.
.
Disclaimer : ©Masashi Kishimoto.
.
Author : Terume10.
.
Rated : T
.
Pair : Naruto x
.
Genre : Adventure / Fantasy / Friendship.
.
.
.
Konohagakure no sato atau bisa juga disebut Desa yang tersembunyi di daun, sebuah Desa yang letaknya jauh didalam hutan dan berada dibawah kaki bukit yang saat ini dijadikan monumen Hokage, tempat dimana semua wajah yang telah menjadi Hokage terukir disana. Terlihat seorang bocah berambut kuning agak panjang dengan tanda lahir kumis rubah di pipi kanan kiri yang bisa disebut Naruto tengah duduk di dekat sungai yang mengalir tepat di dalam sebuah hutan. Tangan kecilnya tengah menggenggam sebuah kunai yang sedari tadi ia tancapkan kemudian mencabutnya kembali hingga berulang kali, kepalanya menunduk seolah tak ingin menampakan sebuah bola mata birunya.
Detik berganti menit, dan menit sudah berganti jam. Posisinya tak berubah sejak tadi ia datang ke hutan ini. Sebuah tetes air mata mulai turun dari matanya yang langsung jatuh ke arah kakinya, tangannya menggenggam erat sebuah kunai yang menancap ditanah, mencabut kunai tersebut dan kemudian melempar kunai itu ke sebuah pohon yang berada di seberang sungai. Wajahnya yang sedari tadi menunduk sudah berubah melihat kearah depan dimana sebuah kunai yang ia lempar menancap di batang pohon, memikirkan kembali masalah yang menghinggapi pikirannya akhir-akhir ini. Dia memang seorang bocah kecil, namun ia mengerti untuk tau tatapan orang-orang Desa yang mereka berikan kepada dirinya. Tatapan kebencian, marah dan lain sebagainya. Bahkan tak hanya satu atau dua orang membicarakannya secara blak-blakan tentang dirinya saat di hadapannya. Memikirkan kembali apa yang salah dengannya, jika memang Naruto adalah jelmaan Kyuubi, apa bisa dia menolak takdir yang sudah di berikan Kami-sama untuknya ? Bahkan ibunya sendiri mempertarukan nyawanya untuk menyegel Kyuubi itu dalam dirinya. Menyelamatkan banyak orang agar tau menerima amukan Kyuubi saat itu. Karena Kyuubi, ibunya harus mati. Tak bisa Naruto selayaknya orang-orang di Desa. Bahkan Naruto tak tau seperti apa wajah ibunya.
Setetes demi setetes air mata terus keluar dari matanya, membasahi wajah putihnya saat ia harus mengingat hal seperti itu. "Kenapa... Kenapa semua ini harus terjadi padaku, bahkan menjadi adik Nii-chan saja aku selalu menerima perlakuan yang tidak pantas untuk bocah sepertiku" tangannya bergetar saat Naruto berteriak, terlihat burung-burung yang hinggap dipohon pergi entah kemana, merasa terganggu akan teriakan Naruto. Perlakuan warga Desa kepada Naruto seakan tak berhenti, disaat ia terus dihujat akan jelmaan Kyuubi, ia juga harus menerima gosip anak pungut dari warga Desa 'Kenapa si Shisui mau menerima dia sebagai adiknya ? Apa ia tak tau kalau bocah itu jelmaan Kyuubi' 'Hei... Bukankah itu bocah Kyuubi, kenapa dia tak mati saja ya ? Padahal gara-gara dia banyak warga Desa mati' seperti itulah semua apa yang ada di kepala Naruto saat ini. Ingin rasanya dia marah, menghajar dan membunuh mereka. Tapi dia bisa apa ? Dia hanya bocah kecil berumur sembilan tahun yang bahkan sangat manja kepada kakaknya.
Tangannya bergerak mengusap air mata yang membasahi wajahnya, kemudian mengambil batu kecil disampingnya dan melemparkan batu kecil itu ke sungai. Kemudian dirinya mencoba membaringkan tubuhnya diatas rerumputan yang hijau, memejamkan kedua matanya dan mencoba menghilangkan pikiran-pikiran negatif di kepalanya, mencoba melupakan semua masalah yang ada. Kedua tangan kecilnya mengusap-ngusap rerumputannya, merasakan kasar dan halus disaat yang bersamaan. Menghirup udara yang masih segar, mendengarkan suara gemercik air yang mengalir di sungai. Merasakan kedamaian untuk sesaat hingga akhirnya Naruto benar-benar tertidur.
