Sakura Minna de Tabeta
By : Mikazuki_Hikari
Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi ©
All Chara belongs to Fujimaki Sensei
This Fiction belongs to Mikazuki_Hikari
Rate : T (M buat jaga jaga)
Genre: Romance, Supranatural
Pairing: Akashi.S x Kuroko.T
Warning: Shonen-Ai, Typo(s), EYD tidak sesuai aturan, Male x Male, Alternate Universe (AU), Out of Character (OOC), Implicit Lime.
Special Notes : Sebagian besar Point of View Cerita ini adalah POV Kuroko Tetsuya, kecuali ada pemberitahuan pergantian POV
Don't Like Don't Read
I have warned you
.
.
.
Part 12 – Hydrangea
Setelah mimpi aneh yang kudapatkan semalam, hatiku larut dalamnya.
Aku benar benar tidak mengerti apa maksudnya. Akhir akhir ini banyak hal aneh yang terjadi disekitarku, mulai dari pembatas buku, buku yang dipegang oleh Akashi-kun...
Akashi-kun ya?
Bagaimana pandanganku mengenai pria itu ya? Aku sendiri tidak pernah menilainya secara langsung.
Aku pernah melihatnya di suatu tempat. Tiap aku berusaha mengingatnya, kepala ini tidak mengizinkannya, sakit yang ditimbulkannya tidak dapat kubendung, nampaknya ada hal yang melarangku untuk mengingatnya kembali.
Sosok berambut merah, hakama berwarna merah-
Kepalaku berdenyut sangat keras, aku terhuyung kembali kekelas, berharap mendapati pria berambut merah itu ada disana.
Benar saja, dia ada disana, mencoba untuk tidak menunjukkan rasa sakit itu padanya, aku berjalan melangkahi pintu kelas yang terbuka lebar.
"Tetsuya." Akashi-kun yang berdiri dekat jendela kelas menatap lurus kearahku, tatapan yang tidak seperti biasanya. Kali ini tatapannya hangat dan teduh.
"Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu, dan aku ingin mendengar jawabannya langsung darimu Tetsuya, kemarilah." Tukasnya.
Aku menghampirinya, lengannya yang kokoh merengkuh ujung jemariku dan membawa iris biru mudaku bertumbukan lagi dengan manik merah miliknya untuk kesekian kalinya.
Aroma tubuhnya manis seperti bunga sakura hari itu, tangannya meraih kedua belah pipiku dan mencium lembut bibir ranum yang merekah pada wajahku, manik biru yang terbuka lebar melihat wajahnya yang begitu dekat, seketika mengeluarkan bulir transparan dari ujungnya.
Aku bisa mendengarnya. Suara itu. Kata-katanya mengalun dengan lembut, menenangkan, namun juga menyakitkan, meski aku tidak begitu mengerti arti dari
'Kau bisa bertahan, namun kau masih bisa memilih, berdiri menatap langit, namun tidak mendapatkan apa apa, atau kau bisa duduk dibawah naungan Sakura yang kau lihat waktu itu, dan mendapatkan apa yang kau cari. Sakura itu menunggu Tetsuya, memberimu kebahagiaan, namun tetap, ada konsekuensi yang harus kau tanggung.'
'Aku tau apa yang kau tanggung, disinilah aku membuka tanganku, terbuka lebar menunggu surai biru itu terbaring lemah disini, mencari apa yang memang seharusnya ia cari, menjadi jawaban atas perjanjian hari itu, aku bermaksud untuk mengakhirinya sebelum terlambat, mengerti luka yang kau alami, berusaha membebatnya dengan kehangatan yang kau sebutkan dalam anganmu, dan membuatnya bersinar seperti sedia kala.'
.
Aku mencintaimu Tetsuya
.
"Akashi-kun—" aku terperangah mendengar perkataan yang muncul dibenakku.
Akashi-kun tidak menjawab apa-apa, dia hanya tersenyum. Apa benar? Apa benar yang mengatakan semua hal tadi adalah Akashi-kun?
