Disclaimer :
Kuroko no Basuke © Fujimaka Tadatoshi
Akuma no Riddle © MINAKATA Sunao & KOUGA Yun
Warnings : AU/OOC/Bad language/Violence/Gore/Mature Contents/Lime in later chaps
"… The clock is ticking…
Going on and on endlessly… "
[—Goya no Machiawase, Hello Sleepwalkers
Noragami Opening Theme—]
.
.
Rebirthia
[ Trick V – Game I ]
.
.
Seharusnya Akashi bisa langsung masuk ke alam mimpi malam ini.
Ia menghela nafas sembari menyesap kopi buatan (Name). Lagi, ia tak mengerti kenapa harus malam ini menjelaskannya. Tubuhnya benar-benar lelah dan butuh istirahat, tapi setiap melihat ekspresi gadis itu yang kosong; sedih dan tidak semangat, dirinya jadi merasa bersalah. Padahal biasanya ia lebih suka melihat orang didekatnya diam, pengecualian untuk (Name). Dan jangan tanya alasannya, dia sendiri pun tidak tahu.
Karena sudah merasa enakan, Akashi lantas mengambil spidol dan mengetuk papan tulis yang sudah disiapkannya. Suara ketukan itu menyadarkan (Name) yang sedar tadi melamun.
"Dengar bocah, aku tak punya banyak waktu." Tangannya lalu menggambar dua wajah—laki-laki dan perempuan. Walaupun masih berwujud setengah, (Name) bisa langsung tahu siapa yang tengah digambar Akashi.
"Akashi-kun…"
Akashi berhenti, "Apa?"
"Gambarmu bagus."
Akashi mengusap dahinya, "Apa itu penting?"
(Name) tertawa kecil sembari mengenggam bantal yang berada di pangkuannya dan hal itu sedikit membuat perasaan Akashi lega karena dia sudah muak melihat wajah gadis itu yang murung terus menerus. Tapi tentu saja tak ditunjukannya sehingga ia kembali dengan kegiatannya.
Selesai menggambar, Akashi mengetuk papan tulisnya lagi, menandakan bahwa ia akan segera menjelaskan. Gadis itu lalu mengangkat kepalanya.
"Lawan pertamamu adalah Daiki dan Satsuki." Matanya menatap lurus ke arahnya, "Mereka spesialisasi dalam bidang bom. Entah itu bom waktu, granat maupun bom gas, kelemahannya tentu saja—senjata mereka khusus untuk jarak jauh."
Dia mengangguk.
"Mereka sangat ahli dalam merakit bom, karena itulah—untuk dua hari nanti, jangan sentuh ataupun terima barang pemberian dari mereka. Kau juga harus selalu membawa barang-barang milikmu, jangan sampai ditinggal atau akan ada bom yang diletakkan disana."
"Apa mereka juga bisa meletakkan bom di kamarku?" Tanyanya khawatir.
"Ya, bodoh."
"Tapi itu berarti mereka juga bisa melukaimu kan…?"
"Saat giliran, mereka memang bisa melukai atau membunuh peserta lain yang menganggu mereka." Akashi menaikkan kedua alisnya, "Lagipula kau harusnya khawatir pada dirimu sendiri."
"Tapi Akashi-kun kan juga temanku…" Jawabnya polos.
"Hm. Dan mereka terkadang juga suka ceroboh," Lelaki itu lalu menutup spidolnya, " setelah itu aku tidak tahu lagi. Waktumu selesai."
(Name) melongo.
"A-Akashi-kun… hanya segitu saja?"
"Hn."
"L-Lalu aku harus bagaimana…?"
"Mana kutahu. Diskusi saja dengan otakmu." Sahutnya apatis sambil duduk di kursinya dan meminum kopinya lagi.
.
.
.
Berdiam diri sambil menangis dan tak melakukan apa-apa saat mendapatkan masalah bukanlah tipe seorang gadis seperti (Name).
Memang awalnya dia sempat depresi, tak tahu harus melakukan apa—tapi ia tersadar, menangis seperti bayi takkan menyelesaikan masalahnya. Hanya masalah batinnya saja, tapi untuk realita dunianya tidak. Hal itu hanya akan membuang waktunya saja, karena itulah, ia harus menyusun startegi dengan mempergunakan waktu serta otaknya sebaik mungkin.
Di saat kebingungan seperti ini, permainan catur adalah cara (Name) untuk bisa lebih berpikir keras.
Selesainya urusannya dengan Akashi, ia langsung mengunci kamarnya dan mencari papan caturnya yang sudah ia bawa dari rumahnya. Di letakkannya catur itu di atas mejanya dan dirinya duduk dengan tenang. Ia lalu mengeluarkan pion-pionnya sesuai dengan posisi mereka. (Name) memilih sisi putih sebagai dirinya dan yang berwarna hitam sebagai musuhnya.
Dia menyilangkan jari-jarinya untuk menopang dagunya, dan langkah pertama ia lakukan dengan menjalankan pion putihnya satu langkah.
"Umpan." Ia berbisik dengan suara yang hanya bisa didengar olehnya, "Pertama-tama, aku hanya perlu bersikap bodoh dan membiarkan diriku menjadi umpan."
Jemarinya lalu memajukan pion hitam, "Lalu salah satu dari mereka akan menyerangku. Aku harus melawannya, namun tidak melukainya. Sulit sih, tapi kalau si 'X' punya bom gas, aku harus bisa merebutnya dan kabur."
(Name) melakukan hal yang sama dengan pionnya lagi, dan untuk yang berikutnya, pion lawan ia berikan dua langkah, "Aku akan lari dan dihadang oleh yang satunya lagi. Yang kedua pasti lebih kuat, tapi Akashi-kun bilang, mereka cukup ceroboh. Untuk yang kedua, mungkin aku bisa mengecohnya dengan sedikit logika."
"Lalu berlari lagi… dan, apa?" Ia memandang papan caturnya rumit, "Apa rencana mereka selanjutnya? Prediksiku lemah nih haah…"
Gadis itu menenggelamkan wajahnya di lipatan kedua tangannya untuk beberapa menit, "Selalu saja begini... saat aku bermain dengan Mayu-nii juga aku pasti selalu bingung untuk menjalankannya di giliranku yang satu ini… pion? Kuda? Mana yang harus kujalankan?"