Keesokan hari.
Matahari mulai bersinar, embun-embun pagi terlihat di beberapa daun, menetes dari daun satu ke daun lainnya. Terlihat orang-orang mulai keluar dari tempat peristirahatannya untuk memulai aktifitas seperti biasa. Hal yang sama juga terjadi di manshion Uchiha dimana tempat Shisui dan Naruto tinggal. Terlihat Shishui sedang menyiapkan masakan untuk dirinya dan Naruto, walaupun hanya membuat ramen instan saja bukan berarti dia tidak bisa memasak, kesibukannya lah yang membuat dia hanya membuat ramen instan untuk hari ini. Sedangkan di tempat lain yang lebih tepatnya kamar tidur terlihat Naruto yang sedang tertidur pulas dengan bentuk tidur yang sudah tak beraturan. Selimut terselingkap sudah tak menutupi tubuh Naruto, kepala yang seharunya berada di bantal malah sekarang kakinya yang ada dibantal.
Cahaya matahari mulai masuk menyeruak kedalam kamar Naruto, cahaya yang masuk dari jendela disamping tempat tidur langsung menuju muka Naruto. Tidurnya terganggu, matanya mulai terbuka merpelihatkan bola mata biru yang sangat indah untuk di pandang, Naruto mulai bangun dari tempat tidur, duduk di pinggirannya mengumpulkan tenaga yang ada. Setelah dirasa cukup Naruto berdiri keluar dari kamar tidurnya sambil mengucek matanya yang masih terlihat sayu. Melihat sang kakak sedang menyiapkan makanan kesukaannya, dengan wajah yang sudah terlihat segar Naruto langsung pergi ke meja makan, mengambil sumpit yang ada di samping mangkok ramen instan itu dan kemudian mulai mengambilnya dengan sumpit. Namun belum sampai ramen itu masuk kedalam mulutnya, sebuah tangan besar sudah menyita sumpit yang ada ditangan Naruto "Bangun tidur langsung bersihkan dirimu ke kamar mandi, bukan makan dulu" ucap Shisui sambil memasang wajah datarnya.
Mendengar ucapan sang kakak Naruto hanya bisa memasang wajah kesalnya, walaupun tiap hari sudah di peringatkan oleh Shisui namun Naruto terus saja melakukan kebiasaannya itu. Bukannya dia malas, Naruto adalah anak yang manja kepada kakak satu-satunya ini, bahkan warga Desa menyebutnya tuan putri karena sifatnya kepada kakanya itu. Menurutnya ia hanya ingin melakukan hal menyenangkan kepada sang kakak, bergembira, dan tertawa bersama. Menutupi semua sifatnya yang berbanding terbalik dari yang bisa Shisui duga. Seorang bocah yang pintar, bahkan di usia yang baru tujuh tahun dia sudah membangkitkan sharingan 2 tomoenya.
"Yayaya Nii-chan aku sudah tau itu, kata-kata seperti itu sudah kau sebutkan setiap aku bangun"
"Terus kenapa kau tak melaksanakannya hmmm ?" alis Shisui berkedut yang memunculkan perempatan di dahinya, ekspresi jengkel sudah jelas terpasang diwajahnya. Mendengar pertanyaan dari Shishui membuat Naruto berpikir, dengan jari telunjuk menempel di kepala seakan sedang memikirkan hal yang serius "hmm... Apa ya ? Lupa mungkin" ucapnya seraya pergi ke kamar mandi.
Mendengar jawaban sang adik yang begitu enteng membuat sebuah perempatan kembali muncul di dahinya, namun sedetik kemudian ekspresinya berubah lagi, datar seperti Uchiha yang lainnya "Naruto aku pergi dulu, kau jangan lupa latihan seperti biasanya"
"Yaa... Tenang saja, aku akan berlatih dengan Sasuke nanti" ucap Naruto dengan mulut penuh busa dari sikat gig
#Uknown Place
"Katon : Gokakyu no Jutsu" setelah saat itu juga Sasuke menyemburkan bola api dari mulutnya menuju kearah Naruto yang tak jauh dari sana. Sedangkan Naruto melihat sebuah bola api yang siap membakar dirinya langsung membuat segel tangan dengan cepat.
"Suiton : Suijinheki" seperti hal nya Sasuke yang mengeluarkan bola api dari mulutnya, Naruto juga melakukan hal sama. Sebuah jutsu air ia semburkan dari mulutnya. Sebuah jutsu air yang langsung membentuk dinding air yang sedikit melengkung, menyelamatkannya dari bola api milik Sasuke.
