Disclaimer :
Kuroko no Basuke © Fujimaka Tadatoshi
Akuma no Riddle © MINAKATA Sunao & KOUGA Yun
Warnings : AU/OOC/Bad language/Gore/Violence/Lime in later chaps
a/n : Um, yeah. Saya tau di bagian Prolog banyak sekali kata-kata ambigu, WAHAKAK. Sebagai contoh yang sekamar—Oke, sekamar itu maksudnya seruangan, sengaja dibikin gitu biar nanti Akashi inform ke (Name) jadi ambigu #halah. Yah, pokoknya gitu deh, kalo masih nggak jelas, semoga abis baca chapter ini semua kata ambigu menjadi lebih ambi—maksudnya lebih jelas. Teehee~
Di cerita ini, Kiseki no Sedai adalah kelompok pembunuh bayaran, tapi mereka nggak kenal satu sama lain kecuali Akashi + Kise dan Midorima + Kuroko. Dan rambut Akashi masih panjang yaaa XD
Rebirthia
[ Trick I – Deep inside the black abyss ]
.
.
.
xA harr hLYUmLYUmOrO eje/.
She sings the song of her crazed heart
xA sorr kLYUvLYUr du qejyu/.
Her singing covers these painful people
xI rre fIrIlU hIlIsUsU ayulsa dazua/.
Frightened and grievous in the eternal darkness
xA harr nAtLYInO hymmnos/.
She continues to sing
xA sorr mLYOrArA du sphaela/.
Her singing is a reflection of this mad world
xO rre mLYOtOyOyO giz wOsLYI du giz/.
Giving birth to terror, giving birth to fear
xN herr v.t. ess dazua/.
She was born in the darkness
xN herr v.t. goa balduo sphaela/.
She knows nothing but a dark world
Reader's P.O.V
"Nee-chan suka sekali lagu itu ya?"
Bibirku berhenti bergerak, begitu juga dengan suaraku yang bersenandung sedikit keras hingga bergema di kamarku. Kulihat adikku yang tengah duduk sambil memainkan kartu tarotnya, yang tidak pernah kupahami bagaimana caranya ia mempelajarinya.
"Mou, habisnya ibu juga sering menyanyikannya untuk kita kan?"
Adikku tidak menatapku balik—memang sedari tadi dia tidak menatapku, tapi terus-terusan memandang kartu yang ada di depannya setelah mengocoknya.
"Maa, tapi aku rasa ada yang tidak suka dengan lagu itu.." Ia memutar matanya ke arah dapur dimana ada kakak laki-lakiku yang sedang memasak sarapan untuk kita berdua.
Yang ditatap hanya diam bergeming, atau mungkin tidak mendengarnya?
"Masa sih..? Mayu-nii pasti suka lagu itu kan..?" Aku yang sedang mengeringkan rambutku setelah keramas sedikit menolehkan kepalaku meskipun aku tahu dia tidak akan melihatku karena sedang serius memasak.
Terdengar helaan nafas panjang.
"Sudah kubilang jangan panggil aku seperti itu, kelihatan seperti perempuan tahu."
"Ih, itu sih karena Mayu-nii aja yang kelewat sensitiv!"
Tiba-tiba saja Mayu-nii menaruh piringnya dengan kasar dan menatap tajam ke arahku—duh, kalau sudah seperti ini, aku kalah deh.
"G-Gomen.."
"Sudahlah. Cepat pakai seragamnya, nanti telat loh." Sahutnya dengan nada tenang yang berubah dengan cepat.
"Humm.. iya.. iya.."
Aku kembali lagi menekuni diriku di depan cermin.
Haaah, aku membuang nafas pelan selagi menatap bayangan diriku sendiri di depan benda itu—memantulkan sosok seorang gadis yang dilihat dari wajahnya saja sudah ketahuan bahwa aku ini ceria, tidak bisa diam, dan banyak bicara. Berbeda sekali dengan kakakku dan adikku—mereka itu seperti mayat hidup bagiku. Kulit lebih pucat dariku, mata yang agak sayu, irit ngomong dan—pokoknya bertolak belakang denganku! Ya jadinya, aku yang paling berisik di keluarga ini. Yah, apa boleh buat, aku kan cuma anak angkat disini..
Tapi, mereka berdua baik padaku kok. Contohnya, Miki-chan yang selalu memainkan kartu-kartu yang tidak kumengerti itu yang biasanya meramalkan nasibku (meskipun aku tidak pernah percaya dan peduli soal itu sih), dia juga sering membantuku membereskan rumah.
Lalu ada Mayu-nii, kakak laki-lakiku yang keberadaannya kadang-kadang sering tidak dilihat orang—tapi aku sebagai adiknya tentu selalu bisa mengetahuinya. Mayu-nii cukup terkenal di kalangan perempuan, habis dia cukup tampan sih, sayangnya wajahnya yang nggak ada ekpresinya itu, aduuh, bikin aku kesal. Tapi kalau Mayu-nii punya sikap sepertiku, suka senyum dan nggak bisa diam kayaknya nggak cocok deh.
Yah, kadang-kadang aku kesepian juga—tapi ada Mayu-nii jadi seperti pengganti ibu dan ayah, dia yang memasak, juga bekerja di luar.
"Kau mau bengong sampai kapan?"
Kulebarkan mataku kaget saat suara Mayu-nii bergema di telingaku. Ah, dia benar, aku terlalu lama melamun.
"Maaf, maaf! Tunggu sebentar!"
Aku buru-buru merapikan pita merah yang terikat di sela kerahku, seragam atasnya sih nggak terlalu merepotkan tapi roknya—agak pendek, yah, di atas lututku lah. Karena tidak mau terjadi macam-macam, akhirnya aku pakai celana pendek didalam roknya saja, itu memang sudah kebiasaanku sih.
Rambutku kubiarkan tergerai, bukannya sok cantik atau apa, tapi memang masih basah dan aku tidak pernah memakai pengering rambut.
Setelah semuanya rapi, aku berjalan keluar kamarku dan menuju meja makan. Sudah ada Miki-chan dan Mayu-nii yang menyantap tamagoya—
—ki-ku.
"MOU ONII-CHAN, MIKI-CHAN! KENAPA TAMAGOYAKI-NYA KALIAN MAKAN SEMUA?!"
