Namanya Sakura. Hn, nama bunga khas Jepang. Entah, memang cocok untuk dirinya.

Dia sama seperti perempuan lainnya. Berisik, menyebalkan, bergerombol, dan suara tawanya begitu mengusik.

Tapi kepintarannya membuat nilai plus. Ditambah, well, ia cantik. Emerald-nya berkilat penuh kegembiraan. Rambut pink alami yang langka membuat kesan ceria begitu melekat.

Dan tanpa sadar atensiku sepenuhnya teralih padanya.

サスサク

Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto-sensei but this fict is purely mine.

Warning : cerita pasaran, plotless, alur berbelit, gaje.

Don't like? Close this page, write your own story and pairing! Thanks!

Enjoy it, Minna!

サスサク

"Sasuke, kausuka Sakura-chan?"

"Hn?"

"Lihat aku, Teme. Aku tengah berbicara padamu!"

Merotasikan onyx-ku dengan malas lalu menutup buku fisika yang awalnya sedang kubaca dan menatap sahabat menyebalkanku, "apa, Dobe?"

"Kausuka Sakura-chan?"

Dahiku mengernyit begitu mendengar pertanyaannya yang telah diulang dua kali. Suka? Dengan Sakura?

"Kenapa kaudapat menafsirkan aku menyukai dia, hn?"

Naruto, sahabat menyebalkanku itu hanya mengangkat bahu lalu mengelus dagunya, pose berpikir.

"Entahlah. Tapi caramu melihat Sakura-chan itu berbeda."

"Sok tahu."

Baru aku ingin membuka kembali buku, pemuda blonde ini sudah menahan tanganku terlebih dahulu.

"Aku serius, Teme!"

"Dobe, kita baru kelas dua SMP. Untuk apa memikirkan hal itu?"

"Hal itu yang kaumaksud adalah percintaan. Konyol! Itu bukan hal aneh untuk dibicarakan!"

"Aku tidak mengatakan itu konyol."

"Tapi kau―ah! Intinya kau jangan belajar terus! Sesekali kau juga harus memikirkan hal menyenangkan yang lainnya, Sasuke."

"Jika yang kaumaksud merelakan peringkat nomor satu jatuh kepada orang lain, tidak, terima kasih."

"Terserah kau, Pantat Ayam!"

"Hn,"

"AH! SIALAN KAU SASUKE!"

サスサク

Entah kenapa sejak pembicaraan itu aku selalu melihat gadis pink itu lebih sering. Tolong salahkan dia mengapa gadis itu selalu ada di setiap mataku memandang.

Atau karena atensiku yang benar-benar sudah ia sabotase?

Hn, entahlah.

..menyebalkan.

サスサク

"SERIUS?!"

Oh, siapapun tolong sumpal mulut Si Kuning ini dengan apa pun. Jika bisa sumpal saja dengan kaus kaki yang tak dicuci selama seminggu.

"Urusai."

Seakan tidak mendengar sindiranku, Naruto semakin berisik. Lihat, bahkan ia mulai berjalan ke sana kemari layaknya setrika panas.

"Ck, Dobe! Apa-apaan kau!"

"Teme! Ini gawat sekali!"

"Jangan bilang kalau kau belum belajar."

"Itu memang benar, tapi ini lebih gawat! Lebih gawat ketika warung Ichiraku tidak buka!"

Masa bodoh soal warung ramen itu.

"Ini soal Sakura-chan!"

Mendengar namanya disebut, entah mengapa rasa penasaran tiba-tiba muncul. Hell, seorang Uchiha penasaran hanya dengan sebuah nama? Oh ini memalukan. Semoga kakek tidak memukulku dengan kipas warisan kebanggan klan(yang beratnya sama seperti berat Chouji).

"Tadi aku dapat kabar dari Hinata yang mendapat kabar dari Ino yang mendapat kabar―"

"Intinya saja, Dobe." kataku mulai jengah.

"Sakura-chan sakit. Ia tidak bisa ikut―"

"Dia sakit saat ujian?"

Senyum bodoh milik Naruto tercipta saat aku selesai mengatakan hal itu. Entah mengapa nada yang berbeda tersirat dalam kalimatku. Ck, menyebalkan.

