Chapter 2: Melankolis? Apa itu?
Hai~ Sekarang waktunya chapter 2. Ingat, ini genre utamanya adalah friendship dan slice of life, jangan terlalu berharap akan romance yang kuat (walau saya pribadi pasti akan menyisipkan adegan romantis yang nantinya akan mengarah pada beberapa pairing). Humornya akan saya tingkatkan lagi kalau bisa, membuat humor dalam monolog itu tidak mudah soalnya, saya akui itu #PLAK
Di fict ini hanya ada dua sudut pandang, yang pertama sudut pandang Len, dan yang kedua sudut pandang orang ketiga serba tahu. Untuk lebih jelasnya lagi, saya jelaskan di author note setelah fict selesai. ^^
"Kenapa Kaito jadi tokoh jahat?" Pasti ada diantara kalian yang berpikir demikian, karena di dalam fict saya yang lain, Kaito biasanya jadi semacam Tritagonis, walau terkadang hanya figuran, dia tidak akan bertindak sebagai Antagonis. Di fict ini, mari kita ganti suasana sedikit. Saya sadar, chapter 1 agak monoton, tapi lihat saja perkembangannya, pasti kalian akan gergetan sendiri nanti, saya sedang mencoba memasukkan gaya monoton dalam kepribadian si tokoh utama, yaitu Len! XD
Let's start!
P.S: Saya bakal mereplace chapter 1-5 karena ada kesalahan serius.
Kisah Sebuah Senja
Main Character: Kagamine Len, Hatsune Miku, IA
Main Pair: Guess who? Anybody want to answer and try to solve this question? :3
Disclaimer : Vocaloid © Yamaha, and other companies
Story © Me
UTAUloid © Owner creator
Fanloid © Creator
Summary :
"'Lebih baik kau mati saja!' Aku terbangun dari mimpi burukku lagi, andai saja-andai saja ada seseorang yang bisa membantuku menghilangkan mimpi buruk ini./'Kau bisa!' 'Jangan bohong!' 'Aku tidak akan berbohong!' 'Kalau begitu, berikan aku tujuan hidup!'/ Setelah berbagai peristiwa, akankah aku bisa menerima senyuman seperti warna langit senja yang selalu aku sukai?/Cerita tentang Hikikomori berat, Penyanyi hebat dan Seniman berbakat! Kemana cerita ini akan berjalan?"
Warning : OOC (maybe), typo(s), gaje, pendeskripsian kurang, kesalahan eja 'EYD' dan teman-temannya.
'Abc' (italic): Flashback, kata asing, atau percakapan secara tidak langsung (telepon, email, sms, dll)
"Abc" : Percakapan normal
'Abc' (kutipsatu) : Hayalan, angan, atau (monolog) pikiran karakter.
'Abc'/ 'ABC' (bold atau kapital) : Kata atau kalimat yang diberi penekanan, kata atau kalimat penting.
HAPPY READING!
XOXOX
Angin berhembus pelan, rambut anak itu mulai tergerai dan berantakan karena tiupan angin. Dia memegang lemah rambutnya agar tidak berantakan.
"Rambut yang bagus." Ucapku tanpa sadar.
"Terima kasih." Jawabnya tiba-tiba dengan suara yang lembut. Wajahku tiba-tiba memerah.
Eh? Kenapa aku jadi malu begini?
"Cu-cuaca hari i-ini cerah ya?" Len bodoh! Sekarang sudah sore! Apa tidak ada topik lain yang bisa dibicarakan apa?!
"Daripada itu, kenapa kau bisa terluka?" Tanya anak itu, menghiraukan basa-basi yang sempat ku lontarkan.
"Bukan urusanmu." Jawabku lemah.
Suasana kembali hening di antara kami, dia tidak mengatakan apapun, ekspresinya terlalu kosong, benar-benar kosong. Apa benar dia seorang seniman? Aku berpikir seniman itu lebih...
"Lebih bisa berekspresi dan enerjik kan?"
DEG!
Dia bisa baca pikiran orang?!
"Kau... Kau membaca pikiranku?" Ucapku canggung.
