"Kau―apa?"
Helaan napas pelan terdengar sebagai jawaban. Membuat seseorang di seberang sana menggeram kesal.
"Saki, ulangi lagi."
"Kau sudah memintaku mengulang sebanyak tiga kali―"
"Uchiha Sasuke bekerja di tempat kerjamu?"
"Hm."
"Ya ampun."
Gadis bersurai merah muda mengerutkan dahi, "reaksi macam apa itu, Ino-pig?"
"Yeah, aku pernah mendengar hal lebih gila daripada apa yang kudengar beberapa detik lalu."
"Hm?"
"Saki, saat SMA Sasuke pernah tak masuk sekolah selama beberapa bulan. Ia nyaris dikeluarkan karena itu."
"Untuk apa?"
"Mengejar cintanya, dirimu, ke Kyoto."
サスサク
Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto-sensei but this fict is purely mine.
Warning: cerita pasaran, plotless, alur berbelit, gaje.
Don't like? Close this page, write your own story and pairing! Thanks!
Enjoy it, Minna!
サスサク
"Sasuke―apa?"
"Kaumau aku mengulangnya sebanyak tiga kali?"
"Tidak terima kasih."
Tawa renyah terlontar, "kudengar Sasuke diancam oleh ayahnya, makanya ia kembali ke Tokyo dan berhenti mencarimu di sana."
"Diancam?"
"Yeah, ia akan di sekolahkan di Canada dan setelah lulus ia harus menjalankan cabang perusahaan orangtuanya di sana. Tentu saja Sasukemu menolak."
Sasukemu? Konyol.
"Kenapa diam? Terkejut Sasuke melakukan hal gila demi dirimu, Sayang?"
"..yeah, sedikit."
"Cinta memang bisa membuat semua orang menjadi gila, Jidat. Bahkan seorang jenius seperti Sasukemu."
"Hentikan menyebut ia seolah milikku, Pig."
"Uchiha Sasuke selamanya memang milik Haruno Sakura. Akui itu, Jidat."
サスサク
Percakapan dengan Ino semalam membuatku tak tidur dengan cukup. Sial. Haruskah dia berceloteh ria hingga dua jam lamanya hanya untuk bercerita tentang Uchiha Sasuke?
Awalnya yang kuinginkan hanyalah berangkat ke tempat kerja dengan perasaan damai dan tenang. Namun, sepertinya Kami-sama tidak sependapat.
"Pagi."
Satu kata singkat dari seseorang di saat aku membuka pintu rumah,
Sasuke.
"Apa yang kaulakukan di sini?"
Dia hanya mengerutkan dahinya sebagai jawaban.
"Ck. Tuan Uchiha, apa yang kaulakukan sepagi ini di depan pintu rumahku?"
"Menjemputmu."
"Kau pasti bercanda."
"Terserah. Ayo."
Pemuda Pantat Ayam itu langsung berbalik dan sama sekali tidak menungguku untuk mengunci pintu. Menyebalkan.
Dan yang paling menyebalkan, aku yang patuh membiarkan dia jalan di sampingku.
Dunia sudah gila.
サスサク
"Wow wow wow~ kalian terlihat akrab!"
"Diam, Gaara."
Harapan keduaku hari ini: semoga Temari tidak membawa adiknya ke tempat kerja.
Dan tidak terkabul. Oh, haruskah aku mulai rajin berdoa?
"Kau tidak merindukanku, Saki?"
Kuputar manik emerald-ku bosan, "tidak."
Suara tawa rendah mengudara selama beberapa saat. Membuatku ingin sekali menyumpal mulut lelaki ini dengan kain lap jendela yang tengah kupegang.
Rei Gaara, adik Temari. Aku sama sekali tidak membencinya, tolong jangan menyimpulkan hal itu karena harapan konyolku tidak terkabul.
Laki-laki bersurai merah yang masih duduk kelas tiga SMA ini memang sering datang ke tempat kerja kakaknya, Temari.
Gaara tampan, asal kalian tahu. Tapi sifatnya benar-benar menjengkelkan! Argh!
"Mau kubantu, Tuan Putri?"
Dengan seenaknya lelaki ini mengambil lap dan mulai membersihkan jendela secara asal.
"Ck. Tidak, kenapa kau tidak ke sekolah, Gaara? Kau bolos?"
"Pulang cepat. Bosan. Tidak ada kerjaan. Dan voila~ di sinilah aku."