"Kau mengkhawatirkannya, hm, Sasuke?"

"Bodoh."

"Eh! Tunggu aku, Teme! TEMEEEE!"

サスサク

Ujian bahasa bukan hal sulit. Waktu sudah lewat setengah jam dan aku nyaris selesai. Terkadang atensiku teralih pada bangku kosong tepat di sebelahku. Bangku yang harusnya diisi oleh gadis pink itu.

Dinginnya ruangan membuatku ingin pergi ke kamar kecil. Setelah membalik kertas ujian―berjaga-jaga agar tak ada yang menyontek―aku berdiri dan meminta izin pada sensei yang berjaga.

Baru beberapa langkah keluar kelas, onyx-ku mendapati warna pink sepanjang mata memandang. Alisku mengernyit. Itu―Sakura?

"Sakura?"

Hell, ada yang aneh saat aku menyebut namanya. Perutku seperti ada yang menggelitik.

"Sasuke-kun! Kenapa keluar? Bukankah masih ujian?"

Wajahnya merah, matanya berair, dan kuyakin suhu badannya pasti panas. Dalam keadaan seperti itu ia masih saja berisik.

"Hn, kau?" menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Khas Uchiha.

"Hari ini ujian jadi aku―"

"Kau sakit."

"Aku tahu. Tapi hari ini ujian. Aku harus masuk."

Onyx-ku sedikit melebar mendengar pernyataannya. Aku berani bertaruh jika perempuan lain yang sakit pasti akan memilih bergerumul dengan selimut dan memainkan ponsel di ranjang mereka daripada memilih datang ke sekolah walaupun itu tengah ujian.

Satu lagi nilai plus darinya.

Secara perlahan aku medekat ke arahnya dan memegang dahinya.

"Hn, panas. Lebih baik jika sudah selesai mengerjakannya kau segera pulang."

Dahiku kembali mengernyit begitu melihatnya menahan tawa.

"Apa yang lucu?" tanpa sadar kurasakan pipiku panas. Oh sial. Seorang Uchiha mengeluarkan semburat merah muda? Semoga kakek tidak menusukku dengan katana miliknya.

"Tidak ada. Aku hanya senang kau berbicara dengan kalimat panjang padaku."

"Menunjukkan rasa senang dengan tertawa?"

"Ada yang salah, Tuan?"

Aku mengangkat bahu tak peduli, "hn, terserah. Lebih baik kau segera masuk, waktu terus berjalan."

"Dan lebih baik Tuan Uchiha yang satu ini segera ke kamar mandi karena panggilan alammu terus meronta minta dituntaskan."

"Urusai."

"Terima kasih, aku anggap itu sebagai pujian."

"Hn."

Dan senyum manis ia berikan padaku sebelum masuk ke dalam kelas.

Rona merah muda sialan mulai merambat ke pipiku.

Oh, Haruno Sakura kau memang benar-benar menyebalkan.

サスサク

"Teme, kudengar ada senpai yang menyukai Sakura-chan."

Aku memang tidak menoleh sama sekali. Namun, telingaku sedikit sensitif jika sudah membahas gadis merah muda itu(yang sialnya disadari oleh Naruto, jadi ia masih melanjutkan ucapannya).

"Kautahu ketua tim basket kita? Kudengar ia akan menyatakan perasaannya pada Sakura-chan dalam waktu dekat ini."

"Berhenti mengikuti kebiasaan menggosip gadis barbie itu."

"Jika ini gosip tentang gadismu, aku akan selalu menyajikan berita terhangat."

"Dia bukan gadisku, Naruto."

"Ayolah Sasuke. Jangan menjadi pria-yang-tak-peka-pada-perasaannya-sendiri. Kaumenyukainya, akui itu."

"Itu mungkin hanya rasa kagum. Di saat sakit ia rela datang ke sekolah."

"Jika itu hanya sekadar rasa kagum seperti yang kaukatakan, kenapa kau sering sekali melihat dan mencarinya?"

"Aku tidak―"

"Uchiha yang jenius ternyata bodoh soal cinta, hm?"

