Chapter 12: Kompetisi, Dimulai!
Ohayou/Konnichiwa/Konbanwa Minna-san~
Ohisashiburi desu~
Gimana chapter kemarin? Walau saya nggak bisa jamin kedepannya arc ini akan lebih seru, ya… Diusahakan semaksimal mungkin deh~
Langsung mulai aja ya~
Kisah Sebuah Senja
Main Character: Kagamine Len, Hatsune Miku, IA
Main Pair: Guess who? Anybody want to answer and try to solve this question? :3
Disclaimer : Vocaloid © Yamaha, and other companies
Story © Me
UTAUloid © Owner creator
Fanloid © Creator
Summary :
"'Lebih baik kau mati saja!' Aku terbangun dari mimpi burukku lagi, andai saja-andai saja ada seseorang yang bisa membantuku menghilangkan mimpi buruk ini./'Kau bisa!' 'Jangan bohong!' 'Aku tidak akan berbohong!' 'Kalau begitu, berikan aku tujuan hidup!'/ Setelah berbagai peristiwa, akankah aku bisa menerima senyuman seperti warna langit senja yang selalu aku sukai?/Cerita tentang Hikikomori berat, Penyanyi hebat dan Seniman berbakat! Kemana cerita ini akan berjalan?"
Warning : OOC (maybe), typo(s), gaje, pendeskripsian kurang, kesalahan eja 'EYD' dan teman-temannya.
'Abc' (italic): Flashback, kata asing, atau percakapan secara tidak langsung (telepon, email, sms, dll)
"Abc" : Percakapan normal
'Abc' (kutipsatu) : Hayalan, angan, atau (monolog) pikiran karakter.
'Abc'/ 'ABC' (bold atau kapital) : Kata atau kalimat yang diberi penekanan, kata atau kalimat penting.
HAPPY READING!
XOXOX
"Bagaimana keadaan panggung?!"
"SIAP!"
"Apa sound system berjalan dengan baik?"
NGUUUUNGGG!
"Sebentar, aku masih harus mengatur bassnya!"
"Sialan, aku masih ngantuk…"
"Jangan tidur bodoh."
"Iya~~"
"Senpai, aku harus apakan yang ini?"
"Permisi hime-sama, mungkin akan bagus jika kita memotongnya!"
Aria yang terlilit beberapa kabel, Culnoza yang sibuk ingin menyelamatkan tuan putrinya, Len yang menguap tiada habisnya, Rin yang sibuk makan sambil menata panggung kecil, Lui yang mempersiapkan sound system dan Miku yang mengatur mereka semua.
Hari ini, pagi, sekitar jam 05.30, kelompok Len mempersiapkan beberapa hal untuk memulai kampanye pagi mereka yang akan mulai berjalan untuk dua minggu ke depan. Di sekeliling mereka juga banyak kandidat lain yang mempersiapkan kampanye dengan cara mereka sendiri-sendiri.
"Tunggu, nii-chan, ini perasaanku saja atau hanya kelompok kita saja yang normal?"
Len menyipitkan matanya yang sebenarnya sudah menyipit karena ngantuk, jadi terlihat seperti terpejam. Simpelnya, Len sebenarnya tidak melihat apapun.
"Kau lihat apa bodoh?!"
PLAK!
Lalu, tamparan Miku mendarat dengan halus.
"Makanya jangan main game terus hingga pagi! Apa kau tidak tahu pentingnya kompetisi ini untuk kita semua? Dasar orang tidak tahu diuntung! Bukannya kau yang memaksa kita semua untuk melakukan semua hal ini dan mendukungmu?!"
"Hee?"
Len hanya menjawab dengan mulut setengah terbuka, Miku hanya bisa menggelengkan kepala untuk yang kesekian kalinya. Miku mendekati kran terdekat, mengambil airnya dengan gelas, lalu meletakan es batu dari box berisi minuman dingin yang di bawa Rin ke dalam air itu yang sudah ada di tangannya. Tanpa aba-aba, Miku menyiramkan air itu kepada Len.
Byuuur!
"Gi-gi-gi-gi-GILAK!"
"DINGIN!"
"Gimana? Enak?" Tanya Miku, masih dengan sunggingan dan senyuman (yang agak terlihat mengerikan).
PRAK!
Di dahi Len ada empat sudut siku-siku yang saling merapat, dan dimulainya perang dunia ketiga yang sudah tidak bisa dihindari lagi pagi itu.
