Chapter 9: Sampai Jumpa (Bagian 2)

Hai lagi! Jadi saya mau menjelaskan, arc terakhir ini ada tiga bagian, berarti bagian terakhir ada di chapter 10. Gilak, sepuluh chapter buat satu arc, saya kaget juga ketika buat. Arc selanjutnya akan membahas Kaito, dan... Erm... Saya gak kasih tahu deh, takut spoiler. #GEDUBRAK

Udahan ah, daripada tambah gak jelas, langsung mulai oke?

Kisah Sebuah Senja

Main Character: Kagamine Len, Hatsune Miku, IA
Main Pair: Guess who? Anybody want to answer and try to solve this question? :3

Disclaimer : Vocaloid © Yamaha, and other companies
Story © Me
UTAUloid © Owner creator
Fanloid © Creator

Summary :

"'Lebih baik kau mati saja!' Aku terbangun dari mimpi burukku lagi, andai saja-andai saja ada seseorang yang bisa membantuku menghilangkan mimpi buruk ini./'Kau bisa!' 'Jangan bohong!' 'Aku tidak akan berbohong!' 'Kalau begitu, berikan aku tujuan hidup!'/ Setelah berbagai peristiwa, akankah aku bisa menerima senyuman seperti warna langit senja yang selalu aku sukai?/Cerita tentang Hikikomori berat, Penyanyi hebat dan Seniman berbakat! Kemana cerita ini akan berjalan?"

Warning : OOC (maybe), typo(s), gaje, pendeskripsian kurang, kesalahan eja 'EYD' dan teman-temannya.

'Abc' (italic): Flashback, kata asing, atau percakapan secara tidak langsung (telepon, email, sms, dll)
"Abc" : Percakapan normal
'Abc' (kutipsatu) : Hayalan, angan, atau (monolog) pikiran karakter.
'Abc'/ 'ABC' (bold atau kapital) : Kata atau kalimat yang diberi penekanan, kata atau kalimat penting.

HAPPY READING!


XOXOX


Berpisah?

Apa yang dia maksud berpisah?

Perpisahan? Apa yang dia maksud adalah, dia akan pergi jauh dari diriku serta semua orang dan akhirnya tidak kembali. Aku langsung membeku, lidahku kelu. Aku merasakan degupan yang menyakitkan darinya, relung hatiku memberontak tidak terima, aku ingin menahannya, tapi apa daya... Keteguhan hatiku hanya kepalsuan semata, keteguhan ini hanyalah replika, yang bahkan tidak lebih kuat dari rasa takut akan kehilangan dirinya, kehilangan seorang Aria.

Aku memegang tangannya sekali lagi, menunduk di depannya. Aku hanya bisa tertunduk lalu terdiam. Memang belum lama aku mengenalnya, tapi... Kenapa kepergiannya terasa begitu menyakitkan, kenapa hatiku memberontak untuk terus menghalanginya pergi?

Aria juga tidak berkata apa-apa, dia pasti juga merasakannya, dia pasti tidak begitu saja mengatakan hal ini tanpa pikiran apapun. Dia pasti juga merasakan sakit yang sama, tapi, walau aku tahu kalau dia juga tersakiti, kenapa aku masih egois dan merasa tidak terima kalau Aria akan pergi?

Segala macam kemungkinan terlintas di pikiranku, mulai dari yang normal hingga yang ekstrem. Pergi... Pergi... Pergi... Apakah dia...

"Jangan bilang kau akan ma-"

Aria langsung menyentuh bibirku dengan jari telunjuknya.

"Siapa yang bilang aku akan pergi dengan cara seperti itu? Kematian? Itu, itu terlalu menyedihkan bukan? Aku tidak akan tega dan tidak akan terima meninggalkan yang hidup secara tiba-tiba seperti itu. Aku hanya akan kembali pulang ke negaraku." Jawabnya.

"Jadi?" Tanyaku selanjutnya

Penyakitnya pasti bertambah parah. Aku yakin itu. Kata dokter, penyakit ini akan membuat dia lumpuh untuk sementara waktu, tapi sampai kapan? Dokter bilang, paling cepat beberapa jam atau beberapa hari, tapi kalau sampai berbulan-bulan? Bertahun-tahun? Apa aku masih bisa menerima itu semua?

Keajaiban, huh? Sudah lama aku meninggalkan diriku dari hal yang semacam itu, keajaiban hanyalah untuk orang lemah. Tapi, apa ada yang bisa menolong Aria selamat dari semua ini kecuali keajaiban?

