Chapter 7: Aku... Aku...
Halo semuanya! Saya balik lagi, chapter ini akan sedikit menyedihkan, saya cuma mau bilang itu.
Langsung mulai aja ya!
Kisah Sebuah Senja
Main Character: Kagamine Len, Hatsune Miku, IA
Main Pair: Guess who? Anybody want to answer and try to solve this question? :3
Disclaimer : Vocaloid © Yamaha, and other companies
Story © Me
UTAUloid © Owner creator
Fanloid © Creator
Summary :
"'Lebih baik kau mati saja!' Aku terbangun dari mimpi burukku lagi, andai saja-andai saja ada seseorang yang bisa membantuku menghilangkan mimpi buruk ini./'Kau bisa!' 'Jangan bohong!' 'Aku tidak akan berbohong!' 'Kalau begitu, berikan aku tujuan hidup!'/ Setelah berbagai peristiwa, akankah aku bisa menerima senyuman seperti warna langit senja yang selalu aku sukai?/Cerita tentang Hikikomori berat, Penyanyi hebat dan Seniman berbakat! Kemana cerita ini akan berjalan?"
Warning : OOC (maybe), typo(s), gaje, pendeskripsian kurang, kesalahan eja 'EYD' dan teman-temannya.
'Abc' (italic): Flashback, kata asing, atau percakapan secara tidak langsung (telepon, email, sms, dll)
"Abc" : Percakapan normal
'Abc' (kutipsatu) : Hayalan, angan, atau (monolog) pikiran karakter.
'Abc'/ 'ABC' (bold atau kapital) : Kata atau kalimat yang diberi penekanan, kata atau kalimat penting.
HAPPY READING!
XOXOX
"Kenapa? Apa aku berbuat kesalahan lagi?"
Aria berjalan linglung, dia masih di sekolah, tidak melakukan apapun. Semuanya telah membuat dirinya shock. Ya, sangat shock.
Aria takut akan sekelilingnya sekarang, dia menangis akan keadaannya sendiri. Dia sudah tidak kuat, dia hanya ingin kebahagiaan, dia hanya ingin sebuah senyuman kecil yang tertuju kepadanya untuk menyemangatinya kini, tidak peduli senyum itu dari siapa. Aria masih tidak mengerti, lebih tepatnya dia tidak ingin mengerti semuanya, kenapa harus menjadi seperti ini? Pikir Aria, apa aku kurang menjadi anak yang baik? Pikirnya lagi.
Aria selalu menjadi anak baik, selalu, sejak kecil. Tapi, kenapa tidak ada yang mau mengerti tentang dirinya? Sejauh mata memandang, dia hanya terus ditutupi dengan aura kebencian, ya, hanya itu yang terlihat.
Satu-satunya hal yang Aria mengerti tentang semuanya adalah bakatnya. Dia mengerti tentang itu, dan karena itu juga dia mau menggunakan bakatnya untuk hal yang baik. Itulah yang Aria pikirkan... Setidaknya begitu sebelum dia merasakan kepahitan yang semakin menjadi-jadi.
Aria sudah lelah dengan kehidupannya sendiri, dia menjadi tipikal orang yang selalu ingin dimengerti tanpa dia sendiri sadari, tapi dia tidak mengerti cara menunjukan rasa ingin diperhatikan yang terpancar dari dirinya kepada orang lain. Dilemma, kata itu yang pantas untuknya, dia ingin bersikap terbuka, tapi dia takut disakiti... Dia ingin sedikit manja, tapi dia juga takut dibilang pengecut yang hanya bisa bersembunyi di belakang punggung orang lain... Dia ingin bersikap kuat, tapi dia takut, kalau dengan sikap ini orang-orang akan menatap angkuh kepadanya... Dia ingin menutup dirinya, tapi dia tidak ingin dikenal sebagai orang berkepribadian introvert.
Aria berdiri dari kasur UKS, dia mengigit bibir bawahnya sendiri hingga sedikit berbekas, dengan berbekal rasa kesal, dia menangis dalam diam... Sendirian, ya sendirian. Dia keluar dari UKS dengan tubuh yang sedikit linglung, bahkan untuk sekedar mencari sandaran dari tembok. Dia masih berjalan dengan tetap menunduk, di koridor tempat dia berjalan tidak ada pandangan yang tidak tertuju ke arahnya, pasti kejadian sebelumnya sudah tersebar luas dan menjadi gossip panas di sekolah, apalagi dengan ikut campurnya kakak kelas di antara masalah tersebut.
