Chapter 4 : Sungguh, Ini Semua Hanyalah Lelucon
Ohayou/Konnichiwa/Konbanwa Minna-san~
Ohisashiburi desu~
Saya agak kecewa dengan grafik dari fict ini, yah... Mau bagaimana lagi, mungkin nama saya sudah mulai terlupakan setelah dua tahun ada di fandom ini T_T
Mau tahu sesuatu yang lucu? Waktu saya baca fict ini dari fandom voca langsung (gak dari akun saya), saya langsung bereaksi 'Apaan nih?! Absurd banget monolognya!' dan alhasil langsung ditegur guru karena baca ulangnya pas lagi pelajaran, tapi untung gak diambil laptop temen saya sama guru, saya baca pake laptop temen di kelas. Di sekolah saya itu hp di larang bawa, laptop juga di larang bawa mulai semester ini... Makanya desperate banget kalo di sekolah, tapi untungnya masih ada tangan-tangan jahil yang melanggar aturan tersebut demi alasan 'self-comfort' seperti saya (Saya masih suka bawa hp ke sekolah loh #PLAK #MohonJanganDitiru)
Udahan ah curhatnya, langsung mulai aja ya!
P.S: Saya bakal mereplace chapter 1-5 karena ada kesalahan serius.
Kisah Sebuah Senja
Main Character: Kagamine Len, Hatsune Miku, IA
Main Pair: Guess who? Anybody want to answer and try to solve this question? :3
Disclaimer : Vocaloid © Yamaha, and other companies
Story © Me
UTAUloid © Owner creator
Fanloid © Creator
Summary :
"'Lebih baik kau mati saja!' Aku terbangun dari mimpi burukku lagi, andai saja-andai saja ada seseorang yang bisa membantuku menghilangkan mimpi buruk ini./'Kau bisa!' 'Jangan bohong!' 'Aku tidak akan berbohong!' 'Kalau begitu, berikan aku tujuan hidup!'/ Setelah berbagai peristiwa, akankah aku bisa menerima senyuman seperti warna langit senja yang selalu aku sukai?/Cerita tentang Hikikomori berat, Penyanyi hebat dan Seniman berbakat! Kemana cerita ini akan berjalan?"
Warning : OOC (maybe), typo(s), gaje, pendeskripsian kurang, kesalahan eja 'EYD' dan teman-temannya.
'Abc' (italic): Flashback, kata asing, atau percakapan secara tidak langsung (telepon, email, sms, dll)
"Abc" : Percakapan normal
'Abc' (kutipsatu) : Hayalan, angan, atau (monolog) pikiran karakter.
'Abc'/ 'ABC' (bold atau kapital) : Kata atau kalimat yang diberi penekanan, kata atau kalimat penting.
HAPPY READING!
XOXOX
Aku masih hidup.
Aku juga bernafas.
Aku ada di dalam masyarakat.
Aku juga masih berinteraksi di antara mereka.
Kalian tahu apa yang menyenangkan dari semua itu? Tidak ada satu orangpun di dekatku yang bisa mengerti paling tidak sedikit tentang aku, padahal aku sering berinteraksi dengan mereka. Aku tidak pernah menyuruh orang mengerti sepenuhnya tentang diriku, tapi paling tidak, mereka bisa membaca suasana ketika sedang bersama denganku, setidaknya seperti itu. Kalian pasti sering mendengar tentang, 'sahabat yang mengerti apapun tentang dirimu'... Ah, enaknya, aku juga mau dapat satu yang seperti itu... Sepertinya hidupku akan lebih seru...
Aku tidak pernah mengerti gelagat orang lain, tapi aku juga tidak mau memaksa orang lain untuk mengerti aku, seperti yang aku katakan sebelumnya. Seorang Kagamine Len, seharusnya menjadi orang yang dipenuhi wajah dusta dan bermuka tebal di masyarakat. Sangat pintar berakting, walau tidak jarang aktingnya berakhir gagal dan membuatnya dijauhi orang-orang. Aku tidak muluk-muluk dalam menjalani keseharianku, kenapa hidup dibawa susah sih? Orang bilang, hidup itu pilihan, seharusnya mereka berkata dengan bahasa yang benar, 'hidup itu tentang memilih' itu yang menurutku benar.
