Jam digital yang terpampang pada layar ponsel menyedot seluruh atensi gadis bersurai merah muda.
"Saki!"
Mendongak, lalu tersenyum kikuk, "ada apa Ino?"
"Kau pasti tidak mendengarkanku!"
"Maaf. Aku―"
Melihat wajah cemberut khas anak kecil yang disuguhkan di depannya mata membuat Sakura tertawa.
"Kenapa kau malah tertawaaa!"
Dan cubitan bertubi Sakura dapatkan di perutnya.
サスサク
Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto-sensei but this fict is purely mine.
Warning : cerita pasaran, plotless, alur berbelit, gaje
Song playing recommend : Back to December & I Almost Do (by Taylor Swift). Bukan karena liriknya yang pas sama chap ini, tapi saya ga sengaja pas lagi edit sambil denger kedua lagi itu :'3 silakan jika berminat sambil denger lagu itu, jika tidak sama sekali bukan masalah :3
Don't like? Close this page, write your own story and pairing! Thanks!
Enjoy it, Minna!
サスサク
"Hentikan, Ino-pig. Aku harus pergi bekerja sekarang."
"Tapi kita baru saja―"
"Ah iya aku lupa, jam seorang Yamanaka Ino sedikit berbeda. Baru saja versimu itu 3 jam."
Entah mengapa sahabat pinknya mengeluarkan senyuman menyebalkan. Membuat gadis blonde ini ingin mencolok emeraldnya dengan beringas.
Melambaikan tangan dan merapatkan mantel bermotif bunga, "datang saja ke tempat kerjaku, Pig! Bye!" ucapnya sebelum akhirnya bertarung dengan tetes salju yang sanggup membuat tubuh menggigil.
Gadis blonde yang ditinggal di dalam cafè hanya bisa melihat punggung sahabatnya perlahan mengecil lalu menghilang.
"Sendiri lagi. Apa aku harus cari pekerjaan juga?"
Menghela napas kemudian memakan cake cokelatnya dalam diam.
サスサク
Awalnya, gadis bersurai merah muda ini pikir, setelah ia sampai ke tempat kerjanya, ia bisa sedikit melepas lelah. Setidaknya tidur di sofa yang berada di ruangan khusus karyawan selama lima menit tidak buruk. Ditemani dengan pemanas ruangan tentunya.
Namun, malah kejutan yang ia terima.
Sosok itu. Laki-laki itu. Ya,
―dia.
Berdiri tepat di depannya, di sebelah manager.
"Ah, Sakura. Ada pegawai baru, namanya Uchiha Sasuke."
"Hn, Uchiha Sasuke. Mohon bantuannya." di akhiri dengan ojigi singkat.
Hanya senyum kikuk yang bisa ia berikan sebagai jawaban.
Sakura tahu, dia cepat atau lambat akan masuk kembali dalam kehidupannya,
―dan ini, terlalu cepat.
Terlalu cepat atau kau yang belum siap, Sakura?
Entahlah.
..mungkin keduanya.
サスサク
Tempat gadis ini bekerja bukanlah di sebuah perusahaan dengan gaji berlimpah. Hanya di sebuah restoran cepat saji dengan gaji yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari.
Dan itu yang membuat Sakura mengerutkan dahinya.
Laki-laki yang kini tengah dibanjiri tatapan pemuja dari berbagai pelanggan perempuan ini rela bekerja di tempat seperti ini?
Hanya untuk.. dirinya?
Hell, bahkan Sakura siap untuk tertawa sekeras mungkin.
"Wajahmu aneh."
Sindiran telak yang diberikan teman kerjanya―Temari, membuat emerald Sakura mendelik tajam.
Restoran ini belum begitu padat. Hanya ada beberapa pelanggan. Membuat beberapa karyawan di sini dapat merenggangkan otot sementara.
Tapi tampaknya tidak bagi pria bersurai raven ini.
Sejak beberapa saat lalu, ada saja keributan yang dibuat para pelanggan(pelanggan perempuan yang ingin melihatnya lebih dekat).
Entah itu menjatuhkan sumpit dan meminta Sasuke untuk mengambilkan yang baru, memesan ocha lagi padahal baru sepuluh detik ocha itu ditaruh di meja, bahkan segerombolan murid sekolah di pojok kanan secara terang-terangan meminta foto bersama. Membuat tawa kecil muncul dari karyawan yang tengah asyik istirahat di tempat.
Sakura mendengus geli melihat wajah rupawan itu sedikit kewalahan menanggapi penggemar barunya. Ketara sekali, ingin menolak namun enggan, ingin memarahi takut para pelanggan kabur, yah, Uchiha bungsu ini akhirnya memilih untuk menanggapi dengan wajah datar.
