"Akulah yang membunuh Siwon."

Donghae menyesap batang rokok di tangannya sekali lagi. Bau khas yang disebabkan oleh zat nikotin itu memenuhi ruangan tempatnya bekerja. Hari sudah hampir petang namun ia masih belum ingin beranjak dari kursi kerjanya. Pengakuan Hyukjae waktu itu kembali berputar di kepalanya.

Sudah seminggu berlalu sejak kejadian itu. Namun Donghae masih belum bisa mengenyahkan segala pertanyaan dan perasaan tak nyaman di benaknya. Hati kecilnya menolak keras pengakuan yang Hyukjae berikan meskipun laki-laki itu sendiri yang mengatakan langsung padanya. Siwon meninggal murni karena sebuah kecelakaan. Polisi akan menyadarinya jika menemukan kejanggalan. Lantas, bagaimana mungkin Hyukjae mengatakan bahwa ia telah membunuh Siwon?

Donghae sedikit tersentak manakala ponsel yang ia letakkan diatas mejanya bergetar. Agak malas ia raih benda itu, ada satu pesan masuk.

From : Park Eunseo

Jam kerjaku sudah berakhir. Aku akan menemuimu di tempat biasa. Dah :*

Perlu beberapa Detik sebelum Donghae tersadar bahwa ia memiliki janji dengan gadis itu. Mau tak mau ia bangkit dan mengenakan jas dan mantelnya yang tergantung di pojok ruangan setelah mematikan puntung rokok dan membuangnya ke tempat sampah, kemudian sosoknya menghilang dibalik pintu ruangannya yang tertutup.

Sekarang bukan saatnya ia terus larut dalam kenangan yang seolah terus mengikatnya. Sepuluh tahun lalu ia sudah membuangnya jauh-jauh. Dan sekarang, ia tak mau membawa kembali kenangan itu masuk kedalam hidupnya lagi. Kematian Siwon dan pengakuan Hyukjae tak akan mampu membuatnya terjatuh kembali. Karena mereka hanyalah masa lalunya. Karena Hyukjae hanyalah sejumput kisah tentang perasaan lamanya.


.

The Other Side of the Sky

©Saika Kunieda

Pairing : Donghae/Hyukjae, Siwon/Hyukjae

Warning : Yaoi! OOC! typo(s)!

A/N : saya berubah pikiran XD chapter 3 is up!

.


"Oppa, Apa kau sudah lama menunggu?"

Gadis dengan mantel tebal itu menyapa ringan, menyebabkan Donghae membatalkan niatnya untuk merokok dan kembali memasukkan bungkus rokok itu ke dalam saku mantelnya, menggeleng sebagai jawaban. Sebelah alis gadis itu terangkat saat maniknya memperhatikan Donghae.

"Eh? Aku kira kau sudah berhenti merokok."

"Ya, dan tidak berhasil." Donghae memberinya senyum tipis saat merasakan gadis itu mengapit lengannya. "Aku terlalu lemah untuk menolak godaan."

Eunseo tertawa kecil. Menganggap apa yang dikatakan Donghae hanyalah lelucon biasa. "Benarkah? Tapi kau tidak terlihat seperti itu."

Selanjutnya Eunseo membiarkan langkahnya sejajar dengan Donghae walaupun jawaban tak kunjung terdengar dari pria itu. Ia toh tak mempermasalahkannya lebih lanjut.

Karena ia tidak tahu, bahwa lelucon Donghae itu benar.

.

"Mmh.."

Tubuh gadis itu terus menggeliat di bawahnya. Tak kuasa menahan desahan ketika Donghae bergerak semakin dalam. Sementara pikiran Donghae sendiri seolah berada di tempat lain. Berulang kali ia mencoba mengusik bayangan-bayangan tentang kejadian sepuluh tahun lalu yang selalu muncul tiap kali ia berhubungan badan dengan dengan wanita manapun.

"Ah—Donghae.."

Tak bisa dipungkiri bahwa setelah malam itu, ia tak bisa mempercayai dirinya lagi. Sebelumnya, ia masih bisa mempercayai hal-hal seperti alasan rasional ataupun sebuah keadilan. Namun hal semacam itu tak berlaku untuk suatu hal bernama hasrat. Donghae hanyalah pemuda lemah yang mudah terpengaruh. Ia akhirnya mengakui itu.

