Chapter 2: Cabaret club is not really weird place for a reunion between old men.

.

.

A/N: Untuk semua yang masih pada bingung. Di fic ini yang jadi Seme-nya itu Furihata Kōki dan yang jadi Uke-nya itu Akashi Seijūrō. Sori aq ga menjelaskan di chapter2 sebelumnya. Aq penggemar pair FuriAka soalnya.

Satu hal lagi, di fic ini bakal sering banget pergantian antara Akashi 'oreshi' dan 'bokushi' (Berhubung mood swing itu biasanya naik-turun) Buat yang ga paham, Akashi tuh punya multiple personality disorder. jadi dy punya 2 kepribadian gt.

Yang 'oreshi' itu personaliti original-nya. Matanya dua-duanya warnanya merah, sifatnya sopan dan adem-adem teduh, tenang gt, ga ngancem org pake gunting.

Yang 'bokushi' itu personaliti yg lain, matanya sebelah merah yang sebelah orange atau emas bilang aja pangeran gunting. Sering ngancam temen2nya dan jadiin mrk babunya.

Disebut oreshi dan bokushi karena di dub Jepangnya, Akashi bokushi nyebut dirinya sendiri 'boku' dan Akashi Oreshi nyebut dirinya 'ore' (Setahuku lho) dua-duanya artinya Aku sama kayak 'atashi' 'watashi' 'uchi'

.


.

Furihata POV

Namaku Furihata Kōki, tahun ini usiaku 17 tahun. Seharusnya aku masih kelas 2 SMA atau lebih tepatnya hingga sebulan yang lalu aku masih siswa SMA yang menikmati masa muda dengan gembira.

Semuanya berawal saat Seijūrō memintaku untuk menemui ayahnya. Kemudian aku mengetahui bahwa aku akan segera menjadi seorang ayah dalam kurun waktu kurang lebih 8 bulan lagi. Tentu saja itu kabar yang membahagiakan untukku dan keluargaku…seandainya saja aku 15 atau 20 tahun lebih tua dan punya pekerjaan stabil.

Nasib yang amat tidak menguntungkan ini, membuatku menjadi seorang ayah diusia 17 tahun. Dalam sekejap, masa muda yang menggairahkan dan masa depan luas dan cerah yang tadinya terbentang dihadapanku menjadi buram.

Tapi…aku akan menjadi seorang ayah, aku harus mempertanggung jawabkan perbuatanku. Untungnya orang tuaku tidak menentangnya, ibuku amat gembira, selalu mengatakan ingin segera melihat cucunya. Ayah dan kakakku awalnya memarahiku karena kehamilan yang tidak direncanakan itu, namun semuanya selesai setelah ayah Akashi mengatakan takkan menuntut keluargaku karena aku setuju untuk bertanggung jawab.

Saat ini…yang menjadi masalah terbesarku adalah…

Normal Pov

"Hooek!"

Furihata menoleh dengan tampang datar kearah asal suara tersebut, sebuah pintu yang menjadi pembatas antara ruangan tempatnya berdiri saat ini dengan toilet.

Morning sickness dan mood swings…

Setelah beberapa saat, terdengar bunyi flush toilet dan sosok berambut merah dengan wajah sedikit pucat dan lelah berjalan keluar dari ruangan tersebut.

"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Furihata dan menyerahkan selembar handuk bersih pada Akashi.

"Bagaimana menurutmu?" Balas Akashi sedikit dingin. Mata dwiwarnanya menatap tajam pada Furihata karena menanyakan pertanyaan yang jawabannya yang sudah amat jelas.

Furihata hanya bisa mendesah pasrah mendengar respon tersebut. Selama satu bulan hidup bersama Akashi ada begitu banyak peraturan yang harus dipatuhinya. Bukan cuma itu ia sering berhadapan dengan mood Akashi yang naik turun.

Yang sisi Akashi 'Oreshi' masih mending yang jadi permasalahan utama adalah sisi 'Bokushi'. Dia bisa tiba-tiba marah tanpa sebab karena itu Furihata harus super hati-hati memilih kata-katanya kalau tidak mau ada gunting menancap dikepalanya. Komentar pedas yang umumnya sering dilontarkan jadi lebih pedas dan menusuk, seringkali membuat Furihata frustasi. Biasanya setelah amarahnya mereda dan mood-nya turun sisi 'oreshi' akan mengambil alih, dia selalu meminta maaf akan perbuatan dan kata-kata ofensif dari sisi dirinya yang lain.

Dalam satu bulan, perubahan besar terjadi dalam hidup Furihata dan Akashi.

Furihata diijinkan untuk meneruskan sekolah hingga tamat SMA (Itupun setelah memohon-mohon pada ayahnya Akashi) karena itulah mereka berdua memutuskan untuk menyewa sebuah high-class apartment di Tokyo atau lebih tepatnya, mereka jadi tetangga Kagami. (Karena itulah Furihata selalu pergi ke sekolah bareng Kagami)

Memperhitungkan kandungannya yang makin membesar setiap bulan, Akashi memutuskan untuk berhenti sekolah dan mempersiapkan diri untuk meneruskan jejak ayahnya. Karena jadwalnya yang ketat dengan meeting, negosiasi dan interview dimana-mana ia selalu pulang larut malam, terkadang mereka bahkan tidak bisa makan malam bersama karena Akashi selalu menghadiri makan malam untuk membahas bisnis bersama ayahnya dan rekan-rekan bisnis ayahnya.

Teman-temannya sering bercanda mengatakan mereka hidup serumah sudah seperti suami istri dan dari lubuk hatinya yang terdalam Furihata sedikit berharap mereka bisa menikmati waktu bersama seperti saat berpacaran tapi realita memang tak pernah seindah bayangan.

Untuk bertemu saja sulit, sering kali saat Akashi pulang Furihata sudah tertidur lebih dulu. Satu-satunya saat dimana mereka bisa menghabiskan waktu bersama adalah saat makan pagi.

"Kau tidak menghabiskan makan pagimu?" Tanya Furihata saat melihat Akashi hanya bertopang dagu dan memainkan tomat mini di piringnya dengan garpunya dengan tatapan malas.

"Aku benar-benar tidak selera…" Ujarnya sambil menaruh garpunya dan menyesap kopinya.

