Captain wa Maid-sama!

Captain is a Maid!

by nanodayo-san

[Disclaimer : Kuroko no Basuke Fujimaki Tadatoshi sensei.

Terinspirasi dari Kaichou wa Maid-sama]

Chapter : 4/?

Warning : slight shonen ai, typo, rawan OOC, AU, bad fic, CrossdressAkashi, humor yang garing, bahasa yang aneh.

.

.

.

His new life is troublesome


"Tidak perlu memakai wigmu lagi. Toh, sejak awal melihat aku sudah tahu kau ini Akashi Seijuurou."

Mata Akashi terbelalak, ia menoleh dan mendapati Aomine Daiki berdiri tak jauh dari pintu. Dan ia tak tahu harus berkata apa. Tidak mungkin, Aomine Daiki adalah pria paling tidak peka yang pernah ia kenal, terlalu cepat untuknya menyadari hal ini sekarang. Tangan Akashi yang memegang wig pun turun perlahan bersama dengan wig-nya.

"Sebelum bicara bisakah kau mengganti pakaianmu. Pakaian itu...ah tidak, baju maid itu tidak cocok dengan gaya rambutmu." Aomine berusaha berkata dengan nada datar. "Pffft. Ah, maaf." Tapi akhirnya ia tidak bisa menahan tawa lebih lama lagi.

"Aku tahu kau menahan tawa sejak tadi, Daiki." Akashi memicing ke atah Aomine dan membuat Aomine seketika diam. "Kalau begitu tunggu sebentar."

Aomine menempatkan diri di sebuah kursi sambil menunggu Akashi berganti pakaian. Beberapa menit kemudian Akashi kembali dan duduk berhadapan dengan Aomine.

"Aku tidak memberimu perintah untuk duduk, kenapa kau duduk?" Tanya Akashi.

Aomine mengesah, tidak salah jika ia kesal dengan pria kaku di depannya sekarang. "Karena aku lelah,"

"Aku juga tidak memintamu kemari, lalu kenapa datang?"

"Awalnya aku belum terlalu yakin kalau kau Akashi, tapi ternyata benar. Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Aomine.

"Rumahku disita." Jawab Akashi singkat.

Aomine membulatkan matanya. Ia terkejut, terkejut sekali sampai tak bisa bicara apa-apa. Tuan muda Akashi Seijuurou telah kehilangan rumahnya, dan sekarang ia menjadi sebatang kara yang miskin. Itu berarti ia sudah bukan siapa-siapa dan tak lebih dari seorang pelajar yang menyandang jabatan kapten tim basket Teiko.

"Hidupmu akan dikutuk kalau kau berani memberitahukan hal ini pada orang lain." Ancam Akashi.

"Kalau begitu, aku hanya akan memberi tahu Tetsu. Kupikir kalau Tetsu...

"Berani memberitahu Tetsuya, kau akan mati." Tentu saja, di dunia ini siapa yang mau dipergoki crossdressing oleh orang yang disukai.

Aomine membungkam mulutnya, ternyata tetap saja ia tidak bisa membantah kaptennya tersebut. Ketika mereka kehabisan bahan pembicaraan, tiba-tiba muncul seorang gadis membawakan dua gelas kopi hangat.

"Sejak tadi aku melihat kalian dan agaknya tidak enak jika bertamu tidak disediakan minum, ya kan?" Ujar gadis itu sambil meletakkan satu cangkir kopi di depan Aomine dan satunya di depan Akashi.

"Kau bersikap terlalu manis." Komentar Akashi sambil menyesap kopinya tapi gadis itu hanya menjulurkan lidah lalu bergegas pergi.

"Lalu kemana ayahmu, pelayan-pelayanmu, dan semua yang ada di rumahmu?" Tanya Aomine kembali memulai pembicaraan.

"Entah." Jawab Akashi singkat.

"Kalau kau merasa sulit tinggal di sini, kau bisa menumpang di rumahku. Ya, walaupun rumahku tidak besar." Tawar Aomine.