"Habisnya kau kelamaan sih." Sahut kakakku datar dan kembali melanjutkan melahapnya.
"TA-TAPI—"
"Sudah, sudah—" Miki-chan lalu mengambil sumpit lain dan mencapit makanan kuning itu untukku dan mengarahkannya ke mulutku.
"Buka mulut Nee-chan.."
"Miki-chan~!" Aku terharu dengan sikapnya yang peduli dengan keadaan perutku, "Aa—"
HAUP.
Aku menunggu beberapa detik dan mendengar suara itu—Haup. Itu berarti..
"MIKI-CHAN HIDOOI!" Aku berteriak ketika ia memakan sendiri tamagoyaki yang ada di sumpitnya itu—harusnya kan itu buat aku!
Ia berbicara sambil makan, "Salah Nee-chan sendiri, wee."
Aku merengek seperti anak kecil dan menoleh ke arah Mayu-nii dengan senjata puppy eyes-ku agar meluluhkan hatinya untuk memberikan sedikit tamagoyaki-nya.
"Tidak. Kau makan cereal saja sana."
"HEE?! NANDE DAYO?!"
.
.
.
Keduanya menatap sosok yang ceria itu berpamitan dengan melambaikan tangannya dan menampilkan senyum terbaiknya setelah gadis itu memeluk mereka sangat erat sampai-sampai mereka kehabisan nafas dan berpikir bahwa kenapa gadis di depan mereka bisa sampai segila ini.
Kini keheningan melanda mereka—dan si anak perempuan memandang selembaran kartu di meja santainya.
Kalimatnya begitu saja keluar dari mulutnya, tanpa sama sekali ada ekspresi yang tergambar di wajahnya.
.
.
"Kenapa kau melakukannya?"
"Apa yang kau maksud?"
"Kenapa harus Nee-chan yang jadi korban selanjutnya?"
"…."
"…."
"..Kenapa kau peduli dengan orang yang bahkan bukan keluarga kita?"
"Meskipun Nee-chan hanya anak yang diadopsi oleh ayah, bukan berarti kau bisa sejahat itu padanya."
"….."
"Nee-chan tidak akan mati secepat yang kau kira."
"…. Hm..? Kenapa kau percaya diri sekali dengan keyakinanmu itu..?"
"Kau tidak ingat Nee-chan sering dijadikan bahan percobaan sebelum diadopsi ayah..?"
"….."
"Kau tahu—" Ia membalikkan kartunya, "Kau tidak akan menang. Seorang pengkhianat tidak akan menang."
"Aku bukan pengkhianat."
"Kau pengkhianat. Di keluarga kita, jika anggota keluarga menyakiti apalagi membunuh saudaranya sendiri, disebut pengkhianat."
"Oh ya..? Tapi dia hanya anak adopsi.. dan bukan aku yang membunuhnya.. lagipula aku tidak merasa diriku seperti itu."
Anak kecil itu mendengus sembari mendesis.
"I'm a traitor, but I don't consider myself as a traitor—" Ia menyeringai, "Pantas sekali untukmu, heh?"
Mayuzumi mengambil cangkir tehnya dan membiarkan aroma-nya membaur untuk menenangkan pikirannya.
Ia tersenyum tipis.
"Yah, Aldrich Ames memang benar, kan?" Ia membiarkan bibirnya bertemu dengan sesuatu yang hangat itu, "Seorang pengkhianat mana mungkin mengaku dirinya sebagai pengkhianat."
.
.
.
"Itte~"
Kudengar suara perutku yang mulai menganggu.. hhh.. sudah dua kali..
Ini berarti aku..
.. Lapar.
Aku benar-benar masih.. lapar.
Yah, mau bagaimana lagi. Setelah keributan yang memakan waktu hampir 10 menit itu, akhirnya aku menyerah dan memakan cereal saja. Apa boleh buat, tamagoyaki buatan Mayu-nii itu enak sekali! Lebih enak daripada yang dibikin ibu. Tapi.. ya sudahlah ah! Nanti aku jadi kelaparan lagi kalau terus-terusan memikirkan hal itu.
Aku lalu mengangkat tanganku untuk melihat jam tanganku—dan masih pukul 07.30. Jarak dari rumahku ke sekolahku memang terbilang cukup jauh—untungnya aku masuk ke Black Class, kelas spesial untuk anak yang menerima beasiswa sepertiku. Murid Black Class memang mendapatkan pelayanan yang menurutku terlalu berlebihan. Bagi yang rumahnya cukup jauh sepertiku, maka disediakan hote—penginapan, dan gratis untuk tinggal disana.
Aku tidak pernah berniat untuk tinggal disana—tapi karena kakakku memaksa, dia bilang katanya aku itu mudah kelelahan, jadi nggak perlu bolak-balik dengan jarak yang katanya jauh itu. Ah, masa iya?
Lagipula pakaianku, barang-barangku juga sudah di simpan disana, sehingga aku tidak bisa mengganti pilihanku lagi. Tapi aku sudah berjanji pada mereka berdua, kalau aku akan mengunjungi mereka jika aku nggak ada tugas.
Kembali ke cerita perjalananku, untuk pergi ke sekolah itu, aku putuskan untuk naik kereta—karena pagi hari ini aku ngantuk sekali. Aku ingin tidur di dalam kereta—lagipula bayarannya juga tidak terlalu mahal.
Daan—
—sampailah aku di stasiun Kirisagi.
Cukup ramai saat aku lihat di sekitar tempatku menunggu—tapi di dalam kereta pasti aku dapat tempat duduk. Untungnya keretanya datang sebentar lagi.
Namun—
"Eh..?"
—KENAPA TEMPAT DUDUKNYA SUDAH DIISI SEMUA?!
Gaah! Apa-apaan ini?!
Padahal dulu tiap kali aku naik kereta, aku selalu mendapatkan tempat duduk, tapi kenapa—
HANYA AKU SENDIRI YANG NGGAK DAPAT TEMPAT DUDUK?!
Sungguh, ini memalukan! Kalau ada beberapa orang yang berdiri, nggak apa-apa deh! Tapi di gerbong ini, hanya aku sendiri yang berdiri?! Kulihat di gerbong lainpun..
SAMA!