"Aku pesan hot dog satu. Di bungkus saja."
Lamunan Sakura buyar seketika. Ia yang memang bertugas sebagai penerima pesanan sekaligus kasir langsung mengangguk lalu menekan tombol mesin kasirnya, "ada lagi?"
"Tidak."
"Baik. Hot dog satu. Dibawa pulang!"
サスサク
"Otsukaresama deshita!"
Jam pulang akhirnya tiba. Sebagian karyawan sudah lebih dulu pulang untuk menghangatkan diri di bawah gulungan selimut. Sebagian lagi harus membersihkan restoran karena ini memang jadwalnya.
"Maaf, aku pulang duluan ya. Mata ashita, minna."
"Hati-hati, Kakashi! Salam untuk Rin ya!"
Menggoda sang manager bersurai perak itu memang hobi pemuda berwajah imut bersurai merah―Sasori.
"Kupotong gajimu!"
Gelak tawa memenuhi setiap sudut restoran―kecuali Sasuke. Pemuda raven itu masih setia memasang wajah stoic. Mengangkat kursi dan membaliknya lalu menaruhnya di atas meja tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Suara tawa digantikan dengan suara obrolan khas perempuan. Sakura yang tengah mengelap jendela asyik mengobrol dengan Temari yang sedang mengepel.
"Oh iya, Sakura, aku pulang bersama Sasori nanti."
"Eh?! Lalu aku bagaimana?!"
Temari tersenyum kikuk, atensinya tak sengaja menangkap pemuda bersurai raven yang sedang sibuk mengabaikan celotehan Sasori.
"Kau pulang bersama Sasuke saja. Bagaimana?"
"Aku pulang sendiri saja."
"Mana bisa begitu! Kau perempuan! Lagipula ini sudah malam!"
Mana mungkin aku pulang bersamanya. "Temari―"
"Kenapa? Kau biasa saja saat pulang bersama Kakashi atau Sasori. Ah! Kau bahkan juga tak menolak waktu Neji mengantarmu pulang."
"Itu karena sudah malam dan lagi mereka teman kerja―"
"Apa bedanya dengan Sasuke?"
Tanpa sadar, remasan pada lap yang tengah digenggam gadis pink ini mengeras.
"Kau ini. Walaupun ia karyawan baru, kau tidak boleh begitu. Hitung-hitung agar kalian dekat!"
Dekat? Sepertinya gadis berkuncir empat ini tidak mengetahui kisah di antara mereka. Mereka memang pernah dekat.
"Temari ayo pulang. Aku tak sabar ingin mengalahkan Gaara saat bertanding PS nanti!"
Menaruh ember dan alat pel ke tempatnya lalu menepuk bahu Sakura pelan, "aku pulang dulu ya! Mata ashita."
Sebelum membuka pintu restoran, Sasori berucap seraya memakai mantel merah marunnya, "Sasuke! Antarkan Sakura sampai rumah, ya!"
Emerald dan onyx pun akhirnya bertatapan setelah sekian lama.
Dan entah mengapa, sensasi aneh menjalar dalam diri gadis bersurai merah muda ini.
サスサク
Lagi, ada sesuatu yang aneh dalam diri gadis ini saat melihat Uchiha bungsu ini melilitkan syal merah hasil rajutannya beberapa tahun silam.
Dia merawatnya dengan baik.
Mata mereka bertemu untuk beberapa saat, Sakura yang memutuskan kontak mata terlebih dahulu. Merasa agak bodoh karena ketahuan tengah menelisik pemuda di sampingnya.
Rasa hangat melingkupi lehernya. Sadar bahwa syal merah itu kini melingkari lehernya.
"Pakai. Kau bisa kedinginan."
Sakura membenci sensasi aneh yang kerap kali datang setiap ia melakukan hal yang berhubungan dengan Sasuke.
Rasanya.. menyebalkan. Seperti ada yang mengaduk perutmu dengan ganas.
Ia ingat. Ingatan masa lalu tiba-tiba mendobrak masuk dalam otak imajinernya. Membuat ia membayangkan hal yang serupa seperti saat ini.
Sakura juga pernah merasakan betapa hangatnya syal ini. Pertama kali ia memakainya saat mencoba apakah syal ini sudah hangat dan pantas untuk diberikan pada Sasuke kelak.
"Kau merawatnya dengan baik."
Akhirnya kata-kata itu dapat keluar dari mulutnya. Namun, agaknya Sakura menyesal. Meruntuk habis-habisan karena sedikit menyinggung masa lalu mereka.