Mendengar kata bodoh darinya membuat harga diriku tak terima, "Dobe―"

"Ya, ya, ya. Uchiha Sasuke hanya mengagumi Haruno Sakura. Rasakan akibatnya jika ia menjadi milik orang lain."

Aku terdiam mendengar kalimat terakhir yang ia ucapkan. Terselip perasaan tak suka saat mendengar ia menjadi milik orang lain.

"HA! Wajah cemburumu sungguh konyol, Sasuke!"

Cemburu?

Rasa kagum tak pernah menimbulkan rasa cemburu, bukan?

Jadi―

―ini bukan sekadar rasa kagum?

サスサク

"Eh?"

Tanganku mengepal tanpa sadar mendengar ucapannya barusan. Rasa tak sabar begitu mendesak ke permukaan.

Aku bisa melihat ia menggigit bibir bawahnya. Emerald-nya bergerak gelisah.

"Aku.. Aku.."

"Aku mengerti."

"..sungguh?"

"Yeah, mungkin."

Keheningan melanda, menyelimuti kami berdua. Semilir angin mengajak surai merah mudanya menari bersama.

Setelah kejadian pembicaraan dengan Naruto tempo lalu, entah setan apa yang menarikku hingga aku melakukan hal gila.

Aku meminta Sakura menjadi kekasihku.

Ha, setelah ini ingatkan aku untuk merendam kepalaku dalam baskom berisi air dingin.

"Apa maksudmu dengan mungkin?" ucapannya membuatku kembali pada alam sadar.

"Mungkin seperti apa yang kaupikirkan."

Mendengar jawabanku ia hanya terduduk yang beralaskan rumput pendek. Aku melakukan hal serupa.

"Jadi?" oh sial, mengapa aku menjadi tak sabar?

"Aku bingung Sasuke-kun. Aku.. hanya belum mengerti."

"Tentang?"

"..perasaanku."

"Hn, aku mengerti."

Ia yang awalnya lebih memerhatikan rerumputan kini menolehkan atensi kepadaku.

"Bagaimana jika yang kurasakan.. hanya rasa kagum?"

Aku juga berpikir begitu, asal kautahu. Tapi mendengar ocehan Naruto tentang kau yang akan menjadi milik orang lain membuatku gerah dan.. kesal.

"Rasa cinta bisa bertumbuh seiring dengan berjalannya waktu."

Ia tertawa pelan, "puitis sekali, hm?"

"Hn, terserah."

Ia meluruskan kaki dan memiringkan kepalanya. Oh, manis sekali.

"Baiklah, kurasa bisa dicoba."

"Hn,"

"Bisa berikan kosakata lain, Tuan Uchiha?"

"Aa, tidak."

Dan tawa renyahnya membuat kedua sudut bibirku tertarik ke atas.

サスサク

Waktu berjalan cukup cepat. Menjadi murid kelas tiga SMP mulai disibukkan dengan pelajaran tambahan yang tak henti-henti. Musim dingin kembali menyapa dan tak terasa besok adalah hari Natal.

"Untukmu."

Bungkus berwarna cokelat berukuran sedang berada tepat di depanku. Setelah bungkusan itu berpindah tangan rasa penasaran kembali hadir, "apa ini?"

"Hadiah Natal. Aku tidak bisa memberikannya besok. Ada acara keluarga. Memang hanya hadiah sederhana, tapi itu buatanku! Semoga kausuka."

Gumpalan uap kasat mata menyerbu seiring dengan kalimat yang ia lontarkan. Mendengar kata buatannya membuat hatiku menghangat. Ada rasa spesial terselip di sana.

Aku membukanya secara perlahan. Onyx-ku berkilat senang, "syal?"

Ia mengangguk.

Mengacak surai merah mudanya menjadi hal yang kusenangi belakangan ini, "terima kasih."

Dan butiran salju menjadi saksi mata atas kenangan manis kami berdua.

サスサク

Semua hubungan tak selalu berjalan lancar. Begitu pula dengan hubungan kami.

