Naruto © Kishimoto Masashi.

This is a work of fanfiction. No material profit is taken.


against the sun

A Naruto fanfiction

.

.

Mereka menganugerahkan medali kehormatan kepadanya, juga sebuah promosi kenaikan pangkat dari letnan kolonel menjadi kolonel.

Dia baru berusia tiga puluh empat dan sudah seorang kolonel dengan bakal regimennya sendiri. Berapa banyak orang yang bisa dengan bangga memamerkan insignia baru yang berkilauan, menjadi seorang kolonel bahkan sebelum usianya menginjak kepala empat. Sasuke, setidaknya, tidak yakin dia bisa mengatakannya dengan kebanggaan. Sasuke tak peduli meski capaiannya adalah yang terbesar sejak konflik antarkedua negara dimulai lebih dari satu dekade lalu, atau meski promosi kenaikan pangkatnya adalah pemecah rekor dalam sejarah militer modern mereka. Kolonel termuda, mereka bilang.

Semua capaian itu, promosi yang melejit itu, barangkali tidak akan tercapai jika tidak ada peperangan berkepanjangan itu. Masa-masa perang telah membuktikan sisi terbaik dan terburuk mereka sebagai seorang prajurit: mengizinkan mereka mendemonstrasikan kapabilitas terbaik mereka dan memamerkan jiwa mereka yang bobrok kepada dunia.

Sasuke tidak peduli meski dia adalah kolonel paling muda dengan prestasi paling gemilang. Bagi jutaan nyawa di sisi lain tembok beton itu, Sasuke tak ubahnya seorang pembunuh massal. Kemenangan mereka berarti kekalahan dan kematian bagi yang lain. Tak ada yang perlu dibanggakan darinya, meski prestasinya jauh lebih gemilang dari kakaknya yang jenius itu. Tetapi, barangkali memang Sasuke membayarnya dengan harga yang jauh lebih mahal dari Itachi.

"Itu bukan ekspresi yang seharusnya diperlihatkan seorang perwira yang baru naik pangkat."

Sasuke, yang sedari tadi tekun memelototi selembar sertifikat dan kotak berisi medali kehormatannya, melirik ke arah datangnya suara. Sudah ada kolonel regimennya—atau setidaknya sampai orang-orang jajaran atas sana bisa memutuskan dimana Sasuke akan ditempatkan, karena tidak mungkin dua orang kolonel berada dalam satu regimen—berdiri di ambang pintu ruangannya.

Sasuke mendengus. "Ekspresi seperti apa yang seharusnya kuperlihatkan, Kolonel Hatake?"

Pria yang lebih senior itu beranjak dari ambang pintu dan mengambil duduk di seberang meja Sasuke. "Bangga, mungkin? Sedikit bahagia? Dan Kakashi saja tidak apa-apa. Aku sudah bukan perwira komandanmu," katanya, kemudian, "tidak terasa kau sudah seorang kolonel saja."

Sasuke mendengus. "Kau saja yang payah, tidak lekas naik jabatan." Dia sandarkan punggungnya ke kursi. "Tentu saja aku lebih suka kau menjadi komandanku. Kau selalu bisa mangkir dari tugas."

Kakashi tertawa mendengarnya. "Setidaknya beberapa jenderal menentang promosimu, termasuk ayahmu sendiri. Terlalu muda dan belum cukup pengalaman untuk dilepas memimpin regimen sendiri."

"Puji Tuhan. Tapi tetap saja itu tidak cukup untuk menghentikan promosiku." Percayalah, Sasuke adalah orang terakhir yang bersyukur atas promosi jabatannya sendiri.

"Kurasa kau tidak akan kemana-mana dalam beberapa waktu ke depan, setidaknya selama Letnan Jenderal Uchiha masih punya suara di sana."

Sasuke menghela napas berat. "Aku tahu aku menghormati ayahku dengan alasan yang bagus."

Kakashi tertawa. "Rileks saja. Tidak akan ada banyak pekerjaan untukmu, setidaknya sampai agenda diskusi perjanjian perdamaian selesai." Kakashi bangkit dari kursinya. "Berkat jasamu, bukan? Memukul mundur mereka begitu keras dan memberi kesempatan bagi para penjaga perdamaian itu meyakinkan mereka untuk mengiyakan tawaran gencatan senjata."