Ia mengatakannya, hal yang selama ini hilang, hal yang selama ini ingin kudengar lagi dari pria itu.
Aku memeluknya erat, air mataku masih berlinang membasahi pipi serta kemeja birunya. Aku berusaha menatap wajahnya, berusaha mengatakannya, hal yang memang seharusnya kusampaikan pada pria ini.
Katakan...
Katakan Tetsuya, sampaikan padanya
.
.
Apa ini? Harum yang berbeda dari biasanya, kelopak kebiruan menyebar dari belakangku menuju Akashi-kun, disusul senyum yang terukir di wajah anak Adam berambut merah yang masih memegang erat kedua belah tanganku.
Hydrangea...*
"Manis sekali Tetsuya, aku suka jawabanmu." Pria itu tersenyum.
Siapa sebenarnya pria ini?
.
.
Part 13 – Langit yang Kembali pada Pembaringannya
Terbayang akan sosoknya yang perlahan memudar, kenangan hari itu yang juga ikut memudar bersamanya.
Kalau aku kembali melangkah ke hari itu, mungkin aku tidak bisa bertemu dengan Akashi-kun, namun tetap saja, bagian dalam diriku masih menginginkannya.
Aku mengemasi barang barangku, Akashi-kun sudah pulang terlebuh dahulu. Manis bibirnya masih terasa hingga detik ini, membuatku seperti orang mabuk, wajahku yang merah, dan debaran hati yang memburu.
Apa mungkin aku jatuh cinta padanya? Tapi apa poinnya?
'Aomine-kun sedang apa ya?' batinku sambil tersenyum dengan sendirinya.
Ada apa ini? Kenapa seketika namanya terlintas dipikiranku? Kenapa diriku masih merasa kalau sampai detik ini aku masih menjadi kekasih pria itu?
Berusaha melupakan apa yang kupikirkan tadi, membawaku pada kenyataan dihadapanku saat kepalaku membentur tubuh seseorang.
.
.
"Aomine-kun?"
"Tetsu, kebetulan tadi aku mau datang kekelasmu, ternyata kau sudah keluar." Ia tersenyum.
Tubuh ini berjalan menuju pria itu dengan refleksnya, memeluk tubuhnya dan menangis.
Bukankah seharusnya aku tidak boleh melakukan hal ini? Apa ini yang aku lakukan untuk menebus dosaku atasnya? Dosa yang kubuat karena sudah menyakiti perasaannya dengan berkata kalau aku akan membuang seluruh pemberiannya karena aku sudah tidak sanggup melihat wajahnya lagi?
Karena memang dia memilih pria itu?
Kalau memang dia memilih pria itu, apa yang kau lakukan Tetsuya?
Aku masih menginginkannya, egoku menang atas akal sehat dan perasaanku.
"Tetsu?"
"Okaeri, Aomine-kun..."
"T-tadaima? Mungkin, haha..." nampak pria itu mencoba untuk tertawa.
"Aku ingin bertemu denganmu Tetsu, sudah lama yah? Sejak hari itu." lembut tangannya membelai surai biru muda milikku.
"Aku juga kangen sama kamu..."
"Mau kerumahku?" tanyanya yang membawaku langsung kerumahnya.
.
.
Lama sekali aku melepas rindu dengan pria ini, menolak rasa benciku padanya.
Kami bisa tersenyum lagi, bisa tertawa lagi, kalau saja ini hanya mimpi, aku tidak ingin terbangun dari mimpi ini.
'Pilih Tetsuya.'
Sekilas aku bisa mendengar suara Akashi-kun terngiang pada kepalaku, membuat mataku seakan tercelik dengan apa yang sedang kulakukan.
Salah...
Aku tidak ingin begini...
"Maaf aku mau pulang Aomine-kun, ini sudah larut malam, besok kan sekolah." Aku melangkahkan kakiku keluar dari kamarnya.
Aomine-kun memeluk tubuhku dari belakang, memeluknya erat seakan tidak menginginkannya pergi "Tapi aku kan masih pingin sama kamu."
Perkataan itu, membawa kami berdua, pada hal yang seharusnya tidak kami lakukan.