"Terakhir kali..."

"Huh?" Dia terlihat bingung dengan kalimatku yang tergantung.

"Terakhir kali kau seperti ini, berapa lama?" Tanyaku.

Dia tidak langsung menjawab, seakan menerawang apakah akan memberiku jawaban yang mana, kebohongan atau kebenaran?

"Satu hari penuh." Jawabnya.

"Kau bohong."

"Baiklah tuan pintar merayu, dua tahun."

Apa... Dua tahun? Dia... Serius?

"Du-dua tahun? Jangan bercanda! Itu lebih dari setengah masa sekolah menengah pertamamu!"

Aku menggebrak meja mendengar perkataannya, kenapa dia bisa begitu tenang mengalami hal ini tanpa melakukan apapun?! Aku langsung berpikiran, apakah hidupnya bahagia selama dua tahun dia lumpuh?! Jangan bercanda! Kenapa dia masih bisa kuat?! Kenapa dia masih bisa menjalankan kehidupannya seperti biasanya setelah hal-hal seperti itu?!

"Senpai, oleh karena itu, aku tidak sekolah di sekolah menengah pertama, aku belajar di rumah." Jawabnya, kalem.

Kenapa? Kenapa tidak ada ekspresi apapun dalam perkataannya, paling tidak bersedihlah! Menangislah!

"La-lalu, sebelum itu, berapa lama juga kau lumpuh?" Tanyaku sekali lagi.

"Hampir 5 tahun."

"?!"

Dia... Kenapa...

"Kenapa kau masih bisa tenang! Bersedihlah! Menangislah paling tidak! Hidupmu begitu menyedihkan!" Aku tanpa sadar memarahinya, walau akhirnya di balas senyuman.

"Kau tahu, senpai. Aku tidak pernah bersekolah di sekolah umum, aku selalu belajar di rumah, aku tidak pernah merasakan bagaimana itu sosok 'teman' yang selalu ada ketika kau bersekolah. Memang ini takdirku, terkadang sangat menyakitkan seperti ini. Beruntung hanya kakiku yang lumpuh kali ini..."

"Ja-jadi, kau pernah mengalami yang lebih parah?"

"Dulu, aku pernah lumpuh total selama dua bulan. Aku bahkan hampir tidak bisa mengunyah makanan. Tangan dan kakiku sama sekali tidak bisa digunakan selama satu tahun penuh waktu aku berumur 8 tahun. Aku juga pernah mengalami rasa sakit dan nyeri yang amat sangat setiap malam, di perutku. Terkadang, dalam beberapa kasus, mereka bilang, aku pernah tidur selama 3 hari penuh..."

Kenapa? Kenapa dia masih bisa menceritakan semua itu dengan nada datar?

"Kenapa, kenapa Aria? Kenapa kau bisa sekuat itu?"

Aku meremas celanaku sendiri, apa memang dia sekuat ini? Apakah Aria yang aku kenal memang sekuat ini? Memang, kami belum kenal lama, tapi entah kenapa... Aku merasa sudah sangat mengenalnya.

Aku menghampiri tembok, membelakangi tembok tersebut dan jatuh terduduk. Mataku menerawang langit, tahanlah Len... Tahanlah untuk tidak menangis.

Kenapa? Kenapa aku tidak bisa menahan air mataku?

"Bodoh, kenapa... Kenapa kau masih bisa bahagia dengan keadaan seperti itu? Kalau aku, aku pasti sudah memilih mati!" Ucapku.

"Dan meninggalkan orang-orang yang menyayangimu?"

DEG!

Dia benar... Aku tidak bisa meninggalkan mereka yang masih berhubungan denganku.

"Aku masih hidup, dan akan terus berusaha. Aku bertahan karena ada orang-orang yang akan sedih jika kau pergi mendahului mereka."

Dia benar, Aria benar...

"Aku akan terus bertahan, dan akan terus berusaha untuk bertahan selama masih ada orang yang akan menangis karena kepergianku, walau itu hanya satu orang..."

DEG!

Dia... Dia...

"Kenapa?" Ucapku.

"Senpai?"

"Kenapa kau bisa begitu kuat?!" Tanyaku dengan kesal.

Aku berteriak dengan kepala tertunduk, aku sudah tidak peduli lagi dengan apa yang akan aku katakan.

