan menantang apa pun, tapi ternyata kau penakut juga, eoh?"

"Mwo?" Jaejoong membulatkan matanya, tak terima dengan ucapan Yunho. "Ya! Aku hanya mencoba waspada. Aku tidak takut pada apa pun!" Kesal, dia melepaskan tautan jemarinya dengan Yunho lalu melangkah mendahului namja itu. Namun belum sempat dia menjauh, Yunho segera meraih pinggangnya dan menariknya mendekat.

Jaejoong menahan nafas saat wajahnya bertubrukkan dengan dada bidang Yunho.

"Jangan menjauh."

Jaejoong terpaku dan tak mampu menjawab mendengar nada suara yang tiba-tiba berubah serius itu. Dia mencoba membuka mulut.

"Yun..."

"Jangan menjauh dariku. Tetaplah berada di sisiku."

Dua kalimat yang begitu ambigu, namun sanggup menyelusupkan kehangatan dan menyebarkan getaran-getaran kecil menyenangkan ke seluruh tubuhnya.

"Yunho..."

.

.

.

To Be Continue...

Aq ucapin banyak-banyak terimakasih untuk para reader yang berkenan review di chap sebelumnya. Disaat bingung mau diapain ff yg setengah tahun terlantar ini, baca review kalian sungguh memberiku semangat.. keke :D

Dan maaf jika ini tidak sesuai dg harapan kalian, karena namja romantis yg kalian antisipasi itu ternyata si mantan pacarnya umma! Bukan appa :( tapi walau begitu yunjae tetap berakhir manis kan? hehe..

Kapan chap selanjutnya apdet, aq ga janji. Tapi akan q usahain untuk aq garap seusai UAS, karena sekarang aq mau belajar dulu. Aq juga pengin ff ni cepet selesai kok, tenang aja.

Last, review? :D