"Apa mungkin benteng? Terlalu beresiko memang… tapi siapa tahu ada keberuntungan…" (Name) menyimpulkan asal, "Hmm, bagaimana ya? Apa harus seperti itu…?"
Ia lalu mengacak-acak rambutnya, "Dame, dame! Keberuntungan saat pertengahan itu jarang terjadi tahu! Jangan mengharapkannya dong, baka!"
(Name) menghela nafas, rambutnya menjadi kusut sekarang.
Dia bergumam.
"Apa keberuntungannya harus kuatur ulang jadi di awal?"
.
.
.
"Hee, jadi ini keinginanmu dan Aomine-cchi?"
Kise mengusap dagunya sambil memandang bingkai foto yang diambilnya dari meja rias milik Momoi. Malam seusai pertemuan rahasia Black Class, Momoi mengajak teman seruangannya itu ke kamarnya dan membicarakan bahwa ia dan Aomine akan mulai pertama—sesuai janjinya saat itu. Lelaki itu tak bisa menolak lantaran pasangan yang selalu meributkan hal sepele ini sudah mengajukannya lebih dulu daripada yang lain.
Bingkai di genggamannya terdapat sebuah foto tiga orang, yaitu dua anak kecil dan sosok seorang wanita yang tersenyum di belakangnya. Kedua bocah sudah dipastikan bahwa itu adalah Aomine dan Momoi yang sedang cemberut dengan mencubit pipi satu sama lain.
Kise mencoba mengira-ngira, "Jadi kau dan Aomine-cchi itu bersaudara-ssu?"
Tawa pelan menjawab pertanyaannya, "Kami tidak bersaudara, Ki-chan. Wanita yang dibelakang kami berdua itu ibuku."
"Oh…?"
"Orangtua kami sudah bersahabat lama—demikian pula denganku dan Dai-chan." Ia menyisir rambutnya dan menutup matanya, "Namun orangtua Dai-chan dan ayahku meninggal saat kami berusia 5 tahun."
Kise hanya menganggukkan kepalanya.
"Sejak itulah Dai-chan menjadi keluargaku. Kami selalu bersama—sampai saat ini." Momoi kemudian menghela nafas, "Namun karena terlalu bekerja keras, ibu jadi sering sakit-sakitan. Dan kami butuh uang yang banyak untuk menyembuhkan penyakitnya."
Kise sedikit menaikkan wajah, "Hee, kalian benar-benar sayang keluarga, hm?"
"Maa, begitulah…"
"Dan kalau kalian kalah, wanita tua itu akan mati, hm?"
Momoi berhenti memanjakan rambutnya. Fuschia-nya terbuka dan memandang Kise yang sedang tersenyum.
"Dengar, Ki-chan. Aku tidak peduli sekuat apa dirimu itu tapi jika kau lancang padaku lagi…" Gadis itu lalu mengambil sebuah kotak kecil berwarna hitam dan menekannya, "Akan kuledakkan bom ini ke mulutmu."
Setelah ditekan, terdapat tanda titik merah dan bercahaya ke arah Kise. Diangkat tangannya untuk menutupi sinar yang menyilaukan wajahnya.
"Gomen, gomen!" Kise tertawa, "Ayolah, Momo-cchi—kau seharusnya ke tempat Aomine-cchi kan sekarang? Untuk menyusun bom-bom sialan itu-ssu?"
.
.
Esok harinya, semuanya terlihat biasa.
Dari tempatnya ia terus mengawasi (Name) yang sekarang sedang mengobrol bersama Riko dan Kise. Dapat dilihatnya (Name) yang sedang dirangkul Kise yang duduk di atas meja guru. Akashi tak tahu apa yang sedang dibicarakan mereka, ia hanya bisa melihat dari balik lipatan tangannya. Untungnya bangku kepunyaannya berada paling belakang, sehingga tidak ada yang memperhatikannya. Kalaupun ada, dari jauh ia terlihat sedang tidur.
Lebih dari lima menit ia memperhatikan, tak ada yang aneh disana. Mereka bertiga tertawa selagi membicarakan sesuatu. Terkadang wajah (Name) bersemu merah dan gadis itu segera menutupi wajahnya dengan tangannya. Mungkinkah Kise sedang menggodanya?
Cemburu?
Tinggalkan aku sendiri.
Kau tidak suka gadismu masuk ke dunia harem, eh?
Akashi tak mau membalas, ia terlalu malas untuk memulai perdebatan lagi.
Otaknya kembali teringat pada kedua orang yang akan menjadi lawan pertama (Name)—Aomine dan Momoi. Sialnya mereka berdua tak masuk karena alasan sakit—jadi Akashi tak bisa mengetahui rencana mereka. Tapi ia dapat menduga bahwa keduanya telah mengurusi 'pertunjukan' mereka besok. Ia tahu, merakit maupun memasang bom di tempat-tempat tertentu bukanlah sebuah hal yang mudah dan membutuhkan waktu yang cukup lama.
Masalahnya, dimanakan mereka akan meletakkan bom-nya?
Terakhir kali ia mencari tahu informasi tentang duo perakit bom itu, adalah empat hari yang lalu. Akashi tidak pernah mempercayai internet, baginya hampir seluruhnya disana termasuk berita bualan yang suka dilebih-lebihkan. Dia lebih menyukai mencarinya lewat koran, buku, dan apapun yang relevan dan punya kepastian.
Pemikirannya masih berlanjut sampai dia menemani (Name) untuk makan di kantin.
Dan gadis itu tetap ceria seperti biasanya, tetap banyak bicara dengan berbagai pembahasan konyol di setiap ceritanya. Hari ini dia bercerita tentang Anime yang disukainya, tokoh bishies yang diidamkannya sebagai pangeran di kehidupannya. Gadis itu tak lelahnya menyebutkan satu persatu karakter favoritnya, dimulai dari Eren Yeager, Hibari Kyouya, Haruka Nanase, Levi, Okita Sougo, Sasuke Uchiha—semuanya dijelaskan dengan rinci sampai-sampai Akashi hafal semua namanya.
Dan tanggapan Akashi adalah—
"Kau terlalu banyak berkhayal. Mereka kan tidak asli."
