Disclaimer :

Kuroko no Basuke © Fujimaka Tadatoshi

Akuma no Riddle ©MINAKATA Sunao&KOUGA Yun

Warnings : AU/OOC/Bad language/Gore/Violence/Lime in later chaps

a/n : Chapter ini terinspirasi dari lagu EXEC_Z – Haruka Togawa. Dan makasih banyak buat hntphantomhive yang udah bantuin nyelesain chapter ini~ /kiss 3~ #Plakked.


"… You ask if I just pretend to be tough…?

I just want to gather the reasons… "

[—Sayonara Usotsuki, MimimemeMIMI

Blade and Soul Opening Theme—]

.

.

Rebirthia

[ Trick II – raising the heartbeats ]


Normal P.O.V

Sejak dulu, Akashi tidak pernah mengenal apa itu yang namanya kerja sama.

—Ralat, seorang Akashi tidak pernah menginginkan apalah hal bodoh itu yang dinamakan kerja sama.

Baginya, bekerja sama hanyalah merampas; membuang waktunya saja—saling bertukar interaksi dan pendapat terhadap lawan mainnya. Mengingat ajakan Kise yang terkesan main-main, membuatnya berpikir tentang hal seperti ini. Bukannya ia berpikir ulang, ia hanya teringat sesuatu yang berhubungan dengan hal itu.

Yah, tapi untuk sekarang, hal itu tidak penting untuk dipikirkan.

Menghentikan lamunan yang menganggu, kini kedua mata itu beralih menatap ke arah Lucky Charm yang (Name) berikan kemarin. Sementara milik Kise dan Aomine, disimpannya di dalam laci agar gadis itu tidak tahu bahwa mereka menolak atau tepatnya membuang barang pemberiannya yang telah ia buat susah-susah (meskipun bagi Akashi membuat hal seperti itu tidaklah sulit). Bisa-bisa gadis itu—ah, sudahlah.

Hari sudah menampakkan langit tengah malam sejak dua menit lalu; dan Akashi tidak bisa tidur sama sekali berhubung ia sempat minum kopi setelah makan malam. Dengan terpaksa ia membaca buku pelajaran untuk menghindari kebosanan yang melanda.

Namun, meskipun matanya melihat ke arah lembaran itu, pikirannya tengah menerawang entah kemana.

Di sentuh perlahan barang pemberian gadis itu—menelusuri jika saja ada yang aneh dan membahayakan dari situ—

—Tunggu.

Apa dia baru saja berprangsaka buruk pada (Name)?

Kenapa dia bisa menduga seperti itu? Demi tuhan, kenapa juga ia memikirkannya?

Membunuh gadis sepertinya bukanlah tantangan yang besar untuk dirinya—mungkin kelewat mudah.

Ia menghela nafas.

Ditengah rentetan kata yang sebenarnya diam namun terlihat berlalu lalang di mata Akashi; menandakan bahwa hawa dingin sudah mulai merujuknya untuk mengantuk.

Di menit kedua puluh, ia melirik ke arah pintu kamar sambil bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan gadis itu.. Tunggu, pasti tidur kan? (Name) adalah orang yang sedikit hiperaktif dan tidak bisa diam, sehingga ia mungkin terlalu lelah dan langsung tertidur dengan pulas.

Ia memejamkan mata sejenak.

Sebenarnya, ia bisa saja mengambil gunting atau benda tajam dan langsung menusuk gadis itu saat ia tidur—tapi karena sang ketua belum menyampaikan pesan mulai, ia hanya bisa menurut.

Terpikirkan olehnya kata-kata Nijimura yang selalu mengiang-ngiang sedemikian cepat tanpa permisi.

".. Entah kenapa ketua bersikap aneh saat memberikan perintah ini…"

Aneh?

Aneh yang maksudnya bagaimana?

Kata 'Aneh' yang diucapkan Nijimura mengandung rasa ambiguitas serta mengundang rasa penasarannya. Bersikap aneh? Apa maksudnya?

Apa mungkin ketua sangat membenci gadis itu?

Benarkah…?

Sejauh ini yang diselidiki Akashi, gadis itu tidak patut dibenci—mungkin. Dia cuma gadis biasa yang kelakuannya hampir membuat lelaki itu berpikir bahwa (Name) mungkin seorang penderita euphoria, dari struktur wajah yang banyak tersenyum dan kadang tidak bisa diam, baik (bahkan sampai-sampai membuat Lucky Charm untuk teman sekelasnya), dan kelewat polos. Yah, bisa dibilang tipikal gadis-gadis pada umumnya—tapi—

Akashi hanya bingung atas penglihatannya yang absolut tidak mungkin salah saat melihat bekas luka sayatan pisau di kaki (Name).

"…."

Kini ia memijit pelipisnya yang berdenyut pelan, sialan—! Padahal waktu ia menemukan bekas luka itu, ia mengingat sesuatu dari masa lalunya. Tapi…

Ia tidak bisa mengingatnya!

Hampir saja ia menggebrak meja, namun ditahannya karena tidak ingin menganggu tidur gadis itu. Terlepas dari itu, pandangannya mulai mengabur.

Sudahlah..

Ditutup buku berhalaman tebal itu dengan sedikit keras dan merenung kembali dengan kedua tangan yang saling ditumpu di depan wajahnya.

'TUK TUK'

Telinganya tidak terlalu kaget mendengar ketukan pintu tersebut, namun belum sempat ia beranjak; sosok kepala berambut panjang sudah muncul di celah pintu yang terbuka sedikit itu.