Akhir-akhir ini Akashi memang sering terlihat lelah dan Furihata menyadarinya. Semuanya karena tugas dan tanggung jawab berlebihan yang membebaninya. Ia sudah mencoba menyarankan pada Akashi untuk mengambil waktu istirahat, namun pemuda bersurai merah itu menolak, mengatakan ayahnya tidak menerima alasan apapun yang menghambat langkahnya menjadi direktur penerusnya dimasa depan.

"Sejujurnya, melihat makanan saja rasanya mual. Kurasa aku takkan sanggup kalau dipaksa memakannya…" Akashi menutup mulutnya dengan telapak tangannya dan mengalihkan wajahnya dari hadapan piringnya. "Lagipula setelah makan beberapa menit lagi akan kumuntahkan semua." Keluhnya merasa malas untuk memakan apapun.

"Ayolah Seijūrō…" Furihata mengambil sesendok telur dadar dan mengarahkannya kearah Akashi dan memberinya pandangan penuh permohonan.

"Kubilang aku tidak mau! Lagipula hentikan perbuatanmu, memalukan tahu." Akashi mendengus kesal dengan semburat kemerahan tampak diwajahnya merasa Furihata memperlakukannya seperti anak-anak yang sedang ngambek.

Ucapan Akashi Seijūrō selalu absolut, mengetahui itu selama berpacaran dengannya Furihata sudah mempelajari bermacam cara untuk dapat membujuk tuan muda Akashi itu menyetujui keinginannya.

"Tidak bisa begitu, kau harus makan biarpun sedikit. Untuk sekarang kau harus memenuhi nutrisi untuk 2 orang kan?" Bujuk Furihata masih tetap mengarahkan sendok dihadapan mulut Akashi. "Kau selalu menekankan agar bayi kita mendapat gizi yang cukup, bukan? Kalau begitu kau harus makan."

Melihat pandangan Akashi kembali terfokus pada sendok dihadapannya membuat Furihata bersorak dalam hati, bujukannya berhasil!

"Baiklah, baiklah, kau lumayan keras kepala Kōki." Akashi menarik nafas panjang dan membuka mulutnya, membiarkan Furihata yang tersenyum senang menyuapinya.

"Soalnya…hanya ini yang bisa kulakukan, sih…" Furihata menggaruk kepalanya. "Aku tak bisa membantu apa-apa, meski melihatmu bekerja keras setiap hari…sejujurnya aku kesepian tapi apa boleh buat kan, soalnya-"

"Yang kesepian bukan cuma kamu."

"Eh?"

Furihata buru-buru menoleh kearah Akashi untuk memastikan dia tidak salah dengar kata-kata yang barusan.

"Kalau bisa…aku juga ingin kita menghabiskan waktu bersama lebih banyak."

"Seijūrō…" Furihata tersenyum mendengar pengakuan Akashi. Jarang sekali melihat Akashi Seijūrō mau mengakui perasaannya seperti saat ini. "Kau tahu? Aku sering membayangkan bagaimana kita hidup nanti bila kita tinggal bersama."

"Setelah lulus SMA, aku akan tinggal di apartemen yang kusewa sendiri, yah pasti takkan sebagus mansion ini sih… " seluruh keuangan mereka saat ini ditanggung oleh perusahaan Akashi Masaomi.

"Berkuliah di Tokyo dan bekerja sambilan. Setelah lulus kuliah, aku akan mencari pekerjaan stabil dan memintamu untuk tinggal bersamaku. Kalau kau tidak keberatan tentunya." Furihata menyelesaikan rangkuman impian masa depannya setelah lulus SMA.

"…Kedengarannya ide yang bagus. Tapi bukankah tidak adil membiarkanmu menanggung biaya hidup kita sendirian?" Akashi tampaknya tidak terlalu setuju dengan pemikiran membebani Furihata dengan tanggung jawab menjadi pencari nafkah seorang diri.

"Tidak masalah, aku akan berusaha keras! Lagipula…sejujurnya aku tidak suka melihatmu menjalani hari-harimu terhimpit dengan jadwal yang luar biasa padat dan tumpukan pekerjaan yang tak ada habisnya!" Furihata sedikit mengerucutkan bibirnya.

"Aku ingin kau memiliki lebih banyak kebebasan dan menikmati hari-harimu seperti orang-orang lain." Akunya, Ia benar-benar ingin agar ayah Akashi memberinya lebih banyak kelonggaran.

"Kōki…kau benar-benar…" Akashi memalingkan wajahnya yang sepenuhnya merah ke samping. Mungkin karena dia orang yang jujur, terkadang Furihata bisa mengatakan hal-hal yang memalukan begitu dengan lantang.

"Oiii! Furihata! Ayo berangkat ke sekolah sama-sama!" Seruan keras milik Kagami yang berasal dari luar apartemen menghancurkan atmosfir romantis diantara kedua orang itu.

"…."

"…."

"Kagami Taiga sudah datang menjemputmu." Setelah terdiam cukup lama akhirnya Akashi memutuskan untuk bersuara.

"Iya…" Furihata menjawab dengan nada datar sambil menganguk. Tentu saja Furihata kecewa dengan kedatangan Kagami yang tiba-tiba. Kalau saja ia punya sedikit waktu lagi, mungkin dia bisa mendapatkan sedikit jatah sebelum pergi ke sekolah? Sudah lama sekali rasanya semenjak ia mendapat momen damai dan tenang seperti ini dengan Akashi.

"Osh, pagi Furihata dan Akashi." Kagami menyapa saat pintu depan dibuka oleh Furihata yang bertampang lemas.

"Pagi…" Furihata menyapa balik sambil berjalan keluar sementara Akashi melipat tangan dan berdiri beberapa langkah dibelakangnya.

"Selamat pagi, Kagami." Akashi berujar pada sang Ace Seirin tersebut.

"Aku pergi dulu." Furihata menoleh kebelakang dan berkata sambil tersenyum.

"Hati-hati di jalan," Akashi menganguk sebelum menutup pintu.

"Apaan tuh? Ngomongnya udah kayak suami istri saja." Kagami berkomentar saat ia dan Furihata hendak berjalan menuruni tangga.

"Kau dan Kuroko malah sudah kelihatan kayak pasangan suami isteri dari kita masih kelas satu tahu." Furihata membalas setelah menarik nafas.

Mereka berbincang-bincang untuk mengisi waktu selama perjalanan kesekolah.

"Jadi, bagaimana rasanya kehidupanmu setelah tinggal bersama yang mulia Akashi-sama selama satu bulan?" Ujar Kagami memulai pertanyaannya.

