Chapter 3: Aku Benci Semuanya!

Halo lagi! Gak disangka saya bisa membuat chapter ini tanpa hambatan #PLAK

Kalau langsung dimulai aja bagaimana? Saya bingung mau ngomong apa XD

P.S: Saya bakal mereplace chapter 1-5 karena ada kesalahan serius.

Kisah Sebuah Senja

Main Character: Kagamine Len, Hatsune Miku, IA
Main Pair: Guess who? Anybody want to answer and try to solve this question? :3

Disclaimer : Vocaloid © Yamaha, and other companies
Story © Me
UTAUloid © Owner creator
Fanloid © Creator

Summary :

"'Lebih baik kau mati saja!' Aku terbangun dari mimpi burukku lagi, andai saja-andai saja ada seseorang yang bisa membantuku menghilangkan mimpi buruk ini./'Kau bisa!' 'Jangan bohong!' 'Aku tidak akan berbohong!' 'Kalau begitu, berikan aku tujuan hidup!'/ Setelah berbagai peristiwa, akankah aku bisa menerima senyuman seperti warna langit senja yang selalu aku sukai?/Cerita tentang Hikikomori berat, Penyanyi hebat dan Seniman berbakat! Kemana cerita ini akan berjalan?"

Warning : OOC (maybe), typo(s), gaje, pendeskripsian kurang, kesalahan eja 'EYD' dan teman-temannya.

'Abc' (italic): Flashback, kata asing, atau percakapan secara tidak langsung (telepon, email, sms, dll)
"Abc" : Percakapan normal
'Abc' (kutipsatu) : Hayalan, angan, atau (monolog) pikiran karakter.
'Abc'/ 'ABC' (bold atau kapital) : Kata atau kalimat yang diberi penekanan, kata atau kalimat penting.

HAPPY READING!


XOXOX


"Apa ini sudah pagi?"

Aku melepas controller dengan kasar, rasanya ingin aku membuka jendela, tapi pasti mataku yang kelewatan menghitam ini tidak akan mengijinkan aku melakukannya. Setelah mengantar Aria pulang, aku langsung menjadi maniak game semalaman. Apa kalian bisa bayangkan? Aku dikalahkan seorang perempuan? Perempuan yang baru fokus bermain game 3 bulan lalu! Belum lagi, dia itu masih pemula, newbie, noob! Ehm... Sepertinya kata yang terakhir itu terlalu kasar.

"Nii-chan! Apa nii-chan tidak sekolah?!"

Aku mendengar teriakan Rin dari bawah tangga. Dia mengajakku sekolah? Jangan harap aku mau pergi kali ini, pembukaan kemarin saja sudah sangat menguras tenagaku, aku harus mengisi tenaga ku lagi... Mungkin baru bisa penuh setelah seminggu tidak masuk sekolah? Siapa tahu?

"Kau pergi saja! Aku libur hari ini!"

"Libur? Bolos kali, bilang aja napa." Aku bisa mendengar gerutuan dari Rin, tidak biasanya bagi Rin menggerutu tentang sesuatu.

"Baiklah! Kalau nii-chan lapar, nii-chan bisa makan kare bekas semalam. Tinggal dihangatkan saja!" Setelahnya ada suara pintu tertutup.

Apa ini benar ya? Yah, daripada dipikir susah-susah, toh aku sudah lama menjalani kehidupan tidak jelas seperti ini. Daripada sibuk di sekolah dengan genk nya Kaito, mending sibuk main game di rumah. Ehm... Membahas tentang game, apa kalian tahu kalau Ufofable* akan merilis Goddess Eater* menjadi anime?! Itu keren bukan?! Hei, hei, jangan bilang kalian tidak tertarik! Apa kalian lebih tertarik membicarakan anime rom-com? Apa?! Kalian tidak tertarik juga?! Jangan bohong deh... Oke, oke, kita tidak akan membicarakan anime lagi untuk saat ini.

"SIAL! KENAPA HUNT YANG SATU INI RIBETNYA TINGKAT LANGIT KE TUJUH SIH?!"