Segera kubalikkan badanku untuk memandang ke arah pintu agar tidak memperlihatkan wajahku yang memerah karena malu.
Haah..
Kenapa dari pagi aku sial sekali sih?
"Mou.. ini pasti gara-gara aku nggak makan tamagoyaki.."
"Anoo—"
Aku tersentak dari lamunanku tentang makanan kuning itu dan menoleh ke arah sumber suara—dan sudah ada pemuda bersurai biru yang menatap ke arahku.
Tatapan matanya—auranya..
Kok sama persis dengan Mayu-nii ya..?
"E-Eh.. kenapa ya..?"
"Oh, tidak. Aku hanya menyarankan kalau kau duduk di bangkuku saja." Ia tersenyum, "Lagipula seorang laki-laki harusnya mengalah kan..?"
Aaah, harusnya banyak orang yang berkelakuan sepertimu! Baiknyaa..
"M-Memangnya nggak apa-apa..?"
"Iya, lagipula tujuanmu ke SMA Teikou kan..? Aku juga bersekolah disana.."
"T-Tapi SMA Teikou kan masih jauh.."
"Tidak apa-apa, aku juga mau berhenti di stasiun kedua soalnya aku mau pergi sebentar.."
Aku menatapnya—lama dan..
"A-Arigatou!"
—Dan bodohnya, saking senangnya aku sampai-sampai lupa menanyakan namanya—dan tertidur..
.
.
.
"Haah.."
Nafasku terengah-engah setelah akhirnya sampai di depan gerbang sekolahku. Kulihat jam tanganku—pas sekali sudah jam masuk! Aduh! Ini gara-gara aku ketiduran!
Aku menggertakkan dan segera ngibrit(?) pergi ke kelasku. Ya iyalah.. masa hari pertama mau telat sih..?
Aku bersyukur kelasku tidak terlalu jauh, hanya menaiki tangga satu kali. Ketika sudah sampai, aku mengetuk pintu kelas itu—dan.. dibuka oleh seseorang yang lebih tinggi diriku.. ahh. Pasti wali kelasku deh.
"Uh.. Anoo.."
"Ah! Kau pasti (Name)-kan..?" Ia menepuk pundakku dengan keras dan berulang kali, "Aduh, kau ini! Padahal yang lain sudah datang lebih awal! Tapi sudahlah, ayo masuk! Pas sekali kau datang di bagian perkenalan!"
"A-Ah.. iya.." Aku menganggukkan kepalaku pelan sambil memasuki kelas.
Aaah, akhirnya semua pasang mata itu menatapku—dan, pandangan mataku berhenti saat melihat ada..
Ada..
KISE RYOUTA?!
A-Aku sekelas dengan model terkenal itu?! Dan lagi sekarang..
Ia tersenyum kepadaku…
"Nah, karena semuanya sudah lengkap, kalian mulai berkenalan ya!" Orang yang diduga(?) sebagai Alex-sensei karena aku sempat melihat nama yang tercetak di baju wanita berdada besaritu berbicara pada semuanya, "Bertemanlah dengan baik! Baiklah, sensei harus pergi mengurusi sesuatu dulu, Jaa!"
Ia lalu pergi dan setelah pintu kelas ditutup, kelas menjadi hening.
Aduuh, kenapa jadi sepi begini? Jangan-jangan gara-gara aku masuk..?
"Maa! Aku yang berkenalan duluan saja deh!" Sosok gadis bersurai pink yang berdada besar itu mencuri perhatianku, "Perkenalkan, namaku Momoi Satsuki. Keahlianku sulap dan aku sangat suka makan ice cream!"
Setelah perkenalan singkat itu, ada lagi yang berdiri—kali ini lelaki bersurai hitam dan rambutnya agak panjang sehingga menutupi sebelah matanya.
"Ah, perkenalkan namaku Himuro Tatsuya dan aku punya hobi bermain basket."
Kenapa singkat-singkat semua sih..?
"Aku Aomine Daiki—hobiku sama seperti si Tatsuya itu." Lelaki berkulit gelap yang duduk di sebelah Momoi-chan itu berlanjut, "Dan yang bisa mengalahkan aku hanyalah aku."
Hahah, motto yang lucu—sekaligus aneh..
Karena kelas menjadi hening lagi karena tidak ada yang mau memperkenalkan diri lagi, akhirnya aku putuskan untuk yang selanjutnya saja.
Aku menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan untuk mencegah kegugupanku. Dengan mengumpulkan semua keberanianku, akhirnya suaraku keluar juga, "Perkenalkan, namaku (Full Name)—hobiku membaca buku, menggambar dan bermain game! Dan semuanya—er, semoga kita semua bisa berteman dengan baik!"
Ah—malunya. Tadi suaraku kencang juga bergetar sekali, sampai-sampai orang-orang yang ada di kelas kembali jadi sunyi. Saking malunya, aku hanya menundukkan kepalaku—alasan saja sebagai tanda hormat dan lebih sopan.
"Hmm, kupikir-pikir dulu ya—" Aku mengangkat kepalaku saat mendengar suara dengan nada malas dari laki-laki berambut biru gelap—kulitnya pun gelap, yap, glow in the dark—ups, maksudku Aomine-kun.
Ia lalu melanjutkan, "Habis dadamu tidak menarik perhatianku sih—setidaknya F-cup atau lebih."
Apa..?
"Hee~ F-cup sih kebesaran, seleramu terlalu high class-ssu." Perkataan sarkastik sekaligus menyakitkan (untukku) itu dibalas oleh laki-laki berambut kuning keemasan dengan nada main-main sambil tersenyum—dasar model majalah, tiap senyum pasti membuat jantungku berdebar.
Disamping itu—aura di sekitar kami tiba-tiba menggelap.
"F-cup itu tidak kebesaran, seleramu saja yang payah—" Si berambut biru itu kini menyeringai aneh ke arahnya, "—Dan jangan katakan itu lagi. Nyawamu mau berkurang satu?"
"Heeee, jangan marah gitu dong ah~ Yaps, sekalian saja perkenalan-ssu." Si rambut lemon itu lalu berdiri, "Perkenalkan semuanya! Namaku Kise Ryouta-ssu! Dan—" Ia lalu berbalik ke arahku sambil mengambil tanganku dan mengenggamnya erat, "Jangan pedulikan kata-katanya, badanmu bagus kok-ssu."