Kedua jutsu yang bertabrakan itu langsung lenyap menjadi kabut tipis, "Dia menghilang" meilhat musuh didepannya menghilang Sasuke langsung mengaktifkan sharingan dua tomoenya sama seperti Naruto. Mengedarkan pandangannya ke segala arah Sasuke mencoba mencari Naruto. "Atas.. Kanan... Kiri..." Sasuke terus waspada dengan sebuah kunai yang terus ia pegang "Belakang..." ucap Sasuke sambil memutarkan tubuhnya menghadap belakang. Benar saja apa yang dipikrkan Sasuke, ia melihat Naruto dengan sebuah kaki yang siap menendang tubuhnya. Tanpa pikir panjang Sasuke langsung membuat kedua tangannya menyilang untuk menahan tendangang Naruto.
Boaghuh...
Sasuke langsung terlempar beberapa meter kebelakang setelah menerima tendangan dari Naruto. Namun dirinya masih bisa berdiri karena melakukan pertahanan dengan tangannya. "Katon : Endan" belum sempat Sasuke melakukan persiapan, Naruto dengan cepatnya mengeluarkan jutsu api dari mulutnya. Beberapa peluru api keluar dari mulut Naruto langsung menyerang kearah Sasuke. Matanya masih menampakan sharingan yang aktif, dengan itu Sasuke dengan jelas bisa melihat jelas jurus api milik Naruto yang seolah menjadi lambat. Sasuke menghindari semua peluru api yang mengarah kearahnya, namun sesaat kemudian Naruto sudah muncul didepannya. Dengan tangan yang sudah mengepal siap meninju Sasuke.
Boughd...
Sasuke terpental kebelakang setelah mukanya menjadi sasaran tinju Naruto. Dia sudah salah mengira Naruto, Sasuke hanya bisa merutuki keasalahannya karena hanya memperhatikan jurus Naruto tanpa memikirkan tindakan Naruto yang selanjutnya. Sedangkan Naruto melihat Sasuke yang masih tergeletak langsung kembali berlari mendekat kearah Sasuke bersiap menendang kepalanya dengan sekuat tenaga. Namun untuk kedua kalinya Sasuke kembali membuat tangannya sebagai penghalang untuk tendangan Naruto namun membuatnya terseret kebelakang.
"Kagebunshin no jutsu" Naruto menyiptakan dua klon dirinya, yang kedua langsung berlari kearah Sasuke yang sudah bangun dan sudah menyiapkan kuda-kuda bertarungnya. Mata Sasuke dengan lincah melihat semua gerakan klon Naruto dan terus mengimbanginya dalam adu taijutsu. Melihat Sasuke sibuk mengahadapi klonnya Naruto langsung mengaktifkan sharingannya, Berlari kearah Sasuke yang sudah berhasil membuat klonnya itu menghilang.
Naruto mencoba menendang kepala Sasuke namun berhasil di tangkap. Tak tinggal diam Sasuke yang masih memegang kaki kanan Naruto langsung menendang kaki kirinya yang masih bertumpuh pada tanah. Namun Naruto menghindarinya dengan melompat kecil, dan kemudian mengarahkan kaki kirinya yang bebas itu kearah kepala Sasuke dengan memutarkan tubuhnya. Tendangannya berhasil mengenainya, namun seketika itu juga tubuh Sasuke berubah menjadi sebuah batang kayu "ciihhh... Kawarimi". Naruto membetulkan posisinya, melihat Sasuke dengan kunai yang mengayun kepadanya membuat Naruto harus susah payah menghindar kearah kiri dari serangan kejutan itu. Tangan Sasuke terus mengayunkan kunai itu kearah Naruto, namun Naruto yang yang sudah menggenggam sebuah kunai terus menangkisnya.
Ctank... Trank... Ctank...
Sebuah bunyi yang berasal dari dua buah senjata yang terus menerus bertabrakan. Terlihat juga percikan-percikan yang keluar setelah kedua benda tersebut beradu. "Hahh... Hahh... Hebat seperti biasa heh" ucap Naruto dengan nafas yang tersenggal-senggal. Keduanya mengambil jarak, mengumpulkan sedikit kekuatannya untuk kembali bertarung "Kau juga hah... Hah...".