"Kau tahu?" katanya sambil menyeringai. "Aku sering membayangkan kalau kau bakal muncul didepan pintu apartemenku dalam keadaan babak belur setelah dihajar dan diusir oleh Akashi dan memintaku menampungmu tinggal hingga kemarahannya mereda."

"Mungkin beberapa hari kedepan bayanganmu bakal jadi kenyataan Kagami…mengingat kondisi emosionalnya yang tidak stabil tidak mustahil hal seperti itu dapat terjadi…" Furihata membenarkan pendapat tersebut. "Saat itu terjadi, mohon bantuannya ya."

"Aku akan menerimamu tinggal ditempatku dengan satu syarat." Kagami mengancungkan satu jari di depan wajah Furihata.

"A-apa?"

"Biarkan aku menyontek Pr-mu ya? Kuroko selalu cerewet dan tidak pernah mau menunjukannya, dia selalu memaksaku mengerjakannya sendiri." Celetuk Kagami, mengomel akan kebiasaan pacarnya yang tidak pernah berbelas kasihan padanya, padahal Kuroko tahu betapa lemahnya Kagami di bidang akademis.

"Niatnya bagus sih, soalnya kalau kau nyontek terus kau nggak akan bisa mengerjakannya saat tes nanti." Furihata tidak bisa tidak membenarkan keputusan Kuroko, biar bagaimanapun sang bayangan itu pasti sudah memperhitungkan sampai kedepannya karena itu ia tidak mau memanjakan Kagami.

"Gampang, gampang, kan ada pensil ajaibnya Midorima." Kagami mengelak dengan santai sambil tersenyum lebar mengingat dia masih punya senjata andalan yang bisa digunakannya saat ujian nanti.

"Kau itu ya…" Furihata tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Kalo dibilangin Kagami bakalan makin ndablek jadi mendingan di biarin aja. "Hah, sudahlah kurasa itu bayaran yang kecil untuk tempat tinggal, air dan makan malam gratis." Dia setuju-setuju saja asal Kagami membiarkannya tinggal.

Kuroko pasti capek mengurusi orang macam begini tiap hari… Ujarnya dalam hati sambil melirik kearah sosok Kagami yang menguap disebelahnya.

.

Jam istirahat

drrrd

drrrd

"Hmm? Unknown number? Siapa ini…?" Karena penasaran, Furihata mengangkat panggilan masuk tersebut.

"Halo?"

"Kutunggu kau sepulang sekolah di depan gerbang. Jangan telat karena kita akan menemui seorang klien." Suara sedingin es langsung terdengar dari sambungan sebelah membuat Furihata mebeku ditempat.

Ia berkedip sekali dan kemudian dua kali dan terdiam hingga ia dapat mengenali identitas sang penelepon. "…Suara ini…Masaomi-san…?"

"Kau lambat sekali mengenali identitasku bocah," Nada sedingin es itu terdengar kembali.

Tentu saja Furihata amat terkejut menerima telepon dari Akashi Masaomi. Selama satu bulan semenjak mereka pertama kali bertemu Akashi-san tidak pernah sekalipun memperdulikan keberadaan Furihata. Kalaupun dia kebetulan bertemu dengan Furihata saat mengunjungi putranya, ia selalu bertingkah seakan remaja berambut cokelat itu tidak eksis. Perlakuannya cukup membuat Furihata paham, dia masih belum bisa menyetujui keputusan anaknya memilih orang seperti Furihata untuk dijadikan pendamping hidup.

Sekarang dia tiba-tiba menelepon Furihata dan langsung mengatakan akan menjemputnya sepulang sekolah.

"Anu…maafkan kelancanganku, tapi…apa maksudnya 'kita' akan bertemu dengan klien?" Tanya Furihata dengan nada takut-takut.

"Kuharap kau tidak mengacaukan pertemuan ini karena kita akan menyambut klien yang merupakan rekan bisnis yang amat penting bagiku." Nada suara rendah dan berat itu terdengar penuh dengan ancaman.

"Anu…maksudnya aku ikut menemuinya?"

"Tentu saja, bukankah sudah jelas?!" Terdengar desahan nafas lelah dari seberang. "Aku kekurangan tenaga kerja, dan juga mengingat apa yang terjadi pada Seijūrō…"

"Hah? Memangnya apa yang terjadi?!" Mendengar nama itu disebut, Furihata langsung bereaksi.

"Kondisinya melemah karena kelelahan, dia pingsan disaat tengah mengerjakan dokumen."

"Tunggu! Kenapa kau bisa setenang itu mengetahui kondisi anakmu?! Dimana dia sekarang?!" Furihata menaikkan volume suaranya membuatnya terdengar seperti keluarga korban yang ditelepon penculik untuk dimintai uang tebusan. Mungkin bagi Akashi Masaomi, kondisi kesehatan putranya mereupakan prioritas kedua setelah perusahaanya, tapi tidak begitu dengan Furihata.

Kalau bisa dia pasti akan langsung pergi menuju tempat dimana Akashi berada saat ini juga.

"Kecilkan volume suaramu! Seijūrō baik-baik saja di bawah pengawasan dokter pribadi keluarga kami, kau tak perlu mengunjunginya. Ada yang lebih penting yang harus kau lakukan." Kata-kata tersebut bukan permintaan melainkan perintah. "Jangan coba-coba kabur!" Suara bernada tegas itu membuat Furihata menelan ludah.

Mau tidak mau Furihata harus menerimanya karena tak ada alasan baginya untuk melarikan diri. Akashi-san takkan melepaskannya begitu saja. Entah apa yang akan terjadi kalau sampai dia menolak.

.


.

"Kuperingatkan sekali lagi, kau sama sekali takkan mau mengacaukan pertemuan ini, sedikit kesalahan saja…yah, kau tahu konsekuensinya bukan?" Akashi-san melipat tangannya sambil melihat kearah Furihata yang duduk di depannya tanpa bersuara. Meski tidak meneruskan kata-katanya, aura gelap yang keluar dari tubuh pria berambut merah didpeannya cukup membuat Furihata membayangkan berbagai kemungkinan yang membuatnya pengen pipis di celana.

"Aku mengerti, aku mengerti! Tolong berhentilah mengancamku seperti itu!" Furihata menganguk berkali-kali dengan cepat.

Kalau sampai ia melakukan kesalahan hari ini, nyawanya benar-benar jadi taruhannya!