.
.
.
"Jam berapa sekarang?" Tanya Miku.
"Enam pagi." Ucap Lui.
"Kita selesai tepat waktu ya?" Tanya Rin.
"Tidak diragukan." Balas Aria.
Mereka semua sedang duduk-duduk menikmati terbitnya matahari sekaligus istirahat, tapi ada satu orang ─Tidak, dua orang, yang masih sibuk dengan kegiatan mereka sendiri, yang satunya memberikan wajah seram dan yang satunya menangis dengan keras.
"INI TIDAK ADIL! KENAPA KALIAN SEMUA BERSANTAI DAN AKU MASIH DI SINI?!"
"Itu karena Len-dono bodoh." Ucap orang di samping Len yang daritadi merengek.
Aria menatap ke belakang, ke arah Len lebih tepatnya. Memberikan sebuah tatapan dingin di awal, dia mengakhirinya dengan senyuman dan kedipan sebelah mata.
"UWOOOOOOOO!"
Kalian ingin tahu apa yang terjadi?
Len mengayuh sebuah sepeda yang rantainya tersambung pada sebuah generator listrik, sederhananya, karena sifat bodoh Len yang tidak membantu tadi pagi, dia berakhir dengan disuruh mengayuh sepeda untuk mengisi daya listrik yang akan digunakan nanti, dengan Culnoza mengawasinya. Setiap Len melemahkan kayuhannya, pedang Culnoza akan selalu menunggu di samping kaki Len, meminta waktu untuk menggores sedikit kulit Len. Sebenarnya ini hanya gertakan, tapi untuk Len yang memang mudah ketakutan dan orangnya termasuk paranoid terhadap sesuatu, ini hal yang paling cepat untuk memaksa Len.
Len hanya bisa terus merengek dan berteriak dengan nada sedih, sebenarnya Len sendiri juga mengerti kalau ini cuma gertakan tapi saraf kejutnya yang lebih terangsang membuat dirinya lebih mengikuti rasa takut ketimbang nalar dan akal sehat yang berjalan di otaknya.
"UWOOOO! AKU HANYA AKAN TERUS BERJUANG!"
Len akhirnya hanya bisa terus mengayuh dengan air mata yang berjatuhan, dasar Len.
'Kenapa pihak sekolah memberikan izin kepada orang ini untuk bawa pedang sih!'
Pikir Len, Len, sepertinya kau harus mengetahui banyak hal lagi deh.
"Hei, kenapa tampaknya hanya beberapa kandidat yang terlihat normal sih?" Tanya Rin lagi, melanjutkan pertanyaan yang tidak terjawab sebelumnya.
Miku kemudian melihat sekelilingnya, memang ada beberapa kandidat yang menggunakan cara berbeda, malah beberapa dari mereka ada yang seperti lebih ingin merekrut anggota untuk klub ketimbang kampanye ketua OSIS.
"Hmm… Sepertinya di antara mereka ada yang menggunakan ajang ini untuk merekrut anggota demi klub mereka. Ini bagus, dengan begini saingan kita akan berkurang." Jawab Miku.
"Lalu yang di sana itu apa?" Tanya Rin lagi.
Ya, kelompok KomDis, mereka sangat… Yah, sangat nyentrik, tempat mereka berkampanye seperti tempat perekrutan pasukan jihad ke luar negeri, terlebih dekorasinya sangat mewah. Membuat Miku agak minder setelah melihat panggung kecil yang ada di belakangnya dengan Len yang masih merengek.
"Yah… Sudahlah! Lebih baik kita bersiap saja!"
.
.
.
Suasana pagi sangat ramai di taman sekolah, ini karena kampanye sudah dimulai di sana-sini, ada yang membagikan brosur, ada yang memberikan beberapa janji-janji yang terdengar manis, bahkan ada beberapa kelompok yang sepertinya memberikan beberapa 'cinderamata' kepada siswa-siswi yang lewat.
Len melihat kebeberapa kandidat yang lain, dan menurut Len yang paling mencolok adalah kelompok dari Kaito, Leon dan Big Al. Walau kandidat lain juga ada yang agak mencolok seperti anggota KomDis.
"Silahkan!"
"Silahkan ambil ini!"
"Dukung kami ya!"
"Jangan sungkan untuk memberikan dukungan!"