"Bagaimana kalau kita akhiri dengan sebuah pukulan hej ?" mata Naruto menatap Sasuke dengan intens, dan dengan mulut yang tersenyum disudut bibirnya dia mencoba membuat kesepakatan untuk mengakhiri latihan mereka. "Kurasa itu patut dicoba" sama seperti Naruto, senyum kecil nampak disudut bibirnya yang baru saja menyetujui ajakan Naruto.
Dengan Nafas yang masih tersenggal-senggal, keduanya saling menatap dengan mata sharingannya. Secara bersamaan kunai yang mereka pegang jatuh ketanah. Angin berhembus, menerpa kedua bocah yang akan segera mengakhiri pertarungan. Dedaunan juga terlihat terjatuh dari tangkai pohon.
"Majulah Sasuke/Naruto" ucap mereka bersamaan sambil berlari dengan tangan mereka yang mengepal. Hingga tinju mereka sama-sama baradu ke muka masing-masing yang membuat merekan terpental kebelakang.
"Hei Naruto apa yang sedang kau baca itu ?" sebuah pertanyaan muncul dari mulut Sasuke saat melihat sahabatnya membuka buku-buku pemberian Shisui. Sedangkan Naruto yang diberikan pertanyaan hanya terus menatap buku itu tanpa mempedulikan pertanyaan Sasuke. Naruto fokus membaca setiap kata yang ada didalam buku itu.
Saat ini mereka sedang berada di kediaman Naruto dan Shishui setelah latihan yang mereka lakukan tadi. Sasuke yang sedari tadi dicuekin Naruto langsung mendekat kearahnya dengan botol minuman yang berada ditangannya. Melihat buku yang Naruto baca, kemudian kembali menegak minumannya itu. Dalam pikirannya hanya ada kata membosankan saat melihat Naruto membuka buku tebal yang hanya ada tulisan itu. Berjalan menjauh dari Naruto, ia kemudian duduk di kursi di seberang Naruto saat ini membaca. "Hei apa kau mendengarku ? Memang apa bagusnya buku yang tak ada gambarnya seperti itu ?" Sasuke membuka suara kembali, berharap untuk saat ini Naruto menjawab pertanyaannya. Naruto menoleh kearah Sasuke "Buku ini adalah buatan ayah Nii-chan, disini terdapat banyak yang bisa dipelajari untuk menjadi ninja yang hebat" Naruto menjawab pertanyaan Sasuke, sebelum ia kembali menatap buku yang ia pegang "Disini ada yang bisa dipelajari tentang chakra, kontrol chakra, hingga tentang ninjutsu, taijutsu, kenjutsu, genjutsu" Naruto kembali menjelaskan detail tentang buku yang ia baca kepada Sasuke tanpa melihatnya.
Mendengar jawaban dari Naruto membuat Sasuke langsung bamgun dari tpat duduknya, ia berjalan menghampiri Naruto dan ikut duduk disamping Naruto "Benarkah ? Jadi apa ada tenteng jutsu Katon juga ?" ucap Sasuke sambil tangannya memilah-milah tumpukan buku di depannya.
"Hmmm... Tentu saja ada, maka dari itu berhentilah menggangguku. Lebih baik kau ikut membaca bersamaku supaya pengetahuan kita bertambah" Naruto hanya mendengus kesal akan sifat sahabatnya itu, sebagai seorang Uchiha setidaknya ia terlalu banyak bertanya. Walaupun sifat mereka masih seperti anak-anak pada umumnya tapi itu semua berbanding terbalik dengan kemampuan mereka. Dalam hal pengetahuan Naruto lebih unggul dari Sasuke karena hobinya membaca semua buku milik Shishui, kemampuan mereka juga diatas rata-rata. Mungkin mereka sudah bisa menjadi genin di umurnya yang sembilan tahun itu kalau Naruto dan Sasuke mau masuk akademi sebelumnya. Mereka juga bisa menjadi chunin karena kemampuan mereka saat ini karena mereka membakitkan sharingan di usia yang cukup dibilang muda itu. Namun meraka menolak saat Itachi dan Shisui mencoba memasukannya ke akademi. Alasannya mereka masih ingin merasakan yang namanya bermain sesuka hati mereka, alasan yang cukup lucu untuk disebut sebagai alasan. Bahkan itachi lulus akademi di usianya yang baru tujuh tahun.
Namun apapun alasannya mereka tetap anak kecil seperti anak yang lain, masih ingin merasakna kebebasan. Bermain bersama, walaupun yang mereka lakukan hanyalah berlatih, berlatih, dan berlatih. Didalam pikiran Naruto saat ini hanyalah ingin menjadi kuat. Semua pikiran itu terus berada di kepalanya saat ia berumur 7 tahun, saat dimana ia dipaksa masuk kedalam organisasi Danzo.