Wajah anak itu langsung berubah tegang, kemudian dia tertawa pelan, membuatku salah tingkah menghadapi dirinya. Air mata mulai terkumpul di sudut matanya, menandakan ada sesuatu yang amat sangat lucu baginya hingga ia bisa tertawa dan mengeluarkan air mata. Di sisi lain, dia terlihat anggun walau ketika tertawa, dia pasti terdidik dengan baik.
"Maaf... Aku tidak bisa menahan diriku. Aku hanya sedang melamun, dan lalu aku mengatakannya begitu saja... Apa itu isi pikiranmu tadi?"
Aku mengangguk mendengar perkataannya, dia kembali memasang ekspresi tenangnya.
"Di negaraku, saat sore seperti ini, biasanya aku dan keluargaku akan mengadakan Snack Time sambil berkumpul bersama di sebuah gazebo di taman depan rumah." Gumamnya.
"Sunekku Taimu*? Maksudmu Snack Time? Kau tidak perlu berusaha untuk mengatakannya dengan bahasa Jepang, cukup katakan dengan bahasa Inggris. Aku tidak sebodoh yang kau kira kok." Ucapku sinis.
Dia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya, kemudian dia berdiri dan menunduk berkali-kali di hadapanku sambil meminta maaf. Mungkin dia mengira kalau aku sedang merasa dilecehkan oleh dirinya... Yah, nggak sepenuhnya salah sih.
"Sekarang, kita harus melakukan apa?" Tanyaku bosan, aku mulai bisa merasakan kakiku bisa ku gerakkan kembali.
"Entahlah, tidur bersama di sini sampai pagi?" Ucapnya.
"Oy, oy, aku tidak mau dianggap kriminal. Lagipula aku harus kembali ke rumah dan mengerjakan tugas yang ku tinggal di checkpoint terakhir. Sial... Aku harus bisa mendapatkan lebih banyak buruan dari Cieth Stone lagi..." Gumamku.
"Tugas? Cieth Stone? Kau membicarakan soal sebuah game? RPG kah?"
"Kau pikir apa memang?"
"Hmmm... Sudah punya berapa Omega Weapon?" Ucapnya tiba-tiba.
"3, sejauh ini. EH?! MEMANGNYA KAU TAHU APA YANG AKU MAINKAN?!"
"Last Fantasy XIII kan?" Ucapnya polos.
PRANG!
Aku langsung merasa ada sebuah garis batas yang pecah dihadapanku, akhirnya... AKHIRNYA! Ada juga seseorang yang mengerti dengan game yang aku mainkan yang bisa ku kenal secara langsung dan bertatap muka di dunia nyata!
"Ka-kau, kau sudah sampai mana?!" Tanyaku tidak sabaran.
"Sudah tamat."
"Satu kali?"
"Tidak, tiga."
JEDERR!
Sekarang seakan di belakang kepalaku ada sebuah petir yang langsung menghancurkan perspektifku... Dia, dia terlalu hebat untuk seorang wanita... Aku tidak boleh meremehkannya!
"Kau, kau punya koleksi senjata apa saja sejauh ini?"
"Omega Weapon, Total Eclipse, Save the Queen, Nue, Nirvana, Kain's Lance, aku punya semuanya lengkap."
JEDERR! JEDERR!
Sekarang aku merasa hina ada di sini.
Jangan-jangan wanita ini adalah orang sebenarnya yang sering membuat tips dan hint game-game RPG langgananku di situs Gamefacts*! Di-dia terlalu hebat!
"Kau... Kau sudah lama bermain game RPG?"
"Tidak, aku bermain game baru-baru ini. Mungkin sekitar 3 bulan lalu. Tidak kusangka game bisa semenyenangkan ini."
JEDERR! JEDERR! JEDERR!
Aku dikalahkan oleh seorang newbie.
"Orang jenius memang beda. Dunia nyata ternyata memang menyakitkan." Aku menghela nafas di samping anak itu, dia melihatku sambil memiringkan kepalanya.
"Mungkin aku harus pulang, aku yakin Rin khawatir. Kau juga harus pulang." Ucapku pada si murid baru.