"Kesallah dengan ketetapan Tuhan! Kutuklah takdirmu sendiri! Bersedihlah akan keadaanmu! Menangislah di hadapan orang lain! Aku... Aku tidak terima kalau kau bahkan tidak merasakan apapun dengan keadaan ini! AKU TIDAK AKAN PERNAH TERIMA!"

BUK!

Aku memeluk Aria yang tengah terdiam... Aku mengeratkan pelukanku padanya, makin erat, hingga pada tahap dia mungkin akan sulit bernafas.

"Se-senpai, sesak... Sesak..."

"Peduli setan! Aku tidak akan pernah melepas tubuh ini! Aku tidak akan pernah rela kalau kau bahkan tidak menangis untuk keadaanmu bahkan hanya untuk satu kali saja di hadapanku!"

"Ta-tapi senpai, aku sudah sering menangis di hadapanmu, jadi, tidak ada gunanya aku menangis lagi..." Ucapnya, dengan lesu.

"Itu ya itu! Ini ya ini! Keduanya memang masalah yang ada pada dirimu! Tapi, masalah karena bakat dan masalah karena penyakit adalah dua hal yang berbeda!"

Aria mulai memberontak dari pelukanku, dia mulai mengguncang-guncang tubuhnya sendiri, makin lama makin kencang dan keras. Dia terus memberontak dengan liar. Aku tidak akan melepaskannya hingga dia menangis!

"Tolong, lepaskan aku!"

"Aku menolak!"

"Lepaskan!"

"Tidak mau!"

"LEPASKAN AKU!"

"AKU TIDAK AKAN MAU!"

Dia masih terus memberontak dengan keras, hingga salah satu selang yang ada di tubuhnya lepas. Aku dan Aria tidak mempedulikan hal kecil seperti itu!

"Kenapa?! Aku yang merasakan sakit di sini! Tapi kenapa senpai yang keras kepala?!" Ucapnya dengan lantang.

"Jika memang kau merasakan sakit, maka menangislah! Menangislah seakan tidak akan ada hari esok untukmu!"

"Tidak mau! Aku tidak akan menangis! Menangis hanya untuk orang lemah!"

"Kau dan aku punya kelemahan! Semua orang memiliki kelemahannya masing-masing! Jadi, menangislah karena kelemahanmu!"

"Aku tidak mau menjadi orang lemah!"

"Kenyataannya kau memang lemah!"

BRUAK!

Dalam satu hentakan, pelukanku terlepas darinya, dia langsung memasang tatapan nanar, matanya berkaca-kaca dengan sangat lembab.

Menangislah! Sedihlah! Merengeklah! Keluarkan semuanya!

Aku terus meneriakan hal-hal itu kepadanya, tidak peduli bagimanapun reaksinya, aku tidak akan berhenti.

"KELUAR!"

Tiba-tiba suara itu keluar dari mulut Aria, aku langsung menyadari kesalahanku. Egois... Kenapa aku bisa seegois ini pada Aria? Apa yang sudah ku lakukan?! Kenapa aku mengulang kesalahan yang sama keapada Aria?! Kenapa aku tidak bisa menghilangkan keegoisanku?!

"A-Aria... Ma-maaf... Se-sepertinya aku su-sudah berlebihan..." Aku mencoba menghampirinya lagi, tapi dia langsung menutup dirinya dengan selimut dan berteriak sekali lagi.

"KELUAR!"

Akhirnya, tanpa tangisan dari dirinya, aku keluar dari ruangan ini dengan berat hati. Kenapa? Apa aku tidak cukup membuatnya sadar akan dirinya sendiri?
Ketika aku keluar, aku melihat Rin dan Miku. Mereka menghampiriku, dan menanyakan kenapa tadi ruangan tempat Aria berisik sekali dari dalam. Aku langsung mengibaskan tanganku, mengatakan tidak apa-apa. Mereka mempercayainya dan akhirnya meninggalkanku, katanya mereka ingin berbincang lagi dengan Aria di dalam ruangan. Aku harap mereka tidak melihat Aria yang berantakan karena pertengkaran kami barusan.


XOXOX


"Len-dono?"

Aku menoleh, Culnoza menghampiriku dengan suara besi yang menyertai langkah kakinya. Apa tidak berat ya, bawa-bawa pedang terus? Apalagi yang dia bawa ukurannya agak lebih besar dari para bawahannya. Sepertinya, pedang ini masuk golongan Bastard Sword* dalam game-game RPG.