Jika mereka berkata hidup adalah pilihan, berarti dari awal, bahkan ketika aku belum lahir dan akan dilahirkan ke dunia, seharusnya aku memiliki pilihan untuk tidak masuk ke dalam kehidupan di dunia jika jadinya seperti ini, nyatanya aku masuk ke dalam dunia ini tanpa aku sadari bagaimana caranya. Jika aku berkata hidup adalah tentang memilih, itu berarti kau diberi kehidupan yang dimana kau tidak bisa menolak untuk itu, tapi kau bisa membuat keputusan-keputusan berdasarkan keinginanmu sendiri selama kau menjalani kehidupan yang telah diberikan kepadamu. Terdengar logis bukan?
Aku, Kagamine Len, memiliki satu orang adik perempuan, namanya Kagamine Rin, dia cantik... Sangat cantik malahan. Rasanya aku ingin mengencani dia andai dia bukan adik ku sendiri. Sifatnya polos, masih sangat murni, wajahnya oriental, kalian tidak akan bisa menatap matanya lebih dari satu menit tanpa membuat wajah kalian sendiri tersipu malu. Dia pintar masak, siapa sih yang tidak ingin istri yang bisa memasak enak? Dia bagus dalam hal fisik, walau bisa kuberi nilai standar, tapi standar yang dia punya sudah di atas rata-rata untuk perempuan. Dia juga tidak lelet dalam memahami sesuatu, akademisnya tidak bisa dibilang sangat bagus, ya seperti perumpamaan kau mendapat nilai 100 dalam test matematika pertamamu di semester baru, kemudian kau mendapat nilai 86 di test berikutnya... Normal bukan? Satu-satunya yang 'buruk' tentangnya, yah aku bisa memberi kata 'buruk' dengan tambahan petik, kenapa bisa begitu? Kalian tahu kan, penggilas aspal di halaman belakang? Namanya Roadroller, Rin memanggilnya Rocchan, apa kalian bisa membayangkan apa yang Rin lakukan dengan benda itu? Jika sudah dalam tahap kesal stadium akhir (Memangnya penyakit, apa?) dia bakal ngeluarin mainannya dari dalam gudang di halaman belakang dan menggila di jalanan sambil melindasi barang-barang tetangga tanpa kendali. Mungkin itu terdengar biasa bagi kalian, pasti kalian berpikir 'pasti perempuan yang sempurna juga memilii kelemahan' dan mengimplementasikannya pada keadaan Rin.
Tapi jangan salah, kalian tahu insiden yang paling parah? Dia menabrak seekor kucing yang tengah dikejar-kejar anjing, alih-alih membelokkan mainannya itu (dengan alasan, Rin cinta kucing, jadi dia tidak mau melukainya) dia berbelok ke persimpangan jalan saat lampu sedang hijau, esoknya kau bisa melihat wajah Rin di koran pagi dengan mata yang disensor batangan hitam dan juga di acara berita televisi yang bertajuk'Seorang Murid SMP Membawa Kerugian Nasional Sebesar 10 Juta Yen!' pada headlinenya. Itu gila bukan?! ITU GILA, IYA BUKAN?! Ehm... Sepertinya aku terbawa suasana.