Setelah pelajaran sekolah selesai, ia meminta ijin untuk tidak mengikuti latihan klub hari itu dan tampaknya tak ada yang mengomentari berhubung mereka tahu tidak ada yang dapat menolak perintah seorang Akashi Masaomi.

Furihata menutup matanya, mencoba untuk menenangkan pikirannya. Ia terus mencoba untuk memikirkan sesuatu yang menyenangkan agar ia bisa sejenak saja tidak merasa tertekan oleh kehadiran sang calon ayah mantu(?) Di depannya ini.

Tapi seperti yang diduganya, yang muncul malah bayangan ia dibakar hidup-hidup. Di sengat listrik, hukuman pancung, di buang dari atas helikopter dengan ketinggian 5000 kaki. Bayangan-bayangan itu membuatnya gemetar ketakutan dari ujung rambut hingga kaki.

"Kita sudah tiba, cepat turun." Suara Akashi Masaomi membuyarkan lamunannya.

Karena tenggelam dalam pikirannya sendiri, Furihata bahkan tidak menyadari mereka sudah tiba ditempat tujuan hingga mobil tersebut berhenti di depan sebuah bangunan.

Tanpa mengatakan apa-apa, Furihata mengikuti Akashi-san turun dari mobil.

Remaja berambut cokelat itu mengerjap sekali dengan tampang datar saat melihat bangunan dihadapannya.

'Diamond angel wink' seperti itulah tulisan Katakana yang tertera dibagian pintu depan bangunan tersebut dengan warna dominan pink dan violet. Siapapun pemilik tempat ini, sense-nya dalam memberikan nama sangat parah! Pikir Furihata.

"Silahkan masuk, silahkan masuk tuan-tuan! Hari ini kami punya gadis-gadis manis yang baru lho!" Terdengar suara seorang pemuda yang tengah membagikan selebaran pada om-om yang lewat, berharap beberapa diantaranya mau mengunjungi tempat tersebut.

"Anu…boleh aku menanyakan sesuatu?" Furihata melirik pada Akashi-san yang berdiri disebelahnya.

"Silahkan." Pria yang lebih tua itu mengijinkan.

"Tempat apa ini? Rasanya aku mendapat firasat tempat ini sesuatu yang sensual, tapi aku yakin ini bukan tempat semacam itu kan? Ini bukan klub kabaret kan?" Furihata bertanya seolah ingin memastikan, ia berharap prediksinya salah!

"Ini tempat pertemuannya, permintaan klien harus di turuti." Tanpa menoleh kearah Furihata, Akashi-san meneruskan langkahnya dan hendak masuk ke dalam klub tersebut.

"Tu-tunggu! Aku masih di bawah umur lho?!" Furihata buru-buru menyusulnya."Kalau sampai ini ketahuan aku akan berada dalam masalah besar!" Serunya dengan panik. Dia bisa-bisa di skors dari sekolah!

"Identitasmu tentu saja sudah dipalsukan, dan dengan sedikit tip tambahan mereka akan mengijinkanmu untuk masuk ke dalam." Akashi-san menjelaskan setelah ia selesai berbicara dengan bagian resepsionis dan dengan segera mereka langsung di antar ke ruang VIP.

Dalam perjalanan menuju ruang VIP, Furihata memperhatikan suasana sekelilingnya.

Banyak booth-booth berjejer di sepanjang jalan dan dipenuhi berbagai macam orang. Kebanyakannya adalah om-om hidung belang yang datang ke sana untuk menikmati minuman ditemani oleh gadis-gadis dengan usia yang jauh lebih muda dari mereka.

"Apa kau sering mengunjungi tempat semacam ini untuk bertemu dengan klien?" Tanya Furihata dengan nada menyelidik. Sebenarnya kalau dipikir-pikir lagi, melihat Akashi Masaomi mengunjungi tempat semacam ini cukup masuk akal, mengingat sudah cukup lama ia menjadi duda yang kaya raya.

"Semuanya tergantung permintaan klien." Akashi-san menjawab pertanyaan tersebut dengan tenang.

"Begitu…apa kau selalu membawa Seijūrō-san ke tempat semacam ini?" Furihata bertanya lagi, makin penasaran. Rasanya tidak sekali atau dua kali Akashi Masaomi menginjakan kaki ketempat semacam ini.

"Jangan bicara konyol, mana ada ayah yang membawa anaknya ke tempat semacam ini?" Akashi-san menjawab dengan nada dingin, tampaknya tersinggung oleh pertanyaan Furihata. Seolah Furihata menganggap dia ayah yang buruk karena bisa-bisanya membawa anaknya ke tempat semacam ini.

Lalu kenapa aku yang dibawa kemari?! Protes Furihata dalam hati.

"Ada apa?" Furihata sedikit bingung saat melihat Akashi-san menghentikan langkahnya sejenak dan memperhatikan sebuah booth yang terletak tidak jauh dari sana.

"Hmph, aku tidak menyangka akan melihat wajah yang familiar disini." Cibirnya dengan wajah kesal.

Karena penasaran Furihata menoleh untuk melihat siapa yang dibicarakan oleh pria itu dan mendapati sosok yang familiar duduk disalah satu booth sambil dikelilingi beberapa hostess.

"Hmm? Ah…itu…" Remaja itu terdiam melihat sosok tersebut.

"Waah, tangan Ami-tan seperti biasanya putih dan lembut." Aida Kagetora berkata sambil mengelus puncak telapak tangan salah satu hostess.

"Aida-san~kau masih mesum seperti biasanya~" Kata wanita itu dengan nada manja yang dibuat-buat.

"Eeeh?! Bagaimana mungkin kau bisa menyebutku mesum? Kau bahkan tak pernah membiarkanku menyentuh dada atau pantatmu!" Aida-san memprotes, dengan wajah sedikit cemberut.

"Kagetora-san, itu pelecehan seksual, lho~"

"Bwahahaha! Bawakan lebih banyak lagi sake kemari! Ayo berpesta sampai larut malam! Semuanya aku yang bayar! Ahahahaha!" Dengan bersemangat Aida-san mengangkat botol minuman keatas dan berseru dengan lantang.

"Kyaaa! Kagetora-san hebat!" Para hostess bertepuk tangan riuh sambil mengelu-elukannya.

"Aida…san…?"

"Heh? Ada yang memanggilku?" Aida-san menoleh kearah sumber suara dan bertemu pandang dengan Furihata yang melihatnya dengan wajah tanpa ekspresi.