"Ada apa?"

"Ah—Akashi-kun! Ternyata kamu belum tidur!" Gadis yang mengenakan piyama bergambar burung berwarna kuning bertuliskan Piyo-Piyo itu menggaruk kepalanya diikuti dengan lantunan suaranya yang lembut, "Maaf.. Aku kira kamu sudah tidur dan lupa mematikan lampunya…"

Ibarat seorang kakak, meskipun tidak ada niat sama sekali untuk menanyakannya, tetap kata itu meluncur dari mulutnya, "Kenapa kau belum tidur?"

Seulas senyum memaksa terpasang di wajah putih teman seruangan lelaki itu, "Ettoo.. Aku ini memang sering nggak bisa tidur.. makanya itu—" Tangannya yang sedari tadi disimpan di belakang, memperlihatkan satu stick Xbox ke wajahnya, ".. suka main game tengah malam.."

Alis lelaki itu saling bertautan mendengar kebiasaan (Name) yang sudah seperti laki-laki—dirinya bahkan jarang sekali bermain game karena tuntutan dari keluarganya yang tidak memperbolehkannya hidup bebas seperti yang lainnya.

"Hey."

"Y-Ya..?"

Hening sebentar.

Akashi lalu membuka mulutnya, "Game apa yang kau mainkan..?"

Matanya mengerjap sebentar sebelum menjawab, "Umm.. Dynasty Warriors.. memangnya kena—"

"Set game-nya jadi dua orang."

.

.

.

Esoknya, Akashi terbangun dengan posisi tidur kepala berada di atas meja dengan kedua tangan yang di telungkupkan untuk menutupi kepalanya, leher sedikit nyeri karena berada dalam posisi itu semalaman—dan pemandangan wajah yang dikenalinya ketika ia membuka matanya dan tepat melihat gadis yang tertidur di sebelah kanannya.

Mengerjapkan matanya berkali-kali, dirinya langsung ingat bahwa tadi malam ia dan gadis ini bermain game sampai jam dua pagi—pantas saja tidak hanya lehernya saja yang nyeri, melainkan kepalanya juga. Masih belum bangun dari posisinya, ia mengintip dari celah dan segera bangkit karena jam yang dilihatnya sudah menunjukkan pukul enam pagi.

Tangannya lalu meraih bahu gadis itu dan menggoyangkannya sambil berkata pelan, "Oi, bangun."

Awalnya tak ada gerakan apapun, membuktikan bahwa (Name) masih belum mau bangun dengan mendengar gumaman tanda tak suka darinya.

Ia mengguncangkan badannya semakin keras, "(Name)… Bangun."

Tapi tetap gadis itu tak membuka matanya—hal ini lantas membuat Akashi kesal. Sungguh, jika saja (Name) bukan wanita, ia akan segera memukulnya.

"Oi, bangun!"

"GAAAH!"

Reaksi gadis itu saat Akashi menyentil kepalanya keras adalah mengangkat kepalanya sambil berteriak.

"A-Akashi-kun?!"

"Bangun bodoh. Ini sudah pagi." Geramnya.

"A-Ah maaf~!" Ia tertawa kecil, "Kalau begitu, aku siapin sarapan deh.."

.

.

.

(Name) tidak pernah risih dengan keadaan hening seperti saat sarapan dengan Akashi.

Ia sudah terbiasa—karena dirumahnya, kakak dan adiknya adalah orang yang jarang berbicara, sehingga ia tidak keberatan jika mendapat teman seruangan yang pendiam seperti laki-laki berambut scarlet di depannya.

Hanya ada suara kunyahan makanan, kicauan burung yang menyambut pagi, dan kadang suara berisik dari luar ruangan, contohnya suara teriakan Momoi Satsuki kepada Aomine Daiki yang terdengar seperti mengintip gadis itu saat mandi, padahal mereka bukan teman seruangan.

"Semuanya terdengar ceria sekali.." (Name) tersenyum tipis.

Akashi tidak membalasnya, hanya meneruskan melahap makanannya yang tinggal sedikit lagi.

"Oh iya, Akashi-kun." Gadis di depannya melanjutkan kembali, "Kamu saja ya yang simpan kunci ruangannya."

"Kenapa?"

"Kamu kan laki-laki, Akashi-kun! Lagipula kamu ini nggak ceroboh sepertiku!" Ia menertawakan dirinya sendiri, "Jadi aku percayakan padamu saja."

Percaya?

Percaya… padaku…?

Akashi hampir saja membuka mulutnya namun—

'TUK TUK'

Mereka berdua tersentak ketika mendengar suara pintu ruangan yang diketuk oleh seseorang. (Name) memiringkan kepalanya sambil bertanya-tanya siapa yang menganggu aktivitas sarapan mereka. Karena penasaran, ia berdiri dan sedikit memundurkan kursinya untuk memberi celah keluar dan berjalan menuju pintu untuk membukanya.

"Tunggu!"

Belum sempat menyentuh kenop-nya, Akashi sudah bangkit dan berjalan ke arah gadis itu, mencengkram tangannya sehingga membuat ia keheranan.

"A-Ada apa Akashi-kun..?"

"Jangan." Ia menatap pintu yang ada di depan (Name), "Jangan dibuka."

"Eh.. tapi—"

Ketukannya kali ini lebih keras, kalau sudah begitu berarti memang ada sesuatu yang penting kan?

