Chapter 8: Selamat Tinggal (Bagian 1)
Hai semuanya! Tidak terasa tinggal beberapa chapter lagi hingga arc Aria selesai! Setelah ini, kita akan memasuki arc baru lagi yang saya jamin lebih seru!
Enjoy!
Kisah Sebuah Senja
Main Character: Kagamine Len, Hatsune Miku, IA
Main Pair: Guess who? Anybody want to answer and try to solve this question? :3
Disclaimer : Vocaloid © Yamaha, and other companies
Story © Me
UTAUloid © Owner creator
Fanloid © Creator
Summary :
"'Lebih baik kau mati saja!' Aku terbangun dari mimpi burukku lagi, andai saja-andai saja ada seseorang yang bisa membantuku menghilangkan mimpi buruk ini./'Kau bisa!' 'Jangan bohong!' 'Aku tidak akan berbohong!' 'Kalau begitu, berikan aku tujuan hidup!'/ Setelah berbagai peristiwa, akankah aku bisa menerima senyuman seperti warna langit senja yang selalu aku sukai?/Cerita tentang Hikikomori berat, Penyanyi hebat dan Seniman berbakat! Kemana cerita ini akan berjalan?"
Warning : OOC (maybe), typo(s), gaje, pendeskripsian kurang, kesalahan eja 'EYD' dan teman-temannya.
'Abc' (italic): Flashback, kata asing, atau percakapan secara tidak langsung (telepon, email, sms, dll)
"Abc" : Percakapan normal
'Abc' (kutipsatu) : Hayalan, angan, atau (monolog) pikiran karakter.
'Abc'/ 'ABC' (bold atau kapital) : Kata atau kalimat yang diberi penekanan, kata atau kalimat penting.
HAPPY READING!
XOXOX
Piip... Piip...
Suara itu masih berdengung di telingaku, ya suara dari mesin yang mengecek detak jantung Aria. Aria pingsan di rumahnya setelah dia berteriak kencang.
Sekarang aku ada di rumah sakit, tidak tahu harus apa, aku hanya duduk diam di depan ruangan Aria di rawat. Culnoza juga ada di sini. Miku dan Rin katanya akan segera menyusul, sekarang memang sudah malam, tapi mereka masih memaksa untuk pergi ke rumah sakit setelah mendengar keadaan Aria yang kritis.
Kreek...
Pintu dibuka, dari dalam ruangan Aria, keluar seseorang yang berpakaian dokter, dia dokter yang merawat Aria.
"Sanak saudara dari pasien? Apa anda?"
Dia menghampiriku dan menanyaiku dengan nada yang berwibawa, aku mengangguk lemas.
"Keadaannya buruk."
?!
Ucap dokter itu tanpa basa-basi. Aria, memangnya apa yang terjadi padanya, Culnoza masih diam, mulutnya tertutup rapat. Aku tidak mengerti apa yang tengah dialami Aria. Apa dia mengidap penyakit yang sangat serius?
"Memangnya apa yang terjadi dok?" Aku mencoba bertanya pada dokter tersebut, dokter itu mulai menjelaskan.
"Sepertinya mentalnya terlalu tertekan, dia mengidap Mielitis Transversa sudah lama, anda sebagai sanak saudara pasti lebih mengenal penyakitnya ketimbang saya. Apa dia sudah mengidap penyakit ini dari lahir?" Tanya balik dari si dokter.
"Iya. Nona sudah mengidapnya sejak dia lahir." Culnoza berdiri dan menghampiri kami berdua, dia tiba-tiba masuk ke dalam percakapan kami.
"Jadi begitu, Aku tidak bisa jamin penyakitnya hilang, penyakit ini ─Mielitis Transversa masih sangat minim informasi dalam dunia medis. Kita hanya bisa berharap keajaiban dari Tuhan agar kondisinya tidak memburuk." Keajaiban Tuhan?! Apa memang penyakit ini sangat merugikan penderitanya hingga dokter mengatakan hanya keajaiban yang bisa menolong Aria?!
"Anu, memang apa yang bisa terjadi dalam jangka panjang jika penyakit ini tidak kunjung hilang?" Tanyaku lagi.