"…."

"…."

Mereka berdua saling berpandangan untuk waktu yang cukup lama sebelum Furihata membungkuk.

"Aku permisi." Ujarnya dengan nada sopan sebelum berbalik dan menyusul langkah Akashi-san yang berada jauh didepannya.

"Tunggu!" Sebelum Furihata sepat melangkah lebih jauh, Aida-san dengan sigap melompat keluar dari booth dan langsung menarik kerah belakang kemejanya.

"Furihata-kun kan?! Hei! Kumohon, jangan katakan apapun tentang ini pada Riko-tan! Nee! Kumohon!" Seru Pria berambut cokelat itu dengan tatapan memelas, hampir menangis dilihat dari butiran air mata yang membendung di pelupuk matanya.

"Aida-san! Terlalu dekat! Wajahmu terlalu dekat!" Furihata mati-matian berusaha mendorong wajah Aida-san menjauh darinya.

"Kalau sampai dia tahu tentang hal ini, aku tidak bisa membayangkan seperti apa ekspresinya…dia pasti akan memandangku dengan tatapan itu! Aku tidak ingin dia melihatku dengan tatapan seolah-olah aku orang tua mesum!" Ia mencengkram kerah Furihata dengan erat, membuatnya kesulitan bernafas.

Memangnya kau bukan?!

"Apa yang kau lakukan? Ayo cepat kesini!" Furihata merasa sedikit lega saat mendengar langkah kaki Akashi Masaomi mendekatinya, setidaknya sekarang dia punya alasan untuk melarikan diri dari Aida-san.

"Ah, To-tolong tunggu sebentar, Masaomi-san!"

"Masaomi?" Aida-san tampak berpikir sejenak saat ia mengamati figur pria berambut merah yang berdiri dihadapannya. Entah kenapa dia terasa familiar."Masaomi…ah! Rupanya kau! Lama tidak bertemu!" Serunya sambil melabaikan tangan saat ia akhirnya mengingat siapa orang tersebut.

"…Kalian saling kenal?" Furihata menoleh kearah Akashi-san dan Aida-san bergantian melihat atmosfere diantara mereka berdua berubah.

"Tentu saja, kami teman sekelas semasa SMP. Kami sekelas dan duduk sebelahan selama 3 tahun berturut-turut!" Aida-san berjalan kearah Pria berambut merah itu dan mengalungkan lengannya dipundaknya.

"Tidak, dia salah orang, cepatlah berdiri kita harus segera bergegas ke ruang VIP, klien kita sudah berada disana, jangan membuatnya menunggu lebih lama lagi." Akashi-san langsung menepis lengan Aida-san dan menjauh beberapa langkah darinya.

"Jangan dingin begitu dong! Kita sudah lama tidak bertemu kan? Berapa lama ya? Kira-kira 20 tahun? Kau tidak pernah menghadiri reuni SMP sih!" Aida-san berkata sambil tertawa kecil. Ia tampaknya senang akan pertemuan yang tidak terduga dengan teman lamanya, berbeda dengan Akashi-san yang ekspresinya penuh kekesalan, seolah pria berambut cokelat itu adalah orang terakhir yang ingin ditemuinya di dunia.

"Aku tidak pernah ingat pernah berhubungan denganmu sekalipun selama 3 tahun." Balas pria berambut merah itu dengan dingin, menepis pernyataan Aida-san.

"Lagi-lagi bicara begitu bukankah kita teman dan rival semasa SMP?"

"Rival? Pemikiran delusional macam apa itu? kita bahkan tidak berdiri dilevel yang sejajar mana mungkin kau bisa menganggap dirimu sebagai rivalku?"

"Kau masih angkuh seperti biasanya ya, keparat…!" Geram Aida Kagetora sambil mempererat kepalan tangannya.

"Berbeda denganmu, kami tidak punya cukup banyak waktu untuk disia-siakan jadi kalau tidak ada yang ingin kau bicarakan lagi, kami mohon pamit." Akashi-san berujar sambil menarik Furihata dan hendak pergi dari situ bersamannya.

"Tunggu dulu! Apa menurutmu tidak membahayakan reputasimu kalau sampai ketahuan publik kalau kau membawa anak dibawah umur ke tempat semacam ini?!" Kata-kata Aida-san membuat Akashi-san berhenti sejenak dan menoleh kebelakang.

"Anak ini adalah asistenku merangkap budak khusus untuk hari ini." Ia menjelaskan.

Budak?! Kejam sekali! Apa julukan yang itu harus disebutkan?! Protes Furihata dalam hati.

"Asisten? Budak? Furihata-kun…bisa tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi di sini?" Aida-san menatap Furihata dengan tidak percaya apa yang baru saja didengarnya.

"Yah…ceritanya panjang dan saat ini aku benar-benar tidak punya waktu untuk menjelaskannya, jadi…maaf! Akan kujelaskan semuanya lain kali."

Furihata mengatupkan kedua telapak tangannya sambil menunduk dan kemudian berjalan mengikuti Akashi Masaomi.

"O-oi! Furihata! Tunggu sebentar!"

"Aku benar-benar minta maaf Aida-san!"

"Apa yang sebenarnya terjadi…?" Aida Kagetora hanya dapat berdiri dengan ekspresi bingung menatap kepergian kedua orang tersebut.

.

"Aku merasa tersanjung anda mau meluangkan waktu untuk menemuiku disini. Normalnya direktur utama tidak perlu bertatap muka secara langsung." Seorang pria yang tampaknya berusia 50-an tahun dengan figur yang besar karena kelebihan berat badan menyambut keduanya saat mereka melangkah masuk kedalam ruang VIP. Beberapa hostess yang sepertinya langganan pria itu, tengah bersandar di dada pria tersebut sambil sesekali mengelusnya.

Ruang VIP terletak dibagian belakang klub kabaret tersebut. Berbeda dengan ruangan terang dibagian depan, disini para tamu dilayani dalam ruang tersendiri dengan furnitur lengkap. Jelas harganya jauh berbeda dari tamu yang memesan booth didepan.

Ia mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Akashi-san yang disambut oleh pria berambut merah itu.

Pria tersebut adalah direktur perusahaan yang terlibat dalam kerja sama dengan Akashi group.