"Ah, kau... Apa kabar?"

"Kenapa Len-dono menanyakan kabar? Bukannya kita barusan ketemu tadi?" Tanyanya.

Oh iya, tadi dia menyambut kami di pintu ruangan tempat Aria berada. Oh iya, kemana para penjaga yang tadi menjaga ruangan Aria, saat aku keluar tadi, aku baru sadar kalau tempatnya agak sepi, sepertinya mereka pergi.

"Mengkhawatirkan nona? Para penjaga hanya istirahat sebentar." Seakan membaca pikiranku, dia menjawab pertanyaan dalam otakku dengan tepat.

Berjalan makin dekat, Culnoza akhirnya duduk di sampingku. Baku panjang yang kami duduki terbuat dari besi, terasa agak dingin walau ini masih musim semi. Mungkin hatiku sudah beku karena pertengkaran tadi.

"Aria-"

"Nona selalu memaksakan dirinya."

Culnoza langsung memotong perkataanku dengan menceritakan Aria. Dia ingin membuat suasana agar tidak hening, tapi tetap saja, memotong pembicaraan orang lain itu tidak sopan. Yah... Mungkin dia hanya tidak dengar, aku akan mendengarkan saja apa yang akan dia katakan.

"Sejak kecil, nona sudah sakit-sakitan, tubuhnya memang lemah, tapi hanya di saat-saat tertentu. Saat nona sehat, nona bisa beraktivitas layaknya gadis normal. Sungguh menyakitkan karena kau bahkan tidak tahu kapan kau akan tumbang secara tiba-tiba dan itu bisa terjadi kapan saja." Ucapnya.

Jadi, Aria sudah seperti itu sejak kecil? Oh iya, tadi dia sudah bilang, dia sudah sering merasakan dampak penyakit itu dari kecil, makanya dia home-schooling.

"Aku sudah bersama nona sejak nona masih sangat kecil. Kami berdua sudah bersama sejak kami baru bisa berjalan. Aku diajarkan yang terbaik untuk bisa terampil di samping nona, melindungi beliau dari bahaya apapun. Beliau sudah bagai keluarga dan teman dekat bagiku."

Teman kah? Aria bilang dia tidak pernah merasakan 'teman', mungkin dia hanya tidak sadar, kalau dia sudah memiliki teman yang sangat berharga di sampingnya sejak lama.

"Pernah suatu hari, kami berdua terjatuh ke kolam bersama. Nona yang saat itu masih sangat polos melepas semua bajunya dan akhirnya berlarian dengan bertelanjang bulat di halaman rumah, membuatku dimarahi habis-habisan oleh ayah dan ibuku karena tidak menjaga nona dengan baik..."

Aku langsung memikirkan Aria kecil tanpa baju, berlarian kesana-kemari... Tanpa sadar wajahku memerah, dan hidungku mengeluarkan darah... Apa aku mimisan?! Aku bukan lolicon!

"Kenapa kau mimisan? Apa Len-dono memikirkan hal tidak senonoh tentang nona di hadapanku?!" Dia langsung berdiri dan menarik pedangnya dengan cepat, meletakkannya di samping leherku, aku langsung menarik lagi mimisanku dan menggeleng cepat dengan wajah kaget setengah mati.

Dia... Culnoza sangat menakutkan kalau menyangku tentang keselamatan Aria!

"Hiiiy! Maafkan aku!" Aku langsung tertunduk lemas saat dia menyarungkan pedangnya lagi.

Dia duduk lagi di sampingku... Beberapa saat, suasana hening di antara kami, sepertinya dia masih kesal karena kelakuanku. Maaf, aku memang yang terburuk. Culnoza menoleh ke arahku dengan mata yang tegas, akhirnya dia mengatakan sesuatu.

"Jadi, tolong jaga nona pada hari-hari terakhirnya dia ada di Jepang."

DEG!

Jantungku tiba-tiba berdetak tak beraturan, aku berdiri dan pamit di hadapan Culnoza. Pergi keluar rumah sakit meninggalkan semuanya.


XOXOX


Tidak kusadari, sudah dua hari aku tidak mengunjungi rumah sakit. Rin dan Miku masih rutin mengunjungi Aria setelah pulang sekolah. Ketika pulang, Rin (dan terkadang Miku ikut nimbrung di rumah kami) menceritakan apa saja yang mereka diskusikan dengan Aria. Aku senang melihat ekspresi bahagia mereka berdua, sepertinya mereka belum tahu kalau Aria akan pergi, aku tidak akan memberitahu mereka, itu hanya membuat mereka sedih, mereka akan berhenti menjenguk Aria dan akhirnya tidak akan ada orang yang mengantar kepergiannya.

