-LET THE RHYTHM FLOW CHAPTER 3-
present day
Executive Lounge Kim Corp
"kau membuatku bertengkar dengan yoochun oppa" ucap Junsu pelan sambil memutar pelan cangkir kopinya. Dihadapannya duduk Changmin, yang langsung menghampiri Junsu setelah selesai meeting dengan bagian operation Kim Corp sejak pagi itu di jam makan siang. Jadilah mereka berdua berada disini. Pertemuan pertama sejak kejadian malam kemarin. Pertemuan pribadi mereka pertama sejak Changmin melamarnya secara langsung
"Kau bertengkar? Karna aku?" Tanya changmin sambil memasang smirk andalannya "maka itu junsu, daripada kalian bertengkar, tunangan lah denganku, kita tidak akan bertengkar!" lanjut changmin
Junsu hanya menggeleng2kan kepala mendengar rayuan changmin.
"sudah kuberi tahu kan oppa. Kami sudah bertunangan. Aku dan yoochun oppa…" jawab Junsu
Changmin memajukan badannya, menatap kedua mata Junsu.
"Kalian dijodohkan tapi belum resmi bertungan. Dia belum melamarmu, kamu belum memakai cincin. Itu belum resmi" jawab Changmin dengan penuh percaya diri
Glep. Junsu hanya bisa menelan ludah mendengar argumen changmin. Semua itu benar. Tapi Yoochun… Mereka sudah bertahan sampai sejauh ini.. Haruskah ia memberi kesempatan pada Changmin?
"Kim junsu, menikahlah denganku. Aku mencintai mu kim junsu. Kumohon, mengertilah" lagi Changmin mengulang kalimat yang sama kepada Junsu. Gadis ini hanya bisa diam sejenak.
"oppa…" ucap Junsu dengan sedikit gemetar. Tatapan Changmin seakan mempertanyakan kedalam lubuk hatinya. Apa lagi alasanmu Kim Junsu? Karna memang alasan Junsu tidaklah terlalu kuat. Bujukan Changmin malah semakin membuat Junsu sendiri bingung.
"aku minta maaf oppa tapi aku tidak bisa" ucap Junsu akhirnya. Sekitar mereka seakan menjadi sunyi senyap bagi Junsu. Sekarang hanya ada Changmin, dengan matanya yang sangat tulus, dan suaranya yang berkali-kali menanyakan hal yang sama
"kau tidak perlu minta maaf su, aku hanya ingjn kau menjadi milikku"
"mianhae, aku... ada yoochun oppa"
Lagi. Alasan itu lagi. Pikir Changmin. Ingin rasanya ia menjelaskan dengan sejelas-jelasnya pada Junsu kalau gadis ini bisa berpaling padanya. Ia mencintai Junsu tidak seperti Yoochun! Dan tidak selamanya ia harus bersama Yoochun.
Changmin menghela nafas sejenak mendengar nama itu lagi. Yoochun Yoochun dan Yoochun. Yoochun lagi. "kalian belum bertunangan kim junsu" tantang Changmin
"tapi tetap kami sudah..." Junsu langsung menjawab tapi dipotong duluan oleh Changmin sebelum selesai
"dijodohkan sejak kecil? Memang apa lebihnya yoochun dari aku? Katakan" sekali lagi Junsu menelan ludah-lagi mendengar argumen Changmin
"changmin oppa…" ucap Junsu kecil. Ia tidak bisa melawan lagi, ia hanya ingin Changmin mengerti dan berhenti mempersoalkan tentang ini. Ia merasa bersalah membuat Yoochun dan Changmin ribut. Dan juga lihat hubungannya dengan Yoochun sekarang. Tapi ia juga tidak bisa menyalahkan Changmin di satu sisi. Changmin oppa tidak bersalah, mungkin malah ia yang salah membuat Changmin menyukainya. Apa semua ini aku yang salah? Pikir Junsu didalam hatinya
"aku bisa mencukupi kehidupanmu. Aku bisa menghidupi mu dengan layak dan membahagiakanmu. Ayah mu pun tidak menolak saat aku melamarmu" lanjut Changmin sambil Junsu terdiam
"oppa…." geumanhae. tolong hentikan ini. pikir Junsu dalam hati. Ia membenci keadaan ini, keadaan dimana seakan-akan ia yang mempersulit semuanya