"Tidak, lagipula berkat kerja sama anda dalam proyek kolaborasi sebelumnya, rating penjualan produk baru perusahaan kami berhasil lolos seleksi." Akashi-san menggeleng pelan sambil menampakkan senyuman palsu saat melepaskan jabatan tangannya. Ekspresi yang sering digunakannya menghadapi klien-klien perusahaannya.

"Tidak perlu sungkan, itu hanya balas budi yang sepadan mengingat perusahaan anda banyak membantuku dimasa lalu." Pria itu menoleh kearah Furihata yang berdiri beberapa langkah di belakang Akashi Masaomi.

"Anak yang ada bersama anda itu…"

Furihata melangkah maju saat Akashi-san memberinya isyarat jari untuk datang mendekat.

"Dia pegawai In-training perusahaan kami, Furihata Kōki. Karena masih baru masih banyak yang harus dipelajarinya jadi aku memutuskan untuk membawanya ikut serta bersamaku hari ini." Akashi Masaomi memperkenalkan Furihata secara formal, ia tampaknya sudah menyusun alibi sempurna untuk remaja berambut cokelat itu.

Penjelasannya beda banget dengan saat bersama Aida-san! Pikir Furihata.

"Begitu rupanya, sepertinya dia anak muda yang memiliki prestasi yang menjanjikan sampai sang direktur menaruh perhatian yang besar padanya, hahahaha!"

"Te-terima kasih atas pujiannya…" Furihata membungkuk sejenak mendengar kata-kata tersebut.

"Jangan kaku begitu! Ini bukan pertemuan formal kok! Silahkan minum sepuasnya, anak baru!" Ujar pria itu kemudian menyodorkan sebuah gelas kaca berisi es batu ke tangan Furihata dan menyuruhnya memilih sendiri minuman alkohol yang diinginkannya diatas meja.

"Tidak…aku…"

Aku tidak bisa bilang kalau aku masih di bawah umur! Gawat! Bagaimana ini? Tidak ada alasan untuk menolaknya… Furihata hendak menolak.

"Toleransi alkoholnya rendah, jadi kusarankan sebaiknya ia tidak perlu minum malam ini." Furihata sedikit lega mendengar Akashi-san menolongnya dengan memberikan alasan yang masuk akal.

"Hmm? Tapi segelas saja tidak apa-apa kan?" Tanpa diminta pria itu mengambil sebuah botol dom perignon dan menuangkannya ke dalam gelas Furihata yang kosong.

"Baiklah, segelas saja."

"Ukh…A-aku…" Furihata menatap pada gelas kaca berukuran kecil berisi minuman beralkohol ditangannya dan melirik sedikit kearah Akashi Masaomi yang memerintahkannya untuk minum lewat tatapannya.

Aku tidak bisa kabur! Tatapan tajam yang menusuk membuat Furihata menelan ludah dengan ketakutan. Remaja berambut cokelat itu lalu menarik nafas panjang dan menghabiskan seluruh isi gelas tersebut dalam sekali teguk. Ia terbatuk setelah merasakan cairan panas itu melewati kerongkongannya.

Jadi begini ya rasanya minuman alkohol? tidak enak! Pikirnya sambil memandang ke arah gelas kosong ditangannya. Seumur hidupnya ini pertama kalinya Furihata merasakan minuman alkohol. Dia selalu penasaran setiap kali melihat ayah dan kakaknya tampak sangat menyukai minuman tersebut, dia heran kenapa mereka bisa-bisanya menyukai sesuatu yang rasanya tidak enak begini.

"Kyaa! Furi-kun hebat!" Dua dari hostess itu memeluk lengan kanan dan kiri Furihata. Membuat remaja itu merona saat dada mereka mengenai sikunya.

"Oi, oi, kenapa kalian jadi lebih manja padanya dari padaku?" Pria itu bertanya dengan nada bercanda melihat kelakuan wanita-wanita itu.

"Eeh? Soalnya jarang sih, melihat bocah manis macam begini berkeliaran ditempat seperti ini." Salah satu hostess berambut cokelat terang disebelah kanan Furihata berkata dengan nada manja."Dia juga kelihatannya sama sekali tidak berpengalaman~"

"Bagaimana? Apa kau ingin Onee-san sekalian mengantarmu menuju jalan kedewasaan?" Hostess berambut hitam di sebelah kirinya mengangkat dagu Furihata dan mendekatkan wajahnya kearah remaja itu dengan senyuman menggoda.

Furihata mati-matian memalingkan wajahnya kesamping agar tidak melihat belahan dada sang hostess tersebut. Ia menyadari tatapan kalkulatif Akashi Masaomi yang tertuju padanya.

Ini benar-benar situasi yang buruk! Ia terjebak dalam dekapan dua orang hostess sementara sang calon(?) ayah mantu menatapnya dengan tajam.

Gawat! Gawat! Apa yang harus kulakukan?! Kalau begini terus… Furihata berkedip saat ia melihat sesuatu yang bersinar di atas telapak tangannya.

Benar juga! Ini dia!

"Ma-maaf! A-aku sudah bertunangan!" Furihata mengangkat tangannya, memperlihatkan cincin perak yang terpasang di jari manisnya.

Mengenakan cincin adalah penanda dia sudah menjadi milik seseorang, membuat siapapun berpikir 2 kali untuk merayunya.

"Waah~jujur sekali."

"Lucunya~"

Kedua Hostess itu bergerak sedikit menjauh darinya, membuat Furihata menarik nafas lega.

"Kau masih muda sekali tapi sudah bertunangan, apa kau tidak merasa kau menyia-nyiakan masa mudamu dengan mengikat dirimu dalam ikatan seperti itu?" Tanya sang klien sambil menaikkan alisnya.

"Eh…tidak…"

"Hmm? Tipe yang setia ya? Anak muda yang jujur! Aku suka orang dengan tipe sepertimu!" Pria itu tampak senang dengan sifat Furihata dan memujinya sambil menepuk-nepuk pundaknya."Aku berharap anak perempuanku bisa mendapatkan jodoh sepertimu!"

Pria itu kemudian menoleh kearah Akashi Masaomi.

"Akashi-san, saya merasa dapat mempercayakan proyek selanjutnya pada perusahaan anda." Katanya dengan nada senang sebelum menoleh kembali kearah Furihata.

"Seseorang yang bisa menghargai pasangannya sepertimu, pasti memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi. Aku menantikan kerja sama antara kita, Furihata Kōki-kun."

Tapi aku bahkan bukan karyawan di perusahaan Akashi… Pikirnya saat melihat sorot kagum dimata pria itu.

