Captain wa Maid-sama!

Captain is a Maid!

by nanodayo-san

[Disclaimer : Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadatoshi sensei.

Terinspirasi dari Kaichou wa Maid-sama]

Chapter : 5/?

Warning : slight shonen ai, typo, rawan OOC, AU, bad fic, CrossdressAkashi, humor yang garing, bahasa yang aneh.

.

.

.

His new life is uncomfortable


Sialan.

Kata itu terus saja meluncur dari bibir Akashi dengan volume pelan. Di depan matanya, sekarang Kuroko tengah menggunakan seragam yang serupa dengannya dilengkapi dengan wig berwarna hitam yang terurai sepanjang punggungnya. Tubuhnya yang kecil dan kulitnya yang seputih salju mendukung penampilannya malam ini, ditambah lagi pipinya yang merona merah menahan malu menambah presentase kemanisannya.

Walaupun begitu, Akashi sungguh merasa bersalah mengajak anak itu kemari.

"Akashi-san?" Panggilan itu mengalihkan mata Akashi yang sejak tadi mengekor Kuroko, mengawasi anak itu dari jauh. "Bisa antarkan pesanan ini? Aku mau ke toilet sebentar."

Meski mengesah, Akashi tetap menerima nampan yang diserahkan si cucu pemilik cafe dan mengantarnya ke meja pelanggan. Ketika ingin kembali ke dapur, kebetulan ia berpapasan dengan Kuroko.

"Akashi Seiko-san, aku tidak melihat Akashi-kun sejak tadi. Apakah ia pulang duluan?" Tanyanya.

Akashi menelan ludahnya, pikirannya secara spontan berputar mencari jawaban paling tepat yang bisa ia lontarkan pada Kuroko. "Ti...tidak mungkin ia pulang duluan. Etto...sebenarnya tadi aku menyuruhnya untuk menunggumu di tempat lain. Ia pasti akan datang lagi nanti." Katanya dan berhasil membuat Kuroko percaya dengan bualannya.

"Baiklah, aku antar ini dulu." Katanya sambil mengangkat sedikit nampan yang dibawanya.

Mata Akashi kembali mengekor kemanapun Kuroko melangkah. Ya ampun, tidakkah ia terlalu overprotektif?

"Kuroko-san manis sekali, ya?" cetus si cucu pemilik cafe yang entah kapan sudah kembali.

"Biasa saja." Respon Akashi singkat.

"Haaaah, kau ini tidak pernah mau mengaku, Akashi-san." Sial, gadis ini berani sekali. Ia sama sekali tidak menyadari Akashi yang mati-matian menahan diri untuk tidak memukulnya. "Kalau Kuroko-san tidak manis, tidak mungkin orang-orang yang disana itu menahannya pergi."

Mendengar perkataan si gadis, Akashi refleks kembali memperhatikan Kuroko. Baru sebentar saja ia mengalihkan pandangan, tapi orang-orang genit itu sudah mulai bertindak. Tanpa menghiraukan si gadis lagi, Akashi mengambil langkah mendekati Kuroko dan menggenggam pergelangan tangannya.

"Sakit, Seiko-san." Rintih Kuroko tapi sama sekali tidak didengar Akashi.

"Dengar, saat ini dia sedang sibuk, jadi jangan mengganggu pekerjaannya." Kata Akashi, matanya yang mematikan berhasil membuat orang-orang yang menggoda Kuroko tadi membatu. Akashi tak mau peduli mereka atau beberapa orang yang melihat ke arahnya dengan tatapan ngeri. Yang ada di pikirannya cuma satu, yaitu membuat Kuroko yang tidak bisa apa-apa ini menjauh dari orang-orang usil itu.

"Terima kasih, Seiko-san." Ucapnya.

Akashi merasakan pipinya menghangat, ia tidak percaya telah secara refleks melakukan hal itu. "Tidak masalah. Dan tolong jangan panggil Seiko-san, aku kurang terbiasa dipanggil seperti itu olehmu."

Kuroko mengernyitkan dahinya. Dipanggil seperti itu olehnya? Bukannya ini pertama kali mereka saling memanggil nama? "Ano, maaf aku tidak sopan memanggilmu Seiko-san. Tapi, rasanya aneh jika memanggilmu Akashi." Kuroko menggaruk kepalanya. "Aku biasa menggunakan nama itu untuk memanggil Akashi Seijuurou."

Akashi agak tersentak. Bolehkah Akashi berpikir itu merupakan tindakan spesial dari Kuroko Tetsuya? Tidak, tidak, mana mungkin itu benar. Ia pasti hanya tidak mau kagok antara Akashi Seijuurou dan Akashi Seiko, ya walaupun kenyataannya mereka adalah orang yang sama.

.

.

.

Kuroko cepat-cepat keluar dari ruang ganti ketika Akashi memanggilnya untuk tidak membuatnya menunggu lebih lama lagi. Sejak si cucu pemilik cafe menyuruhnya untuk ganti baju, ia tidak melihat lagi kemana Akashi Seiko pergi. Gadis itu seolah menghilang berteleportasi entah kemana.