Ia? Seorang Tuan Muda Akashi menumpang di rumah "bawahan"nya. Tinggal dimanapun tidak ada yang menjamin ia bisa hidup seperti dulu lagi, lagipula apa yang akan ia katakan jika orang lain melihatnya menumpang di rumah ganguro itu. Walaupun keadaannya di sini tidak lebih baik, tapi setidaknya ia masih bisa menyamar sebagai sepupu Akashi Seijuurou jika ada orang lain yang melihatnya. Jadi, ia memilih untuk menjawab, "Tidak terima kasih. Lebih baik aku tidak menyusahkanmu."

Aomine menganggukkan kepalanya sekali lalu menoleh jam di dinding yang jarum pendeknya sudah menunjuk angka sebelas. "Baiklah, kalau begitu aku pulang." Katanya dan bangkit dari kursi. "Aku tidak akan menceritakan pada siapa pun tentang keadaanmu."

"Kalau kau melanggar janjimu, bersiaplah untuk mati, Daiki." Kata Akashi, memperjelas bahwa ancamannya benar-benar serius.

.

.

.

Senin yang menyusahkan kembali, pemandangan pagi ini masih sama seperti pagi sebelumnya. Udara sejuk berhembus pelan dan siswa-siswa memenuhi sepanjang jalan menuju SMP Teiko. Sesekali angin nakal meniup rok hingga terdengar pekikan kecil siswi-siswi yang terkejut sambil menahan rok mereka.

"Ohayou gozaimasu." Ucap Kuroko sambil menepuk punggung dua orang pria berambut biru dan kuning di depannya hingga mereka terlonjak kaget.

"Kuroko-cchi!" Sambut si kuning Kise dengan heboh.

"Berisik, Kise-kun." Protes Kuroko.

"Sejak kapan kau datang? Kau selalu saja membuatku terkejut." Kata Aomine.

"Aku sudah memanggil kalian sejak tadi, tapi kalian tidak menengok juga." Jelas Kuroko.

Seperti biasa, mereka akan berjalan beriringan sampai mereka memasuki kelas masing-masing. Tapi, hari ini rasanya agak kurang karena mereka yang biasanya berjalan berenam seperti anggota boyband kali ini hanya jalan bertiga. Hal ini dikarenakan tiga orang lainnya datang lebih pagi, Murasakibara mengaku datang pagi karena belum mengerjakan PR, lalu Midorima dapat tugas piket pagi, sedangkan Akashi tentu saja menghindari bertemu dengan teman-temannya karena suatu hal yang tidak bisa ia beritahukan pada mereka.

"Belakangan ini Akashi-cchi pergi duluan, kenapa ya?" Tanya Kise.

"Entahlah, mungkin dia tidak ingin bertemu denganmu." Sahut Aomine.

"Hee? Kenapa begitu?" Tanya Kise lagi.

"Karena kau cerewet dan mengganggu, Kise-kun." Kali ini Kuroko yang menjawab.

Kise pun mewek, "Kalian jahat-ssu!" Katanya. Kuroko dan Aomine mengabaikan. "Oh iya, kemarin aku lewat di depan cafe langganan Kuroko-cchi, lalu melihat sepupu Akashi-cchi. Dia mirip sekali dengan Akashi-cchi." Kata Kise setelah tangisnya mereda.

"Aku juga berpikir begitu. Awalnya aku mengira itu Akashi-kun yang sedang crossdressing." Kuroko yang polos ikut menanggapi.

Aomine yang mengetahui sesuatu pasti sudah memecahkan tawanya kalau ia tidak ingat ancaman Akashi. Pemuda ganguro itu memilih untuk diam saja.

"Tidak mungkin Akashi-cchi seperti itu." Kata Kise lalu tertawa. "Kalau menurut Aomine-cchi bagaimana?"

