Disclaimer :
Kuroko no Basuke © Fujimaka Tadatoshi
Akuma no Riddle © MINAKATA Sunao & KOUGA Yun
Warnings : AU/OOC/Bad language/Violence/Gore/Mature Contents/Lime in later chaps
"… This pain, filled with contradiction..
seems to be telling me that I'm alive… "
[—Exist, Nano
BTOOOM! 2nd opening theme—]
.
.
Rebirthia
[ Trick IV – Resolution, Redemption ]
.
.
Jam tangannya sudah menunjukkan pukul 9 malam.
Akashi cukup sulit mengambil kunci ruangannya dari dalam sakunya saat ingin membuka pintunya. Berdecak pelan, ia segera masuk ke kamarnya dan menurunkan tubuh gadis itu dan membaringkannya di ranjangnya—dengan posisi yang tepat tentunya. Bukan ada maksud apa-apa gadis itu dibiarkannya tidur di kamarnya, melainkan tas beserta kunci kamar (Name) masih tertinggal di sekolah. Dan ia tak mau repot mengambilnya lantaran sudah malam dan sekolah tentunya dikunci.
Dirinya kini duduk di lantai dan menyender ke sisi tempat tidurnya, berusaha merelaksasikan diri. Keringatnya mengucur deras karena lelah berjalan sambil membawa tubuh gadis itu di punggungnya. Jarak dari gedung kosong ke penginapannya memang cukup jauh dan bisa menghabiskan tenaganya karena ia sedikit lemas karena bertarung.
Diusap dahinya untuk menyibakkan poni merahnya yang terasa menganggu. Ia lalu menarik helai rambutnya di sela jarinya.
Kenapa… aku sampai berbuat sejauh ini…?
Nafasnya masih belum teratur. Darahnya mulai muncul sedikit demi sedikit karena sudah tidak terkena pengaruh senjata Tatsuya lagi. Sial—jika saja Kise melihat pemandangan dirinya sedang seperti ini, lelaki itu pasti akan tertawa melihatnya dan langsung mengajaknya bertarung.
Mungkin karena kau merasa bahwa bocah itu berbeda.
Kau lagi.
Kau harap siapa?
Lupakan. Apa maksud perkataanmu yang tadi?
Hmm. Kurasa kau mulai perhatian dengan bocah itu. Kau tahu—saat mendengar perkataannya yang mirip dengan ibumu.
Apa?
Sisi lain itu tak menjawab. Membiarkan seorang Akashi berpikir lebih leluasa untuk menemukan jawabannya. Untuk mencoba mengingat perkataan gadis itu yang sama dengan almarhum ibunya…
'Kamu kan nggak ceroboh sepertiku, Akashi-kun! Jadi kupercayakan padamu saja…'
'Mereka pasti punya alasan tersendiri untuk mengikuti permainan ini…'
'Memangnya sebuah masalah bisa terselesaikan dengan membunuh?'
Ia menutup matanya sejenak.
'Sei-kun, ibu percaya padamu…'
'Sei-kun… mereka pasti punya alasan sendiri untuk membunuh ayah…'
'Jangan dendam pada siapapun Sei-kun… membalas dendam takkan pernah menyelesaikan sesuatu…'
'DUK!'
Suara kaki kayu tempat tidur yang dipukul dan disertai gertakan gigi memecah keheningan kamar Akashi. Dikepalkan tangannya sehingga kukunya hampir menancap ke kulitnya dan menusuk, menyebabkan permukaan kulit pucatnya itu memerah untuk beberapa saat.
Ingatan masa lalu mulai terukir perlahan-lahan memenuhi otaknya—sampai-sampai ia tak mendengar suara rintihan dari bibir gadis di sampingnya.
(Name) masih pingsan—atau mungkin tertidur; terjebak di dalam pikirannya. Alam bawah sadarnya seperti menarik badannya untuk berkeliling; berpetualang mengingat ulang dosanya di masa lalu.
Ia seharusnya sudah melupakannya…
oOo Rebirthia oOo
Reader's P.O.V
Dingin…
Ini… dimana?
Gelap…
Kelopak mataku terbuka sedetik kemudian dan langsung disuguhi pemandangan samar di depanku. Awalnya begitu gelap, suram, tapi setiap loncatan detik membuatnya perlahan membentuk sebuah cahaya yang menyilaukan—sehingga terpaksa kuangkat tanganku untuk menutupinya. Tapi… kenapa tanganku terasa berat? Kenapa rasanya tak bisa digerakkan? Kenapa rasanya seperti—
Ada yang menahannya…?
'Suster, tolong ambilkan pisau bedah.'
Suara itu…
'Baik, dokter. Apa sampel dagingnya akan diambil sekarang?'
Sampel…? Tunggu ini…
'Ya… kita perlu memastikan virusnya bekerja dengan baik…'
Ini—!