Mengambil kain pel dan mulai mengepel lantai, membiarkan lelaki merah ini membersihkan jendela―walau asal.
Baru beberapa saat kain pel sudah berpindah tangan, aku mendongak dan pelaku yang sama malah menampakkan senyum sejuta volt-nya.
"Kubantu."
"Geez, urus saja jendela itu. Jangan ganggu aku lagi, bocah."
"Jendela sudah bersih." ucapnya sembari menunjuk jendela dengan dagunya.
Oh, dia butuh pencerahan, "bersih apanya?! Kau bahkan tidak memakai penyemprot untuk membersihkan nodanya!"
"Kalian berisik."
Sasuke dengan seragam pelayannya datang menghampiri kami―yang kuakui ia terlihat sangan tampan. Aku menajamkan emerald-ku lalu menunjuk bocah di depanku, "bocah ini―"
"Temari membutuhkanmu di dapur, aku yang akan menyelesaikan pekerjaanmu."
Butuh waktu dua detik untuk mencerna perkataannya, aku mengangguk, "baiklah."
サスサク
"Sakura? Kau sudah selesai?"
"Hm? Bukankah kau membutuhkanku?"
Wajah bingung Temari dan Neji membuatku heran.
"Tidak. Neji sudah cukup membantuku."
"Eh? Kata Sasuke―"
"Oh. Aku mengerti. Biarkan saja Sakura di sini."
Perkataan Neji membuat Temari mengerutkan dahinya, begitu pun aku.
"Ayolah Temari. Kenapa kau menjadi bodoh? Uchiha itu cemburu melihat adikmu bersama Sakura."
"Oh ya ampun! Ini menarik!"
Dan senyuman licik Neji membuatku sama sekali tidak berkutik.
"Sepertinya ada kisah cinta yang pernah terukir, hm?"
Sial,
Sepertinya aku harus berharap kecerdasan Neji setidaknya dibuat sedikit berkurang.
Dan apa katanya? Cemburu?
Jangan buat kupingku tertawa.
サスサク
Keluar dari dapur sepertinya adalah pilihan yang amat sangat bijak.
Tidak ada yang selamat dari introgasi seorang Hyuuga Neji, dan aku sama sekali tidak mau membuka mulutku dengan percuma karena pria cantik itu.
Baru dua langkah dari dapur aku melihat pemandangan yang mampu membuat perempuan mana pun menjerit histeris. Oh bagaimana tidak?
Dua orang lelaki tampan tengah berhadapan, entah melakukan apa.
"Kudengar dari Temari-nee, kau pegawai baru, Uchiha Sasuke, hm?"
Mereka sedang berbincang? Wow, obrolan antarlelaki sepertinya tidak boleh dilewatkan. Tolong salahkan Ino-pig karena telah menularkan virus mengupingnya padaku.
"Aku lebih tua darimu, bocah."
"Kau berharap aku memakai sufiks nii di belakang namamu?"
"Tidak, itu menjijikan."
"Baiklah Tuan Pencemburu, kau―"
"'Pencemburu'?"
Nyaris aku meneriakan kata yang sama. Jika bukan karena kondisiku yang tidak mendukung―demi apa pun yang berwarna hijau, aku tengah berada di belakang tembok untuk menguping pembicaraan mereka.
"Oh ayolah, kau sama sekali tidak sadar? Wajahmu tadi seperti ingin sekali menerkamku, menakutkan."
"Sok tahu."
"Tenang saja, aku tidak akan merebut kekasih Pink-mu, jadi jangan keluarkan taring atau seringai iblismu lain kali padaku, okay?"
"Hn,"
"Dan, Sakura―"
Oh my.
"―sampai kapan kauakan bersembunyi di balik tembok?"
Keluar dari persembunyian dan memberikan senyum awkward adalah pilihan yang kulakukan saat ini, "um, apa yang sedang kalian lakukan tadi?"
"Seharusnya kautahu, hn, Sakura?"
"Ayolah Sasuke, itu hanya basa-basi."
"Kautahu aku tidak suka basa-basi."
"Ck. Percaya diri―"
BRAK.
Aku mengernyitkan dahi begitu mendengar suara pintu terbuka. Seorang wanita paruh baya berdiri di ambang pintu.
"Maaf, kami belum buka―"
Dan perkataan Sasuke membuat lidahku kelu,
"..kaa-san.."
サスサク
"Silakan."
"Terima kasih."