"Terima kasih atas bantuanmu hari ini, Kuroko-san." Gadis cucu pemilik toko membungkukkan badannya dalam-dalam, menunjukkan bahwa ia sungguh-sungguh berterima kasih atas 'pengorbanan' Kuroko hari ini. Ia mengulurkan sebuah amplop berwarna coklat. "Ini, mohon terimalah." Katanya.

Kuroko menerima amplop tersebut lalu mengintip isinya. Ternyata, upah yang baru saja ia terima masih belum cukup untuk membeli sepatu baru. Ya, setidaknya lumayan untuk menambah tabungannya. "Terima kasih. Aku akan langsung pamit."

"Eh? Padahal aku ingin mengajak makan malam dulu." Kata gadis itu. "Kalau begitu terima ini, untuk dimakan di jalan." Gadis itu memberikan sebungkus roti pada Kuroko dan Kuroko menerimanya dengan senang hati.

"Ayo pulang." Ajak Akashi.

Mereka keluar dari cafe tersebut lalu berjalan beriringan. Suasana malam perkotaan yang ramai. Lampu-lampu penerang jalan yang berdiri di pinggir trotoar berpendar melawan pekat malam.

"Kau dan Seiko-san, mempunyai banyak kemiripan." Kata Kuroko memulai obrolan. "Kelihatannya kalian mempunyai sifat yang mirip."

Akashi tidak langsung menanggapi. Ia mulai waspada, jangan-jangan Kuroko sudah mulai mencurigainya. "Benarkah?" Akashi berusaha terlihat setenang mungkin.

Kuroko mengangguk mengiyakan. "Wajah kalian juga mirip. Sangat jarang orang bisa semirip itu dengan sepupunya."

"Mungkin karena dia adalah anak dari saudara kembar ayahku." Jawabnya asal, ia sudah mulai frustasi mencari alasan yang cukup masuk akal.

"Jadi ayahmu punya saudara kembar."

Akashi mendengus, "Bisakah jangan membicarakan hal ini?" Protes Akashi dan akhirnya Kuroko menghentikan topik tersebut. Namun, alih-alih mencari bahan pembicaraan yang lain mereka justru saling terdiam layaknya orang yang tidak saling mengenal.

Lampu hijau pejalan kaki menyala. Tetapi baru saja akan mengambil langkah, sebuah motor tiba-tiba saja melaju cepat tepat di depan Kuroko. Beruntung Akashi dengan sigap menarik pergelangan tangannya, sehingga ia tidak tertabrak.

"Dasar idiot, mengambil kesempatan selagi penyeberang belum lewat." Umpat Akashi. "Kau tidak apa-apa?" Tanya Akashi, dan saat itulah ia sadar bahwa tangannya masih menggenggam tangan Kuroko. Seketika ia melepaskannya.

"Tidak apa-apa." Jawab Kuroko singkat. Kuroko melirik tangan Akashi yang baru saja melepas pergelangan tangannya, rasanya sentuhan tangan itu tidak begitu asing.

"Ayo, cepat." Ajak Akashi dan berjalan mendahului Kuroko. Tapi, pria berambut merah itu kembali menghentikan langkah ketika tiba-tiba saja Kuroko meraih tangannya.

"Cepat, Akashi-kun." Katanya tanpa peduli bahwa teman berjalannya sekarang setengah mati terkejut karena tindakannya tersebut.

Kuroko tetap berjalan sambil menautkan jemarinya dengan jemari Akashi, kepalanya sibuk berpikir, mengingat-ingat dimana dan kapan ia pernah merasakan hangat tangan yang sama. Bahkan, semakin ia berpikir keras, genggaman tangannya pun semakin erat dan tanpa ia ketahui membuat otak Akashi enggan berpikir jernih.

Akashi yang kehilangan akal pun menarik tangannya dari genggaman Kuroko. "Tinggal sedikit lagi sampai rumahmu. Kurasa sudah cukup mengantarmu sampai sini."

Kuroko mengangguk. "Terima kasih, Akashi-kun."

"Hn."

Akashi membalikkan punggungnya dan bergegas pergi, begitu pula dengan Kuroko yang mulai mengambil langkah yang berlawanan. Tetapi, saat itulah teka-teki kusut yang memenuhi kepala Kuroko perlahan terurai. Ya, ia ingat siapa yang memiliki sentuhan seperti Akashi Seijuurou.

Namun, saat Kuroko berbalik dan hendak menanyakannya, punggung Akashi sudah menghilang.

.

.

.

"Tadaima." Ucap Akashi sambil membuka pintu cafe, tampaklah disana sang cucu pemilik cafe yang sibuk membersihkan meja.

Gadis itu menoleh. "Okaeri. Akhirnya kau pulang juga. Cepat bantu aku!" Katanya.