Kami tahu ini salah, daging kami yang membawa kami pada hal ini, membawaku terlelap dalam pelukannya, dengan dirinya yang masih ada didalamku.
.
.
Pagi harinya, aku membuka mataku yang masih berat. Sekujur tubuhku sakit karena apa yang Aomine-kun lakukan semalam, bekas kemerahan nampak pada leher, dada juga kedua pergelangan kakiku yang masih lengket karena Aomine-kun.
Melihat dirinya yang masih terlelap tanpa benang yang menutupi diri kami, membuatku kembali pada pelukannya. Kukecup dada bidang itu, yang sudah lama sekali aku tidak terbenam di dalamnya.
"Aomine-kun, bangun, kan kita harus sekolah." Aku membelai lembut pipinya, membuka kelopak mata yang mengurung manik indigo yang masih redup itu pada cahaya pagi dari arah jendela.
"Sebentar lagi yah, aku kan cape tadi malam, Tetsu kan tidak bergerak banyak, jadi Tetsu duluan saja." Ia berkata manis sambil menggigit telingaku, membuatku keli karenannya.
"Ayo ah, nanti terlambat, kita mandi dulu, badanku lengket." Tukasku.
"Tetsu yang terlalu manis sehingga aku yang jadi terpaksa melahap Tetsu tadi malam." Ia mengecup bibirku.
"Aku mau jadi pacar Aomine-kun lagi." aku memeluk tubuh besarnya, wangi tubuh yang kurindukan menyeruak di hidungku, aku menggosokkan hidungku pada dadanya, membuatnya melakukan hal yang sama.
"Iya Tetsu, sekarang madi yuk."
"Aomine-kun dulu." Aomine-kun akhirnya melangkah ke kamar mandi seorang diri.
'Apa ini yang kau sebut dengan kebahagiaan Tetsuya?'
Sesaat aku mendengar suara itu menggaung di kepalaku, air mataku langsung menetes, seperti ditampar dengan keras, aku terbangun pada kenyataan yang kualami sekali lagi.
"Tidak bisakah aku begini sebentar?" bisikku, seakan aku bisa berkomunikasi dengan suara Akashi-kun yang sering muncul dalam kepalaku.
'Namun janganlah kau terkejut dengan apa yang kau lihat nantinya Tetsuya, aku tidak mau kau disakiti lagi.' Lalu suara itu menghilang, untuk waktu yang cukup lama. Sosok Akashi-kun pun, juga tidak muncul di sekolah.
Entah kemana dia pergi.
Tidak ada seorang pun yang tahu.
Demikian juga dengan pembatas buku sakura milikku, yang mendadak menghilang.
.
.
Part 14 – Perahu yang menuju pada Ujung Sungai yang Kulihat dalam Mimpi
-=Route XXX=-
Awal yang mengarah pada akhir cerita buku itu sudah terlihat. Pada akhirnya, sang anak muda itu memilihnya bukan?
Dimana seharusnya Langit itu berada, bukan disitulah letak hati sang pemuda itu harusnya berada.
Anak muda yang menatap nanar pada perahu yang ada dihadapannya.
Melihat kabut yang ada didepannya menjadi semakin pekat.
Pada akhirnya, kau akan menyebrang juga bukan?
Namun aku belum bisa menunjukkan akhirnya sekarang. Biar kau yang melihat dengan matamu sendiri
Tetsuya...
.
.
Part 15 – Langit Bunga Matahari
Betapa senangnya aku bisa dekat dengan Aomine-kun lagi. Melalui hari hari yang selama ini hilang. Semuanya sudah terganti, hari ulang tahunku, ulang tahunnya, Natal, Valentine, juga White Day yang mengembalikan kami lagi pada hari Natal lainnya.
Memasukki sebuah lingkar yang indah, mengulang lingkar itu lagi dan lagi. Tidak ada rasa bosan di dalamnya.
Namun, ada sesuatu yang hilang.
Aku merasakan kejanggalan. Namun apa?
'Apa kau sudah puas dengan semuanya Tetsuya?'