Aku berteriak; menjerit nyeri saat merasakan sebuah benda tajam mengiris kulit lenganku perlahan, merobek kulit pucatku sehingga tubuhku berguncang dan memberontak—namun tangan dan kakiku seperti diikat di sebuah kasur. Dan bau ruangan ini… bau darah… obat-obatan… semuanya…
Jangan-jangan ini… masa laluku…?
Masa laluku dimana menjadi sebuah bahan percobaan untuk perusahaan gelap waktu itu?
TIDAK!
Aku tidak mau kembali ke sini lagi! Kenapa aku bisa ada disini? Aku harusnya sudah selamat dari neraka ini… tidak… aku harus… la—
'AGGH! KEBAKARAN!'
Belum sempat aku menjerit meminta tolong, hawa di ruangan ini menjadi panas dan para manusia yang sempat membedahku itu kini berlari karena terbakar api. Ah… aku ingat… kejadian kebakaran ini… yang membuat perusahaan ini dimakan api dan menghilang…
Tiba-tiba aku merasakan sebuah tangan kecil melepaskan ikatan taliku dan menarikku keluar. Dia membawaku keluar dari ruangan yang sudah dilalap api ini. Aku mengangkat kepalaku dan terkesiap saat melihat siapa itu.
Itu…
Mayu-nii?
Itu sosok Mayu-nii yang menolongku saat kami masih kecil—pertama kalinya kami bertemu. Tapi… kenapa hal ini terulang lagi…?
Tempat seiringnya kami berlari, semuanya berubah warna dan mulai menggelap menjadi hitam kelam. Tidak ada cahaya apapun—tapi aku masih bisa melihat sosok kecil Mayu-nii yang mengenggam tanganku dan terus berlari.
Dan tak beberapa lama—di depan kami sudah terdapat sebuah pintu berwarna cokelat. Tanpa basa-basi, ia mendorongku kesana dengan cukup kasar dan menutup pintunya. Aku terjatuh di aspal dan ketika menoleh ke belakang, pintu dan anak laki-laki itu sudah menghilang.
Kuputar kepalaku ke sekeliling, dan pemandangan disini sudah menjadi jalan raya. Jalan Mitahara—jalan raya dimana berdekatan dengan rumah keluarga Mayuzumi yang mengasuhku dulu sebelum pindah. Dan kenapa lagi aku bisa berada disini?!
'Nee, nee, Okaa-san… Apa Mayu-nii akan senang setelah kuberikan hadiah ini di ulang tahunnya?!' Suara cempreng yang tak lain adalah suaraku saat masih kecil terdengar begitu familiar di telingaku. Aku yang masih terduduk di pinggir jalan tercengang melihat ketiga orang yang sedang berjalan dengan riang.
Itu…
Okaa-san dan Otou-san…? Serta yang sedang mereka genggam tangannya ditengah...
Aku…?
'Tentu saja, (Name)-chan… Chihiro-kun pasti senang menerima hadiahmu itu…'
'Nanti jangan lupa bilang kalau kau sayang padanya ya!' Itu suara Otou-san.
Tunggu—jangan bilang…
Peristiwa ini…
'Ah! Balonnya terbang! Terbang!' Sahut diriku yang masih kecil sambil berlari mengejar balon merah yang saat itu kubeli bersama mereka ke jalan raya. Aku ingat saat itu—dimana diriku dengan polosnya berlari ke jalan raya—dan saat itu ada mobil yang tak sengaja lewat dan menabrak—
'Tunggu! (Name)-chan JANGAN!'
'BRAAK!'
—Orangtuaku…
Aku mencakar kepalaku saat melihat kejadian masa lalu yang benar-benar tak mau kuingat lagi. Saat itu… jika saja aku tidak mengejar balon sialan itu… Orangtua Mayu-nii tidak akan meninggal.
'Krieet'
Aku sontak berdiri saat mendengar pintu itu muncul dan terbuka lagi. Memperlihatkan sosok Mayu-nii yang sudah dewasa dan ia langsung menampar pipiku.
'PEMBUNUH!' Ia menatapku dingin dan teriakannya memarahiku, 'KAU PEMBUNUH! JANGAN PERNAH MENUNJUKKAN WAJAHMU LAGI DI HADAPANKU!'
'Mayu-nii—'
'AKU MENYESAL MENOLONGMU HARI ITU!'
Kucengkram bahuku dan mataku tak bisa lagi menahan air mataku yang sedari tadi memang ingin kutumpahkan. Sudah ribuan permintaan maaf kuucapkan padanya, tapi sampai saat itu… yang ia katakan hanyalah jangan pernah mengungkit masalah itu lagi.
Aku menutup mataku, merasa ingin mati saja saat itu.
Awalnya hanya isakan dariku yang terdengar, tapi kian menit, sebuah iringan musik menelusuri gendang telingaku. Aku lalu membuka mataku dan kudapati bahwa aku berada di tempat lain lagi.