Berjalan dengan lemas, dia mulai mempercepat langkahnya, dia mulai berjalan cepat. Dia mulai berlari pelan, kemudian langkahnya mengencang, dia mulai berlari dengan cepat, menabrak semua siswa yang menghalangi langkahnya.
[Kenapa jadi seperti ini!]
[Kenapa rasa sakit ini tidak bisa hilang?!]
[Kenapa aku selalu menjadi objek kebencian?!]
[Aku ingin kalian semua mati!] [Menghilanglah dalam kelamnya arus kegelapan!]
[Aku ingin kalian semua membungkam mulut!] [Terseretlah dalam kejamnya kehidupan!]
[AKU... AKU HANYA INGIN HIDUP TENANG!]
Aria mulai mengutuk sekitarnya dengan kebencian, dia masih terus berlari dengan kencang hingga akhirnya para siswa yang dia lewati bisa merasakan isak tangisnya dan sesekali bisa melihat air mata dari pelupuk mata Aria. Para siswa memberi tatapan kasihan, bercampur jijik... Semuanya berpikiran sama, 'orang dengan bakat akan mudah hancur dalam tekanan'.
Aria sampai pada halaman sekolah, dia berbelok ke arah gerbang, dia melihat keramaian di sana, tapi dia tidak peduli dengan keramaian itu, dia masih terus berlari dengan kencang, anehnya para siswa malah memberikan Aria jalan untuk melalui gerbang sekolah. Tanpa melihat apa yang terjadi, Aria masih terus berlari dengan tangisan yang semakin kencang dan penampilan yang acak-acakan
BUKK!
Ada sebuah sosok yang menghalangi laju Aria, kepala Aria tertunduk di depan sosok itu, dia tahu... Dia tahu orang tersebut tanpa melihat siapa yang ada di sana. Sosok tersebut melingkarkan tubuhnya pada tubuh Aria, mengelus kepala Aria lembut dengan perkataan yang sama lembutnya.
"Sudah, semuanya sudah berakhir, berhentilah menangis, karena aku ada di sini..."
"Len... Len-senpai?" Ucap Aria pelan... Dia kemudian makin terisak dan tangisannya meledak di dada Len.
Miku dan Rin baru sampai di gerbang sekolah karena mendengar suara bising dari dalam kelas mereka, mereka mendengar ada kehebohan di gerbang sekolah. Saat keduanya sampai, apa yang mereka lihat adalah hal yang paling ingin mereka hindari sekarang... Keadaan menyakitkan dimana Aria dan Len tengah memeluk satu sama lain.
Mata Miku membelalak hebat, pikiran 'apakah kenyataan kalau Len menerima Aria itu benar?' berkecimpung dengan ganas di dalam kepala Miku. Jarak pandang Miku dan Rin mulai tertutup oleh orang-orang dewasa yang memakai seragam yang sama dan sepertinya membawa pedang asli, dalam sekejap, Len dan Aria sudah tidak bisa mereka saksikan lagi, Miku hanya menunduk sedih, dia akhirnya pergi tanpa mengatakan apapun.
Rin yang melihat kakaknya yang memeluk teman sekelasnya, sejenak dia ingin menghampiri mereka. Rin sadar kalau dia sudah berlebihan, dia sadar kalau apa yang dia lampiaskan terhadap Aria yang tengah mengalami tekanan batin adalah keegoisan sepihak dari Rin. Dia ingin sekali menghampiri Aria dan meminta maaf, kemudian mendampingi Aria lagi seperti sediakala, seperti sepasang teman, tapi kemudian dia mendengarnya.
"─Karena aku ada di sini."
DEG!
Jantungnya mulai berdegup kencang, jantung Rin berkontraksi tanpa dia sadari.
─Sakit...
─Perasaan apa ini?
Tubuhnya melemas, dia terjatuh dengan lututnya, akhirnya dia hanya bisa melihat kakaknya pergi tanpa melakukan apa-apa..