Apaan sih?! Kenapa sekarang semuanya malah mempermasalahkan badanku? Lagipula—
"Ah!" Aku sedikit mengerang ketika merasakan benda lancip—seperti duri menusuk tanganku yang masih ada di genggaman Kise-kun—dan sontak aku segera melepaskannya dan mendapati tanganku yang kini berdarah.
Kulihat tangannya—bukan, jemarinya. Disana terdapat cincin perak yang mengeluarkan benda runcing seperti duri—maksudku jarum namun terlihat lebih besar.
"Aree~ Gomen,gomen, (Name)-cchi~!" Kise-kun lalu meminta maaf padaku, "Cincin itu sering kupakai untuk perlindungan—meskipun kadang rusak sih." Ia lalu mengangkat tangannya dan menjilat darahku yang masih tertinggal di cincinnya, "Bukan hanya badanmu yang bagus-ssu, tapi darahmu juga enak dan manis-ssu~!"
Aku sedikit mundur kebelakang—menahan ketakutanku terhadap orang aneh ini. Padahal ia adalah salah satu model yang kukagumi, tapi tingkahnya—ah sudahlah. Aku hanya bisa pura-pura tersenyum dan memundurkan badanku lagi, namun—
"Ah, kau menginjak kakiku, (Name)-chin."
"G-Gomen!" Aku segera mencari tempat yang tepat untuk berdiri, dan melihat ke orang yang kakinya baru saja kuinjak. Ah, laki-laki lagi, rambutnya berwarna ungu dan badannya seperti raksasa. Matanya terlihat malas—namun kurasa ia bukan orang jahat. Aku lalu memiringkan kepala dan melihat embel nama di seragamnya, "—Atsushi.. kun?"
"Are.. baumu enak, (Name)-chin." Atsushi lalu berjalan maju ke arahku—dan aku sedikit terkejut ketika tangannya terulur untuk memberikanku sebuah bungkus makanan.
"M-Maiubo..?"
"Enak loh. Rasa jagung." Aku hanya linglung sambil menerima makanannya dan mengucapkan terima kasih padanya. Ia menganggukkan kepalanya dan duduk di bangkunya.
Aku menghela nafas sambil berusaha menahan rasa sedikit takutku karena keanehan anak-anak kelas ini. Aku lalu berjalan menuju bangkuku dan duduk di sebelah laki-laki berambut merah yang sedari tadi membaca buku (Bangku di kelas kami saling terpisah)
Kutatap wajahnya yang sangat serius itu—semuanya. Matanya berbeda warna, surainya yang warnanya sama dengan salah satu warna matanya itu terlihat sedikit panjang. Dari segi semuanya, wajahnya terlihat lebih tampan daripada Kise-kun. Tangannya terlihat kuat, dan bibirnya yang tipis itu hanya membentuk sebuah garis yang membuat kesan dirinya dingin.
"Ada yang aneh dengan wajahku?"
Aku terkesiap pelan setelah kedua mata itu beralih menatap tajam ke arahku. Gawat—jadi aku ketahuan mengamati wajahnya?
Akhirnya kubalas pertanyaannya dengan gugup—serta berbohong, "Ano.. e-etoo.. Kamu belum memperkenalkan diri.."
"Hm. Kalau mau mengenalku, kenapa tidak cari tahu sendiri saja?"
Duh, nadanya dingin—dan tajam. Membuatku semakin gemas saja.
"Nggak boleh gitu! Kamu harus memberitahu namamu ke yang lainnya!"
"(Name)-cchi betul, Akashi-cchi~" Kise-kun kini tersenyum ke arah kami—lebih tepatnya menyeringai. Dari info yang kudapat, laki-laki disebelahku itu bernama Akashi dan Kise-kun sepertinya sudah mengenalnya.
Ia menatap tajam ke arah Kise-kun—membuat auranya semakin seram saja.
"Cih."
Laki-laki bersurai merah itu meletakkan bukunya dengan kasar dan berdiri tanpa ada niatan sama sekali.
"Namaku Seijuuro Akashi. Dan aku sudah dipilih untuk menjadi ketua kelas disini." Dia? Ketua Kelas? Ketua kelas kok cuek begitu, "—dan semua perintahku absolut."
"A-Akashi? Akashi Seijuuro yang itu..?!"
"D-Dai-chan.. masaka.."
Aomine dan Momoi saling berbisik—membuatku bertambah bingung. Dan seiring dengan itu, Akashi sudah duduk tenang di mejanya sambil membaca bukunya lagi.
Haah, satu lagi orang dengan motto yang aneh.
Aku hanya menggelengkan kepalaku sembari terkikik pelan.
.
.
.
Akashi's P.O.V.
Huh, menyebalkan. Semuanya—dari mulai murid-murid hingga pilihan ketua untuk menjadikanku ketua kelas—serta kamarku—ah, maksudku ruanganku yang bersama gadis incaran itu? Memang, aku pasti menang lebih cepat. Tapi tanpa diberi kebaikan aku seruangan dengannya pun pasti aku yang pertama menang.
Rasanya menjengkelkan saat gadis itu memintaku untuk memperkenalkan diriku. Tapi tidak aneh sih, gadis itu adalah satu-satunya orang yang berbeda di sini. Tentu saja, dia kan incaran kami. Dia bukan psikopat, pembunuh, ataupun orang kejam seperti kami.
Di tengah kebosanan karena bukuku sudah selesai kubaca, akhirnya aku memutar mataku untuk melihat wajah-wajah baru di kelasku. Aku tidak sempat memperhatikan tadi karena saking asyiknya membaca buku kesukaanku. Yang kukenal disini hanya Ryouta, itu pun bukan berarti kami teman. Tidak—kami rival.
Mataku berhenti menjelajahi ruangan ketika melihat apa yang tengah dilakukan oleh gadis di sebelahku.
Ia kini tengah merajut—ah entahlah, aku tidak tahu apa namanya itu. Yang kulihat, sekarang ia sedang menggunakkan jarumnya untuk menjahit sesuatu—dan terbentuklah sebuah wajah boneka di kain yang berbentuk seperti bungkus makanan. Ada yang bergambar beruang dan tengkorak..? Di mejanya tidak terlalu rapi, ada gunting, benang, manik-manik dan bahan-bahan yang biasa dilakukan oleh ibu-ibu umumnya.