Kali ini aku berada di sebuah panggung besar dimana tangan dan kakiku terikat oleh rantai yang menjuntai. Mataku sedikit sakit karena sedari tadi melihat ruangan gelap dan kini menjadi terang benderang dengan berbagai lampu warna-warni yang menghiasi tempat yang seperti sebuah orchestra musik ini.
Yang mengelilingiku kini adalah sosok berpakaian jas hitam sambil memainkan berbagai alat musik. Biola, piano, dan semuanya membentuk menjadi satu lagu. Aku tersentak ketika melihat lebih jelas ke arah mereka dan baru sadar orang-orang itu adalah teman-temanku sendiri— anggota Black Class—tapi tak ada Akashi-kun disana.
Semua pasang mata tersorot ke arahku, menampilkan seringai masing-masing di wajah mereka. Dan sebuah tepukan terdengar, memperdengarkan suara lembut dari belakangku yang mulai bernyanyi.
xA harr hLYUmLYUmOrO eje/.
She sings the song of her crazed heart
xA sorr kLYUvLYUr du qejyu/.
Her singing covers these painful people
Lagu ini…
Lagu yang sering dinyanyikan ibu untukku…
Dan sekarang—wanita itu kembali menyanyikannya di belakangku.
xI rre fIrIlU hIlIsUsU ayulsa dazua/.
Frightened and grievous in the eternal darkness
xA harr nAtLYInO hymmnos/.
She continues to sing
xA sorr mLYOrArA du sphaela/.
Her singing is a reflection of this mad world
Samar-samar kudengar Mayu-nii yang berbisik pelan di telingaku.
'Lagu ini seharusnya dinyanyikan untukmu… bukan kau yang menyanyikan…'
Apa…?
Lelaki itu lalu mencekikku dari belakang, membuatku mulai kehabisan pasokan udara. Rasanya sesak tapi bisa kurasakan bibirnya menyeringai di telingaku.
'Kau seharusnya mati saja… mati menggantikan orangtuaku…'
'Kau yang selalu ketakutan dalam kegelapan… selalu menyanyi dengan jeritanmu itu…'
'KAU SEHARUSNYA MATI!'
"TIDAK—!"
Jeritan keras keluar begitu saja dari bibirku setelah Mayu-nii mengatakan itu. Tapi saat aku membuka mata—aku berada di sebuah kamar yang tak asing. Dingin berwarna biru cerah dan kondisi kamar yang benar-benar rapi. Aku mengatur nafasku dan mendapati tubuhku yang berkeringat banyak—jadi tadi itu hanya mimpi?
Kini yang kulihat adalah sosok bersurai merah yang sedang mengguncangkan badanku—Akashi-kun—yang memandangku aneh.
Aku memanggilnya lemah, "Akashi-kun…?"
"Kau." Dia menatapku dingin, "Akhirnya sadar juga."
Sempat tak kuhiraukan perkataanya dan berusaha duduk agar bisa lebih mengumpulkan kesadaranku. Aku segera mengusap mataku agar tidak terlihat bahwa aku sedang menangis.
"Ada apa?"
"H-Hah?"
"Kau menangis…" Katanya singkat.
Aku berusaha tertawa, "Ini gara-gara aku masih ngantuk…"
"Hm."
Percakapan kami usai dan kutatap Akashi-kun yang sedang mengobati lukanya dan ada beberapa perban serta alkohol di meja kecil dekat kami. Dia sudah beralih menggulung perbannya saat aku perhatikan lagi.
Aku menggigit bibir sambil tersenyum memaksa mendekatinya, "Sini biar aku saja…"
Lelaki itu terdiam beberapa detik, tidak menjawabku dan aku agak takut jika akan ditepisnya lagi tanganku seperti saat di UKS itu. Kedua matanya menyorot ke arahku lama dan hal itu sukses membuatku canggung dan hanya menatapnya balik.
Pasang mata dwiwarnanya yang indah itu tak bisa kumengerti arti didalamnya. Entah dia marah; mengancam; atau memang tak ada maksud apa-apa, tapi itu mustahil.
Bibir tipisnya terbuka untuk beberapa saat, dan jika lebih kuperhatikan lagi, masih ada sedikit bercak darah di sudut bibirnya. Tadinya aku menunggu karena merasa Akashi-kun ingin mengatakan sesuatu, tapi sudah dua menit dia diam seperti itu maka kuartikan arti diamnya sebagai 'iya'.