"Hn,"
Mengehela napas lega karena jawaban sang pemuda hanya gumaman ambigu.
Jalanan agak sepi. Mengingat sudah jam 9 malam. Dinginnya malam saat musim dingin tak berkurang satu celciuspun sejak kemarin. Masih sama.
Keheningan menyelimuti keduanya. Sakura tahu bahwa mereka akan begini pada akhirnya. Tanpa suara. Tak ada obrolan.
"Hmm.. bagaimana kabar Itachi-nii?"
Memilih membuka topik pada akhirnya.
Mendengus kecil, "kenapa tidak bertanya kabarku terlebih dahulu, hn?"
Merotasikan emeraldnya bosan, "kenapa harus menanyakan hal yang sudah tahu apa jawabannya?"
Langkah pemuda bersurai raven ini terhenti. Membuat langkah kaki perempuan di sampingnya ikut berhenti.
"Tahu? Bagaimana kabarku kalau begitu?"
Hening selama beberapa detik. Entah mengapa Sakura enggan untuk menjawab pertanyaan yang baru dilontarkan Sasuke.
'Bagaimana?'
Kilat onyxnya memancarkan kekecewaan dan sedikit kesedihan. Sakura tahu. Karena ia juga merasakan hal yang sama.
"Kabarmu? Kabarmu cukup mengasyikan karena hari ini kau menjadi artis dadakan. Ah, bahkan kelihatannya kau punya penggemar. Selamat, Tuan Uchiha!"
Memilih untuk membuang semua topik yang akan menyinggung masa lalu. Saat ini, gadis itu sama sekali tak ingin membahasnya.
Sasuke hanya diam, baru kemudian mendengus kecil. Pemuda itu sadar bahwa topik tadi nyaris akan membuka kisah lama mereka. Tidak. Seharusnya Sasuke dapat menahan dirinya tadi. Beruntung sang gadis dapat mengacaukan seluruh topik hanya dalam beberapa detik.
"Kau menyebalkan."
Senyum Sakura mengembang mendengar ucapakan khas Sasuke.
"Terima kasih."
"Hn, rumahmu di mana?"
"Tak jauh dari sini."
Menggenggam tangan sang gadis, "ayo. Aa, tanganmu dingin."
Emeraldnya meredup. Merasakan rasa hangat yang kini tidak hanya menyelimuti lehernya. Tangan kirinya yang digenggam Sasuke mulai menghangat. Padahal, tangan Uchiha bungsu ini juga dingin.
"Kau juga dingin."
Mengabaikan segala sensasi aneh dan masa lalu yang mulai menguap ke permukaan, mereka berdua memilih menikmati kesunyian yang ditawarkan malam untuk menemani perjalanan mereka.
Nampaknya takdir mulai turun tangan.
Bagaimana, Sakura?
Takdir mulai mempermainkanmu. Ah, salahmu karena menantang sang takdir.
Bukan begitu?
TBC
AN : heyhooo~~ apa kabar semua? :'3 biarkan diriku ini balas review dulu ya X3
Miss. M : aku bikin MC-nya aja yaa X3
Luca Marvell : terima kasih :'3 semoga ff ini tidak mengecewakan dirimu yaaa X3 bagaimana cara Sakura menolak Sasuke? saksikan kisahnya di chap-chap lainnya *disembur* :'3
Kimura Megumi : ja-jangan panggil senpai ;_; aku hanyalah bunga yang masih kuncup di tengah ladang di antara bunga-bunga yang tengah bermerkaran dengan cantiknya :'3 #WOY aku bikin MC-nya ya :'3 bagaimana cara Sakura menolak Sasuke? saksikan kisahnya di chap-chap lainnya *disembur* :'3
Athena Minev : silakan menikmati apdetan iniii X3 bikin sesuatu yg baru itu indah :'3 *ditampol* terima kasih semangatnyaaaa! X3
Kumada Chiyu : silakan menikmati apdetan ini X3 aaaah! *baru sadar* eh iya bener juga, jadi kepikiran ke sana ;_; *ditampol*
haruchan : silakan menikmati apdetan iniii X3 bagaimana cara mereka putus? saksikan kisahnya di chap-chap lainnya *disembur* :'3
next chap adalah flashback SasuSaku saat masih pacaran ya :3 akan diceritain kisah mereka bagaimanaaa X3
terima kasih buat kalian yang sudah review, follow, dan fav!
Anata-tachi, suki desu!
mind to gimme your love(read: review)? saya menerima segala bentuk review :3 thanks!
(p.s : silakan panggil saya Yuu/Yuu-chan, jika kalian bingung mau panggil saya apa ^^)
sign,
예성의토끼