Karena meskipun sekarang, ketika ia menutup mata. Yang bisa ia lihat hanyalah siluet Hyukjae pada malam itu. Tak peduli seberapa banyak wanita yang pernah ia tiduri, tak peduli berapa bulan atau tahun yang berlalu, ia masih tak bisa menemukan sebuah kepuasan lebih dari apa yang ia rasakan malam itu.

.

"Kita akhiri saja sampai disini,"

Donghae tersentak ketika tiba-tiba suara Eunseo memecah keheningan sebelumnya. Ia perhatikan gadis itu, mengabaikan asap yang mengepul dari rokok di sela jarinya.

"Aku pikir sikapmu selama ini terlalu dingin padaku. Aku bahkan tak tau sebenarnya kau menyukaiku atau tidak," Eunseo mengenakan kembali pakaian miliknya tanpa sedikitpun berbalik menatap Donghae yang terduduk dipinggiran ranjang. "Aku sudah duapuluh enam tahun. Aku ingin segera menikah, dan kau tidak bisa memberi jaminan apapun padaku dengan hubungan ini."

Kini gadis itu berbalik setelah memakai lengkap pakaiannya. "Maka dari itu, kita putus saja. Maafkan aku.."

Donghae tertegun sejenak sebelum menundukkan kepalanya. "Kau benar," Ia beri gadis itu senyuman terakhirnya dan berucap. "Selamat tinggal."

Detik berikutnya ia hanya mendengar derap langkah Eunsoo kemudian ia merasakan panas menjalari pipi kirinya. Gadis itu terisak setelah menamparnya.

"Kau memang tidak mencintaiku!" Eunseo berteriak dengan air mata yang mengalir, gadis itu kemudian memunguti barang-barangnya sebelum menutup pintu hotel dengan suara berdebam. Meninggalkan Donghae yang masih terduduk diam.

Ia menyesap rokoknya sekai lagi. Menghela napas lelah.

Laki-laki sepertinya… memang tidak berguna.

.

Donghae memasuki apartemen miliknya dengan perasaan lelah. Hawa musim gugur tak pernah membuatnya merasa baik. Ia melewati ruang tengah setelah menaruh tas kerjanya diatas sofa hendak menuju dapur, sebelum maniknya menangkap secarik kertas yang tertempel di permukaan kulkas dengan magnet yang menahannya. Dahinya mengerut sekilas.

Donghae, ini Ibu.

Ibu membelikanmu beberapa buah-buahan di dalam kulkas. Ibu juga sudah memasakkanmu makan malam yang Ibu taruh di microwave. Setelah pulang bekerja kau bisa memanaskannya.

Ibu sudah menghubungimu tadi, tapi ponselmu mati. Jadi karena sudah hampir malam Ibu memutuskan pulang. Ohiya, kau mendapatkan surat, sebenarnya sudah sekitar seminggu yang lalu, tapi Ibu lupa memberikannya padamu. Maafkan Ibu. Sebenarnya sedikit aneh kenapa mereka mengirimkan surat itu ke rumah kita bukan ke apartemenmu. Mungkin ia teman lamamu. Ibu menaruhnya diatas meja makan.

Ya sudah ya, makan yang banyak anakku, Ibu mencintaimu.

Untuk pertama kalinya dalam seminggu ini, senyum di bibirnya mengembang. Perlakuan sederhana dari Ibunya selalu membuat hatinya menghangat, meskipun angin musim gugur bertiup kencang diluar sana.

Donghae menghabiskan beberapa menit untuk meracik kopi ala kadarnya. Meniup-niup sekilas kemudian meneguknya pelan. Meresapi rasa hangat yang mengalir melewati kerongkongannya yang terasa kering. Matanya melirik secarik amplop diatas meja makan. Surat untuknya. Melangkah mendekat, ia meraih amplop itu untuk melihat siapa pengirimnya.

Detik berikutnya, ia tersedak kopi buatannya sendiri.

Dari : Choi Siwon

Donghae terduduk lemas di kursi meja makan. Cangkir kopinya ia cengkram erat. Ia tersenyum sinis mengetahui bahwa hidup seolah mengejeknya. Ia sangat lelah. Namun masa lalu seolah-olah tak pernah mau melepaskannya.

Kenapa.. kenapa Siwon mengirimkan surat untuknya?

.

Langit sudah cukup gelap saat ia sampai di depan bangunan ini. Rumah keluarga Hyukjae—gedung dua lantai dengan lantai dasar dijadikan sebagai kedai makanan. Ibu Hyukjae yang berjualan dahulu. Ia bahkan masih ingat jelas bagaimana rasa masakan wanita itu.