Hari beranjak malam hari ini, aku mengambil seragam tempat aku bekerja di kamarku. Berjalan pelan tanpa menggunakan apapun di tubuh bagian atasku kecuali hanya kaos yang tipis, aku masih menaruh lipatan seragamku di tanganku. Pergi bekerja, itulah yang akan aku lakukan.

"Yo! Lama gak ketemu!"

Aku mendapat tepukan bersemangat dari Lui saat sedang berjalan, ah... Benar juga... Aku sudah lama tidak masuk sekolah, sudah hampir pertengahan minggu kedua awal semester baru, mungkin aku akan masuk habis ini.

"Yo! Apa kabar? Kau terlihat sehat." Aku menjawab balik sapaan Lui, yah, mau bagaimanapun, dia sahabat karibku. Aku juga awalnya tidak terlalu mengerti kenapa dia lengket kepadaku, tanpa aku sadari, kami berdua sudah akrab seperti sepasang lumba-lumba.

"Ada rencana masuk sekolah habis ini?" Tanyanya.

"Ada... Tungguin aja, nggak lama kok. Kangen ya?" Godaku.

"Siapa juga yang kangen sama mas-mas otaku?" Ucapnya, setengah mengejek.

Kami berdua langsung tertawa pelan.

"Mau berangkat kerja ya?"

"Yoi."

"Sukses bos!" Dia memberiku pose hormat, dasar.

"Oh, iya, mungkin kau tidak terlalu tertarik, tapi dalam waktu dekat, akan ada pemilihan ketua OSIS baru di sekolah. Sepertinya tahun ini akan menarik, Kaito si berandalan itu sepertinya ikut mencalonkan diri." Ucapnya.

Yah, aku tidak terlalu tertarik sih sama masalah kayak gitu, tapi, berhubung yang menyampaikan Lui, mau tidak mau aku akan menyimaknya. Kaito ikut pemilihan ketua OSIS? Kesambet apa tuh orang?

"Makasih infonya." Jawabku.

"Mau ikut jadi calon?" Tanyanya.

"Nggak, makasih."

"Sudah kuduga dari seorang Kagamine Len yang super cuek." Ejeknya dengan nada rendah.

"Maaf ya karena sudah jadi orang cuek." Jawabku, menggerutu.

"Memang mau pergi kemana? Nggak biasanya gue lihat lo lewat sini." Aku mulai menanyai dirinya dengan bahasa yang sedikit agak gaul, tapi juga kasar. Yah, namanya juga orang yang saling akrab.

"Biasa bro, ada urusan." Jawabnya ternyata gak kalah gaul.

"Masalah cewek lagi?" Tanyaku menggoda.

"Cewek yang mana nih? Cewek gue banyak." Candanya.

"Dasar playboy." Kami berdua tertawa lagi.

furikitta MEETAA PUROGURAMINGU... "suki" nante ne okimari no monku...

Aku mengangkat hp ku yang tiba-tiba berbunyi keras diiringi lagu bernada dubstep yang agak gakjelas, yah... Musiknya enak sih, jadi aku pasang aja jadi ringtone. Kalian tahu ini lagu apa? Kalau ada yang tahu dapet piring cantik deh~

'Halo?'

'Nii-chan! Nii-chan udah berangkat kerja kan? Bawakan aku snack pulang nanti!'

Oalah, Rin ternyata yang menelpon, aku tidak sempat lihat nama penelponnya tadi. Setelah beberapa percakapan nggak jelas, aku menutup sambungan telepon. Punya adik yang super energik ternyata sulit ya.

"Siapa tuh? Rin-chan?"

"Siapa lagi?" Jawabku atas pertanyaan Lui.

"Ngapain lagi tuh anak?" Tanyanya.

"Biasa, nitip makanan. Tau sendiri kan, Rin nggak pernah diet." Jawabku.

"Nggak pernah diet, tapi lekuk badannya mantep banget bro~" Ucapnya dengan nada yang sedikit diayun bersama dua acungan jempol.

"Berani ngegombal adek gue, siap-siap kepala lo benjol." Aku mengancam Lui dengan nada gaul nan kasar lagi. Mau bagaimanapun, kenyataan kalau dia playboy itu nggak bisa diubah, dia beneran playboy!