Suara Akashi-kun lagi. Sudah cukup lama aku mengabaikan suara itu, terbuai dalam permainan yang bernama cinta yang Aomine-kun mainkan.
'Aku bahagia melihatmu tersenyum Tetsuya, namun, aku tidak bisa melakukan apapun, lingkar yang kau lihat dihadapanmu, yang kau anggap tidak akan memiliki ujung, sebentar lagi akan mencapai akhirnya, takdir itu sendiri yang akan memotong pita lingkar itu Tetsuya, aku harap kau siap.'
'Kau, masih bisa memilih, aku bisa membantumu Tetsuya, namun tidak sekarang.'
"Akashi...-kun..."
"Ada apa Tetsu?" ucap Aomine-kun.
"Tidak..."
"Hari ini aku ada janji yah Tetsuya, aku mau ada urusan sama klub basket, kamu pulang saja duluan ke rumahmu." Ucap Aomine-kun lagi.
Dalam hatiku, aku tidak mengindahkannya, hari ini kan hari ulang tahunnya, kue nya sudah kusediakan, dan lebih lagi, aku sudah siap dengan Aomine-kun malam ini.
Setidaknya begitu pikirku...
.
.
Sore harinya, aku bergegas ke rumah Aomine-kun, membawa kue serta hadiah jam tangan yang dulu ia inginkan.
Aku ingin melihatnya tersenyum, tunggu aku Aomine-kun.
Rumahnya tidak begitu jauh dari sekolah. Hati ini sudah berdebar debar ingin segera merayakan ulang tahunnya, sekali lagi, dan seterusnya-
"Aomine-kun..." mataku terbelalak, mulutku gemetar, begitu pula lututku, tanganku menjatuhkan kue beserta hadiah yang sedari tadi kugenggam.
Aku menjerit. Satu jeritan yang teramat keras...
Aku hancur...
Di depan mataku sendiri, di hari yang seharusnya membuahkan senyuman hangat.
Aomine-kun sedang bercinta dengan Kise-kun. Peluh membasahi tubuh mereka, dengan Aomine yang tersenyum dan disambut sebuah ciuman mesra oleh Kise-kun.
Aomine-kun nampak senang, ia mempercepat gerakannya pada Kise-kun "Makasih hadiah ulang tahunnya yah, aku sayang kamu." Ucapnya.
Mereka bahkan tidak memperdulikanku, aku menjerit cukup keras tadi, namun mereka tidak menghiraukannya.
BLAM!
Kubanting pintu depan rumah Aomine-kun dengan sangat keras, berlari meninggalkan tempat biadab itu, dan berharap tidak kembali lagi kesana.
"Aominecchi, sepertinya tadi itu Kurokocchi melihat kita." Sejenak sebelum meninggalkan rumah itu, aku bisa mendengar Kise-kun berkata demikian, namun aku tidak memperdulikannya.
'Kau sudah melihatnya bukan?' suara Akashi-kun kembali terdengar.
.
.
Part 16 – Hydrangea pada Hari Senja
Aku berlari keluar, arah kakiku tak menentu. Tidak kuhiraukan orang yang ada disekitarku. Entah apa yang mereka katakan tentang sosokku yang hancur, aku tidak perduli.
Bagaimana bisa?
Bukankah selama ini ia memilihku? Bukankah, aku sudah berhasil kembali kepadanya? Kedalam pelukannya?
Apa yang salah denganku? Apa mungkin...
Ya...
.
Aku hanya sebuah mainan baginya
.
Mainan yang ia gunakan sebagai pelampiasan. Entah alasan apa yang akan ia pakai. Sudah muak dengan berbagai alasan yang ia gunakan. Sudah muak dengan tingkah manisnya.
Kenapa bisa aku termakan ucapannya? Bukankah selama ini keputusanku untuk mengakhiri semuanya sudah benar? Kenapa kuserahkan lagi apa yang seharusnya bukan menjadi kepunyaannya? Aku merasa bodoh, sangat bodoh. Kenapa aku tidak mendengarkan ucapan Akashi-kun.
