Chapter 5: Salah, Ada yang Salah Dengan Semua Ini

Ohayou/Konnichiwa/Konbanwa Minna-san~
Ohisashiburi desu~

Membahas tentang fict ini, saya bisa berkata kalau fict ini akan jadi fict terpanjang yang akan saya buat dari semua fict yang pernah saya buat selama ini. Saya sudah menargetkan fict ini sampai 25 chapter, bahkan lebih, semoga gak bosan ya!

P.S: Saya bakal mereplace chapter 1-5 karena ada kesalahan serius.

Kisah Sebuah Senja

Main Character: Kagamine Len, Hatsune Miku, IA
Main Pair: Guess who? Anybody want to answer and try to solve this question? :3

Disclaimer : Vocaloid © Yamaha, and other companies
Story © Me
UTAUloid © Owner creator
Fanloid © Creator

Summary :

"'Lebih baik kau mati saja!' Aku terbangun dari mimpi burukku lagi, andai saja-andai saja ada seseorang yang bisa membantuku menghilangkan mimpi buruk ini./'Kau bisa!' 'Jangan bohong!' 'Aku tidak akan berbohong!' 'Kalau begitu, berikan aku tujuan hidup!'/ Setelah berbagai peristiwa, akankah aku bisa menerima senyuman seperti warna langit senja yang selalu aku sukai?/Cerita tentang Hikikomori berat, Penyanyi hebat dan Seniman berbakat! Kemana cerita ini akan berjalan?"

Warning : OOC (maybe), typo(s), gaje, pendeskripsian kurang, kesalahan eja 'EYD' dan teman-temannya.

'Abc' (italic): Flashback, kata asing, atau percakapan secara tidak langsung (telepon, email, sms, dll)
"Abc" : Percakapan normal
'Abc' (kutipsatu) : Hayalan, angan, atau (monolog) pikiran karakter.
'Abc'/ 'ABC' (bold atau kapital) : Kata atau kalimat yang diberi penekanan, kata atau kalimat penting.

HAPPY READING!


XOXOX


"Senpai, apa senpai lapar?"

Aku mendengar suara dari Aria yang menawarkan aku makanan. Sekarang sudah malam, sekitar jam 9 malam. Jam 10 nanti aku akan ada shift malam di tempat kerja ku. Sudah beberapa saat lalu aku terkagum-kagum dengan semua koleksi Aria, dan kalian tahu apa yang terjadi? Aku dipelototi oleh semua orang yang ada di mansion ini, mulai dari penjaga kebun sampai pelayannya! Kalian tahu kan rasanya dilihat banyak orang dengan pandangan yang mengintimidasi?! Itu mengerikan, sungguh… Beneran deh… Beneran, sumpah.

Aku mengangguk atas pertanyaan Aria, yah… Paling tidak aku bisa mengisi perut sebelum aku pulang. Aria mengambil tanganku dan menarikku ke ruang makan, tunggu… Apa dia memang seperti ini? Maksudku, dia jadi lebih agresif terhadapku.

Sesampainya di ruang makan, yang aku bisa lihat hanyalah meja yang saaaaaaaangat panjang! Pake banget… Padahal yang duduk di sana hanya aku dan Aria.

"Jadi, bagaimana menurut senpai?"

"Apanya yang bagaimana?" Jawabku balas bertanya.

"Apakah kita harus duduk bersebrangan di sisi lebar dari meja?"

HAH?!

"Bukannya kita malah terpaut sangat jauh? Apa kau sehat? Kau duduk di sebelah sanaaaa… Dan aku di sebelah sini." Ucapku sambil menunjuk sisi meja yang hingga belasan meter jauhnya di hadapanku.

"Kalau duduk bersebrangan di sisi panjang dari meja?" Tanyanya lagi.

"Yah… Kalau nggak masalah sih. Mau di kursi yang mana?" BUKK! Aku langsung menutup mulutku, ada puluhan kursi yang saling berhadapan di sini! Kenapa aku malah mengajukan pertanyaan yang malah membuat waktu makan jadi lebih lama sih.

Aria nampak berpikir, sudah kuduga, dia menganggap serius perkataanku, pasti dia mengira, nomor kursi yang akan aku dan dia duduki mempengaruhi mood selama makan… Dasar bodoh, Len bodoh!