Semalaman ia tidak bisa tidur. Surat dari Siwon untuknya teronggok sampai pagi di meja makan. Segelnya masih utuh karena Donghae tak punya keinginan untuk membukanya. Itulah mengapa ia berada disini. Ia ingin Hyukjae berada disisinya. Ia ingin tahu apa yang takdir inginkan dari mereka berdua dengan kematian Siwon lebih dari seminggu yang lalu. Tak peduli tentang pengakuan laki-laki itu tempo hari, ia tetap melangkahkan kakinya untuk memasuki bangunan itu.

"Maaf kita sudah mau tutup—"

Ia menangkap keterkejutan dari ekspresi muka Hyukjae. laki-laki yang tengah mengenakan apron coklat tua itu menatapnya sejenak, sebelum berhasil menguasai emosinya. Hyukjae tersenyum.

"Donghae?"

.

"Aku tidak pernah berpikir kau bisa datang kesini."

Hyukjae menaruh secangkir kopi dihadapan Donghae yang memilih duduk di kursi tepat di depan meja pantry.

"Maaf jika aku datang di waktu yang tidak tepat."

"Tak perlu meminta maaf." Hyukjae tersenyum. Donghae membalasnya sebelum mengalihkan pandangan kearah luar.

"Bangunan ini—dekat dengan SMA kita."

"Ya. Jika kau keatas, kau bisa melihat lapangan bolanya dari sana."

Donghae tersenyum sendu. Tempat itu terlalu banyak menyimpan kenangan tentang mereka bertiga.

"Aku pikir Sunbae sudah tidak tinggal lagi disini."

"Hmm? Awalnya begitu," Hyukjae memantik korek api untuk menyalakan rokok ditangannya, menghisapnya sejenak. "Aku tinggal di Busan beberapa tahun untuk bekerja. Namun Ibuku sakit, jadi aku kembali kesini."

"Eh? Lalu Ahjumma.." Donghae baru sadar jika ia tidak melihat eksistensi lain di rumah ini sejak tadi. Hyukjae mengalihkan pandangannya kelain arah dan tersenyum.

"Ibu meninggal tahun lalu."

Manik Donghae melebar. "A-aku turut berduka cita."

Hyukjae menggelengkan kepalanya seraya tertawa pelan. "Tidak apa-apa, tidak perlu berlebihan," Ia masih tersenyum ketika menghisap rokok ditangannya sekali lagi. "Semua orang pasti mati 'kan?"

Sedikitnya, Donghae amat tertohok. Kematian Siwon kembali pada ingatannya.

"Jadi," Hyukjae menghembuskan asap rokok itu ke udara. "Apa yang membuatmu datang kesini, Donghae?"

Donghae terdiam sejenak sebelum meraih sepucuk amplop itu dari saku mantelnya. Menyerahkannya kepada Hyukjae.

"Siwon Sunbae mengirimkanku sebuah surat. Tertanggal 4 Desember." Ia menatap Hyukjae sekilas. "Aku pikir ia menulisnya sebelum kecelakaan itu."

Hyukjae menimang-nimang amplop itu sesaat. Ekspresinya tak terbaca.

"Begitukah?" Kemudian ia tersenyum, menyerahkan amplop itu kembali kepada Donghae. Membuat laki-laki yang lebih muda menatapnya.

"Kau tidak akan membacanya?"

"Surat itu tertuju padamu, kenapa aku harus membacanya?" Hyukjae tersenyum sebelum membalikkan badannya, terlihat seperti memunggungi Donghae. Laki-laki itu menyandarkan tubuhnya pada meja pantry, masih menikmati rokoknya.

Donghae menatap punggung itu sejenak dengan sendu. "Kalau begitu biar aku bacakan untuk kita berdua." Ia robek pinggiran amplop itu, menghirup napas sejenak sebelum membacanya cukup keras.

"Apa kabar, Donghae? Aku menulis surat ini untukmu karena aku ingin kau tahu satu hal. Mungkin ketika kau membacanya, aku sudah tidak ada lagi di dunia ini,"

Donghae merasakan suaranya bergetar. Ia menelan ludahnya sekali sebelum melanjutkan. Sedangkan Hyukjae masih bergeming.

"Entah menghilang, atau mati—aku tidak tahu, semua tergantung bagaimana Hyukjae memutuskan. Aku ingin memberikan seluruh hidupku padanya."

Kali ini bayangan Siwon yang tengah tersenyum sepuluh tahun lalu seolah melintas. Baru sekarang ia menyadari bahwa ia amat kehilangan sosok laki-laki itu.