"Ayo sini sama om…"
Suara seseorang yang terdengar macho tapi feminim (atau feminim tapi macho?) tertangkap di telinga Len tanpa dia sendiri inginkan.
"Ehmm… Ada suara tidak enak yang datang di akhir… Sepertinya ajang ini benar-benar digunakan untuk hal-hal yang agak tidak perlu…"
Len dan kelompoknya masih terus menyuarakan visi misi mereka dengan gigih. Walau visi misi tersebut terdengar setengah-setengah, seperti 'Aku akan menaikan anggaran konsumsi klub jika aku terpilih, khususnya di bidang hiburan!' dan juga 'Aku akan menetapkan minimal ada waktu cuti resmi bagi setiap murid selama 3 kali dalam satu semester!'
"Len, ini adalah penyuaraan dalam pemilihan ketua OSIS, bukannya pemberian bonus-bonus dalam pembelian suatu produk. Terlebih lagi bukan kau yang memutuskan hal-hal yang berbau akademika kesiswaan seperti liburan resmi kepada para murid…"
Ucap Miku, agak kecewa.
"Biarin amat! Yang penting kepilih jadi ketua OSIS!" Jawab Len masih dengan mic nya, hingga teriakannya terdengar juga oleh siswa-siswi yang lain.
Beberapa suara cekikikan muncul di beberapa siswa-siswi yang sedang memperhatikan kampanye kandidat ketua OSIS. Untuk dua minggu selama pemilihan kandidat yang akan masuk ke final, jadwal pelajaran di sekolah Len akan diundur dan dimulai jam 08.30 dari waktu normalnya yang jam 07.30, memberikan waktu bagi para kandidat untuk terus menyerukan suaranya selama dua minggu penuh selama pagi hari. Satu jam pada pagi hari hanya waktu resmi yang diberikan oleh sekolah, tapi para kandidat tetap bisa membujuk para siswa untuk memilihnya selama jam kosong di luar pelajaran seperti jam istirahat atau semacamnya.
"Hoo… Jadi ini tim yang dibentuk oleh anak-anak yang paling melanggar aturan di sekolah ini?"
Sebuah suara terdengar di telinga kelompok Len, ketika mereka menoleh mereka melihat ada seseorang yang berambut panjang berwarna biru pucat dengan kunciran rambut seperti tuts piano yang mendatangi mereka bersama dua orang lain di kanan-kirinya yang seakan bertindak seperti pengawal. Orang itu memakai badge di lengannya yang bertuliskan "SHITSUKE" atau "KEDISIPLINAN" dalam kanji Jepang.
Mengeluarkan sebuah senyuman ramah yang agak menusuk, orang itu menatap kelompok Len dengan tatapan lumayan merendahkan dan melanjutkannya dengan perkenalan singkat yang diisi arogansi sepihak.
"Perkenalkan, mungkin kalian sudah tahu aku, aku adalah Suzune Ring, ketua KomDis di sekolah ini, itu juga kalau kalian sudah pernah mendengar namaku." Ucapnya dengan nada mengejek dan aksen yang 'memproklamirkan-diri'* tapi tersenyum lepas.
"Dia…" Ucap Len.
"Kau lupa?! Suzune Ring! Yang tadi pagi baru kita bicarakan!" Ucap Miku.
"Bentar, yang mana ya?"
GEDUBRAK!
"Masa' kau sudah lupa?!" Teriak Miku.
"Senpai, dia yang katanya mau merebut kejayaan masa sekolah ini masih menjadi sekolah khusus perempuan…" Ucap Aria, agak datar.
"Len-dono, dia yang katanya menggeser ketua KomDis sebelumnya saat masih duduk di kelas satu." Ucap Culnoza melanjutkan.
"Hmmm… Ah! Ring! Iya Ring!" Ucap Len, dengan suara 'plok' yang seakan muncul di atas kepalanya sambil menepukan kepalan tangan kanannya di telapak tangan kirinya.
"JANGAN SEENAKNYA MEMANGGIL DIRIKU SOK AKRAB!" Teriak Ring.
"Sabar Ketua! Dia hanya orang rendahan yang suka melanggar tata tertib!" Ucap salah seorang bawahannya yang tadi mengikutinya, menenangkan Ring.
"Itu benar Ketua! Jangan terhasut omongan iblis ini!" Ucap salah seorang yang satu lagi.
"Grrr… Kau benar-benar harus diajarkan sopan santun…" Ucap Ring.