"Aaa! Kenapa kita tidak duduk bersebelahan saja?!" Ucapku panic.

BUAK!

Kenapa aku malah memberikan saran yang menjadi pedang bermata dua sih?! Kenapa aku tidak memilihkan bangku dengan posisi berhadapan saja?! LEN BODOH!

"Ehm… Boleh…"

"Apa?"

Apa aku salah dengar?

"Apa yang kau katakan barusan?" Ucapku sekali lagi.

"Tidak apa-apa kalau senpai mau duduk bersebelahan." Ucapnya dengan muka datar, tapi ada rona merah di pipinya.

Dunia seakan runtuh di hadapanku… Dia, dia, dia tak kusangka bisa seimut ini!


XOXOX


Waktu berlalu, tanpa sadar sudah jam 10 malam. Aku pamit dengan wajah robot dihadapan Aria, walau akhirnya dia membalas salamku dengan sedikit senyum. Tuh kan… Ada yang nggak beres sama anak ini. Apa tadi aku mengatakan sesuatu yang aneh kepadanya?

.

.

.

Waktu berlalu, sekarang sudah pagi hari. Seperti biasa, aku tidak tidur semalaman. Aku masih bermain game seperti biasa, kenapa? Kalian bilang kehidupanku membosankan? Ngaca dulu sana, gak apa-apa membosankan, yang penting nggak nyusahin orang tua! Tunggu, emang sekarang aku punya orang tua?

"Nii-chan! Nggak sekolah?!"

Suara teriakan Rin terdengar lagi dari bawah, dia mengajak ke sekolah.

"Nggak, libur dulu!"

"Bolos mah bilang aja kali!"

"Au… Itu sakit Rin…" Biasanya menggerutu, kok sekarang dia teriak sih?! Dasar adik…

Rin keluar rumah sambil membanting pintu, suaranya terdengar sampai lantai dua. Kenapa sih sama anak itu? Biasanya dia nggak pernah protes kalau aku nggak ke sekolah? Apa jangan-jangan… Jiwa brocon-nya bangkit! Mungkin dalam waktu dekat ini aku akan dipanggil onii-chan, onii-chan dengan nada imut, dia akan menggelayuti diriku seharian penuh, menyelinap ke kamarku saat aku tidur, dan akhirnya kita berdua akan…. MIKIR APA AKU?!

Ngomong soal mikir apa, aku sempat berpikir soal Miku, apa dia baik-baik saja? Sekarang sudah hari kedua… Aku merasa bersalah sekarang karena memarahinya tempo hari, terlebih dia juga tidak menghubungiku semenjak kejadian itu… Kalau dipikir-pikir, aku benar-benar sudah bersama dengan Miku sejak kecil. Sebuah cerita klise seperti kedua anak kecil yang bertemu karena orang tuanya pindah rumah, mereka menghabiskan waktu bersama, dan tanpa disadari, mereka menjadi apa yang dikenal orang sebagai 'teman masa kecil.'

Aku terkadang suka tertawa ketika memikirkan masa kecilku sendiri, berpikir tentang saat-saat itu, memang membawa beberapa kenangan. Ada suatu saat ketika Miku bermain-main sendirian di sumur dekat kuil, kemudian dia tidak pulang hingga waktu beranjak menjadi malam. Semua orang mencarinya, termasuk aku.

Saat itu aku berlari dan mencarinya sendirian, hingga akhirnya aku mendengar suara tangisan ketika melewati kuil. Kukira awalnya itu Miku, tapi aku sempat mengurungkan niatku menuju kuil ketika aku mendengar suara tangisan itu mulai menghitung dari 1 hingga 10, dan selalu menangis keras ketika di hitungan ke-10.

Mendengar itu, kepalaku langsung dipenuhi oleh cerita Okiku, si hantu sumur*. Memberanikan diri, aku berlari ke arah kuil dengan menaiki tangga yang tidak ada habisnya, bukannya tidak habis sungguhan, hanya saja anak tangganya terlalu banyak untuk dihitung. Ketika sampai di atas, aku berputar mengelilingi areal kuil. Suara tangisan itu semakin menjadi-jadi ketika aku mendekati sumur, karena aku sewaktu itu masih kecil, aku langsung lari karena ketakutan hingga sebelum berlari kencang aku menghentikan langkahku saat sebuah kata terdengar di telingaku.