"menikahlah denganku. Kim junsu.." lamaran kedua. Tapi keadaannya tetap sama. Junsu belum bisa menerima. Kalau menolak pun.. Changmin tak mau mengerti
"aku bisa melebihi yoochun. Aku mencintaimu. Aku bisa membahagiakanmu. Saat yoochun pun tidak mencintaimu. Aku sangat mencintaimu kim junsu" ucap Changmin dengan tegas di masing masing kalimatnya
"jaga bicaramu shim changmin" suara Yoochun yang tiba-tiba terdengar membuat Junsu dan Changmin langsung sama-sama menengok ke arah Yoochun yang baru tiba. Sudah pasti pria ini mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Changmin
"yoochun oppa.." panggil Junsu hendak bangun dari duduknya, tapi ditahan Yoochun yang langsung melingkarkan tangannya ke pundak Junsu dengan posesif. Sedangkan Changmin hanya mendengus malas melihat kedatangan Yoochun. Ck, mengganggu saja. Pikir Changmin
Dalam sekejap Yoochun langsung mengambil tempat, duduk disebelah Junsu. Dekat, dekat sekali. Sampai membuat pipi Junsu bersemu merah. Tunggu, mereka belum pernah sedekat ini sebelumnya! Pikir Junsu
Yoochun merangkul pinggul Junsu dengan tangan kanannya, menggaet Junsu dalam pelukannya dan menciumi wangi rambut Junsu. Reaksi Junsu? Junsu mencoba terlihat senatural mungkin, ia tau Yoochun ingin menampilkan kemesraan mereka didepan Changmin, tapi ia tidak bisa mengingkari tubuhnya yang bergetar dan pipinya yang bersemu merah; tidak terbiasa dengan sentuhan Yoochun. Dan Changmin, Changmin bahkan tau lebih baik tentang keadaan pasangan dihadapannya ini lebih dari diri mereka sendiri mengerti. Changmin bisa membaca kegugupan Junsu dan maksud Yoochun yang ingin memamerkan kemesraan didepannya. Cih, mencoba membohongiku. Pikir Changmin.
"Junsu… kau baik-baik saja kan baby?" tanya Yoochun lembut sambil masih menempel ke Junsu. Ia sangat marah melihat Junsu dan Changmin dudukberduaan di Lounge setelah 10 menit pria ini mencari-cari Junsu. Ia saja belum bicara dengan Junsu sejak malam kemarin. Malah sekarang Changmin sudah bertemu Junsu duluan.
Tapi saat ini jugalah yang harus ia gunakan untuk menunjukkan Changmin. Menunjukkan bahwa Junsu nya hanyalah milik Park Yoochun.
"heem…" jawab Junsu pelan sambil masih merengut ke pelukan dada bidang Yoochun. Dadanya masih bergedup tak karuan. 6 tahun ia 'berpisah' secara tidak langsung dengan Yoochun. Hubungan jarak jauh. Mereka memang tidak pernah bermesraan. Skinship pun tidak pernah. Ini adalah yang pertama. Makanya tidak aneh kalau Junsu belum terbiasa.
Hubungan diantara Junsu dan Yoochun pun snagat unik. Komunikasi yang berlebihan tidak pernah. terjalin Saling mengekang pun tidak. Hanya komunikasi normal, layaknya sahabat. Tapi sesuatu yang berbeda: keduanya sadar akan 'ikatan' dengan pasangan masing-masing, maka Junsu dan Yoochun tidak pernah berpacaran dengan orang lain sekalipun. Sampai saat ini tiba, saat dimana ada orang lain yang mencintai salah satu dari mereka secara tulus. Apakah Junsu mencintai Yoochun? Apa Yoochun mencintai Junsu? Mereka pun tidak tau jawabannya, tapi keduanya masih egois untuk saling 'memiliki'. Terutama Yoochun, yang sangat posesif seperti ingin memonopoli Junsu untuk dirinya sendiri.
Hanya aku yang mengenal Junsu. Hanya aku yang bisa mengerti nya dan memilikinya. Begitulah pikiran Yoochun. Mereka sudah ditakdirkan untuk bersama. Tak ada bantahan lain.