Karena lelaki itu tidak memperbolehkannya untuk membuka pintunya, akhirnya ia memajukan badannya dan menurunkan kepalanya lebih dekat ke arah lubang kunci untuk melihat siapa yang datang. Dan tinggal sedikit lagi—

"Awas!"

'SRAT!'

(Name) terkesiap saat Akashi dengan cepat menarik tangan pucatnya ke belakang sehingga punggung gadis itu menabrak dadanya yang bidang. Gadis itu tidak tahu ada perasaan apa yang tiba-tiba datang saat dirinya berada dekat sekali dengan Akashi—tetapi bukan hal itu yang membuat jantungnya berdebar keras.

Ia melihat ke lubang pintu tersebut—dan baru menyadari ada sesuatu yang menusuk ke dalam lubang itu…

Gadis itu menahan nafas—ketakutan menjalar di setiap tubuhnya.

Ada…

Ada pisau kecil.. yang dengan cepat menerobos dengan mudahnya melewati pintu itu..

Astaga… ia berbicara dalam batinnya

Jika saja.. jika saja…

Jika saja Akashi-kun tidak menarikku, maka mataku akan tertusuk oleh benda itu.

Kamisama…

Badannya melemas, tidak berarti dia lemah, tapi saat ketakutan, gadis itu memang jadi seperti ini—kakinya bergetar dan ia tahu Akashi menyadarinya.

Akashi masih saja mencengkram tangannya—kepala (Name) tepat berada di depan lehernya.

"Lain kali hati-hati." Ia melepaskan pegangannya dan melangkah maju untuk mendorong pisau kecil itu agar jatuh ke luar pintu. (Name) menatap lelaki itu yang kini terdiam, seperti sedang berpikir.

"A-Akashi-kun..?"

Ia menutup matanya dan melewati gadis itu menuju dapur.

"Hari ini kau jangan dekat-dekat dengan Ryouta."

.

.

.

"Kuroko-kun suka membaca Novel ya?" Setibanya di sekolah, (Name) membuka topik pembicaraan dengan Kuroko karena tahu bahwa Kuroko tidak jauh dari Akashi yang begitu pendiam—dilihat dari dirinya yang suka membaca buku, yang pasti berbeda dari Kise.

Matanya beralih ke arah bukunya lagi, "Ah.. iya."

"Heee, aku juga suka! Kalau Kuroko-kun suka genre apa?Action? Horror?"

"Ah.. aku suka Genre apapun, asalkan ceritanya bagus.."

"Waaah~ Jaa, boleh kulihat Novel apa yang sedang kamu baca, Kuroko-kun?" Gadis yang rambutnya terikat ke atas dengan pita merah melambai pelan sesaat ia menggeserkan kursinya untuk mendekati meja Kuroko—tapi sebelum (Name) melihat ke dalam isi buku itu, lelaki bersurai biru itu lantas menutup bukunya.

Suara yang lembut itu berubah drastis menjadi suara maskulin dan berat; seolah didominasi rasa ancam yang kuat.

"Maaf. Tapi (Name)-san tidak boleh melihat yang ini."

(Name) memanyunkan bibirnya, "Hee Nandee? Ayolah Kuroko-kun! Perlihatkan pada—"

Bibir itu terkunci seketika sebuah tangan menyentuh dagunya dan menaikkan ke atas sehingga kepalanya berada di level yang sama dengannya.

Di sela nafasnya yang menggelitik, terbisik sebuah kalimat lembut; namun mampu membuatnya merinding.

"Maaf (Name)-san, tolong jangan memaksaku…" Jantungnya berhenti berdetak—, ".. Kau mau mati ya?"

"K-Kuroko-kun…"

Wajahnya semakin mendekat dan—

"Oi, (Name)." Seseorang menepuk bahu gadis itu dan jarak kepalanya cukup dekat dengan kepala (Name) agar dia bisa mendengar suaranya, "Ka—"

Gadis itu lalu menolehkan kepalanya ke belakang, "Ada apa Akashi-kun—"

BLETAK!

"ITTEEE!"

Teriakan (Name) sontak membuat semua pasang mata mengarah ke dua sosok yang memegangi dahinya masing-masing karena terbentur satu sama lain. Akashi mendesis kesakitan dan masih mengusap dahinya yang memar.

"A-Akashi-kun! Kepalamu keras sekali sih!" Marah (Name) yang dahinya mulai berubah warna.

"Tch…"

"Hahahah (Name)! Dahimu mulai merah kaya rambut Akashi tuh!" Sambut Aomine yang bukannya menolong malah memperburuk keadaan.

"Heee? Jangan-jangan udah jodoh…?" Tambah satu sosok baru bernama Aida Riko yang baru saja memasuki kelas bersamaan dengan Midorima.

Sebuah suara keras mengagetkan murid-murid yang tengah menatap mereka berdua, "YATTA MINNA-SAN! Akhirnya terciptalah pasangan pertama Black Class!" Kise memegang pensil seolah-olah benda panjang itu adalah Mic; lagak presenter, "Apakah ada yang mau menyusul mereka? Soretomo…kalian akan terus menjomblo sampai lulus-ssu?!"

"K-Kise-kun yameteee yoo!" Sekarang bukan hanya dahi gadis itu, tapi wajahnya juga ikut memerah.

"Ryouta…" Akashi sudah siap melempar guntingnya.

"Ck, pagi-pagi saja sudah berisik." Sahut Midorima acuh tak acuh dari bangkunya yang baru saja ia duduki.

