Uchiha Sasuke.
Pertama kali aku mengenalnya saat diriku menginjak bangku satu SMP.
Lelaki dengan penuh kharisma. Kecerdasan dan ketampanan membuatnya menang mutlak di antara siswa lain.
Ia tampan. Siapa yang tidak menyukai Si Bungsu Uchiha itu? Semua perempuan satu sekolah mengidolakannya. Mengaguminya.
Termasuk aku.
Aku Haruno Sakura. Gadis biasa yang dianugerahi kecerdasan di atas rata-rata(walau Sasuke terkadang lebih unggul). Aku bukanlah anak dari keluarga kaya. Aku juga tidak cantik. Rambut merah muda dan jidatku yang agak lebar menjadi daya tarik(ini yang dikatakan Ibuku).
Saat SMP aku hanyalah seorang kutu buku. Beruntunglah sahabat sejak kecilku masih mau bersahabat denganku, Yamanaka Ino.
Ino-pig(begitu panggilan sayang dariku) selalu mengatakan bahwa aku ini terlalu polos dan hidupku membosankan.
Ino gadis yang cantik. Baru menginjak beberapa bulan di SMP, ia sudah sering bergonta-ganti kekasih.
'Kenapa kau berpacaran?'
Itu pertanyaan yang pernah kutanya padanya,
Dan dengan senyum lebar ia berkata,
'Bersama dengan seseorang yang kaucintai akan membuatmu bahagia, Jidat.'
Bahagia?
Jika benar kau akan bahagia―
Lalu mengapa kau sering menangis karena kekasihmu, Pig?
サスサク
Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto-sensei but this fict is purely mine.
Warning: cerita pasaran, plotless, alur berbelit, gaje.
Don't like? Close this page, write your own story and pairing! Thanks!
Enjoy it, Minna!
サスサク
Pernak-pernik Natal pada setiap toko memanjakan mata semua orang yang melihatnya.
Warna hijau dan merah begitu mendominasi. Entahlah, kedua warna itu begitu kontras dan mengingatkanku akan sesuatu.
"Kau mau apa saat Natal tiba?"
Suara baritone-nya yang khas membuat lamunanku buyar. Suara yang sudah berbeda sewaktu terakhir kali kami masih di SMP. Oh tentu saja, ia sudah puber. Jangan bodoh, Sakura.
"Hm? Kau menjadi Santaku?"
Gumpalan uap keluar dari mulutku begitu aku selesai berucap. Tanpa sadar aku mengeratkan syal merah di leherku lebih erat.
"Hn,"
"Baiklaaah.. aku ingin kau memakai baju Santa lalu berteriak, 'Merry Christmas!', bagaimana?" Senyum jahil dan kilatan usil kuberikan padanya. Alis mengerut dan wajah datar menjadi respon atas permintaanku.
"Ayolah, Sasukeee~ kau sendiri yang bertanya apa yang kumauu~" aku merajuk sembari menarik kecil mantel biru tuanya. Biasanya ini selalu berhasil ketika aku memakainya terhadap Neji atau pun Temari. Kapan lagi aku melihat Uchiha yang biasanya cool dan berkharisma menjadi calm dan.. ceria?
Dengusan kecil membuat gumpalan uap mengepung udara, "ck."
"Iya aku bercanda. Hmm.. aku mau syal merah ini, boleh?" Ku elus syal merah yang melingkari leherku.
Syal merah yang kurajut dengan susah payah, penuh kenangan, dan merupakan hadiah pertama dan terakhir dariku untuknya.
"Tidak."
Penolakan tegas darinya membuat emerald-ku berkilat meminta penjelasan.
"Aku tidak akan memberikan syal merah itu pada siapa pun. Termasuk kau."
Onyx kelamnya memandang emerald-ku penuh ketegasan. Membuat oksigen di sekelilingku tiba-tiba lenyap.
"Kenapa? Aku yang merajutnya."
"Dan aku yang menjadi alasan mengapa kau merajutnya."
Jawaban yang ia berikan membuat duniaku melambat.
"Sakura?"