Akhirnya, karena bosan, aku memutuskan untuk berbasa-basi dengannya.
"Kau sedang membuat apa?"
Gadis itu sedikit terkejut karena mendengar suaraku, yah, bagaimanapun juga pekerjaan itu butuh keseriusan dan ketelitian yang tinggi kan? Wajar saja kalau ia kaget.
Ia lalu menatapku dan tersenyum, "Aku lagi buat Lucky Charm untuk semuanya!"
Aku terperangah melihat kelakuannya—dan sedikit merasa kasihan pada gadis itu. Untuk apa dia membuat benda seperti itu pada orang yang akan membunuhnya?
"… Kenapa?"
Ia tersenyum.
"Kok malah tanya kenapa sih? Tentu saja karena Akashi-kun dan yang lainnya adalah temanku!"
Teman..?
"Hora! Aku sudah banyak membuatnya!" Ia menjejerkan beberapa Lucky Charm di telapak tangannya untuk diperlihatkan padaku, "Akashi-kun! Pilih saja yang kamu mau!"
"Dengar, (Name). Kita baru masuk sekolah dan belum ujian—harusnya kau kasih nanti saja." Sebenarnya tidak perlu kau kasih karena hidupmu hanya tinggal sebentar lagi.
"Loh?! Ini bukan sembarangan Lucky Charm loh! Ini juga bisa buat gantungan!" Ia tersenyum lagi, "Yah, meskipun aku nggak tahu ini bisa mencegah kesialan atau tidak, anggap saja sebagai tanda pertemanan!"
"Laki-laki tidak suka memakai hal yang seperti itu."
"Aku nggak menyuruh untuk memakainya kan? Yang penting diterima dan disimpan dengan baik."
Aku terdiam sebentar sebelum berbicara dalam batinku.
'Kenapa kau baik begitu sih..'
"Ayolah! Akashi-kun, pilih saja sesukamu!"
'Kau sadar tidak bahwa di depanmu itu pembunuh.. sekelilingmu itu pembunuh yang mengincarmu..'
"Tenang, tenang! Desainnya meskipun berbeda, tapi menurutku lucu semua kok!"
'Astaga, jangan mengatakan hal itu. Kalau kau memberikan benda itu ke orang-orang itu, kau akan semakin diejek..'
"Akashi-kun lama! Ya sudah, kukasih yang ini saja deh!"
Omongan dalam batinku terhenti saat ia menaruh salah satu karya buatannya di tanganku—aku lalu melihatnya. Lucky Charm itu punya ukuran yang sempurna, tidak panjang dan tidak pendek. Ada wajah boneka beruang pula di sana.
Tch.
Menjijikan.
Aku kan bukan wanita.
Kubuang saja nanti—toh takkan berguna untukku.
"Aa, Kise-kun! Kebetulan sekali!" Gadis itu lalu bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Ryouta yang baru saja kembali setelah membeli makanan di kantin. Ryouta lalu mengucapkan terima kasih sambil tersenyum dan memeluknya—sekali lagi, memeluknya.
—Entah kenapa aku tidak suka melihat pemandangan itu.
"Ah~ Aomine-kun, Momoi-chan! Silahkan pilih yang kalian suka!"
"Haah? Aku kan cowok, masa dikasih ginian!"
Kulihat gadis bernama Momoi itu memukul kepala si pemuda bersurai biru, "Mou! Dai-chan terima saja! Kasihan kan (Name)-chan sudah buat susah-susah!"
Hah, kasihan?
—Kasihan?
Lucu sekali perkataanmu itu, Momoi Satsuki—kau itu pembunuh, sama sepertiku. Tidak mungkin ada rasa kasihan dalam diri kami. Karena jika dibiarkan memiliki perasaan bodoh itu, sama saja kau mencari mati.
Intinya, gadis itu hanya berbohong.
Yah, tapi siapa sangka—
"Momoi-chan benar! Akashi-kun yang dingin saja menerimanya kok!"
—kalau (Name) bisa sebodoh ini untuk menganggap bahwa satu kelas ini adalah temannya.
Tak kupedulikan dan akhirnya aku hanya mengambil ponselku dan mendengarkan beberapa lagu untuk sedikit menenangkan hariku.
.
.
.
Dan tibalah istirahat kedua.
Karena merasa (sangat) bosan sekali, aku memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar sekolah ini, untuk membuang waktu, tentu saja. Lagipula aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Novel-novelku yang lainnya kutinggal di kamarku—mendengarkan lagu terlalu lama pun bisa merusak pendengaranku. Papan Shogi-ku juga tertinggal. Tadinya aku berniat untuk memberitahu (Name) bahwa dia satu ruangan denganku—karena sepertinya ia belum tahu dan pasti akan terkejut bahwa seruangan dengan laki-laki. Tapi karena aku malas dan dia juga sedang mengobrol bersama Momoi, ya sudah kubiarkan saja.
Langkahku terhenti saat melihat Ryouta yang kini tengah bersandar di dekat salah satu jendela lorong sekolah sambil melipat tangannya dan menyeringai padaku. Aku berdecih pelan, merasakan ketidakberuntunganku karena bertemu dengannya disini.
"Nanda~? Kenapa kau melihatku seperti itu-ssu?" Ryouta tersenyum lebar sambil memiringkan kepalanya, "Saking takutnya padaku, kau ingin bekerja sama denganku, Akashi-cchi~?"
"Kau mengajakku bekerja sama?" Sudut bibirku mulai naik ke atas, menunjukkan seringai-ku, "Boleh saja, tapi setelah gadis itu mati, akan kupraktekkan Lingchi** padamu."
"Yadaa~ Aku kan hanya bercanda, Akashi-cchi~!" Ryouta tertawa pelan, "Tapi aku bisa jadi bawahan yang bagus loh, Akashi-cchi!"
"….."
"Tapi ngomong-ngomong.. aku sedikit kaget ternyata ketua tidak hanya mengirimkan Kiseki no Sedai.."