Dan mulai detik itu juga, suasana yang sempat hening kini menjadi ramai dengan adegan gunting beterbangan dari Akashi, gerakan maut Karate Kodankan-nya (Name), Kise yang hampir sekarat dan ejekan Aida Riko beserta tawa ricuh Aomine dan Momoi.

Setelah beberapa menit, Momoi lalu menyuruh mereka untuk berobat ke UKS. Awalnya keduanya menolak, namun karena didorong paksa oleh Riko, mereka hanya mengikuti saja.

.

.

.

"Akashi-kun gomen ne.. apa masih sakit..?"

(Name) menanyakannya khawatir terhadap Akashi yang tengah duduk di ranjang UKS sambil memegangi dahinya tanpa melihat ke arah gadis yang berjongkok di depannya dan dirinya merasa jengkel karena (Name) tidak berhenti menanyakan hal yang sama untuk ketiga kalinya.

Yang lebih menganggu perasaanya adalah—wajah gadis itu yang begitu dekat. Ia tersadar saat sebuah tangan mulai menghampiri dan menyibak poni surai merahnya untuk menyentuh bagian depan kepalanya itu.

"Heheh, maaf yaaa…" Ia tersenyum dan mulai membantu Akashi untuk mengolesi obat di dahinya, tapi tangan itu ditepisnya dengan kasar.

"Ah.. Gomen…" Gadis itu menarik tangannya.

"….."

(Name) menggerutu pelan mendapati gelagat Akashi yang bersikap cuek padanya. Begitu selesai mengoleskan obat itu, lelaki tersebut mengangkat kepalanya untuk melihat apa yang sedang dilakukan (Name)—ya, gadis itu sedang melihat-lihat dalam ruangan UKS.

Gerakan matanya terhenti saat bertemu pandang dengan sebuah benda yang terasa asing baginya.

Perempuan bertubuh proporsional itu kini memandang sebuah suntikan kecil yang sepertinya muat jika kau memasukannya ke dalam tabung reaksi mini. Ujung jarum suntikan itu cukup panjang—dan (Name) mengambil sebuah catatan yang berada di sebelahnya.

"Etto…" Kedua mata (Name) yang sedang membaca catatan kecil itu malah membuatnya semakin pusing, "Fe.. Ferrum..?"

Ia lalu menoleh ke arah Akashi, "Nee, Akashi-kun… kamu tahu apa artinya?"

"Kau tahu fungsi internet?" Akashi menjawabnya apatis.

"Mou! Akashi-kun masih marah?! Ayolaaaah, kaya anak kecil banget sih Akashi-kun!"

Beraninya gadis ini.. Ia mengumpat dalam batinnya, kalau saja ketua sudah memulainya, sudah kubuka semua lukamu itu dengan guntingku.

"Nee, nee, Ferrum itu apa…?"

Akashi membuang nafas dan menjawabnya dengan nada yang dibuatnya setenang mungkin, "Ferrum itu nama lain dari zat besi."

"Oooh, berarti ini buat penderita Anemia ya..?"

Bukan, tapi buat penderita Myasthenia Gravis. Ya zat besi memangnya familiar dengan penyakit apalagi sih? Ada-ada saja gadis ini.

"Hmm… ini boleh kuambil nggak ya..?"

Ia memutar bola matanya, "Untuk apa?"

"Habis Mayu-nii punya penyakit Anemia sih! Kadang aku suka khawatir kalau dia tiba-tiba pingsan." Balasnya bercanda.

"Hn." Masa bodohlah.

"Jadi bagaimana Akashi-kun..? Ini boleh kuambil…?"

Ia menganggukkan kepalanya.

"Hmmm~" Tangannya lalu memasukkan sampel plastik yang berisikan dua suntikan itu di saku roknya.

"(Name)-chan…?"

(Name) yang sebenarnya ingin bertanya lagi; terhenti oleh kehadiran seorang Himuro Tatsuya yang membuka tirai di tempat mereka berdua berada. Akashi melihatnya dengan saksama; dimulai dari senyuman lelaki itu yang sangat palsu dan Lucky Charm berbentuk kelinci (?) pemberian (Name) yang sengaja dililitkan di jam tangannya.

"Ah, ada Akashi-kun juga.. summimasen kalau aku menganggu…" Ucapnya sopan. Pandangannya tertuju pada (Name), "Aku hanya ingin memberi tahu kalau Miss Alex menyuruh kita berdua untuk membeli bahan-bahan untuk menghias kelas."

Ya, Akashi tahu. (Name) adalah sekretaris di kelas dan Himuro adalah bendahara yang dipilih oleh Alex.

"Oh oke, kapan?"

"Hmm… katanya lebih cepat lebih baik.. tapi apa kau bisa sekarang..? Bukannya kepalamu—"

Himuro tidak menyelesaikan perkataannya karena tangan (Name) langsung menarik lelaki itu keluar setelah mengucapkan kata 'bye' pada Akashi.

.

.

.

"Bagaimana (Name)-chan? Semuanya sudah lengkap?"

"Yups! Ngomong-ngomong, makasih ya Himuro-kun!"

Keduanya kini sudah selesai membeli berbagai kebutuhan untuk menghias kelas dan barang lainnya yang mereka tidak ketahui untuk apa karena Alex merahasiakannya. (Name) sebenarnya adalah orang yang sangat penasaran, karena itulah ia mengira-ngira. Dan hasilnya, mungkin saja yang dibeli Alex itu untuk pementasan Drama.