"I-iya…" Furihata tidak dapat mengatakan apa-apa selain menganguk. Ia manghabiskan beberapa jam kedepan dalam diam sementara kedua orang dewasa itu terlibat dalam diskusi tentang proyek kolaborasi perusahaan mereka.

.


.

"Kau masih menunggu disini Aida-san?" Furihata tampak terkejut melihat sosok ayah sang pelatih berdiri didepan gedung klub kabaret. Setelah pertemuan tersebut selesai, Akashi-san dan Furihata beranjak meninggalkan tempat itu. Sang klien tampaknya masih ingin bersenang-senang lebih lama didalam.

"Tentu saja, banyak yang harus kau jelaskan. Kau punya nyali besar juga meninggalkanku seperti tadi bocah sialan!" Ujar pria itu dengan nada rendah dan mengerikan sambil mencengkram kepala Furihata dan memberinya death-glare yang membuat berdiri bulu kuduk bocah malang itu.

"Hieeeh! I-I-Ini! Bisa kujelaskan Aida-san!" Furihata meminta maaf dengan setengah menangis meminta ampun.

"Kau juga Masaomi, kau pikir aku akan membiarkanmu pergi begitu saja?!" Ia melihat kearah Akashi Masaomi yang hendak masuk ke dalam mobil jemputannya.

"Maaf, tapi aku masih ada janji di tempat lain, aku tidak punya waktu untuk meladenimu." Ujarnya dengan dingin dan tanpa menoleh pada Aida Kagetora ia masuk ke dalam mobil.

"Oi! Kembali kesini sialan! Kau pikir berapa jam aku menunggumu- Ck! Dia melarikan diri! Si brengsek itu…" Umpat Pria berambut cokelat itu saat melihat mobil tersebut melaju dan menjauh dari pandangannya.

"…aah…bagaimana aku pulang nih?" Furihata menatap kepergian Akashi Masaomi dengan pandangan nanar. Rencananya sih tadi, Akashi-san bakal menurunkan Furihata di mansion yang ditinggalinya dalam perjalanan kembali ke kantor tapi pria itu malah seenaknya pergi dan meninggalkannya begitu saja.

"…Mau kuantar? Aku bawa mobil." Tawar Aida-san dan mengeluarkan kunci mobilnya.

"Mau!" Furihata langsung menganguk cepat.

Berkat Aida Kagetora, Furihata bersyukur ia tidak perlu pulang ke apartement dengan berjalan kaki. Dia menceritakan alasan tentang bagaimana dia bisa datang ke klub kabaret bersama Akashi Masaomi dari awal.

Aida-san terus berseru 'Haaah?!' 'Apa?!' 'Memang yang seperti itu bisa terjadi?!' sepanjang perjalanan mendengar cerita yang luar biasa tidak masuk akal tersebut dan hampir menabrak 2 sedan dan 3 penyeberang jalan. Respon seperti itu sudah diantisipasi, mayoritas orang yang dikenalnya akan bereaksi seperti itu bila mendengar ceritanya.

"Hidupmu sudah mengalami banyak perubahan selama sebulan terakhir ya, Furihata-kun." Ujar Aida-san saat mobilnya berhenti di perempatan lampu merah. Otaknya masih berusaha mencerna informasi yang baru saja diterimanya saking terlalu absurdnya.

"Luar biasa banyak." Furihata hanya dapat tersenyum miris mendengarnya.

"Pertama, selamat sudah jadi seorang ayah." Aida-san menepuk pundaknya. "Kemudian…" Ia menarik nafas sebelum melanjutkan.

"Bwahahahaha! Rasakan itu Masaomi sialan! Dia selalu menggembar-gemborkan statusnya, mengklaim dirinya absolut dan selalu benar! Sekarang nyatanya anak satu-satunya hamil di luar nikah! Sudah jelas siapa diantara kami yang dapat membesarkan anak dengan benar!"

Serunya sambil tertawa dengan keras melepaskan uneg-uneg yang ditahannya sedari tadi. Dikacangin oleh teman lama setelah berjam-jam menunggunya diluar klub kabaret.

Ia menjalankan kembali mobilnya saat lampu lalu lintas menjadi hijau.

"Anu…entah kenapa aku merasa kesal mendengarmu mengatakan hal seperti itu, rasanya seperti kau mengatakan orang tuaku juga tidak becus membesarkanku." Furihata memprotes sambil mengerucutkan bibirnya. Meskipun ia merasa simpatik pada Aida-san yang tidak diperdulikan sedari tadi oleh Akashi-san, mau tidak mau dia merasa kesal mendengarnya mengatakan hal seperti itu.

Biar bagaimanapun, benih yang di katakannya itu kehamilah diluar nikah adalah miliknya.

"Lagipula suatu saat nanti, kau harus merelakan pelatih untuk berbahagia bersama orang yang dicintainya." Ujar Furihata dengan nada acuh tak acuh.

"Tidak akan kubiarkan!" Aida Kagetora langsung mengerem mendadak membuat Furihata hampir terjungkal kedepan kalau ia tidak pakai seatbelt. "Tidak akan kubiarkan seorangpun menyentuh putriku tercinta! Tidak ada yang lebih mencintainya daripadaku di dunia ini! Aku menolak untuk memberikannya pada siapapun!"

"Depan! Lihat kedepan!" Furihata berseru ketakutan dan panik melihat sebuah truk melaju dari depan. Namun berkat kesigapan dan refleks Aida-san yang bagus, mereka berhasil menghindari truk tersebut tepat waktu dan kembali di lajur jalan yang benar.

"Dengar bocah sialan, Riko-tan milikku akan tetap murni dan perawan hingga aku menghembuskan nafas terakhirku!" Ancam Aida-san sambil mengeluarkan sebuah pistol dari setelan kemeja yang dikenakannya.

"Itu terlalu berlebihan!" Seru Furihata. "Dan kenapa kau membawa-bawa pistol segala?!"

Mereka meneruskan perjalanan mereka hingga akhirnya mereka tiba tempat tujuan mereka.

"Terima kasih atas tumpangannya, Aida-san." Ujar Furihata sambil melepaskan seatbelt-nya dan hendak membuka pintu mobil.

"Berusahalah, memiliki ayah mantu seperti Masaomi bisa jadi tantangan terberat yang akan kau hadapi dalam hidupmu, Berjuanglah." Kata Aida-san sesaat sebelum Furihata melangkah keluar dari mobil.