Guncangan pelan yang kurasakan kembali membawaku sadar, "hm?" Hanya itu yang bisa kukatakan sekarang. Jujur, pikiranku masih kosong akibat mendengar jawaban darinya.
"Jadi?" Tanyanya tak sabar. Mengapa lelaki ini begitu keras kepala?
"Entahlah. Aku sedang tidak menginginkan apa pun. Kau?"
Dan detik berikutnya aku meruntuk kebodohanku sendiri karena bertanya seolah aku akan menjadi Santanya.
Tepat seperti dugaanku, onyx-nya membulat-walau sedikit, "kau akan menjadi Santaku?"
Kepalang basah, ini juga karena kecerobohanmu sendiri Sakura, "aa.. tapi aku menolak membelikanmu sesuatu di atas dua ribu yen."
Aku merasakan hawa dingin menjalar di tangan kananku(yang sialnya aku lagi-lagi lupa membawa sarung tangan).
"Yang kuinginkan saat ini hanyalah dirimu―
―kembali padaku."
Untuk kesekian kalinya, kurasakan takdir mencoba mempermainkanku.
サスサク
"Sakura, kau mendengarkanku?"
Suara di seberang sana begitu tegas. Aku mengerutkan dahi-walau usahaku sia-sia karena seseorang di sana tidak akan melihat usahaku, "ya, aku mendengarmu, Pig."
"..jadi?"
Oke, untuk kali ini ingin rasanya aku menjambak rambut blonde Ino lalu mengacaknya dengan brutal, "kau bodoh, hm? Tentu saja kau harus, Pig."
"..aku tidak tahu, Jidat. Aku―aku merasa―"
"Yamanaka Ino."
Aku menyebut nama lengkap sahabatku. Menegaskan bahwa aku tengah serius. Aku yakin Ino, di seberang sana, tengah menegakkan punggungnya.
"Sai jauh-jauh kembali ke sini hanya untuk bertemu denganmu. Apa yang kau ragukan?"
"Dia lebih mencintai pekerjaannya daripada aku, Sakura. Bahkan ia―ia lebih memilih pergi ke luar negeri dan meninggalkanku!"
"Tidak, Ino―"
"Jadi, untuk sementara, boleh aku menginap di rumahmu?"
"Hei jangan mengalihkan pembicaraan―"
"Terlambat. Aku sudah ada di depan pintu rumahmu, Sayang."
..HAH?!
Aku segera bangkit dari tempat tidur dan dengan tergesa aku berlari menuju pintu.
Gila. Jadi sewaktu kami bertelepon dia tengah berjalan menuju kemari?
Krek.
"Ah, halo, Jidat."
Yang benar saja. Dia benar-benar ada di sini. Ck. Perempuan ini memang tidak bisa diabaikan.
"Kenapa kau di sini, Ino?"
Senyum sejuta watt yang mampu melumpuhkan seluruh lelaki di dunia ini luntur setelah ia mendengar kalimatku. Terganti dengan pipi digembungkan.
"Kau tidak suka sahabatmu yang super cantik ini menginap, huh?"
"Hah. Seakan jika kubilang tidak kau akan segera pergi dari rumahku saja." Jawabku sinis.
Ia tertawa penuh arti. Manik baby blue-nya berkilat angkuh, khasnya sekali, "kau mengenalku dengan baik, Sakura Sayang. Jadi biarkan sahabatmu ini masuk dan duduk di sofa yang kelihatan sangat empuk itu, hm?"
Ku putar emerald-ku jengah, "ya. Silakan masuk, Piggyyy~~~"
"Berhenti memanggilku 'pig', Jidat!"
Dan tendangan kecil yang ia layangkan pada betisku membuatku bungkam sedetik kemudian.
サスサク
Dinginnya udara di pagi membuatku terbangun. Dengan mata setengah terbuka aku meraba sekitar untuk mencari selimut yang tidak lagi membungkusku.
Alisku mengernyit begitu tidak mendapat benda tebal berwarna putih itu. Aku berdecak, duduk, dan mengacak surai merah mudaku dengan brutal. Woah, aku yakin rambutku sudah seperti singa sekarang.
