Chapter 6: Kemiripan

Ohayou/Konnichiwa/Konbanwa Minna-san~
Ohisashiburi desu~

Halo semuanya! Author abis selese UTS! XD

Entah mau bilang apa, saya sendiri juga gak tahu. Nantinya cerita ini, saya bisa bilang agak menguras emosi, bukan… Bukannya dramatis atau mengharukan atau semacamnya, tapi malah membuat anda kesel dan mumet sendiri dengan kalimat 'Ini cerita apa sih?!' XD #PLAK, bercanda kok.

Langsung dimulai aja ya!

Kisah Sebuah Senja

Main Character: Kagamine Len, Hatsune Miku, IA
Main Pair: Guess who? Anybody want to answer and try to solve this question? :3

Disclaimer : Vocaloid © Yamaha, and other companies
Story © Me
UTAUloid © Owner creator
Fanloid © Creator

Summary :

"'Lebih baik kau mati saja!' Aku terbangun dari mimpi burukku lagi, andai saja-andai saja ada seseorang yang bisa membantuku menghilangkan mimpi buruk ini./'Kau bisa!' 'Jangan bohong!' 'Aku tidak akan berbohong!' 'Kalau begitu, berikan aku tujuan hidup!'/ Setelah berbagai peristiwa, akankah aku bisa menerima senyuman seperti warna langit senja yang selalu aku sukai?/Cerita tentang Hikikomori berat, Penyanyi hebat dan Seniman berbakat! Kemana cerita ini akan berjalan?"

Warning : OOC (maybe), typo(s), gaje, pendeskripsian kurang, kesalahan eja 'EYD' dan teman-temannya.

'Abc' (italic): Flashback, kata asing, atau percakapan secara tidak langsung (telepon, email, sms, dll)
"Abc" : Percakapan normal
'Abc' (kutipsatu) : Hayalan, angan, atau (monolog) pikiran karakter.
'Abc'/ 'ABC' (bold atau kapital) : Kata atau kalimat yang diberi penekanan, kata atau kalimat penting.

HAPPY READING!


XOXOX


"?"

"Ada apa senpai?" Ucap Aria, menanggapi gelagat aneh Miku.

"Len, apa dia, apa dia baik saja?" Miku bertanya kepada Aria tentang keadaan Len, suasana menjadi hening seketika.

Kenapa? Ada apa dengan Len-senpai? Pikir Aria. Bukannya Miku-senpai adalah teman yang paling dekat dengan Len-senpai? Lanjut Aria dalam pikirannya. Miku sudah sehari lebih tidak melihat Len, biasanya walau Len tidak masuk, Miku akan tetap menyempatkan diri untuk pergi ke rumah Len sorenya untuk sekedar berkunjung atau mengantarkan makanan untuk Len. Keluarga Len dan Miku sudah sangat dekat, ketika Len dan Rin ditinggal orang tua mereka, keluarga Mikulah yang berperan sebagai keluarga kedua bagi Rin dan Len.

"Len-senpai, dia sehat kok. Kemarin dia pergi ke rumahku malahan! Kami membicarakan banyak hal bersama!" Ucap Aria penuh rasa senang, Miku dan juga Rin terkejut dengan perkataan Aria. Bukan hanya terkejut dengan perubahan ekspresi Aria yang sudah hampir menangis barusan menjadi ekspresi bahagia, tapi juga terkejut dengan Len yang mau pergi ke rumah orang lain di waktu senggangnya.

Rin tidak tahu kalau kakaknya pergi kemarin, dia terlanjur kesal dengan sifat kakaknya, padahal Rin sudah terbiasa menghadapinya. Sepertinya masa puber Rin baru akan dimulai, seperti kata orang, puber saat SMA benar-benar masa labil bagi seorang remaja.

Sedangkan Miku memasang senyuman pahit, di satu sisi dia senang kalau Len bisa segera melupakan insiden dengan dirinya tempo hari, tapi di satu sisi dia juga iri, kenapa Len bisa dengan santainya melupakan itu semua? Apakah Miku begitu tidak penting di mata Len sehingga membuat Len cepat melupakannya? Miku hanya bisa meringis.

Miku terus memasang wajah masam hingga mereka bertiga sampai di UKS dan masih berkecimpung di pikirannya sendiri dari tadi.

"Apa saja yang dilakukan Len bersamamu?" Tanpa sadar, ketika mereka sudah duduk di salah satu kasur yang ada di UKS, Miku menginterogasi Aria dengan tatapan menusuk.

