Sakura Minna de Tabeta

By : Mikazuki_Hikari

Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi ©

All Chara belongs to Fujimaki Sensei

This Fiction belongs to Mikazuki_Hikari

Rate : T

Genre: Romance

Pairing: Akashi.S x Kuroko.T

Warning: Shonen-Ai, Typo(s), EYD tidak sesuai aturan, Male x Male, Alternate Universe (AU), Out of Character (OOC)

Don't Like Don't Read

I have warned you

.

.

.

-=Author Mau Curhat Bentar=-

Ekhem... check /langsung aja kenapa sih mik banyak bet gaya lu

Jadi gini, alasan utangan ini buaaaaanyaaaak bet yak, itu mika sedih soalnya /apaan sih ini selain WB akut /kamu kan malas alasan paling kuatnya itu adalah, Semua Story Mika itu ada di harddisk, dan harddisk nya itu ke formaat aaaaaa seram yaaaah? /orkes jangkrik nah udah gitu story life nya di doc manager itu udah die semua sisa 5 biji yang baru baru semua jadi yah gitu harus copas copas dulu, sama harus dibaca ulang, yang ngerinya lagi kalau yang udah banyak chapternya.

Udah curhatcoretpengakuanterlarangcoretnya, udah 83 words buat curhatan sama tsukkomi diri sendirinya daripada kebanyakan lebih baik kita lanjutkan saja—(Readers : UDAH WOY! UDAH NGAPA ELAAH!)

Sakura Minna de Tabeta

Mikazuki Hikari

.

.

.

Part 3 –Siapa? (cont)

-=Kuroko POV=-

Aku berlari keluar, sementara mereka yang disekitarku masih meledekku, satu yang bisa ku rasakan sebagai pengucapan rasa syukurku, Aomine-kun tidak ada disana.

Langkahku terhenti saat nafasku sudah hampir habis. Di depan sebuah pohon besar aku mengistirahatkan tubuhku.

Perih rasanya menjadi orang yang dibenci, sakit, ingin berteriak. Kubenamkan wajahku pada batang pohon besar yang ada dihadapanku, menjerit dalam hatiku agar tidak ada satu orangpun yang tahu.

Apa ini...

Rasanya harum...

Sakura? Memangnya ini musim semi, namun seharusnya sebentar lagi sudah selesai saat Hanami.

Kain lenan merah kirmizi juga nampak didepan mataku, sontak aku menengadahkan wajahku keatas. Siapa?

Sesosok pria yang tingginya hampir sama denganku, memakai Kimono yang sama dengan warna rambutnya, matanya indah. Dua warna yang berbeda, namun sesaat kedua warnanya juga bisa menjadi semerah darah, dia tersenyum kearahku, melihat tiap bulir transparan yang jatuh dari mataku.

Part 04 – Waktu yang kembali berputar

Dia membungkukkan badannya, meraih tubuhku yang tersungkur hingga ketanah, mengangkatku dan mengarahkan wajahku pada parasnya yang lembut.

"Aku bisa merasakan apa yang kau alami. Sekarang, mau kah kau melangkah?" ucapnya.

Tanganku gemetar, sekujur tubuhku dihantui rasa takut, namun saat melihat wajahnya, aku sedikit sulit membedakan rasa takutku dengan rasa tenang yang kualami saat melihat wajahnya, aku menganggukan kepalaku, menyetujui pernyataannya.

Kalau memang yang ia maksudkan adalah melangkah dari masa laluku yang sangat tidak aku sukai, aku ingin keluar dari loop yang kucpitakan sendiri.

Sejenak setelah aku mengiyakan pertanyaannya, seberkas cahaya meliputi kami, aku tidak bisa melihat sekelilingku

"Ambil lah." Pada kedua belah tangannya terdapat sehelai kelopak bunga sakura mungil yang bercahaya, tanpa mengerti apa maksudnya aku mengikuti perintahnya dan mengambilnya dengan hati hati.

Dia menyuruhku memakannya.

Diluar dugaanku, rasanya manis, seketika juga bagaikan ada yang keluar di dalam diriku, harum sakura juga menyeruak dari dalam mulutku.

"Sampai waktu yang ditentukan, kita akan bertemu lagi Tetsuya." Lalu sosok laki laki itu menghilang.

"Tunggu!" aku berusaha mengejarnya, namun, bagaikan tertiup angin pria itu menghilang dalam sekejap, meninggalkan sebuah pembatas buku, warnanya putih seputih salju, disana aku bisa melihat siluet tipis berbentuk sakura, tidak ketinggalan dengan pita merah jambu pada ujung pembatas buku yang ditinggalkan sang pria merah misterius.

"Apa ini ada hubungannya dengan buku yang muncul di dalam mimpiku?"

Part 05 – Murid Pindahan

Pagi ini rasanya sangat berbeda dari sebelumnya, ada hal yang membuatku tidak terasa sama seperti kemarin.

Tali sepatu yang sudah terikat rapi, demikian juga rambutku. Merasa tidak ada lagi yang tertinggal, aku bergegas menuju sekolah, dengan menggenggam pembatas buku yang kuperoleh kemarin dengan harapan tidak ada hal buruk terjadi menimpaku hari ini.

Tidak lama setelah sampai, keadaan sekolah yang biasanya hening menjadi luar biasa ramai. Aneh, tidak seperti biasa, entah hal apa yang membuat hari ini berbeda.

Melangkah dikoridor sekolah seperti biasa, sampai aku melihat segerombolan perempuan yang berbondong menuju kelasku. Kucuri dengar pembicaraan mereka, karena aku tahu, bertanya pada mereka tidak akan menghasilkan apapun.

Ternyata ada seorang murid baru yang pindah ke kelasku hari ini.

-=To Be Continued=-