Alisku tambah mengerut begitu mendengar suara Ino yang tengah tertawa. Dia gila? Kenapa tertawa sendirian? Tidak terdengar suara televisi.
Aku turun dari tempat tidur lalu keluar kamar menuju sumber suara.
Mengarah ke dapur, dan benar. Suaranya makin besar.
"Ino kau sudah gila, hah? Tertawa sen―"
Onyx dan baby blue menatapku emerald-ku penuh.
Tawa Ino berhenti mendadak.
"―dirian.."
Lagi, tawa-laknat-Ino pecah.
"HAHAHA! Gila, Sakura! Penampilanmu hebat sekali! Ya, Sasuke?"
Tung―tunggu,
Sasuke?
SA. SU. KE?!
"Hn,"
Aku segera menyisir rambutku dengan tangan dan mengusap ujung bibirku dengan lengan piyama. Gila. Gila! Sasuke melihatku dengan penampilan bak orang gila?!
"KE―KENAPA KAU DI SINI, SASUKE?!" Teriakku kalap.
"Menjemputmu."
Aku speechless.
Rupanya dilihat dalam keadaan bangun tidur oleh seorang pria, rasanya separah ini?
Dan idiotnya kakiku tidak segera berlari ke kamar mandi untuk sekadar mengaca.
"Mau sampai kapan berdiri begitu, Jidat?"
"Aku harus ke kamar mandi―"
"Tidak perlu. Aku tidak keberatan melihat keadaanmu yang baru bangun tidur seperti ini sekali pun."
Ino bersiul menggoda. Sial. Pagi ini kenapa aku begitu sial?
Duduk di sebelah Ino dan berada di depan Sasuke adalah pilihan yang kurang tepat.
Tatapan jadi-kau-sudah-sedekat-ini-dengan-Sasuke yang Ino layangkan membuatku ingin segera mencolok manik baby blue-nya.
"Ehem. Well, kalian sudah sedekat ini?"
Mendapat jawaban atas setiap hal yang ia ingin tahu adalah keahliannya.
Pemuda di hadapanku hanya diam dan menyesap-mungkin kopi-sesaat kemudian. Namun, manik onyx-nya terus menatapku. Oh, tatapan elang Sasuke seakan membuat semua persendianmu lepas.
Memutuskan eye contact sepertinya ide bagus. Menatap jam dinding lebih―tunggu. Berganti dengan terkejutan yang sangat hebat, "Oh ya Tuhan! Aku terlambat!"
Tak adakah yang lebih sial dari ini?
.
.
Wangi sabun semerbak memenuhi dapur. Ino dan Sasuke masih di sana. Aku menuju kulkas untuk mengambil air.
"17 menit. Menganggumkan." Ucap pemuda bermata onyx dengan senyum sinisnya.
"Ck. Diam, Sasuke. Ini kekuatan di saat terdesak."
"Hn, terserah. Ayo berangkat."
Cih. Pemerintah. Khas Uchiha sekali.
サスサク
"Merry Christmas, Sakuraaaa, Sasukeeee!"
Ucapan, ralat, teriakan Temari membuat telingaku berdengung. Mataku memandang takjub pada ruangan ini. Dekorasi Natal di restoran ini sangat indah. Aku bertaruh, pasti berjuta kali lipat lebih Indah saat malam.
"Oh, tidak usah terpana seperti itu, Baby Hun, emerald-mu beribu jauh lebih indah dari dekorasi ini."
"Ck. Gaara."
Adik dari Temari―yang entah sejak kapan berada di sampingku―memakaikanku topi santa seenaknya.
"Wow! Kau terlihat sangat cantik dengan topi itu, Dear."
"Gaara, hentikan tingkahmu sebelum Sasuke melemparmu dengan mesin kasir."
Ucapan Temari hanya dijawab dengan dengusan oleh adiknya, "oh, aku lupa jika ada Tuan Pencemburu itu di sini―aku bercanda. Jadi berhenti menatapku seakan kau akan memangsaku, Sasuke-nii."
"Menjijikan." Dengus Sasuke.
Aku memutar bola mataku malas, "kenapa kalian jika bertemu seperti kucing dan tikus? Kalian kekanakan sekali."