Bisa dibilang hubungan kami jauh seperti hubungan antarkekasih seperti yang lainnya. Tak ada kencan, tak ada makan siang berdua, tak ada pegangan tangan saat pulang sekolah, dan tak ada perayaan hari jadi yang terlalu heboh.

Hubungan kami hanya dihabiskan dengan belajar bersama di perpustakaan, obrolan seputar pelajaran, pergi ke toko buku, dan saling mengajari satu sama lain.

Sakura mulai mengeluh dengan hubungan kami. Ia selalu membandingkan hubungan kami dengan hubungan teman-temannya. Alhasil, kami selalu berakhir bertengkar. Tidak bertengkar heboh, kami hanya memasang aksi saling diam.

"Sudahlah, mungkin dari awal kita hanya dilandasi rasa saling mengagumi."

Aku terdiam mendengar ucapannya. Tak bisa membantah. Bahkan, aku juga ragu akan perasaanku. Aku tidak bisa mengatakan aku menyukainya secara gamblang seperti apa yang dipikir Naruto. Terlalu rumit. Aku tak mengerti.

"Kau bahkan tak bisa menjawabnya."

"Hubungan kita baik-baik saja."

"Tapi aku merasa kita bukan sepasang kekasih, Sasuke-kun. Aku iri melihat Ino―"

"Berhenti bertingkah kekanakan."

"Kekanakan? Aku seorang perempuan, Sasuke-kun! Salah jika aku menginginkan kisah manis dalam hubunganku sendiri?"

Bukan hanya kau, Sakura. Aku juga menginginkannya. Dan aku hanya ingin kisah antara kita.

"Lebih baik hubungan kita berakhir Sasuke-kun."

Dahiku mengernyit tak suka, "apa maksudmu?"

"Kau pasti mengerti."

"Tidak, aku―"

"Rasa cinta bisa bertumbuh seiring dengan berjalannya waktu, bagaimana Sasuke-kun? Aku ragu kau menyukaiku sekarang."

Aku menyukaimu. Namun, aku ragu.

"Lihat kau bahkan tak bisa menjawabnya."

"Tidak semudah itu mengatakan apa yang kurasakan."

"Itu mudah jika kau memang sudah mempunyai jawaban yang tepat."

Rasa tak suka dengan apa yang ia ucapkan mulai mengusik ke dalam hatiku, "bagaimana denganmu?"

"Ini mungkin hanya rasa kagum. Maaf, Sasuke-kun. Mungkin benar aku masih kekanakan sehingga belum bisa merasakan apa itu cinta."

"..hn."

Ia menghela napas kecil. Aku dapat melihat kilat bersalah dalam emerald-nya.

"Sakura.." panggilku. Ia menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Jika aku sudah mengerti bagaimana perasaanku padamu, aku akan mengejarmu, ke manapun kau pergi. Aku janji."

Emerald-nya melebar sesaat. Alisnya mengerut, "aku bukan barang. Kaumengatakan seakan setelah kau membuangku lantas kau bisa memungutku kembali."

"Aku tidak mengatakan hal seperti itu."

Tanpa mengatakan apa pun, ia meninggalkanku sendiri di sini. Di taman belakang sekolah.

Dan di sini, saksi bisu kandasnya hubungan kami.

サスサク

Menyibukkan diri dengan hal-hal berbau sekolah adalah keahlianku. Mengikuti les tambahan di luar sekolah benar-benar membuat jadwalku padat. Ujian kenaikan kelaspun berada di depan mata.

Jika kau bertanya bagaimana hubunganku dengan Sakura, mungkin bagai orang asing adalah jawaban yang tepat.

Entahlah, seperti ada jurang dan tembok yang menghalangi kami. Naruto pun tidak banyak berkomentar saat kuberitahu bahwa hubungan kami berakhir.

Ia menghargai keputusan kami berdua, ah, keputusan Sakura lebih tepatnya.

Dan aku hanya bisa diam menerima kenyataan ini.

サスサク

Upacara pelepasan untuk kami digelar. Buket bunga dari adik kelas kami terima sebagai simbol bahwa kami bukan lagi siswa SMP.

Hasil ujian yang kudapat membuat orangtuaku bangga. Peringkat satu. Kalian mau tahu siapa yang menjadi peringkat kedua?