"Tch, siapa dia berani memerintahku?" Batinnya, tak tahu diri bahwa ia hanyalah seorang freeloader. Namun, karena sudah sadar bahwa dia cuma menumpang dengan senang hati ia menerima lap yang menganggur di atas etalase dan menggunakannya untuk membersihkan meja-meja.

"Kau benar-benar menutupi identitasmu ya?" sang gadis membuka pembicaraan.

"Tentu saja." Jawab Akashi singkat.

"Jadi yang tahu cuma pemuda hitam yang tempo hari kemari. Kau tidak takut ia membongkarnya?"

"Kalau itu terjadi, aku akan membunuh dia juga orang yang sudah diberi tahu olehnya." Jawab Akashi.

Sang gadis bergidik ngeri. "Uwaah, menakutkan." Gadis itu kemudian duduk di kursi dan menopangkan dagunya di atas meja yang baru saja dibersihkannya. "Tapi, kalau ada orang yang mengetahui identitasmu tanpa diberitahu si hitam itu bagaimana? Kau masih berniat membunuhnya?"

"Tentu saja."

Gadis itu bersiul. "Kau benar-benar seorang yandere, Akashi-kun." Katanya lantas menyeringai. "Tapi kalau orang itu Kuroko-san bagaimana?"

Akashi sempat terdiam, tampak berpikir. Agaknya, pria itu menanggapi dengan serius pertanyaan yang sebenarnya adalah gurauan yang dibuat si cucu pemilik cafe untuk menggodanya. "Tidak ada pengecualian." Jawabnya dingin.

"Eh? Kukira kau menyukai Kuroko-san." Ucapannya barusan seketika mendapat hadiah picingan tajam mata Akashi yang menyeramkan, ketika itu juga ia bangkit. "Nenek, aku ingin makan omurice!" Serunya dan pergi meninggalkan Akashi.

Akashi mengesah. Situasi yang sulit dan menyebalkan.

.

.

.

Hari kemarin berganti hari ini. Kembali sekolah dimulai. Kuroko hampir sampai gerbang ketika melihat Akashi datang memasuki kawasan sekolah. Hari ini ia sengaja datang pagi dan sengaja ingin berpapasan dengan Akashi, hanya saat inilah satu-satunya waktu yang bisa ia gunakan untuk bicara berdua dengan Akashi, mengingat kaptennya yang tampak sibuk beberapa hari ini. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, Kuroko langsung berlari mengejarnya.

"Ohayou gozaimasu, Akashi-kun." Sapa Kuroko begitu sampai dan membuat Akashi terkejut.

Akashi gagal menghidar dari Kuroko pagi ini. "Ohayou, Tetsuya." Balas Akashi.

"Kau tidak dengan supirmu?" Tanya Kuroko.

"Masih pagi dan kurasa lebih baik berjalan kaki kemari sambil sedikit berolahraga." Kuroko mengangguk mengerti. "Hari ini kau ingin mencari kerja paruh waktu dimana?"

Kuroko sejenak berpikir. "Aku baru ingat Murasakibara-kun punya toko kue. Mungkin aku akan bertanya padanya nanti."

"Souka, biar aku yang bicara padanya nanti. Ia pasti akan menurut kalau aku yang memerintahnya."

"Terima kasih Akashi-kun, kau banyak membantu." Kata Kuroko. "Omong-omong sebenarnya ada yang ingin kutanyakan pada Akashi-kun."

Akashi terdiam, tiba-tiba merasakan sesuatu yang tidak baik. Ia ingin bertanya apa yang ingin Kuroko tanyakan, tapi nihil ia terlalu takut. Ya, mungkin untuk pertama kalinya ia takut pada suatu hal.

Tanpa menunggu sahutan Akashi, Kuroko langsung melanjutkan. "Aku merasa ada yang aneh pada sepupumu."

"S...Seiko?" Akashi merasakan napasnya tercekat.

Kuroko mengangguk. "Ada banyak hal yang membuatku penasaran." Kuroko menghentikan langkahnya ketika tiba-tiba sang kapten berhenti dan menatap lurus mata Akashi. "Aku tidak mengerti mengapa aku terus berpikir bahwa kau dan Seiko-san adalah orang yang sama."

Tidak ada manusia hidup yang tidak bernapas. Tapi percaya atau tidak, saat ini Akashi lupa bagaimana cara bernapas. Tidak, terlalu cepat untuk mengakuinya sekarang. Apalagi di depan Kuroko Tetsuya.

Ia harus mencari cara untuk menutupinya.


To Be Continue...


Humhum, rasanya cepet banget chapter-nya. Minna, miracle of holiday akhirnya update lagi setelah beberapa hari yang lalu update *gapenting* arigatou gozaimasu buat review, komentar, saran, dsb. Huhu, sekarang mohon bantuannya buat ngisi kotak yang di bawah itu lagi ya. Sampai ketemu di chapter selanjutnya... :D