Aku mencoba berdiri, ketika aku sudah bisa menyeimbangkan caraku berdiri, aku mencoba melepas peganganku pada pohon. 1 langkah, 2 langkah, 3 langkah, sepertinya tubuhku sudah bisa berjalan dengan normal.
"Baiklah, aku akan mengan-"
BUKK!
Aku terjatuh.
Kenapa bisa?
"Kulit kakimu yang memar mulai mengeluarkan darah. Baiklah! Aku akan memapahmu sampai ke rumah!" Ucap anak baru itu dengan semangat, walau hanya nada suaranya saja, wajahnya masih kelewat monoton.
"Oit, oit, oit! Stop! Hey anak baru, apa kau sadar dengan apa yang baru kau lakukan? Akan ku taruh dimana harga diriku nanti jika aku dipapah oleh seorang perempuan saat malam hari? Dan lagi, yang kau maksud itu pergi ke rumah siapa? Aku atau rumahmu?"
Anak itu tidak menghiraukanku, dia langsung mengambil tanganku dan menariknya ke atas lalu mengalungkan tanganku di lehernya. Aku bisa mencium bau shamponya dari dekat, sangat harum... Dia tidak tinggi, mungkin kalau aku bisa berdiri tegak, tingginya hanya sekitar pundakku, dia setinggi Rin sekarang.
"Jangan banyak protes, kesempatan yang sama tidak akan selalu datang terus menerus. Panggil aku Aria, sudah kubilang aku punya nama panggilan. Kita akan pergi ke rumahku." Ucapnya, hampir tanpa intonasi nada sama sekali.
JEDERR!
Apa dia bilang? Ke rumahnya?!
"Oy, oy, kau kira nanti bagaimana reaksi orangtuamu kalau kau membawa seorang lelaki tidak dikenal masuk begitu saja ke rumahmu?" Tanyaku, acuh.
"Kita sudah saling kenal kok. Papa dan mama pasti malah akan senang kalau aku membawa teman laki-laki." Ucapnya, lagi, dengan tanpa intonasi. Anak ini benar-benar tipe kuudere, walau derenya masih kurang kuat.
"Jadi begi- TUNGGU! Apa orang tuamu bodoh atau apa?! Mereka tidak peduli dengan kesucian anaknya sendiri?!"
Woosh!
Ini hanya perasaanku, Atau aku memang merasakan ada sebuah pisau melewati poniku dengan cepat tadi? Apa itu hanya angin lewat yang aneh? Atau jangan-jangan anak ini benar-benar sangat berbahaya? Jangan-jangan dia selalu diawasi oleh para prajurit atau ninja elit di bawah bayangan yang diperintahkan oleh orang tuanya?! Ehm... Sepertinya aku berangan-angan terlalu jauh.
"Ini akan melelahkan, kira ke rumahku saja, dekat kok. Nanti kalau lukaku sudah diobati, akan aku antarkan pulang."
Dan anak itu, Aria, mengangguk dengan wajah polos.
XOXOX
TING! TONG!
"Sebentar! Siapa i- Onii-chan?!"
"Halo."
BUKK!
"Huwaaa! Onii-chan! Rin khawatir!"
Ahh... Ini benar-benar surga, dipeluk oleh adik ku tercinta saat aku sampai rumah... Tunggu, tunggu! Apa aku benar-benar jadi siscon?!
"Ada siapa Rin?" Teriak sebuah suara dari dalam rumah, kok... Kayaknya kenal ya?
"Onii-chan sudah pulang!"
BRAK BRAK! GEDUBRAK!
"APA?! ADA APA DENGANMU! KAU MEMBUAT AKU- KAMI KHAWATIR! KENAPA KAU BISA BABAK BELUR?! SIAPA PEREMPUAN YANG BERSAMAMU ITU?! Loh, kok kayaknya kenal ya sama wajahnya?" Omelan Miku langsung mereda ketika tatapannya bertemu dengan wajah tanpa ekspresi milik Aria.
"Dia Aria, si perwakilan murid baru yang berpidato tadi pagi. Masa' gitu saja sudah lupa?" Ucapku sinis.
"Maaf sih... Aku suka melupakan hal yang kuanggap tidak penting."
"Hmmm? Perasaan tadi kau menyanjung-nyanjung dirinya terlalu tinggi hingga dirimu terlihat seperti orang tidak waras."