"S-Sebentar ya… kapas, mana kapas…" Sahutku gugup dan mengalihkan pandangan ke arah kotak P3K di atas meja bundar itu. Tanganku mencari benda putih lembut tersebut dan bersyukur masih ada beberapa. Kubalikkan badanku ke arah Akashi-kun dan—
"AAAH! APA YANG KAMU LAKUKAN?!" Teriakku cukup keras saat mendapati sosok sang Emperor itu sudah bertelanjang dada—menunjukkan dada bidangnya dan postur tubuhnya dengan kulit pucat dan beberapa luka bekas perkelahian bersama Himuro-kun. Dengan cepat aku menutup mataku untuk menghindari 'pemandangan' yang seharusnya tak kulihat itu.
"Lukaku bukan hanya dibagian situ tahu." Dia membalas teriakanku kalem seolah tak mengerti bagaimana perasaan maluku saat ini.
"T-Tapi…" Duuh bodoooh! Aku benar-benar lupa kalau Akashi-kun memang banyak terluka di bagian dada, tapi seharusnya bilang-bilang dulu kan kalau mau buka baju?! Aku menghela nafas dan berusaha tenang. Setelah wajahku sudah tidak bersemu merah, aku mulai mengobatinya dengan macam-macam obat disana.
Aku sangat malu karena di ruangan itu, aku hanya bisa mendengar suara detak jantungku yang berdebar dan kadang suara rintihan Akashi-kun yang entah kenapa menimbulkan perasaan aneh dalam dadaku. Bau darah dan wangi parfum yang dipakai Akashi-kun masih melekat di tubuhnya, kuusahakan diriku agar tidak terganggu dengan hal tersebut.
"Kau…"
Gerakan tanganku tidak berhenti saat lelaki itu memanggilku jadi aku hanya menjawabnya saja, "Apa?"
"… Kenapa kau menolongku…?"
Hening.
Oke, mungkin sekarang tanganku berhenti mengobatinya. Pertanyaan Akashi-kun menyadarkanku terhadap masalah yag sedang kuhadapi. Kenapa aku menolongnya? Kenapa aku menolong psikopat yang akan membunuhku? Hahah, aku memang punya alasan tersendiri. Tapi aku yakin dia akan tertawa ataupun bingung setelah mendengar alasanku ini.
"Karena aku tahu Akashi-kun punya alasan—sama seperti Himuro-kun…" Jawabku sabar, tentu saja itu bukan alasanku sebenarnya.
Mulanya tak ada jawaban darinya, tapi sebuah tawa sinis melingkupi suasana ruangan ini.
"Tahu apa kau, bocah?" Ia menangkap tanganku, seperti sebuah perintah bahwa aku harus menatapnya kali ini, "Aku sama sekali tak punya alasan. Aku mengikuti permainan itu hanya untuk bersenang-senang."
Kubiarkan mulutku yang tak mau diam ini membalasnya, "Kamu pasti bohong."
"Dan kau punya bukti?"
"Kamu mengerjapkan matamu berkali-kali saat mengatakan hal itu." Aku menelan ludah, "Dalam psikologis, itu hal yang umum dilakukan saat orang berbohong."
Sorot matanya memandang tajam mataku, seolah bisa menyalurkan kekesalannya lewat tatapannya yang menusuk itu.
Dan aku tak pernah menduga perkataanku tadi—malah membuat keadaan bertambah buruk.
Akashi-kun berada di dunianya sebentar—terdiam cukup lama.
Aku tidak tahu apa yang sedang ada di pikirannya.
Jantungku berdebar cukup keras—sedikit takut dengan apa yang akan dikeluarkan oleh bibir tipisnya.
Tetapi bukannya sebuah kalimat yang keluar—aku merasakan sebuah tangan dengan sengaja menjambak rambutku kasar sehingga wajahku kembali berhadapan dekat dengannya, seringai terukir di bibirnya.
"Apa kau mau—" Nada suara Akashi-kun menjadi sedikit berbeda, "… bertaruh denganku…?"
Alisku terangkat menyatu, merasa bingung terhadap kalimatnya.
"Katakan padaku…"
"A-Aku tidak mengerti maksudmu…"
"Dengarkan aku." Lelaki itu masih saja menarik rambutku—malahan semakin kencang, "Permainan bodoh itu akan dimulai dua hari lagi…"
"L-Lalu…?"
"Jika kau bisa selamat dari orang pertama yang akan membunuhmu… maka aku tidak akan mengincarmu—" Pandangannya seakan mengancamku, "… sekaligus membantumu…"
"H-Hah?!" Mulutku menganga terbuka, menampilkan mimik kaget, "J-Jangan bercanda! K-Kamu bisa saja bohong padaku dan membunuhku saat akhir!"
"Kalaupun seperti itu, bukannya itu sedikit meringankanmu?"
"T-Tapi… kalau aku kalah—"
"Aku tak keberatan mengunjungi makammu." Sahutnya enteng—mengundang darahku yang mulai naik secara drastis.
Dia lalu melanjutkan, "Jika kau setuju, aku punya banyak senjata yang bisa kau pakai."