"Ih apaan sih! Siapa tahu ada kan?" (Name) menggerutu, "Akashi-kun juga pasti suka karakter Anime kan? Biar kutebak! Akashi-kun pasti suka tokoh tsundere ya?"
"Tidak." Jawabnya cepat.
"Hmm, kalau begitu pasti yang punya oppai besar kaya di anime Hentai kan?! Ihh Akashi-kun no ecchi!"
"Aku pernah menontonnya tapi bukan berarti aku menyukainya."
"Aku menonton apapun yang kusukai! Aku bahkan masih suka Spongebob! Dengarkan nyanyianku ya!" (Name) lalu menggandeng tangan Akashi dan membuka mulutnya, "Let's gather around the campfire, and sing our campfire song!…. OUR C-A-M-P-F-I-R-E S-O-N-G SONG!"
Sebelum lagu itu selesai, Akashi sudah membekap mulut (Name) dengan tangannya. Dalam hatinya ia sempat bingung mengapa (Name) bisa bersikap ceria meskipun besok adalah penentuan apakah dia masih bisa hidup atau tidak.
… Atau mungkin, ia sudah menyusun startegi?
.
.
.
"Akashi-kun! Aku mau beli komik di sana, sebentaaar saja, yah? Yah?"
Keduanya saling berpandangan saat sedang berjalan pulang ke apartemen mereka. Belum sampai setengah jalan, (Name) sudah meminta hal yang aneh-aneh.
Dan—ugh, Akashi tidak tahu kenapa. Ia tak bisa menolak permintaan gadis itu yang kini memohon padanya dengan puppy eyes-nya.
"Baiklah." Ia menghela nafas, "Jangan lama-lama."
"Yoshaa!"
Dan kemudian gadis itu berlarian seperti orang gila menuju toko buku yang tidak terlalu jauh tersebut. Jaraknya hanya melewati satu gang sepi dan menyebrang.
.
.
.
"Hmm, Naruto sudah… Noragami, Gintama, sama Bleach juga sudah… emm… segini saja dulu deh…"
(Name) bergumam pelan selagi membawa tumpukan manga yang ingin dibelinya. Ia tahu ini termasuk pemborosan di hari awal-awal ia sekolah—tapi mau bagaimana lagi? Ia bisa bosan setengah mati jika terus-terusan berada di ruangan yang sama dengan Akashi setiap hari—bayangkan saja! Meskipun ia memang terbiasa dengan orang yang bertipe sepertinya di rumah, bukan berarti ia bisa tahan dalam waktu yang lama!
Di rumahnya untungnya masih ada Shiro, tetangganya dan berbagai mainan di rumahnya. Tapi disini—
Ia tak bisa mempercayai siapapun.
Bahkan Akashi—ia tahu lelaki itu pasti curiga dan bingung dengan sikap cerianya.
Itu hanyalah pura-pura, dan ia tidak menyesal dengan apa yang akan menjadi konsenkuesi-nya.
Berusaha menenangkan diri, (Name) kemudian tersenyum pada wanita tua yang mengurusi pembayaran buku yang ia beli. Dan dia balik tersenyum, menyerahkan barang pembeliannya. Setelah mengucapkan terima kasih, gadis itu lalu keluar dan berjalan sendirian melewati gang yang cukup sepi.
Tidak ada orang disana.
Ia tahu.
Dan ini termasuk kesempatannya.
Dia harus—
'BRUK!'
"A-Ah maaf!"
"(Name)?"
Gadis itu tersentak mendengar suara berat dari orang yang ditabraknya tadi. Tangannya yang semmpat terjulur untuk mengambil kantung bukunya yang jatuh pun terhenti. Ia lantas mendongak.
"A-Aomine-kun…?"
"Sial, kukira tidak akan ada yang melihatku bolos." Lelaki berkulit tan itu tersenyum miris, ia lalu sedikit menunduk untuk membantu mengambilkan buku pembelian (Name) dan menyerahkannya. Dengan gugup, gadis itu menerimanya meskipun dalam hatinya ia merasa takut karena bertemu orang ini.
Orang yang akan menjadi lawannya besok.
(Name) mengerjapkan matanya saat melihat jam tangan milik Aomine.
"A-Aomine-kun… kupikir jam tanganmu agak rusak saat bertabrakan tadi…"
"Huh?" Ia menurunkan pandangannya ke arah tangan kanannya, "Perasaan tidak apa-apa kok…"
"Tidak—aku tahu betul, Aomine-kun. Sini biar kubetulkan."
Aomine hanya terdiam saat (Name) dengan perlahan melepaskan jam itu dari tangannya. Si surai hitam membawanya lebih dekat ke penglihatannya. Jemari mungilnya memutar dan dia terlihat seperti professional.
Dan dalam waktu yang cukup lama itu, sebuah ide licik terlintas di pikiran Aomine.
"Kupikir kau sudah tahu tentang permainan itu, hm?"
Ia hampir saja menjatuhkan jam tangan yang tengah dibetulkannya. Kedua matanya menatap horror Aomine yang wajahnya semakin dekat dengannya.
Nafas hangatnya terasa di depan wajahnya, "Jawab aku, (Name)."
Lidahnya kelu.
Aomine menyeringai, "Kuartikan diammu itu sebagai iya, eh?"
(Name) tak berani menjawab, bibirnya serasa kering dan rona merah di pipinya semakin menjalar ke setiap sudut karena bibir Aomine mulai mendekati miliknya.
Dan satu detik kemudian—ia merasakan sesuatu yang lembut menyapa bibirnya.
(Name) masih tidak mempercayai Aomine yang sekarang mencium bibirnya, dengan kasar—lelaki itu kini menahan tubuhnya dengan mendorongnya ke dinding di belakangnya, menimbulkan rasa sakit karena terbentur benda keras tersebut.
Dan dia sungguh-sungguh melakukannya—melumat bibir tipis di depannya dengan ganas. Gadis itu berusaha mendorongnya dengan kedua tangannya, menendangnya, tapi nyatanya dibandingkan dengan Aomine ia bukanlah apa-apa. Hanya gadis lemah yang innocent.