"Apa mungkin untuk drama kelas ya…?"

"Mungkin saja." Himuro mengangkat bahu, "Kalau memang benar akan ada drama, kau mau berperan jadi apa (Name)-chan?"

"Hmm…" Ia memperlihatkan pose berpikirnya, "Terserah saja sih.. tapi yang kuperkirakan sih, kamu, Kise-kun atau Midorima-kun pasti akan jadi pemeran utama!"

"Eeh..? Akashi-kun nggak disebut…?"

"Mou! Dia mah cocoknya jadi dewa kematian atau hantu, Himuro-kun!" Sambutnya diiringi tawa.

Keduanya lalu mengobrol lagi; saling membuka percakapan yang menarik dan topik pembicaraannya juga tidak membosankan; mereka terlihat seperti sahabat lama yang bertemu kembali jika orang-orang disekitarnya memperhatikan.

Tidak disadari, Himuro menyunggingkan senyum andalannya di tengah obrolan mereka.

"Ne, (Name)-chan… mau keliling sebentar ke taman hiburan..? Kan dekat .. Aku juga sudah minta izin Miss Alex—" Sahutnya berbohong.

"Eh? Aku mau kok ke taman hiburan! Tapi kapan kamu izin ke A—" Kalimatnya tidak didengar oleh Himuro yang langsung menarik tangannya pergi ke tempat ramai tersebut.

.

.

.

Akashi merasakan perasaan yang campur aduk dalam hatinya ketika dirinya tidak melihat sosok Tatsuya dan si gadis hiperaktif itu dikelas selesainya ia mengobati dahinya yang berdarah. Diliriknya sebelah kanannya yang hanya terdapat bangku kosong, satu buku tulis dan tasnya yang disimpan di dalam kolong mejanya. Ponselnya pun ditinggal, sehingga ia tak bisa menghubunginya.

Pemandangan bangku Tatsuya juga sama; hanya terdapat tas hitamnya, setelah itu tidak ada apa-apalagi.

Laki-laki itu menyentuh pelipisnya, bertanya-tanya dalam hati kenapa ia begitu khawatir dengan gadis itu.

Tidak, ia tidak mungkin khawatir. Ia cuma tidak mau si Tatsuya brengsek itu mengalahkannya. Ya pasti itu.

"Baiklah, pelajaran selesai! Dan sebelum pulang, berdoa dahulu ya!"

Seusai rentetan aktivitas setelah pelajaran selesai itu, Alex keluar sambil melambaikan tangannya dan menutup pintu kelasnya. Kadang-kadang wanita itu juga suka mencium muridnya, dasar guru aneh.

Sebuah suara kuncian pintu merebut perhatian Akashi yang sedang duduk sembari memasukkan ponselnya ke sakunya. Iris matanya menangkap sosok lelaki berambut kuning yang sekarang duduk di atas meja guru, matanya menatap main-main ke semua penghuni ruangan ini; tatapannya serasa menahan Akashi untuk tidak beranjak dari tempat.

Sebenarnya tidak hanya dia saja, namun para murid yang baru saja mengambil langkah untuk pulang, dihentikan oleh kelakuan Kise yang sedang memegang tab-nya.

"Chotto matte kudasai ne, minna-cchi." Ia tersenyum, "Sesuai kesepakatan dengan ketua, ada pengumuman organisasi untuk kalian—ya, Anggota Black Class tahun kesepuluh…"

Semuanya hanya diam menatap Kise.

"Maa, meskipun Tatsuya-cchi tidak ada, nanti dia akan tahu sendiri—" Lelaki itu mengangkat kepalanya, "Atau akan ketinggalan selamanya."

Ia melanjutkan, "Dua hari lagi, tengah malam, akan ada pertemuan di kelas 1908—atau kalian bisa menyebutnya kelas rahasia. Ya, di dalam menara yang menyatu dengan gedung sekolah ini." Bibirnya membentuk sebuah senyuman nakal, "Hadirilah kalau kalian ingin tahu peraturannya-ssu~!"

Akashi tidak mengangkat kepalanya dan hanya ke arah lapangan dari jendela yang tak jauh darinya; merasa tidak peduli dengan ulasan ulang tentang pemburuan gadis itu. Toh prosesnya hanya seperti ini; mulai pertama, sekap mulutnya, bunuh.

"Saa~! Siapakah yang akan jadi pemenangnya~?" Tadinya Kise ingin bermain sesuatu dengan teman sekelasnya, tapi tertahan saat melihat Akashi yang sudah mengambil tasnya dan berjalan melewati lelaki jangkung tersebut.

"Akashi-kun~? Kau mau kemana-ssu..? Mencari (Name)-cchi kah~?" Seru Kise dengan nada menggoda, "Ow, ow~ Lihatlah, Minna-cchi~! Psikopat kelas atas kita yang mengkhawatirkan mangsa-nya sendiri~!"

Akashi diam bergeming.

"Aku. Tidak. Mengkhawatirkannya. Bajingan." Dan tanpa disadari, Akashi sudah melempar guntingnya ke arah Kise dan lelaki itu setengah kaget sehingga tak bisa menghindarinya.

Kise membawa tangan kanannya untuk mengelap cairan merah yang turun mengalir dari bekas kulit pipinya yang tergores karena ujung gunting yang sekarang menancap di dinding. Ia lalu menjilat permukaan tangannya—merasakan darahnya sendiri dan tertawa pelan.