"Informasi yang kami ketahui adalah, penyakit ini menyerang hampir 1 juta orang tiap satu tahun di dunia secara tiba-tiba, belum ada fakta yang bisa dengan jelas menjabarkan asal muasal dari penyakit ini, tapi penyebab internal dari penyakit ini adalah peradangan pada sum-sum tulang belakang. Pengidap akan terkena kelumpuhan secara tiba-tiba di beberapa bagian tubuh, terutama anggota gerak, dengan kata lain ─mati rasa secara tiba-tiba, di beberapa kasus, mati rasa ini tidak jelas durasinya, terkadang sangat lama, terkadang hanya sebentar, bahkan ada yang hanya dalam hitungan beberapa menit saja, dan tiba-tiba si pengidap bisa menggerakan badannya lagi. Gejala lainnya adalah rasa nyeri yang amat sangat pada otot. Dalam jangka panjang, penyakit ini juga akan memberikan rasa nyeri yang amat menyakitkan pada bagian kandung kemih dan usus. Gejala terburuknya adalah lumpuh permanen."
Aku langsung membelalakan mataku, terjatuh pada lututku, aku melotot ke arah lantai, cacat permanen? Apa itu mungkin? Aria, dia... Dia... Melawan hidupnya sendiri selama 16 tahun dia hidup? Apakah itu mungkin, apa itu memang benar?
Aria yang selama ini aku kenal sebagai orang yang tidak suka mengeluarkan banyak ekspresi, dia yang selalu menahan hasratnya, dia yang selalu tersenyum pada hal-hal yang tidak penting, dia yang aku ketahui sebagai orang yang mirip denganku, dia yang sudah bisa menyeruak sangat dalam ke dalam pikiranku walau kami baru kenal beberapa hari... Hidup dengan penderitaan selama 16 tahun?
Aria...
"Kenapa?"
"Hah?" Culnoza terlihat bingung.
Aku langsung berdiri dan mencoba mendobrak pintu ruangan Aria, aku bisa melihat dari jendela pada pintu, Aria sudah sadar, dengan mata yang sayu dia menatapku yang sedang menggendor pintu yang terkunci.
"Kenapa?! Kenapa kau tidak mengatakannya kepadaku?! Kenapa kau tidak memberitahuku?! Kenapa kau selalu bertindak sok kuat?! Kenapa kau selalu masih bisa tersenyum dalam kesakitan seperti itu?!" Aku menggendor pintu semakin kuat, si dokter melihatku dengan nanar dan mencoba menahanku, tapi aku tidak peduli, aku akan melampiaskan semua perasaanku di sini!
"Aku sudah katakan! Aku ada untukmu! Gunakan aku sepuasmu! Aku mengaku, aku memang belum memiliki perasaan apapun padamu! Aku hanya menjaga kebohongan ini demi dirimu! Aku tidak ingin kau hancur! Aku tidak ingin kau kembali tenggelam ke dalam kegelapan! APA KAU DENGAR ARIA?!"
Tes... Tes...
Air mataku merembes hebat, aku menangis sangat keras di dalam hatiku, kenapa... Kenapa kau masih bisa lebih kuat dari diriku... Aku... Aku merasa sangat rendah...
Ketika aku kembali mendongak ke arahnya dari tundukan kepalaku, aku bisa melihat dia tersenyum...
Apa...
Apa-apaan senyuman itu?!
"KENAPA KAU MASIH BISA TERSENYUM?! KENAPA?! KATAKANLAH SESUATU DASAR TIDAK BERGUNA!"
Ketika aku makin menggila, tiba-tiba ada sebuah pukulan yang sangat keras di tengkuk dan belakang kepalaku.
Kesadaranku melemah, aku terjatuh dan melihat Culnoza memegang sarung pedangnya, sepertinya dia yang memukulku...
"Tenangkan dirimu Len-dono, kau harus tenang, apa kau tidak bisa melihat perjuangan yang tengah dilakukan hime-sama saat ini?!"
Culnoza terus-terusan marah kepadaku, tapi apa daya, mata dan telingaku kabur, aku tidak bisa melihat dan mendengar dengan jelas apa yang dia katakan... Akhirnya aku tertidur lelap dalam hitungan detik.
XOXOX
Aku terbangun di pangkuan seseorang, siapa yang memangku ku?
"Kau sudah bangun?"
Aku mendengar suara yang familiar, aku mencoba menegakkan punggungku, ketika aku sudah bisa terduduk dengan benar, sebuah pelukan mendarat ke arahku.
BUK!