Aku juga memiliki seorang teman, dia teman dari aku masih kecil, Miku namanya. Rambutnya panjang, kelewat panjang malah, waktu masih kecil, aku sering memainkan rambutnya dengan membuatnya membersihkan trotoar sekitar (Menyapu jalan maksudnya). Dari zaman dia masih kecil sampai sekarang, model rambutnya tidak pernah diganti, selalu saja dikuncir dua. Pernah suatu ketika, saat kami SMP, Miku mengubah-ubah gaya rambutnya. Hari senin pertama, dia menguncir rendah rambutnya di belakang kepala. Hari berikutnya, gayanya sama, hanya agak tinggi. Keesokan harinya, dia mengepang dan melingkarkan kepangan rambutnya di sekitar kepalanya. Hari esoknya lagi, dia membuat rambutnya dikuncir dua rendah di belakang kepala. Pada hari terakhir dari waktu efektif sekolah, dia menguncir ke samping rambutnya.
Aku penasaran maksud dari Miku, siang hari pada jam istirahat makan siang, aku menanyakan maksudnya. Kalian tahu jawabannya? Dia cuma mau di notice si anak baru yang seorang playboy cap kaki gajah, si Utatane Piko, padahal anak itu kalau senyum udah kaya orang nahan pup, belum lagi wajahnya girlish banget, gak cocok dibilang cowok, beneran deh. Minggu selanjutnya Miku melakukan hal yang sama, mengubah secara random gaya rambutnya, sampai Miku untuk pertama kali dalam hidupnya dan juga yang terakhir kali setelahnya, memotong rambutnya menjadi gaya bob yang pendek (rumornya waktu itu Miku mau dipotong botak, tapi akhirnya hanya rumor, tidak terbukti kebenarannya) dan mendapati kabar angin kalau Piko itu sebenarnya homo. Ada adik kelas yang katanya pernah liat Piko sama cowok lain di belakang sekolah saat sore hari, mending dia jadi si 'pemegang suasana', dia jadi yang 'menikmati suasana'! Kalian mengerti kan?! Maksudku, masih lebih baik kalau dia jadi yang jantan, eh katanya si adik kelas yang gak sengaja liat Piko waktu itu, Piko malah memainkan posisi betina! Bayangin coba, gimana hancurnya hati Miku waktu itu, dalam radius 100 m ketika kau melihat Miku saja, kau bisa merasakan suara kaca pecah dari arah Miku. Bisakah kalian bayangkan suara hati yang pecah berkeping-keping udah kayak petasan malam tahun baru imlek? (Emang imlek pakai petasan ya?)
Akhirnya Miku mendapatkan pembenaran dari rumor tersebut, katanya sih, Piko itu masih normal... Tapi, Miku udah terlanjur percaya dan katanya lagi sih, dia juga pernah ngelihat *coughPikoberduaansamacowoklaincough*. Mereka tetap menjadi teman seperti biasa, seperti normalnya keseharian mereka. Akhirnya aku mendapatkan julukan baru lagi untuk Miku, hingga sekitar 2 bulan aku memanggilnya sebastian, sebatas teman tanpa kepastian. Pfft...
Mungkin jika kalian simpulkan tentang kehidupanku dari cerita singkatku tadi, pasti kalian akan merasa keseharianku itu normal, mungkin di satu sisi menyenangkan malah, iya bukan? Pasti paling tidak ada di antara kalian semua yang merasakan seperti itu. Tapi aku hanya bisa mengatakan, 'hidup tidak selamanya rata'.
Sekarang, disinilah aku, bersama adik kelas baruku, menjalani perjalanan absurd nan gaje ini dengan keheningan. Awalnya sih hanya ingin mengajak basa-basi sejenak dengan mengajaknya jalan di sore hari (toh dia sendiri yang kebetulan bertemu denganku dan mengajak ku keluar), tapi setelah satu pertanyaan pamungkas yang bahkan Einstein sekalipun tidak akan bisa menemukan jawabannya ketika dia masih hidup dengan segera, semuanya berubah menjadi suasana yang awkward.
"Senpai, apa senpai punya pacar?"
DEG!
Mau jawab apa coba?!
"Se-sepertinya agak mendung? Lebih baik kita berjalan agak cepat." Ucapku mengelak dari pertanyaannya.
