Naruto © Kishimoto Masashi.

This is a work of fanfiction. No material profit is taken.


against the sun

A Naruto fanfiction

.

.

"Kenapa kau terlihat marah sekali?" Sakura bertanya dari tempatnya berbaring di salah satu ranjang di ruang perawatan mereka. Wajahnya kuyu dan rambutnya kusut.

Sasuke terdiam dengan gigi-gigi gemeletuk. Bisa-bisanya wanita itu bertanya demikian. "Mereka menyakitimu." Posturnya kaku selagi berdiri di sisi ranjang Sakura, seperti singa yang siap menerkam.

"Mencoba," koreksi Sakura. "Jangan salah, tapi akulah yang membekuk mereka."

Kalau saja Sakura bisa berhenti meyakini bahwa tidak ada orang yang benar-benar terlahir jahat, hanya salah bertindak dan mengambil keputusan. Menurut Sasuke, beberapa orang memang terlahir dengan hati yang jahat.

"Sesuatu yang seharusnya tidak perlu kau lakukan," balas Sasuke. "Tapi kau selalu saja keras kepala dan tidak pernah mendengarkan perkataanku."

Sakura memelototi Sasuke dengan garang, dan ada Sakura yang dulu Sasuke kenal dari gestur yang nyaris kekanakan itu.

"Mereka sudah membuktikan bahwa mereka tidak bisa dipercaya. Sampai kapan kau akan memercayai yang sebaliknya?" tuntut Sasuke.

"Itu sama sekali tidak penting, Sasuke-kun. Aku hanya satu orang dari jutaan orang di luar sana. Harga perdamaian ini tidak setara dengan nyawaku."

Salah. Sasuke sudah pernah melupakan apa yang seharusnya penting baginya. Dia tidak akan lupa lagi kali ini.

"Kau tidak seharusnya meremehkan pentingnya nyawamu sendiri." Sasuke berujar dari rahangnya yang kaku.

Luka yang diderita Sakura memang tidak sampai mengancam nyawa: kaki terkilir, memar di paha, goresan-goresan akibat jatuh menimpa pecahan kaca, dan luka-luka kecil lain yang tidak seberapa. Sasuke tidak terlalu khawatir soal itu, setidaknya tidak untuk urusan luka fisik—karena Sakuranya tentu saja bisa membanting pria dewasa yang beratnya tiga kali lipat beratnya sendiri ke lantai dengan mudah. Tetapi niat mereka sudah sangat jelas: mereka ingin melukai Sakura, dan melukai Sakura adalah sama dengan mendeklarasikan perang kepada Uchiha. Tidakkah wanita itu sadar bahwa mereka, para Uchiha itu, akan memulai peperangan baru demi dirinya?

Ada kehausan untuk menuntut balas yang mengalir dalam darahnya; selalu begitu, darah semua Uchiha. Sasuke sudah siap pergi berperang momen itu juga. Uchiha tidak memaafkan mereka yang telah menyakiti keluarga. Tetapi jika, setelah semua yang terjadi kepadanya, wanita itu masih menginginkan perang berakhir dan perdamaian terjadi, Sasuke akan memberikannya. Akan dia lakukan apa pun untuk mewujudkannya, meski harus dengan menghancurkan seluruh penduduk bangsa itu untuk mengakhirinya.

Ada luka lima jahitan di lengan atas kirinya.

Salah satu peluru itu sempat mengenai dirinya, meski untungnya hanya menggores dangkal. Sakura tidak berani mengadukannya. Dia sudah mengancam perawat yang menjahit lukanya untuk tutup mulut. Menyalakan kemarahan Sasuke adalah hal terakhir yang Sakura inginkan. Api kemarahan pria itu sudah cukup ganas menyala-nyala melihat luka-luka tak seberapa Sakura. Jika pria itu tahu peluru mereka sempat menggores Sakura, barangkali akan ada perang baru yang harus Sakura redakan. Dia benar-benar tidak ingin melakukannya.

Sasuke selalu marah, dengan caranya yang diam, setiap kali Sakura terluka; marah kepadanya karena berusaha menentang logika, marah kepada kakak-kakaknya yang memantik rasa penasarannya. Tetapi Sasuke selalu paling marah kepada dirinya sendiri karena kegagalannya melindungi Sakura.