"T-Tidak mungkin! Aku tidak mau membunuh mereka! Aku tidak mau melukai—"
"Kau ini… terlalu baik ya?" Ia mendengus, "Tapi terserahlah… kau mau atau tidak?"
B-Bagaimana ini…?
Aku harus menjawabnya, tapi aku tidak tahu harus memilih yang mana! Semua pilihannya terlalu berbahaya… aku hanya takut kalau Akashi-kun berbohong… tapi permainannya akan dimulai dua hari lagi.
Ketika otakku sedang berpikir, tangannya secara lembut melepas rambutku yang habis ditariknya. Dia lalu memajukan wajahnya dan dua detik—bibirnya sudah menyentuh telinga kiriku dan menyeringai.
"Jalur apapun yang kau pilih, semuanya menanggung resiko kematianmu."
Mendengar itu—bulu kudukku lantas berdiri.
oOo Rebirthia oOo
Room 1908
Disanalah Akashi berada dua hari berikutnya.
Ruang 1908—ruangan baru untuk para anggota Kiseki no Sedai yang digunakan untuk beberapa pertemuan penting. Lain target, tentu lain lagi tempatnya, Kondisi ruangan ini cukup bagus menurutnya, lebih luas dan lebih tertutup. Warna cat dindingnya gelap namun ada beberapa hiasan artistik berwarna merah darah. Di depannya ada meja melingkar serta kursi sesuai dengan jumlah anggota mereka.
Semuanya duduk di kursinya masing-masing. Sudah diwajibkan dari ketua mereka bahwa setiap kali ada pertemuan, maka saat perjalanan kesini, mereka harus mengenakan jubah hitam yang menutupi sampai kepala sehingga tidak ada yang tahu identitas mereka. Tidak boleh ada yang melihat mereka mengikuti pertemuan ini—karena akan fatal akibatnya. Meskipun begitu, setelah berada di dalam, mereka bisa melepaskannya.
Akashi tahu orang yang menduduki kursi disebelahnya adalah Kuroko Tetsuya—bisa terasa dari aura yang berbeda darinya. Dia memang belum tahu sepenuhnya tentang data lelaki bersurai biru itu, tapi cepat atau lambat ia pasti mengetahuinya. Karena memang selalu begitu strategi-nya, mengetahui data dan kelemahan lawan.
Pemikirannya terhenti saat Kise Ryouta sudah berdiri di tengah meja mereka, di belakangnya terdapat layar bening besar.
Kise berdeham.
"Selamat datang di pertemuan pertama kita, para anggota Black Class." Sosok itu berdiri tegap dan lebih mengeraskan suaranya, "Perkenalkan namaku Kise Ryouta—yah meskipun beberapa dari kalian sudah mengenalku-ssu."
Setelah berhenti sejenak, mulutnya terbuka lagi, "Sebelumnya terima kasih atas kedatangan kalian dan kesabaran kalian untuk menunggu anggota lainnya."
"Dan mulai sekarang—kami mohon agar kalian untuk benar-benar mematuhi peraturan—atau kalian akan dipenjarakan seperti Himuro Tatsuya dan menanggung akibat yang lain." Layar di belakang Kise tiba-tiba bercahaya dan menampilkan sosok (Name)—dan lelaki itu sedikit berteriak.
"Saa! Persiapkanlah diri kalian untuk membunuh gadis manis ini untuk hadiah yang sangat besar!—atau mungkin (Name)-cchi akan selamat dan lulus dari kalian semua?!"
Akashi mendecih menghadap pertanyaan retoris Kise.
Tangan sang model majalah itu lalu membalikkan beberapa kertas yang ada di genggamannya dan membacakan isi kertas tersebut. Sudah kelihatan sekali bahwa ia akan membaca peraturannya.
"Baiklah, untuk peraturan pertama… barang siapa yang berhasil membunuh sang target, maka akan dikabulkan satu keinginan. Dan jika ada yang bekerja sama, maka hanya salah satu yang akan dikabulkan."
Murasakibara berkata pelan, "Seperti biasanya ya…"
"Peraturan kedua… Dilarang melibatkan siapapun diluar anggota… Itu berarti—Alex-sensei tidak boleh tahu maupun terlibat akan hal ini, begitu juga yang lainnya." Dia memutar matanya,
Semuanya mengangguk.
"Lalu yang ketiga… Barang siapa yang gagal dalam percobaan pembunuhan, atau melanggar peraturan, maka akan segera diberi hukuman—dengan kata lain, dikeluarkan dan… mungkin yang lainnya."
Selesai berbicara, Kise lalu mengambil beberapa kartu lipat dua yang mempunyai warna merah di luarnya dari kotak hitam di meja. Tangannya menunjukannya pada mereka.