"DIAM! JANGAN LANJUTKAN TOPIK INI! SEKARANG JELASKAN PADA KAMI APA YANG TERJADI!" Miku mulai marah lagi dan menggebrak pintu dengan tangan kosong, aku menatapi nasib pintu yang menjadi objek kenistaan Miku... Kasihan, pintu yang malang.
"Bisa kau tidak menghalangi pintu dan membiarkan aku masuk dulu? Dan jangan seenaknya menghancurkan pintu seseorang."
Miku terkekeh kecil sambil melihat ke arah pintu yang agak retak saat dia tinju.
.
.
.
"Jadi begitu? Dasar gerombolan brengsek! Awas saja kalau ketemu!" Miku mengepalkan tangannya dan memukul-mukul kepalan tangannya ke telapak tangan satunya yang terbuka. Sepertinya dia marah.
"Mana orang yang berani melukai Onii-chan?! Akan kugilas sampai habis!"
"Tidak perlu Rin, aku tidak mau adik ku menjadi seorang kriminal!"
Aku langsung menarik diri dari kursiku dan menahan Rin untuk tidak mengambil Road Roller di samping rumah untuk meratakan wajah Kaito dan komplotannya.
"Kenapa kau tidak melawan?" Tanya Aria.
Semua orang terdiam, oh iya, Aria tidak tahu alasannya kan?
"Jadi-"
"Suatu saat kau akan tahu." Aku langsung memotong perkataan Miku yang sepertinya berpikir untuk memberi tahu masa lalu ku kepada Aria. Aku memberikan sinyal mata.
'Jangan terlalu bermulut besar! Kupanggang kau!' Sepertinya ini bukan sinyal mata yang bagus untuk dikatakan.
Miku menolah-noleh dan menunjuk dirinya sendiri dengan tangannya, dia kemudian hanya memberi balasan sebuah kedipan sebelah mata. Sebenarnya dia mengerti atau tidak dengan yang aku katakan sih?
"Ma-mari berganti topik! Aku ingin mendengar lebih banyak tentangmu! Lumayan kan untuk menghabiskan waktu hingga aku bisa merasa lebih baik sedikit lagi!" Aku tiba-tiba tergagap dengan tatapan tiga orang perempuan yang menatapku intens sedari tadi.
"Aku, aku datang dari negeri yang jauh." Ucap Aria.
"Lalu?" Tanya Rin.
"Aku datang ke Jepang karena aku suka game buatan Jepang."
JEDORR!
Jangan bilang dia jauh-jauh datang ke sini hanya untuk masalah sepele seperti sebuah game?!
"Eh, bicara tentang game, Onii-chan seorang gamer berat loh! Coba lihat kamarnya, ada banyak sekali game yang bergeletakan di sana, mulai dari puzzle sederhana, hingga game console!" Ucap Rin.
"Hentikan itu Rin, kau hanya membuat hatiku makin sakit." Ucapku mendramatisir keadaan.
Aku memejamkan mataku dan menengok sedikit ke arah Miku, dia tersenyum lebar, jangan bilang dia tahu alasan kenapa aku dari tadi menghindari topik tentang game. Aku benci ketika dia bisa merasakan perasaan orang lain, mungkin Miku terkesan seperti orang bodoh, tapi dia sudah sangat peka dengan batin orang lain sejak lahir, bisa dikatakan dia bisa melihat isi pikiran orang lain hanya dari gerak-gerik orang tersebut.
"Len... Kau pasti dikalahkan dalam persoalan game oleh Aria kan? Ayo! Ngaku!"
Tuh kan... Beneran...
"Au' ah gelap!" Ucapku tidak peduli.
"Sekarang terang kali, makanya punya mata jangan dibuat merem doang! Kan aku sudah pernah bilang untuk mengatur jadwal tidurmu!" Ucap Miku.
Miku sudah mulai ngomel-ngomel lagi, mending ditinggal sendiri...
"Sekarang jam berapa?" Aku kembali ke peradaban ketika Aria menanyakan jam, jam 8.30 PM, malam juga ya. Aku melompat dari sofa dan mencoba menggerakan anggota tubuhku, agak kaku sih karena lilitan perban, nanti juga terbiasa.