"LEEENN!"

Jeritanku makin menjadi-jadi saat itu! Aku kira hantu Okiku akan menangkapku dari dalam sumur dan membawaku menuju alam lain, saking ketakutannya, aku berlari hingga terjatuh karena tersandung alas kakiku sendiri. Kemudian suara yang mengatakan namaku itu terdengar lagi.

"LEN! AKAN AKU BERIKAN PISANG! JADI TOLONG AKU! HUWAAAA!"

Setelah mendengar kalau si 'hantu' akan memberikan aku pisang, aku langsung bersemangat, masa bodo mau hantu kek, setan kek, iblis kek, asalkan dia memberiku benda yang aku suka, akan kulawan semua itu! Itu yang aku pikirkan. Berlari ke arah sumur sambil gemetaran, aku melihat ke dalam sumur dengan tubuh yang juga gemetaran, yang aku lihat adalah kilauan rambut teal yang tersinari oleh sinar bulan. Ketika kepalaku menghalangi sinar bulan masuk ke dalam sumur, sosok itu menoleh ke atas, itulah Miku! Di sisi lain aku kasihan, tapi di satu sisi aku juga ingin tertawa, bagaimana cara dia bisa masuk ke dalam sumur semudah itu?!

Aku segera menenangkan dirinya dan mencari orang-orang untuk menolongnya. Setelah dia ditarik ke atas, dia langsung memelukku erat sambil menangis, kedua orang tua kami masing-masing malah mengabadikan foto kami berdua yang berpelukan saat kecil, lucu bukan?

Aku bertanya kepada dia, kenapa Miku bisa masuk ke sumur, alasannya sederhana.

'Kata orang, sumur itu bisa mengabulkan permohonanmu kalau kau melempar koin ke dalamnya. Kenapa harus lempar koin? Kenapa kau tidak masuk saja sendiri dan rasakan dengan tubuhmu sendiri keajaiban yang bisa terjadi?' Sungguh pikiran yang kekanak-kanakan!

Seterusnya aku bertanya lagi, kenapa dia menghitung satu samai sepuluh sambil menangis, hal yang membuatku takut dengan mengiranya kalau yang menghitung adalah hantu Okiku.

Alasannya juga sederhana, dia hanya takut, jadi dia berhitung untuk melepas ketakutannya, tapi dia hanya hapal satu sampai sepuluh, makanya dia selalu menangis lebih keras karena tidak tahu angka selanjutnya… Dasar…

Miku benar-benar sudah lama bersama denganku, tapi kenapa aku egois terhadap dirinya? Aku sendiri juga mengerti, di dalam pandanganku yang lain terhadap kehidupan Miku, aku iri… Aku sungguh iri, dia terlahir di keluarga normal dan bahagia, dia tumbuh besar dengan kasih sayang yang sangat besar hingga sekarang dari orang tuanya… Itu membuatku sangat iri, berbeda dengan kehidupanku, semuanya menjadi kacau saat aku menginjak umur 10 tahun. Aku menggelengkan kepala, aku tidak ingin lagi mengingat sesuatu yang buruk… Aku tidak mau lagi mengingat keburukan dalam hidupku…


XOXOX


Di sekolah Len, sekarang sedang diadakan kelas seni bagi semua kelas satu. Di sekolah ini, ada waktu-waktu tertentu dimana semua kelas akan berkumpul bersama dan membuat suatu kesepakatan untuk mengisi waktu di saat mereka berkumpul. Tujuannya untuk membuat hubungan sosial antar kelas tidak berjalan buruk, itu saja. Selain itu, sama seperti sekarang ini, terkadang acara seperti itu digunakan oleh pihak sekolah sebagai kompetisi, dengan tujuan mencari bakat terpendam di antara para murid

"Ayo semua! Semangat! Bagi kelas dengan poin terbaik akan mendapat hadiah tiket makan di kantin sepuasnya selama seminggu! Berjuanglah untuk kelasmu!"

Guru-guru berteriak lantang menyemangati setiap kelas, di sisi lain, kelas Aria dan Rin sedang mengerjakan hal yang sama juga, tapi entah kenapa atmosfir yang ada di tempat Aria sangat berbeda.