Pemuda bersurai gelap itu menggeram karena (Name) tak kunjung membuka bibirnya, tak membiarkan lidahnya untuk masuk ke dalam mulutnya. Kesal, akhirnya ia menggigit bibir gadis didepannya dengan kuat, menyisakan darah dari lukanya.
(Name) menjerit, "He-Hentikan!"
"Ssh…"
"Kumohon, ja—"
"Kenapa, hm? Kau seharusnya bersyukur aku masih memberi hadiah untukmu sebelum kematianmu besok."
(Name) melotot dan kali ini mendorong Aomine lebih keras, "K-Kamu pikir aku akan mati besok?! Jangan sombong!"
"Ohh? Baru sebentar bersama Akashi, sifatnya sudah memanipulasimu, eh?"
"Aku tidak—"
"Dan kau mempercayainya? Mempercayai monster bermuka dua seperti dia…?" Aomine tertawa, "Kau itu sama saja seperti korbannya yang lain! Kau hanya akan berakhir jadi potongan daging karena terlalu percaya dengannya!"
'PLAK!'
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Aomine dengan cepat. Desisan meluncur dari mulut lelaki itu, menunjukkan kekesalannya. Ia berniat membalasnya, namun (Name) sudah memotongnya dengan suaranya.
"Mau kamu ataupun Akashi-kun… bukankah semuanya sama saja…?"(Name) mengepalkan tangannya, "Kalian membunuh orang demi keinginan kalian… aku tahu kalian memang punya alasan masing-masing tapi…" Ia menggertakkan giginya, "Apa… yang kalian pikirkan…?"
"Haah? Satu nyawa untuk satu permainan itu kan termasuk sedikit!"
"Se… dikit…?" Ia semakin menggeram, "Satu nyawa—dan kamu pikir berapa orang yang terikat dengan mereka…? Mereka juga punya orang yang disayangi—! Nyawa bukan untuk permainan! Kau pikir—"
'BLETAK!'
"Ittai!" Omongan (Name) terpotong oleh teriakan Aomine yang baru saja kesakitan karena ada yang melempar bola basket ke kepalanya. Keduanya lalu menoleh ke arah sosok bersurai merah muda yang berjalan mendekati mereka.
"M-Momoi-chan…"
"Satsuki, teme! Buat apa kau melemparku bola itu hah?!" Seru Aomine yang masih memegangi kepalanya.
Momoi hanya memutar matanya dan mendengus, ia tidak menjawab pertanyaan sahabatnya dan melipat tangannya di dada. Sorot matanya tidak teralihkan dari (Name).
Gadis itu dengan tiba-tiba tersenyum manis, "Maafkan Dai-chan ya, (Name)-chan! Dia memang suka usil sama perempuan!" Perkataannya diikuti dengan wink yang diperlihatkan di wajahnya, membuat (Name) sedikit kebingungan dengan aksinya.
"Tapi (Name)-chan… dia memang benar loh tentang kau yang pasti kalah!" Senyumnya bertambah lebar, "Kami ingin keinginan kami terkabul—kami juga masih mau sekolah disini! Soalnya menyenangkan banget sih!"
Perasaan senang karena bertemu Momoi kini lenyap seketika.
"… Hah! Selama ada dada yang kucari di sekolah ini, aku akan berjuang untuk tetap sekolah disi—"
'BUUUK!'
Tiga menit kemudian, kepala Aomine sudah diinjak Momoi ke tanah.
"Dai-chan! Kamu ini benar-benar hentai ya?! Jaga omonganmu dong di depan (Name)-chan!" kakinya semakin menekan.
"Soooo, (Name)-chaaan, persiapkan dirimu untuk mati besok, oke?"
"S-Sudah kubilang, kalian tidak berhak menentukan!"
"Hee? Jaa…" Momoi mengeluarkan sebuah kertas kecil dan memberikannya pada (Name).
"Kau tidak keberatan untuk datang ke tempat pertunjukkan kami, kan?"
.
.
.
Café Roulette tidak pernah sepi dari pelanggan; hampir setiap harinya pelanggan setia maupun baru selalu datang kesana. Café yang sudah lama dibuka di seberang jalan itu mungkin terlihat mungil dan sederhana, tapi ada jaminan saat kau masuk ke sana, kau akan betah sampai berjam-jam meskipun hanya duduk menikmati secangkir capuccino.
Siapa yang sangka kalau pemilik Café ini adalah seorang gadis yang baru saja masuk SMA tahun ini?
"Aa, Riko-cchi! Satu Mocaccino untukku ya!"
"Kise, kenapa kau ada disini?"
Kise berhenti memainkan lonceng kecil berpita yang menjadi salah satu hiasan di meja yang ditempatinya. Suara nyaringnya tergantikan dengan mulutnya yang membuka suara, ditambah dengan seringai. Ia berbisik.
"Aku hanya ingin tanya kenapa kemarin kau tidak datang."
Riko memutar matanya, "Buat apa aku datang?"
"Oh…? Memangnya kau sudah tahu peraturannya-ssu?"
"Aku tahu. Tidak perlu datang—Kokkuri-san* sudah meramalkannya."
Alis lelaki berparas tampan itu menyatu, "Kokkuri… san…? Ramalan…? Kau ternyata pengikut Midorima-cchi-ssu?!"
"Tidak. Aku tidak bekerja sama dengannya."
"Hee?"
.
.
.
"Ambil ini."
"Sudah kubilang aku nggak akan—"
"Menembak? Apa kepalamu baru kebentur tembok atau apa, huh? Kau tidak akan selamat dengan bekal otak setengah idiotmu itu."
"M-Mou! Meskipun kamu lebih pintar dariku, bukan berarti aku idiot!"
"Aku tidak bilang kalau kau sepenuhnya idiot. Sudahlah, bawa saja."
"Oookaaaay?"
"Dasar idiot."
"HAH! Lihatlah sekarang ke layar!"
"Aku tahu memang ada yang salah dengan otakmu."
"Maksudmu?"
"Besok adalah penentuan nyawamu akan melayang atau tidak, tapi sekarang kau malah bermain game."
"….."
"….."
"… Aku bersikap tenang karena kamu memberikanku dua poin penting, Akashi-kun. Dan aku tidak akan menyia-nyiakannya."