"Ayo, akan kuantar pulang." Ucapku pada Aria, Miku menggebungkan pipi.
"Kau tidak pernah menawarkan padaku untuk diantarkan pulang, Len pilih-pilih." Ucap Miku.
Aku menghela nafas.
"Miku, rumahmu hanya satu blok dari sini, apa aku perlu menemani dirimu di rute sedekat itu? Tuh kan, sifat derenya keluar lagi, pasti abis ini tsunnya kumat." Ucapku asal-asalan.
"A-apa?!" Muka Miku memerah padam.
"Tuh kan, benar."
Tanpa aba-aba aku langsung menarik tangan Aria untuk kabur dari tempat kami berada semula. Aku tidak mau kena amukan Miku di malam hari seperti ini, nanti dia bakalan ngambil darah orang yang tidak bersalah.
XOXOX
"Malam yang indah bukan?"
Aria tiba-tiba mengajakku berbicara.
"Iya." Jawabku singkat.
"Ternyata benar kata orang 'Senja yang cerah akan membawa cahaya pada malam hari'."
"Mungkin kau benar."
Percakapan basa-basi ini berlanjut selama perjalanan, hingga akhirnya dia mengganti topik.
"Jadi, kenapa kau tidak melawan tadi siang?"
Aku tersentak dengan pertanyaannya yang tiba-tiba, ada apa dengan perempaun ini?
"Aku, aku tidak bisa mengatakannya padamu." Jawabku.
Wajahnya berubah murung dalam sesaat, apa yang terjadi?
"Apa kau percaya pada takdir?" Ucapnya lagi tiba-tiba setelah mengubah wajahnya dari murung menjadi cerah kembali, walau masih kekuarangan ekspresi.
"Aku dengar takdir setiap orang bisa diramal dengan mudah jika mereka mau, bahkan hanya dengan permainan sederhana seperti tarrot jika kau memang bersedia melakukannya. Pada ramalan tarrot, jika setiap orang yang menariknya memikirkan takdirnya dengan serius, setiap orang bisa mengetahui takdirnya sendiri, karena secara tidak sadar, alam bawah sadarnya menginginkan itu dan menarik kartu yang menunjukan takdir yang sesuai." Lanjutnya.
Aku tidak menjawab perkataannya, suasana berubah hening.
"Setiap orang memiliki takdirnya sendiri kan? Yang baik dan yang buruk. Kau percaya jika takdir setiap orang saling berhubungan kan? Apa kau percaya kalau setiap orang punya masalah yang berbeda tapi serupa?" Ucapnya lagi.
Aku ingin membuka mulut, tapi tanpa sadar, aku menabrak sebuah gerbang yang sangat besar. Aku melihat apa yang ada di dalam pagar itu, rumah yang suaaaangaaaat besar, ada di sana! Apa benar Aria hanya seorang bangsawan biasa di negara lamanya?!
"Maafkan aku, senpai, aku harus segera masuk. Tidak apa-apa jika kau tidak bisa menanggapi diriku sekarang. Terima kasih sudah mengantarku, lain kali aku akan mengajakmu masuk." Aria menundukan kepalanya, dia menekan sebuah alat di samping pagar itu, setelah alat ini ditekan beberapa detik dan terdengar bunyi 'tiit' kencang keluar, pagar itu terbuka. Aku hanya bisa melihat Aria masuk ke dalam dan terdiam sejenak di sisi lain pagar sambil membungkuk, mengantar kepergianku.
"Setiap orang punya masalah mereka sendiri, kah?"
Aku menggumam perkataan Aria barusan, setelahnya aku menerawang langit. Bintang malam ini begitu cerah.
Mataku mulai mengilap, terselimuti air mata... Aku tidak akan menangis, tapi mataku sudah terlanjur lembab. Aku menggumam pelan setelahnya.
"Apa kau tahu, darimana masalah pada diriku berasal, Aria? Kebaikan, kah? Atau keburukan kah?"
.
.
.
"Ah... Kagamine Len..." Aria bergumam di kamarnya.