.
.
#Flaahback.
.
.
Didalam ruang Hokage terlihat beberapa orang sedang berdiskusi, masalah yang saat ini mereka bicarakn adalah tentang keberadaan Naruto saat ini.
"Hokage anda harus membiarkan Naruto dalam pengawasanku, jika ia terus seperti itu, dia tidak akan ada perkembangan. Kyuubi ada di tubuhnya, aku akan membuatnya menjadi senjata terkuat di Konoha" sebuah usul terucap dari mulut Danzo, pandangannya menatap Naruto yang sedang bersembunyi di belakang Shishui. "Aku setuju dengan anda Danzo, kupikir dia juga akan menjadi senjata yang kuat untuk melindungi Desa ini" ucap Minato dengan wajah datarnya.
"Aku tak bisa menerima ini, dia hanya anak kecil bukan senjata" Shishui yang sedari tadi diam akhirnya membuka suara, nampak raut wajah marah terpampang diwajahnya. "Aku setuju dengan Shishui, kita tidak bisa memanfaatkan Kyuubi didalam Naruto. Dia hanya anak kecil yang bisa dijadikan senjata. Dan kau Minato, ada apa denganmu ? Kenapa kau menjadi seperti ini ?" ucap Hiruzen.
"Tak ada yang salah denganku Sandaime-sama, semua ini hanya untuk kebaikannya. Tingkahnya saat ini mengkhawatirkan. Kemarin dia habis membuat Menma babak belur karena dihajarnya, kita harus memperbaiki sifatnya itu dengan menjadikannya senjata bagi Konoha" ucap Minato sambil melihat Naruto yang sedari tadi diam. Merasakan tatapan mengarah kepadanya, Naruto hanya bisa terus bersembunyi dibalik badan san kakak.
"Aku tak akan membiarkan ini, sebagai kakaknya akulah yang berhak menjadikannya seperti apa, aku ingin dia tumbuh seperti anak yang lainnya. Aku rasa sudah cukup pembicaraan ini aku akan pergi. Aku menghormati anda sebagai Hokage saat ini, tapi aku tak bisa membiarkan adikku menjadi senjata Konoha. Aku akan menghadapi anda jika anda terus memaksa Naruto tak peduli jika anda seorang Hokage " ucap Shishui yang sudah mulai geram akan semua yang mengarah kepada adiknya.
"Aku juga orang yang akan kau hadapi jika berani menyentuh Naruto untuk menjadikannya senjata, lagipula jangan kau ikut sertakan urusan anakmu dengan pekerjaanmu sebagai Hokage. Naruto menghajar anakmu karena ia melindungi dirinya dari anakmu yang selalu mengganggunya" ucap Hiruzen.
.
.
#Flashback Off.
.
.
1 Tahun Kemudian
"Nii-chan, jangan mati aku tak ingin sendiri" Dengan wajah yang sudah dipenuhi air mata Naruto hanya bisa melihat kakak yang di sayanginya terkulai lemas di pinggir sebuah air terjun. Matanya yang sedari aktif dengan sharingan tiga tomoenya berubah menjadi sebuah mata yang bisa disebut mangekyu sharingan, yaitu revolusi dari sharingan. "Naruto, ambilah ini. Ini adalah peninggalan dari ayah. Dia bilang aku harus memberikannya kepadamu karena ini adalah dari ibumu" dengan tubuh yang bisa dikatakan cukup mengenaskan, Shisui memberikan sebuah gulungan jutsu ke Naruto sebelum akhirnya ia menceburkan dirinya kedalam air terjun dibelakangnya "Selamat tinggal adikku, jaga dirimu baik-baik"
.
.
.
To be Continued.
.
.
.
Yoo ane kembali lagi untuk chapter kedua.
Untuk chapter ini mungkin ane rasa juga membosankan untuk dibaca seperti chapter sebelumnya. Jadi harap maklum untuk author pemula.
Untuk orang berjubah hitam dan ayah Naruto, mungkin akan terjawab di chapter-chapter selanjutnya jika masih bisa diteruskan. Jangan lupa riview jika ada masukan atau hanya ingin memberi semangat kepada author baru ini :v
Thanks buat yang udah fav, foll, atau riview, karena itu bisa membuat saya sedikit semangat untuk melanjutkannya.