Entah sejak kapan aku jadi suka berteriak-teriak saat main game. Apa kalian sering berteriak ketika mendapatkan momen buruk saat bermain game? Itu artinya kalian bocah, dengar? BOCAH, B-O-T-J-A-H. Ehm... Maaf, salah bicara. Tidak ada yang tersinggung kan? Sampai dimana kita tadi? Oh iya, bicara soal game lagi.

Ting! Tong!

Siapa coba yang berkunjung jam segini? Apa Rin kembali ke rumah? Kalau itu Rin, kenapa dia menekan bel?

"LEN! CEPAT KELUAR!"

DORR!

Suara ini?! Suara... Tunggu aku lupa, coba aku ingat sambil berjalan ke arah pintu. Tunggu, kok kayak kenal ya, tapi siapa ya? Teman? Bentar, memang aku punya teman asli di luar sekolah ya? Perasaan semua teman ku di luar sekolah itu cuma orang-orang yang aku kenal secara online, bukan aku kenal secara tatap wajah langsung. Bentar sih, tapi kok suaranya familiar banget ya?

"INI MIKU! KELUAR ATAU PEN'piip'S MU PUTUS!"

BRUAK! BUAK!

"BISAKAH KAU TIDAK LANGSUNG MEMBERI TAHU NAMAMU?! AKU SEDANG MENCOBA BERPIKIR DI SINI! DAN JANGAN ASAL BICARA JOROK! DAN LAGI, APA BUNYI 'piip' YANG KELUAR SAAT KAU MENCOBA MENGATAKAN PEN'piip'S! ARGH! SUARA ITU KELUAR LAGI!"

"JANGAN MENABRAK KEPALAKU DENGAN DAUN PINTU DASAR LEN BODOH!" Ah... Kepalanya terkena dobrakan pintuku, sepertinya itu sakit.

Di pagi hari, kami langsung bertengkar hebat. Memang kami dikenal sebagai 'Duo-Drama Komedi Yang Brutal'. Eh? Siapa yang memberi julukan itu ya? Ibu tetangga? Tetangga yang mana ya? Samping rumah bukan? ARGH! Aku salah fokus! Sekarang yang penting-

"Kenapa kau bisa di sini?!"

"Aku akan menemanimu seharian di rumah! Persiapkan dirimu!"

"Miku! Kau bilang apa?! Menemaniku?! Kenapa kau tidak sekolah saja?! Bagaimana kalau nanti absensi kelasmu buruk?! Lagipula aku sedang mencoba menjadi Hikikomori di sini, kalau kau temani, bukan Hikikomori lagi namanya!" Teriakku.

"Bodo amat! Pokoknya aku mau ikut kegiatanmu di rumah!"

"Aku cuma main game! Nggak ada yang penting!" Dasar... Anak ini...

"Akan ku temani! Aku bisa bergabung main denganmu!"

"Kalau begitu aku akan membaca light novel saja, kau tidak akan mungkin membaca satu buku yang sama denganku bukan?!"

"Pinjami aku yang lain, aku akan membaca denganmu!"

"Aku akan makan sampai kenyang saja kalau begitu! Kau tidak akan kubagi!" Ini anak maunya apa sih?!

"Bodo amat, pokoknya akan kutemani!"

"Makanku 10 tahun!"

"Peduli setan sama makan 10 tahun! Dasar idiot, itu kan gak mungkin!"

"Kalau begitu aku ngef'piip'p aja!"

"Apa itu 'ngef'piip'p aja'?"

SIAPA COBA YANG NARO SENSOR 'piip' DI TENGAH KALIMATKU?!

"Terserah deh."

Akhirnya aku membiarkan Miku masuk, tapi apa beneran gak apa-apa ya?

"Sekolahmu bagaimana?"

"Aku izin sakit."

"Pendusta." Ucapku blak-blakan.

"Ngaca dulu sana."

"Cermin kali, bukan kaca, kaca mah gak mantulin objek." Ucapku melawan.

"Mantulin kok, makanya liat bener-bener."


XOXOX


"Main game doang seharian emangnya seru ya?"