"Kami awalnya hanya bertemu di konbini tempat Len-senpai bekerja, tidak disangka pertemuan seperti itu bisa terjadi, ini seperti takdir yang sudah ditentukan bukan?" Ucap Aria, dengan perubahan emosinya yang terlalu drastis.

'Anak ini? Apa dia punya hubungan dengan Len yang tidak aku ketahui?' Pikir Miku.

"Terus?" Ucap Miku lagi.

"Aku mengajaknya jalan-jalan sebentar, tanpa sadar dia meminta untuk bisa datang ke rumahku, yah… Aku sendiri sih yang sudah berjanji akan membawanya ke rumahku di lain waktu. Tidak disangka Len-senpai ternyata juga tahu game yang aku mainkan, dia terkagum-kagum dengan koleksi figure dan juga novelku… Kami memiliki banyak kemiripan bukan? Atas dasar itu, aku mengajaknya untuk be… ber… berpacaran denganku. Dia menerimanya begitu saja." Ucap Aria, dengan wajah merah dan terbata-bata ketika mengucapkan kata 'berpacaran'.

BRAK!

"APA-APAAN INI?!"

Rin adalah orang yang bereaksi negative pertama kali ketika mendengar cerita Aria sampai selesai.

"Aku tidak dengar apapun dari onii-chan tentang kalian berdua berpacaran?! Kalian melakukannya di belakangku?! Adiknya sendiri?!" Rin kesal setelah mendengar cerita dari Aria.

"Ka-Kagamine-san? Ada apa denganmu?" Aria mundur sedikit karena terkena bentakan dari Rin.

"Kalian… Kalian bersembunyi seperti itu… Mengatakan dengan mudahnya kalau kalian be-berpacaran tanpa aku ketahui?! Sungguh kejam!"

Air mata mulai mengalir dari kedua iris biru Rin, mula-mula sedikit, tapi kemudian menjadi lebih banyak dan banyak. Miku yang melihat semua itu langsung menghampiri Rin dan menyeka mata Rin.

Miku awalnya tidak ingin ikut campur masalah ini, tapi ada sesuatu… Suatu perasaan yang bergejolak di hati Miku, yang mengatakan kalau Miku juga tidak senang dengan berita dari Aria, tentang Aria yang sudah berpacaran dengan Len. Miku tidak peduli mau itu sungguhan atau hanya rekayasa dari Aria, tapi dia terbawa perasaannya, dia juga menatap kesal Aria tanpa sebab.

"Tu-tunggu Kagamine-san?! Mungkin Len-senpai hanya belum punya waktu yang tepat untuk mengatakannya kepadamu! Selain itu, kenapa kau terlihat begitu kesal? Apakah salah kalau aku dan Len-senpai berpacaran tanpa kau ketahui?" Tanya Aria, mencoba menenangkan suasana.

"Kau tidak mengerti! Kau tidak akan mengerti! Kau hanya orang luar! Kau… Kau… Kau… Aku membencimu!"

BRAK!

Pintu UKS ditutup dengan kencang oleh Rin di depan wajah Miku dan Aria. Entah apa yang membuat kesal Rin, Aria masih tidak bisa mengerti sama sekali, bahkan sampai membuat Rin menangis, sebuah perasaan bersalah yang sangat besar menyeruak dari dalam hati kecil Aria.

"Kenapa? Apa yang salah dariku sehingga dia marah dan pergi?" Aria merenungi perbuatannya lagi.

Miku menatap keduanya sendu.

Miku mengerti, ada yang salah di sini. Rin, dia sama seperti Len, dia juga mengalami kesakitan yang sama dengan yang dialami Len karena mereka saudara kandung, mereka sudah bersama sejak kecil, bahkan sebelum Miku mengenal mereka. Miku memiliki suatu simpulan, kalau… Rin memiliki sebuah 'rasa' dengan Len, dengan saudaranya sendiri, tapi dia sadar kalau dia tidak akan bisa meraih Len apapun yang Rin lakukan. Membandingkan semua itu, Rin menyerah dan mencoba bersikap seperti biasa. Itu adalah simpulan dari Miku, tapi masih bisa saja kalau simpulan itu salah.

Rin takut, dia hanya terlalu takut kalau kakak yang sudah ada untuknya sejak kecil diambil secepat ini dihadapannya sendiri. Oleh teman yang dia kenal baik, tepat di depan hidungnya. Rin sudah tahu kalau ini akan terjadi, tapi hatinya belum sepenuhnya siap, dia masih merasakannya, rasa sakit yang perlahan muncul karena orang yang sepenuhnya kau sayangi diambil di hadapanmu sendiri.