Sasuke, jika Sakura mengizinkannya, akan melindungi Sakura bahkan dari dunia itu sendiri. Tetapi sayangnya, yang tidak bisa pria itu lakukan adalah melindungi Sakura dari kebodohan dirinya sendiri.

Lagipula, yang merusak hubungan mereka berdua dulunya bukanlah Sasuke—Sasuke yang teguh pada pendiriannya, Sasuke yang menepati komitmennya. Bukan, melainkan Sakura dan ketakutannya dan keegoisannya; Sakura dan kepengecutannya dan kesempitan hatinya. Sakura mengemban penuh tanggung jawab atas kesalahan di masa lalu itu.

Tetapi, meski dia bisa menyembunyikan lukanya dari Sasuke, hal yang sama tidak bisa dia lakukan kepada Fugaku. Mata pria itu jauh lebih tajam dan awas dalam mengenali gerak-gerik Sakura dan kekakuan bahunya ketika dia bergerak.

"Kita perlu mencari dokter yang lebih kompeten untukmu."

Sakura menggeretakkan gigi. "Tidak perlu. Luka ini tidak seberapa."

Fugaku mengerutkan kening tidak setuju.

"Kumohon, meski begini, aku ini seorang paramedis terlatih."

Fugaku menghela napas berat, kemudian mendudukkan diri di kursi yang disediakan di samping ranjang Sakura. "Kita tidak bisa melanjutkan ini."

Sakura memicingkan mata. Rahangnya berubah kaku. "Apa ini Letnan Jenderal Uchiha yang bicara?"

Fugaku tidak menjawab.

"Ayah pikir aku bodoh?" tuntut Sakura; tawanya sinis. Mengapa mereka semua begitu bersikukuh menggagalkan usaha Sakura selama ini? "Aku memang naif, tapi aku tidak bodoh. Bukan Ayah atau Sasuke yang memulai perang ini."

"Bukan," jawab Fugaku; suaranya yang berat dan yang biasanya penuh otoritas kali ini terdengar lemah, "tapi Ayah yang melanjutkannya. Dulu Ayah berada di posisi untuk membantumu, mencegahnya terjadi, tapi tetap saja Ayah tidak melakukan apa-apa untukmu."

"Lalu kenapa memangnya? Kalau bukan aku, akan ada Sakura yang lain yang merasakannya, yang mengalami nasib serupa denganku. Ayah melakukan ini semua, mendukungku dalam agenda diskusi ini, bahkan turun tangan sendiri—Letnan Jenderal Uchiha yang perkasa, semua itu hanya karena Ayah merasa bersalah kepadaku. Aku tidak membutuhkan rasa penyesalan, rasa bersalah, atau kasihan dari Ayah. Yang kubutuhkan adalah supaya perang ini cepat berakhir, supaya tidak ada Sakura-Sakura yang lain lagi di luar sana.

Kita sudah berperang begitu lamanya, kita sudah lupa alasan mengapa kita memulainya dulu. Semua orang terus berperang karena seseorang membunuh ayah seseorang, lalu putranya membunuh orang lain. Dan orang lain membunuh yang lain dan yang lain dan yang lain, begitu seterusnya. Siklus keji ini harus dihentikan. Kita harus memutus rantai kebencian ini. Tidakkah Ayah mengerti?"

Fugaku terdiam, kepala tertunduk. Sakura bisa melihat bahunya yang lebar naik-turun. "Ayah bukan orang yang tanpa pamrih seperti itu," mulainya. "Yang Ayah inginkan hanya kau yang bahagia. Ayah hanya berharap bisa menebus dosa-dosa."

Sakura memejamkan mata untuk mencegah air matanya merebak. Denyut luka lama itu masih sama, berdentam-dentam di dalam dadanya. Sudah sekian lama, dan masih saja lukanya belum sembuh. Barangkali memang, beberapa luka tidak bisa disembuhkan. Bagaimana dia bisa bahagia dengan membawa luka sebesar itu? Sudah tidak ada ruang yang tersisa di dalam hatinya untuk kebahagiaan-kebahagiaan lain. Tetapi mereka, Sasuke dan Itachi dan ibu Mikoto dan ayah Fugaku—mereka semua ada di sana, di dalam hatinya. Selalu begitu sejak dulu. Sakura tidak perlu menyisihkan ruang di hatinya untuk mereka karena mereka tidak pernah pergi. Mereka selalu di hati.