Miku yang duduk di sampingku menggerutu tidak jelas. Aku hanya melihatnya dari sudut mataku. Dia memakai baju santainya, kaus oblong kebesaran dan juga celana pendek. Aku tahu rumahmu dekat, tapi bukankah bajumu terlalu 'mengundang' kalau dikenakan di luar? Aku melihatnya lagi, rambutnya tergerai lurus, terlihat sangat halus, aku bisa melihat tengkuknya karena dia menguncir rambutnya dua di samping. Aku bahkan bisa mencium bau shampo yang digunakan Miku, dia duduk terlalu dekat. Pandanganku mengalir dari tengkuk ke wajahnya saat dia menoleh ke arahku, bibirnya terlihat manis, bagai permen. TUNGGU! APA YANG AKU PIKIRKAN?!

BUAK! BUAK! BUAK!

LEN BODOH! BODOH!

"Len?! Len?! Kau sehat kan?" Tanya Miku.

"Sehat darimananya coba?!"

Dalam hitungan detik aku langsung menubrukan kepalaku ke lantai. Aku tidak boleh tergoda dengan teman masa kecilku sendiri, tenang Len, tenang. Sabar, jangan tergoda oleh iblis, emangnya iblis seperti apa yang membuatku tergoda dengan penampilan Miku yang biasanya kelewat tomboy?

"Game Over? Len, kamu Game Over tuh." Ucap Miku tiba-tiba, membangunkanku dari lamunanku.

"Hah?! Game Over, kok bisa?! SIALAN! Aku belum save sehabis lawan Gui tadi! Masa' ngulang lagi lawan Gui?!" Seketika aku ingin membanting controller ku ke lantai saat ini juga, tapi mengingat ada Miku di sekitar, ku urungkan niatku. Nanti malah kelihatan kayak orang stress gara-gara game lagi, Miku itu orangnya sekali serius, dia bakal serius beneran, gimana kalau dia manggil ambulans rumah sakit jiwa?

"Untuk seorang yang gak jelas kayak kamu, kamarmu jelas juga ya." Ucap Miku.

"Hah?"

"Maksudku kamarmu terlihat rapi."

"Oh..." Jawabku singkat, kemudian aku mengalihkan pandanganku ke arah game lagi.

"Len."

"Apa?"

"Apa kamu tidak apa-apa seperti ini terus?"

"Memangnya kenapa?" Jawabku cuek.

"Sekarang sudah saatnya kamu menentukan masa depanmu, apa kamu mau terus-terusan melakukan hal-hal tidak jelas seperti ini? Santai-santai seperti ini sepanjang hari? Kau membuang terlalu banyak waktu, Len."

"Ini hidupku, jangan atur aku." Ucapku, dingin.

"Aku mengerti Len. Tapi, sebagi temanmu yang sudah mengenalmu lama, aku khawatir kepadamu."

"Kalau kau punya waktu untuk mengkhawatirkan orang lain, kenapa kau tidak mengkhawatirkan dirimu sendiri terlebih dahulu? Apa kau pikir kau sudah benar dalam segala hal? Aku sendiri yakin, kau terlalu terbawa kemewahan dan beranggapan kalau mencari uang itu mudah semenjak kau menjadi artis dan idol yang lagi naik daun." Jawabku lagi.

"Kau kenapa sih?! Aku hanya mengkhawatirkanmu! Kenapa responmu sesempit itu?! Dan, jangan bawa-bawa kehidupanku di sini!"

"Kau yang pertama membicarakan kehidupanku! Apa hakmu mengomentari kehidupan orang lain dan memaksa mereka untuk mengubahnya sesuai keinginanmu?! Kau sendiri sadar kalau kau tidak mau hidupmu diungkit-ungkit oleh orang lain bukan?!" Ucapku, tanpa sadar aku berteriak.

"Kau... Kenapa kau selalu keras kepala?! Bahkan dari awal kita saling mengenal, aku tidak pernah bisa mengerti jalan pikiranmu!"

"Kalau kau tidak pernah mengerti aku, kenapa kau berani berkata kalau kau adalah temanku?! Bukankah kau sendiri yang bilang kalau teman harus saling mengerti bukan?!"

"Aku... Aku hanya ingin kau menjadi lebih baik! Tidak lebih!"