Temari kemudian merangkulku, "denger para pria tampan? Kekanakan. Berhenti bersikap begitu dan jadilah anak baik hari ini."
Gaara mengangkat bahu acuh lalu kembali pada aktivitas sebelumnya, menempelkan kertas berbentuk bintang disepanjang kaca depan.
Aku mengambil gantungan bola mengkilat berwarna emas dan silver. Menggantungnya disetiap garis langit-langit.
Yosh! Satu jam lagi sebelum restoran ini buka. Semangat Natal benar-benar kami rasakan.
Berjuang!
サスサク
"Osaki ni, minna." Ucapku sebelum menutup pintu kaca restoran. Jam kerja sudah selesai satu jam yang lalu.
"Ya! Hati-hati, Sasuke, Sakura." Balas Neji sembari melambaikan tangan. Temari dan Sasori yang masih minum jus juga mengangguk. Gaara? Oh, bocah itu tertidur di ruang pegawai. Mungkin kelelahan. Salahkan Temari karena ia menyuruh adik tersayangnya itu untuk membantu kami karena restoran mendadak sangat ramai hari ini.
Sepanjang perjalanan kami hanya diam. Dinginnya malam membuat suhu udara semakin menggila. Untunglah aku tidak lupa membawa sarung tangan.
Dahiku mengerut begitu melihat mobil hitam terparkir di depan rumahku. Entah, mobil ini tak asing. Aku seperti mengenalnya.
"Mobil siapa?" Pertanyaan dari pemuda di sampingku mengudara. Aku hanya bergumam, "hmm.. Tak asing―"
"Pergi! Aku tidak mau melihatmu!"
Aku terkesiap. Sasuke dan aku saling pandang. Kemudian kami secara perlahan membuka pagar dan masuk, penasaran dengan pemilik mobil dan mengapa Ino berteriak.
Emerald-ku membulat begitu mengetahui siapa yang tengah berkunjung di rumahku pada jam setengah sebelas malam begini, "Sai?"
Ino dan Sai menatapku dengan pandangan mata yang berbeda. Uh oh, sepertinya aku dan Sasuke harus pergi dan membiarkan mereka menyelesaikan masalah mereka.
"Sakura, tolong usir pria ini―"
"Etto, maaf, Ino. Kalian harus menyelesaikan masalah kalian secepatnya. Mungkin sekarang adalah waktu yang tepat. Kami pergi dulu."
"Jidat―"
"Terima kasih, Sakura."
Aku tersenyum sebelum meninggalkan kedua pasangan itu. Tak lupa menarik lengan Sasuke agar pergi bersamaku.
Baru berjalan sebentar aku bertanya, "kau punya usul ke mana sebaiknya kita pergi?"
Onyx-nya menatapku dalam. Aku hanya bisa mengerjap menunggu ide darinya.
"Neji, Temari, dan yang lainnya mungkin tengah makan yakiniku. Kau ingat yang diucapkan Neji tadi siang?"
"Ah ya. Neji bilang sepulang kerja kita semua akan makan yakiniku. Bodoh. Kenapa aku bisa lupa!"
"Hn. Mau menyusul mereka?"
"Tentu. Ayo."
サスサク
"Sasuke! Sakura! Kukira kalian sudah pulang." Temari menggeser tempat agar aku bisa duduk. Sasori juga melakukan hal yang sama.
"Ya, kami memutuskan untuk menyusul kalian." Dan di akhiri dengan tawa pelan. Aku mengambil sumpit lalu mencomot yakiniku yang ada di piring.
"Jadi kalian kencan dulu untuk merayakan Natal berdua, hm?"
Sasori menatapku menggoda. Senyum manis ia lemparkan padaku. Aku mengunyah sebelum menjawabnya, "jika kencan yang kaumaksud adalah jalan dari rumah ke sini, maka aku akan menjawab iya."
"Ck. Sasuke kau amat sangat tidak romantis." Ucapan Temari membuat Sasori dan Neji terkekeh. Sedangkan yang tengah dibicarakan tetap makan dengan tenangnya.
Aku menghembuskan napas secara perlahan. Uap tak kasat mata menyerbu keluar.