XOXOX
Aku ada di dalam sebuah limosine... Bayangkan! Aku duduk di sebuah kursi panjang di dalam sebuah kendaraan yang bergerak di jalan raya dengan mudah! Kursinya panjang menyamping, di atasnya ada lampu yang terlihat seperti lampu mahal, ornamentnya sangat bagus! Di hadapanku ada berbagai macam minuman dan juga makanan kecil! Wow! Orang kaya memang beda!
Ehm... Kembali ke topik awal, orang di sampingku, Aria... Dia bersandar tidur di bahuku. Aku memang tidak mengerti masalah berat seperti permasalahan dalam keluarga bangsawan atau masalah seperti kelebihan bakat bahkan cukup untuk menghancurkan orang lain. Tapi aku mengerti, anak ini, dia memikul beban yang lebih berat dari yang aku rasakan. Jadi hal ini ya? Hal inikah yang membuatku merasa nyaman di dekatnya? Hanya karena kami berdua memiliki masalah yang mirip tapi tidak serupa?
Aku sudah mendengar semuanya, dari Culnoza. Orang itu, walau wajahnya terlihat sangat ganas dan dewasa, tapi dia masih seumuran denganku ternyata... Dia masih satu tahun lebih tua daripada aku, lantas, kenapa dia sangat lihai menggunakan pedang?! Aku jadi iri padanya!
Kesampingkan hal itu dulu, Culnoza mengatakan kepadaku tentang masalah di negeri kelahiran Aria. Keluarganya sedang terkena pemberontakan hebat, aku tidak sangka, di zaman modern seperti ini, dimana semua negara sudah berdiri independen (walau ada yang masih dalam naungan negara lain) akan mengalami hal seperti mengalami pemberontakan besar-besaran. Yah, bukan berarti aku tidak mempercayai perang, seperti yang sudah lama terjadi di negara-negara timur tengah, tapi aku hanya merasa... Untuk sebuah negara independen yang berada di bawah lindungan negara lain, dalam kasus ini adalah perlindungan Inggris, masih bisa merasakan kerasnya pemberontakan radikal, itu terasa agak tidak mungkin...
Aria sejak kecil sudah dilatih sangat keras untuk menjadi seseorang yang 'berada'. Dia dilatih dari segi ilmu, kemampuan, bahkan sopan santun. Bakatnya tidak terlahir secara alami begitu saja, menurutku, tapi karena asahan luar biasa dari keluarganya, dia bisa bersinar di atas segala bakatnya yang awalnya tidak mungkin bisa maksimal tanpa sebuah usaha.
Dia kuat, dia pasti orang yang kuat. Aku sudah bisa mengira kalau Aria adalah orang yang akan membuang segalanya demi mencapai kebahagiaan dalam hidupnya, aku sudah merasakan dari awalnya. Kenapa orang berbakat seperti dia mau membuang kehidupan cerahnya hanya untuk hal-hal tidak penting yang tidak begitu menjanjikan seperti dunia otaku? Kenapa dia bisa dengan mudahnya menjerumuskan dirinya ke dalam dunia yang banyak orang menganggap tidak terlalu penting untuk dilakukan kecuali untuk sekedar hobi?
Aku tidak senang menggunjing orang lain, aku tidak pantas melakukan hal itu. Tapi, kemudian aku berpikir, 'apakah orang yang hampir sempurna akan terlepas dari gunjingan?'
Jawabannya adalah tidak. Itu sudah sangat jelas, Aria memang sudah seperti bayangan kebahagiaan di mata orang lain, dia bagaikan bunga yang sangat cantik dan menyegarkan semua orang... Tapi, sayangnya bunga itu tidak berbau manis, dia juga tidak berbau busuk, dia tidak menyehatkan, tapi juga tidak beracun, bahkan kupu-kupu saja tidak mau ada di dekatnya... Ya, bunga hampa yang akan selalu memiliki harapan untuk diperhatikan lebih, tidak sekedar sebagai penyedap pandangan saja.
"Aria?"
Aria mengucek matanya di sebelahku, sepertinya dia bangun dari tidurnya.
"Senpai?"
"Ya, ini aku."
"Senpai, apa yang terjadi?"
"Tidak ada, tidak ada apapun yang terjadi. Aku datang dengan keinginanku sendiri."
Bohong, ya, itulah yang kukatakan, kebohongan. Aku tidak datang menemuinya karena aku merasakan sesuatu padanya... Ini semua karena orang itu, Culnoza...