"Oi, oi, Akashi. Kau itu mengerikan sekali—" Riko mengedipkan matanya ke arah Akashi, "Jadi semakin bukti akurat kalau kau itu pacarnya (Name)-chan…"

Semua iris mata kini mengarah ke Akashi yang tidak memperdulikan mereka dan menghela nafas, "Aku bukan pacarnya."

"Hee~? Kalau begitu apa, Akashi-kun..?" Tanya Momoi sarkastik.

Akashi menyeringai tipis dan berbisik pelan.

"Dia cuma makanan manis untuk gunting kesayanganku."

.

.

.

"Haaah! Itu menyenangkan sekali!"

(Name) dan Himuro baru saja menaiki permainan yang cukup mengerikan bagi Himuro karena ia tidak terlalu suka berada di tempat tinggi. Bayangkan saja—mereka harus naik tangga dua tingkat dan berjalan di atas satu tali—katanya sih untuk melatih keseimbangan. Tadinya Himuro menolak mentah-mentah karena ia tidak terlalu familiar dengan tempat tinggi, tapi gadis itu sepertinya tidak menerima penolakan jika sedang bersenang-senang.

(Name) tidak tahu kalau Himura berbohong soal izinnya ke Alex, tepatnya mereka bolos. Tapi tanpa disangka, perempuan bersurai panjang itu mudah sekali terkena perangkapnya.

Begitu tertipu dengan poker face-nya.

Mungkin ternyata pendapat Aomine benar tentang gadis ini.

Ya. Lemah.

Terlalu Innocent.

Bahkan ia mau saja diajak jalan-jalan ke tempat yang belum pernah dikunjunginya bersama orang yang baru dikenalnya sejak dua hari lalu. Kemungkinan saja gadis ini belum pernah merasa yang namanya dikhianati.

"Himuro-kun! Kakiku pegal sekali.. bagaimana kalau kita duduk sebentar..?" (Name) menanyakannya sambil menunjuk ke arah bangku taman yang tak jauh dari mereka. Tatsuya menganggukan kepalanya dan mengikuti (Name) yang sudah duduk disana.

Gadis itu menghembuskan nafas kelelahan, "Haah, kapan-kapan aku ajak Akashi-kun.. apa dia mau ya…?"

Hahah, Akashi? Lelaki itu kan bakal MATI nanti malam..

"Hmm, nggak hanya Akashi-kun! Tapi teman-teman Black Class juga!" Ia bergumam kecil, "Pasti menyenangkan kan, Himuro-kun?"

"Ya... "—kalau kau masih bisa bertahan hidup dua hari sih iya.

Tiba-tiba senyum Himuro terukir lebar di wajahnya, "(Name)-san, apa kau mau bermain itu?"

"Uhmm..?" Ia lalu melihat ke arah yang ditunjuk Himuro, sebuah mesin pengambil boneka, "Eh, boleh! Boleh!"

"Kalau begitu ayo kesana." Himuro berdiri dan berjalan ke arah Timur, menuju mesin disana, "Pakai koinku saja ya."

Gadis itu terlihat sumringah, "Makasih Himuro-kun! Ayo!"

Mereka berdua lalu melangkah kesana; untungnya tidak terlalu jauh dari tempat mereka duduk.

Himuro lalu memasukkan koin emas yang sudah ditukarnya dan menggerakkan stick untuk mengambil boneka kelinci yang ada di dalam kotak tersebut. Lelaki itu dengan lihai menggerakannya dan mencapit boneka itu ke atas.

"Ganbatte Himuro-kun!" (Name) mengangkat tangannya ke atas untuk menyemangati pria tersebut—dan…

"YOU WIN!" Suara itu terdengar dan gadis itu bersorak setelah Himuro mengambil boneka kelinci putih yang sudah meluncur keluar dari mesin itu.

"Heheh, Himuro-kun kakkoi~!"

"Terima kasih, (Name)-chan." Ia memegangi boneka itu dan menghadapkannya, "Ini untukmu."

Tangan itu terjulur untuk menyerahkan benda tersebut..

Namun…

Tangannya berhenti saat ingin memberikannya ke (Name).

"H-Himuro-kun...?"

"(Name)-chan.." Nada suara Himuro menjadi berbeda—dan (Name) tahu ada yang aneh dengan lelaki itu. Ia ingin menyentuh lelaki itu untuk memastikan tapi—

"—NO BAKA!"

SHUUUT!

"AKH—!" Gadis itu menjerit ketika dari dalam mulut boneka itu menyemprotkan sebuah gas yang membuatnya terbatuk-batuk—dan ia kini berusaha menutup hidung dan mulutnya agar tidak menghirup gas sialan itu.

Ia sempat ingin berlari—namun karena mulutnya terbuka untuk memanggil nama lelaki itu membuatnya menghisap langsung gas berbahaya itu, sehingga—

—Pandangannya kabur dan terkapar di tanah.

.

.

.

Pukul empat sore, Akashi berjalan pulang dari sekolah setelah mengurusi urusannya dengan model sialan yang sempat membuatnya hilang kendali.

"Ryouta brengsek…" Desisnya kesal.

Akashi melanjutkan perjalanannya sambil memandang matahari sore dengan mata merah-kuning-nya. Sesampainya didepan ruangannya, ia mengeluarkan kunci ruangan mereka berdua dan alisnya naik saat memperhatikan sekali lagi kunci itu.