Kala itu, mereka masih muda dan sama-sama dimabuk cinta. Selayaknya orang-orang yang termakan tipu daya cinta, mereka juga percaya mereka bisa menaklukkan dunia. Mereka percaya mereka bisa mengalahkan kemustahilan jika bersama. Tetapi dunia punya cara yang kejam untuk menyampaikan pelajarannya, dan Sasuke bukanlah pengecualian.

Di antara kerapuhan hati wanita itu dan kekakuan prinsip Sasuke, tidak ada tempat bagi cinta untuk mereka. Harusnya Sasuke tahu itu. Tetapi Sasuke sudah terlanjur buta dan terlalu egois untuk melakukan sebaliknya. Jadi dengan harapan kosong di dada, mereka menempuh jalan dunia bersama tanpa memedulikan resikonya. Karena masih ada semangkuk sup hangat di pagi hari dan teh oolong di sore hari, Sasuke menutup mata pada retakan-retakan yang mulai menciptakan jarak di antara mereka.

Kini, tujuh tahun sudah berlalu semenjak hari itu, dan tak ada lagi yang tersisa baginya. Sasuke hanya terus melakukan hal terbaik yang bisa dilakukannya: menjadi seorang prajurit. Meski ada kalanya menjalani hidup sebagai seorang prajurit tidak lagi cukup baginya dan rasa penyesalan itu membekapnya kuat-kuat. Ada kalanya hal itu membuat Sasuke bertanya-tanya tentang banyak mengapa dan berbagai bagaimana; apa jadinya dia sekarang jika dulu tanggung jawab atas tugas-tugasnya dan loyalitas kepada keluarganya tidak menghalanginya.

Barangkali dia tidak akan berada di tempat berdarah ini; sudah bermil-mil jauhnya dari suara ledakan granat dan tembakan meriam dan teriakan kepanikan, bau bubuk mesiu yang konstan di udara. Barangkali mereka berdua telah membangun rumah impian mereka: dengan kebun sayur di halaman belakang dan teras yang nyaman dan suara tawa riang anak-anak. Barangkali di dunia yang lain, ada Sasuke yang tidak bodoh dan tidak arogan. Barangkali dan barangkali. Betapa hidup tidak pernah lepas dari pengandai-andaian.

Sudah tujuh tahun yang panjang berlalu; sudah selama itu pula Sasuke kehilangan pandangan tentang apa-apa yang seharusnya dilindunginya.

Mereka bilang, diskusi gencatan senjata akan mulai dijadwalkan dua minggu lagi. Bangunan sementara sudah didirikan di masing-masing sisi batas negara, mengizinkan agenda diskusi dilakukan bergantian di antara kedua belah pihak. Mengapa mereka tidak melakukan diskusi di negara-negara netral di luar sana dan mengapa harus melibatkan anggota regimen empat untuk mengawal salah satu delegasinya, Sasuke tidak habis pikir.

"Apa yang salah dengan melindungi warga negara kita sendiri?" Begitu respon kolonelnya ketika Sasuke menyuarakan keraguannya.

Alis Sasuke terangkat tinggi ketika mendengarnya. "Bukannya PBB punya pasukan khusus mereka sendiri untuk hal-hal semacam ini?"

"Perintah, tidak ada pertanyaan," jawab Kakashi cepat. "Letnan Jenderal Uchiha sendiri yang menugaskan kita dalam pengawalannya, dan itu artinya aku harus menunjuk beberapa anggota pasukan. Ayahmu itu tidak puas hanya dengan lima orang sersan. Jenderal tua sialan itu."

Sasuke memahami dari mana sumber kesangsian Kakashi mengenai siapa pun delegasi yang ditunjuk mewakili negara mereka. Letnan Jenderal Uchiha Fugaku tidak pernah berurusan dengan hal-hal semacam ini. Jadi ketika mendengar perwira tinggi itu sendiri yang menugaskan regimennya untuk turun tangan dalam regulasi pengawalan, Sasuke mau tidak mau turut menyangsikannya.

"Berapa banyak yang diminta? Kau punya informasi mengenai siapa delegasi ini?"