Aku juga sudah tahu, bodoh! Umpatku kesal dalam hati. Namun setelah mengingat apa yang dilakukan oleh Ryouta tadi, aku mengalihkan pembicaraan, "Kuperingatkan saja, Ryouta. Kita tidak boleh membunuhnya sebelum ada pengumuman dari ketua."
"Hee~ kalau begitu sih nggak seru-ssu~!" Ia lalu berjalan ke arahku sambil sedikit berbisik padaku, "Lagipula sejak kapan kau jadi sepenurut itu dengan ketua, heh?"
Baru saja aku mau menyerangnya dengan gunting yang sedari tadi sudah berada di saku celanaku, ia melompat kebelakang.
"Maa,maa~ terserahlah, Akashi-cchi." Lelaki itu kemudian merogoh sakunya untuk mengambil sesuatu—dan mataku terkejap saat melihat Lucky Charm yang diberikan oleh (name) berada di genggamannya, "Tapi (Name)-cchi benar-benar innocent sekali ya? Mempercayai kita sampai-sampai memberikan sesuatu seperti ini."
Kalimatku tertahan saat ia membuka jendela di sebelahnya dan hampir menjatuhkannya ke bawah.
"Padahal aku sama sekali tidak membutuhkannya.."
Bola mataku melebar sejenak—
'Kenapa..?'
'Kok malah tanya kenapa sih? Tentu saja karena Akashi-kun dan yang lainnya adalah temanku!'
'Teman..?'
—DEG.
.
.
.
"Kau mau membuangnya?"
"Eh—?"
Ryouta melihatku aneh karena tanganku yang meraih Lucky Charm yang baru saja ia mau buang tadi.
"Menurutku ini bukan benda yang seharusnya kau pikirkan."
Tunggu ini aneh sekali.
"Aku baru saja mengambil benda yang sudah kau buang—berarti ini jadi milikku, kan?"
Padahal sebelumnya aku juga tidak mau.
"Eh..? Akashi-cchi—"
"Maa, aku juga tidak mau benda itu."
Karena mendengar suara benda yang dilemparkan ke arahku dengan kecepatan bagai kecepatan suara, aku segera berbalik dan menangkap Lucky Charm dari—
Aomine Daiki.
"Haahhah, tak kusangka kau suka mengoleksi benda-benda seperti itu." Ia menyeringai, "Benar-benar aneh, heh..?"
Aku melihat ke arah apa yang dilemparnya—Lucky Charm-nya (Name) yang dililitkan pada kunci ruangan aku dan gadis itu. Kenapa Daiki bisa tahu tempat aku menaruhnya? Dan lagi, kenapa dia seenaknya saja menggantung barang sialan itu di situ?
"Hampir terjatuh dari bukumu tuh. Bisa gawat kalau aku yang menyimpannya." Seolah bisa membaca pikiranku, ia menyeringai kembali, "Tapi tangkapan yang bagus, tak heran kau masuk peringkat psikopat yang paling atas."
Dan dengan kalimat itu, ia meninggalkan aku dan Ryouta. Aku hanya mengangkat bahuku sambil membuang nafas berat dan memutuskan untuk kembali ke kelas—berhubung mood-ku jadi tidak bagus.
.
.
.
Aku bergumam pelan saat melihat matahari yang mulai terbenam—tanda bahwa hari sudah sore. Salah satu guruku lalu mengatakan bahwa kami sudah boleh pulang setelah berdoa, untungnya tidak ada tugas yang harus dikerjakan di rumah selama minggu-minggu awal masuk sekolah. Setelah aku memasukkan semua barang-barangku, aku beranjak dari bangku dan mulai berjalan—namun terhenti saat teringat sesuatu.
Kugerakkan kepalaku untuk menoleh ke sampingku—tempat dimana (Name) duduk. Aku baru ingat bahwa aku harus memberitahunya sesuatu.
"(Name)."
"Um, ada apa Akashi-kun?" Tanyanya sambil tersenyum ketika ia sedang membereskan buku-bukunya, "Apa kamu ma—waah!"
Ia berteriak saat aku melemparkan asal kunci kamarnya, membuat ia sedikit bingung.
"E-Eh..? I-Ini.."
"Kunci kamarmu." Aku menatapnya, "Kita sekamar."
"APA?! SEKAMAR?!"
Aku menghela nafas.
"Maksudku itu seruangan—" Aku berusaha menjelaskan, "Di penginapan khusus Black Class, ada banyak ruangan untuk murid-murid kelas spesial disini. Di dalam ruangannya itu ada ruang tamu, lalu sisi kanan dan kirinya ada kamar, ruang makan, dapur, serta kamar mandi."
"Ooh! Bilang dari tadi dong, Akashi-kun!" Ia menggaruk kepalanya, "Tapi kan tetap saja.. laki-laki dan perempuan seruangan itu—"
Ku pelototi dirinya sambil mengambil guntingku dan bersiap melempar benda tajam itu ke arahnya, "Dengar, (Name), kita masing-masing punya kunci kamar —DAN AKU JUGA TIDAK AKAN BERBUAT APA-APA DENGANMU, MENGERTI?"
"H-HAI!"
.
.
.
Aku berjalan bersama dengannya, meskipun sebenarnya aku terkesan meninggalkannya karena jalannya yang cukup lamban membuatku malas menunggunya. Helaan nafas panjang terdengar dari wajahku dan aku hanya memasukkan kedua tanganku di saku bajuku untuk menutupi rasa lelahku. Di belakangku, (Name) tidak bosan-bosannya bicara tentang kehidupannya—dimulai dari cerita keluarganya, makanan kesukaannya, zodiaknya, ketakutannya, dan masih banyak lagi sampai-sampai kadang aku harus menutup telingaku agar tidak sakit akan teriakannya.
Tapi anehnya—aku merasa tidak terlalu terganggu dengan hal itu. Biasanya aku akan segera menyumpal dengan guntingku siapapun yang terlalu berisik di dekatku. Tapi kali ini—yah, memang aneh. Entahlah.
Kami sudah sampai di lorong penginapan—meskipun cukup gelap karena lampu masih belum dinyalakan, toh masih sore hari, namun aku masih bisa melihat.
"A-Akashi-kun! Hora mite! L-Lelaki itu membawa kapak yang besar!"