Ino dan Sai. Aku memikirkan mereka berdua.
Sai pasti begitu mencintai Ino. Lihat saja, pria itu datang malam ini menemui Ino. Aku yakin mereka sempat bertengkar hebat sehingga Sai memutuskan untuk pulang hari ini.
Tiba-tiba pikiranku melayang entah ke mana. Aku mengantuk. Sudah jam berapa ini?
Dan selanjutnya yang kutahu, semua padanganku menghitam.
TBC
AN: heyhooo, hisashiburi, minna XD
Biarkan aku membalas review dulu ya :3
suket alang alang: terima kasiiih XD Mari doakan Sasuke agar bisa merebut kembali hati ayangnya X3 hmm, kurang panjang ya ._. Apakah ini sudah panjang? XD
Naya Aditya: setelah aku baca lagi chap lalu, memang lebih banyak percakapannya ya ._. Terima kasih atas sarannya! XD aku sudah mecoba untuk memperbaiki di chap ini ^^~
Baby Kim: that's right, hun. Possessive!Sasuke itu paling ketjeh memesonaaaa ;_; fighting!
Lady Bloodie: heyhooo, terima kasih untuk saranmu XD hmm, aku mencoba untuk memperbaikinya di chap ini. Bagaimana? Apakah ada feel-nya? ;_;
Guest(haruchan): iya, babang Sasu rela jadi apa aja demi ayangnya XD hmm, perasaan Sakura masih mengambang(?) #plak tapi entar pasti perasaan dia bakal berkembang kok XD hehe semoga kamu ga bosen ya nunggu sampe perasaan Sakura terlihat(?) XD
Luca Marvell: Sasuke ga pernah sakiti Sakura XD jadi waktu mereka masih bocah, Sakura anggep Sasuke itu memperlakukan dia kaya barang XD karena itu Sakura jd beware(?) #apah
zeedezlyclalucindtha: iya, kode ketemu camer XD chap depan Sakura bakal ketemu Fugaku-jisan :3 hehe
nabilanurmalasari1: wuaaaah, makasi yaa ;_; aku terharu baca review-mu ;_; iya, aku udah ga sedih kok XD hehe..ne, ganbarimasu!
Little pinky mouse: Sasuke harus bertindak cepat kalo ga mau ayang nya direbutin yang lain :9 mwehehehee
Manda Vvidenarint: maaf ga bisa apdet kilat ;_; ini sudah apdet XD
Hayashi Hana-chan: aaaaa, arigataou ;_; ganbarimasu! XD
Fuji Seijuro: maaf ga bisa apdet kilat ;_; ini sudah apdet XD
Raja Kadal: heyhooo, terima kasih sudah ngebut baca dari chap satu sampe empat ya XD iya, untuk penggambaran Sakura ketemu Mikoto-basan yang lalu emang kurang sekaleeeee ;_; dan maafkan aku telah membuat Gaara OOC XD
Marjan: heyhoo, terima kasih sudah mau baca :'3
shindymajid: alurnya cepet ya? ;_; maafkan dakuuuu. Ini sudah aku perbaiki, semoga bisa lebih baik dari chap sebelumnyaaa ^^~
caesarpuspita: ini sudah apdet XD
Shirakawa Aimi: terima kasih sudah mau ngebut baca sampe chap empaaaat ;_; iya di sini Sasuke jelesan :v #plak ini sudah apdet :3
AN2: penjelasan: (1) dua ribu yen itu sekitar dua ratus ribu rupiah, (2) osaki ni: saya duluan, (3) hisashiburi: lama tak jumpa
AN3: saya cuma mau minta maaf udah buat Gaara OOC ;_; apa boleh buat, tuntutan peran :') #woy
Dan saya senang sekali karena IP saya memuaskan XD #curhat jadi saya tengah masa libur. Setelah libur selesai, saya masuk semester duaaa :3 mwehehehee..
Okelah, cukup berbasa-basinyaaaa
Thanks for all review, silent readers, yang sudah mem-follow mau pun yang mem-fav! ^^~~
Anata-tachi, suki desu!
Sign,
예성의토끼