"Dua poin…?"
"Kecerobohan dan waktu."
"….?"
"… Akashi-kun, apa yang akan terjadi jika pertarungannya masih berlanjut meskipun waktunya sudah habis?"
"… Tentu saja salah satu dari kami akan dikirim untuk memeriksa dan akan menyelesaikannya secara paksa."
"Aa."
"….? Mau kemana kau?"
"Tidur, tentu saja."
"Oh…?"
"... Dan poin yang ketiga, Akashi-kun."
"Hm?"
"Aku lebih unggul dalam bermain Counter Strike daripada yang lain."
"Hah?"
.
.
.
Alex selalu merasa ada yang aneh dengan murid kelasnya tahun ini.
Baiklah, mungkin ini terlalu berlebihan—tapi ia juga tak bisa mengelak. Baru beberapa hari bersama mereka, ada sesuatu yang janggal disana. Dan itu adalah hal yang tak bisa terdefinisi olehnya; entah itu kepribadian atau latar belakang mereka; Alex tak bisa menentukan. Dia hanya mengikuti kata hatinya, yang berkata bahwa ada keanehan di antara mereka.
Kecurigaannya sebenarnya sudah terbit dari awal, saat ia meminta data personal milik muridnya pada Imayoshi—pengurus kelas unggulan baru yang menggantikan pengurus lama untuk sementara. Lelaki itu masih muda, mungkin umurnya hanya tiga tahun di bawahnya.
Kembali ke permasalahannya, tiap Alex meminta data anak kelasnya, Imayoshi selalu menolak sambil tersenyum rubah ke arahnya. Dia beralasan bahwa data tersebut tidak diperbolehkan diberikan pada Alex karena termasuk rahasia sekolah. Dan hal ini justru semakin membingungkan Alex—sekaligus penasaran. Karena hanya tahun ini saja ia dapat berita seperti itu.
Tapi kenapa? Kenapa kepala sekolah tidak memperbolehkannya seperti tahun-tahun yang dulu?
"Sensei—bisa kita pulang sekarang? Aku sudah lapar."
Suara Murasakibara membuyarkan lamunannya. Ia berhenti menopang dagu dan mengangguk pelan. Dirinya yang tidak banyak bicara hari ini rasanya aneh sekali dipandang oleh murid-muridnya. Tapi mereka membiarkannya saja.
Setelah semuanya keluar dari kelas, Alex menghela nafas sambil melihat daftar absennya.
"Aomine-kun dan Momoi-chan tidak masuk lagi, huh?"
.
.
.
Akashi memasukkan tangannya ke saku celananya, bersikap tenang dan cuek selagi berjalan bersama lagi dengan (Name). Entahlah, sepertinya hal ini sudah harus menjadi rutinitasnya. Hal yang tidak disukainya adalah bahwa kenyataan ini membuatnya terlihat seperti bodyguard (Name) yang terus-terusan mengantarnya pulang, bahkan tinggal di tempat yang sama. Kadang ada saja yang berpikiran ambigu tentang hubungan mereka.
Terutama jika Kise ikut bersama mereka, Akashi bisa-bisa hilang kendali dan langsung menghajar Kise di tempat.
Untungnya beberapa hari ini lelaki beriris kuning itu sedang sibuk mengerjakan hukuman dari sejumlah sensei-nya karena dia selalu mendapat nilai jelek di tugasnya. Hal ini membuat Akashi bernafas lega.
Namun ada satu gangguan lagi—
'Bertaruhlah denganku. Menurutku gadis itu akan menang.'
'Tutup mulutmu atau kubunuh kau.'
'Gertak sambal. Perlu berapa kali lagi kuingatkan bahwa aku yang mengendalikan tubuhmu?'
'Sampai kurobek kau jadi kain rombengan dan percayalah bahwa ini TUBUHKU.'
—yang tak lain adalah—
'Heh, jaga mulutmu. Kau nggak bakal mati enak loh.'
'Siapa juga yang minta pendapatmu?'
'Wah. Kelebihanmu cuma wajah brengsekmu yang tahan satu menit itu ya?'
'… Kau memang top sedunia soal kosakata kotor ya?'
'Ohh akhirnya kau memujiku.'
—kepribadian ganda-nya sendiri.
Perdebatan antara dirinya dan Alter Ego-nya seperti tidak akan ada habisnya. Mereka saling tak mau mengalah, dan mungkin itu satu-satunya sifat yang sama dari mereka. Alter Ego dominan memiliki kepribadian yang sangat bertolak belakang. Karena Akashi sudah terbiasa—mungkin sifatnya lama-lama menjadi mirip.
Meskipun sudah terbiasa, Akashi tentu merasa terganggu dengan kehadiran satu 'jiwa' yang sifat haus darahnya melebihi dirinya sendiri.
Dan hanya Akashi yang tahu, mengapa Alter Ego itu bisa lahir di tubuhnya.
Dan hanya dia yang tahu—rahasia dibalik kepribadiannya yang satu ini.
Atau mungkin, beberapa korban yang sudah dibunuhnya tahu akan kedua jiwa yang membunuh mereka.
Dia takkan membiarkan siapapun yang mengetahui rahasianya hidup.
Dia—
'Hey, ngomong-ngomong, dimana gadis itu?'
.
.
.
Sekarang sudah pukul 17.00 tepat.
Gadis dengan rambut yang mencapai pinggul itu meremas kertas yang baru saja dibacanya. Dia mengangkat kepalanya untuk melihat lebih jelas pada bangunan yang tidak terlalu besar namun terlihat tua. Ia cukup susah mencari tempat ini lantaran cukup jauh dari sekolahnya maupun apartemennya.
Benar—tempat dimana kedua orang itu akan bermain dengannya.
Ia tidak tahu sekarang ia kelihatan bodoh atau tidak. Dia mengikuti apa yang dikatakan Momoi, ia datang ke tempat ini. (Name) melakukannya bukan karena cari mati, melainkan ia ingin cepat menyelesaikannya.
(Name) bersyukur tadi sempat ada pelajaran tambahan, karena artinya ia bisa lebih mengulur waktu. Dia memang telat satu jam, dan dia takkan membuat dirinya lebih telat lagi. Momoi sudah mengancamnya, setelah pulang sekolah, ia harus langsung pergi ke tempat ini.