"Ini adalah kartu pemberitahuannya." Ia kembali menjelaskan, "Jika ingin melakukan misi kalian, tulis nama kalian dan berikan padaku. Ini hanya bisa digunakan satu kali, dan tak bisa dibatalkan. Oh—seperti biasa, waktu kalian hanya 48 jam-ssu~!"
Anggota Kiseki no Sedai terlihat bosan dalam mendengarkan penjelasan Kise setiap operasi rahasia mereka berjalan. Tanpa basa-basi, Kise langsung mempersilahkan semuanya untuk mengambil kartunya masing-masing.
Dan seperti orang biasa lainnya, tentu mereka akan mengobrol sebentar.
Kise mendekati kursi Akashi yang sedang duduk dan memasukkan kartunya ke saku jaketnya.
"Nah, Akashi-cchi… kau sepertinya tidak akan mulai duluan seperti dulu ya-ssu?" Senyuman terkembang di bibirnya, "Kau terlihat tertarik dengan (Name)-cchi… jangan-jangan kau mau 'bermain' dulu sebelum membunuhnya~?"
"Tutup mulutmu, Ryouta." Ia menutup mata, "Kau mengundang sorotan mata para bajingan itu ke arah kita."
Sayangnya, semua anggota disana bisa mendengar jelas pembicaraan mereka berdua.
"Yadaa Akashi-cchi! Akhir-akhir ini kau jadi sering marah-ssu! Bersantailah sedikit, heh?"
Aomine ikut menggoda Akashi, "Hahah, Akashi~ Jadi tipe gadismu seperti itu? Jadi sudah sampai mana kau melakukannya~?"
"Bisa diam, mahluk gosong?"
Mendengar itu, lelaki berkulit tan tersebut melebar marah, "A-Apa tadi kau bilang?!"
"Gyuhahah! Dai-chan dibilang mahluk gosong! HUAHAHHAH!" Momoi Satsuki—selaku sahabatnya sejak kecil malah semakin mengejeknya.
"U-Urusee! Sialan kau Satsuki! Dasar kau cewe yang hanya pamer dada tiap muncul!"
"A-APAA?!"
"Lari Aomine-cchi! Jangan sampai kau mati muda!"
"Ha—UGGHH!"
Teriakan itu tidak lain berasal dari mulut Aomine setelah perutnya ditendang oleh Momoi—sampai punggungnya menabrak pintu. Ia terbatuk pelan.
"I-Itte…" desisnya pelan.
"Ouch… pasti sakit-ssu…" Ujar Kise sambil tertawa kecil.
"D-Diam kau Kise!"
"Kise, kalau kau mengatakan hal seperti itu, berarti harga nyawamu cuma sedetik, nanodayo." Cibir Midorima cuek selagi mengangkat kacamatanya.
Kise menoleh, "Haah? Bukannya nyawamu yang setipis kertas-ssu?"
Kini yang berdebat disana adalah Momoi dengan Aomine, Kise dengan Midorima, selain itu—Murasakibara hanya memakan camilannya, sementara tidak ada yang tahu bahwa pemuda bersurai biru dan merah sedang mengadakan rapat kecil disana.
oOo Rebirthia oOo
"Haaah! Oke, oke, kalian semua bisa pulang-ssu!" Keluhnya kehabisan nafas karena berdebat dengan Midorima yang basisnya terlalu pintar sehingga lelaki itu kalah debat. Dia tidak mengerti ada apa dengan otak maniak Oha-Asa itu.
Momoi dan Aomine tetap berdebat sambil berjalan ke luar pintu. Murasakibara sudah menghilang entah sejak kapan. Demikian pula dengan Akashi dan Kuroko—sehingga yang berada didalam ruangan tersebut hanya Kise dan Midorima.
Kise menyeringai.
"Keberatan jika kau beritahu apa keinginanmu?"
Lelaki berkacamata itu menatap Kise tajam sebelum ia menggesekkan giginya dan mulai berbicara lagi secara rahasia.
Sementara di luar pintu—Akashi memutuskan untuk keluar lewat jalur kanan, dan Kuroko sebaliknya.
Keheningan sempat menghiasi disana.
Saat tubuh mereka tak sengaja bersebelahan, Akashi membuka mulutnya.
"Kau kartu joker-ku, Tetsuya." Ia mengatakannya miris sambil memakai jubah hitamnya sampai menutup kepalanya, "Jangan lupakan pembicaraan kita tadi."
Di sisi kiri, Kuroko tidak menjawab—hanya Akashi tidak tahu bahwa sepasang mata biru laut itu menatapnya dari balik penutup kepalanya.
oOo Rebirthia oOo
Normal P.O.V
(Name) menggigit bibir untuk yang kedua kalinya, atau ketiga kalinya—ia tak tahu. Mungkin bibirnya sudah memerah ataupun berdarah, tapi ia tidak peduli akan hal itu. Yang harus dipikirkannya sekarang adalah—pilihan yang diberikan Akashi-kun dua hari lalu.