Dia menyamaiku langkahku dengan mempercepat langkahnya, menatapku dengan wajah tanpa ekspresi (di satu sisi itu terlihat polos dan tanpa dosa, di satu sisi pancaran rasa penasaran keluar darinya), dia menanyakan hal yang sama lagi denganku.
"Senpai, apa senpai punya pacar?"
"A-Ah! Aku lupa!" Ucapku pura-pura sambil menepuk tanganku.
"Senpai lupa sama pacar senpai?" Tanya dia, polos.
"Bukan! Aku harus pulang untuk membuatkan Rin makan malam." Ucapku sambil sweatdrop.
Ketika kami berdua melewati blok di mana rumahku berada, aku mendengar sebuah teriakan yang mungkin tingkat keberisikannya melebihi 50 desibel dari arah dimana rumahku berada.
"NII-CHAN! KENAPA PIRINGNYA SETELAH MAKAN TIDAK DICUCI?!"
DEG!
Cuma perasaan atau itu memang suara Rin?!
XOXOX
Len menegang, ekspresinya menjadi masam ketika dia mendengar sebuah suara yang luar biasa kencangnya sedang marah-marah karena ada sebuah piring di tempat piring kotor yang belum di cuci. Hanya firasat, tapi firasat Len mengatakan itu Rin dan dalam hitungan menit dia akan mengejar Len menggunakan mainannya sampai Len tertangkap dan 'diadili' oleh Rin. Ini salah satu ketidaksempurnaan perempuan nyaris sempurna seperti Rin, 'Mempermasalahkan hal yang tidak begitu penting.'
Merinding ketakutan, Len menggandeng tangan Aria dan mengajaknya berlari tanpa mengatakan apapun. Ketika mereka berdua berlari, Aria bertanya dengan wajah tanpa ekspresinya.
"Ada apa senpai?"
"Nanti saja kujelaskan, pokoknya lari saja dulu!"
"Loh? Memangnya ada yang salah?"
"Ada! Kalau tidak, aku tidak akan berlari sambil menggila seperti ini!"
Len masih terus berlari dengan cepat dengan Aria mencoba mengikuti langkah kaki Len yang lebar di belakang Len. Ketika mereka sampai di sebuah persimpangan, tanpa aba-aba bulu kuduk Len berdiri.
"Greeeeng!" Suara mesin terdengar secara tiba-tiba.
"Hiiy?!"
Len, dengan mata yang berputar-putar langsung mengambil arah lain dan berlari makin kencang, saking kencangnya dia bahkan membuat Aria yang dia tarik terbang di belakangnya.
Apa yang Len takutkan adalah bunyi yang dia kira adalah bunyi Roadroller Rin, tanpa melihat apa yang sebenarnya yang membuat Len takut, Len langsung saja berlari alih-alih ketakutan duluan. Coba kita lihat ke arah persimpangan yang dihindari Len barusan.
"Ada apa?"
Kalian mengerti kan? Itu cuma seorang nenek yang sedang menggunakan blender untuk menghaluskan makanannya. Sang nenek tersenyum dengan sebagian gigi yang sudah tanggal. Len benar-benar terlalu takut duluan... Dasar...
.
.
.
"Sepertinya kita sudah cukup jauh."
Suara Len yang terengah-engah terdengar sangat kencang, Aria masih setia menunggu Len dan juga penjelasannya yang bisa kita perkirakan hanya penjelasan bodoh tanpa alasan dan tidak berguna untuk didengar.
"Jadi, senpai, ada apa?"
"Kau tahu monster?"
Aria mengangguk.
"Berterimakasihlah karena aku sudah menyelamatkan kita dari seekor monster yang mengamuk."
Ucap Len sambil terus terengah-engah, Aria menatap ke beberapa arah di sekitarnya terlebih dahulu, kemudian dia membungkuk dan mengucapkan terima kasih.
"Danke, senpai."
"Hah? Itu, bahasa Belanda?" Tanya Len.