Dan satu hal, cukup susah untuk memisahkan dirinya dari Akashi.
Untungnya saat itu Akashi sepertinya sedang melamunkan sesuatu sehingga tidak memperhatikan (Name) yang sudah menjauh darinya. Tapi ia sendiripun tak tahu apa yang akan terjadi jika Akashi ikut bersamanya.
Tapi itu sudah tidak penting lagi—yang perlu dipersiapkan sekarang adalah, mental serta kinerja otaknya.
Ia, sendirian, harus menghadapi dua perakit bom yang handal.
Hanya dengan berbekal kecerdikan otaknya, satu pistol dan mungkin keberuntungan.
Sang dara menarik nafas berat, ia kemudian mengambil pistol pemberian Akashi yang berada di saku kecil yang terikat di paha kanannya, dan ia berusaha sekeras mungkin untuk menyembunyikannya. Jemarinya membawa pistol itu lebih dekat dengan wajahnya. (Name) menatapnya lama sembari berpikir.
Aku tidak boleh melukai mereka. Tidak boleh sampai fatal.
(Name) memasukkan beberapa peluru kesana dan memastikan kembali bahwa ia sudah menaruhnya dengan benar. Selesainya, ia meletakkan lagi ke tempat semula.
Gadis itu menutup matanya, jantungnya berdebar keras.
Aku pasti menang, pasti.
Dan setelah langkah ketiga, pintu di belakangnya sudah tertutup keras.
.
.
.
(Name) tidak terlalu bisa menangkap pemandangan di sekitarnya. Di dalam gedung ini cukup gelap ditambah dengan langit sore yang cahayanya mulai memudar. Dia hanya tahu ada beberapa tangga yang sudah rapuh dan pegangannya juga bergerigi, sehingga jika kau menaiki tangga dan menyentuhnya, maka tanganmu akan langsung tertusuk.
Ia berusaha agar matanya bisa memandang lebih fokus. Jujur, dirinya takut apabila Momoi ataupun Aomine menyerangnya dari belakang.
Tapi sepertinya hal itu tidak mungkin, karena senjata mereka adalah bom, mereka akan menyerangnya dari jarak jauh.
(Name) sudah mengecek berbagai sudut di sekelilingnya dengan hati-hati. Dan tidak ada bom yang diletakkan disana.
Ia mulai kebingungan—kenapa mereka tidak memasang bom disini?
Pasti ada sesuatu yang janggal, pasti.
Suasananya sangat sepi, hening—dan keduanya benar-benar hebat dalam menyembunyikan keberadaan mereka jika ia boleh memuji.
Jantungnya semakin berdebar keras, sampai-sampai ia takut akan bergema disana.
Satu menit, dua menit—
Tidak ada yang bersuara.
Tiga menit.
(Name) menutup matanya.
Empat menit.
Ia semakin takut.
Lima menit—
"Menungguku, (Name)-chan~?"
'GREB!'
(Name) merasakan sebuah tangan menjepit lehernya ke bahu seseorang dari belakang. Dari surai rambutnya yang terasa di kulit (Name), ia tahu bahwa yang hampir mencekiknya adalah Momoi Satsuki. Si surai hitam tak habis pikir—ia masih kaget akan keberadaan Momoi yang datang secara tiba-tiba tanpa terdengar olehnya.
Leher (Name) tertahan di bahunya oleh lengan yang cukup kuat itu sekarang, "Sebenarnya aku lebih suka kalau ada penonton, tapi untukmu, sepertinya tidak perlu hm?"
Tangan (Name) berusaha melepaskan tangan Momoi dari lehernya. Nafasnya tercekat dan tenggorokannya mulai terasa sakit. Ia ingin berteriak, namun kalimatnya tertahan. Kakinya menendang ke belakang, tapi dia punya tenaga yang sebanding dengan gadis itu.
Momoi kembali berbicara di dekat telinganya, "Aku tahu kau pernah dijadikan percobaan… dan sepertinya tubuhmu hanya tahan terhadap racun dan sayatan eh? Berarti kalau aku menahan nafasmu—"
"A-AGH!" (Name) menjerit saat Momoi mulai mempersempit ruang nafasnya.
"—dan melakukannya lebih keras seperti ini!" Lengan pucat itu semakin menjepit lehernya ke tubuhnya.
Ia menjerit lebih keras. Ia mulai memuntahkan air liurnya sendiri. Keringatnya mulai turun dari pelipisnya.
Ia… tidak bisa menahannya lagi.
"Dan jangan pikir—kami hanya pengguna bom ya~" Secara lambat, irisnya berputar ke belakang untuk melihat apa yang dimaksudkan oleh Momoi.
Dan matanya membulat—tangan kanan gadis itu mengeluarkan sebilah pisau bergerigi dari saku jaketnya.
Dan tanpa basa-basi—benda tajam itu sudah menusuk paha kanan (Name) dengan cepat.
(Name) menggigit bibir, berusaha untuk tidak menjerit. Ia tahu jeritan akan hanya memuaskan telinga Momoi. Tapi astaga—
Gadis itu…
Menusuknya terlalu dalam…!
Ujung pisau itu semakin masuk ke dalam dagingnya, dan kini kulit pucatnya bermandikan darah yang mengalir dari sana. Mungkin sudah sampai pertengahan.
(Name) merasakan sakit yang cukup membuat matanya mengeluarkan air matanya. Nafasnya tersengal karena merasakan dua kesakitan yang berbeda tempat. Kakinya mulai mati rasa, kepalanya serasa berputar-putar.
Tidak merasakan penyiksaan pada badannya dalam waktu lama memang membuatnya kurang terbiasa dengan rasa sakit. Tapi ia masih bisa menahannya—setidaknya untuk beberapa menit ke depan.
Tapi ia harus cepat-cepat menyingkirkan kedua tangan itu—harus! Sebelum kakinya benar-benar akan menghambatnya.
Tangan kanannya terlepas dari lengan Momoi yang masih menjepitnya. Dengan perlahan, turun ke bawah dan dengan gemetar meraih pistol yang berada di paha kanannya yang tertutupi rok pendeknya. Ia masih bersyukur Momoi belum tahu bahwa ada pistol disana.