"Jika aku pergi dan meninggalkannya sendiri tertinggal disini, dan jika ia masih tidak bahagia setelah kepergianku, kau harus menolongnya. Karena meskipun aku menjadi alasannya menderita selama ini—kau juga separuh bertanggung jawab akan hal itu. Maafkan aku karena membuatmu melangkah sejauh itu, Donghae-ah.."

Donghae menatap surat itu sejenak sebelum menaruhnya kembali diatas meja. Ia terdiam. Ruangan itu terasa senyap karena baik keduanya tidak ada yang angkat bicara.

"Tch, laki-laki itu."

Donghae mendongak memperhatikan Hyukjae yang masih belum berbalik menatapnya. Memperhatikan bagaimana punggung laki-laki itu sedikit bergetar. Donghae menghelas napas sebelum kemudian ia mengingat satu hal. Ia tatap punggung lai-laki itu lagi.

"Tapi Sunbae, sebelumnya kau mengatakan padaku bahwa—bahwa kau membunuh Siwon Sunbae," Donghae menangkap jelas bagaimana Hyukjae sedikit menolehkan kepalanya. "Apa itu benar?"

Hyukjae menundukkan kepalanya sebentar sebelum berbalik menatap Donghae. "Lebih tepatnya—aku membiarkan ia mati," Ia tersenyum. "Aku bertemu dengannya pada hari kecelakaan itu. Itu adalah pertemuan pertama kami setelah kelulusan. Ia memintaku untuk bertemu—tidak tahu malu 'kan? Heh, tapi aku tetap datang menemuinya."

.

"Aku akan segera menikah."

Hyukjae sempat merasakan keterkejutan menguasai dirinya beberapa saat sebelum akhirnya ia mendongak untuk menatap Siwon.

"Aku dijodohkan orang tuaku dengan gadis itu."

"Ah," Hyukjae memaksakan senyumannya kepada laki-laki itu. "Selamat kalau begitu. Semoga kalian bahagia."

Saat itu Siwon tidak tersenyum setelah mendengarnya. Ia menghirup napas sebentar sebelum kembali menatap Hyukjae. Barulah ia tersenyum.

"Karena itu, Hyukjae, aku ingin kau membuat sebuah keputusan."

Hyukjae memiringkan kepalanya tidak mengerti. "Keputusan.. apa?"

Kali ini Senyum Siwon berubah menjadi senyuman lembut yang selalu ia sukai—dulu. Dulu sekali.

"Apa kau ingin hidup bersama denganku? Hanya kita berdua. Atau kau ingin aku pergi selamanya dari hadapanmu?"

Hyukjae menatapnya tak percaya. Ada setitik harapan yang ia rasakan namun bersamaan dengan itu pula—ia terlalu takut.

"Kau bercanda 'kan, Siwon?" Ada getar dalam nada bicaranya.

"Apa aku terlihat seperti sedang bercanda?" Siwon masih tersenyum. Ia melangkah lebih dekat kepada Hyukjae. "Aku ingin memulai dari awal, atau pergi dan mengakhiri ini semua."

Ia tatap mata lelaki itu lebih dalam. Ia tahu Siwon tidak berbohong, namun ia menolak untuk mengikuti kata hatinya. Ia berdecih dan berbalik membelakangi Siwon. Melewatkan senyum pemuda itu yang perlahan memudar.

"Lakukan apapun yang kau mau. Aku tidak peduli."

Tidak. Hyukjae hanya takut terjatuh kembali. Ia takut ketika harapan itu akan berbalik menyakitinya. Melukainya. Ia bahkan belum sembuh sepenuhnya dari luka yang laki-laki itu torehkan dahulu. Ia terlalu takut untuk percaya.

"Begitukah? Aku mengerti."

Dan itu adalah suara terakhir Siwon yang ia dengar sebelum ia benar-benar melangkah pergi dan tidak berbalik.

.

"Jadi, aku tidak tahu apakah ia tersenyum atau marah ketika aku meninggalkannya. Aku tidak tahu." Hyukjae menghisap rokoknya lagi setelah tuntas bercerita. Donghae bisa melihat setitik kesedihan dimata besar itu. Ada perasaan sesak saat ia tahu bahwa selamanya, Hyukjae tak akan bisa mengabaikan Siwon. Meskipun begitu ia lega, karena Hyukjae tidak benar-benar membunuh Siwon. Laki-laki itu pergi dengan keinginannya sendiri.