Aku juga sadar, sepertinya Miku dan Rin juga melihatiku di kerumunan tadi, tatapan mereka... Aku tidak asing lagi dengan tatapan itu, itu tatapan orang yang kecewa... Aku sudah ingat apa yang kukatakan malam itu. Aku menyanggupi perkataan Aria, aku siap menjadi kekasihnya, orang yang berbagi apapun bersama dengan dirinya, orang yang akan selalu melindunginya, orang yang akan memberinya kebahagiaan.
Bodoh! BODOH! BODOHNYA AKU! KENAPA AKU BISA DENGAN MUDAHNYA MENGATAKAN ITU?!
Dalam hati aku menangis kecil. Tidak ada lagi jalan mundur, aku tidak bisa membiarkan Aria dalam keadaan seperti ini, kalau aku mengatakan yang sebenarnya tentang aku tidak punya perasaan seperti cinta padanya, dia akan hancur dan tidak tertolong lagi dalam keadaan di tahap ini. Ini bukan waktu yang tepat... Ya, aku harus menyelesaikan semua ini, aku harus menyelesaikan masalah ini dan membuat waktu yang tepat untuk mengatakan yang sebenarnya padanya.
XOXOX
"Aku akan di sini sampai kau bisa tenang." Ucapku pada Aria.
"Terima kasih." Balas Aria
"Apa ada hal lain yang bisa aku lakukan untukmu?" Ucapku pada Aria.
Dia tidak mengatakan apapun.
Aku sekarang ada di rumah Aria yang super besar itu. Aku sekarang ada di dalam kamar Aria. Hei... Jangan berpikir yang aneh-aneh, aku hanya menenangkannya... Yah... Bu-bukannya aku tidak tertarik dengan wanita sih, tapi de-dengan adik kelasku sendiri, ini terlalu berlebihan bukan... Ituloh, maksudku, ke-ke-ketertarikan secara se-se-se-se-seksual!
Aku tidak percaya pada diriku sendiri mengatakan hal seperti itu... Idiot...
Aku ingin beranjak pergi dari ruangan ini, tapi Aria menahanku, dia memegang ujung kaosku dan mengatakan 'jangan pergi' dengan suara rendah dan sedikit desahan.
DEG!
Pria mana yang bisa menolak itu!
Aku terpaksa duduk kembali dan menemaninya, hei, ini untuk dirinya loh... Bukannya kesenanganku sendiri, camkan itu! Lagipula aku sudah bilang, aku tidak menyimpan perasaan cinta kepadanya sekarang, tapi... Aku tidak berani jamin ke depannya nanti.
"Senpai, apa senpai sudah percaya pada takdir? Aku sudah pernah katakan kalau takdir tiap orang itu berhubungan walaupun kecil."
"I-iya sih..." SIAL! AKU GUGUP SEKALI! DIA MEMELUK LENGANKU DENGAN KENCANG! DA-DA-DA-DADANYA! AKU BISA MERASAKAN OPPAINYA! Hmmm... Dibilang oppai juga gak enak sih, masih agak kecil... APA YANG SEDANG AKU KOMENTARI?!
Ehm... Abaikan yang barusan.
"Aku tidak percaya, kalau takdir itu selalu menuntun kita ke arah yang lebih baik." Ucapnya lagi.
"Kenapa? Bukannya kita diberi takdir agar mengerti jalan hidup kita sendiri?" Tanyaku kepadanya.
Matanya mulai berkaca-kaca, dia makin memegangku erat.
"La-lantas, kenapa aku tidak pernah merasakan kebahagiaan?"
Aku terdiam.
"Kenapa aku selalu yang disalahkan?"
Aku tidak bisa menjawab.
"Kenapa aku tidak pernah bisa mengatakan isi hatiku yang sebenarnya?! Kenapa tidak ada orang yang bisa menghargai usahaku?! Kenapa diriku selalu menghancurkan orang lain tanpa kusadari?! Kalau memang... Kalau memang aku dilahirkan sebagai Angra Mainyu, kenapa harus aku dari sekian banyak orang, dari 5 miliar orang di bumi, apa memang aku yang pantas menerima segala kejahatan di dunia?! APA MEMANG ITU TAKDIRKU?!"
BRUAK!