Mataku menyipit saat melihat apa yang dikatakan (Name)—dan memang benar. Dua laki-laki kini tengah berjalan ke arah kami—ada lelaki bersurai biru muda dan bersurai hijau, namun yang membuatku kaget bukanlah warna rambut mereka (karena buat apa juga aku memikirkannya?), melainkan barang yang dibawa oleh lelaki berkacamata.
Aku menegurnya, "Tidak boleh membawa senjata yang besar ke penginapan."
Ia menatapku tanpa aku mengerti ekpresinya.
"Hari ini Lucky Item-ku kapak, nanodayo." Ia punya akhiran yang aneh, sama seperti Ryouta, "Lagipula aku hanya membawanya, tidak akan menggunakannya."
"A-Ah! Kamu!" Sepertinya (Name) benar-benar harus kupukul jika sering berteriak di dekat telingaku, "Kamu yang ada di kereta itu kan!"
"Ah.. iya." Ia lalu tersenyum ke arah (Name) dan memutar matanya lagi, "Maaf kalau kami telat—, Akashi-kun."
"Hm, ya. Tidak apa-apa. Masih ada yang belum sampai ke sini selain kalian." Cih, ada yang aneh. Aku merasa ada aura yang tidak enak di dekat salah satu anggota kelas yang kuketahui namanya itu Kuroko Tetsuya—aku lalu berjalan melewatinya, berharap (Name) mengikutiku dari belakang.
"C-Chotto Mate, Akashi-kun! Ada yang mau kuberikan dulu pada Kuroko-kun!"
"Cepatlah." Aku mendesah.
"K-Kuroko-kun, terima kasih untuk tadi pagi ya!" (Name) lalu merogoh sakunya, "Dan ini ada Lucky Charm untuk Kuroko-kun dan umm—"
"Midorima Shintarou. Dan aku tidak sudi menerima benda itu karena aku hanya percaya Oha-Asa. Lagipula hari ini Lucky Item-ku hanya kapak, nanodayo.."
"Midorima-kun, terima saja benda itu." Kuroko lalu tersenyum lagi pada (Name), "Terima kasih, (Name)-san. Aku akan menjaganya baik-baik dan—apa aku boleh duduk di bangku sebelahmu besok..?"
"T-Tentu saja!"
Karena kesal, akhirnya aku segera meninggalkan permbicaraan yang menurutku tidak penting bagiku.
.
.
.
"Ini.. ruangan kita..?"
"Ya. Ruangan 5A." Jawabku pelan sambil membuka pintunya dan menguncingnya kembali. Aku lalu masuk diikuti olehnya. Dan dia langsung berteriak saat melihat ruangan yang cukup mewah ini.
"SUGOOI! M-Mirip sekali sama hotel!" Ia berlari tidak jelas sambil memandang sekeliling, "Nee, nee, Akashi-kun, kamu mau kamar yang mana? Kanan atau kiri?"
"Terserahlah, aku tidak peduli."
"Kalau begitu aku yang sebelah kanan!" (Name) lalu berhenti berlari dan menghempaskan tubuhnya ke sofa di ruang tamu. Tubuhnya terlihat kecil di sofa yang besar itu..
Tapi..
"Ah, gomen, aku langsung lompat saja.."
Aku terperangah saat melihat kedua pahanya yang berlapiskan celana pendek hitam karena roknya terbuka cukup lebar—terdapat dua goresan luka, atau tiga, disana.
Karena merasa aku memperhatikannya, ia segera duduk dan menutup roknya.
Aku mencondongkan tubuh ke arahnya sambil bertanya.
"Luka bekas sayatan pisau-kah..?" Aku tidak menatapnya selagi aku berbicara, "Perlihatkan."
"A-Ah, tidak ada yang bagus kok.." Ia menjawabnya gugup.
"Angkat rokmu—ini perintah."
Mataku yang setengah terbuka memandangnya tajam—gadis itu sempat ketakutan sebentar namun ia langsung memaksa mengeluarkan tawa renyah.
"EEH?! Mou, biarkan saja, Akashi-kun!" (Name) tertawa sebentar, "Ini Cuma luka bekas kecelakaan kok.."
Aku terdiam sebentar—aku tahu gadis ini tengah berbohong.. tapi..
"Baiklah.."
"Haah.." Ia membuang nafas lega dan tersenyum dan—
"KYAAA!"
Dia berteriak pelan saat aku mengangkat roknya dengan satu tanganku sehingga terbuka sebentar—dan aku segera menyimpulkan luka apa itu.
"Mou! A-Akashi-kun, apa yang kau lakukan?!"
"Hmm.. hanya mengecek saja."
"B-Baka!"
Ia segera berdiri bangkit dan mengambil tasnya dan berjalan sambil berkacak pinggang menuju kamarnya lalu menutup pintunya dengan keras.
Aku menggigit bibir pelan setelah mengingat luka yang tadi kulihat.
Luka itu..
Tidak mungkin..
Luka itu kan..
.
[ to be continued ]
.
.
.
[ bagian satu koma lima ]
"Nee, nee, Akashi-kun.. waktu kemarin saat aku beri Lucky Charm ke Himuro-kun.. setelah dia bilang terimakasih padaku.. dia lalu mengatakan hal seperti ini.."
Kuhentikan kegiatan makan malamku sambil memandangnya selagi menunggu lanjutan kalimatnya.
"Dia bilang—" Gadis itu berkata dengan nada rendah, ".. Benda ini akan kujadikan..emm.. waktu itu apa katanya yaa.. ah.. dia seperti mengatakan seibutsu..yah aku tahu artinya pusaka suci.. tapi—maksudnya apa..?"
Aku terkesiap saat mendengar apa yang dikatakannya.
Tatsuya sialan.. lelaki itu pasti akan menyerang duluan..
"Akashi-kun..?"
Aku menutup mataku—berusaha meredamkan amarahku karena Tatsuya.
Kutahan diriku agar tidak memberitahukannya, "Entahlah, aku juga tidak tahu." Ujarku singkat sebelum aku mengambil piring kotorku dan berjalan ke dapur, meninggalkan (Name) yang masih kebingungan dalam mencari arti kalimat itu
Tapi itu memang lebih baik.
Ia tidak perlu tahu arti dari kalimat itu.
Karena arti seibutsu adalah—
…Sebutan untuk peninggalan orang yang akan mati…
[ 1.5 – fin ]
.