Dan…
Berhasil!
Ia meraih pelatuknya secara sembunyi, tapi sasarannya bukan ke arah Momoi melainkan—
—beberapa kaca yang ada di dekatnya.
Dia ingat konsepnya sendiri, membiarkan keberuntungannya berada di awal.
Meskipun ia tak yakin dengan rencananya sendiri.
Ya, itu hanya perkiraannya.
Ia berharap kaca di sana termasuk kaca anti peluru—dan saat ia menembak, maka akan memantul ke tangan Momoi yang masih menusukkan senjatanya ke kakinya.
Dan jika tidak—ia terpaksa menembak Momoi di tempat tertentu.
Jujur, ia akan menghindari apa yang namanya melukai temannya sendiri. Tapi—
'TUK!'
"I-ITTAI!"
'Berhasil…!' Setelah mendengar teriakan Momoi dan merasakan tubuh gadis itu melompat ke belakang karena kesakitan dengan peluru yang memantul ke arahnya, (Name) terbebas darinya.
Ia tak membuang waktu banyak—selesainya ia bernafas dengan normal, dia langsung mencabut pisau itu dari pahanya meskipun rasanya sangat, sangat sakit. Tapi ia harus menahannya, dan segera lari.
Momoi masih sibuk dengan memperhatikan kulitnya yang tergores oleh peluru yang terpantul dari kaca. Ia mendesis, sebenarnya itu hanya luka kecil—tapi ia hanya masih kaget dengan kecerdikan (Name).
Gadis kecil itu kemudian memasukkan pistolnya kembali dan berjalan terseok. Meskipun kaki kanannya benar-benar mengalami luka yang cukup parah, ia tetap bisa mempercepat langkahnya dan dengan cepat menghilang di kegelapan.
Pemilik rambut harum manis itu mengepalkan tangannya—sial, dia membiarkan mangsanya lari kali ini.
.
.
.
(Name) berisitirahat sebentar di ruangan yang baru saja ia masuki.
Dia langsung menyenderkan badannya ke tembok dan duduk. Gadis itu lalu memperhatikan luka dalam di kaki kanannya. (Name) membiarkan air matanya mengalir untuk sementara, dan tanpa banyak pikir ia langsung merobek bagian lengan seragam sekolahnya. Setelah itu, diikatnya kain putih itu di lukanya.
(Name) menggigit bibir keras untuk menahan jeritan akan kesakitannya, darahnya sudah cukup banyak keluar dan ia yakin ada jejak darah di lantai saat ia berjalan. Tapi ia tak peduli lagi, ia hanya perlu merebahkan dirinya untuk beberapa menit.
Kakinya terjulur ke depan. Membiarkannya merelaksasikan diri.
Ia lalu meraba pelipisnya yang berdenyut, dan kemudian tertawa miris.
'Dasar bodoh…'
'Bodoh, memalukan sekali. Sudah menyombongkan diri pada mereka, dan baru setengah jam, aku sudah terluka seperti ini.'
'Mereka benar-benar… gila.'
'Aku tidak mungkin kuat untuk menahan serangan psikopat yang lainnya… karena itu—'
'Aku harus menang—dan bekerja sama dengan Akashi-kun… baiklah... ayo (Name)... ingat rencana selanjutnya!'
(Name) memaksakan tubuhnya untuk berdiri, dia harus bisa melanjutkan permainan ini.
Dia—
"Hey (Name)."
—berhenti. Menoleh ke arah suara yang menyambutnya.
Irisnya melebar. Itu—
"Kau…"
—Aomine. Aomine Daiki. Lelaki yang sekarang sedang membawa bom kecil di tangannya
"… Pernah dengar istilah…"
Dan tanpa pikir dua kali pun ia tahu kalau ia harus—
"… kalau keberuntungan tidak datang dua kali?"
—LARI.
Secepat mungkin. Darinya.
.
.
.
[ to be continued ]
[ bagian lima koma lima ]
Saat pagi hari itu, (Name) sedang meraba pistol yang diberikan Akashi tadi malam. Dirinya masih berpikir keras, sekaligus mengulangi susunan rencananya. Ia bingung akan keputusannya sendiri. Gadis itu tak tahu apakah membawa pistol akan memperbaik atau memperburuk keadaannya nanti.
Karena kesal, ia akhirnya memasukkan senjata itu kedalam tasnya saja. Saking frustasinya, pistolitu dilemparnya asal dan langsung menutup resleting tasnya. Tidak peduli benda itu disimpan dimana.
Dia lalu keluar dari kamarnya dan memakai kaus kakinya. Dia tidak langsung berangkat—(Name) menunggu dulu Akashi yang masih mandi. Toh ini masih sangat pagi, jadi mereka tidak akan terlambat.
Saat sedang memakaikan benda itu, terdengar bunyi pintu dibuka dan (Name) langsung tahu itu Akashi yang keluar dari kamarnya. Dan dia tahu kebiasaan lelaki itu yang keluar seenaknya saja dengan seragam sekolahnya yang belum dikancingi sampai atas beserta celana panjangnya. Tanpa melihatpun, dia tahu.
(Name) berdiri usai memakai kaus kakinya. Belum sempat ia berbalik, ada tangan yang merangkulnya dari belakang.
"(Name)…"
Gadis itu merinding saat 'Akashi' menyebut namanya dan nafasnya yang menerpa lehernya. Air yang berasal dari rambut merah lelaki itu yang masih basah mengalir ke seragamnya.
"A-Akashi-kun…?"
(Name) tidak tahu maksud tangan teman sekamarnya itu apa—entah ingin merangkulnya atau mencekiknya. Yang pasti, daritadi tangannya tidak bergerak.
Dan dia berbisik—
"Buktikanlah kau pantas berada dalam permainanku." Tangannya kini terlepas, membelai rambut panjangnya yang tergerai—menciumnya, seperti sedang menghirup aromanya, "Kau harus menang."
Dan (Name) tahu—saat itu, bukan Akashi yang berbicara padanya.
[ 5.5 – fin ]
a/n : Iniapainiapa saya bikin apa. Hahah, saya gak bisa ngomong banyak deh. Saya cuma mau minta maaf karena di chapter ini, saya cuma bisa balesin pertanyaan readers, berhubung saya udah mau masuk SMA.
