Captain wa Maid-sama!

Captain is a Maid!

© nanodayo-san

[Disclaimer : Kuroko no Basuke Fujimaki Tadatoshi sensei.

Terinspirasi dari Kaichou wa Maid-sama]

Chapter : 3/?

Warning : slight shonen ai, typo, rawan OOC, AU, bad fic, CrossdressAkashi, humor yang garing, bahasa yang aneh.

.

.

.

His new life is so…

Xxxx

"Tetsuya…" Gumamnya pelan, tepat ketika pria bersurai biru itu menoleh ke arahnya. Mereka sempat bertatap muka beberapa detik, sama-sama terdiam.

"Tetsuya-nii?" Anak kelas 4 SD itu memanggilnya, tapi Kuroko menghiraukan. Ia menarik anak itu bersamanya, berjalan mendekati Akashi.

Bibir pria bersurai biru itu terbuka. "Kau sepertinya…

Akashi memegang erat nampan yang ada di depan dadanya. Jangan, jangan katakan apapun, Kuroko.

"Kau sepertinya maid baru. Aku kesini beberapa kali setiap sepupuku ini datang, tapi baru kali ini aku melihatmu."

Butuh beberapa detik untuk Akashi sadar dari ketegangannya. Bolehkah ia menghela napas lega sekarang? Ia bersyukur Kuroko tidak menyadari identitasnya saat ini. Namun, entah mengapa ada rasa kecewa terbesit di benak Akashi saat ini. Ya, ia kecewa setelah mengetahui ternyata sang gebetan tidak mengenalinya dengan baik.

Seharusnya Kuroko mengenalinya setelah sekian lama berada di tim yang sama.

"Ah, Kuroko-san!" Suara cucu pemilik cafe tiba-tiba menginterupsi. Gadis itu menghampiri Kuroko. "Kalian saling mengenal?" Tanya gadis itu.

"Tidak, aku hanya kaget melihat maid baru." Jawab Kuroko singkat.

"Souka, bagaimana kalau kalian saling berkenalan? Nama maid ini Akashi."

"Akashi?" Kuroko tampak memiringkan kepalanya. Nama itu jelas tidak asing baginya.

Akashi mengutuk gadis itu. Ya, ia sungguh-sungguh akan mengutuknya. Ia tidak tahu harus mengatakan apalagi. Skakmat! Kuroko akan menyadari identitasnya saat itu juga.

Tapi, Kuroko ternyata mengatakan hal yang jauh dari dugaannya, "Kau mempunyai hubungan keluarga dengan Akashi Seijuurou?"

"Hah?" Akashi tidak pernah tahu Kuroko ternyata selamban ini. Tidak, Kuroko memang lamban secara fisik, tapi ia tidak menduga pikirannya yang polos itu sebegini lamban. "Y...ya, sepupunya. Akashi Seiko desu." Volume suara Akashi mengecil ketika mengutarakan kebohongannya.

"Souka. Ah, Kuroko Tetsuya desu. Yoroshiku." Ucap Kuroko.

"Oh ya, aku punya menu baru hari ini. Mau coba?" Gadis itu merebut topik. Ia menarik tangan gadis kecil yang bersama Kuroko menuju dapur, sedangkan Kuroko mengikutinya, tanpa mengatakan sepatah katapun pada Akashi.

Akashi kembali melanjutkan pekerjaannya. Meski kecewa karena Kuroko ternyata tak mengenalnya sedalam dugaannya, tetapi Akashi cukup lega karena Kuroko ternyata tak menyadarinya dan rahasianya aman.

Setidaknya untuk saat ini.

.

.

.

Akashi tengah menikmati tehnya ketika cucu pemilik cafe tiba-tiba datang dan duduk di sampingnya. Seragam maid-nya sudah berganti pakaian santai.

"Kenapa kau berbohong pada Kuroko-san?" Akashi beralih menatap gadis itu. "Mengenai namamu?"

Akashi tak langsung menjawab, ia menyingkirkan gelasnya yang sudah kosong. "Karena Kuroko adalah teman satu tim-ku."

Gadis itu sudah berusaha keras untuk menahan tawanya, namun akhirnya meledak juga. Ia tertawa keras sekali dan membuat Akashi ingin sekali merobek mulutnya saat itu juga. Jika saja ia membawa guntingnya saat itu.

Akashi menghela napasnya. "Dan lagi, dia bukan hanya teman satu tim-ku." Ujar Akashi dengan suara pelan. Kuroko adalah seseorang yang disukainya. Sayang sekali, gadis itu tidak mendengar apa yang dikatakan Akashi, tawa kerasnya meredam dengan sempurna gumaman Akashi.