"Onii-chan! Sungguh! Aku bersyukur kau tidak apa-apa! Sialan! Akan aku balas ksatria wanita yang sudah membuatmu pingsan setelah ini!"
Miku? Rin?
"Kalian... Kalian, kenapa kalian ada di sini?"
Aku menoleh ke arah Miku dan Rin bergantian beberapa kali, mereka tiba-tiba menunduk, seakan merasa bersalah.
"Aku... Aku tidak menduga akan jadi seperti ini." Ucap Miku, pertama kali.
"Aku juga tidak tahu, kalau Aria-chan ternyata mengidap sebuah penyakit berbahaya..." Rin menimbrungi perkataan Miku.
Seketika aku ingat apa yang dikatakan Aria. Tentang anggapan kalau Miku dan Rin mencintaiku, apa... Apa itu benar? Aku menoleh ke arah Miku dulu, ingin rasanya aku merasakan hal tersebut sekaligus meminta maaf kepada Miku soal tempo hari, tapi entah kenapa tenggorokanku seakan tercekat sesuatu yang sangat besar sehingga aku tidak bisa mengeluarkan suaraku.
"Kami... Kami benar-benar minta maaf." Ucap Miku.
"Eh?" Ucapku tiba-tiba, menanggapi mereka.
"Aku dan Rin, kami tidak berpikir apapun saat itu, yang kami lakukan hanyalah menyalahkan Aria atas semuanya. Kami memang yang terburuk." Miku kembali mengatakan sesuatu, Rin juga mengangguk tanda setuju dengan perkataan Miku.
"Memang... Apa yang telah terjadi?" Akhirnya aku berhasil mengeluarkan suaraku yang mendesak ingin terus keluar dari tadi. Aku berhasil menanyakan rasa penasaranku kepada mereka berdua.
Suasana berubah hening, tidak ada yang ingin menjawab perntanyaanku. Aku hanya bisa menghela nafas, ketika aku sudah bisa berdiri, aku menggaruk belakang kepalaku yang tidak gatal.
"Aku tidak tahu apa salah kalian hingga kalian bisa merasa sangat bersalah kepada Aria. Tapi, aku hanya bisa mengatakan, jangan minta maaf kepadaku, minta maaflah langsung pada Aria."
Mereka berdua melongo mendengar perkataanku, memang ada yang salah dengan yang aku katakan?
Tiba-tiba Rin menangis dalam diam, dia tidak terisak, tapi air mata keluar dari pelupuk matanya, aku langsung panik dan menghampiri Rin, dengan lembut aku merangkul dirinya dan mengelus kepalanya dengan perlahan.
"A-apa yang kau tangiskan, Rin?" Ucapku, agak tergagap karena panik.
"Bukan apa-apa nii-chan." Ucap Rin, dia kemudian menggosok matanya dengan lengannya.
"Kau ternyata memang orang yang baik."
"?!"
Aku terkejut dengan perkataan tiba-tiba Miku.
"Aku!" Aku mencoba mengatakan sesuatu pada Miku.
Menghampiri Miku dan menunduk dalam di hadapannya, aku dengan erat memejamkan mataku dengan keras.
"Aku minta maaf! Aku minta maaf karena sudah membentakmu! Aku minta maaf karena sudah menakutimu! Aku minta maaf karena tidak bisa menghargai rasa khawatirmu! Aku minta maaf atas semua yang telau aku lakukan yang membuatku merasa tersakiti tempo hati! Aku... Aku benar-benar minta maaf!" Ucapku dengan lantang di lobby rumah sakit, karena ini sudah sangat malam, hampir tidak ada orang yang berjalan di lobby. Satu-satunya eksistensi manusia hanya kami bertiga dan dua orang suster di meja resepsionis yang menatap kami intens.
"Jadi kau hanya meminta maaf untuk yang tempo hari? Bagaimana dengan semua kesalahanmu yang dulu?" Gerutu Miku.
"Hah?" Aku bingung dengan perkataan Miku, seketika aku menaikan salah satu alisku dengan refleks.
"Bukan, bukan apa-apa, abaikan saja. Lagipula, kau memang orang yang sangat baik Len, walau kau juga orang yang sangat brengsek." Ucap Miku dengan senyuman di hadapanku.
Nyuut!
Urat empat siku-siku yang hampir menyatu berkedut di dahiku, apa yang dia katakan?!
"Siapa yang kau katai brengsek, dasar brengsek?!"