"Lebih baik? Dengan membuatku menjadi budakmu begitu?! Jangan perintah aku seenaknya!"

"Aku tidak memerintahmu! Aku hanya ingin kau sadar akan dirimu sendiri dari lubuk hatimu!"

Aku geram, arah pembicaraan ini menuju ke arah yang aku benci. Aku mulai berteriak lebih kencang dari Miku, aku tidak lagi memikirkan perasaan Miku saat ini.

"Lenka ba-san berkata, kalau kau harus mulai membuka pikiranmu dengan orang lain!" Ucap Miku kemudian, kau... Kenapa kau...

"Kenapa kau membawa-bawa nama ibuku? Atas dasar apa dan atas hak apa kau berani mengungkit keluargaku?" Tanyaku dingin.

"Aku tidak bermaksud kasar, tapi kau benar-benar harus mengubah arah hidupmu Len!"

"Dari tadi kau berbicara tentang 'merubah' dan 'merubah' terus menerus, jika kau bisa berkata demikian, berikan aku alasan untuk terus melanjutkan hidup ini dibawah warna bunga mawar! Berikan aku tujuan agar aku bisa lagi menikmati senja dengan tawa!"

Miku terdiam setelahnya, itu benar... Aku tidak butuh nasihat, yang aku butuhkan hanyalah tujuan hidup.

"Kau... Kau masih menyukai senja, benar itu Len?"

Aku tidak menjawab.

"Kau tahu kan, kalau Lenka ba-san juga suka dengan warna langit senja?"

"Jangan bawa-bawa nama ibuku."

"Tapi, Len-"

"Jangan ungkit nama ibuku!"

BRAK!

Aku melempar controller ku hingga hancur ke tembok di samping kepala Miku. Kenapa? Kenapa tidak ada orang yang mau mengerti aku?

"Keluar..."

"Len?"

"Aku bilang keluar."

"Len... Kau... Kenapa? Apa aku terlalu berlebihan?"

"KELUAR KU BILANG!"

Aku menarik lengan Miku dengan kasar dan mendorongnya keluar dari kamarku, saat dia jatuh terduduk, aku bergegas mengambil kenop pintu dan menguncinya rapat.

BUAK BUAK!

"Len, buka! Kumohon! Bukalah! Apa aku kelewatan?! Kalau begitu, maafkan aku! Aku tidak bermaksud menyakitimu Len, aku hanya-"

Aku tidak mendengar perkataan Miku selanjutnya, aku duduk meringkuk di pinggir kasur dan menutup telingaku erat. Setelah selang beberapa menit berlalu, suara gendoran di pintu kamarku menghilang, menandakan Miku sudah lelah dan memutuskan untuk pergi meninggalkan ku.

Miku... Aku tidak bermaksud memarahimu... Tapi, apa kau kira aku sendiri tahan akan kehidupanku? Kenapa tidak ada yang mengerti, kenapa tidak ada seorangpun yang mengerti? Jangan berkata tentang filosofi dan pandangan hidup kepadaku, berikan aku tujuan hidup, berikan aku kebahagiaan. Aku tidak butuh pikiran naif, aku hanya butuh sebuah tujuan... Aku sudah tenggelam terlalu dalam, dan terseret terlalu kencang dalam kelamnya arus kehidupan. Apa kalian semua kira aku hanya harus melupakannya dan melangkah maju? Kehidupanku yang sekarang ini bagai dua sisi koin logam, tapi keduanya sudah berkarat, menandakan pilihan apapun yang ku pilih dari kedua pilihan yang ada, hasilnya akan tetap sama... Buruk... Kenapa tidak ada yang mencoba mengerti diriku sebelum mengomentari apa-apa tentang aku?


XOXOX


"Jadi Len-senpai tidak masuk ya hari ini?" Aria menatap ke luar jendela dari dalam kelas. Aria mengetahui kalau Len tidak masuk dari adiknya, Kagamine Rin, siapa sangka, ternyata Rin dan Aria bisa satu kelas di tahun ajaran baru? Aria melihat lapangan yang dipenuhi oleh murid-murid yang sedang dalam kelas olahraga. Dia mengalihkan pandangannya ke papan tulis di dalam kelas. Melihat beberapa tulisan rumus di sana.