"Laki-laki itu—apa yang sebenarnya ia pikirkan?" Hyukjae tersenyum sarkatis. "Dia selalu terlihat hebat. Dia pintar, pandai bergaul tapi selalu tenang dalam situasi apapun.

"Aku tidak pernah membayangkan bahwa ternyata—ia punya beban tersendiri di pundaknya. Dia selau menjadi apa yang keluarganya inginkan. Tak peduli hatinya berteriak untuk hal lain. Dia tak bahagia seperti yang terlihat. Aku tidak pernah benar-benar menyadarinya. Haha.

"Karena itulah aku mengaku padanya. Di ruang ganti klub," Hyukjae sedikit memberi jeda. Membuat laki-laki yang lebih muda menatapnya. "Aku memberitahunya bahwa aku menyukainya."

Donghae tertegun.

"Ya, hari itu," Hyukjae meremas pelipisnya pelan. Menekan nada pedih dalam suaranya. "Kami hanya memiliki sesuatu untuk dibicarakan dengan anggota klub tingkatan akhir lainnya. Hanya ada aku dan Siwon saat pertemuan itu selesai. Aku mengaku padanya, tapi aku tidak berharap untuk sebuah balasan, aku hanya ingin—jujur padanya."

.

"Maafkan aku, Siwon-ah. Aku tahu kau sudah mempunyai pacar tapi—aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku sebelum kelulusan." Hyukjae menggigit bibirnya gugup. Tak berani menatap Siwon di hadapannya. Laki-laki itu terdiam beberapa saat. Hyukjae bersiap untuk meminta maaf dan pergi sebelum kemudian ia mendengar Siwon bersuara.

"Jadi kau akan membiarkan aku melakukannya 'kan?"

"Eh?"

Sedetik kemudian Hyukjae menemukan dirinya terperangkap diantara tubuh Siwon dan dinding. Pemuda itu menyeringai. "Biarkan aku melakukannya. Kau menyukaiku 'kan?"

Hyukjae tak sempat menjawab saat merasakan pemuda itu meraih bibirnya dengan kasar. Menghimpitnya semakin dekat ke dinding dan merasakan pemuda itu menjelajahi setiap inci permukaan kulitnya lebih jauh.

.

"Dia seperti orang lain saat itu," Tatapan Hyujae mengeras, ia beri rokok ditangannya hisapan terakhir sebelum mematikan puntung rokoknya dan membuangnya ke tempat sampah. "Dan kau tahu apa yang terjadi setelahnya, Donghae-ah."

"Sunbae—" Donghae meremas kedua tangannya bersamaan. "Apa yang harus aku lakukan.." Rasa bersalahnya terlanjur membuatnya dihantui mimpi buruk selama bertahun-tahun. Dan kini, ia tidak akan berlari lagi.

"Apa yang terjadi waktu itu, aku tidak berharap untuk kau maafkan tapi—setidaknya beritahu aku, apa yang bisa aku lakukan untuk menebusnya?" Untuk membuatmu menerima perasaanku.

Hyukjae menatapnya cukup lama. "Benarkah?" Ia berjalan memutar meja pantry untuk selanjutnya berdiri di belakang pemuda itu. "Kalau begitu—"

Donghae menegang saat merasakan tangan Hyukjae menyusuri pundaknya dan berakhir memeluknya. Napas hangat Hyukjae terasa tepat disamping telinganya. Dan ketika ia hendak menoleh, Hyukjae berbisik—

"Kenapa kau tidak mati juga?"

.

.

To Be Continued


Ada yang bisa nerka ngga sebenernya perasaan SiHae ke Hyukjae itu perasaan seperti apa? saya juga bingung haha

Banyak yang nanya kenapa Siwon jahat. Engga kok—Siwon cuman khilaf lol seenggaknya di chapter ini kalian tahu kalau Hyukjae mencintai Siwon. Dan Hyukjae ngga ngebunuh Siwon—secara langsung. Dari manganya, saya sih nangkepnya kecelakaan Siwon itu terencana. Jadi terserah kalian mau berspekulasi bagaimana /grin

chapter depan adalah final chap. Saya ngga menjanjikan ending yang bahagia karena dari awal ini bukan cerita yang manis. Tapi bukan berarti sad ending juga. Saya menyukai plot manga ini karena saya ngambil pesannya dari sisi yang berbeda. Jadi saya harap kalian juga sama.

ngomong-ngomong, Happy EunHae Day! /throws confetti

.

Review?

Regards, Nari.