"Soal itu…kurasa dia masih belum menerimaku sebagai pilihan Seijūrō, dia takkan pernah mengakuiku…sudah jelas dari kelakuannya padaku." Furihata mengarahkan pandangannya ke samping dengan ekspresi sedikit murung. Apapun yang terjadi, rasanya Akashi Masaomi takkan pernah mengakuinya.

"Kau tahu? Selama puluhan tahun mengenalnya, bisa kukatakan dia tidak seburuk itu." Memahami kegundahannya, Aida-san memutuskan untuk menenangkannya.

"Mungkin masih sulit baginya untuk menerima, terlebih dirimu sama sekali tidak memenuhi ekspestasi sebagai anak mantu baginya." Ia menganguk. "Bukan salahmu sih, ekspetasinya saja yang terlalu tinggi."

"Berilah sedikit waktu, bila kalian saling mengenal lebih jauh ada kemungkinan dia akan merubah pikirannya." Aida-san berkata dengan nada serius.

"Baiklah, aku pulang dulu. Riko-tan pasti kesepian menungguku dirumah seorang diri." Ekspresi serius diwajahya langsung berganti menjadi ekspresi konyol gembira saat ia mengatakan nama anak perempuan kesayangannya.

"Hei, mengenai insiden hari ini, aku sepakat untuk menutup mulut soal kau masuk ke klub kabaret tapi sebagai gantinya jangan katakan apapun soal yang tadi pada Riko-tan!"

"Iya, iya, hati-hati di jalan."

Dengan kata-kata perpisahan tersebut. Aida Kagetora pun menyalakan kembali mobilnya dan kini menuju perjalanan pulang ke rumahnya sendiri. Setelah mobil Aida-san cukup jauh, Furihata akhirnya berjalan masuk kedalam mansion.

.

"Kōki…" Furihata sedikit berjengit mendengar kata-kata yang amat dingin milik Akashi yang menyambutnya saat ia membuka pintu apartemen. Di hadapannya, remaja berambut merah terang dengan mata dwiwarna itu melipat tangannya dengan ekspresi super mengerikan membuat bulu kuduknya merinding.

"A-aku pulang…" Jawabnya sambil meringkuk, tetap memegang ganggang pintu apartemen seolah dia akan mati bila dia melepaskannya.

"Kau pikir jam berapa sekarang?" Tanyanya dengan nada tenang tapi Furihata dapat merasakan amarah dalam nada tersebut. Seperti angin sepoi-sepoi sebelum badai meledak.

"Anu…itu…aku bisa menjelaskan semuanya, lagipula bagaimana kondisimu? Kudengar kau pingsan di kantor tadi pagi?" Tanya Furihata, walaupun penuh ketakutan ia masih mengkhawatirkan kondisi Akashi.

"Aku sangat menghargai kau masih peduli untuk menanyakan kondisiku meskipun kau pergi bersenang-senang hingga selarut ini." Akashi menyeringai saat mengatakan kata-kata yang jelas berupa sarkasme tersebut.

"Tunggu! Aku hanya memenuhi permintaan ayahmu! aku diminta pergi ke-" Furihata langsung terdiam saat itu juga. Ia tidak mungkin mengatakan ia menghabiskan waktu seharian di klub kabaret untuk membicarakan bisnis dengan klien Akashi-san.

"Pergi ke mana? Dan kenapa ada wangi parfum di tubuhmu?" Akashi bertanya saat menghirup bau yang tidak familiar dari baju Furihata. "Wangi yang ganjil… apa ini milik wanita?" Tanyanya dengan nada penuh curiga.

Gawat! Furihata berseru dalam hati. Semua ini gara-gara gadis-gadis klub kabaret yang duduk terlalu dekat sambil merangkulnya selama beberapa jam.

"Bu-bukan! Aku pergi karena urusan pekerjaan! Aku tidak bohong! Tanyakan saja pada ayahmu-"

"Apa ini?" Akashi menarik keluar secarik kartu nama dibalik saku jas yang dikenakan Furihata yang ternyata merupakan kartu klub kabaret tersebut, salah satu dari wanita-wanita itu pasti memasukannya tanpa Furihata sadari.

"Hooh…urusan pekerjaan ya?" Aura hitam yang menguar dari tubuh Akashi semakin kuat.

"Tu-tunggu! Aku benar-benar kesana karena urusan pekerjaan, percayalah padaku!" Pekik Furihata dengan nada memelas seperti suami yang ketahuan pergi main ke klub kabaret dengan alasan lembur padahal jam pekerjaan sudah lama selesai.

"Tidak ada yang perlu dijelaskan, aku sudah mengerti semuanya."

"Se-Seijūrō-sama…?" Furihata sempat mencoba membuka ganggang pintu namun sebuah gunting yang melesat tepat disebelah kepalanya membuatnya berubah pikiran.

"Lemparan yang berikutnya takkan meleset."

"Bersiaplah, aku takkan membiarkanmu lolos malam ini."

"GYAAAAAAAAAAAAAAAAAA!" Jeritan penuh penderitaan itu menggema keseluruh mansion tersebut sedetik setelahnya.

.

.

Tok, Tok, Tok

"Hmm? Siapa yang bertamu di tengah malam buta begini?" Kagami mengomel saat suara ketokan di pintu depan apartemennya membangunkannya dari tidur lelapnya.

"Yaa? Siapa?" tanyanya dengan ogah-ogahan seraya membuka pintu apartemennya.

"Selamat malam Kagami, kalau tidak keberatan, apa aku boleh tinggal di apartemenmu untuk sementara waktu?" Tampaklah Furihata yang babak belur membawa tas punggung besar berisi perlengkapan untuk menginap selama beberapa hari.

Kagami hanya bisa terdiam melihat prediksinya tadi pagi menjadi kenyataan di depan matanya.

TBC

Note tambahan: Aida Kagetora sama Akashi Masaomi enggak saling kenal sih di canon, cuman seru aja kalo dibikin mereka teman lama di fic (Guilty pleasure-nya authorlah)

Awalnya di chapter 2 aq maunya bikin Furihata melewati first trial uji fisik oleh Akashi Masaomi, tapi setelah q perhintungkan stat-nya sbg karakter terlalu rendah! (-_-")…rasanya mustahil deh. (Kecuali kalau yang melatihnya kayak Hiruma mungkin bisa dipertimbangkan soalnya metode Hiruma cepat dan efisien.)