"Maa… Sudah, kita tidak perlu bertengkar kan? Tolong maafkan saja kebodohannya kali ini Ring-chan." Ucap Lui.
"Ch-chan? Kau akrab dengannya Lui?" Tanya Len.
"Yah, bagaimana ya… Dia teman masa kecilku…" Ucap Lui datar.
Krik…
Krik…
Krik…
"HAH?!"
Suara tertawa dengan berbagai macam tipe terdengar dari tempat itu sambil diikuti dengan wajah Ring yang tertahan malu dan memerah di sekitar pipinya.
"Bagaimana bisa?! Playboy yang nggak tahu aturan dekat sama ratu gila aturan?!" Ucap Len.
"Absurd…" Ucap Rin, yang sedari tadi belum mengatakan apa-apa.
"Cukup unik, mungkin aneh untuk bahasa kasarnya… Benar kan Cul?" Ucap Aria.
"Benar hime-sama."
"Sulit dipercaya, tapi bagaimana bisa ya?" Ucap Miku, menimbrungi.
Wajah Ring makin memerah dan memerah.
"Di-DIAM KALIAN SEMUA!"
"Dia marah! Lui, dia marah!" Ucap Len masih dengan cekikikan yang tidak berhenti-berhenti.
"Len, sepertinya itu bukan hal yang lucu lagi deh, maksudku menertawakan orang marah…" Ucap Lui, menanggap Len.
Suasana mereda sebentar, Ring masih memerah malu dengan para bawahannya masih terus menghibur ketua mereka yang terjebak rasa malu. Len menghentikan tawanya dan tersenyum miring, dia kemudian turun dari panggung dan mendatangi Ring. Dia menatap tubuh Ring lekat.
"Hmmm… Tapi masih saja aneh, bagaimana kalian berdua bisa berteman ya? Sungguh keajaiban dunia… Maksudku, ya begitulah…" Pertanyaan Len ditujukan pada Ring dan Lui. Lui masih terkekeh lemah dan Ring membuang muka.
"Tapi…"
Gyuuut…
"Aku masih penasaran…" Len memegang dada Ring dengan santai.
"Ap-?!"
Ring terkejut setengah mati dan menjitak kepala Len dengan gerakan memotong dari tangan kanannya, Len yang terkena telak langsung terjatuh ke tanah dengan wajah duluan.
"A-a-a-a-apa yang ka-ka-ka-kau lakukan?! Dasar makhluk mesum tidak tahu aturan!" Ucap Ring.
"Berani-beraninya kau!" Ucap salah satu bawahan Ring, sigap dengan kuda-kuda bertarung.
"Kami saja belum pernah memegangnya! ─Eh…"
BUAK! BUAK!
"Kalian ini! Kalian perempuan tapi sama saja!" Ring langsung meninju kedua bawahannya sambil memegangi dadanya seakan itu harta kerajaan yang sangat berharga.
"Hmmm… Tapi ini benar, aku bisa mengira itu melebihi cup-C, jika kau menekannya dengan keras, aku bisa memperkirakan lingkarnya ada dalam kisaran 25 cm atau lebih, itu memungkinkan ukurannya cup-E jadi, tidak, ini F! Bagaimana kau bisa mendapatkan ukuran yang sangat menakjubkan seperti ini padahal kau masih kelas 2 SMA?! Lalu tiga ukuranmu adalah─"
BUAK! BUAK! BUAK!
"Diam kau mesum!"
"Dasar nii-chan nggak tahu diri!"
Len yang baru berdiri dengan hidung berdarah langsung mengatakan hal ini dan itu dengan wajah tenang setelah dengan tenang memegang daerah berharga milik seorang Suzune Ring, Miku dan Rin langsung menginjak-injaknya agar Len tidak lagi mengatakan hal yang tidak perlu.
"Hiks… Hiks… Padahal ukuran sebesar ini juga membuatku tidak nyaman… Hiks…" Ring menangis pelan, Aria menghampirinya dengan perlahan.
"Tenanglah Suzune-senpai, aku yakin Len-senpai tidak bermaksud mengatakan itu…" Ucap Aria mencoba menghibur.
"Aria-chan enak ya… Dadamu tidak menghalangimu beraktifitas…" Jawab Ring.