"Hah? Oh, aku tidak begitu memperhatikan. Aku tidak suka gadis pettanko." Jawab Aomine. "Sudahlah, jangan membicarakan Akashi lagi."

"Iya juga, ya. Kalau kita ketahuan menggosip tentang dia, bisa-bisa latihan kita ditambah." Kata Kise dan dibalas anggukan dari Kuroko.

.

.

.

Sekolah sudah berakhir, seperti biasanya tim basket akan datang ke gym untuk melakukan latihan rutin. Tidak seperti biasanya, Akashi datang paling terakhir dan mendapati seluruh anak buahnya sudah ada disana, melakukan pemanasan sambil menunggu kedatangannya. Ya, Akashi memang sempat ketiduran di kelasnya saat pelajaran terakhir, tapi ia tidak menyangka akan datang terakhir.

"Kau datang agak lama, Akashi." Ujar Midorima sambil melempar bola oranye ke dalam ring.

"Maaf, aku tertidur sebentar tadi." Jawab Akashi apa adanya. Akashi meletakkan tasnya dan saat itulah Kuroko menghampirinya.

"Akashi-kun, kau kelihatannya kurang sehat. Ada apa?" Tanya Kuroko.

Agak terkejut dengan kedatangan Kuroko, tapi Akashi tetap menjawab dengan nada cuek seperti biasanya. "Tidak, aku cuma lelah. Ayo cepat mulai."

Merekapun memulai latihannya. Decit-decit sepatu dan debaman bola kembali terdengar. Kali ini Aomine menguasai bola dan seketika pria itu memasukkan bola yang di bawanya ke dalam ring.

"Lihatlah Aomine-cchi, aku akan membalasmu!" Seru Kise yang kesal karena lagi-lagi ia dilampaui Aomine.

"Coba saja!" Sahut Aomine dan tak lama kemudian terdengar sesuatu menubruk lantai, tepat di dekatnya. "Tetsu!" Ia terkejut mendapati pria kecil berambut biru langit itu mencium lantai gym.

"Sakit." Katanya sambil berusaha duduk.

"Maaf, apakah aku tidak sengaja menginjak kakimu? Kau tidak...

"Kau tidak apa-apa?" Akashi tiba-tiba menyela Aomine. Ia menoleh ke arah sepatu Kuroko. "Sepatumu, bagian bawahnya sudah agak licin. Berapa ukurannya? akan kubelikan yang baru."

Kuroko tersenyum tipis, "Tidak perlu, Akashi-kun. Aku akan sementara memakainya sampai bisa membeli yang baru."

"Tapi kalau kau menggunakan sepatu itu, kau akan tergelincir lagi. Beruntung hari ini kau tidak terluka, tapi kalau suatu hari kau tidak beruntung...

"Tidak perlu khawatir, Akashi-kun. Mungkin aku akan bekerja sambilan agar uangnya lebih cepat terkumpul." Tolak Kuroko lagi.

"Baiklah, kapan kau butuh pekerjaan itu?" tanya Akashi.

"Kalau bisa secepatnya, aku tidak bisa menunda latihan."

"Kalau begitu aku akan mencoba meminta tempat kerjaku err... maksudnya tempat kerja sepupuku untuk menerimamu."

"Tapi, bukannya itu maid cafe, ya? Cafe langganan Kuroko, kan?" Kise menyahut.

Ah iya, sudah terbiasa menjadi maid sampai Akashi sendiri lupa kalau selama ini ia ber-crossdressing. "Ehm... baiklah aku akan meminta pemiliknya untuk menerimamu sebagai pelayan pria."

"Terima kasih, Akashi-kun. Kalau tidak bisa jangan dipaksakan."

"Kalau begitu coba datang saja dulu." Kata Akashi.

.

.

.

Kuroko pulang bersama Akashi karena pria itu bermaksud untuk membawanya ke maid cafe tempat ia bekerja sekaligus menumpang hidup. Sudah hampir setengah perjalanan, tapi tak satupun dari mereka memulai pembicaraan.