"Kurokocchiiii!" aku bisa mendengar suara Kise-kun dari belakang. Nampaknya mereka mengejarku, mungkin si bodoh Aomine juga ada disana.
Che... Untuk apa? Untuk mentertawakanku? Atau untuk memberikanku belas kasihan? Apapun itu, aku sudah tidak perduli. Mereka yang sudah membuatku sakit, aku tidak ingin lagi melihat muka mereka lagi, sampai kapanpun.
"TETSU! AWAS!" Aomine menjerit histeris.
Nampaknya- keinginanku, untuk tidak melihat wajah dari orang yang tidak kusukai untuk selamanya, sudahlah terwujud.
BAM!
.
.
Part 17—Roh Pohon Sakura dan Senja dari Sang Pemuda
Cahaya terang menyelimuti sekujur tubuhku. Begitu terang sampai aku tidak dapat melihat sekelilingku, aku pun tidak tahu sekarang aku berada dimana.
Setelah kereta itu menghantam habis tubuhku, satu hal yang kuingat adalah, sebuah tangan menarik tanganku setelah hantaman keras yang kualami.
"Selamat datang Tetsuya."
Suara ini, suara yang tidak asing bagiku. Suara yang sudah lama menghilang, suara yang kurindukan. Suara dari Akashi-kun.
"Akashi-kun." Aku bisa melihat sosoknya perlahan mulai nampak, ada yang mengejutkanku dari sosok Akashi-kun yang kulihat dihadapanku sekarang ini.
"Akashi-kun... kau-" iris biru mudaku terbelalak melihat kain kirmizi yang membalut tubuh pria itu, dan wujudnya menyerupai pria itu.
Roh pohon Sakura yang berasal dari buah bibir sekolah kami. Roh pohon yang bisa menyelesaikan masalah orang yang datang padanya.
"Benar Tetsuya, akulah roh dari pohon Sakura yang ada di halaman sekolah itu, kenapa kau terkejud? Ini bukannya kali pertamanya kau melihatku dalam sosok ini bukan?"
"Iya tapi—kenapa setiap aku berusaha untuk mengingat akan hal itu, kepalaku menjadi sakit? Aku—kalau aku tahu lebih dahulu, bukankah Akashi-kun bisa membantuku dalam." Jari telunjuknya ia tempelkan pada bibirku. Pada tangannya terdapat buku putih yang biasa ia bawa, dan pembatas buku motif sakura milikku.
"Pembatas itu! bukunya! Apa maksudnya? Sebenarnya ini dimana?"
Akashi-kun mendekatiku perlahan, hakamanya melambai seiring dengan kelopak bunga sakura yang muncul dari lambaian lenan halus yang membalut tubuhnya. Akashi-kun mendekatkan wajahnya padaku, dan mencium bibirku. Sesaat setelahnya, semuanya nampak jelas, dan aku mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Aku yang sekarang, sudah mati.
Mengenai mitos itu. Ternyata cerita itu bukan sekedar isapan jempol belaka. Semuanya adalah sebuah kenyataan, bahwa keberadaan Akashi-kun memang nyata, dan dia muncul dihadapanku.
Di hari dimana aku terduduk sambil menangis dibawah pohon Sakura, saat semua orang mencaciku karena sebegitu mudahnya aku meninggalkan Aomine, disitulah dia muncul. Kelopak bunga sakura yang ia berikan waktu itu, adalah kontrak yang mengikat kami, dan disitulah Akashi-kun mencoba untuk menyelesaikan masalahku, dengan cara, membuatku melupakan Aomine-kun.
"Tapi buku dan pembatas buku itu?"
Tanpa menjawab sepatah kata pun, Akashi-kun menyerahkan buku putih bermotif bunga sakura itu padaku. Buku yang dulu aku tidak boleh sentuh sama sekali. Akhirnya aku mengetahui, alasan kenapa aku tidak boleh menyentuh buku itu.