Disamping itu, Miku juga merasakan kasihan terhadap Aria. Aria hanya ingin mendapatkan sebuah kebahagiaan, sebuah kebahagiaan kecil bagi dirinya yang telah membuang seluruh kehidupan sempurnanya dan terjun ke dalam kegelapan, agar bukan orang-orang yang ada di sekitarnya yang terjerumus ke dalam kegelapan itu, dengan kata lain, mengorbankan kesenangannya sendiri. Dia sudah tahu, bakat Aria sangatlah mengerikan. Bakatnya bahkan bisa membunuh semangat orang lain dalam sekejap tanpa Aria sendiri sadari. Dibalik semua rasa sakit itu, Aria hanya ingin sebuah kebahagiaan kecil, ya… Kebahagiaan dengan menjadikan orang yang dia rasa sangat mirip dengannya, seorang Kagamine Len agar menjadi pendampingnya selama dia menjalani neraka dalam hidupnya.

Miku mengerti keduanya, dia paham kalau keduanya –Rin dan Aria- tengah dalam perasaan dilemma karena bergantung pada orang yang sama… Tapi bukan hanya itu.

Miku sendiri juga menyadari, kalau dia juga bergantung pada orang yang sama pula, seorang Kagamine Len.

.

.

.

Aku tengah sendirian di rumah, tidak ada orang, tidak ada hewan… Hanya aku, mungkin memang hanya aku yang mengeluarkan aura makhluk hidup organik di rumah ini.

Aku, Len, bingung ingin melakukan apa. Aku ingin keluar dari rumah, tapi harus apa? Di ujung semua itu, aku juga tengah memikirkan Miku, Aria dan Rin. Entah kenapa perasaanku tidak enak.

Aku terlibat masalah dengan Miku tempo hari.

Rin, entah kenapa besikap berbeda kepadaku.

Aria, aku tidak tahu apa yang memasuki kepala anak itu, tapi bukannya dia terlalu agresif dengan sikapnya kepadaku?

Di tengah semua pikiran yang berbelit-belit seperti itu, aku tetap tidak bisa memutuskan siapa yang sebenarnya harus aku khawatirkan terlebih dahulu. Mereka bertiga penting bagiku. Rin adalah adikku, Miku adalah temanku sejak kecil, sedangkan Aria, walau aku baru mengenalnya belum lama ini, tapi aku bisa merasakannya, ada banyak kemiripan di antara kami.

Di tengah kecimpung pikiran yang tiada habisnya di kepalaku ini, bel pintu rumah berbunyi.

TING TONG!

Siapa yang datang di siang bolong seperti ini?

Aku menuruni tangga dengan perlahan, tubuhku benar-benar lelah, aku mempunyai banyak pekerjaan, disamping itu, aku juga tidak pernah mengatur jadwal tidurku, mungkin perkataan Miku ada benarnya, aku harus merubah gaya hidup tidak sehatku mulai dari sekarang.

TING TONG!

TING TONG!

TING TONG!

Orang seperti apa yang tidak sabaran menekan bel rumah orang lain seperti itu sih?! Dengan perasaan setangah geregetan, aku berjalan dengan menghempas-hempaskan angin dari telapak kakiku yang menginjak tatami di rumah.

BRUAK!

Aku menarik pintu dengan kasar hingga berciuman dengan tembok di sampingku, belum mengalihkan pandangan kepada si orang tidak sopan yang menekan-nekan bel di pintu rumah orang lain dengan gila, aku langsung menyemburnya.

"ADA APA SI-"

Sriing…

"Eh?"

Aku menoleh bingung ketika mendengar suara desingan besi yang sempat tertangkap oleh telingaku, ketika aku mengarahkan mataku ke bawah, ada sebilah pedang yang dekat sekali dengan leherku.

Apa ini asli?

BUK! BUK!

TING!

Aku memukulnya mulai dari ornament di antara gagang dan bilah pedang, kemudian mengetuk bilah pedangnya. Suaranya seperti suara Logam berat yang diukir dengan baik dan suara besi tajam yang di asah dengan sempurna.

Jadi seperti ini ya pedang asli?