Aku tidak tahu apa yang terjadi. Rasanya semua terjadi begitu cepat. Insiden pintu terbuka dan munculnya seorang wanita paruh baya yang dipanggil kaa-san oleh Sasuke seperti baru terjadi satu detik lalu.
Dan sekarang bagaimana bisa, kami―aku, Sasuke, Temari, dan Neji―tengah duduk berhadapan dengannya.
"Ng, sebaiknya kami pergi." Temari dan aku mengangguk setuju atas ucapan Neji.
"Kau.. Haruno Sakura?"
DEG.
"Kaa-san,"
Onyx ibu Sasuke menawan emerald-ku. Oh, bagaimana bisa warna mata mereka begitu sama persis?
"I―iya, aku Haruno Sakura, ba-san."
Senyum malaikat ia berikan padaku. Sekarang aku tahu dari siapa Itachi mendapatkan senyum menawannya.
"Bagaimana kabarmu? Apa Sasuke―"
"Kaa-san. Hentikan."
Aku terdiam begitu mendengar Sasuke dengan kurang ajarnya memotong ucapan ibunya sendiri. Ck. Dasar Pantat Ayam.
"Untuk apa kaa-san ke sini?"
"Apa salah melihat anak sendiri di tempat kerjanya?"
"Aku tahu bukan itu maksud kaa-san yang sebenarnya."
Dua onyx dan satu emerald. Apa? Tunggu! Ke mana yang lain? Sial! Mereka pergi tanpa mengajakku. Argh. Dasar tidak setia kawan.
"Baiklah, otou-san mengkhawatirkanmu, Sayang."
"Bilang aku tidak apa-apa."
"Kaa-san sudah mengatakannya, tapi kautahu seberapa keras kepalanya dia. Dan lagipula―"
Ibu Sasuke kembali menatapku dengan senyum malaikatnya, "―otou-san ingin sekali bertemu dengan nona cantik ini, Sasuke."
Hm? Apa?
"Hn,"
Tunggu. APA?!
"Baiklah, sepertinya kaa-san harus pulang sebelum ayahmu menyuruh detektif untuk mencari di mana beradaan kaa-san sekarang."
"Hati-hati, kaa-san."
"Hm, mata ne~"
BRAK.
"Bisa kau jelaskan apa maksud perkataan ibumu, Sasuke?"
"Hn?"
"Ck! Berhenti menjawab dengan―"
"Ayahku ingin bertemu denganmu."
"..apa maksudnya dengan.. bertemu?"
"Kenapa kau begitu gugup, hn?"
Sial.
"Si―siapa yang gugup, hah?!"
Ia mendengus lalu berjalan menuju pintu, "Tuan Menyebalkan, pembicaraan kita belum selesai!"
BRAK.
"ARGH! KEMBALI KAU PANTAT AYAM!"
Aku mengacak surai merah mudaku membabi buta. Oke, itu adalah salah satu bentuk spontan karena aku tengah marah.
Namun, sekarang aku juga tengah menggigiti bibir bawahku yang menandakan aku gugup.
Pertanyaannya,
Apa yang harus kugugupi?!
Aku gugup karena Pantat Ayam itu bilang aku akan bertemu dengan ayahnya?!
Hah, jangan buat diriku tertawa.
..mungkin.
Sial!
Pantat Ayam sialan!
TBC
Heyhoo~~ ogenki desuka, minna? Ohisashiburi desune~~~
Maaf apdetannya ngaret :'3 hiksu, ga usah banyak bacot lagi deh, aku mau bales cinta(read: review)kalian duluuu X3
Luca Marvell: chap lalu setting-nya di Tokyo :3 iya, mereka udah kuliah~
Shirakawa Aimi: uwaaa~~ sankyuuu w makasiii support-nyaaa :*
Kumada Chiyu: sudut pandang ya? hmm, oke deh :3 semoga ga bingung ya kalo sudut pandang tiap tokoh beda2 tiap chap :'3
haruchan: uwaaaa sankyuuu w makasii support-nyaaa :*
Baby Kim: heyhooo, dear! long time no see XD tentang Sasuke yang nge-stalk Sakura, moga2 udh terjawab di chap ini yaa :3 iyaa, menulis memang tentang passion, kemarin itu sebenernya aku curcol sih, dan ternyata tidak banyak yang memberi jawaban(?) :3 makasii untuk support-nya dear~ :*
Thanks for all review, silent readers, yang sudah mem-follow mau pun yang mem-fav! ^^~~
Anata-tachi, suki desu!
Sign,
예성의토끼