Btw, *Kokkuri-san itu termasuk salah satu permainan dengan roh di Jepang. Mereka bisa tanya tanggal kematian dan lain-lain—kebenarannya tergantung yang mana yang menjawab, karena ada tiga roh disana. Ini kaya permainan Ouija Board, dan Riko disini sifatnya emang percaya sama hal-hal yang berhubungan sama hantu. Tapi minna-san jangan percaya ya… ini cuma mitos di Jepang aja.
Daan karena tugas saya dirumah belum selesai coretkarenamalescoret, dua saudara (?) saya yang akan membalas pertanyaannya ^^
# ASK #
Madara : Hah? Kok aku bisa ada disini?
Kise : Loh… kamu kan yang ada di fic Author-cchi di fandom sebelah kan? Yang pedo-pedoan sama Sakura-cchi kan?
Madara : *Mangekyou Sharingan activated* Kau bilang apa tadi?
Kise : U-Uh, n-nggak-ssu! Aku nggak bilang apa-apa! S-Sekarang kita jawab daftar pertanyaannya saja!
Madara : …Hn.
.
#1. Apa lawan terakhir (Name) itu Akashi?
K : Bukan kok^^ Lawan terakhir (Name) itu diantara aku/Kuroko-cchi/ketua. Jadi coba tebak-ssu!
#2. Maksudnya Kuroko itu kartu joker Akashi itu apa?
M : Entahlah,aku juga penasaran. Dia nggak mau kasih tau, katanya sih rahasia.
#3. Akashi niat nggak sih nolongin (Name)?
M : Setengah (?). Akashi punya rencana sebenarnya, dan rencananya akan dijelaskan di chapter depan.
#4. Katanya tubuh (Name) bakal hancur—emang senjata Aomine+Momoi semengerikan apa?
K : Mereka perakit bom-ssu! Mereka berdua termasuk professional, dan cuma pasangan ini yang bisa merakit bom^^
#5. Banyak typho sama kata-kata ambigu… kapan di edit?
M : Untuk saat ini, maaf Author belum bisa ngedit. Dan soal kata-kata ambigu… sebenernya artinya emang ngarah kesana…
#5. Lime-nya nanti sama siapa?
K : Akashi-cchi kok! Tapi entah Akashi yang mana…
#6. Ini bakal ada berapa chapter?
K : Yang pasti lebih dari 11 chapter-ssu!
#7. Happy ending gak?
M : HAHAH! TIDAK AKAN! AKU AKAN MASUK KE FIC INI DAN MENUNJUKKAN AKULAH YANG PALING KUAT! /dilempar sapu/ …. Ukh. Iya kok happy ending.
#8. Jalan ceritanya agak beda ya?
K : Hmm, iya-ssu. Mungkin sebenernya fic ini hanya terinspirasi. Karena kalau pertarungannya sama, rasanya nggak menarik-ssu. Mohon maaf kalau jalan ceritanya aneh dan membingungkan^^
#9. Apa semua murid di Black Class itu asassin? Riko juga termasuk?
M : Ya, semuanya kecuali (Name). Riko termasuk kelompok mereka kok, dan dia nggak hadir di rapat karena… ya sudah dijelaskan di chapter ini.
#10. Apa Shiro termasuk karakter penting disini?
M : Mungkin nggak terlalu, tapi dia punya hubungan spesial dengan salah satu anggota Kiseki no Sedai—ada yang bisa tebak?
#11. Kuroko, Kise dan (Name) kan jadi bahan percobaan di perusahaan—apa semuanya dikasih virus kaya (Name)? Kalau iya, bisa ketularan nggak?
K : Nah, ini termasuk pertanyaan penting heheh. Yang jadi korban (hiks) percobaan suntik virus itu cuma aku sama (Name)-cchi. Tapi virusnya berbeda. Sementara Kuroko-cchi—karakter dia masih misterius disini, dan dia nggak termasuk kaya aku dan (Name)-cchi. Oh soal itu… nggak bakal ketularan kok, heheh.
#12. Pas chapter 4, kan Akashi ditembak jarum suntik, kalau terlalu dalam gimana?
M : Hmm, sebenernya itu beneran jarum suntik, dan soal kalimat 'seperti jarum akupuntur' itu bukan bentuknya ya, maksudnya itu kegunaannya. Suntikan (Name) termasuk kecil, otomatis jarumnya juga pendek.
#13. Nggak ada preview lagi nih?
K : Untuk sementara ini nggak ada-ssu.
#14. Kok Alter-Ego Akashi sifatnya rada gimana gitu ya?
M : Aa, itu bukan sifat aslinya dia. Yang pasti dia lebih mengerikan daripada Akashi.
.
Kise : Heheh, makasih ya readers udah reviews cerita aneh ini! *bows*
Madara : Aku sebenernya nggak ngerti kenapa aku ada disini… tapi ikut sajalah. *bows*
(Name) : Ecchi-saaaan, kenapa aku kayaknya jadi maso banget di cerita ini TAT
Kise : Kamu kasian banget sih (Name)-cchi… ahh tapi aku nggak bakal kasih keringanan pas lawan aku nanti loh ^^
(Name) : TAT;; *shivered*
Madara : Hahah! Kau ikut saja denganku ke dunia shinobi! Disana kau akan kuajak me—
Kise : Madara-sama stoooop! Ini bukan cerita crossover dan jangan tebar pesona plus virus pedo-ssu!
Madara : Kau bocah—
Kise : —Oh iya! terima kasih untuk Kitami Misaki, Brownchoco, scarletjacket, Aoi Yukari, FISIKA, KuroAmalia, Lily Kotegawa, Misaki Younna, Silvia-KI chan, Kanae Miyuchi, ImaginationFactory, KitsuneSMP, ABNORMALholic, Arlzureinne Karale, Hinata Shouyou (Nggak apa-apa, Author seneng kok baca revies panjang2 XD), almira. maharani. 90, Oceana Queen, Grey, mey. chan. 58726982, Ay Seijuurou yang sudah reviews chapter kemarin! Semoga chapter ini bisa dikoreksi juga ya^^ Salam hangat dari kami semua!