Di dalam game modern, biasanya pedang lurus seperti ini sudah kehilangan eksistensinya. Pada game-game zaman medieval di Eropa, pedang seperti ini memiliki banyak ragam karena memang jenis ini yang baru ada di zaman seperti itu. Pada game-game Hi-tech dengan teknologi sekelas magitek armor*, pedang berbentuk seperti ini sudah punah, biasanya senjata, apalagi yang berjenis melee atau untuk serangan jarak pendek sudah memiliki pola yang beragam, dinamis dan keren. Seperti halnya revolver-pedang, gunblade… Atau juga senjata sepeti composite bow, sebuah busur yang dimana jika kau menyatukan kedua ujung busur tersebut, dia bisa menjadi pedang untuk pertarungan jarak dekat. Efisiensinya bagus untuk keduanya, baik pertarungan jarak dekat dan jarak jauh, salah satu senjata paling disenangi di game RPG!

Kembali ke dunia nyata, aku masih tidak sadar, siapa yang menaruh pedang di leherku ini.

Aku mengetuknya lagi, pedang tersebut makin lama makin mendekatiku kulit leherku, menggoresnya sedikit dan memberikan aku darah dari dalam kulitku.

Ah… Darah. Jadi ini benar-benar asli...

Krik...

Krik...

Krik...

...

TUNGGU?! APA?!

"HIIIIIIIIIIIIIYYYYY!"

SIAPA YANG BAWA-BAWA PEDANG ASLI UNTUK MENGANCAM DI ZAMAN SEPERTI INI?!

"Hmm...Entah kenapa reaksimu dalam menghadapi pedang ini tadi membuatku tertarik, jadi kau ya, orang yang sudah bersama dengan hime-sama selama di Jepang…"

Aku melihat ke depan dengan ekspresi ketakutan, ada seorang onee-san cantik berpayudara besar tengah menatapku dengan niat membunuh.

ORANG INI MAU MEMBUNUHKU!

BRUAK!

Aku langsung menjatuhkan diriku sendiri dan merangkak mundur. Hidupku memang membosankan dan penuh dengan penderitaan, walau yang membunuhku adalah seorang onee-san cantik, tapi aku masih belum mau mati!

"A-a-a-a-ampuni aku!" Ucapku sambil gemetaran dan menelungkupkan tanganku di depan wajah, memohon ampun.

Orang itu menyarungkan pedangnya kembali, membuatku bertanya keheranan. Dia melemaskan tatapannya dan membungkuk di depanku secara tiba-tiba.

"Maafkan saya karena tengah berbuat kasar. Saya pantas untuk dihukum cambuk seratus kali atau dilempari batu sampai mati setelah ini jika saya memang benar-benar melukai orang yang berharga bagi hime-sama, tapi sebelum itu, izinkan saya memperkenalkan diri."

Ketika dia mengatakan itu, ada empat orang lain yang mengenakan seragam sama dengan gambar bendera yang memiliki lambang Inggris di bagian dada mereka, mereka berempat juga ikut menunduk di hadapanku, membuatku makin kebingungan.

"Eh? Eh? Eh?"

"Nama saya adalah Culnoza Scarlet, ksatria yang melayani keluarga Arstugna untuk beberapa generasi. Saya adalah generasi ke dua belas, bertugas untuk melindungi nona Arcana Rumilia Illianne von Arstugna XIV secara pribadi."

"Hah? Siapa?"

"Tuan mengenalnya dengan nama nona Aria."

"Oh.. Aria…"

"APA?!"

Aria yang itu? Beneran yang itu? Yang kemarin aku kerumahnya? Yang aku lihat isi dari ruangan pribadinya penuh dengan figma dan novel? Yang bermain game baru 3 bulan tapi sudah mengalahkanku dari segi gameplay?!

"Aria yang warna rambutnya nggak jelas itu?"

Sriing..

"Katakan sekali lagi, dan kepala tuan akan putus dari leher tuan."

"Maafkan aku!"

Aku mengajak kelima orang itu masuk ke rumahku, aku tidak mau menutup pintu rumah, takut… Ya, hanya satu kata, aku takut kalau nanti berkata salah lagi dan dibunuh… Lalu tidak ada yang menyadari kalau aku sudah mati… Hiiy…

.

.

.

Di UKS, keadaan benar-benar sangat hening. Baik Aria maupun Miku tidak mau membuka pembicaraan. Aria benar-benar shock, dia tidak mengerti apa yang sedang terjadi, yang sudah ia mengerti hanyalah satu hal, kenyataan bahwa dia menyakiti Rin, satu-satunya murid yang masih ingin dekat dengannya di kelas…

"Mirip…"

Miku mengatakan sesuatu, menarik perhatian Aria seketika.

"Kalian berdua memang mirip."

Tidak mengerti maksud dari perkataan Miku, Aria hanya bisa menunduk. Dia tidak tahu siapa yang mirip dengan siapa menurut perkataan Miku. Aria hanya bisa menatap Miku intens.