"Bukan, Jerman."
"Owh."
Dan pembicaraan sepenggal-sepenggal mereka terus berlanjut, Aria sudah tidak ingat lagi apa yang sebenarnya dia ingin ketahui dari Len.
'Huff... Untung saja, sepertinya dia lupa dengan apa yang dia tanyakan di awal tadi.' Pikir Len.
"Jadi, senpai..."
"Iya?"
"Apa senpai punya pacar? Yey~" Tanya Aria dengan nada yang dibuat-buat.
GEDUBRAK!
'Jangankan lupa! Dia bahkan menambahkan nada baru yang tidak jelas di kalimatnya!'
Len jatuh dengan kaki menghadap ke atas. Sepertinya ada yang salah dengan keadaan Len saat ini. Len langsung berdiri dan membenahi posisinya, istilahnya sih jaga image, kan malu kalau sampai dilihat nggak berwibawa di depan adik kelas.
"Anu... Uhm... Ahh..." Ucap Len tidak jelas, Aria masih setia menunggu.
"Aku... Aku... Aku..." Lanjut Len.
"Iya?"
"Sepertinya, belum punya pacar."
"Gitu aja jawabnya lama." Ucap Aria kemudian, dengan nada kesal.
'Eh? Barusan dia mengatakannya sambil kesal?' Pikir Len.
Pada akhirnya Len tidak mengerti tentang perwatakan dari diri Aria sama sekali...
.
.
.
"WOW! RUMAH YANG FANTASTIS!"
Len masuk ke dalam sebuah rumah mewah yang sebelumnya hanya bisa di lihat dari luar gerbang, dengan mata yang berakomodasi sempurna, dia melihat setiap sudut ruangan yang tengah dia tempati dengan teliti, seperti seorang stalker yang sedang mencari waktu yang tepat untuk melahap 'target'nya.
"Selamat datang senpai, anggap saja rumah sendiri."
Aria berjalan dengan santai di tengah-tengah para butler dan maid yang menundukan tubuh dihadapannya. Len berdecak kagum dengan apa yang dia lihat.
'Bangsawan memang beda.' Pikir Len.
Ketika Aria pamit untuk kembali ke kamarnya dulu dan berganti baju, Len mulai melihat-lihat apa saja yang ada di aula tempat dia menunggu.
"Jangan bilang..."
Len menghampiri sebuah etalase kaca dan menempelkan wajahnya di kaca tersebut, matanya bergerak naik dan turun untuk memeriksa 'keaslian' dari barang yang sedang dia lihat, setelah yakin dengan apa yang dia lihat, dia langsung berteriak kegirangan tepat saat Aria sudah ada di belakangnya.
"Ini... INI TIDAK MUNGKIN! AKU TIDAK PERCAYA INI!"
Len berbalik dengan wajah yang terlihat seperti 'orang mesum yang sedang bergairah' dengan nafas terengah-engah dan mata yang melebar, dia memegang pundak Aria dan mengguncangnya pelan.
"Bagaimana kau bisa mendapatkan barang itu! Bagaimana bisa?!"
"Apa yang senpai katakan?"
"Itu! Barang itu!"
Len menunjuk ke semua 'benda' yang dia maksud.
"Itu adalah 10 hadiah figma model untuk sepuluh pembeli pertama seri terbaru dari game 'Oda Nobunaga no Yabou'! Bagaimana kau bisa mendapatkan semuanya?! Ini semua barang langka!"
"Aku hanya membeli langsung sepuluh game waktu itu."
"Waa! Kau bahkan punya 5 jilid bundel terbatas dari light novel legendaris Love Stigma versi platinum lengkap dengan tanda tangan penulisnya!"
"Belum lagi kau bahkan punya gunpla Zaku keluaran pertama! Ini kan sudah ditarik dari pasaran! Ini adalah gunpla model pertama yang pernah dikeluarkan!"