Sungguh, ia masih frustasi untuk masalah yang satu ini.
Ia punya tiga pilihan—pilihan pertama, ia akan menelpon polisi, tapi ia tahu bahwa mereka takkan mempercayainya, terlebih mungkin anggota psikopat gila itu akan menyerang polisi, dan membuang mayatnya entah kemana.
Pilihan kedua, ia bisa saja langsung kabur dari sini. Namun sayangnya ada Akashi yang selalu mengamatinya kemanapun. Ia seperti mangsa yang akan selalu dikejar lelaki itu, yah, bukan hanya lelaki itu saja sih. Lagipula ia sudah berjanji kepada kakak dan adiknya bahwa ia akan keluar dari sini setelah lulus dengan nilai tertinggi dan membanggakan mereka.
Lalu pilihan ketiga—yaitu taruhan yang diusulkan Akashi untuknya. Jika ia berhasil selamat dari siapapun yang menyerangnya untuk pertama kali—maka lelaki itu takkan ikut permainan itu. Tapi yang menjadi masalah—apa kata-katanya bisa dipercaya?
Akashi bisa saja membohonginya—membunuh siapapun yang mengincar (Name) dan pada saat terakhir, lelaki itu bisa puas sendiri menikmati dirinya sebagai 'mangsa'-nya.
Padahal biasanya ia adalah orang yang pintar dalam membaca ekspresi orang—tapi kenapa kali ini tidak bisa?!
(Name) mundur selangkah dan menyenderkan tubuhnya di dinding di belakangnya. Tubuhnya perlahan merosot ke bawah sambil mencengkram sweater-nya.
'Apa… yang harus kulakukan?'
Pilihan lainnya adalah—dimana ia menolak taruhan Akashi dan memikirkan jalan sendiri untuk lolos dari anak-anak gila tersebut. Tapi itu tidak mungkin—ia lihat bagaimana lihainya Akashi dalam bertarung, dan jika saja lelaki itu mengajukan duluan—maka tamatlah riwayatnya menjadi potongan daging.
Kesimpulannya, itu mustahil.
Ia setidaknya perlu seseorang untuk menolongnya. Dirinya mungkin pintar dalam membentuk strategi, tapi kepintaran tidak cukup untuk melawan mereka—harus punya kekuatan juga.
Hah.
Kekuatan?
Mungkin benar jika ia hebat berhasil bertahan dari perusahaan gelap yang menyiksanya. Namun tubuhnya hanya kuat untuk pertahanan—bukan untuk bertarung! Sama saja ia akan mati dalam waktu dekat. Apalagi kalau senjata mereka seperti Himuro—tanpa sadar ia akan kehabisan darah dan mati.
Gadis itu berhenti mengutarakan perasaannya dan memeluk kedua kakinya, sedikit bisa memberi kehangatan tapi tak membuat hatinya lega. Tak membuatnya menyalurkan ide jalan keluar.
Di saat ia sedang merenung, suara ponsel berdering membuatnya terkejut untuk sekilas. Ia lalu dengan lemah meraih ponsel yang berada di atas kasurnya dan mengangkatnya.
"Halo…?"
"Hei (Name)-chan! Kenapa lemas gitu sih?! Oh iya, sorry baru nelfon sekarang! Ibuku jadi sering les-in aku kemana-mana nih!"
Shiro.
Ah—ia ingin sekali berlari dan memeluk sahabatnya itu sekarang. Perasaannya membuncah diantara senang; sedih; rindu; dan ingin meluapkan segala isi hatinya yang menyangkut nyawanya sekarang.
Tapi ia tidak bisa.
Bagaimana kalau sampai Shiro ikut dibunuh?
"Hey kamu dengar aku tidak? Kamu masih marah?" Suaranya terdengar riang dan ceria—bertolak belakang dengan dirinya.
(Name) berusaha mengeluarkan suaranya, namun rasanya seperti ada yang menyangkut di tenggorokannya. Rasanya perih, tapi ia tetap memaksa kalimat apa saja turun dari bibirnya.
"Tidak kok, Shiro-chan…" Suaranya terdengar serak, "Aku… senang."
"Haah? Suaramu kenapa serak gitu?"
Tangannya mencengkram erat ponsel yang berada di samping telinganya itu—ia benar-benar ingin menceritakannya, tapi ia tak mau temannya itu ikut dalam survival game ini. Dia tidak mau kehilangan sahabat satu-satunya yang sangat disayanginya seperti keluarganya.
"(Name)-chan…?"
Ia… tidak bisa…
OOo Rebirthia oOo
Akashi melepas jubahnya dan melemparnya sembarangan entah kemana seusai pertemuan sialan itu ia hadiri. Pertemuan yang sungguh membuang waktunya, seharusnya ia tidur dengan nyenyak malam ini.