"Apa ada yang bisa dengan soal ini? Jika ada, tolong angkat tangan." Ucap guru yang mengajar di kelas Aria. Semua orang takut dengan wajah guru itu yang terlihat tidak bersahabat dan tidak ada yang mengangkat tangannya. Aria mengangkat tangannya dan maju ke papan tulis. Dalam hitungan detik, soal ini tergarap dengan sempurna di sana.

"Bagus, Arstugna-san. Jawabanmu benar."

"Terima kasih sensei, tapi kau bisa memanggil Kokonoe mulai sekarang." Aria meletakkan spidol dan berjalan kembali ke mejanya. Diikuti berbagai macam tatapan mulai dari yang kagum sampai yang benci, Aria tidak memberikan respon apapun terhadap mereka. Dia sudah terlalu biasa dengan tatapan seperti itu, bahkan di tempat asalnya sendiri.

Bel tanda selesainya aktivitas formal di sekolah sudah berbunyi, jam menunjukan ke angka 3 sore itu. Aria mengambil barangnya dan pergi ke loker sepatunya untuk pulang. Saat dia membuka lokernya, sebuah benda berbau tidak sedap jatuh dari dalam lokernya.

BUK!

"Kyaaa! Tikus!"

Anak-anak perempuan yang ada di sana langsung memasang tatapan jijik, Aria melihat bangkai tikus yang barusan jatuh dengan mata tenang, dia mengambil bangkai itu dengan plastik dan menguburkannya. Setelah beberapa waktu, dia kembali ke loker sepatunya untuk membersihkan lokernya yang penuh dengan darah dan bau tidak sedap.

'DIE YOU, BITCH!'

Salah satu tulisan yang sepertinya ditulis dengan darah tikus terbaca dengan jelas di sudut terdalam loker. Aria mengusapnya dengan satu usapan dan membuat lokernya kembali bersih. Setelah mengambil sepatunya, dia berjalan keluar areal sekolah dengan mata yang masih tidak memancarkan emosi apapun.

"Kenapa ya, apa ada dari mereka yang membenciku?" Gumam Aria pelan.

Saat dia berjalan pulang, dia mampir ke sebuah konbini untuk memberi beberapa camilan.

"Cemilan Jepang memang memiliki kualitas yang bagus." Gumam Aria lagi.

Aria tidak pernah mau ketika ditawarkan untuk memiliki sebuah supir pribadi. Melihat bagimana harta keluarganya, dan juga statusnya secara pribadi, memiliki seorang supir pribadi yang mengantar dan menjemputnya pulang sebenarnya bukan hal yang aneh, ini semua sebenarnya demi keselamatannya juga. Alasan dia tidak mau memiliki sesuatu yang mengekangnya dalam perjalanan menuju ataupun pulang sekolah adalah 'karena aku tidak mau melewatkan Jepang dengan menaiki kendaraan yang menyebabkan polusi'.

"Selamat datang, ada yang bisa kubantu?"

Aria mendapatkan sebuah salam ramah dari penjaga kasir, dia tidak sadar kalau si penjaga kasir menghentikan nada suaranya secara tiba-tiba di akhir kalimat. Tanpa melihat siapa si penjaga kasir, Aria langsung berputar mencari beberapa kebutuhannya, dia sebenarnya agak penasaran, Aria merasa kalau dia mengenal suara dari si penjaga kasir.

Ketika Aria ingin membayar belanjaannya, dia tidak menatap si penjaga kasir sedikitpun.

"Semuanya 650 yen."

Aria mengeluarkan satu lembar uang 1000 yen, ketika dia mendongak untuk memberikan uang tersebut, dia baru sadar, siapa si penjaga kasir sebenarnya.

"Yo. Sudah sadar?"

"Senpai?"

Ya, itu adalah Len.

"Apa yang senpai lakukan di sini?"

"Kerja sambilan."

"Karena hal ini senpai tidak sekolah?" Tanya Aria.