.
.
notes :
*Song : METHOD_REPLEKIA – Akiko Shikata
**Lingchi : Salah satu metode hukuman mati paling sadis di dunia. Metodenya itu, dimana terdakwa diikat di sebuah tiang, dikuliti lalu satu persatu tubuhnya diiris dari bawah secara perlahan. Pernah diberlakukan di China, waktu Dinasti Manchu (kalo gak salah). Disini Akashi cuma main-main~
a/n : S-Saya tau chapter ini kecepetan dan aneh bangeeet! Huwaa! Dan maaf Minna-san kalau update-nya lama~ Maklum lah saya ngadepin UN :d. Btw, penginapan Black Class maksudnya kaya kos-kosan(?), tapi karna nggak tau disebutnya apa ya jadinya gitu (?) Daan, di bawah ini ada daftar nama murid Black Class :
1. Aida Riko
2. Akashi Seijuuro
3. Aomine Daiki
4. Atsushi Murasakibara
5. Himuro Tatsuya
6. Kise Ryouta
7. Kuroko Tetsuya
8. Midorima Shintarou
9. Momoi Satsuki
10. (Name)
LOL, isi satu kelas ternyata bukan cuma GoM ya? Gomen~ lagian aneh juga kan kalau satu kelas isinya cuma 7 orang? Tapi Himuro/Riko/Momoi cuma muncul sekilas buat pendukung cerita doang kok, hehehe~
[ reviews ]
- MayuKosaaka : Makasih udah jadi reviewer pertama~!\(^▽^)/ Heheh, ini udah lanjuut kok XD
- Haruna Tachikawa : Iyaa~ Thanks buat review-nya yaaa, #ngikut emotikon
- Guest : AMPUUN! Jangan bunuh sayaaa! ヽ;;(゚Д゚)ノ #Akashi : Bagus, bagus, ayo kita bunuh Author-nya sama-sama, Guest-san~ /megang gunting/#woi .
- Kintoki Kin : Ehh! Kamu kembarannya Gintoki kan?! Kenapa ada di Kurobas?! Σ(゜ロ゜;) #Dibom Zura# Iya GOM-nya jadi pembunuh~ Mereka sih udah keren dari sananya~ /Kise: Aku pasti yang paling keren kan?!/ *GOM banting Kise rame-rame*
- yuuki. hanami. 5 : Iya nih.. si 'aku'-nya kasian banget /Aku : AKU RAPOPO ;;(*´∀`*) #PLAK. Tunggu aja chapter selanjutnya yaaa~
- Sakamaki Tsuki : Ah, ada juga kok English Fict yang buat GOM jadi Yandere~ Akashi emang Yandere dari dulu.. Mau dibuat Tsundere mungkin lucu juga #apaininggakmungkin. Yap, ini udah update kok~ Semoga nggak mengecewakan ya XD
- mey. chan. 5872682 :Heeheh~ Iya, harus hati-hati terutama sama Kise! /Kise : Kok aku terus sih yang disalahin?!/ Eeeh, siapa bilang? Setiap Review nyemangatin saya kok.. TwT
- Skylark Klein : Iya, udah ada Anime-nya loh~ Jangan lupa nonton yaaa~ T∀T#Promosimaksa# Umm, review kamu ngingetin aku soal kata 'sekamar' itu~ Heheh, harusnya itu jadi seruangan, sebenarnya sengaja dibiarin biar terkesannya Nijimura sama Akashi itu orangnya ya gituuu /apaangitutuh. Hehehh~ Liat aja nanti ya /wink/
- Aoi Yukari : Haduh saya nggak kebayang kalo Akashi kaya Agito yang make Air Treck sambil teriak-teriak 'BANTAI!' di tengah jalan, tapi bagus juga sih~ Hayoo, ada yang mau bikin Air Gear X Kurobass? XD
- Hibari Misaki Cavallone : Tergila-gila sm Akuma no Riddle? SAYA JUGA! XD~ Iya, iya, ini udah dilanjut kook~ Maaf lama ya, lewatin UN dulu siih~
- Juvia Hanaka : Penasaran? Ini udah lanjuut kok~ Heheh, maaf saya nggak bisa update kilat TwT
- Cloud the First Tsurugi : Makasih udah menunggu~ Semoga Chapter ini nggak mengecewakan~ ^^
- ImaginationFactory : Wkwkwk, maafkan Author edan ini nak yang membuatmu jadi berpikiran ambigu~ XD. Terserah kamu, panggil aku Author-san, Euphoria, atau kalo boleh dipanggil Akashi's wife juga boleh /?. Deadman Wonderland seru kok! Apalagi komiknya! #PLAK
- Ruki-chan SukiSuki'ssu : Kalau GOM keren saya juga keren dong? :D /Emanglusape #Author digrebek# Teehee, ikuti aja terus yaa~ /lagak iklan
- nabmiles : Makasih udah bilang Kise-nya IC! Saya kira dia bakal OOC gara2 dijadiin Yandere XD. Ambigu sangat! Tapi semoga abis chapter ini jadi nggak ambigu yaaa X'')
- KitsuneSMP : Ah, saya seneng bisa bikin reader penasaran~ Semoga di chapter ini kamu jadi tambah penasaran yaa~ XD/Dihajar/
#Chapter 2 preview#
"Ah.. maaf (Name)-san, tolong jangan memaksaku.. kau mau mati ya?"
"Eh? Ketua kan belum mengumumkannya, masa sih Tatsuya-cchi mulai duluan-ssu?"
"Himuro-chin tidak akan membunuh (Name)-chin kok—untuk malam ini."
"Ayo Himuro-kun! Aku mau kok jalan-jalan ke taman hiburan!"
"Tatsuya.. kau mengincarku kan, bukan (Name)!"
"Nee, (Name)-chan.. kalau kau tidak mau kusuntikkan racun ini, tembaklah Akashi.."
Yah, pokoknya saya mengucapkan banyaaaak terima kasih bagi Readers yang udah nyumbang review/fav/foll, semuanya bikin saya semangat! /hugs
Heheh, dan untuk terakhir..
Boleh minta review-nya..? /senyum ala Dark Alyssa di Silent Hill #Digeplak
Salam hangat,
E-cchi aka Euphoria