"Ano...

Sekalinya bicara, mereka memulainya bersamaan dan seketika mereka kembali gugup dan tidak bicara.

"Kau duluan, Akashi-kun." Kata Kuroko.

"Tidak, kau saja dulu."

"Baiklah, Akashi-kun kau selalu datang pagi sekarang. Ada apa?" Tanya Kuroko.

Akashi menelan ludah, tak menyangka hal yang paling tidak ingin ia bahas justru dipertanyakan oleh makhluk mungil di sampingnya ini. "Y...ya, memangnya salah?"

"Tidak, sih. Tapi rasanya tidak biasa kalau tidak ada Akashi-kun."

Akashi tersentak, ia langsung mengangkat tangan dan menutupi wajahnya. Tidak, ia tidak boleh terlalu senang. Dengan berkata seperti itu, bukan berarti Kuroko menganggapnya spesial. Ia pasti akan mengatakan hal yang sama jika anggota kisedai lainnya melakukan hal yang sama dengannya.

"Kau tadi ingin bilang apa, Akashi-kun?" Tanya Kuroko.

"Tidak jadi."

Akashi dan Kuroko sampai di depan cafe dan terkejut melihat betapa ramainya maid cafe kecil itu. Tidak melihat adanya peluang untuk menerobos masuk, Akashi mengajak Kuroko untuk masuk melewati pintu belakang yang terhubung dengan dapur.

"Akashi-kun!" Sambut si cucu pemilik cafe. "Eh? Ada Kuroko-san juga."

"Ya, aku ingin bertanya." Ujar Akashi sambil memasang wajah yang seolah berkata 'jangan bilang pada Tetsuya kalau aku bekerja disini dan crossdressing' pada gadis itu. Beruntung gadis itu cukup pintar untuk membaca raut muka. "Bisa kau mempekerjakan Kuroko untuk sementara waktu?"

"Ah, ide bagus. Aku rasa Kuroko-san sangat imut, jadi kalau dia...

"Menjadi pelayan pria."

Gadis pemilik cafe itu menghela napas. "Tidak bisa, ini maid cafe bukan butler cafe."

"Kalau begitu tidak apa, tidak usah dipaksakan."

"Tunggu dulu, bisakah kau crossdressing? Sekali ini saja. Cafe ini ramai sekali karena ada diskon. Kami kewalahan melayani pengunjung. Ya, ya, ya?" Pinta gadis itu dengan nada dan raut sangat memohon.

Kuroko membulatkan matanya yang sudah bulat. "Tidak, terima kasih...

"Akan kubayar, ah akan kuberi bonus! Bagaimana?"

Kuroko diam dan terlihat mempertimbangkan. Kalau ia pulang ke rumah sekarang, ia tidak akan mendapatkan apa-apa. Tapi kalau memanfaatkan waktunya yang luang ini untuk bekerja, ia bisa mendapat uang tambahan untuk membeli sepatu. Kalaupun ia harus crossdressing, tidak akan ada orang lain yang mengetahuinya kecuali Akashi dan orang-orang yang bekerja di cafe itu. Akhirnya, karena butuh uang, sangat butuh uang, Kuroko dengan tegas menjawab.

"Baik, aku akan melakukannya."

Dan berhasil membuat mata Akashi Seijuurou membulat penuh.


To be continue...


Lagi dan lagi, apdetnya lama. Moushiwake arimasen (_ _). Semua komentar udah dibacain huhu, makasih banget reviewnyaaaa, follownya, favenya. Huhuhu arigatou gozaimashita. untuk chapter selanjutnya akan diusahakan lebih baik dari sebelumnya. Mohon saran, komentar, dan lain-lainnya di kotan yang di bawah itu ya, soalnya jujur aja kayaknya chapter yang ini agak mengecewakan huhu, aku tidak pede-ssu. Sampai ketemu di chapter selanjutnya... (emotcium).