"Kau memang sangat brengsek, super brengsek!"
"Kau yang super brengsek! Dasar mega brengsek!"
"Kau yang mega brengsek! Dasar ultra brengsek!"
"Kau lebih brengsek dari semua orang brengsek yang sudah kutemui yang kebrengsekannya melebihi semua orang brengsek yang sudah melakukan hal-hal yang brengsek yang paling brengsek yang pernah aku rasakan salama ini!" Ucapku berbelit-belit.
"Kau lebih brengsek dari lalat brengsek yang terbang di atas makananku dan dengan brengseknya hinggap di sana sehingga aku harus mengusir kebrengsekanmu dengan memukulmu menggunakan koran brengsek sehingga mengganggu waktu makanku!"
"Kau─"
"Pfft..."
Suara ringisan kecil keluar dari Rin di samping kami, tanpa kami sadari, kami sudah saling lempar kata yang tidak senonoh di tempat kami. Kami berdua tertunduk dengan wajah merah karena malu.
"Kalian sudah kembali akur seperti biasa." Ucap Rin, sambil mengusap pelupuk matanya yang berair karena banyak tertawa.
Yah, aku sadar, bagaimanapun baiknya hubunganku dengan Miku, kami tidak bisa saling berkata jujur, pasti ujungnya saling melempar umpatan tidak berarti, jadi ini alasannya kenapa pata tetangga memanggil kami 'Duo Komedi'.
"Enaknya ya jadi muda..."
"Betul, mereka penuh dengan semangat."
Aku dan Miku mendengar sebuah komentar dari para suster di meja resepsionis, aku dan Miku langsung makin memerah karena malu... Sial... Akan ku balas kau nanti Miku!
"Ehmm..."
Aku berdehem mencoba mengembalikan suasana.
"Jadi, sepertinya ada yang terjadi di antara kalian dan Aria, apa dugaanku salah?"
Miku langsung mendesah pelan, dia mengajak aku dan Rin duduk, lalu mulai menjelaskan semuanya sembari di bantu oleh Rin.
.
,
,
"Jadi begitu..."
Ucapku dengan nada seolah aku mengerti, hei! Aku benar-benar mengerti!
Setelah banyak masalah dengan perlakuan siswa lain terhadap Aria, Miku dan Rin membantu Aria waktu itu. Aria tanpa sengaja mengatakan kalau aku dan dia berpacaran, membuat Miku dan Rin tidak bisa berpikir jernih dan berakhir dengan debat. Begitu bukan? Tapi, ada satu yang tidak aku pahami sejak tadi.
Kenapa aku yang dikatakan menjadi pacar Aria mengganggu Miku dan Rin tanpa alasan yang jelas.
Jangan-jangan...
"Kalian, kalian tidak bisa menahan emosi kalian ketika tahu kalau aku dan Aria berpacaran... Kalian pasti─" Aku menggantungkan kalimatku.
"─Kalian pasti sangat menyukai Aria kan?" Ucapku, sambil memikirkan beberapa adegan tiga wanita yang melakukan hal 'ini dan itu' satu sama lain, kalian mengerti kan?
BUAK! BUK!
Loh? Hidungku berdarah?
"Dasar Len bodoh!"/"Dasar nii-chan bodoh!"
Miku dan Rin saling berteriak dalam waktu yang bersamaan dan bersamaan pula meninju wajahku! Jadi begitu...
Tunggu...
Memangnya apa salahku!
"Tunggu! Apa salahku sehingga aku harus mendapatkan pukulan dari kalian?! Aku tidak salah apapun bukan!" Ucapku membela diri.
"Kami me-memang menyukai Aria, kami menyayanginya, tapi bukan sayang yang seperti kau sudah bayangkan! Kau idiot! Benarkan Rin?" Ucap Miku.
"Ya, nii-chan super idiot, aku... Aku menyesal mengkhawatirkannya." Timbrung Rin.
"Sepertinya kita bergantung pada orang yang salah."
"Ya, itu mungkin benar."
Dan percakapan menjatuhkan diriku di antara mereka berlangsung terus dan terus, MEMANGNYA APA SALAHKU?!
XOXOX
Kami pulang bersama malam itu, dan berpamitan satu salam lain. Aku tidak bisa tidur karena terus memikirkan Aria. Kami bertiga, aku, Rin dan Miku sudah sepakat tidak masuk sekolah besok demi menjenguk Aria.