"Sepertinya pekerjaan ini akan semakin sulit untukmu," Kata gadis itu begitu berhasil mengendalikan tawanya. "Kau tahu, Kuroko-san sangat sering datang kemari. Apalagi kalau bibinya menitipkan anaknya. Kau tahu kan anak yang tadi datang bersamanya?"

Akashi membelalakkan matanya begitu mendengar pernyataan gadis itu. Tidak, bagaimana mungkin ia akan bertemu dengan Kuroko lagi, saat penampilannya seperti itu?

Akashi bangkit dan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Ia tidak bicara apa-apa meski jujur saja ia sangat terkejut saat itu. Tapi, sebisa mungkin Akashi tidak menampakkan emosinya, terlebih di depan gadis itu. Bisa habis ia menjadi bahan tertawaan.

Punggung Akashi yang lelah terbanting di atas kasur, desahan nafasnya yang berat terdengar. Ia tak tahu harus mengeluh pada siapa. Keadaannya sekarang sangat jauh berbeda dibanding hidupnya dulu. Sebelumnya, rumahnya yang megah, kasur yang empuk dan nyaman, dan lagi ia tidak perlu bekerja.

Tangan kanan Akashi terjulur ke atas, menutupi pendar lampu yang menyilaukan matanya. Sudah berapa lama jemari itu tidak menyentuh shogi. Gara-gara laki-laki tua itu shogi-nya pun harus ikut tersita.

"Inikah kehidupan yang tidak membosankan?" gumamnya. Tiba-tba ia teringat permintaan yang ia buat pada bintang jatuh. Sudut bibirnya terangkat membentuk seringai tipis. Tangannya perlahan turun dan tubuh lelahnya pun larut dalam kantuk.

Ia tertidur.

.

.

.

Hari Minggu yang baru bagi Akashi tiba. Jika hari Minggu yang sebelumnya ia habiskan untuk bermain shogi, maka hari Minggu yang sekarang ia habiskan untuk bekerja di cafe. Ia akan bekerja full time hari ini. Ia sudah berdoa agar tidak bertemu Kuroko, jadi seharusnya hal itu tidak akan terjadi.

Toko dibuka pukul 8 tepat, masih ada waktu sekitar lima belas menit untuk merapikan toko tersebut. Pria yang sudah lengkap dengan segala perangkat crossdressing-nya menarik kursi sambil mengumpat. Ia melepas sepatunya dan menaiki kursi tersebut. Sebelah tangannya yang menggenggam kain terjulur ke atas, mencoba meraih sudut jendela yang kusam diselimuti debu.

"Apa yang kau lakukan?" sepatah suara mengganggunya. Ia mencoba menghiraukannya. "Oi, Akashi!"

"Berisik kau Daiki!" Tunggu Daiki? Kenapa ia menyebut nama itu?

Akashi menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin, memang suara itu mirip dengannya, tapi ia tidak mungkin ada di sini. Suara itu hanya halusinasinya, ya halusinasi karena paranoid setelah bertemu Kuroko semalam.

Akashi turun lantas menggeser kursinya agar bisa meraih bagian jendela yang lain. Namun baru saja ingin menaiki kursi, kembali suara lain mengganggu, menyebut nama Aomine. Ia memejamkan matanya dan menghela napas, mencoba menenangkan diri agar fantasi tak kembali menguasainya. Dan ketika ia membuka matanya, bagian jendela yang baru saja ia bersihkan memantulkan wajah seorang remaja laki-laki berambut kuning.

"Kiseki Cafe? Ah, ini tempat sepupu Akashicchi bekerja!" Kata si kuning itu dengan suara nyaring.

Akashi secara refleks berbalik, "Mengapa kau bisa tahu, Ryouta?"

"Eh, Kurokocchi yang memberi tahu. Are? Ryouta? Kau tahu namaku?" Jawab Kise, suaranya agak bergetar begitu melihat tatapan gadis di depannya ini sangat mirip dengan kaptennya. Ia dengan segera menjadikan pemuda berkulit kehitaman di sampingnya sebagai tameng.

Akashi diam, terlihat tenang namun sebenarnya merutuki nasibnya. Salahnya ia tidak berdoa agar tidak bertemu dengan anak buahnya. Sialan, semua hal merepotkan ini terjadi karena bintang jatuh itu. "Akashi selalu menceritakan kebodohanmu padaku. Tidak hanya itu, kau juga cerewet dan menyusahkan orang lain. Copycat cengeng yang menyebalkan." Akashi berkata dengan kejam.

"Apakah aku seburuk itu di matanya?" pemuda itu menangis seperti dugaannya. Akashi hanya menghela napas.