Sejenak ia memperhatikan kunci yang ada di tangannya tersebut.

"Ada yang hilang.. Tunggu—Lucky Charm milikku tidak ada…"

Lelaki itu ingat benar bahwa ia belum melepaskan lilitan barang pemberian (Name) dari kunci itu… tapi—sekarang hilang…?

Terjatuh?

Mustahil.

Tiba-tiba saja ia mengingat pembicaraan dengan gadis itu kemarin—

"Himuro-kun bilang Lucky Charm yang kuberi akan dijadikannya—"

Seibutsu…?

Pusaka… Suci?

Tunggu.

Tatsuya… dia…

Menjadikan Lucky Charm-ku, sebagai seibutsu—?

"Tch."

Tanpa memperdulikan apapun , ia langsung berlari mencari gadis itu.

Ia berlari menyusuri pertokoan, namun tak ada tanda-tanda keberadaan si (Name).

Akashi terus berlari sampai akhirnya berhenti di depan taman hiburan kota untuk mengatur nafasnya. Padahal lelaki itu tidak tahu kenapa ia harus mencari orang yang bahkan akan mati di tangannya tersebut—tidak, ia tidak menolongnya! Ia hanya tidak mau mangsa-nya direbut oleh siapapun.

"Ah—Akashi-chin."

Kakinya berhenti berlari dan memicingkan matanya ke arah lelaki bersurai ungu—Murasakibara Atsushi…? Tunggu, mungkin lelaki itu tahu dimana si teman yang selalu bersamanya itu.

"Atsushi—" Ia mengepalkan tangannya, "Kau tahu dimana Tatsuya?"

"Muro-chin…? Tadi kulihat dia jalan-jalan bersama (Name) ke taman hiburan—ke Timur mungkin…?" Matanya melebar, "Lagipula… Muro-chin tidak akan membunuh (Name)-chin kok—untuk malam ini…"

Akashi mendengus.

.

.

.

"(Name)-chan… aku tidak tahu kalau tubuhmu itu benar-benar kuat, hm?" Himuro berkata seraya melihat ke arah gadis yang baru saja terbangun dan mendapati bahwa tangan serta kakinya terikat. Ia sebenarnya bisa saja langsung berteriak minta tolong—tapi pasti takkan ada yang mendengarnya karena dirinya terkunci di sebuah ruangan yang kedap suara.

"Padahal racun ini bisa membuatmu tertidur sampai seharian loh." Ia tersenyum, "Tapi… tak apalah… toh sebentar lagi dia akan datang…"

(Name) yang nafasnya sedikit terengah-engah tidak menjawabnya.

"Nee, (Name)-chan…" Ia berbisik, "Mau kuberitahu tentang masa depanmu, hm?"

.

.

.

"K-Kamu b-bohong kan…?"

Ia tersenyum lagi.

"Nee (Name)-chan… Akashi sebentar lagi datang loh…" Himuro lalu merogoh sesuatu dari sakunya dan kini suaranya terdengar dingin di dekat telinga gadis itu. Matanya melebar saat melihat apa yang diambil oleh Himuro, "Kau tahu—kau sebaiknya bekerja sama denganku membunuh Akashi-kun…"

"Tidak mung—"

"Bukankah itu keberuntungan untukmu?" Suara lelaki itu hampir membuat bulu kuduk (Name) berdiri, "Jika kau membiarkan Akashi selamat, dan saat permainan itu dimulai—ia akan menyiksamu lebih daripada yang lainnya."

Ia menggelengkan kepalanya, "Aku tidak ma—"

"Aaah, sayang sekali kau tidak mau menurutiku…" Tangan Himuro lalu membawa sebuah suntikan berisikan cairan hijau di dalamnya ke arah lehernya, "Jaa, kalau kau tidak mau kusuntikkan racun ini, tembaklah Akashi-kun…"

"A—"

"Racun ini mematikan loh." Ia semakin mendekatkan benda itu, "Saat tertusuk—mungkin nafasmu sudah hilang."

.

.

.

"Kau mau kemana, Akashi-kun?"

Sang pemilik rambut merah itu berhenti berlari seketika melihat Himuro yang tengah melipat tangannya menatapnya tanpa ekpresi dan bersandar di dekat sebuah tempat sepi yang jarang dilewati orang apabila sudah menunjukkan pukul tujuh malam.

Dari melihat mata Himuro yang hitam kelam, namun terlihat gelap di bawah rembulan langsung mengirim pesan ke otaknya bahwa serangga kecil ini sedang ingin menghadangnya.

"Dimana dia?" Tanyanya dingin dan memasukkan tangan kanannya ke dalam saku celananya.

"Kau mengkhawatirkan (Name)-chan, hm?"

Sungguh, Akashi tidak punya waktu untuk berinteraksi dengan orang brengsek ini.

Tapi itu tidak penting sekarang—ia harus segera mengambil (Name) kembali sebelum terjadi apa-apa terhadap gadis itu. Namun malah ada yang menghadangnya di jalan. Benar-benar membuang waktu.

"Jawab aku, Akashi-kun."

Mata Akashi mulai menyiratkan tatapan membunuh pada Himuro.

"Enyahlah, Tatsuya." Ia berjalan maju kedepan, "Enyahlah. Dari. Hadapanku."

"Tidak perlu terburu-buru, Akashi-kun…" Himuro meluruskan tangannya, "(Name)-chan tidak terluka kok."

"Dan dengan bukti apa aku harus mempercayaimu?"