Tangannya memukul tembok dengan keras,dari sudut jari-jarinya, aku bisa melihat darah keluar dari sana.
"Hiks... Hiks... HUWAAAA!"
Dia menangis sangat keras di dalam kamarnya, aku yang mendengarnya hanya bisa merasakan pilu yang tidak ada habisnya. Aku juga ingin mengatakan hal yang sama, aku juga tahu takdirku belum menuntunku ke arah yang baik saat ini, aku juga mengira kalau aku lahir hanya untuk keburukan, tapi aku masih bisa percaya... Aku masih bisa mempertahankan kepercayaanku pada takdir kalau suatu hari nanti dia akan menuntunku ke arah kebaikan...
'Senja tidak pernah berbohong, dia akan selalu berwarna oranye karena dia selalu ingin memberikan kehangatan kepada setiap orang.'
DEG!
Kata-kata itu, itu adalah kalimat yang selalu menyadarkan aku dibalik keterpurukanku. Aria mungkin tidak punya hal yang membuatnya tetap waras di tengah keputusasaan... Dia, ternyata dia sudah berjuang dengan baik selama ini.
Aku berdiri, kemudian aku menjawab Aria dengan suara lantang.
"Persetan dengan takdir! Persetan dengan kejahatan di seluruh dunia! Aku, Kagamine Len! Aku berjanji kepada takdir kalau aku akan selalu ada di sisimu, membahagiakanmu, memberikanmu senyuman, membuatmu tertawa dengan gembira lagi walau tubuhku hancur nantinya! Aku berjanji akan menjagamu, selamanya!"
Ya, itu cukup, aku sudah bisa bertaruh kalau apa yang aku katakan itu sudah cukup untuk membuat Aria tenang. Memang aku masih bimbang dengan perasaanku padanya, tapi paling tidak aku ingin membuatnya tersenyum kembali untuk saat ini... Aku ingin hal itu apapun yang terjadi.
Aria berhenti menangis, apa perkataanku berhasil?
"Pembohong, bagaimana dengan Miku-senpai? Bagaimana dengan Kagamine-san?"
Hah? Apa yang dia katakan? Miku? Rin?
"Kau pasti mengatakan hal yang sama juga untuk menenangkan mereka berkali-kali kan? Apalagi kau sudah kenal lebih lama dengan mereka, dibanding kenal denganku."
"Apa maksudmu?"
Aria hanya bisa tersenyum lemah.
"Kau tidak perlu berbohong lagi, aku sudah tahu perasaan mereka berdua, Miku-senpai dan Kagamine-san, mereka berdua juga mencintaimu bukan?"
Apa yang dia katakan?
"Aku sudah mendengar semuanya dari mereka sendiri. Aku tahu, kau bukan ditakdirkan untukku, sekeras apapun aku berusaha, masih ada yang lebih penting untukmu, yaitu mereka bukan?"
Hah? Apa yang kau katakan, Aria?
"Aku sadar, kalau aku mengajak orang yang salah, hah... Aku sudah terlanjur bilang ke Culnoza dan orang tuaku kalau aku punya pacar... Sepertinya takdir baik memang tidak ada untukku..." Ucapnya sambil tetap tersenyum lemah.
"Tu-tunggu! Apa yang kau katakan? Aku tidak mengerti!"
Dia mulai memasang wajah masam.
"Jangan sok bodoh senpai, aku tahu jawabanmu tempo hari tidak serius, aku baru menyadarinya ketika berbicara dengan Miku-senpai dan Kagamine-san tadi siang, sepertinya kau memang tipe orang yang tidak suka berpikir untuk jangka panjang ya? Tapi, terima kasih karena sudah mau memberikanku harapan walau cuma sebentar." Ucapnya, kembali dengan senyum... Dan air mata...
"Tunggu! Aku tidak paham dengan perkataanmu?! Bukankah kita pacaran? Itu yang terjadi bukan? Lantas, apa yang salah dengan jawabanku tempo hari?!"
BUAK!
Dia kembali meninju tembok, darah yang keluar makin banyak.
"A-Aria! Apa yang kau lakukan?! Kita harus mengobati lukamu!" Aku mendekatinya dan hendak memegang tangannya, dengan kasar dia menepis tanganku.