Paginya, Rin sudah bersikap lebih normal dari kemarin-kemarin. Tidak ada gerutuan tidak jelas, tidak ada tatapan dan kalimat menusuk, tidak ada sikap acuh tak acuh. Apa dia sudah kembali normal?
Jadi kemarin Rin mengalami masa puber dalam semangat tinggi dan akhirnya lepas kendali untuk sesaat, huh? Mungkin aku salah, mungkin juga aku benar. Yah, aku tidak perlu memikirkan hal seperti itu untuk saat ini.
"Rin, sudah siap?"
"Sudah!" Teriak Rin dari kamarnya.
Rin keluar dengan baju kasual, yah, tidak jauh beda denganku. Kami mengenakan baju yang motifnya hampir serupa, namanya juga saudara, pasti ada kan satu atau dua baju mirip yang dibelikan oleh orang tua kami?
Orang tua ya? Aku penasaran bagaimana kabarnya si tua bangka sialan itu, cukup, masih ada hal yang lebih penting untuk di lakukan, menjenguk Aria ada pada prioritas utama saat ini.
Ketika aku keluar rumah, aku juga bisa melihat Miku sudah berdandan rapi. Kami bertiga berjalan ke rumah sakit, aku membawa karangn bunga, Miku membawa buah-buahan, Rin membawa sekantung ćaneles dan juga sekotak coklat.
"Miku, apa Aria sudah baik-baik saja ya? Apa kita sudah boleh menjenguknya?" Tanyaku.
"Pasti sudah, kita semua sudah mendoakan yang terbaik untuknya kan?" Ucap Miku.
Aku akhirnya optimis dengan perkataan Miku. Kami berjalan dengan tempo lambat menuju rumah sakit, sembari menikmati beberapa pemandangan kota tidak masalah kan?
.
.
.
Aku, Rin dan Miku sudah sampai di rumah sakit. Setelah menanyakan kondisi Aria pada resepsionis, kami sudah diperbolehkan menjenguknya. Aria dipindahkan kamarnya ke lantai yang lebih tinggi, sepertinya dia ada di ruangan dengan fasilitas VIP atau lebih tinggi, mengingat pentingnya jabatan Aria.
Ketika sampai di pintu ruangan Aria, aku melihat dua orang laki-laki berseragam dengan motif yang sama dengan seragam Culnoza. Culnoza kemudian terlihat berjalan pelan dari ujung lorong yang satunya.
"Kalian, apa kalian datang untuk menjenguk hime-sama?" Aku dan yang lain mengangguk.
Culnoza membukakan pintu dan pamit undur diri, ketika aku melihatnya, tatapanku tidak bisa berpaling dari tubuh Aria. Ada beberapa selang selain selang infus di tubuhnya, apa keadaannya semakin buruk?
"Aria, kami datang." Ucapku pelan.
Aria tidak merespon dengan perkataan, tapi dia menatap kami.
Aku menaruh buket bungaku, Miku mengupas apel yang dia bawa, dan Rin menata jajanan yang dia bawa pada sebuah mangkuk.
"Apa kau sudah baikan?" Tanya Miku, Aria mengangguk.
Dia tidak banyak bicara ya?
"Kami, kami minta maaf." Ucap Miku selanjutnya, Rin mulai merangkak perlahan ke samping Miku. Aku menjauhi mereka, memberi mereka ruang untuk berbincang-bincang.
Tidak beberapa lama kemudian, mereka selesai dengan urusan mereka. Walau samar, aku bisa melihat mereka bertiga saling tersenyum manis. Ah... Ini melegakan, melihat masalah di antara mereka sudah selesai.
Miku dan Rin keluar dari ruangan, menyisakan aku dan Aria di dalam, membiarkan kami menyelesaikan masalah kami.
"Aria." Dia tidak merespon perkataanku.
"Aku, aku tahu aku salah, tapi aku tidak menganggap rendah dirimu, aku tidak benci dirimu, aku tidak kasihan padamu, aku menganggapmu setara, aku yakin, aku yakin dengan dirimu dari dalam hatiku. Aku tahu, hanya kata maaf tidak akan memuaskanmu, aku tidak tahu apa lagi yang harus kulakukan. Aku tidak bisa melepas rasa bersalah karena sudah membohongimu, aku tidak bisa melepaskan rasa sakit dari dirimu karena sudah menyakitimu begitu dalam." Aria masih mendengarkanku dengan tenang, aku bahkan mengira dia tidak peduli dengan perkataanku, tapi aku tetap melanjutkan kata-kata yang keluar dari mulutku.