"Setidaknya selusin," jawab Kakashi. Kepalanya digelengkan tak habis pikir. "Selain dia adalah seorang wanita, informasi lain mengenai identitasnya masih dirahasiakan. Hanya beberapa jenderal, termasuk ayahmu, dan pihak PBB yang tahu."

Sasuke, yang tidak memahami detail regulasi PBB yang memusingkan, memutuskan untuk tidak mengomentari kerahasiaan yang terlampau mencurigakan itu. "Kau sudah memilih timnya?"

"Baru beberapa nama, tidak kurang dari letnan satu. Sisanya, kau yang memutuskan."

Sasuke mengerutkan kening. "Kukira, ini perintah untukmu?"

Kakashi menyeringai menang. "Tapi bukan aku kapten timnya."

"Aku? Apa ini perintah langsung atau kau yang terlalu malas melakukannya sendiri?" tuduh Sasuke.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa seorang Hatake Kakashi sangat pandai mencari celah untuk menghindari pekerjaan yang tidak disukainya. Bagaimana pria itu bisa sampai di pangkat kolonel, terlebih di regimen paling penting dalam tubuh militer mereka, Sasuke tidak habis pikir.

Kakashi memutar bola mata. "Keragu-raguanmu terhadap kredibilitasku itu sangat menyakiti hatiku, Sasuke-kun," Kakashi berkelakar, membuat Sasuke mendengus mendengarnya.

Tingkat kesangsian Sasuke praktis meroket berkali-kali lipat. Ini sangat tidak seperti ayahnya. Tetap saja, seorang prajurit tidak mempertanyakan perintah yang datang langsung dari perwira komandan mereka. Tidak ada ruang untuk pertanyaan dan bantahan, tetapi bukan berarti Sasuke harus menyukainya.

Sasuke memahaminya dengan baik—lagipula, dia adalah yang paling mengenal dirinya sendiri; bahwa entah bagaimana, dengan cara apa, pada satu titik dalam kehidupan mereka bersama, Sasuke akan menyakitinya.

Sasuke menyakitinya ketika dia meremehkan hal-hal kecil dalam hidup mereka, ketika dia lupa mengucapkan terima kasih untuk kopi yang lezat pagi ini, apa kau tidur nyenyak semalam, dan bagaimana harimu. Sasuke menyakitinya ketika dia terlalu tenggelam dalam kesibukannya menjadi seorang prajurit teladan; ketika dia gagal menyadari kesedihan dan kesepian yang membayang pekat di sepasang mata hijau itu. Sasuke telah menyakitinya dengan kata-katanya, tindak tanduknya, diamnya, kenihilan aksinya, prinsipnya; dengan satu hal utama yang paling mendefinisikannya: kewajibannya.

Ketika Sasuke lagi-lagi melukainya, tidak ada pelukan dan kecupan yang bisa ditawarkannya. Bahkan tidak sebuah bisikan kecil, "semua akan baik-baik saja, aku di sini untukmu." Sasuke tidak sanggup menjanjikan hal sederhana itu, bahkan kepada orang yang paling berhak mendapatkannya.

Sasuke hanya ingin melindungi, tetapi satu-satunya hal yang berhasil dia lakukan selama ini adalah menghancurkan. Dia telah menghancurkan kebahagiaan wanita itu dan, pada akhirnya, kebahagiaannya sendiri. Sasuke telah menghancurkan ratusan ribu kehidupan orang-orang di luar sana dan semuanya atas nama melindungi.

Siapa yang sebenarnya ingin dia lindungi? Apa yang sebenarnya ingin dia capai? Kedua tangannya telah kotor oleh darah. Hatinya telah sesak dipenuhi dosa. Apa lagi yang bisa dilakukannya?

"Tamu delegasi kita dijadwalkan tiba di lokasi pada jam 1500, Kolonel." Seorang sersan melapor, menginterupsi pengarahan terakhir Sasuke bersama tim beranggotakan sebelas orangnya.

Sasuke melirik jam tangannya yang menunjukkan waktu kurang dari dua jam dari waktu kedatangannya. "Dimengerti."