"Kau tahu? Hidup itu menyakitkan bukan? Kalian berdua, asal kau tahu saja, kau dan Rin bersandar pada orang yang sama… Tanpa aku sadari, aku juga sama, aku bersandar pada diri orang itu, orang yang kalian berdua sandarkan."

Aria masih berdecak bingung, siapa yang dia maksud? Pikir Aria. Tidak cukup lama berkutat pada pikirannya, dia sadar siapa yang dimaksud oleh Miku. Len, Kagamine Len adalah orang yang dikatakan sebagai 'tempat bersandar' oleh Miku.

Miku tersenyum kecut, dia juga keluar dari UKS setelah tangannya sudah cukup enak digerakkan di dalam perban. Tanpa mengatakan sepatah kata apapun, Miku keluar dalam diam dan mengucapkan salam perpisahan kepada Aria.

"Sampai bertemu lagi, kuharap kau sudah baikan nanti."

Berpikir dari awal, dia mencoba menelaah apa yang sudah terjadi kepada dirinya dan orang-orang di sekitarnya. Awalnya Aria hanya ingin mengatakan kalau akhirnya dia bisa mendapatkan sedikit kebahagiaan –mendapatkan orang yang berharga sekelas Kagamine Len di samping dirinya. Tapi kemudian, adik Kagamine Len, Kagamine Rin marah tanpa sebab, dia serasa dihancurkan dari dalam karena kemarahan dari Rin yang dia tidak pahami apa penyebabnya, Rin menangis dan pergi sambil mengatakan kalau Rin membenci Aria. Aria paham dengan dirinya sendiri, dia memang tidak terlalu peka terhadap perasaan orang lain, dia juga mengerti, karena ketidakpekaan yang dia milikilah, orang-orang tersakiti di dekatnya tanpa bisa Aria mengerti kenapa. Senpai-nya, Miku, pada saat itu tidak mengatakan apapun, kemudian dia mengatakan tentang 'tempat bersandar yang sama' di hadapan Aria. Aria awalnya tidak bisa menangkap, siapa atau apa yang dimaksud dengan 'tempat bersandar' oleh Miku. Dia hanya bisa menerka, mungkin 'tempat bersandar' ini adalah masalah atau sebuah kesulitan yang mirip tapi tidak serupa yang dirinya, Miku dan juga Rin alami. Tapi kemudian dia berpikir, bagaimana hal seperti itu bisa membuat Rin sangat marah? Jika ini memang disebabkan karena sebuah masalah antara Rin dan Aria yang mirip, tapi kedua masalah ini kan memiliki tempatnya masing-masing, mereka tidak saling mencampuri masalah yang ada pada diri salah satu dari mereka yang lain, tidak ada yang saling ikut campur masalah di sini. Lantas apa yang tengah terjadi sehingga membuat Rin kelihatan sangat depresi?

...

Aria akhirnya mengerti apa masalahnya disini, maksud dari kata 'tempat bersandar' yang dimaksud Miku adalah, orang yang mereka 'sukai'. Dia akhirnya mengerti, dia sudah jatuh cinta pada orang yang salah… Dia jatuh cinta kepada orang, yang seharusnya sudah memberikan kebahagiaan kepada orang lain terlebih dahulu, sejak lama, bukannya memberikan kebahagiaan untuk dirinya –Aria sendiri...


XOXOX


"Hati yang merupakan tempat emosi bermekaran adalah bagian paling rapuh. Hati ini tidak bisa disentuh, dan juga tidak dapat diterka ada dimana letaknya, tapi sekalinya hati ini disakiti, rasa sakitnya tidak akan pernah bisa menghilang dengan mudah."


XOXOX


Chapter 6 selesai~

Konfliknya mungkin sudah kelihatan, tapi ini fict slice of life, saya tidak akan hanya memasukan satu konflik di dalam cerita ini XD

Konfliknya mungkin akan berekspansi. Kalian masih ingat desclaimer fict ini? Isi dari desclaimer itu belum sepenuhnya keluar, mungkin baru kalimat pertama yang di jelaskan di sini ^^

Di atas ada frasa yang diberi bintang kecil, Magitek Armor, ini merupakan nama dari mesin humanoid raksasa yang digunakan untuk perang dalam film-film yang mengangkat tema masa depan ^^

Akhir kata, maaf jika ada kata yang kurang berkenan, saya mau tahu komentar kalian soal chapter kali ini, apapun itu, karena bentuk apresiasi dari kalian adalah kebahagiaan untuk saya.

Jaa~~ Matta ne~~ ^^

Best Regards,

Aprian