"Rin-chan, kau kenal Arstugna-san kan?" Tanya salah satu teman Rin kepada Rin.

"Yup! Aria-chan sangat terkenal loh!"

"Ya, aku rasa juga begitu, atmosfir dia berbeda dengan kita yang ada di sini."

Menoleh ke arah Aria, Rin mendapati sebuah lukisan yang amat sangat fantastis, Aria mewakili kelasnya dalam bidang seni lukis, Rin yang sedang melakukan sesuatu dengan tanah liat tidak bisa berkata apa-apa kepada diri Aria. Auranya sungguh mengintimidasi lawan yang mengerjakan lukisan di sekelilingnya. Lukisannya ada di dalam level yang berbeda dengan lawan-lawannya.

Orang-orang yang ada di sekitar Aria berdecak kagum, sedangkan pesaing yang melawan dia menatap Aria dengan tatapan benci. Rin sebenarnya tidak terlalu mengerti apa yang sedang terjadi, yang dia ketahui hanyalah kalau hasil lukisan Aria adalah hasil kelas tinggi.

"Ya! Atmosfirnya benar-benar berbeda, hasil lukisannya sangat fantastis!" Teman Rin hanya bisa tersenyum kecut.

Bel tanda kompetisi berakhir sudah terdengar, semua kelas mendesah lega karena sudah berusaha semaksimal mungkin, semua yang berada di cabang yang berbeda dari seni lukis sudah selesai, hanya seni lukis saja yang belum. Peserta dalam kompetisi antar kelas yang ada di dalam cabang seni lukis memiliki tatapan benci, semuanya. Mereka melihat Aria dengan tatapan membunuh… Aria sendiri merasakannya, tapi dia tidak mau memperdulikannya.

Aria adalah orang berbakat, dia berasal dari Negara lain dan merupakan anggota keluarga dari keluarga bangsawan. Darah yang mengalir dalam dirinya adalah darah elit, bakat dan kemampuannya sudah diasah sejak kecil. Aria sendiri sudah sering merasakannya, dia yang sebenarnya selalu merendahkan diri, ditolak oleh orang-orang yang seharusnya sehobi dan sebidang dengan dirinya. Aria tidak pernah mau menyakiti orang lain, tapi tanpa sadar, bakatnya membuat orang lain benci terhadapnya.

"Apa-apaan dia! Hanya karena berbakat, apa dia bisa berbuat seenaknya?!"

"Semua usahaku sia-sia jika bersamanya!"

"Karyaku tidak akan pernah dihargai selama berdampingan dengan karyanya!"

"Apapun yang sudah kupelejari tidak akan pernah bisa melampauinya!"

Itulah kalimat-kalimat yang selalu keluar dan tertangkap pendengaran Aria selama ini. Dia tidak mau meyakiti orang-orang di sekitarnya, oleh karena itu, dia mendedikasikan dirinya pada hal lain, dia mengesampingkan bakatnya, dia bermain game, mengumpulkan koleksi figure dan novel yang dianggap banyak orang tidak terlalu berguna. Dia tidak keberatan dianggap tidak berguna oleh orang lain, asalkan dia tidak lagi menyebabkan eksistensinya menjadi beban terhadap apa yang orang lain sudah usahakan.

Aria berjalan keluar dari aula sekolah. Cara berjalannya anggun, tapi tidak ada kesombongan di dalamnya. Sayang, orang-orang mengira Aria adalah sosok yang sombong atas keadaannya, Aria tahu itu. Oleh karena itu, dia ingin menghindari orang lain, dengan harapan kalau orang lain tidak akan terluka karena kehadirannya, tapi semua itu salah…. Ada atau tidaknya Aria di dekat orang lain, selama eksistensi dirinya masih di kenal orang, dia akan selalu menjadi perbandingan atas sesuatu dan memenangkan perbandingan itu, membuat kesakitan pada diri orang lain untuk yang kesekian kalianya, lagi.

"Lihat itu! Tuan putri sedang menyombongkan dirinya!"

Di lorong, Aria diejek habis-habisan, menahan rasa sakitnya. Aria hanya terus berjalan dengan kepala tertunduk kebawah, menghindari tatapan yang mengarah kepadanya dengan seluruh kebencian.

"Mati saja kau!"