Sesaat aku menyentuh lembar demi lembar dari buku yang semula kosong, dari dalamnya mulai terukir banyak sekali tulisan. Tulisan itu tidak lain dan tidak bukan adalah, kisah hidupku sendiri. Kisah hidup yang tertulis sempurna tanpa cacat, mulai dari masa laluku, hingga kejadian dengan Aomine yang kulihat tadi, namun, satu lembar halaman terakhirnya tetap kosong. Berapa kalipun aku menyentuhnya, halaman itu masih tetap kosong.
"Jadi ini alasannya." Akashi-kun tersenyum melihatku yang sudah mengerti maksud dari semua pekerjaannya.
"Namun kenapa buku dan pembatas itu dibiarkan terpisah? Dan bukannya roh pohon itu dalam cerita tidak menunjukkan wajahnya sama sekali? Kenapa kau menunjukkan wajahmu padaku Akashi-kun?" seruku penuh tanya.
"Karena aku mencintaimu Tetsuya." Jawabnya singkat.
"Mencintaiku?" wajahku merona.
"Apa hubungannya?"
"Aku selama ini terus memperhatikanmu dari dalam pohon itu Tetsuya, dan aku menunggu, saat kau datang dan duduk di pohon ini. Pada dirimu kutemukan cinta sejati, aku tahu cintamu pada pria itu sangatlah tulus, aku menunggu, hingga hari dimana aku bisa bertatap muka secara langsung, dan ingin kau memberikan cintamu itu padaku Tetsuya." Ia tersenyum.
"Bagaimana bisa kau memperhatikanku seperti itu?"
"Aku suka melihat wajahmu yang manis saat memikirkan pria itu dari jendela." "Tidak bisa hanya melihat, aku ingin memiliki dirimu Tetsuya, untuk diriku sendiri, ingin menikmati wajah manismu itu lebih banyak lagi." "Namun aku tidak bisa bergerak kemana mana. Kekuatanku tidak cukup."
"Kalau begitu, darimana kau mendapatkan kekuatan sampai bisa membuat wujud seperti yang kulihat?" tanyaku penasaran.
"Kau tahu mitos sekolah mengenai roh pohon yang bisa menyelesaikan masalahmu dengan menukar rasa sedihmu dengan kebahagiaan?" ia malah bertanya balik kepadaku. Aku menganggukkan kepalaku pertanda mengerti, ia membalasnya dengan senyumannya.
"Melalui hatimu, dan semua penderitaan yang ditimbulkan pria itu, dan berkat kau, aku bisa membuat wujud itu Tetsuya, dan akhirnya, aku bisa melihat pria yang kucintai itu dari dekat." "Mengenai pembatas buku itu, buku dan pembatas buku itu adalah pasangan yang tidak dapat dipisahkan, aku ingin membuat ikatan tak terpisahkan diantara kita Tetsuya." Ia mendekap tubuhku lembut.
.
.
Part 18—Sungai Mimpi, Halaman Terakhir dari Nyanyian Hati sang Pemuda
"Sekarang kau harus memilih Tetsu." Ujarnya sambil mentap iris biru mudaku dalam.
"Memilih apa?"
"Mau meneruskan dongeng? Atau ingin melangkah menyebrangi sungai yang ada dihadapan kita sekarang?" tanyanya. Benar saja, didepanku terbentang sungai yang sangat luas. Dari balik kabut, aku bisa melihat pohon sakura besar berdiri kokoh di tengah dataran berumput hijau. Di sisi kaki Akashi-kun ada perahu kayu, mungkin perahu itu digunakan untuk menyebrang, begitu pikirku.
"Apa maksudmu?" lagi lagi pria itu mengucapkan hal yang tidak aku mengerti.
"Aku bisa membantumu, kau ingin tetap hidup? Dan kembali dengan pria itu? atau kau mau tinggal disini bersamaku, dalam keabadian? Kau hanya tinggal memakan ini." Dari tangannya muncul kelopak bunga yang sama seperti dengan yang kumakan hari itu.
"Jangan khawatir, aku akan merubah ingatan semua orang, dan membuatmu bahagia dengan pria itu, namun kita tidak akan bisa ketemu lagi Tetsuya." Ucapnya, mungkin ia ingin membuang segala kekhawatiranku.