"Aku punya tiga pekerjaan sambilan sebenarnya, yah itu salah satu alasan kenapa aku sering tidak masuk sekolah. Tapi pekerjaanku bukanlah alasan utama, kau akan tahu alasannya jika sudah waktunya."

Aria tidak mengatakan apapun, dia langsung mengambil belanjaannya dan beranjak pergi.

"Senpai, apa kau masih lama?" Tiba-tiba Aria berbalik dan menanyakan pada Len tentang pekerjaannya.

"Hmm... Seharusnya aku akan segera selesai sore ini, tapi sehabis itu aku dapat shift malam. Aku bisa meminta memundurkan jadwal shift untuk malam ini jika kau mau. Memangnya ada perlu?"

"Sebenarnya tidak terlalu penting sih, apa senpai tidak keberatan berjalan-jalan sebentar denganku?"

Len berpikir sebentar, setelah beberapa menit, dia menyanggupi permintaan Aria. Aria menunggu dengan santai di luar pintu konbini, setelah beberapa menit lagi berselang, Len keluar dengan sebuah celana jeans dan kaos dilengkapi dengan jaket yang cukup tebal.

Dalam pikiran Len, dia sebenarnya juga berpikir, kenapa Len bisa sedekat ini dengan anak yang baru dia kenal seperti Aria? Terlebih lagi, Len merasakan ada sesuatu yang sama dalam diri Aria dengan dirinya, sesuatu yang tidak terlihat tapi jelas terasa, membuat Len bisa nyaman dengan Aria walau Aria selalu nampak seperti tidak memiliki emosi apapun.

"Jadi, ayo kita berangkat?" Ajak Len, dengan nada bertanya.

Len berjalan duluan, Aria mengikuti di belakangnya. Ini senja kedua mereka berjalan bersama. Aria masih terdiam sejak dari awal mulai berjalan, membuat Len penasaran dan bertanya pada Aria.

"Apa kau sehat? Mukamu agak pucat..."

"Cuma perasaan senpai saja kok." Jawab Aria cepat.

"Kau mau ku antar pulang lagi? Sesuai janjimu, kau akan memperbolehkan aku masuk kali ini bukan?"

Aria tanpa berpikir sejenak, kemudian menganggukan kepalanya tanda setuju.

"Sepertinya bukan ide yang buruk."

Mereka kembali berjalan dalam keheningan lagi, tanpa Len duga, Aria mengatakan sesuatu yang sangat aneh kala senja itu.

"Senpai, apa senpai punya pacar?"


XOXOX


"Kehidupan bukanlah sesuatu yang patut kau perjuangkan keras dengan naif, tapi kehidupan adalah sesuatu yang patut untuk kau korbankan untuk hasil yang sesuai."


XOXOX


Chapter 3 selesai~

Apa sudah keliatan konfliknya? Ini sebenarnya konflik yang biasa di kalangan anak sekolah, tapi jangan kira saya suka membuat yang 'biasa-biasa saja' XD

Apa humornya masih kurang? Maaf, saya masih kurang jago buat humor, apalagi menyisipkan di semua chapter, target saya sih, fict ini bakal memuat humor di tiap chapternya (mengingat fict saya yang sebelum-sebelumnya bener-bener kelewat serius), tapi entah bisa tercapai atau tidak.

Di atas ada dua bintang kecil di dua kata, kedua-duanya plesetan nama dari sesuatu, yang satu dari studio pembuat anime, yang satunya nama game XD #PLAK

Balas review~


-To reviewer named livelesssnow:


Masa lalu Len mah gak kayak air got, mirip limbah rumah tangga kali XD *Bukannyasamaajayak?

Wah, jadi Len itu gak pernah heroik ya? Cengen dong namanya?

#DitikamLen

Emang sih, ch1 sengaja dibuat monoton, biar susah nebak alur ceritanya XD

Makasih ya udah review~


Akhir kata, maaf jika ada kata yang kurang berkenan, saya mau tahu komentar kalian soal chapter kali ini, apapun itu, karena bentuk apresiasi dari kalian adalah kebahagiaan untuk saya.

Jaa~~ Matta ne~~ ^^

Best Regards,

Aprian