Ya, Sakura. Gadisku.

Sepanjang acara ini aku sama sekali tidak melihat adanya warna pink dan hijau. Sakura tidak hadir?

Dengan rasa penasaran yang begitu besar aku menghampiri sahabat gadisku, Si Gadis Barbie.

"Ino, kautahu Sakura di mana?"

Manik baby blue-nya sedikit melebar. Ia terlihat terkejut, "Sakura tidak memberitahumu?"

"Tentang?"

"Sakura pindah. Ia tidak melanjutkan SMA-nya di sini."

Mataku melebar sesaat. Menguasai emosi secara spontan adalah ciri khas Uchiha. Kembali wajah datar, "ke mana?"

"Kyoto, jika aku tidak salah. Aku kaget ia tidak memberitahumu."

Tentu saja, aku bukan siapa-siapanya, bukan?

Dan yah, gadisku pergi meninggalkan rasa aneh yang aku sendiri tak mampu menebaknya.

サスサク

Jika kau memang takdirku, waktu yang akan mempertemukan kita kembali. Sejauh apa pun kau pergi, aku akan mengejarmu, Sakura.

Kauingat?

TBC

AN-1: heyhooo~~ ogenki desuka, mina-san? :'3 huwaaaa! Ga nyangka banget aku sekarang udah jadi mahasiswa ;_; ditambah hari ini umurku genap ke-18 :'3 aku bales review dulu yaa XD

Kumada Chiyu: penasaran yaa? Moga-moga chap ini tidak mengecewakan yaa :'3

Luca Marvell: hmm, jujur aja aku belum mikir soal orang ketiga buat masuk cerita ini :3 tapi sepertinya akan ada X3

hanazono yuri, Lady Bloodie, SinHye: ini sudah lanjut :3 semoga tidak mengecewakan X3

AN-2: maaf ya AN-nya ada banyak :'3 cuma mau curhat sedikit :'3 hmm, maaf jika gaya penulisan atau kata-kata dalam ff ini ada yang berubah, karena aku ngetiknya lewat netbook ;_; biasanya aku ngetik lewat ponsel :'3

AN-3: ngh, etto.. begini, aku cukup kaget melihat stats story ini. Stats-nya mencapai 1k tapi yang review cuma seginiii :'3 aku sadar kok aku author newbie di fandom ini, jadi pasti readers mau liat bagaimana cara penulisan, gaya bahasa, penokohan, dll., tapi jika kalian tidak meninggalkan jejak, cara penulisan, gaya bahasa, dan penokohanku ga akan berubah :'3 review juga bisa buat kritik bagaimana ff ini. Aku sama sekali ga masalahin sih mau berapa pun yang review, tapi jika kalian berharap ada yang berubah dari ff ku ini menjadi lebih 'wah' tapi kalian ga kasih tau apa yang salah dan kurang, aku ga bisa berubah dan memperbaikinya XD jadi aku mengaggap kalian yang membaca sudah sreg dengan cara penulisan dll. dariku :3 jujur aku masih butuh bimbingan dan kritik ;_; seperti, gaya penulisanku ini ngebosenin ga? Diksinya bagaimana? Adakah penulisan yang salah? Feelingnya dapet? Apa ada yang OOC? Begitu :'3

AN-4: MAAF KALAU MASA LALU SASUSAKU PASARAN BANGET! ;_; tapi karena latar belakangnya mereka pacaran waktu SMP, aku bikin khas anak bocah yang masih bingung apa itu cinta(pengalaman! XD) dan ini efek karena chap terbaru Naruto :'3 ada yang sudah baca? Chap itu bikin emosi terkoyak(?) tapi tetep salut sama Sakuraaaa! DI SITU DIKASIH TAU SAKURA MASIH SAYANG SASUKE, UHUUUY! #plak okelah, daripada semakin panjang AN-nya saya sudahi saja :'3

Terima kasih buat kalian yang sudah review, follow, fav, dan membaca!

Anata-tachi, suki desu!

mind to gimme your love(read: review)? saya menerima segala bentuk review :3 thanks!

sign,

예성의토끼