Sebuah pecahan kaca terlempar ke arah Aria dengan liar, dia tidak menduga sama sekali, sambil menunduk takut, dia hanya bisa memejamkan mata dan menunggu rasa sakit.

PRANG!

"APA YANG KALIAN LAKUKAN?! APA KALIAN TIDAK TAHU MALU?! ADA APA DENGAN KALIAN SEMUA?! DIMANA OTAK KALIAN?!" Miku mendatangi Aria sambil berteriak marah, tangannya berdarah karena menepis pecahan kacah yang tadi tertuju kepada Aria. Di samping Miku, ada Rin yang mengikutinya. Sepertinya Rin menceritakan kepada Miku tentang Aria dan lukisannya, saat mereka hendak menghampiri Aria, mereka mendapati Aria sedang diejek oleh siswa lain.

Orang-orang langsung berkerumunan di sekitar mereka semua, ada yang penasaran, ada juga yang melihat karena kasihan, orang-orang yang sepertinya membenci Aria itu mulai mendecih. Dia melewati Miku sambil menyikut kasar bahu Miku.

"Dasar jalang! Beraninya minta bantuan yang lebih tua!" Ucap salah satu orang, yang tertuju kepada Aria.

"Jangan harap kau bisa lepas, jalang, untuk si kakak kelas yang tidak berguna dan sok heroik, kau tidak mengerti masalah kami, jangan ikut campur," Ucap yang lain.

Mereka pergi meninggalkan Miku, Rin, dan Aria. Melihat tangan Miku yang berdarah, Aria panik dan memegang tangan itu dengan tangannya. Dia terlihat sangat merasa bersalah, memegang tangan itu sambil gemetar, dia berkata pelan.

"Senpai, senpai harus ke UKS…" Ucapnya sambil gemetar.

Alih-alih memegang Miku dan mengantarkan Miku, Aria malah dilindungi oleh Miku dibawah bahunya, mereka berjalan pelan dengan Aria yang masih merasa shock.

"Kenapa bisa seperti ini?" Ucap Rin, dia tidak mengerti, dia tidak pernah mengerti keadaan Aria. Rin adalah tipe orang yang enjoy dan easygoing, dia tidak pernah berpikiran untuk memusuhi orang lain, sehingga dia tidak pernah merasakan rasanya dibenci. Di lain sisi, Rin itu maniak senyum dan tawa, dia tidak akan mengerti masalah Aria yang selalu dibenci selama dia belum pernah merasakan rasanya dibenci orang lain sampai ke ubun-ubun.

Miku tidak menjawab pertanyaan Rin, tapi dia tahu, Aria tidak bisa membalas, dia tidak akan pernah membalas apapun yang terjadi. Aria hanya ingin orang menerimanya, sama seperti Len… Aria dan Len, memang punya kemiripan, itulah pikir Miku, Miku memang orang yang peka, walau dia terlihat biasa, dia tahu apa yang orang lain rasakan.

Mereka tetap berjalan dalam diam, Miku tidak mau mengungkit sebuah masalah kalau yang punya masalah tidak berkata apapun, itulah prinsip Miku. Aria yang gemetar, menangis dalam diam dan berkata dengan pelan tanpa diduga Miku.

"Andai… Andai senpai, Len-senpai ada di sini…" Dengan nada mengharap dan wajah yang sangat sendu.

Seketika wajah Miku langsung berubah terkejut dan masam.


XOXOX


"Bakat adalah hal yang mengerikan, percayalah dengan hal itu."


XOXOX

Chapter 5 selesai~

Di atas ada yang kata yang diberi bintang, tahu hantu Okiku? Coba cari deh di google, itu cerita hantu yang katanya seorang pelayan yang memecahkan piring kesepuluh dari sepuluh piring berharga milik majikannya. Dia dibuang ke sumur dan dibiarkan mati di sana, hingga sekarang cerita ini menjadi legenda yang mengerikan bagi masyarakat di Jepang, dimana akan ada wanita yang menangis sambil menghitung dan akan menjadi jeritan saat hitungan ke sepuluh XD

Akhir kata, maaf jika ada kata yang kurang berkenan, saya mau tahu komentar kalian soal chapter kali ini, apapun itu, karena bentuk apresiasi dari kalian adalah kebahagiaan untuk saya.

Jaa~~ Matta ne~~ ^^

Best Regards,

Aprian