"Santai-santai, Rin terlalu manis buat jadi pacar orang brengsek kayak gue." Jawabnya, dia sadar diri toh.

"Udahan ah! Udah telat nih!" Dia mulai berlarian mendahuluiku sambil melambaikan tangan, aku membalas lambaian tangannya, sebelum dia pergi jauh, dia kembali menghampiriku dengan kaki yang mashi berjoging ringan.

"Mungkin ini cuma perasaan, tapi dari tadi, wajahmu kelihatan pucat. Masalah lain lagi? Gak usah ragu! Ceritakan saja pada orang yang satu ini!" Dia memasang wajah sombong sambil menunjuk dirinya sendiri, jadi dia sadar kalau aku sedang memikirkan Aria huh?

"Udah ah! Pergi sana, nanti tuh cewek nunggu!" Ucapku mencoba mengusir dia.

"Oke, oke. Aku nggak tahu apa masalah yang kau hadapi sekarang. Tapi dari raut wajahmu, itu pasti masalah dengan orang lain, bukan dirimu sendiri. Matamu dari tadi tidak bisa diam bergerak, biasanya kalau kau resah dengan dirimu sendiri, kau hanya menunduk. Aku hanya bisa mengatakan ini sebagai temanmu, kalau dia memang berharga bagimu, kenapa kau harus meninggalkannya sendiri dengan masalahnya? kau laki-laki bukan? Sadarlah dan kejar dirinya dengan alasan yang baru!"

Mataku langsung membelalak keras, jadi... Jadi begitu!

Aku menoleh ke arah Lui, wajahnya menunjukan wajah puas. Dia meninggalkanku dengan berlari kencang ke depan. Huh... Mau apapun yang aku hadapi, sepertinya aku tidak pernah bisa lepas dari bantuan orang lain.

Itu benar, kenapa aku harus meninggalkan Aria hanya karena dia sudah menyerah dengan keadaannya? Kenapa aku harus meninggalkannya karena alasanku bersamanya sudah habis? Aku sudah tidak bisa membujuknya, aku sudah tidak bisa membuatnya yakin kalau masih ada harapan yang lebih baik, tapi apa aku memang sudah bekerja dengan baik di hadapannya? Apa aku sudah cukup berjuang?

Tidak... Tidak ada kata 'cukup' dalam menolong orang lain! Kalau aku sudah kehabisan alasan untuk ada di sampingnya, aku akan membuat alasan baru untuk bisa ada di sampingnya! Aku akan membuat alasan baru agar dia tetap bisa tinggal di sini! Aku akan terus berusaha membuat alasan baru agar dia tidak bisa meninggalkan kami semua begitu saja!

Aku sudah sadar... Akhirnya aku berjalan dengan senandung disepanjang perjalananku.


XOXOX


"Harapan akan selalu ada dalam situasi apapun."


XOXOX


Chapter 9 selesai!

Huwahh! Tinggal satu chapter lagi hingga saya bisa membuat plot baru lagi dalam cerita ini! Saya ingin mengatakan kalaufict ini terdiri dari kumpulan arc, tapi juga ada beberapa chapter yang terpisah sendiri nanti buat chapter selingan, biar ada refreshingnya juga buat saya yang terus-terusan mikir sambil ngetik XD #PLAK

Di atas ada kata yang diberi bintang, dalam beberapa game RPG, tiap tipe pedang memiliki sub classnya sendiri. Pada pedang-pedang bermata dua (dengan kata lain, pedang model barat) biasanya dijelaskan dalam 3 sub class, normal sword untuk ukuran yang standar, bastard sword untuk ukuran menengah, dan great sword untuk ukuran yang besar. Biasanya normal sword dan bastard sword masih bisa digunakan satu tangan untuk mengayunkannya, tapi great sword menggunakan dua tangan untuk mengayunkannya. Coba perkirakan sendiri ya ukurannya ^^

Oh, sama ada yang review pake guest, setelah itu pake akun, saya balas langsung ke akunnya aja ya ^^

Akhir kata, maaf jika ada kata yang kurang berkenan, saya mau tahu komentar kalian soal chapter kali ini, apapun itu, karena bentuk apresiasi dari kalian adalah kebahagiaan untuk saya.

Jaa~~ Matta ne~~ ^^

Best Regards,

Aprian