"Kenapa? Apa kau masih belum puas mempermainkanku? Aku pikir kau orang baik, kau bersedia memberiku harapan dengan mencintaimu walau sebentar, tapi aku sudah tahu kalau kau hanya kasihan padaku... Kau tidak mencintaiku, itu benar kan?! Cukup dengan sandiwaramu!"
Dia berpikir, aku berbohong? Tidak, Iya, Tidak! Iya, aku memang berbohong! Tapi, dia tidak boleh tahu sekarang, ini bukan waktu yang tepat! Kenapa semuanya terjadi tanpa bisa kusadari?! Memangnya apa yang dia bicarakan dengan Miku dan Rin?! Pokoknya aku tidak bisa melepasnya sekarang, jika aku mengakuinya sekarang, dia akan benar-benar hancur dan tidak bisa bertahan lagi! Aku harus tetap melanjutkan kebohongan ini walau akhirnya itu menyakitinya, tapi aku yakin, saat dia tenang, dia akan mengerti dengan maksudku membohongnya, tapi dia tidak boleh menyadari kebohonganku sekarang!
"Bicara apa kau?! Aku... Aku mencintaimu! Aku menyayangimu! Aku ingin melindungimu!"
"CUKUP!"
"Tapi Aria-"
"Aku bilang cukup! CUKUP! CUKUP!"
Dia berdiri sambil mengibas tangannya dengan kuat, dia menangis, dia kembali menangis... Kenapa? Apa aku sudah salah dari awal karena asal bicara ingin menjadi pacarnya? Apa akulah yang sebenarnya menyakiti dirinya?
"Aria!"
Dia berlari ke arah pintu, membukanya dan keluar dari ruangan ini, dia membanting keras daun pintu setelahnya. Aku akhirnya melemaskan tubuhku... Ini tidak mungkin.
BUAK! BRAK!
Suara kencang apa itu?!
Dengan khawatir dan penasaran aku membuka pintu, belum genap 10 detik dia keluar dari ruangan ini, dia sudah terduduk di lantai depan pintu, apa yang terjadi? Air matanya makin menjadi-jadi... Keadaannya makin terlihat menyedihkan, apa yang sebenarnya terjadi?
"Kenapa? Kenapa dari semua waktu, dari semua tempat, dari semua suasana, kenapa itu terjadi sekarang?"
BUK! BUK BUK!
Dia memukul-mukul kakinya.
"Bergeraklah..."
"Aku mohon, bergeraklah..."
"Bergeraklah, aku bilang!"
Hiks... Hiks...
Suara isakan tangisnya makin tidak berbentuk...
"Aku mohon... Bergeraklah..."
Buk!
Dia meletakkan tangannya lemas ke lantai, dengan tatapan kosong dan mata yang membelalak hebat, dia menunjukan wajah yang sangat mengerikan... Wajah yang penuh keputus asaan.
"BERGERAKLAH! AKU BILANG! BERGERAKLAH SEPERTI BAGAIMANA KAU BERGERAK BIASANYA!"
"Aria!"
Aku baru sadar akan lamunanku, ketika aku menghampiri Aria dan mengangkat tubuhnya, dia sudah seperti tubuh tanpa nyawa, dia kosong.
"HUWAAAAAA!"
Setelahnya, teriakan yang sangat memilukan terdengar sepanjang rumah...
Aria... Apa, apa sebenarnya yang terjadi padamu?
...
XOXOX
"Kalian tahu Robin Hood? Berbohong dan menipu demi kebaikan, tapi akankah kebaikan itu membalas kerja kerasnya? Tidak, tidak ada satupun."
XOXOX
Chapter 7 selesai!
Saya sampai bingung, bagaimana menggambarkan kesedihan Aria, semoga yang sudah saya tulis sudah mewakili semua itu ^^
Mungkin ceritanya benar-benar menjadi drama, tapi tenang aja, cerita ini tidak akan hanya berkutat pada hal itu kok, akan ada waktu-waktu chapter serius yang penyelesaiannya lucu, ini fict masih jauh dari kata selesai, tenang aja! XD
Akhir kata, maaf jika ada kata yang kurang berkenan, saya mau tahu komentar kalian soal chapter kali ini, apapun itu, karena bentuk apresiasi dari kalian adalah kebahagiaan untuk saya.
Jaa~~ Matta ne~~ ^^
Best Regards,
Aprian