Dadamu tidak menghalangimu beraktifitas…
Dadamu tidak menghalangimu…
Dadamu tidak…
Dadamu…
…
"Rata dan tidak berisi~ Rata dan tidak berisi~" Aria langsung pundung dipojokan karena mendengar perkataan Ring, Culnoza langsung menghampiri hime-sama nya dan mencoba menghiburnya dengan berbagai cara.
"Ja-jangan pesimis hime-sama! Dada hime-sama hampir mendekati dada Rin-dono yang cup-C! Jangan menyerah! Hime-sama masih dalam masa pertumbuhan!" Ucap Culnoza dengan panik.
"Tapi aku tidak habis pikir, dadanya sangat besar…" Ucap Len yang baru saja bangkit dari kubur.
""DIAM!""
BUAK!
Miku dan Rin menendang Len sekali lagi. Ring yang melihat kekacauan kelompok Len mengarahkan pandangannya pada Lui, Lui hanya menggeleng lemah seakan berkata 'beginilah keseharian kami'. Ring langsung mengigit bibirnya dan menangis keras.
"Hu-Hu-HUEEEEEEE! AKAN KU BALAS KAU NANTI KAGAMINE LEN!" Ring berlari sambil menangis diikuti kedua bawahannya.
Ketika Ring sudah cukup jauh, Len kembali bangun dari tidur panjangnya, sambil masih mengatakan hal yang sama.
"Tapi tetap saja dada-"
BUAK!
"Bisa diam nggak sih?! Dada, dada, apa cuma dada yang ada di pikiranmu?!" Ucap Miku sembari menendang Len jatuh lagi ke tanah.
"Tapi-"
Ketika Len ingin berbicara lagi, Miku sudah siap dengan kakinya untuk yang kesekian kalinya dalam kuda-kuda ingin menginjak Len lagi.
"Eit! Tunggu! Tunggu! Aku mau mengatakan hal lain!" Ucap Len.
Ketika Len melihat Aria yang masih pundung, dia berkata dengan tenang, sambil memelerkan banyak darah dari hidungnya dan kepala yang terlihat benjol.
"Siapa sangka Aria sudah berani mengambil langkah berbicara pada orang lain? Dia mengajak bicara Ring lebih dulu tadi. Ring juga menanggapinya dengan bagus! Dia bisa berteman dengan banyak orang jika terus mencoba! Ini berita baik bukan?" Ucap Len. Aria tidak mendengar apa yang dikatakan Len karena masih pundung di pojokan pohon.
"Kau benar." Ucap Lui.
"Tetap saja, kau ini 'jenius' dalam banyak arti ya… Maksudku, bisa tahu ukuran Ring dalam sekali sentuh, benar-benar kemampuan yang hebat! Nanti kasih tahu aku ukurannya ya." Ucap Lui lagi.
"Sip!" Jawab Len.
Tanpa mereka sadari, di belakang mereka sudah ada iblis yang siap melumat mereka jadi potongan daging halus dalam sekali lumat… Ya, siapa lagi kalau bukan Miku?
"Tapi, memangnya hal apa yang sangat fatal dalam sebuah pemilihan? Aku masih tidak terlalu mengerti, di negara kita, tidak ada pemilihan umum kan?" Tanya Aria ketika dia bingung kenapa semua kandidat harus susah-susah menyiapkan kampanye dan semacamnya demi dukungan.
"Bukannya lebih cepat kalau ada yang membayar untuk dukungan? Jika hal itu terjadi, kita sudah pasti kalah…" Ucap Aria lagi.
"Hime-sama, bukan uang yang harus ditakutkan dalah sebuah pemilihan, memang itu mengerikan jika benar-benar terjadi, tapi ada hal lain yang lebih mengerikan daripada suara yang dibeli dengan harta." Ucap Culnoza.
"Dan apa itu, Cul?"
"Anggapan tentang penyalahgunaan kekuasaan, kurangnya visi untuk meyakinkan para pendukung, sebuah penyelewengan kehendak, sebuah Mosi, Mosi Tidak Percaya…"
XOXOX
"Bagaimana perkembangannya?"
Seorang lelaki berambut biru duduk di sebuah kursi dengan sebuah monitor besar di hadapannya. Dia melihat kelompok Len, untuk yang kesekian kalinya.
"Bisa dilaksanakan kapan saja." Ucap seseorang lagi yang menjawab pertanyaan orang berambut biru tadi.
"Laksanakan saat penentuan rating tiga tertinggi sudah dekat."