"Kalau begitu," mulai Sakura, ragu. "Tidak apa meski Ayah melakukannya untukku? Tidak apa meski kita melakukannya dengan alasan-alasan yang salah?" Karena, pada akhirnya, yang terpenting adalah bagaimana ini semua berakhir: dalam satu dekade berdarah lagi atau perdamaian yang diimpi-impikannya.

Fugaku mengangkat wajah, memandangi Sakura dengan pandangan mata yang mengingatkan Sakura akan ayahnya sendiri. "Hanya itu yang kami inginkan."

Sakura memahaminya. Meski tidak sekarang, setidaknya mereka masih punya secercah harapan. Barangkali perang ini masih bisa diakhiri. Barangkali segala kehilangan yang telah Sakura alami tidak berakhir dalam kesia-siaan.

Sakura, menurut Sasuke, selalu menangis dengan cara yang cantik.

Tetapi tentu saja, secantik apa pun tangis seseorang, Sasuke tidak pernah suka menyaksikan Sakura menangis—entah yang menangis karena dirinya atau hal lain. Selalu saja, hal itu membuat Sasuke marah.

Sasuke marah ketika Sakura yang sepuluh tahun bergelantungan dari dahan pohon, tali tambang melilit perutnya selagi gadis kecil itu menggantung dalam posisi terbalik, tangis pecah karena laba-laba seukuran kuku kelingkingnya merambati pipinya. Sasuke marah ketika Sakura, sudah empat belas tahun, harus dilarikan ke ruang gawat darurat dengan kaki patah karena jatuh dari tembok tinggi yang dipanjatnya, tangisnya karena jatuhnya telah merusak pot-pot bunga hydrangea favorit ibunya. Sasuke marah ketika Sakura, sudah delapan belas, menangis tergugu mengantar kakak-kakaknya, gagah dengan seragam lengkap dan berdiri tegap, bertugas ke medan perang. Sasuke marah ketika Sakura yang sebentar lagi akan dua puluh dua menerima surat duka pertamanya, penyebab tangisnya sudah tidak diragukan lagi apa. Tetapi Sasuke paling marah ketika Sakura, dua puluh tujuh, menangis di hadapannya, memintanya untuk tidak pergi; dia marah pada kekukuhannya sendiri, marah karena telah menjadi penyebab tangis itu.

Dan kali ini pun, setelah delapan tahun berlalu, ledakan emosi itu masih familier, tak berkurang kadarnya; masih menghimpit dadanya dengan cara yang sama. Sasuke tidak punya hati yang luas; sudah ada Sakura dan keluarganya dan kewajiban-kewajibannya. Jadi tentunya, dia tidak pernah memahami mengapa Sakura bisa peduli dengan sebegitu dalam, dengan cara yang begitu menyakitinya.

"Sudah, hentikan saja ini semua," ujar Sasuke, tak sanggup menyaksikan air mata Sakura tumpah untuk yang kesekian kalinya.

Tetapi Sakura, yang cintanya mengalahkan luasnya Pasifik, justru menatap garang Sasuke dengan matanya yang basah dan berkilauan. "Tentu saja tidak bisa, Sasuke-kun."

Samar-samar Sasuke mengingat kejadian yang nyaris serupa, delapan tahun yang lalu. Dia ingat Sakura yang terisak dan memohon kepadanya untuk tidak pergi, tetapi Sasuke selalu egois dan selalu mementingkan hal yang salah.

"Tidakkah kau membenci mereka?"

Sakura membersut. "Kata benci itu terlalu kuat, Sasuke-kun. Tidak seharusnya kau menggunakannya sembarangan."

"Lalu apa?" Sasuke bertanya-tanya.

Sudah nyaris dua tahun, tetapi upaya kerasnya belum juga terbayarkan. Satu per satu rekan delegasinya mengundurkan diri, menyerah, tetapi tidak dengan Sakura. Tidak pernah dirinya. Terkadang, Sakura cukup memercayainya untuk menangis di pundaknya dan menumpahkan semua kekecewaannya, dan Sasuke akan merengkuhnya ke dada. Terkadang, Sakura bermil-mil jauhnya darinya, menolak kehadirannya, usapan tangannya, janji-janjinya yang terdengar palsu. Terkadang Sakura adalah keduanya sekaligus.