Dia melihat Len berjalan menjauh dari rumahnya, sambil menyanggah kepalanya dengan kedua tanganya, Aria melihat Len dengan intens.
"Dia... Apa dia orang yang selama ini kucari?"
Aria tidak bisa melepas pandangannya dari Len. Aria kemudian menutup tirai di jendela kamarnya. Dia mengambil handphone nya dan menekan beberapa tombol.
Piip... Piip... Piip...
Sepertinya dia menelpon seseorang.
"Halo?"
"Apa ini Cul? Bagaimana keadaan di rumah?"
"Nona? Ini nona kan?! Apa nona sudah sampai di Jepang dengan aman?!"
"Tenang Cul, aku ada di Jepang. Bagaimana keadaan di rumah?"
"Pemberontakan masih terus berlanjut, Perdana Menteri Saint Lucia masih terus mendesak rakyat agar menghentikan pemberontakan."
"Bagaimana keadaan ayah dan ibu di sana?"
"Tuan dan nyonya Arstugna masih dalam kondisi aman. Nona tidak perlu khawatir, biar kami yang menyelesaikan masalah di sini. Pihak kedutaan Inggris berkata akan mengirimkan bantuan perihal pemberontakan. Nona cukup jalani kehidupan nona dengan tenang saja di Jepang."
"Terima kasih Cul, sudah mau menjaga aku dan keluargaku selama ini."
"Keluarga Scarlet sudah lama dinaungi oleh keluarga nona. Hanya sebatas ini tidak ada apa-apanya."
Aria tersenyum sedikit, setelah mengucapkan salam perpisahan, dia menutup sambungannya.
Tuut... Tuut... Tuut...
Merebahkan dirinya di kasur, dia mengadahkan tangannya ke atas sambil melihat cahaya lampu yang keluar dari sela-sela jari tangannya. Aria kemudian menutup matanya dan sedikit mengulas senyuman.
"Senpai, apa senpai tidak percaya, bahwa takdir setiap orang itu saling berhubungan walau hubungannya sangat kecil?"
XOXOX
"Kalian pernah mendengar sejarah? Apa kalian pikir kalian bisa mengubah sejarah sebegitu mudahnya sehingga kalian bisa mengubah masa depan kelak?"
XOXOX
Chapter 2 selesai~
Saya capek... Oh iya, saya mengingatkan, saya tidak akan selalu membuat garis batas saat mengganti sudut pandang atau Point of View. Bisa saja saya akan memberi tigak titik vertikal jika akan mengganti sudut pandang, tapi tidak setiap paragraf setelah tiga titik yang saya taruh itu berganti sudut pandang. Sebagai contoh, di atas ada 2 kali tigak titik vertikal, tapi yang berganti sudut pandang hanya paragraf setelah titik tiga yang kedua, jadi kalian harus teliti (sebenarnya hal ini juga tidak terlalu mempengaruhi kegiatan membaca juga sih, karena batasnya sudah jelas, yaitu ada tiga titik vertikal). Pokoknya saya tidak akan menuliskan "Bla-bla POV" ketika ingin mengganti sudut pandang, biar sewaktu kalian membaca, kalian tidak terganggu sama tulisan-tulisan seperti itu.
Di atas ada dua bintang kecil lagi. Satu di Sunekku Taimu, Aria bermaksud mengatakan Snack Time dengan bahasa Jepang (Kalau dituliskan, dia melakukannya dengan huruf Katakana), tapi Len berkata cukup katakan dengan bahasa Inggris saja. Sepertinya Len tidak terima dianggap bodoh XD
Satunya di kata Gamefacts, itu sebenarnya salah satu situs walktrough, tips, hints, dan trik game-game yang bernama Gamefaq, nama disamarkan aja, soalnya kalau nama situs saya takut. Kalau nama game, harus saya sensor juga kah? XD (Pasti kalian tahu gamenya, saya cuma plesetin sedikit)
Akhir kata, maaf jika ada kata yang kurang berkenan, saya mau tahu komentar kalian soal chapter kali ini, apapun itu, karena bentuk apresiasi dari kalian adalah kebahagiaan untuk saya.
Jaa~~ Matta ne~~ ^^
Best Regards,
Aprian