Ketika jam kedatangan itu sudah semakin dekat, Sasuke membimbing timnya menuju area hanggar pesawat. Mereka tiba di sana tepat sepuluh menit sebelum jadwal kedatangan tamu mereka dan sudah ada Kakashi di sana, bersandar pada dinding hanggar dengan buku favoritnya di tangan. Sasuke yang melihat kehadiran pria itu di sana menaikkan sebelah alis dengan skeptis. Kakashi, yang putaran jam internalnya lebih lambat dua jam penuh dari orang kebanyakan, justru menjadi yang pertama sampai di tempat itu untuk menyambut kedatangan delegasi rahasia mereka.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

"Jangan terlalu terkejut begitu, Sasuke-kun." Seraya mengantungi kembali buku kecil yang dia simpan lebih baik daripada senjata semi otomatisnya, Kakashi menegakkan badan. "Bagaimana mungkin aku tidak penasaran dengan siapa pun yang dianggap begitu penting oleh jenderal kebanggaan kita sampai-sampai harus menurunkan selusin pengawal?"

Sasuke terkadang lupa bahwa Kakashi adalah letnan kolonel kepercayaan Uchiha Fugaku ketika pria itu masih menjadi kolonel di regimen mereka. Antara tangan besi Fugaku dan gaya malas-malasan Kakashi, tidak ada banyak hal yang menandai kemiripan gaya kepemimpinan mereka. Barangkali memang tidak banyak orang yang mengingat fakta signifikan itu. Militer mereka tak ubahnya seperti permainan politik dan adu kekuatan koneksi.

Sasuke paham dari mana rasa penasaran itu berasal. Dirinya sendiri, kalau memang harus jujur, juga sangat penasaran dengan identitas wanita tersebut. Ayahnya, yang minggu lalu akhirnya berhasil dia hubungi, begitu keras kepala menyembunyikan identitas delegasi mereka.

"Kau akan tahu ketika bertemu dengannya, Kolonel Uchiha," begitu katanya lewat sambungan telepon singkat itu.

Dengan panggilan formal itu, Sasuke tidak punya pilihan selain tutup mulut. Seorang prajurit tidak membantah perintah komandannya. Jadi, selama dua minggu sebelum kedatangannya, Sasuke menghabiskan waktunya untuk memberikan pengarahan demi pengarahan kepada timnya.

Selagi menunggu kedatangan helikopter yang membawa delegasi rahasia mereka, Sasuke dan Kakashi kembali berdiskusi serius. Mereka nyaris melewatkan momen ketika seorang wanita melompat dari helikopter yang masih tiga meter jauhnya dari permukaan landasan dengan menggunakan tali suspensi helikopter. Kemudian, dengan gerakan yang jauh lebih gesit dari wanita sipil mana pun yang pernah Sasuke lihat, wanita itu berlari menuju pagar beton yang membatasi landasan pacu hanggar pesawat dan melompat ke atasnya seperti seorang atlit profesional.

Semua orang di sana dibuat terkejut. Dan Sasuke, jantung Sasuke baru saja dicabut paksa dari rongga dadanya.

Delegasi itu seharusnya datang dengan membawa janji-janji perdamaian, sama seperti tujuan kedatangannya ke sana. Tetapi mengapa yang datang justru mimpi buruk terbesar Sasuke?

Di sana, berdiri di bawah terik matahari yang garang, rambut panjangnya yang dikuncir tinggi dan kardigannya yang tidak dikancingkan berkibar ditiup angin gurun yang tak kenal ampun, adalah pemandangan yang paling tidak ingin Sasuke lihat seumur hidupnya: wanita yang masih terus menghantui mimpi-mimpinya itu tidak seharusnya berada di tempat yang penuh kekerasan dan kematian seperti medan perang ini. Tidak seharusnya dua sisi dunianya yang saling bertolak belakang itu bertemu.

Jadi, meski selama ini Sasuke selalu punya kendali kuat atas emosinya, kali ini dia tidak mampu menahan diri untuk tidak berteriak dengan suara yang pecah oleh amarah dan ketakutan. "Apa yang kau lakukan di sini!"

Wanita itu menoleh ke belakang begitu mendengar teriakannya, dan Sasuke tahu, pada detik itu pula, dunianya hancur sekali lagi.