Len sibuk sendiri dengan kesenangannya melihat benda-benda Aria tanpa henti. Aria memiringkan kepala, di satu sisi dia senang melihat Len senang akan barang-barangnya, di sisi lain, Aria serasa melihat monyet yang ingin masuk ke kandang hewan lain.
Aria sendiri belum lama ada di Jepang, tapi dengan statusnya sebagai bangsawan kerajaan (dan juga beberapa koneksi khusus tentunya) Aria mampu untuk mendapatkan hal-hal yang dia inginkan. Awalnya dia tidak begitu tertarik dengan dunia 'otaku' yang sedang populer, dia hanya melihat budaya tersebut sebagai hal yang biasa, jangankan tertarik, bahkan untuk hanya memiliki niat mengetahui apa itu 'otaku' dia tidak punya. Hingga suatu hari, ibunya menawarkan Aria sebuah game untuk melepas kesehariaannya yang selalu dipenuhi kursus dan juga pembelajaran menjadi ratu yang baik, itu sebuah galge dari Jepang, anehnya, itu membuat Aria menangis saat menyelesaikannya. Walau tidak dalam tahap kecanduan, tapi Aria perlahan mau mengenal budaya Jepang akan permainan dan kreatifitasnya di bidang hiburan, hingga sekarang ini. Walau dia terlihat sebagai seorang kolektor berat di bidang otaku, tapi nyatanya dia tidak menunjukan ketertarikannya akan hal tersebut pada orang lain. Dia mengetahui kalau budaya otaku nyatanya malah kurang dihargai oleh masyarakat Jepang sendiri.
Melihat Len yang seperti anak kecil, sejenak membuat Aria melupakan masalahnya, masalahnya tentang kampung halamannya yang sedang dijerat oleh masalah yang berat. Hanya doa yang bisa Aria lakukan untuk membantu ayah dan ibunya melewati krisis negara. Alasan Aria ke Jepang juga demi menghindari konspirasi yang sedang terjadi di kampung halamannya, dengan dikawal dengan puluhan pengawal yang beragam dan ahli di bidangnya, Aria mungkin jadi salah satu orang penting di Jepang yang dilindungi dengan ketat, Aria juga datang ke Jepang dengan bantuan kedutaan Inggris (Britania) di Jepang karena St. Lucia sendiri adalah salah satu negara kolonial Inggris yang tidak memiliki hak diplomatik individual.
Kembali ke keadaan sekarang, Aria masih melihati Len yang bingung akan kesenangan di depannya.
"Aria! Ini hebat! Aku iri denganmu!"
"Aku bisa memberikan itu semua kepada senpai."
"Benarkah?!" Ucap Len tanpa melepas pandanganya.
"Jadilah pacarku, dan aku akan memberikan semua milikku pada senpai, termasuk tubuh dan jiwaku."
Tanpa berpikir dua kali, Len menjawab 'iya' dengan segera dan suara yang lantang. Dibutakan oleh materialisme di hadapannya, Len tanpa sadar sudah menggali kuburannya sendiri di kehidupan yang dia jalani. Apa Len membuat keputusan yang benar?
XOXOX
"Kalian tahu apa yang menjadi pola pikir orang awam tentang candaan? Itu hanyalah untaian kata yang ditujukan untuk kepentingan hiburan, nyatanya, banyak orang yang terjerumus dalam keadaan serius karena sebuah candaan yang tidak sengaja."
XOXOX
Chapter 4 selesai~
Itu nama game di atas beneran ada, saya berpikir kalau mengganti namanya, berarti saya merubah nama tokoh sejarah paling bersejarah di Jepang (Oda Nobunaga). Untuk nama LN, saya ngarang sendiri XD
Akhir kata, maaf jika ada kata yang kurang berkenan, saya mau tahu komentar kalian soal chapter kali ini, apapun itu, karena bentuk apresiasi dari kalian adalah kebahagiaan untuk saya.
Jaa~~ Matta ne~~ ^^
Best Regards,
Aprian