Ketika langkahnya ingin menuju kamarnya—tak disangka sosok (Name) muncul di sebelahnya.
Ia berhenti dan hanya memutar matanya melihat wajah gadis itu yang terhalang oleh poninya sendiri; menandakan ia sedang menunduk.
Tangannya terkepal untuk saat yang lama.
Suara gemetar serak terdengar darinya.
"Aku… a-aku… terima…" Bibirnya bergetar, "A-Aku akan b-bertaruh denganmu… Akashi-kun…"
Tidak ada kekagetan di iris miliknya; menyatakan bahwa ia sudah tahu akan keputusan gadis itu.
"Kau sudah yakin kan?"
Terdengar hela nafas panjang, "Y-Ya…"
"Hn." Akashi lantas memasuki kamarnya, "Ikut aku—aku akan memberitahumu yang kutahu tentang lawan pertamamu."
Belum ia maju satu langkah, sebuah tangan kecil menarik ujung kemeja putihnya.
"Akashi-kun… berjanjilah padaku—kau takkan pernah berbohong…"
Akashi menutup matanya, "Kita lihat saja nanti."
.
.
.
Aku hanya heran, kenapa kau memberi kesempatan pada gadis itu?
Aku tidak memberinya kesempatan.
Oh? Jadi kau berbaik hati padanya?
Aku hanya menjalankan rencanaku. Masa bodoh gadis itu mati atau tidak.
Biarkan aku menari di atas makamnya nanti.
Jangan bodoh. Tidak akan ada nisan untuk gadis itu, toh jika ia kalah dari Daiki—takkan ada bagian tubuhnya yang tersisa.
.
.
.
[ to be continued ]
a/n : Yak, bersambung dengan tidak elitnya. Haihai, saya sebelumnya mau minta maaf kalo ada yang ngarep chapter ini rated-M, tapi malah masih di rated-T, hueheheh. Tapi chapter depan (mungkin) beneran rating-nya naik, berhubung di chapter mendatang (masih jauuuh) ada Lime nyempil /hah. Saya tau ini chapter boriing sekaliih, tapi maugakmau ya harus dijelasin /ngek.
#Big thanks for :
- KuroAmalia (Waah! Jangaaan! Ini udah update kok! XD), Kitami Misaki (Kise sm Kuroko itu sama jenis(?)-nya kaya (Name), dijadiin bahan percobaan dari perusahaan yg sama :D), Silvia-KI chan (Heheh, smoga chapter ini juga bikin kamu penasaran /dihajar), Aka Shagatta (Umm, saya nggak tau sih… enak aja manggilnya /iniapa)
- mey. chan. 5872682 (Heheh, smoga aja nanti Akashi nyebar virus cintanya /eh XD), scarletjacket (Heheh, sabar aja yaa, mungkin beberapa chapter kedepan :D), Aoi Yukari (Yups ada dong, kan ntar ada lime-nya /plaks) Kanzanaki Haseo (Nggak tau saya juga bingung /lah. Ntar dijelasin kok, heheh)
- FISIKA (Yup, sangat gawat! Tapi nanti ada bang Akashi yang setia melindungiii /kalo Name-chan menang yaa /loh), Ay Seijuurou (Heheh, iya ini udah update koook :D), nabmiles (Heheh, maaf ya ini cerita emang banyak typho-nya TAT, umm Lime-nya masih jauh kok, heheh XD), ImaginationFactory (Umm, kok saya baru kepikiran yak /ikutan nge-blush /woi. Akashi kan cowo tulen, heheh :D), KiruRieRie10 (Chapter ini jg gak terlalu panjang, maaf yaaa, chapter depan pasti panjang kok :D)
- Monkey D. Writer (Hisa-chan, aku tau kok artinya Ecchi, yang isinya begi—/dibekep. Eh? Kenapa kasian?), KitsuneSMP (Ini udah dijelasin beberapa kok ^_~), Arlzureinne Karale (Heheh, maaf kalo banyak typho XD. Name-chan manusia biasa kok, cuma krena sering dijadiin bahan percobaan, dia jadi udah kebiasaan sm rasa sakit /?. Fic-mu jg keren kok, btw Kiseki Change-nya kapan di-update? /elosapamintaminta) Sa-chan Rivaille –ohoho (Mereka nggak punya hubungan masa lalu kook, Kagami nanti muncul kok pas di bagian masa lalunya Himuro :D)
Yups, pokoknya makasih banget yang udah reviewww/fav/foll, gomen kalo banyak typho dan update-nya ngaret DX. Secepatnya bakal saya edit kok, heheh. Kalo ada yang blm saya tulis, mohon bilang aja ya ._.
Karena a/n saya kepanjangan, saya mau pamit kabur baca fic MadaSaku di fandom sebelah :9
Terakhir, boleh dikoreksi, un?
Salam hangat,
E-cchi aka Euphoria