"Kalau aku membenci mereka, itu artinya aku harus membenci ayahmu karena telah mengirimmu ke sini, bertahun-tahun lalu. Itu artinya aku harus membencimu karena kau tetap saja memilih pergi meski aku meminta yang sebaliknya." Sakura memandanginya. Mata masih berlinang, tetapi tatapannya tak goyah. "Tapi jauh sebelum itu, aku harus membenci diriku sendiri karena, tak peduli seperti apa pun jadinya, aku masih saja tetap mencintaimu." Dia menarik napas panjang; Sasuke menirukannya. "Jadi tidak, Sasuke-kun. Aku tidak membenci mereka."

Sasuke, masih sering kebingungan dan hilang arah, tidak memahami bagaimana cinta masih menjadi jawaban atas semua pertanyaannya selama ini. Jadi, dia memastikan; tanyanya ragu, "Apa masih ada cinta untukku?"

Sakura sudah menerimanya: bahwa ada hal-hal yang tidak bisa diakhiri begitu saja. Satu, dua, lima, bahkan sepuluh tahun lamanya, masih ada yang tidak berubah oleh waktu. Jerih payahnya yang tak kunjung terbayarkan, masa lalu yang ingin dia tinggalkan, kisah yang dia sangka sudah tak menyisakan apa-apa untuk dirinya.

"Apa salahnya meyakini sisi terbaik orang lain?" tuntut Sakura.

Sasuke memandanginya tajam, sudah habis kesabaran menghadapi keyakinan Sakura yang dinilainya terlalu bodoh dan naif. "Tetap saja ada batasnya."

Jika Sakura adalah seorang yang optimis, terkadang bahkan terlalu idealis—Sasuke, Sasuke adalah si pesimis, meski dia akan selalu berargumen bahwa dirinya hanyalah seorang realis.

Sakura menegakkan bahu, lelah terus-terusan dipertanyakan optimismenya. "Kalau begitu, haruskah aku tidak memercayaimu, Sasuke-kun?" —Sasuke terpaku; mulut terbuka tanpa ada suara yang keluar darinya. "Memercayai masih ada 'kita'?"

Sasuke tidak mempunyai jawaban atasnya. Dia selalu dipenuhi keragu-raguan. "Kau tidak seharusnya terlalu berbaik sangka terhadap orang lain."

Sakura mengulas senyum tipis, hanya di sudut-sudut bibir. "Kita gagal sekali. Apa harus ada kegagalan yang kedua kali?" tanyanya. "Bisakah aku memercayaimu, Sasuke-kun? Berbaik sangka terhadapmu?"

Masih ada perang; orang yang terbunuh, yang dibunuh, dan yang membunuh dengan bersikukuh untuk menuntut balas. Siklus keji dan rantai kebencian itu tidak akan mudah diakhiri begitu saja. Masih akan ada banyak agenda mediasi dan pembicaraan berat sebelum perjanjian perdamaian bisa ditandatangani. Masih ada kesalahpahaman di antara mereka berdua; berbagai hal yang saling ingin disembunyikan dari satu sama lain; adu pendapat yang terkadang terlalu sepele untuk disimak; tentang siapa yang harus mengalah dan siapa yang paling cakap menembak.

Semua hal itu: meski berat dan kadang-kadang memantik pertanyaan dan memicu keragu-raguan, mereka masih tetap mencoba. Ada setangkup roti bakar keju di pagi hari dan terkadang, ketika dunia terlalu menyusahkan, segelas wiski di malam hari. Barangkali memang tidak cukup, tetapi kali ini Sakura yakin mereka masih punya satu kehidupan bersama—karena Sakura tahu, dirinya yang harus bertanding mulut dengan kepala-kepala sekeras batu, yang harus bersabar ketika dirinya disepelekan begitu saja dan ide-idenya tak digubris dengan semestinya—Sakura yakin dia tidak akan menyerah untuk yang kedua kalinya. Meski tidak ada halaman rumah yang rindang dan angin yang bertiup sepoi-sepoi; kali ini sinar matahari terlalu garang dan pasir yang tertiup menyakiti matanya, Sakura yakin mereka masih punya satu kesempatan lagi.

"Aku mencintaimu."

Suara meriam yang ditembakkan terdengar di kejauhan; Sakura tidak gentar. "Aku tahu." [ ]