Cup. Yoochun mengecup pipi kiri Junsu sekilas. Ciuman pertama. Ciuman pertama yang pernah Junsu terima dari seorang laki-laki. Junsu semakin menempelkan wajahnya ke dada Yoochun. Menghirup bau laki-laki ini. Baunya masih mirip, dengan bau yang diingatnya dulu. Hanya bau tubuh Yoochun sekarang lebih dewasa, lebih maskulin dari sebelumnya. Junsu mencoba sebaik mungkin menyembunyikan rasa malu dan hatinya yang berdebar kencang. Yoochun menikmati kebersamaannya dengan Junsu sambil dalam hati tertawa puas melihat Changmin yang merengut kesal.
Sebenarnya apaan sih ini? Mau show off kemesraan kalian didepan mataku? Cih. Pikir Changmin. Tapi pria ini cukup cerdas kalau sudah masalah Junsu. Ia bisa melihat seberapa 'jauh' nya hubungan Junsu dan Yoochun sebenarnya. Diluar ikatan status, kedua orang ini memiliki jarak yang cukup dalam. Dan Changmin melihat kemungkinan untuk merebut Junsu didalamnya.
"makan siang denganku dulu Junsu, sebelum kembali ke kantor" ajak Yoochun sambil menggenggam tangan Junsu.
Junsu yang menyadari disana ada Changmin merasa bersalah, malu dan salah tingkat. Omo dia lupa ada Changmin, tapi dia juga tidak bisa menyembunyikan perasaannya tadi hingga malah memeluk Yoochun. Ah Junsu bodoh! Pikir Junsu
"ah, mianhae Changmin oppa" gumam Junsu
"haha tidak apa-apa Junsu, kalau begitu aku kembali juga, sampai bertemu lagi nanti ya" balas Changmin sambil tersenyum lebar, berjalan keluar dan akhirnya mereka berpisah di lift.
Yoochun masih menggenggam tangan Junsu sedangkan Changmin turun ke lantai bawah sendirian
"ck, lihatlah Junsu, aku tidak akan berhenti disini" pikir Changmin
Flashback 1 tahun lalu –Leuven, Belgia
Hujan lebat turun membasahi Leuven malam itu. Ditengah pertengahan musim dingin, di bus stop Leuven Universitiet, sekelompok mahasiswa baru saja turun dari bus yang mereka tumpangi
"dank u!" ucap mereka satu persatu kepada sang supir bus yang segera berlalu setelah semuanya turun. Sekelompok mahasiswa yang berasal dari Korea Selatan tersebut baru saja pulang dari daytrip, jalan-jalan ke Antwerp, kota yang letaknya tidak jauh dari Leuven.
"duh hujan lagi" keluh Elena sambil merapikan hood jaket dan scarf tebalnya. Maklum, jalan dari bus stop ke gedung asrama mereka tidak ada teduhan dan mereka tidak membawa payung hari itu. Jadi satu-satunya jalan untuk pulang ya, Cuma menerjang hujan.
Selagi bersiap-siap sejenak Junsu melirik Changmin yang tidak memiliki hood di jaketnya. Tidak juga sedang memakai scarf.
"oppa, mau scarf ku untuk teduhan?" tawar Junsu
"ah boleh. Terima kasih Junsu ssi!" Changmin menyambut ramah bantuan Junsu
"hahah sama-sama" Junsu mengancingkan jaketnya dan menutup kepalanya dengan hood, sedangkan Changmin memakai scarf milik Junsu untuk menutupi kepalanya dari air hujan hingga sampai dirumah malam itu.
Bila banyak yang bertanya bagaimana Changmin sebegitu ngototnya menyukai Junsu. Mereka pertama kali bertemu di kota ini. Dari beberapa keadaan yang kurang mengenakkan bagi Changmin, kebetulan Junsu ada disana untuk menawarkan bantuan. Junsu dan Changmin awalnya pun tidak terlalu dekat. Changmin menganggap nya teman biasa, begitu juga dengan Junsu. Mereka bertemu di beberapa mata pelajaran, dan bertemu saat bermain dengan teman-teman satu negara mereka.
Satu lingkaran bermain selama hampir setahun, membuat Changmin secara tak sadar jatuh pada Junsu. Junsu adalah gadis yang tidak terlalu spesial, ia tidak terlalu cantik, terlalu pintar ataupun pandai bergaul. Tapi itulah yang membuat Changmin senang. Untuk berdampingan dengan Junsu yang biasa-biasa saja.
-TBC-
Terima kasih sudah baca. Comment ya untuk opini dan feedback, biar tau bisa lanjut atau tidak. Makasih!