"Tidak bisa bertemu?" aku menjadi sangat gundah. Aku tau aku mencintai Aomine-kun. Namun, dari dalam hatiku, aku tidak ingin berpisah dari Akashi-kun. Aku tahu, aku mencintainya.
Aku sudah memutuskan.
Aku melipat tangannya yang memegang kelopak bunga sakura itu, dan tersenyum kepadanya.
"Tetsuya!" aku bisa melihat matanya yang terbelalak. Aku tahu ia pasti terkejut dengan keputusanku, namun, keputusanku sudah bulat.
Aku ingin melangkah dengan Akashi-kun, aku ingin bahagia bersamanya. Mewujudkan keinginannya serta keinginanku. Menutup semua lembaran lamaku, dan memulai lembaran baru dengan Akashi-kun, meski itu berarti harus mengakhiri nyawaku sendiri. Demi melihat senyuman dari Akashi-kun, menurutku, itu bukanlah masalah.
"Ya Akashi-kun, aku sudah memutuskan." "Aku akan berada disini, bersama Akashi-kun, karena aku, tidak mau merasakan luka yang sama, untuk ketiga kalinya, dan aku, ingin tersenyum bersamamu." Aku memeluk tubuhnya yang gemetar. Belum pernah aku melihatnya terkejut seperti ini, namun aku tahu, ia senang dengan keputusan yang aku buat.
"Kalau begitu, masukkan pembatas buku itu kedalam halaman terakhir bukumu itu Tetsuya." Ujarnya.
Aku memasukkan pembatas buku itu ke halaman terakhir yang kosong. Dari lembar putih itu muncul gambar bunga sakura yang merekah dengan indah, dan disebelahnya, muncul satu bunga lainnya, yang bersanding dengan bunga itu.
Hydrangea...
"Nah Tetsuya, mari kita menyebrang, menuju keabadian, dimana kita bisa bersama selamanya..."
"Terimakasih Tetsuya, terimakasih sudah memahamiku." Ia menggenggam tanganku erat.
"Unnnnn... harusnya, aku yang bilang begitu, bukankah itu makna bahasa bunga dari Hydrangea?" aku tersenyum menyongsong orang yang aku cintai, bersama, menuju keabadian cinta kita berdua.
.
.
Part 19— Sakura dan Hydrangea
Tahu kah kau tentang mitos yang beredar disekolah kami?
Jam 12 siang,tengah hari, jika sedang bersedih, dan kau pergi kebawah pohon sakura di halaman belakang sekolah, roh penunggu pohon itu akan menghampirimu, dan merubah hal yang tidak kau sukai itu menjadi kelopak bunga sakura, dan jika kau memakannya, semua perasaan itu akan menghilang.
Banyak murid yang mempercayai hal itu, namun sepertinya itu hanyalah sebuah sugesti.
Tapi tidaklah heran bahwa hal itu cepat menyebar diantara para siswa di sekolah kami, terutama para siswi yang sedang dilanda putus cinta.
Dan tahu kah kau?
Pohon Sakura itu tidak lagi seorang diri. Dibawah pohon itu tumbuh semak bunga hydrangea yang indah, yang tumbuh entah dari mana.
.
.
~FIN~
-=Author Notes=-
Terimakashi yang sudah menemani mika sejauh ini~ ini kali keduanya mika menamatkan sebuah multi chapter, terimakasih atas partisipasi dan dukungannya, juga reviewnya (yang walaupun CUMAN ada SATU)
Best Regards, dan rasa terimakasih Mika kembalikan untuk Readers yang setia menunggu tamatnya cerita ini, fic ini memang lain dari cara penulisan mika yang biasa.
Dan jumlah part dari fic ini, diperuntukkan, untuk memperingati jumlah usia Mika yang akan bertambah sebanyak jumlah Part yang mika cantumkan pada 30 Juli nanti~
Mika janji akan melunasi hutangan Multi Chap yang lain~
Sore jaaa~
See You at my Other Fiction~
Sign
Mikazuki Hikari