"Oh ayolah—(Name)-chan akan melihatmu mati kok. Jadi jangan khawatir…" Ia lalu berjalan menuju tempat dimana gadis itu berada, "Ikut aku, Akashi-kun…"

.

.

.

Iris matanya menangkap sosok teman seruangannya yang kini terikat—terlalu kuat, karena Akashi bisa melihat dengan jelas ikatan talinya yang membuat kulit gadis itu memerah. (Name) ingin berteriak, namun Himuro sudah menyumpal mulutnya dengan sebuah kain.

"Kau akan mati disini—Akashi-kun."

Tanpa menunggu jawaban Akashi, Himuro mengeluarkan sebuah pedang dari belakang bajunya—terlihat tajam dan bercahaya di bagian ujungnya; menampilkan pantulan bayangan Akashi disana.

Keadaan sempat hening karena perkataan Himuro—sebelum tawa Akashi merusak keheningan itu.

Akashi tertawa—sangat, sangat menakutkan apabila kau mendengarnya.

"Kau tahu pedang itu sudah tidak zaman, Tatsuya." Akashi dengan cepat menarik ketiga pisau yang sudah tercapit di sela-sela jarinya, "Bahkan seekor semut pun tahu siapa yang akan menang."

Himuro menyeringai di dalam hati.

'Ya, Akashi-kun. Sampai kau tahu kalau pedang ini bisa menembakkan tekanan 20 megapascal yang tidak akan kau sadari.'

.

.

.

[ to be continued ]

.

.

.

[ bagian dua koma lima ]

"Nee Ki-chan, apa gelangmu sama cincinmu isinya pisau semua?" Tanya Momoi—teman seruangan Kise yang suaranya tidak terdengar terlalu jelas karena terdapat satu batang Pocky rasa Strawberry di mulutnya.

Model majalah itu menjawab namun matanya tidak beralih dari Game Tekken-nya, "Hehehe, bukan hanya di dua benda itu saja loh, Momo-cchi~"

"Heee~" Momoi membalasnya dengan nada main-main diikuti dengan pertanyaan selanjutnya, "Kudengar ketua akan memulainya dua hari lagi… apa kau mulai duluan?"

"Eeeh? Kenapa? Kau mau bekerja sama denganku?"

"Ara gomen ne~ Aku sudah kerja sama dengan Dai-chan."

Pemuda berambut kuning itu menoleh sedikit, "Aku juga sudah kerja sama dengan Kuroko-cchi~ Aku tidak mulai duluan kok-ssu~"

"Hm, hm! Baguslah kalau begitu~! Berarti aku dan Dai-chan tidak perlu menyingkirkanmu~" Warna mata gadis itu entah kenapa menjadi lebih tajam.

Kise tidak membalas perkataannya, hanya berkutat dengan layar pertarungan yang ada di depannya. Tiba-tiba dia tersenyum.

"Nee, Momo-cchi… Kau mau kukasih tahu tentang (Name)-cchi…?"

Gadis itu mengangkat kepalanya, "Boleh, boleh!"

"(Name)-cchi tidak selemah yang kita pikirkan loh~" Nadanya berubah menjadi datar, "Kau tahu kenapa?"

Momoi menggelengkan kepalanya sambil berkata 'tidak'.

Kise lalu mem-pause Game-nya dan yang tadinya duduk menyilang kini berbalik menghadap ke arah gadis itu, "Karena aku, (Name)-cchi, dan Kuroko-cchi adalah spesies berbahaya yang sama."

Awalnya ia tidak mengerti apa yang dikatakan Kise, tapi—

Matanya mengerjap sedetik dan ia berhenti mengunyah Pocky-nya saat melihat Kise sedikit membuka kerah bajunya dan terlihat sedikit luka dan sebuah tulisan hitam di kulit pucatnya. Awalnya terlihat tidak jelas—tapi ketika Momoi mendekatkan wajahnya untuk melihat lebih dekat, dirinya segera mengerti apa yang dimaksudkan.

"Aha…"

Kise mengedipkan salah satu matanya, "Sekarang kau mengerti… Momo-cchi~?"

Gadis itu menyeringai.

"Maa, sepertinya aku harus mengkonstruksi ulang rakitan bom-ku."

[ 2.5 – fin ]


a/n : MINNAAAAA~! Maaf kalau saya nggak bisa bales review di chapter ini! TWT, Reviews bakal saya tampung dulu ya~ Janji kok bakal dibales di chapter depan—dan dibales sama Kise, Akashi, dan Aomine! POKOKNYA MAKASIH BANGET YANG UDAH REVIEW! Dan untuk nabmiles-san dan Anya-san, makasih udah ngasih tau saya penulisan yang baik dan benar QAQ *Cries*. Saya bakal berusaha perbaikin XD

Well, soal chapter diatas… Um, saya rasa Chapter ini kecepetan dan OOC banget nggak tau kenapa -_- /?. Btw maaf kalau nggak ada preview kali ini XOO

Dan, saya juga mau tanya… kalau Rating di Fic ini naik ke M, ada yang keberatan? Untuk bagian kekerasan, Gore, dan bahasa kasar loh ya…

? : Nggak ada Lemon?

E : O/A/O;; /pingsan duluan

Tobi : *Tiba2 muncul* Tobi itu anak baik! Yang baik kaya Tobi review yaaa!

E : *langsung bangkit* TOBIII! /HUGS/ #Tobi : TIDAAAK!