"Baik." Orang itu berdiri dan membungkukan badannya, dia kemudian pergi meninggalkan tempatnya semula.
Si rambut biru yang masih ada di kursinya berdiri dan menghampiri sebuah papan dart di tembok, dia mengambil beberapa peluru dart yang tertancap di sana. Sebelum pergi dia memasang foto Len di tengah dart tersebut.
Mengambil beberapa langkah mundur, dia kemudian melempar satu peluru dart yng ada di tangannya, ketika ujungnya yang tajam menyetuh papan dart, itu tepat di tengah kepala Len.
"Mau sampai kapan kau terus bermain-main? Kagamine Len? Apa kau akan terus kabur dari kesalahan dan kenyataanmu?" Ucap orang itu.
Dia kemudian mengambil foto lain dari meja di dekat kursi yang tadi dia duduki. Dia melihat foto tersebut, foto anak kecil berambut teal yang tersenyum. Dia kemudian menaruh foto tersebut kembali ke meja.
"Dirimu, tentangmu, selalu membuatku muak. Usahamu, kampanyemu, apa kau memang serius?!"
"Akan kutunjukan keputus asaan yang sebenarnya."
XOXOX
"Kejahatan selalu ada di setiap sudut hati manusia."
XOXOX
Chapter 12 selesai~
Minggu depan akan masuk ke konflik di arc kedua ini! Jadi tunggu aja ya!
Hmmm… Di atas ada frasa memproklamirkan-diri, di sini maksud saya, Ring menggunakan kata watakushi dalam menyebut dirinya sendiri, kata ini sebenarnya tidak buruk, tapi dalam penggunaannya, biasanya digunakan oleh orang (terutama perempuan muda) yang ada dalam posisi terpandang dan melihat orang-orang di sekitarnya berdasarkan tingkatan tertent, dengan kata lain, terkadang orang seperti ini merendahkan orang-orang tertentu yang ada di hadapannya tapi dengan cara yang bisa dibilang sopan.
Ada yang paham tentang mosi tidak percaya? Singkatnya, ini seperti kampanye hitam yang dilakukan untuk menjatuhkan kandidat lain, tapi nggak hanya berkutat di sana, biasanya hal seperti kampanye hitam untuk menjatuhkan kandidat lain pasti dilakukan pihak luar (bukan pihaknya atau tim sukses kandidat itu sendiri), mosi tidak percaya lebih seperti kenyataan bahwa kampanye hitam untuk menjatuhkan dilakukan oleh pihak sendiri untuk menjatuhkan kandidat yang didukungnya sendiri. Misalkan A menjadi calon, jika dia terkena mosi tidak percaya, makan pihak internal atau tim sukses dari A akan kebingungan mencari 'penghianat' yang menjatuhkan nama si A dan terjadi kekacauan di dalam kubunya sendiri, padahal yang melakukan itu semua bisa saja kandidat B, C atau yang lain, bukan dari tim sukses A sendiri. Singkatnya menjatuhkan lawan dari dalam tanpa menaruh mata-mata di dalam kubu lawan.
Balas anon review~
-To reviewer named ryuucha:
Halo lagi~
LenLui?! Saya straight kok, saya straight, saya masih suka cewek...
Ternyata umpan yang saya taruh lebih berefek daripada dugaan saya sendiri #PLAK
Chapnya memang singkat, soalnya biar pas di konflik nggak pendek nanti ^^
Makasih ya udah review~ (P.S.: Itu inisial M maksudnya apa ya :3 saya nggak paham #PLAK)
-To reviewer named hajime:
Saya bahagia kalau ada yang nunggu cerita saya T_T Terharu lagi deh T_T
Makasih ya udah review~
-To reviewer named hardy:
Makasih atas kata-kata penambah semangatnya T_T Saya seneng banget XD
Jadi ceritanya saya ngambil kasus pemilihan ketua OSIS karena masih ada rasa kecewa sama pemilu kemarin di Indonesia gitu #PLAK #DITANGKEPPOLISI
Makasih ya udah review~ Ini udah lanjut~
Akhir kata, maaf jika ada kata yang kurang berkenan, saya mau tahu komentar kalian soal chapter kali ini, apapun itu, karena bentuk apresiasi dari kalian adalah kebahagiaan untuk saya.
Jaa~~ Matta ne~~ ^^
Best Regards,
Aprian