Tertunduk dan mulai tertunduk, makin menyentuh lantai, aku berlutut di samping kasur Aria.
"Aku minta maaf! Aku tidak bisa bersamamu seperti yang sudah aku janjikan! Tapi mulai sekarang, apakah itu cinta atau bukan, kau bisa mengandalkanku! Kau bisa bergantung padaku, aku tahu ini naif, tapi biarkan aku ada disampingmu selama mungkin hingga aku bisa menebus semua dosaku terhadapmu! Aku tahu pada akhirnya akulah orang yang meminta di sini, tapi aku mohon, kabulkanlah permintaanku! Aku ingin berbagi semuanya denganmu! Aku ingin kau membagi rasa sakitmu padaku! Pada Miku! Pada Rin! Pada kami semua! Aku tahu, mungkin perkataanku bagai suara bising lalat yang sudah tidak seharusnya kau dengar, tapi dengan segala harga diriku, aku mohon! Tersenyumlah! Tertawalah! Bahagialah! Lepaskan semua rasa sakitmu pada kami semua! Kami akan ada untukmu! Aku juga, aku akan membuatmu bahagia walau mungkin akan terasa menyakitkan bagimu dan juga mencabik daging di tubuhku sedikit demi sedikit, tapi aku berjanji! Aku akan membahagiakanmu mulai sekarang!"
Aria menatapku dengan mata terbelalak, apa itu berhasil? Tidak ada senyuman di wajahnya, wajahnya masih sama dengan ketika melihatku pada malam aku ada dirumahnya terakhir kali. Masih ada sisa-sisa kebencian tersirat dari mata itu,,,
Tapi, tanpa diduga, dari mata itu juga, buliran kristal mulai mengalir dengan perlahan.
"Curang." Ucap Aria lemah.
"Kau curang, senpai. Berlagak keren dalam situasi seperti ini, ini benar-benar tidak bisa diterima." Ucapnya lagi.
"Kau... Kau memang menyebalkan!" Bentaknya.
Ketika mendengar bentakannya, hatiku hancur berkeping-keping, apa dia masih membenciku?
Ketika aku memasang wajah sedih, tangannya yang tersambung beberapa selang mengelus kepalaku, masih dengan air matanya, dia akhirnya tersenyum.
"Kau curang, kau memberikan orang tidak berguna ini tujuan untuk terus hidup, sekali lagi."
"Jangan katakan dirimu sendiri tidak berguna! Hargailah dirimu sendiri!"
Aku mengatakan itu sebagai refleks, aku juga memegang telapak tangan Aria yang mengelus kepalaku setelahnya... Hangat...
Ketika mendengar perkataan Aria, harapan mulai muncul di depan mataku, seakan cahaya yang sangat terang sudah menyinariku dan memberiku keajaiban yang seharusnya tidak mungkin terjadi. Aku mulai memasang senyuman juga perlahan, aku mulai merasa senang, aku mulai bisa merasakan suka cita, semangat meluap di dalam diriku, tapi kemudian itu semua hancur dengan perkataan dari Aria yang selanjutnya, dia melepas tanganku dan berkata dengan nada sedih.
"Tapi maaf, aku tidak bisa mengabulkan itu... Kita akan segera berpisah..."
XOXOX
"Cahaya adalah kegelapan itu sendiri, dia bersinar terang karena ada kegelapan di sekelilingnya, jika tidak ada kegelapan yang lain, cahaya itulah yang merupakan kegelapan."
XOXOX
Chapter 8 selesai!
Huff... Saya gak nyangka, word untuk story only bakalan lebih dari 2500 untuk detik-detik terakhir dari kisah Aria. Kedepannya, saya yakin, fict ini gak akan mengecewakan kalian! (Walau saya berkata begitu, pasti akan ada satu dua hal atau bahkan lebih hal yang membuat anda sekalian kecewa, jadi saya maklum, saya akan tetap berjuang!)
Akhir kata, maaf jika ada kata yang kurang berkenan, saya mau tahu komentar kalian soal chapter kali ini, apapun itu, karena bentuk apresiasi dari kalian adalah kebahagiaan untuk saya.
Jaa~~ Matta ne~~ ^^
Best Regards,
Aprian