"Ada banyak yang ingin kuranyakan padamu, tapi kurasa saat ini bukan waktu yang tepat." Pemuda berkulit kehitaman menyela. "Ja ne!" Katanya lalu mulai melanjutkan perjalanannya.

"Eh, aku ikut denganmu, Aominecchi!" teriak Kise lantas meninggalkan Akashi.

"Temanmu lagi?"

Akashi sedikit terkejut ketika mendengar cucu pemilik cafe tiba-tiba muncul. Akashi tak menjawab pertanyaannya dan memilih melanjutkan pekerjaan. Mood-nya benar-benar hancur.

.

.

.

"Tetsuya-nii!" Gadis itu memanggil Kuroko dengan suaranya yang imut, sementara jemarinya masih sibuk menggenggam pensil warna berwarna hijau dan mewarnai gambar pohonnya. "Nanti sore ayo kita ke cafe lagi." Ajaknya.

Kuroko mengalihkan sedikit pandangan dari bukunya untuk melirik ke arah gadis yang merupakan sepupunya tersebut. "Hmm, gomennasai. Sore ini aku ada janji dengan Momoi-san."

"Eh? Sayang sekali. Kenapa tidak kau batalkan saja." Gadis itu merajuk sambil menopang dagunya dengan sebelah tangan. "Daripada Momoi-san, oneechan yang ada di cafe itu lebih kawaii."

Kuroko terkekeh pelan lalu mengusap kepala gadis itu. "Tidak bisa. Aku membuat janji lebih dulu dengannya. Jadi, lain kali saja ya." Kuroko melihat gadis itu mendengus kecewa.

"Nee, Tetsuya-nii menyukai Momoi-san?" Tanya gadis itu.

Kuroko tampak berpikir sejenak. "Ya, aku menyukainya. Semua anggota tim basket menyukainya. Kau juga, kan?"

"Bukan suka yang seperti itu." Katanya. "Apakah kau menyukai tipe yang seperti Akashi-san?"

Kuroko sedikit tersentak. Mendengar nama itu disebut entah mengapa dadanya mendadak sesak. Tapi, Kuroko segera menyadari kalau Akashi yang disebut sepupunya tersebut bukan Akashi yang dipikirkannya. "Aku tidak tahu."

"Tetsuya-nii, wajahmu memerah." Gadis itu menyeletuk dengan polosnya. Kuroko mengutuki dirinya yang tidak bisa dengan segera menenangkan diri. "Benar, kan kau menyukai Akashi-san!"

Akashi? Suka? Entahlah, rasanya kata itu sulit ia definisikan jika ia hubungkan dengan Akashi. Dadanya masih terasa sesak meski ia tahu Akashi yang dimaksud oleh sepupunya tersebut bukan Akashi yang ia pikirkan. Apa penyebab sesak itu? Benarkah ia menyukai kaptennya? Beranikah ia mempunyai perasaan seperti itu pada Akashi?

.

.

.

Papan bertuliskan closed di depan pintu kaca memberi tanda bahwa toko telah tutup. Sepasang kekasih yang menjadi pelanggan terakhir baru saja pergi sepersekian detik yang lalu. Akashi membanting wig-nya ke atas meja. Lebih dari setengah hari berlalu tetapi mood-nya belum juga membaik.

Bel di pintu kaca kembali terdengar. "Maaf, saat ini cafe sudah tutup." Ujar Akashi lirih.

"Aku tidak datang untuk menjadi pelanggan. Sudah kubilang, kan aku ingin bicara denganmu."

Akashi menegakkan tubuhnya serta menelan ludah, suara familiar itu kembali. Tangannya secara refleks meraih wignya dan kembali memakainya.

"Tidak perlu memakai wigmu lagi. Toh, sejak awal melihat aku sudah tahu kau ini Akashi Seijuurou."

Mata Akashi terbelalak, ia menoleh dan mendapati Aomine Daiki berdiri tak jauh dari pintu. Dan ia tak tahu harus berkata apa.

TBC


Hyaaaa, gila udah basi banget ini FF yak. Gomennasai, baru sempet ngelanjut mengingat kemaren sibuk banget sama UN dan abis UN pun masih sibuk ini itu *soksibuk* maaf kalau FF ini jadi mengecewakan, abis jadi bingung gini udah lama ga nulis FF, pas liat loh kok jadi pendek gini. Yang sudah mensupport selama ini, baik yang ngasih review ataupun nge fave saya ucapkan banyak-banyak terimakasih. Komentar selanjutnya bisa di taroh di kotak yang di bawah itu ya~ hihi.